Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34453 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Romy Eriansyah; Pembimbing: Ridwan Zahdi Syaaf; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Baiduri Widanarko, Mushanif Mukti, Neneng Churaeroh
Abstrak: Blowout dan muncul serta tersebarnya gas Hidrogen Sulfida merupakan bahaya khusus dari kegiatan pemboran (NIOSH, 1983). Sehingga dibutuhkan petugas khusus untuk penanganan bahaya paparan gas H2S yang disebut H2S engineer yang melakukan pekerjaan H2S Safety Monitoring. Pekerjaan ini berisiko tinggi sehingga H2S Engineer dituntut memiliki pengetahuan yang lebih mendalam tentang bahaya paparan gas H2S serta pengendaliannya. Tesis ini membahas tentang evaluasi pengetahuan kerja H2S Engineer pada pekerjaan H2S safety monitoring di PT.DE. Tujuannya adalah untuk mengetahui dan mengevaluasi gambaran pengetahuan kerja H2S engineer pada pekerjaan H2S safety monitoring. Penilaian pengetahuan dilakukan dengan memberikan kuesioner tentang pengetahuan kerja h2s safety monitoring kepada 30 orang h2s engineer PT.DE. Berdasarkan hasil penelitian diketahui tingkat pengetahuan kerja H2S Engineer masuk dalam kategori tingkat pengethauan sedang, boleh dikatakan belum maksimal. Dengan adanya gambaran tingkat pengetahuan kerja H2S Engineer diharapkan nantinya dapat dilakukan perbaikan yang dapat meningkatkan prestasi kerja perusahaan maupun H2S Engineer itu sendiri. Diperlukan pelatihan rutin, supervisi, serta penelitian-penelitian untuk mengetahui perkembangan pengetahuan kerja H2S Engineer secara berkala. Kata kunci: Job Knowledge, Pengetahuan Kerja, Hydrogen Sulphide (H2S), H2S Safety Monitoring, H2S Engineer
Read More
T-4431
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tri Utomo Pantyarso; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Mila Tejamaya, Baiduri Widanarko, Muhammad Dawaman, Irawadi Prihaswan
T-5488
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yessi Oktavia; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Dadan Erwandi, Hendra, Ahmad Fadli, Muhammad Damawan
Abstrak:
ndustri panas bumi merupakan penghasil gas alam diantaranya adalah gas Hidrogen Sulfida (H2S) yang sangat berbahaya terhadap manusia. Tesis ini menganalisis persepsi risiko bahaya gas Hidrogen Sulfida (H2S) terhadap pekerja lokal di lapangan panas bumi PT XYZ pada tahun 2020. Persepsi risiko adalah penilaian subyektif dari kemungkinan jenis kecelakaan dan potensi bahaya yang terjadi dan seberapa besar tingkat kepedulian seseorang terhadap konsekuensinya. Penelitian ini menggunakan paradigma psikometri yang merupakan ilustrasi terbaik untuk menentukan persepsi risiko seseorang dimana pendekatan ini dapat menganalisis risiko dengan memberikan jawaban yang baik dan jelas dari setiap dimensi, diantaranya paradigma kesukarelaan terhadap risiko, paradigma pemahaman terhadap risiko, paradigma pengendalian terhadap risiko, paradigma pengetahuan terhadap risiko serta paradigma kebaruan risiko. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan metode analisis deskriptif. Data diperoleh melalui kuesioner dengan 90 responden pekerja lokal yang kemudian dianalisis menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antara variabel terikat dan variabel bebas dengan tingkat kepercayaan ( CL) sebesar 95%. Hasil analisis menunjukkan bahwa gambaran persepsi risiko bahaya gas Hidrogen Sulfida (H2S) terhadap pekerja lokal di lapangan panas bumi PT. XYZ pada tahun 2020 adalah mayoritas sukarela terhadap risiko, paham dan mampu mengendalikan risiko tersebut namun tidak memiliki pengetahuan yang baik terutama tentang sains gas H2S serta menganggap risiko merupakan risiko lama yang sudah familiar. Disarankan bagi PT. XYZ untuk melakukan upaya upaya promotif seperti pelatihan tarkait gas Hidrogen Sulfida (H2S) yang lebih terencana, memaksimalkan materi safety induction terkait bahaya gas Hidrogen Sulfida (H2S), memaksimalkan forum toolbox meeting, weekly safety meeting serta pertemuan lainnya untuk meningkatkan awareness pekerja terkait bahaya gas Hidrogen Sulfida (H2S), membuat analisa mendalam terhadap observasi pekerja terkait unsafe behavior dan meningkatkan program industrial hygiene

Geothermal industry is a producer of natural gas including hydrogen sulfide gas (H 2 S) which is very dangerous to humans. This thesis will analyze the hazard risk perceptions of hydrogen sulfide gas (H 2 S) to local workers in the geothermal field of PT. XYZ in 2020. Risk perception is a subjective assessment of the following things, such as the likely types of an accident, the potential hazards that will occur, and how much a person is concerned about the consequences. This study uses a psychometric paradigm which is the best illustration to determine a person's risk perception where this approach can analyze risks by giving good and clear answers from each dimension, including the volunteerism dimension to risk, the dimension of understanding risk, the dimension of controlling risk, the dimension of knowledge towards risk as well as the newness dimension of risk. This study uses a cross-sectional design with a descriptive analysis method. Data obtained through a questionnaire with 90 respondents local workers who then analyzed using the univariate and bivariate analysis to determine the relationship between the dependent variable and the independent variable with a confidence level (CL) of 95%. The results of the analysis show that the description of the risk perception of Hydrogen Sulfide (H 2 S) gas for local workers in the geothermal field of PT. XYZ in 2020 is voluntary toward risk, have a good understanding and able to control of risk while does not have good knowledge especially about the science of hydrogen sulfide gas (H 2 S) and assume the risk of exposure to hydrogen sulfide gas (H 2 S) is an old risk. It is recommended for PT. XYZ to make promotive efforts such as more planned training of hydrogen sulfide gas (H 2 S), maximizing safety induction related to the hazard of hydrogen sulfide gas (H 2 S), maximizing toolbox meeting forums, weekly safety meetings and other meetings to increase workers' awareness regarding hazards Hydrogen Sulfide gas (H 2 S), makes an in-depth analysis of worker observations related to unsafe behavior and also increase the industrial hygiene programs.

Read More
T-5907
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Elfariyani; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowari; Penguji: Hendra, Heru Nugroho
Abstrak: Skripsi penelitian ini membahas terkait proses manajemen risiko keselamatan dan kesehatan kerja pada pekerjaan pembesian yang ada pada Proyek A PT X. Peneliti melakukan observasi, wawancara, dan studi literatur terkait penilaian dan pengendalian risiko, penentuan konteks, cakupan, dan kriteria, monitoring dan review, pencatatan dan pelaporan, komunikasi dan konsultasi khususnya pada pekerjaan pembesian. Luaran lainnya, peneliti membuat HIRADC yang nantinya akan dikomparasi dengan HIRADC perusahaan. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi proses manajemen risiko yang terimplementasi dengan studi kasus pekerjaan pembesian. Penelitian ini merupakan semi kuantitatif deskriptif dengan metode analisis menggunakan AS/NZS 2004.
Read More
S-10698
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dhani Rinaldi Ardiansyah; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Robiana Modjo, Laksita Ri Hastiti, Lorencius Kukuh Prabowo, Syahrul Effendi
Abstrak: Perancah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari suatu pekerjaan konstruksi, Pekerjaan perancah berkontribusi pada munculnya faktor risiko gangguan otot tulang rangka akibat kerja (gotrak) atau musculoskeletal disorders (MSDs). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor risiko terjadinya gotrak pekerja perancah di PT X. Jenis penelitian adalah potong lintang dengan responden karyawan di PT X sebanyak 156 karyawan. Penilaian faktor risiko ergonomi di tempat kerja dilakukan dengan pendekatan penilaian tingkat risiko pekerjaan dan keluhan subjektif pekerja. Responden memberikan informasi karakteristik individu, risiko ergonomi menggunakan metode (Rapid Entire Body Assessment atau REBA) dengan hasil yang mencapai nilai tinggi dan sangat tinggi. Tingkat risiko ergonomi menunjukkan 66,23 % responden termasuk kategori risiko tinggi dan 33,77 % responden termasuk kategori risiko rendah. Analisis keluhan gotrak pada pekerja menggunakan kuesioner Nordic Body Map menghasilkan 3 keluhan tertinggi yaitu leher bahu dan tangan/pergelangan. Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor risiko terjadinya Gotrak pekerja perancah di PT X pada gotrak 12 bulan yaitu usia ≥ 30 tahun OR 1,91(95% CI 1,37-3,25), masa kerja ≥ 10 tahun OR 2,42(95% CI 1,39-4,19), Jenis Pekerjaan perancah OR 8,77() (95% CI 3,93-19,55) dan Skor REBA tinggi OR 2,81 (95% CI 1,39-5,67). Sedangkan faktor risiko gotrak yang menyebabkan absen 12 bulan terakhir adalah usia ≥ 30 tahun OR 1.32 (95% CI 1.18-1.76), masa kerja ≥ 10 tahun OR 1.65 (95% CI 1.03-2.65), jenis pekerjaan perancah OR 10,98(95% CI 4,26-28,26), skor REBA tinggi 2,53(1,78-3,00), demands at work tinggi OR 1.65 (95% CI 1.02-2.51), work organization and job contents tinggi OR1.44 (95% CI 1.28-2.93), untuk faktor risiko 7 hari terakhir yaitu jenis pekerjaan perancah OR 2,79(95% CI 1,28-6,07), health and wellbeing rendah OR 1.43 (95% CI 1.09-1.84)
Scaffolding is an inseparable part of a construction work. Scaffolding work contributes to the emergence of risk factors for skeletal muscle disorders due to work (gotrak) or musculoskeletal disorders (MSDs). The purpose of this study was to analyze the risk factors for the occurrence of scaffolding at PT X. This type of research was crosssectional with 156 employees as respondents at PT X. Ergonomics risk factor assessment in the workplace is carried out with an approach to assessing the level of occupational risk and subjective complaints of workers. Respondents provided information on individual characteristics, ergonomic risks using the method (Rapid Entire Body Assessment or REBA) with the results achieving high and very high scores. The level of ergonomics risk shows that 66.23% of respondents are in the high risk category and 33.77% of the respondents are in the low risk category. The analysis of cough complaints on workers using the Nordic Body Map questionnaire resulted in the 3 highest complaints, namely neck, shoulders and hands/wrist. This study shows that the risk factors for the occurrence of Gotrak scaffold workers at PT X at 12 months old are age 30 years OR 1.91 (95% CI 1.37-3.25), working period 10 years OR 2.42 (95 % CI 1.39-4.19), awkward posture OR 6.24 (95% CI 2.40-16.21). While the risk factors for gotrak that caused the absence of the last 12 months are age 30 years OR 1.32 (95% CI 1.18-1.76), years of service ≥ 10 years OR 1.65 (95% CI 1.03-2.65), type of work OR 10.98 (95% CI 4.2628.26), REBA score 2.53 (1.78-3.00), demands at work OR 1.65 (95% CI 1.02-2.51), work organization and job contents OR1.44 (95% CI 1.28-2.93, for risk factors for the last 7 days, namely type of work OR 2.79 (95% CI 1.28-6.07), health and wellbeingOR 1.43 (95% CI 1.09-1.84).
Read More
T-6126
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tizi Dzul Khair; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Robiana Modjo, Ike Pujiriani
S-7276
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Pardyani; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Fatma Lestari, L. Meily, Selamat Riyadi, Bonny Lunrang
Abstrak:
Kelelahan kerja menjadi perhatian di tempat kerja karena sangat berpotensi mempengaruhi produktivitas, kesehatan dan keselamatan para pekerja yang menjadi penyebab utama kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK) pada pekerja konstruksi. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis determinan kelelahan kerja pada pekerja konstruksi pekerjaan atap di Proyek ABC di PT. XYZ pada tahun 2024. Desain penelitian pada penelitian ini adalah cross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 105 pekerja konstruksi pemasangan atap. Metode pengambilan data dengan melakukan pengisian kuesioner kepada responden dan pengukuran lingkungan kerja. Variabel independen pada penelitian ini adalah faktor work related (jam kerja, penghargaan, kebisingan, pencahayaan, suhu, lama perjalanan, beban kerja) dan faktor individu (usia, Indeks Masa Tubuh, gangguan tidur, masa kerja, overcommitment, riwayat penyakit kronis, pengaruh obat, kemampuan tidur di jam istirahat). Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan signifikan antara kebisingan, beban kerja, gangguan tidur, masa kerja dan kelelahan kerja. Sehingga faktor dominan yang paling berpengaruh terhadap kelelahan kerja pada pekerja konstruksi pekerjaan atap yaitu pekerja dengan beban kerja tinggi memiliki risiko 23 kali lebih besar berisiko untuk mengalami kelelahan kerja dibandingkan yang memiliki beban kerja rendah pada pekerja konstruksi pekerjaan atap.

Fatigue is a concern in the workplace because it has the potential to affect the productivity, health, and safety of workers, which is the main cause of work accidents and work-related diseases (PAK) in construction workers. This research aims to analyze the determinants of fatigue in roofing construction workers on the ABC Project at PT. XYZ in 2024. The research design in this study is cross-sectional. The sample in this study consisted of 105 roof installation construction workers. The data collection method is by filling out questionnaires to respondents and measuring the work environment. The independent variables in this study are work-related factors (working hours, rewards, noise, lighting, temperature, travel time, workload) and individual factors (age, Body Mass Index, sleep disorders, years of work, overcommitment, history of chronic disease, influence medication, ability to sleep during rest hours). The research results show that there is a significant relationship between noise, workload, sleep disturbances, work experience, and work fatigue. So the dominant factor that has the most influence on work fatigue in roofing construction workers is that workers with a high workload have a 23 times greater risk of experiencing work fatigue than those with a low workload in roofing construction workers.
Read More
T-7054
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Age Bunga Perdana; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Abdul Kadir, Barmanto
Abstrak:
Kecelakaan kerja masih menjadi isu penting di tempat kerja, termasuk di PT X, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi. Salah satu upaya preventif yang dilakukan adalah pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja (safety training) bagi pekerja lapangan. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas safety training dalam meningkatkan pengetahuan K3 pada pekerja lapangan PT X tahun 2025. Penelitian menggunakan mix method dengan desain pre-eksperimental (One Group Pre-Test Post-Test) pada 55 peserta pelatihan. Data kuantitatif diperoleh melalui pre-test, post-test, dan kuesioner kepuasan, sedangkan data kualitatif dikumpulkan melalui observasi dan telaah dokumen. Analisis statistik dilakukan dengan paired sample t-test, sementara data kualitatif dianalisis secara deskriptif berdasarkan model evaluasi CIRO (Context, Input, Reaction, Outcome). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata pengetahuan K3 dari 87,64 pada pre-test menjadi 92,73 pada post-test atau naik 5,81% dengan perbedaan yang signifikan (p < 0,05). Seluruh peserta (100%) mencapai nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 70. Rata-rata kepuasan peserta terhadap pelatihan mencapai 4,14 (kategori tinggi), dengan penilaian tertinggi pada kompetensi instruktur. Evaluasi aspek konteks dan input menunjukkan bahwa pelatihan sesuai kebutuhan, difasilitasi dengan baik, dan disampaikan oleh instruktur kompeten. Secara keseluruhan, safety training dinyatakan efektif dalam meningkatkan pengetahuan K3.

Workplace accidents remain a major concern, including at PT X, a company engaged in the telecommunications sector. One preventive effort implemented is occupational health and safety (OHS) training for field workers. This study aims to analyze the effectiveness of safety training in improving OHS knowledge among field workers at PT X in 2025. A mixed-method approach was used with a pre-experimental design (One Group Pre-Test Post-Test) involving 55 training participants. Quantitative data were collected through pre-tests, post-tests, and satisfaction questionnaires, while qualitative data were gathered through observation and document review. Statistical analysis was conducted using the paired sample t-test, and qualitative data were analyzed descriptively based on the CIRO evaluation model (Context, Input, Reaction, Outcome). Results showed an increase in the average OHS knowledge score from 87.64 (pre-test) to 92.73 (post-test), representing a 5.81% improvement, with a statistically significant difference (p < 0.05). All participants (100%) achieved scores above the minimum passing criteria (≥ 70). The average satisfaction score was 4.14 (high category), with the highest rating in instructor competence. Evaluation of the context and input aspects indicated that the training was relevant, well-facilitated, and delivered by competent instructors. Overall, the safety training was effective in enhancing workers’ OHS knowledge.
Read More
S-11990
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Pardyani; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Mayarni
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang penilaian risiko keselamatan kerja pada pekerjaan konstruksi di ketinggian di Proyek Bogor Valley Residence & HotelPT. X Tahun 2014. Penilaian risiko ini dititik beratkan kepada risiko yang akan dialami pekerja pada pekerjaan ketinggian khususnya di bagian finishing, yaitu: pengecatan dengan menggunakan gondola, pemasangan railing di tepi gedung sampai dengan ketinggian 20 lantai, pemasangan billboard dengan menggunakan scaffholding, dan Passenger hoist. Penilaian risiko dilakukan dengan menganalisis nilai kemungkinan,pemajanan dan konsekuensi dari setiap tahapan pekerjaan yang kemudian dibandingkan dengan standar level risiko semi kuantitatif W.T. Fine J untuk mengetahui level risiko yang ada pada setiap tahapan proses produksi. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan metodesemi kuantitatif AS/NZS 4360:2004. Desain penelitian yang dilakukan adalah observasional dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data didapatkan dari hasil observasi dan wawancara. Hasil penelitian pekerjaan di ketinggian didapatkan hasil level very high, priority 3, substantial, priority 1 dan acceptable.
Kata Kunc i: AS/NZS 4360:2004, penilaian risiko, konstruksi, pekerjaan di ketinggian
This study discusses the safety risk assessment in construction work atheight in Project Bogor Valley Residence & Hotel PT. X 2014. Risk assessment isfocused to the risk that will be experienced by workers on the job, especially atthe height of finishing, namely: painting by using the gondola, the installation ofrailing at the edge of the building up to a height of 20 floors, billboards usingscaffholding, and Passenger hoist.Risk assessment is done by analyzing the probable value, exposure andconsequences of each phase of the work which is then compared to the standardsemi-quantitative risk level W.T Fine. J to determine the level of risk involved ineach stage of the production process. The study was a descriptive analytic studyusing semi-quantitative method AS/NZS 4360:2004. Design research is anobservational cross-sectional approach. The collection of data obtained fromobservations and interviews. The study states that the level of risk in work atheight includes very high level, priority 1 level, substantial level, priority 3 levelandacceptable level.Keywords:AS/NZS 4360:2004, risk assessment, construction, work at height.
Read More
S-8238
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Melly Fadhilah Harahap; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Robiana Modjo, Mila Tejamaya, Devi Dwirantih, Fahmi Syaiful
Abstrak: Di era revolusi industri 4.0, manusia masih berperan penting dalam menghasilkan produksi di beberapa sektor. Namun manusia juga memiliki keterbatasan dari segi fisik, fisiologis maupun psikologis. Ketidakseimbangan tersebut dapat menimbulkan suatu masalah pada tubuh, yaitu gangguan otot dan tulang rangka (gotrak). Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor individu, pekerjaan dan psikososial terhadap terjadinya gotrak pada pekerja di area pengepakan PT AS. Jenis penelitian adalah potong lintang dengan responden sebanyak 172 pekerja di area pengepakan. Pada penilaian risiko ergonomi, administrator/supervisor menggunakan ROSA, operator pengepakan menggunakan RULA, helper menggunakan OWAS. Hasil kuesioner didapatkan prevalensi tertinggi pada gotrak 7 hari yaitu leher, bahu dan punggung atas, sedangkan pada gotrak 12 bulan, prevalensi tertinggi yaitu leher dan bahu. Analisis penelitian ini didapatkan bahwa terdapat hubungan antara gotrak 7 hari dengan sikap kerja membungkuk 1-4 jam dengan nilai OR 2.07 (1.00-4.32), frekuensi angkut beban 21-30 kali/jam dengan nilai OR 8.33 (1.13-61.50) dan tingkat stres ringan dengan nilai OR 2.48 (1.10-5.59). Sedangkan pada gotrak 12 bulan, tuntutan kerja tinggi memiliki hubungan signifikan terhadap gotrak pada pekerja area pengepakan PT AS dengan nilai OR 2.67 (1.19-5.99). Keluhan gotrak pada pekerja di area pengepakan PT AS cukup tinggi (>60%), untuk itu perlu dilakukan perbaikan segera
In the era of the industrial revolution 4.0, humans still being an important role in production in several sectors. But humans also have limitations in terms of physical, physiological, and psychological. This imbalance can cause a problem in the body, namely work musculoskeletal disorders (WMSDS). The purpose of this study was to analyze individual, occupational, and psychosocial factors on WMSDS in workers in the packing area of PT AS. This type of research is cross-sectional with 172 workers in the packing area of PT AS. In ergonomics risk assessment, administrators/supervisors use ROSA, packing operators use RULA, helpers use OWAS. The results of questionnaire showed that the highest prevalence at 7-days WMSDS were neck, shoulder and upper back, while at 12 months, the highest prevalence were neck and shoulder. The analysis of this study found that there was a relationship between 7-days WMSDS with a stooping attitude for 1-4 hours with an OR value of 2.07 (1.00-4.32), the frequency of carrying loads 21-30 times/hour with an OR value of 8.33 (1.13-61.50) and mild level of stress with an OR value of 2.48 (1.10-5.59). Meanwhile, at 12 months of WMSDS, high work demands have a significant relationship with WMSDS in packing area workers of PT AS with an OR value of 2.67 (1.19-5.99). complaints of WMSDS in the packing area of PT AS are quite high (>60%), so it is necessary to repair it immediately
Read More
T-6282
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive