Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 27932 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Suhartono; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Asri C.Adisasmita, Sabar Paulus, Suherman, Edi Haryanto
Abstrak:
Morbiditas malaria di Indonesia tertinggi diantara negara-negara Asia Tenggara. Berdasarkan data Departemen Kesehatan, prevalensi malaria 4 tahun terakhir ini meningkat. Di Kabupaten Gorontalo prevalensi malaria klinis cenderung meningkat dan 19 per 1000 penduduk tahun 1997 menjadi 24 per 1000 penduduk tahun 2001. Pada periode yang sama angka nasional menunjukkan angka 16 per 1000 penduduk tahun 1997 dan 31 per 1000 penduduk tahun 2001. Surveilans malaria tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Peningkatan insidens malaria tidak terdeteksi secara dini, tingkat endemisitas tidak terpantau secara rinci penurunan dan peningkatan disetiap wilayah, serta informasi selalu terlambat diterima oleh Dinas Kesehatan. Potensi yang dapat memberikan informasi cepat dalam kegiatan surveilans yaitu keberadaan puskesmas pembantu di 127 desa di kabupaten Gorontalo perlu dikembangkan agar mampu melakukan surveilans malaria. Ditemukan lebih dari 90% petugas puskesmas pembantu tidak pernah dilatih surveilans malaria. Penelitian ini merupakan eksperimen murni dengan desain pre test post test control group design melalui intervensi pelatihan surveilans malaria petugas puskesmas pembantu. Sebelum intervensi dan 4 minggu setelah intervensi dinilai peningkatan kinerjanya. Penilaian dilakukan terhadap 7 indikator kinerja yang meliputi ketersediaan dokumen peta endemisitas, slide sediaan darah, pemeriksaan mikroskopis, survei malariometrik, pencatatan dan pelaporan, analisis dan saran, serta penyebarluasan informasi kepada yang berkepentingan. Skor minimal 0 maksimal 12. Intervensi meningkatkan kinerja 1,7 skor dengan standard error 0,23 dan p > I t I W 0,0000. Setelah disesuaikan (adjusted) dengan variabel lain yang mempengaruhinya diperoleh peningkatan kinerja 1,52 skor, dan 69,15% subyek yang diintervensi kinerjanya meningkat > 1 skor. Peningkatan kinerja sebesar ini dapat merubah posisi kinerja jelek menjadi sedang dan sedang menjadi baik. Variabel yang mempengaruhi peningkatan kinerja adalah intervensi, jenis kelamin, umur, dan pedoman kerja. Prediksi individu yang tidak dilatih kinerjanya menurun dari waktu kewaktu sebesar 1,3 skor. Intervensi dalam bentuk pelatihan tidak bisa hanya sekali untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerja petugas pembantu. Mereka yang pernah dilatih sebaiknya dibekali dengan pedoman kerja.

Malaria morbidity in Indonesia is the highest among the Southern East Asian Nations. According to the Ministry of Health of Indonesia, malaria prevalence in recent four years increased. In Gorontalo regency clinical malaria tend to increase 19 per 1000 peoples in 1997 to 24 per 1000 peoples in 2001. Malaria surveillance was not attempted properly, increasing incidence of malaria was not early detected, the endemicity have not known yet increased or decreased in the area. For overcoming this problems the capabilities of the nurses have to be progressed by the training of the malaria surveillance. The nurses of the community health centre at 127 villages in Gorontalo are the potential providers who can give community base informations rapidly, but they have no capabilities for it. This research also revealed that more than 90 percent of the nurses never trained about malaria surveillance. This study is an experimental design with randomized pre test post test control group design. We have trained about 43 nurses of the village health centre as the subject of intervention, meanwhile 38 nurses as the controls. We use the 7 variables as the composit variables to indicate the performance elevating, those are: documents of the endemicity map (spot map), the blood slides, malarial microscopic report, malariometric survey document, recording and reporting, analysis of the cases and suggested intervention, giving the information for the patients and the Community Health Centre. We compare the first evaluation of their surveillance malaria performance to 4 weeks after the intervention for the group of intervention and the control group. Minimum score is 0 and maximum is 12. The controls have no progress in their performance, but the intervention subject have.The testing results before and after intervention shows an elevated 1,7 scores with standard error 0,23 and p >1 t I = 0,0000 The multivariate regression linier counting the elevated after adjusted by sex, age and work guidance as 1,52 scores. This progress could bring who has a bad performance become fair and who has a fair performance become better. About 69,15 percent subjects who trained the performance increased about 1 score.and more. The variables that influenced for the progress of the performance are intervention, sex, age, and the work guidance. The individual prediction theoritically performance will drop 1,3 scores if their aren't intervention by the training.
Read More
T-1410
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Rahman; Pembimbing: Ratna Djuwita
T-1166
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendra Kusumajaya; Pembimbing: Nasrin Kodim
T-840
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ira Wignjadiputro; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Renti Mahkota, Tri Yunis Miko Wahyono, Edy Hariyanto, Ni Ketut Sulilarini
T-4654
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ima Hariyati; Pembimbing: Hafizurrachman, Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Tugiman, Johan Arief Budiman
Abstrak:

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh budaya organisasi dan status kesehatan terhadap kinerja dosen di Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta II. Penelitian dilakukan pada dosen tetap selama bulan Mei sampai Juni 2012. Berdasarkan evaluasi yang pernah dilakukan sebelumnya kinerja pada aspek pengajaran, penelitian, pengabdian masyarakat belum mencapai maksimal. Berkaitan hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui ada/tidaknya peningkatan kinerja. Merupakan penelitian kuantitatif menggunakan metode cross sectional dan pengambilan sampel secara proportionate stratified random sampling. Kuesioner dengan 20 pertanyaan untuk mengukur indikator profesionalisme, kepedulian, kondisi mental dan aktivitas berolah raga. Pemeriksaan langsung berat badan dan tinggi badan untuk mengukur BMI. Analisis data menggunakan SEM-SmartPLS. Sampel berjumlah 67 dosen yang diambil dari 103 dosen. Analisis dilakukan antara variabel eksogen dengan endogen pada model yang diajukan. Budaya organisasi mempengaruhi kinerja 11,4% dan status kesehatan memberi pengaruh 25,2% terhadap kinerja. Prediksi model penelitian 8,7%. Variabel budaya organisasi dan status kesehatan signifikan berpengaruh terhadap kinerja.


The objective of this research was to evaluate the influence of organization culture and health status to lecturer performance at Health Polytechnic Jakarta II Ministry of Health. Samples of this research were permanent lecturers at Health Polytechnic Jakarta II Ministry of Health in May-June 2012. Based on previous evaluation on lecturer performance at the same place for education, research and community perpetuation, the result had not reached maximum. That is why there should be another research to evaluate this lecturer performance. This is a quantitative cross-sectional research. Samples were collected using proportionate stratified random sampling. Questioner consisted on 20 questions for assessing indicator for professionalism, care, mental condition, and exercise activity. Direct examination was carried out on weight, height assessing BMI. Data analyses were done using SEM-SmartPLS. Samples were 67 lecturers from 103 lecturers. Analyses were carried out between exogenous and endogenous variables on proposed models. Organization culture influenced 11.4% and health status influenced 25.2% on lecturer performance. Prediction model on this research was 8.7%. Organization Culture and health status variables influenced lecturer performance significantly.

Read More
T-3548
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
RM Tjahja Nurrobi; Promotor: Sudarto Ronoatmodjo; Kopromotor: Mondastri Korib Sudaryo, Besral; Penguji: Hadi Pratomo, Ratna Djuwita, Syahrizal Syarif, Syamsul Maarif, Wawan Mulyawan
Abstrak: DKI Jakarta menempati peringkat pertama jumlah kasus COVID-19 di Indonesia, dengan 416.747 kasus kumulatif (15 kasus per 10.000 penduduk) dan 6.866 kematian kumulatif (CFR 1,64% atau 16 kematian per 1.000 kasus COVID-19) per tanggal 15 Mei 2021. Tingginya angka morbiditas dan mortalitas COVID-19 ini disebabkan oleh faktor pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap COVID-19 yang rendah. Salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku tersebut adalah dengan pelatihan. Dan pelatihan yang dianggap efektif pada masa pandemi COVID-19 ini adalah dengan menggunakan metode pelatihan e-learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan metode e-learning terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku kesiapsiagaan bencana pandemi COVID-19 level individu, keluarga dan komunitas pada kader Dasa Wisma di DKI Jakarta. Desain penelitian yang akan dilakukan adalah Mixed Method. Pada pendekatan kuantitatif, peneliti menggunakan desain Interventional Pre Post Study pada 505 sampel kader Dasa Wisma dari 20 kelurahan di DKI Jakarta yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok intervensi mendapatkan pemberian e-modul dan pemaparan modul secara virtual. Sedangkan kelompok kontrol hanya pemberian e-modul saja. Kedua kelompok dibandingkan nilai pre-tes serta post-tes pada minggu ke 2 dan ke 4. Sementara studi kualitatif digunakan sebagai formative research serta untuk menganalisis kendala pada saat pelatihan dengan metode FGD, Wawancara Mendalam dan observasi. Hasilnya menunjukkan bahwa setelah 1 bulan follow up, bila dibandingkan antara sebelum dan sesudah pelatihan, maka pelatihan metode e-learning baik yang tanpa pemaparan maupun yang dengan pemaparan e-modul kesiapsiagaan bencana pandemi COVID-19 pada umumnya dapat meningkatkan secara bermakna semua variabel kecuali variabel komunitas (COM) dan kebijakan (POL). Sedangkan bila dibandingkan antara kelompok kontrol dan intervensi, maka pelatihan metode elearning dengan pemaparan dapat meningkatkan secara bermakna variabel kesiapsiagaan individu (INCOV), kesiapsiagaan keluarga (FAMCOV), pengetahuan individu (KIN), pengetahuan keluarga (KFAM), perilaku individu (PIN), perilaku keluarga (PFAM) dan perilaku organisasi (PORG). Namun tidak berpengaruh bermakna pada variabel kesiapsiagaan komunitas (COMCOV), sikap individu (AIN), sikap keluarga (AFAM), komunitas (COM) dan kebijakan (POL)
Read More
D-458
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sumiati Bedah; Promotor: Ratna Djuwita; Kopromotor: Syahrizal Syarif, Lukman Hakim; Penguji: Nurhayati A. Prihartono, Syafruddin, Budi Haryanto, Besral, Masdalina Pane,
Abstrak:
Pada tahun 2019, Indonesia melaporkan 250.644 kasus malaria. Lima provinsi dengan kasus positif malaria terbesar adalah Papua, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Kalimantan Timur, dan Lampung. Sementara itu, DKI Jakarta dan Bali, yang berbatasan dengan Lampung, sudah masuk kategori provinsi bebas malaria (Kemenkes, 2019). Pemahaman tentang gejala klinis malaria lokal sangat penting bagi suatu wilayah, karena dapat menjadi panduan bagi masyarakat dalam mengenali tanda-tanda awal penyakit malaria. Penelitian ini menggunakan dua desain, yaitu cross-sectional untuk menyusun dan mengembangkan algoritme gejala klinis malaria lokal di wilayah studi, dan quasi- eksperimental untuk menentukan pengaruh Mass Blood Survey (MBS) Plus dalam menemukan kasus malaria. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa kombinasi gejala klinis yang paling sensitif dan spesifik untuk malaria lokal adalah sakit/nyeri kepala, demam, dan menggigil, dengan sensitivitas 88,43% dan NPN 84,95%. Gejala-gejala ini dapat menjadi indikator yang baik untuk skrining di wilayah setempat. Selanjutnya, kelompok intervensi (MBS Plus) memiliki Annual Parasite Incidence (API) yang lebih rendah (16,06) dapat mendeteksi 13 kali lebih banyak kasus malaria dibandingkan kelompok kontrol (MBS reference) dengan API yang lebih tinggi (60,14). Hal ini menunjukkan bahwa jika intervensi serupa diterapkan di populasi dengan API tinggi, kemungkinan besar akan ditemukan lebih banyak kasus malaria. Intervensi MBS Plus penting untuk dilanjutkan dengan tujuan semakin sering ditemukan kasus malaria, maka percepatan dalam mencapai mini eliminasi (eliminasi lokal) semakin terwujud, dengan prinsip "temukan dan obati".

In 2019, Indonesia reported 250,644 cases of malaria. The five provinces with the largest number of positive cases of malaria are Papua, East Nusa Tenggara, West Papua, East Kalimantan and Lampung. Meanwhile, DKI Jakarta and Bali, which border Lampung, have been categorized as malaria-free provinces (Ministry of Health, 2019). Understanding the clinical symptoms of local malaria is very important for a region, because it can be a guide for the community in recognizing the early signs of malaria. This study used two designs, namely cross-sectional to develop and develop an algorithm for local malaria clinical symptoms in the study area, and quasi-experimental to determine the effect of the Mass Blood Survey (MBS) Plus in finding malaria cases. The results of the validity test show that the most sensitive and specific combination of clinical symptoms for local malaria is headache, fever and chills, with a sensitivity of 88.43% and an NPN of 84.95%. These symptoms can be a good indicator for screening in the local area. Furthermore, the intervention group (MBS Plus) had a lower Annual Parasite Incidence (API) (16.06) and was able to detect 13 times more cases of malaria than the control group (MBS reference) with a higher API (60.14). This suggests that if similar interventions were implemented in populations with high APIs, more malaria cases would likely be found. It is important to continue the MBS Plus intervention with the aim that the more frequently cases of malaria are found, the more acceleration in achieving mini elimination (local elimination) will be realized, with the principle of "find and treat"
Read More
D-539
Depok : FKM UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Made Winarta; Promotor: Mondastri Korib Sudaryo; Kopromotor:Tri Yunis Miko Wahyono, Agnes Kurniawan; Penguji: Evi Martha, Ratna Djuwita, .I Made Djaja, Lukman Hakim, Waras Budiman, Soroy Lardo
Abstrak:
Latar Belakang: Tidak adanya Pemberian kemoprofilaksis pada pasukan pengamana daerah perbatasan menyebabkan tingkat kesakitan dan kematian akibat infeksi Malaria tinggi. Oleh karena itu sangat dibutuhkan suatu metode intervensi yang dapat mencegah insiden Malaria pada pasukan TNI di perbatasan tersebut. Efektivitas metode ini belum diuji secara optimal di daerah endemis Malaria seperti pada perbatasan Papua dan Papua New Guinea. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas Pemberian intervensi pada kelompok perlakuan pasukan TNI yang bertugas di wilayah perbatasan. Metode: Sebuah metode Mix Method yang dilakukan pada Juli-Oktober 2019 di Perbatasan Papua dan PNG. Subjek penelitian adalah satgas pasukan TNI Angkatan Darat dalam keadan sehat dan tidak sedang menderita Malaria. Subjek penelitian dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok intervensi standar sebagai kontrol (P1), kelompok intervensi meflokuin (P2), dan kelompok intervensi kombinasi Meflokuin dan Indooor Residuak Spraying (P3). Kemudian semua pasien difollow-up selama 126 hari dan dilihat insiden Malaria pada pasukan tersebut. Hasil: Insiden infeksi Malaria pada kelompok intervensi P2 lebih rendah dibandingkan dengan kelompok intervensi P1 (16.349% vs 82.39%). Dan Insiden infeksi Malaria pada kelompok intervensi P3 juga lebih rendah dibandingkan dengan kelompok intervensi P1(13.25% vs 82,39%). Rate Ratio (RR) intervensi Meflokuin terhadap insiden Malaria adalah 0.078 (CI 95%; 0.039 – 0.154). Rate Ratio (RR) intervensi kombinasi meflokuin dengan IRS terhadap infeksi Malaria adalah 0.073 (CI 95% = 0.045 – 0.119). Proporsi kasus yang dapat dicegah (PFu%) dengan intervensi P2 sebesar 92% dan intervensi P3 93%. Artinya, sebanyak 92% kejadian infeksi Malaria pada kelompok intervensi P1 dicegah dengan Pemberian kemoprofilaksis meflokuin dan sebesar 93% Artinya, sebanyak 93% kejadian infeksi pada kelompok intervensi P1 dicegah dengan Pemberian kombinasi kemoprofilaksis meflokuin dengan IRS. Hasil kualitatif memnemukan adanya hak ulayat dan tidak memakai kemoprofilaksis srehingga mudah terkena malaria Kesimpulan: Intervensi dengan meflokuin dan intervensi kombinasi meflokuin dengan IRS adalah sangat efektif dapat mencegah kedarian infeksi Malaria. Berkurangnya kejadian infeksi Malaria sejalan dengan bekuranngya transmisi dan morbiditas infeksi Malaria pada Satgas pengamanan daerah perbatasan yang endemis Malaria.

Background: The absence of giving chemoprophylaxis to security forces in border areas cause high morbidity and mortality due to Malaria infection. Therefore, an intervention method is urgently needed that can prevent Malaria incidents in TNI troops on the border. The effectiveness of this method has not been optimally tested in Malaria endemic areas such as the border of Papua and Papua New Guinea. The study aims: to determine the effectiveness of giving interventions to the treatment group of TNI troops serving in the border area. Method: A mixed method was conducted in July till October 2019 on the border of Papua and PNG. The research subjects were the Indonesian Army Troops task force who were in good health and were not suffering from Malaria. The research subjects were divided into 3 groups, namely the standard intervention group as a control (P1), the Meflokuin intervention group (P2), and the Meflokuin and Indoor Residual Spraying combination intervention group (P3). Then all patients were followed-up for 126 days and the incidence of Malaria was observed in the troops. Results: The incidence of Malaria infection in the P2 intervention group was lower than in the P1 intervention group (16.349% vs 82.39%). And the incidence of Malaria infection in the P3 intervention group was also lower than in the P1 intervention group (13.25% vs 82.39%). The Hazard Ratio (HR) of the Meflokuin intervention to the incidence of Malaria was 0.078 (95% CI; 0.039 – 0.154). The Hazard Ratio (HR) of Meflokuin and IRS combination intervention for Malaria infection was 0.073 (95% CI = 0.045 – 0.119). The proportion of cases that could be prevented (PFu%) with P2 interventions was 92% and 93% with P3 interventions. This means that as much as 92% of the incidence of Malaria infection in the P1 intervention group was prevented by administering Meflokuin chemoprophylaxis and by 93%. Qualitative results found that they had “Hak Ulayat” and did not use chemoprophylaxis so they were susceptible to malaria Conclusion: Intervention with Meflokuin and Meflokuin combination intervention with IRS is very effective in preventing the occurrence of Malaria infection. The reduced incidence of Malaria infection is in line with the reduced transmission and morbidity of Malaria infection in the Task Force for securing Malaria-endemic. border areas.
Read More
D-488
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lukman Waris; Pembimbing: Abdur Rahman; Penguji: Supratman Sukowati
Abstrak:
Malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia termasuk di Kalimantan Selatan dan merupakan reemerging disease di dunia. Spesies vektor malaria yang terpenting di pulau Kalimantan adalah An.subpicius Grassi, menjadi masalah karena sehubungan dengan terjadinya penebangan hutan mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh Pyriproxyfen terhadap pertumbuhan, perkembangan dan mortalitas larva An.subpictus. Metode penelitian adalah eksperimen skala laboratorium dimana variabel dependen adalah konsentrasi Pyriproxyfen (ppm) dan variabel independen adalah pertumbuhan dan perkembangan larva dan pupa, mortalitas larva dan pupa, abnormalitas dari pra-dewasa dan nyamuk dewasa. Analisis statistik adalah correlation regression dilakukan untuk melihat hubungan korelasi antara variabel dependen dan variabel independen. Pemeriksaan mikroskop dilakukan untuk melihat perkembangan yang abnormal dan penyebab terjadinya kematian pada stadium pra-dewasa. Hasil penelitian adalah Pyriproxyfen sebagai suatu alternatif IGR, memberikan dampak kematian dan pengaruh pertumbuhan terhadap stadium larva ke pupa dan stadium pupa ke nyamuk dewasa. Makin tinggi konsentrasi Pyriproxyfen, makin tinggi kematian larva (p=0,012), dan makin sedikit pupa yang terbentuk (p=0,007), dan makin sedikit pupa yang mati (p=0,015). Hasil analisis korelasi memperlihatkan hubungan positif antara Pyriproxyfen terhadap kematian larva (Kematian Larva=22,29+0,4*Konsentrasi), hubungan negatif antara Pyriproxyfen terhadap pembentukan pupa (Pembentukan Pupa=2,71-24*Konsentrasi), dan hubungan negatif antara Pyriproxyfen terhadap kematian pupa (Kematian Pupa=2,86-0,44*Konsentrasi). Dari penelitian ini tidak ada pupa yang berhasil menjadi nyamuk dewasa. Pengaruh Pyriproxyfen terhadap pertumbuhan larva dan pupa adalah menggagalkan proses ecdysis yang menyebabkan kematian pada larva dan pupa.

Malaria is still as a public health problem in Indonesia including South Kalimantan, and one of a reemerging disease. The important of species malaria vector in coastal area of Kalimantan is An. subpictus Grassi, this species become very important malaria vector due to an increasing deforestation of mangrove. The objective of this study is to describe the impact of Pyriproxyfen to the growth, development and mortality of An. subpictus larvae. The study design is an experimental in laboratory scale, where dependent variable is Pyriproxyfen concentration (ppm) and the independent variables are larvae and pupae growth and development, mortality of larvae and pupae, an abnormality of immature and adult stages. Statistical analysis, correlation regression were used to describe a correlation between dependent and independent variables. Microscopic examinations were carried out to examined development and describe any anomaly or abnormalities, and caused of dead of the immature stages. The results of this study showed that the Pyriproxyfen is very potential IGR, it were kill and hampered the development of larvae to pupae and also pupae to adults stages. The higher concentration of Pyriproxyfen, the higher rate of larva mortality (p=0,012), and as lower pupa formed (p=0,007), and lower rate of pupa mortality (p=0,015). The correlation analysis found that relation between Pyriproxyfen to larva mortality is positive (mortality of larva=22,29+0,4*concentration), relation between Pyriproxyfen to pupa formed is negative (pupa formed=2,71-24*concentration), and relation between Pyriproxyfen to pupa mortality is negative (mortality of pupa= 2,86-0,44*concentration). None of the pupa has been succeeds to emerged become adult stage (mosquito). The important effect of Pyriproxyfen is to the growth of larvae and pupae, it is hampered the ecdysis and at the end will cause death of larva and pupa.
Read More
T-1666
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ketut Ngurah; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Ratna Djuwita, Korib Mondastri Sudaryo, Hari Santoso, Vensya
Abstrak:

Berdasarkan hasil analisis situasi masalah kesehatan, jumlah kasus diare di Kabupaten Kebumen dalam lima tahun terakhir menunjukan tren yang meningkat, dan dilihat dari angka kasus dan CFR diare masih sangat tinggi. Kemudian dari hasil evaluasi sistem surveilans diare diperoleh bahwa pelaksanaan sistem surveilans diare di Kabupaten Kebumen belum berjalan optimal, ini terlihat dari hasil persentase ketepatan waktu laporan mingguan diare tahun 2009 baru mencapai 20%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor motivasi petugas terhadap timeliness laporan mingguan diare. Penelitian ini menggunakan  desain cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 35 responden (total populasi). Faktor motivasi yang diteliti adalah motivasi intrinsik (pengetahuan, pendidikan, lama bertugas), dan motivasi ekstrinsik (insentif, fasilitas, tugas rangkap, sistem pelaporan, kumpulan bidan desa, SK Tim KLB, dan pelatihan). Hasil penelitian pada 35 responden diperoleh sebanyak 21 (60%) responden yang pengiriman laporan mingguan diare dari bulan Januari s/d Juni 2010 tidak tepat waktu (terlambat). Faktor-faktor motivasi yang berpengaruh terhadap timeliness laporan mingguan diare adalah beban tugas rangkap (OR=19,06; p=0,015; CI=1,771-205,139), tingkat pengetahuan (OR=15,92; p=0,02; CI=1,485170,750), dan sistem pelaporan (OR=5,72; p=0,064; CI=0,902-36,238). Kata Kunci : Timeliness, Motivasi, Intrinsik, Ekstrinsik, Diare.


Based on the results of situational analysis of health problems at Kebumen Distric, the number of cases of diarrhea shows increased at Kebumen in the last five years. Recently its the morbidity and mortality rate were still high. Mean while results of diarrhea surveillance system evaluation shows that performance of diarrhea surveillance system at Kebumen not optimal. Such as timely weekly reports of diarrhea in 2009 reached 20% (target ≥ 80%). This study aims to determine the relationship between motivation of surveilance officers and timeliness in diarrhea surveillance. This study uses cross sectional study design with a total sample of 35 respondents (total population). Motivation factors study were group in to intrinsic motivation (knowledge, education, length of duty), and extrinsic motivation (incentives, facilities, work loads, the reporting system, midwives meeting, decree of outbreaks team, and training). The results shows 21 (60%) respondents are sending weekly reports of diarrhea from January to June 2010 does not on time . Motivation factors which assosiated with timeliness diarrhea weekly reports are work loads (OR = 19.06; p=0,015; CI=1,771-205,139), knowledge (OR = 15.92; p=0,022; CI=1,485-170,750), and electronic reporting systems (OR=5.72; p=0,064; CI=0,902-36,238). Keywords : Timeliness, Motivation, Intrinsic, Exstrinsic, Diarrhea.

Read More
T-3283
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive