Ditemukan 35000 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Pola makan berenergi lebih dan kadar !emak tinggi seperti makananfastfood mengakibatkan gizi lebib dan timbu!nya obesitas. Gizi !ebih dan Obesitas rnerupakan faktor risiko rnuncu!nya penyakit degeneratif. Faktor resiko lain yang menyebabkan muncu!nya penyakit degeneratif antara lain kenaikan tekanan darah, rasio pinggang-panggul yang besar, kadar gula darah pua.a tinggi dan meningkatnya kadar kolesterol. Data total ko!estero!telah dilakukan di Indonesia, antara lain Surkesnas 2001 pada usia 25-64 tahun prevalensi kolesterol tinggi ( >200 mgldl) 6%, SKTR 2004 usia 25-64 tahun prevalensi kolesterol tinggi (200 - 249 mg/dl) 11,6 %, sedangkan survei di Depok pada usia 25-65 tahun 2003 prevalensi kolesterol tinggi sebesar 6,6%. Salah satu alternalif untuk mengamngi kadar kolesterol tinggi dan obesitas dengan melakukan diet vegetarian. Faktor yang paling dominan berhubungan dengan kadar kolesterol total adalah asupan lemak (p-value < 0,05; OR21,95 ; Cl 95%: 1,95-46,82), Faktor yang paling dominan berhubungan dengan kadar kolesterol HDL adalah asupan serat (p-va/ue < 0,05; OR = 6,86 ; CI 95% : 2,47 - 47,74}. Faktor yang paling dominan berhubungan dengan kadar kolesterol LDL adalah asupan serat (p-value < 0,05; OR = 8,20 ; CI95% : 2,33 -28,85), Sedangka.n faktor yang paling dominan berhubungan dengan kadar trigliserida adalah asupan serat (p-value < 0,05; OR= 7,80 ; CI 95%: 2,16- 29,43). Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan pengganaan sampel yang lebih besar dengan Iallcangan studi cohort, atau penelitian dengan menggunakan studi case-control maupun studi eksperimen untuk melihat pengaruh den faktor Iainnya yang berkaitan kadar lipid darah.
Eating pattern which tends to prefer food witb high energy and high fat content such as fust food can cause overweight and ohesity. Overweight and obesity consider as risk factors for degenerative disease. Other risk factors associated with degenerative disease are high blood pressure, waist-hip ratio, and high blood-glucose level at fasting period and hypercholesterolemia. Prevalence survey for high total cholesterol had besn done in Indonesia, including: Surkesnas 200I showed 6% prevalence of high cholesterol (> 200mgldl) of 25-64 year of ages. The SKTR 2005 soowod prevalence of high cholesterol level (200-249 mg!dl) at the same age group was 11.6% while in Depok was 6.6%. One of alternative ways to reduce the high cholesterol level and obesity are by practicing vegetarian diet This research aimed to analyses the factors associated with blood lipid profile (p-value < 0,05; OR 8,20 ; CI 95% : 2,33 - 28,85). Furthermore, the most dominant factor for triglycerides level was also fiber intake (p-value < 0,05; OR =7,80; CI95%: 2,16- 29,43). Futher studies with bigger amount of samples using cohort study design or research with case-control study or experimental study are needed in order to investigate other factors inflWlce the lipid profile of adult vegetarians.
Sindrom metabolik merupakan kumpulan faktor risiko kardiometabolik yang semakin meningkat di Indonesia. Studi ini bertujuan mengidentifikasi determinan biopsikososial yang berhubungan dengan sindrom metabolik pada penduduk usia ≥15 tahun, menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Sebanyak 17.766 responden dianalisis menggunakan regresi logistik multivariat. Prevalensi sindrom metabolik tercatat sebesar 37,7%, lebih tinggi pada perempuan (44,2%) dibandingkan laki-laki (28,2%), dan meningkat pada usia ≥45 tahun. Komponen paling umum adalah hipertensi dan obesitas sentral. Lingkar perut (AOR: 4,00; 95%CI: 3,80–4,20) dan rasio lingkar perut terhadap tinggi badan (AOR: 3,95; 95%CI: 3,75–4,15) merupakan determinan biomedis terkuat. Paparan rokok aktif dan pasif, serta konsumsi alkohol, meningkatkan risiko, sementara aktivitas fisik menunjukkan efek protektif. Konsumsi makanan ultra proses tingkat sedang dan tinggi (AOR: 1,12–1,22) serta konsumsi sedang makanan berlemak dan berbumbu juga meningkatkan risiko secara signifikan. Hasil ini menunjukkan perlunya intervensi yang lebih terarah pada kelompok perempuan dewasa dan lansia, melalui strategi promosi gaya hidup sehat dan pengendalian obesitas sentral untuk menurunkan beban sindrom metabolik di Indonesia.
Metabolic syndrome is a growing public health concern in Indonesia, involving a cluster of cardiometabolic risk factors. This study aimed to identify biopsychosocial determinants associated with metabolic syndrome among individuals aged ≥15 years using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). A total of 17,766 respondents were analyzed using multivariable logistic regression. The prevalence of metabolic syndrome was 37.7%, higher among women (44.2%) than men (28.2%), and increased significantly in those aged ≥45 years. The most common components were hypertension and central obesity. Key biomedical predictors included waist circumference (AOR: 4.00; 95% CI: 3.80–4.20) and waist-to-height ratio (AOR: 3.95; 95% CI: 3.75–4.15). Psychosocial factors such as active/passive smoking and alcohol consumption increased the risk, while higher levels of physical activity were protective. Additionally, moderate and high consumption of ultra-processed foods (AOR: 1.12–1.22) and moderate intake of fatty and seasoned foods were significantly associated with increased risk. These findings highlight the urgent need for targeted interventions, especially for adult and older women, focusing on healthy lifestyle promotion and central obesity control to reduce the burden of metabolic syndrome in Indonesia.
Latar Belakang: Hipertensi Sistolik Terisolasi (HST) didefinisikan sebagai kondisi dimana tekanan darah sistolik ≥140 mmHg sedangkan tekanan darah diastolik < 90 mmHg. HST dinilai sebagai fenomena penuaan, merupakan jenis hipertensi paling berbahaya karena berespon lemah terhadap obat antihipertensi. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dan faktor dominan yang berhubungan dengan HST, dengan desain penelitian cross-sectional. Metode: Data yang digunakan yaitu Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 dengan sampel sebesar 18.599 (HST dan normal) serta subjek yang HST yaitu 1.471, dan dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 7,9% sampel yang mengalami hipertensi sistolik terisolasi (HST), dengan 85% sampel mengalami HST derajat I, 12,8% HST derajat II, dan 8,8% HST derajat III; terdapat hubungan signifikan antara umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan, status perkawinan, obesitas, obesitas sentral, stres psikologis, diabetes mellitus, konsumsi makanan asin, konsumsi makanan berlemak, dan aktivitas fisik terhadap kejadian HST, serta tidak ada hubungan antara konsumsi buah, konsumsi sayur, kebiasaan merokok dengan kejadian HST di Indonesia pada tahun 2018. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah tingkat pendidikan menjadi faktor dominan kejadian HST di Indonesia adalah tingkat pendidikan (OR = 2,14) setelah dikontrol variabel kebiasaan merokok.
Background: Isolated Systolic Hypertension (HST) is defined as a condition where the systolic blood pressure is ≥140 mmHg while the diastolic blood pressure is <90 mmHg. HST is considered a phenomenon of aging, is the most dangerous type of hypertension because it responds weakly to antihypertensive drugs. Objective: The aim of this study is to determine the associated factors and dominant factors associated with HST, with a cross-sectional research design. Method: The data used was Basic Health Research (Riskesdas) in 2018 with a sample of 18,599 (HST and normal) and 1,471 HST subjects, and analyzed using the chi-square test and logistic regression. Results: The results of this study showed that 7.9% of samples experienced isolated systolic hypertension (HST), with 85% of samples experiencing HST grade I, 12.8% HST grade II, and 8.8% HST grade III; there is a significant relationship between age, gender, education level, employment status, marital status, obesity, central obesity, psychological stress, diabetes mellitus, consumption of salty foods, consumption of fatty foods, and physical activity on the incidence of HST, and there is no relationship between consumption of fruit, vegetable consumption, smoking habits with the incidence of HST in Indonesia in 2018. Conclusion: The conclusion of this study is that the level of education that is the dominant factor in the incidence of HST in Indonesia is the level of education (OR = 2.14) after controlling for the smoking habit variable.
