Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31208 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rika Mayasari, Diana Andriyani, Hotnida Sitorus
Bulitkes Vol.44, No.1
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2016
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Denny Saptono Fahrurodzi; Pembimbing: Helda; Penguji: Yovsyah, Julianty Pradono
Abstrak: Latar Belakang: Gagal jantung memiliki angka bertahan hidup yang rendah. Sekitar 26 juta orang dewasa hidup dengan gagal jantung di dunia. Berdasarkan Riskesdas 2013, prevalensi gagal jantung berdasarkan wawancara terdiagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,13 %. Metode: Penelitian ini menggunakan data Riskesdas tahun 2013 dengan desain studi cross-sectional. Sampel adalah seluruh penduduk yang berada di Indonesia berusia ≥18 tahun. Diagnosis gagal jantung (decompensatio cordis) berdasarkan diagnosa dokter. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 655.192 orang. Hasil: Analisis data menunjukkan prevalensi gagal jantung terdiagnosis sebesar 0,1%. Faktor risiko yang paling besar terhadap kejadian gagal jantung di Indonesia adalah penyakit jantung koroner (POR=42,578; 95% CI=35,982-50,383; p<0,001). Kesimpulan dan saran: Kejadian gagal jantung berdasarkan diagnosis dokter memiliki prevalensi 0,1% dan penduduk perempuan yang memasuki masa menopause dan berumur lebih dari 41 tahun diharapkan rutin melakukan cek kesehatan jantung serta mengurangi aktivitas sedentari. Selain itu, penduduk disarankan untuk menghindari penyakit jantung koroner, diabetes mellitus, stress, hipertensi, obesitas, dan merokok dengan pola hidup sehat agar terhindar dari gagal jantung. Kata kunci: Gagal Jantung, Sosiodemografi, Gaya Hidup, Riwayat Penyakit Latar Belakang: Gagal jantung memiliki angka bertahan hidup yang rendah. Sekitar 26 juta orang dewasa hidup dengan gagal jantung di dunia. Berdasarkan Riskesdas 2013, prevalensi gagal jantung berdasarkan wawancara terdiagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,13 %. Metode: Penelitian ini menggunakan data Riskesdas tahun 2013 dengan desain studi cross-sectional. Sampel adalah seluruh penduduk yang berada di Indonesia berusia ≥18 tahun. Diagnosis gagal jantung (decompensatio cordis) berdasarkan diagnosa dokter. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 655.192 orang. Hasil: Analisis data menunjukkan prevalensi gagal jantung terdiagnosis sebesar 0,1%. Faktor risiko yang paling besar terhadap kejadian gagal jantung di Indonesia adalah penyakit jantung koroner (POR=42,578; 95% CI=35,982-50,383; p<0,001). Kesimpulan dan saran: Kejadian gagal jantung berdasarkan diagnosis dokter memiliki prevalensi 0,1% dan penduduk perempuan yang memasuki masa menopause dan berumur lebih dari 41 tahun diharapkan rutin melakukan cek kesehatan jantung serta mengurangi aktivitas sedentari. Selain itu, penduduk disarankan untuk menghindari penyakit jantung koroner, diabetes mellitus, stress, hipertensi, obesitas, dan merokok dengan pola hidup sehat agar terhindar dari gagal jantung. Kata kunci: Gagal Jantung, Sosiodemografi, Gaya Hidup, Riwayat Penyakit.
Read More
S-9318
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Detria Idha; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Putri Bungsu, Titi Indriyati
Abstrak:
Malaria masih menjadi masalah kesehatan yang utama di dunia dan di Indonesia endemitas malaria paling tinggi masih terpusat di wilayah Timur Indonesia seperti Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria di Indonesia bagian Timur (Analisis Riskesdas 2018). Desain penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan menggunakan data dari Riskesdas 2018. Lokasi penelitian ini yaitu seluruh provinsi di Indonesia sebanyak 34 provinsi. Sampel pada penelitain ini yaitu total dari populasi berdasarkan pemeriksaan Rapid Diagnostic Test (RDT) di Indonesia sebanyak 3169 sampel. Data pada penelitian ini menggunakan analisis univariate dan bivariate menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian ini menjukan bahwa ada hubungan antara usia dengan kejadian malaria (p= 0,04 OR=2,11 (0,77-5,79)), tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian malaria (p=0,88 OR=0, 89(0,46-1,75)), tidak ada hubungan antara pekerjaan (p=0,15 OR=0,49(0,18-1,31), pendidikan (p=0,14 OR=0,81(0,40-1,65), wilayah tempat tinggal (p=0,432 OR=1,45(0,67-3,11), penggunaan kelambu (p=0,62 OR=0,782(0,38-1,57), penggunaan repelan (p=0,533 OR=1,329(0,66-2,68), penggunaan alat pembasmi nyamuk elektrik p=o,89 OR=1,393(0,33-5,84) dengan kejadian malaria. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai mengapa masih terdapat kasus malaria di Indonesia terutama Indonesia bagian Timur yang masih endemis tinggi

Malaria is still a health problem in the world and in Indonesia malaria endemicity is still concentrated in Eastern Indonesia such as Papua, West Papua, and East Nusa Tenggara. This study aims to determine the factors associated with malaria incidence in Eastern Indonesia (Analysis data of Riskesdas 2018)). This study use cross sectional design study and using data from Riskesdas 2018. The location of this study is all 34 provinces in Indonesia. The sample in this study is the total population based on the Rapid Diagnostic Test (RDT) examination in Indonesia totaling 3169 samples. The type of data in this study is secondary data from Riskesdas 2018. Data analysis in this study was univariate analysis with descriptive, and bivariate analysis using chi-square test with 95% CI and prevalence ratio (PR). The results of this study showed that there was a relationship between age and malaria incidence (p = 0.04 OR = 2.11 (0.77-5.79)), there was no relationship between gender and malaria incidence (p = 0.88 OR = 0.89 (0.46-1.75)), there was no relationship between employment (p = 0.15 OR = 0.49 (0.18-1.31)), education (p=0.14 OR=0.81(0.40-1.65), area of residence (p=0.432 OR=1.45(0.67-3.11), use of mosquito nets (p=0.62 OR=0.782(0.38-1.57), use of repellant (p=0.533 OR=1.329(0.66-2.68), use of electric mosquito repellent p=o.89 OR=1.393(0.33-5.84) with malaria incidence. Further research needs to be done regarding why there are still malaria cases in Indonesia, especially eastern Indonesia, which is still highly endemic.
Read More
S-11534
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Desri Maulina Sari; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Renti Mahkota, Upik Rukmini
T4479
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Sufinah; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Putri Bungsu, Agus Triwinarto
S-9442
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asrul Hamonangan Pasaribu; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Syahrizal Syarif, Lukman Hakim, Achmad Naufal Azhari
T-4593
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gita Aprilicia; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Yovsyah, Felly Philipus Senewe
Abstrak: Asma merupakan penyakit inflamasi saluran pernapasan yang sering dijumpai pada anak-anak dengan insiden kejadian yang lebih tinggi dibanding kelompok umur lainnya. Diperkirakan, sekitar 300 juta penduduk dunia saat ini menderita asma dan akan meningkat menjadi 400 kasus pada tahun 2025. Selain dari faktor pejamu yang tidak dapat dimodifikasi, peningkatan prevalens asma diduga juga berhubungan dengan adanya peran dari faktor lingkungan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian asma dan pencetus serangan asma anak usia 0-11 tahun di Indonesia pada tahun 2013. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskedas tahun 2013 dengan desain cross sectional deskriptif. Responden terdiri dari 237.992 anak usia 0-11 tahun di Indonesia. Analisis data dilakukan dengan analisis chi square.

Hasil analisis univariat diperoleh prevalensi asma pada anak usia 0-11 tahun di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 3,6% dengan faktor pencetus yang paling sering adalah flu atau infeksi sebesar 56,2%. Hasil analisis bivariat diperoleh bahwa kejadian asma pada anak usia 0-11 tahun berhubungan dengan umur, jenis kelamin, wilayah tinggal, keadaan sosioekonomi, asap dapur, paparan pestisida dalam rumah, jenis lantai rumah, jenis dinding rumah, jenis plafon rumah, kebersihan ruang tidur, kebersihan ruang masak, dan kebersihan ruang keluarga.

Penelitian ini menemukan bahwa peluang mendapatkan asma lebih tinggi ditemukan pada anak laki-laki, berumur 2 tahun, tinggal di wilayah pedesaan, mempunyai keadaan sosioekonomi rendah, terdapat asap dapur dalam rumah, terdapat paparan pestisida dalam rumah, mempunyai lantai rumah berjenis tanah, dinding berjenis bambu, plafon berjenis bambu, serta kebersihan ruang tidur, ruang masak, dan ruang keluarga yang tidak bersih.

Kata Kunci: Asma pada Anak, Pencetus Serangan Asma, Lingkungan Rumah
Read More
S-9043
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Geby Hasanah Jorgy; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Yovsyah, Punto Dewo
Abstrak: Diabetes melitus adalah penyakit metabolisme yang merupakan suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang karena adanya peningkatan kadar glukosa darah di atas nilai normal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 pada wanita dewasa di daerah perkotaan di Indonesia tahun 2013. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskesdas 2013 dengan desain studi cross sectional. Sampel adalah wanita dewasa di daerah perkotaan yang tidak hamil dan memiliki kelengkapan data sebanyak 122.880 responden.
 
 
Hasil penelitian menunjukkan prevalensi DM berdasarkan diagnosis dan gejala sebesar 2.2 % dan menemukan bahwa prevalensi DM tertinggi berada pada faktor risiko, seperti umur ≥ 45 tahun (5.2%), pendidikan rendah (3.1%), tidak bekerja (2.3%), status cerai (3.6%), aktfitas cukup (2.2%), mantan perokok (4%), jarang makan manis (3.8%) dan berlemak (2.3%), obesitas (2.9%), obesitas sentral (2.9%), dan hipertensi (7.6%). Faktor risiko DM yang memiliki hubungan paling dominan adalah umur ≥ 45 tahun (POR : 9.24; 95 % CI 7.69-11.1), status cerai (POR : 5.95; 95 % CI 4.85-7.30), dan hipertensi (POR : 5.10; 95 % CI 4.70-5.54). Untuk itu, perlu diadakan sosialisasi untuk program deteksi dini faktor risiko DM, serta perlunya kesadaran diri untuk cek gula darah secara teratur untuk wanita dewasa di daerah perkotaan.
 

 
Diabetes mellitus is a metabolic disease which is a collection of symptoms that occur due to an increase in blood sugar levels above normal. This study aims to determine the risk factors assosiated with type 2 diabetes mellitus in adult women in urban areas. This study used a data from Riskesdas 2013 and using cross sectional as design study. Samples were adult women above 18 living in urban areas who are nor pregnant and has complete data.
 
 
Result shows the prevalence of DM that based on diagnosis and symptoms is 2.2 % and the risk factors with highest prevalence of diabetes are age ≥ 45 (5.2%), low educated (3.1%), umemployed (2.3%), divorced (3.6%), enough activity (2.2%), former smokers (4%), rarely eat sweets (3.8%) and fatty foods (2.3%), obese (2.9%), central obese (2.9%), and hypertension (7.6%). The risk factors that highly associated are age ≥ 45 (POR : 9.24; 95 % CI 7.69-11.1), divorce (POR : 5.95; 95 % CI 4.85-7.30), and hypertension (POR : 5.10; 95 % CI 4.70-5.54). Therefor, screening for DM and self-awareness to check the blood sugar level are s strongly recommended among adult women in urban areas.
Read More
S-8806
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widya Fitri; Pembimbing: Bambang Wispriyono, Ririn Arminasih Wulandari; Penguji: Zakianis, Imron Cahyono, Didik Supriyono
Abstrak: Latar Belakang : ISPA merupakan masalah utama kesehatan di Indonesia terutama pada balita sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah, karena tingginya angka kematian dan kesakitan yang disebabkan oleh penyakit tersebut. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional 2004, menunjukkan Propinsi Riau memiliki keluhan kesehatan selama satu bulan terakhir cukup tinggi dengan persentase panas (40,89%), batuk (52,24%), pilek (49,69%) dan nafas sesak (4%). Profil Kesehatan Riau 2003 mencatat bahwa ISPA menduduki urutan pertama dari sepuluh penyakit terbanyak dengan pola penyakit penderita ISPA rawat jalan di puskesmas untuk semua golongan umur dan menduduki peringkat utama untuk golongan umur 28 hari sampai satu hari. Tujuan : untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita di Propinsi Riau berdasarkan data Susenas 2004. Rancangan Penelitian : Penelitian ini merupakan analisis data sekunder dengan menggunakan data Susenas 2004 dengan desain penelitian potong lintang (cross sectional). Variabel yang diteliti disesuaikan dengan variabel yang tersedia pada data Susenas 2004 meliputi umur balita, imunisasi DPT/Campak, riwayat pemberian ASI, pendidikan ibu, jenis atap, jenis dinding, jenis lantai, kepadatan hunian, luas rumah, sosial ekonomi, bahan bakar masak dan tipe wilayah. Analisis dilakukan dengan perangkat lunak yang sesuai untuk data survei dengan mempertimbangkan stratatifikasi, cluster dan pembobotan. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil : Dari analisis diketahui bahwa 30,88% balita di Propinsi Riau menderita ISPA. Uji bivariat menunjukkan dari duabelas variabel yang diteliti, hanya ada tiga variabel yang berhubungan signifikan dengan kejadian ISPA yaitu umur, imunisasi DPT/Campak dan bahan bakar masak dan uji multivariat diperoleh hubungan yang bermakna antara umur, imunisasi DPT/Campak dengan kejadian ISPA. Studi ini menemukan efek protektif pada imunisasi tidak lengkap dibandingkan imunisasi lengkap terhadap kejadian ISPA pada balita di Propinsi Riau tahun 2004. Namun hasil ini tidak dapat digeneralisasikan karena keterbatasan data sekunder mengenai riwayat imunisasi balita. Sebagai saran perlu ditingkatkan penyuluhan dan pendidikan kesehatan kepada ibu-ibu yang memiliki balita terutama mengenai pentingnya imunisasi lengkap sesuai jadwal pemberian dan pemberian ASI ekslusif. Kata Kunci : ISPA, balita, faktor risiko, Susenas 2004, Riau.
Background : The acute upper airway infection (AUAI) is the main health problem in Indonesia. This case causes high morbidity and mortality mostly on the baby, therefore it needs special attention from the government. The result of the national social economic survey in the 2004 show that Riau province has the quite high number cases reported on the febrile (40,89%), cough (52, 24%), flu (49, 69%) and dyspnea (4%). From the Riau health profile in 2003 shows that the case of acute upper airway infection is on the most cases from the 10 the most cases in Riau. Most of this case was reported for adult and child in out- patient public health center, and as the highest case for baby with 1-28 days old. Objective : The goal of this study was to know the risk factor that related to the case of acute upper airway infection on the baby in the Riau province based on the national social economic survey 2004. Methods : This study was analyzing the secondary data from national social economic survey 2004. The design of the study was cross sectional. The variable that have been analyzed based on the data provide in the national social economic survey 2004 such as the age of the baby, immunization coverage, exclusive breast feeding, educational background of the mother, kinds of roof of the house, kinds of wall of the house, kinds of floor of the house, the space of the house, social economic status, etc. the analyze process was using univariate, bivariate and multivariate analyzes. Conclusions : The result of this study shows that 30, 88% of the baby got acute upper airway infection in Riau province. From bivariate analyze for 12 variables, only 3 variables have significant correlation to the acute upper airway infection, which are the age, immunization (DPT/Chicken pox) coverage and the family fuel used. From multivariate analyze shows the strong correlation on the age, immunization coverage and the acute upper airway infection. Another findings on this study were the uncompleted immunization coverage seems had protective effect to the prevention of the acute upper airway infection, although it could not be standardized for the baby immunization coverage, although this result could not be generalized because of the limitation of the secondary data on the baby immunization history.. Some recommendation of this study were the health education on the immunization coverage and exclusive breast feeding should be given to the mother who have baby especially on the schedule of breast feeding. Keywords : AUAI, baby, risk factor, Susenas 2004, Riau
Read More
T-2131
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nugrahani Meika Narvianti; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Krisnawati Bantas, Eko Prihastono
Abstrak: Stunting merupakan masalah gizi kronis yang diukur berdasarkan TB/U. Di Indonesia, prevalensi stunting pada balita umur (0-59 bulan) mengalami peningkatan dari tahun 2007, 2010, hingga tahun 2013. Prevalensi stunting pada balita umur (0-59 bulan) di Pulau Sulawesi mengalami peningkatan hingga 41,05 persen pada tahun 2013. Angka tersebut menggambarkan masalah kesehatan masyarakat yang serius.
 
Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan faktor risiko dengan kejadian stunting pada balita umur (12-59 bulan) di Pulau Sulawesi tahun 2013. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskesdas 2013, dengan desain cross sectional. Sampel penelitian ini adalah 7462 balita umur (12-59 bulan) di Pulau Sulawesi yang memiliki data lengkap, dan tidak mempunyai data z-score TB/U < -6SD dan > +6SD.
 
Hasil penelitian menunjukkan, kejadian stunting pada balita umur (12-59 bulan) di Pulau Sulawesi tahun 2013 sebesar 43,3 persen. Hasil analisis bivariat menunjukkan hubungan yang bermakna (nilai p ≤ 0,05) antara umur, jenis kelamin, status imunisasi dasar, berat badan lahir, pendidikan ibu, tinggi badan ibu, wilayah tempat tinggal, status ekonomi keluarga, dan fasilitas sanitasi dengan kejadian stunting pada balita umur (12-59 bulan) di Pulau Sulawesi tahun 2013. Oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan terhadap faktor risiko, utamanya pencegahan primer, serta melakukan deteksi dini dengan pengukuran TB/U secara teratur.
 

 
Stunting is a chronic malnutrition measured using height-for-age indicator. In Indonesia, prevalence of stunting on under-five-children (0-59 months) increases from 2007, 2010, to 2013. Prevalence of stunting on under-five-children (0-59 months) in Sulawesi Island increases by 41,05 percent in 2013. This number indicates a serious public health problem in Sulawesi Island.
 
This study aims to determine the relationship between risk factors with stunting on under-five-children (12-59 months) in Sulawesi Island in 2013. This study uses secondary data from the Riskesdas 2013, with a cross-sectional study. The sample amounts to 7462 under-five-children (12-59 months) in Sulawesi Island, who have complete data, and don’t have z-score data H/A < -6SD and > +6SD.
 
The results of this study indicate that the occurrence of stunting on under-five-children (12-59 months) in Sulawesi Island in 2013 is 43,3 percent. The bivariate analysis indicates significant association (p ≤ 0,05) between age, gender, status of primary immunization, birth weight, maternal education, maternal height, region of residence, family economic status, and sanitation facilities with stunting on under-five-children (12-59 months) in Sulawesi Island in 2013. Therefore, it’s necessary to implement prevention of risk factors especially primary prevention, and early detection using height-for-age measurement frequently.
Read More
S-8850
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive