Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40541 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Wulan Sari; Pembimbing: Gayati Dwi; Penguji: Krisnawati Bantas, Ratna Djuwita, Anies Irawati
Abstrak: Sindroma metabolik merupakan kombinasi kelainan metabolik yang meliputi komponen obesitas sentral, hipertensi, hipertrigliserida, rendahnya kolesterol HDL, dan hiperglikemia. Pada penduduk dewasa (≥ 18 tahun) telah terjadi peningkatan dari beberapa komponen sindroma metabolik pada tahun 2013 dibandingkan tahun 2007. Kejadian hipertensi meningkat sebesar 9,5% lebih besar dibandingkan tahun 2007 (7,6%). Prevalensi diabetes melitus meningkat sebesar 2,1% dibandingkan tahun 2007 (1,1%). Sementara itu, prevelensi obesitas sentral meningkat sebesar 26,6% dibandingkan tahun 2007 (18,8%). Konsumsi sayur dan buah ≥ 5 porsi/hari pada penduduk Indonesia juga masih rendah (3,3%). Penelitian bertujuan untuk melihat hubungan konsumsi sayur dan buah terhadap kejadian sindroma metabolik pada penduduk dewasa (≥ 18 tahun) di Indonesia. Penelitian yang menggunakan desain studi cross sectional ini menggunakan data Riskesdas 2013. Sampel adalah seluruh dewasa (≥ 18 tahun) di Indonesia tahun 2013 yang terdaftar dalam survei Riskesdas 2013 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis menggunakan cox regression untuk mendapatkan hubungan dari konsumsi sayur dan buah dengan sindroma metabolik. Hasil penelitian diperoleh prevalensi sindroma metabolik sebesar 28,2% dan konsumsi sayur dan buah cukup sebesar 1,5%. Konsumsi sayur dan buah tidak memiliki hubungan secara statistik dengan kejadian sindroma metabolik (PRR = 0,987; 95%CI: 0,790-1,233) setelah dikontrol oleh variabel aktifitas fisik, jenis kelamin, umur, dan wilayah tempat tinggal. Diperlukan pencegahan pada komponen sindroma metabolik dan peningkatan konsumsi sayur dan buah yang cukup. Kata Kunci: Dewasa, Konsumsi sayur dan buah, Riskesdas 2013, Sindroma metabolik
Read More
T-4476
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ba'da Febriani; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Misti
Abstrak:

Diabetes melitus (DM) masih menjadi tantangan bagi negara berkembang termasuk Indonesia. International Diabetes Federation (IDF) memproyeksikan angka DM di Indonesia akan meningkat 150%, menjadi 28,6 juta jiwa pada tahun 2045. WHO merekomendasikan kelompok berisiko untuk melakukan kombinasi dari konsumsi buah dan sayur ≥5 porsi/hari serta melakukan aktivitas fisik cukup untuk hasil optimal dalam menurunkan risiko DM. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara efek gabungan konsumsi buah-sayur dan aktivitas fisik dengan DM pada penduduk dewasa usia 18-64 tahun di Indonesia tahun 2023. Desain studi cross sectional dari data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 dengan total sampel 23.821 orang dewasa berusia 18-64 tahun di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi DM pada orang dewasa sebesar 15,2%. Analisis multivariat dengan uji logistic regression menunjukkan asosiasi yang tidak signifikan antara konsumsi buah-sayur <3 porsi/hari dan aktivitas fisik kurang dibandingkan dengan penduduk dewasa yang mengonsumsi buah-sayur ≥5 porsi/hari dan aktivitas fisik cukup (RRCorrected 1,2; 95%CI 1,08-1,52 p value 0,607), artinya penduduk dewasa yang mengonsumsi buah-sayur <3 porsi/hari dan memiliki aktivitas fisik rendah memiliki tren peningkatan risiko DM sebesar 1,2 kali lebih tinggi dibandingkan orang dewasa yang mengonsumsi buah-sayur ≥5 porsi/hari dan aktivitas fisik cukup setelah dikontrol variabel usia, jenis kelamin, hipertensi dan obesitas sentral, meskipun tidak signifikan secara statistik. Optimalisasi upaya pencegahan DM dengan meningkatkan intake buah-sayur agar memenuhi rekomendasi ≥5 porsi/hari dapat dilakukan penduduk dewasa usia 18-64 tahun yang disertai dengan meningkatkan kegiatan aktivitas fisik baik sedang maupun berat serta meningkatkan kegiatan olah raga bersama baik di sekolah, kampus, kantor maupun di rumah. 


Diabetes mellitus (DM) remains a significant challenge for developing countries, including Indonesia. The International Diabetes Federation (IDF) projects that the number of DM cases in Indonesia will increase by 150%, reaching 28,6 million by 2045. The World Health Organization (WHO) recommends that high-risk groups adopt a combination of consuming ≥5 servings of fruits and vegetables per day and engaging in sufficient physical activity for optimal results in reducing DM risk. This study aims to examine the association between the combined effects of fruit and vegetable consumption and physical activity on DM among adults aged 18–64 years in Indonesia in 2023. The study used a cross-sectional design with secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), involving a total sample of 23,821 adults aged 18–64 in Indonesia. The findings revealed that the prevalence of DM among adults was 15,2%. Multivariate analysis using logistic regression showed a non-significant association between consuming <3 servings of fruits and vegetables per day with insufficient physical activity compared to adults who consumed ≥5 servings per day and engaged in adequate physical activity (RRcorrected 1,2; 95% CI 1,08–1,52, p-value 0,607). This suggests that adults with low fruit and vegetable intake (<3 servings/day) and low physical activity had a trend of a 1,2 times higher risk of DM compared to those who met the recommended intake (≥5 servings/day) and had sufficient physical activity, after controlling for age, sex, hypertension, and central obesity—though the result was not statistically significant. To optimize DM prevention efforts, adults aged 18–64 should increase their fruit and vegetable intake to meet the recommended ≥5 servings per day, alongside increasing moderate to vigorous physical activity and promoting group exercise activities in schools, universities, workplaces, and at home.

Read More
T-7322
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elsi Novitasari; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Rina Handayani
S-10301
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Endah Febri Lestari; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Engkus Kusdinar, Iip Syaiful
Abstrak: Asupan makanan memiliki hubungan dengan kejadian obesitas di Indonesia. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain cross sectional menggunakan data Riset Kesehatan Dasar Indonesia tahun 2010 untuk mengetahui hubungan asupan makanan dengan kejadian obesitas pada penduduk dewasa di Indonesia berdasarkan jenis kelamin dan umur. Dengan menggunakan standar obesitas Indonesia (IMT≥27 kg/m2) didapatkan sebanyak 13,7% penduduk dewasa Indonesia menderita obesitas. Prevalensi obesitas terbesar berada di Provinsi Sulawesi Utara dan terendah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Tenggara. Prevalensi obesitas lebih tinggi pada wanita (18,1%) dibandingkan pria (9,1%), prevalensi tertinggi pada usia 40-49 tahun (30,1%) dan terendah usia 60+ (8,4%). Sebanyak 8,3% responden memiliki asupan energi lebih, 50% memiliki asupan karbohidrat lebih, 50% memiliki asupan lemak lebih dan 29,8% memiliki asupan protein lebih. Asupan energi, lemak dan protein memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian obesitas berdasarkan jenis kelamin dan usia.
 

Food intake associate with Obesity in Indonesia. This research using quantitative with cross sectional study based on health research survey 2010 to determine the association of food intake with obesity among adult population in Indonesia by respondent characteristics. By using standart indonesian obesity (BMI≥27 kg/m2) were obtained 13,7% Indonesian people are obese. The highest prevalence of obesity in province of North Sulawesi and the lowest prevalence in province of East Nusa tenggara and Southeast Sulawesi. The Prevalence of obesity were higher among woman (18,1%) than men (9,1%) The highest prevalence among aged 40-49 years (30,1%) and the lowest prevalence among aged 60+ years (8,4%). 8,3% respondent with high energy intake, 50% with high carbohydrat intake, 50% with high fat intake, and 29,8% with high protein. Energy intake, fat intake and protein intake have a significant association with the incident of obesity by sex and age.
Read More
S-6622
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Masaruddin; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, I Nyoman Kandun, Ridho Ichsan Syaini
Abstrak: Hypertension or high blood pressure is a global health problem, including in Indonesia because of its high prevalence. Hypertension does not provide typical complaints and symptoms so many sufferers do not realize it. Therefore hypertension is called the silent killer, the prevalence of hypertension in Indonesia in 2013 is 25.8%, in 2015 23.8%, in 2016 30.9%. Prevalence in women is 32.9%, men 28.7%, in urban areas 31.7%, rural areas 30.2% and the number 3 cause of death in Indonesia. This study aims to determine the relationship between consumption patterns of fast food, soft drinks and meat with the incidence of hypertension in the adult population in Indonesia in 2014 using IFLS-5 data. The design of the study in this study was analytic observational with a cross-sectional study design, this study was conducted in October-November 2018 in Depok City. The results of the study were the prevalence of hypertension in the adult population (≥ 18 yrs - 101 yrs) of 18.91%, people who consumed fast food, age> 30 years, with female gender, low education and suffering from diabetes mellitus were at risk for hypertension by 1 , 47 times to experience hypertension compared to people who do not consume fast food, PRadj 1.47 (95% CI: 1.16 - 1.86) P-value 0.001. People who consume soft drinks, age> 30 years, are female, with low education and suffer from diabetes mellitus at a risk of 1.63 times compared to people who do not consume PRadj soft drinks; 1.63 (95% CI; 1.37 - 1.95) P-value 0,000. People who consume meat, age> 30 years in female sex, low education, smoke and suffer from diabetes mellitus are not associated with the incidence of hypertension PRadj 1.00 (95% CI: 0.92 - 1.09) P-value 0.885. It is recommended to the public to consume foods that contain balanced nutrition, take measurements of blood pressure at least 1 time / month, to the Health Office to conduct counseling or healthy food campaigns that contain balanced nutrition, to the Ministry of Health, promote the consumption pattern of 4 perfectly healthy 5.
Keywords: Hypertension, Fast Food, Soft Drink, Meat and IFLS-5.
Read More
T-5475
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Ika Putri; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Krisnawati Bantas, Pukovisa Prawiroharjo
Abstrak: Stroke tercatat sebagai penyebab kematian kedua tertinggi pada usia 45-54 tahun di wilayah perdesaan Indonesia. Stroke merupakan penyakit gangguan fungsi otak akibat kelainan vaskuler yang bersifat multikausal. Penelitian ini bertujuan mengetahui frekuensi dan determinan kejadian stroke berdasarkan faktor risikonya pada penderita hipertensi berusia ≥ 45 tahun di wilayah perdesaan Indonesia. Penelitian ini merupakan analisis lanjut dari data Riskesdas 2013 yang menggunakan desain studi cross-sectional. Sampel dari penelitian ini adalah penderita hipertensi yang berusia ≥ 45 tahun, dan tinggal di wilayah perdesaan. Hasil penelitian ini menunjukkan, prevalensi stroke pada penderita hipertensi dewasa di perdesaan adalah sebesar 5,3%. Prevalensi stroke tertinggi ditemukan di provinsi Maluku Utara (7,2%) dan terendah di provinsi Papua (1,7%). Pada variabel yang diteliti, jenis kelamin, stress, aktivitas fisik, konsumsi obat anti-hipertensi, perilaku merokok dan tingkat pendidikan memiliki hubungan bermakna terhadap kejadian stroke pada penderita hipertensi dewasa (≥ 45 tahun) di wilayah perdesaan Indonesia.
Kata kunci : Stroke¸ Penderita Hipertensi, Perdesaan, Dewasa, Indonesia, Riskesdas

Stroke was recorded as the second-highest mortality cause at the age of 45- 54 years in rural areas of Indonesia. Stroke is multicausal brain function disorder due to vascular abnormalities. This study aimed to determine the frequency and determinants of stroke based on risk factors in hypertensive patients aged ≥ 45 years in rural areas of Indonesia. This study is a further analysis of the Riskesdas 2013 data which used cross-sectional study design. The sample of this study is hypertensive patients who aged ≥ 45 years old and lived in rural areas. The results of this study showed that the prevalence of stroke in adult hypertensive patients in rural areas amounted to 5.3%. The highest prevalence of stroke was found in North Maluku province (7.2%) and the lowest in Papua province (1.7%). In the studied variables, gender, stress, physical activity, consumption of anti-hypertensive drugs, smoking and education have relation to the prevalence of stroke in adult hypertensive patients (≥ 45 years) in rural areas of Indonesia.
Keywords : Stroke¸ Hypertensive Patient, Rural, Adult, Indonesia, Riskesdas
Read More
S-8580
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fikriyatul Arifah; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Renti Mahkota, Juzi Delianna
Abstrak: ABSTRAK
 
 
Stroke merupakan penyebab kematian nomor satu di Indonesia. Berdasarkan data Riskesdas, prevalensi kejadian stroke berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan di Indonesia mengalami peningkatan dari 8,3? pada tahun 2007 menjadi 12,1? pada tahun 2013. Provinsi Sulawesi Barat merupakan salah satu provinsi yang mengalami kenaikan prevalensi yang tinggi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan kejadian stroke pada penduduk usia ≥ 15 Tahun di Provinsi Sulawesi Barat tahun 2007 dan 2013. Penelitian ini merupakan analisis dari Riskesdas 2007 dan Riskesdas 2013 yang menggunakan desain cross-sectional. Sampel penelitian ini adalah penduduk provinsi Sulawesi Barat yang berusia ≥ 15 tahun yang berhasil diwawancarai sebagai sampel Riskesdas 2007 dan/atau Riskesdas 2013 dan memiliki data variabel penelitian yang lengkap. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian stroke pada tahun 2007 adalah usia, hipertensi, dan aktivitas fisik sedangkan pada tahun 2013 yaitu usia, hipertensi, obesitas, obesitas sentral dan aktivitas fisik.
 

 
ABSTRACT
 
 
Stroke is leading cause of death in Indonesia. According to Riskesdas, prevalence of stroke based on health workers diagnosis in Indonesia has increased from 8,3? in 2007 became 12,1? in 2013. West Sulawesi is one of province that has biggest increasing of stroke prevalence in Indonesia. This study aims to analyze the risk factor that have relationship of stroke cases among population aged ≥ 15 years old in West Sulawesi in 2007 and 2013. This study using cross-sectional design. The participants were member of population of ≥ 15 years old in West Sulawesi who had complete variable data needed. The result showed that the risk factor that have relationship with stroke cases in 2007 are age, hypertension, and physical activity. In 2013, are age, hypertension, obesity, abdominal obesity, and physical activity.
Read More
S-9181
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Risa Paradilla Utami; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Suhardini
Abstrak:
Latar belakang: Indonesia merupakan negara dengan beban tuberkulosis tertinggi kedua di dunia setelah India dengan perkiraan morbiditas sebanyak 969.000 dan mortalitas mencapai 144.000 orang pada tahun 2021. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik sosiodemografi, faktor perilaku, dan faktor lingkungan rumah terhadap kejadian tuberkulosis paru pada penduduk usia ≥15 tahun di Indonesia. Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional. Hasil: Variabel yang ditemukan berhubungan dengan kejadian TB paru adalah usia (OR = 2,107, 95% CI = 1,919-2,314), jenis kelamin (OR = 1,469, 95% CI = 1,371-1,575), status kawin (OR = 1,206, 95% CI = 1,117-1,303), tingkat pendidikan (OR = 1,795, 95% CI = 1,655-1,946), riwayat merokok (OR = 1,194, 95% CI = 1,113-1,281), kebiasaan membuka jendela rumah (OR = 1,160, 95% CI = 1,080-1,246), kondisi ventilasi (OR = 1,266, 95% CI = 1,178-1,360), kondisi pencahayaan (OR = 1,330, 95% CI = 1,241-1,426), jumlah anggota rumah tangga (OR = 1,131, 95% CI = 1,044-1,221), dan daerah tempat tinggal (OR = 1,213, 95% CI = 1,130-1,301). Riwayat konsumsi minuman beralkohol ditemukan sebagai faktor protektif. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara karakteristik sosiodemografi, faktor perilaku, dan faktor lingkungan rumah dengan kejadian tuberkulosis paru pada penduduk usia ≥15 tahun di Indonesia.

Background: Indonesia is a country with the second highest tuberculosis burden in the world after India with an estimated morbidity of 969,000 and mortality reaching 144,000 people in 2021. Objective: This study aims to determine the relationship between sociodemographic characteristics, behavioral factors, and home environmental factors on incidence pulmonary tuberculosis in population aged ≥15 years in Indonesia. Methods: The method used in this study was cross-sectional. Results: The variables found to be associated with the incidence of pulmonary TB were age (OR = 2.107, 95% CI = 1.919-2.314), gender (OR = 1.469, 95% CI = 1.371-1.575), marital status (OR = 1.206, 95 % CI = 1.117-1.303), education level (OR = 1.795, 95% CI = 1.655-1.946), smoking history (OR = 1.194, 95% CI = 1.113-1.281), habit of opening windows (OR = 1.160, 95 % CI = 1.080-1.246), ventilation conditions (OR = 1.266, 95% CI = 1.178-1.360), lighting conditions (OR = 1.330, 95% CI = 1.241-1.426), number of household members (OR = 1.131, 95 % CI = 1.044-1.221), and area of residence (OR = 1.213, 95% CI = 1.130-1.301). History of alcohol consumption was found to be a protective factor. Conclusion: There is a relationship between sociodemographic characteristics, behavioral factors, and home environment factors with the incidence of pulmonary tuberculosis in people aged ≥15 years in Indonesia.
Read More
S-11282
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rachel Inekeputri Sirait; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji:Ratna Djuwita, Soewarta Kosen
Abstrak:
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan suatu keadaan ketika tekanan darah seseorang melebihi batas normal. Menurut data Riskesdas pada tahun 2018, prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 34,1%. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya, yakni 25,8%. Pola konsumsi makan berisiko seperti konsumsi natrium berlebih menjadi salah faktor risiko dari kejadian Hipertensi. Salah satu sumber natrium berasal dari makanan instan. Penelitian ini bertujuan untuk hubungan frekuensi konsumsi makanan instan dengan kejadian hipertensi pada penduduk berusia ≥ 18 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang. Sumber data yang digunakan yaitu data sekunder Riskesdas 2018. Responden penelitian adalah penduduk di Indonesia yang berusia ≥18 tahun. Terdapat 384.556 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Berdasarkan hasil analisis, didapatkan prevalensi hipertensi sebesar 29.8%. dan proporsi frekuensi konsumsi makanan instan sebesar 22.1%. Terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi konsumsi makanan instan dengan hipertensi. Kelompok yang memiliki frekuensi sering dalam mengonsumsi makanan instan 0,78 kali (PR=0,785; 95%CI=0,773—0,797) lebih mungkin untuk mengalami hipertensi dibanding dengan kelompok memiliki frekuensi jarang. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan frekuensi konsumsi makanan instan dengan kejadian hipertensi pada penduduk berusia ≥ 18 tahun di Indonesia.
Hypertension or high blood pressure is a condition when a person's blood pressure exceeds normal limits. According to Riskesdas’s data in 2018, the prevalence of hypertension in Indonesia reached 34.1%. This figure increased from the previous year, which was 25.8%. Consumption patterns of risky foods such as excess sodium consumption are risk factors for hypertension. One source of sodium comes from instant food. This study aims to determine the relationship between the frequency of instant food consumption and the incidence of hypertension in people aged ≥ 18 years in Indonesia. This study used a cross-sectional study design. The data source used is the 2018 Riskesdas’s secondary data. The research respondents were residents in Indonesia aged ≥18 years. There were 384,556 respondents who met the inclusion and exclusion criteria. Based on the results of the analysis, the prevalence of hypertension was 29.8%. and the proportion of frequency of instant food consumption is 22.1%. There is a significant relationship between the frequency of instant food consumption and hypertension. The group that has a frequent frequency of consuming instant food is 0.78 times (PR=0.785; 95%CI=0.773—0.797) more likely to experience hypertension than the group that has a rare frequency. It was concluded that there is a relationship between the frequency of instant food consumption and the incidence of hypertension in people aged ≥ 18 years in Indonesia.

Read More
S-11227
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diraya Adani Kiasatina; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Helda, Misti, Kamaluddin Latief
Abstrak:
Sebanyak 26%-50% orang dengan prediabetes berkembang menjadi diabetes melitus (DM) tipe 2 dalam waktu 5 tahun, namun kondisinya reversibel sehingga dianggap golden period untuk melakukan intervensi agar tidak berkembang menjadi DM tipe 2. Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko signifikan dari prediabetes. Sebesar 81,1% penderita hipertensi memiliki tekanan darah tidak terkendali. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status kendali hipertensi dengan kejadian prediabetes pada penduduk usia ≥ 18 tahun di Indonesia dengan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah hipertensi berdasarkan diagnosis dokter dan memiliki data yang lengkap untuk minimal dua kali pengukuran tekanan darah, glukosa darah puasa (GDP), dan glukosa darah 2 jam setelah pembebanan/postprandial (G2PP). Sedangkan kriteria eksklusinya adalah diabetes berdasarkan diagnosis dokter dan pemeriksaan kadar gula darah (GDP dan G2PP) serta sedang hamil. Sampel sebanyak 1.384 responden dianalisis dalam penelitian ini. Prevalensi prediabetes pada penduduk usia ≥ 18 tahun yang hipertensi di Indonesia sebesar 67,3% dan proporsi hipertensi tidak terkendali sebesar 80,8%. Analisis menggunakan Poisson regression menunjukkan prevalence ratio (PR) = 1,16 (95% CI: 1,04−1,29) setelah mengontrol usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengobatan hipertensi, dan obesitas sentral. Sebesar 14% kasus prediabetes terjadi karena tekanan darah yang tidak terkendali dan 11,5% kasus prediabetes dapat dicegah apabila tekanan darah sepenuhnya dikendalikan. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengendalian tekanan darah pada penderita hipertensi untuk mencegah prediabetes atau perkembangan prediabetes menjadi DM tipe 2.

Between 26% and 50% of people with prediabetes develop type 2 diabetes mellitus (T2DM) within 5 years, but the condition is reversible, making it a golden period for intervention to prevent progression to T2DM. Hypertension is a significant risk factor for prediabetes. As many as 81.1% of hypertensive patients have uncontrolled blood pressure. This study aims to analyze the relationship between hypertension control status and the incidence of prediabetes among individuals aged ≥18 years in Indonesia using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI 2023). The inclusion criteria for this study were hypertension based on a doctor's diagnosis and having complete data for at least two blood pressure measurements, fasting blood glucose (FBG), and 2-hour postprandial blood glucose (2hPPG). Exclusion criteria included diabetes diagnosed by a doctor and blood glucose level tests (FBG and 2hPPG), as well as being pregnant. A sample of 1,384 respondents was analyzed in this study. The prevalence of prediabetes among hypertensive individuals aged ≥ 18 years in Indonesia was 67.3%, and the proportion of uncontrolled hypertension was 80.8%. Analysis using Poisson regression showed a prevalence ratio (PR) = 1.16 (95% CI: 1.04–1.29) after controlling for age, gender, education level, hypertension treatment, and central obesity. Approximately 14% of prediabetes cases occur due to uncontrolled blood pressure, and 11.5% of prediabetes cases could be prevented if blood pressure were fully controlled. Therefore, efforts to control blood pressure in hypertensive patients are necessary to prevent prediabetes or the progression of prediabetes to T2DM.
Read More
T-7453
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive