Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 13241 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Taufan Arif Z; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Hendra, Deni Andreas, Adenan
T-4757
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Maya Sari; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Budi Hartono; Muhamad Dawaman
Abstrak: Peristiwa seperti ancaman penembakan pada mahasiswa, ledakan laboratorium, kebakaran di ruang arsip, dll adalah bukti bahwa keadaan darurat dapat terjadi di perguruan tinggi. Berdasarkan hal tersebut maka dibutuhkan manajemen keadaan darurat di perguruan tinggi yang terdiri atas tahap pra, saat, dan pasca keadaan darurat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat manajemen keadaan darurat pada elemen-elemen di 3 tahap tersebut. Penelitian dilakukan Fakultas X menggunakan desain penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian berdasarkan Prosedur Penanggulan Keadaan Darurat K3L Universitas X, PP No. 21 Tahun 2008, UU No. 24 Tahun 2007, Perda Kota Depok Nomor 10 Tahun 2010, dan NFPA 2016 Edisi 2013, menunjukkan bahwa masih ada elemen pada tahap pra darurat dengan persentase terpenuhi dibawah 60%, yaitu mitigasi (25%); pencegahan (28,6%); prosedur (30%); serta pelatihan dan pendidikan (44,4%). Mitigasi mendapatkan persentase terkecil karena belum melaksanakan penilaian risiko secara keseluruhan. Sedangkan elemen lain yang mendapatkan persentase lebih dari 60% pada elemen di tahap pra keadaan darurat adalah: perencanaan umum (67,88%); sumber daya (77,8%); peringatan dini dan komunikasi (77.8%); pada saat keadaan darurat adalah: tanggap darurat (65,6%); dan pada pasca keaadan darurat adalah: keberlanjutan bisnis (69%). Kata kunci: Manajemen Keadaan Darurat, Prosedur K3L Universitas X, pra keadaan darurat, saat terjadinya keadaan darurat, pasca keadaan darurat Events such as threat of firing on students, lab explosion, fire in the archives room, etc. are proofs that the state of emergency can happen in college. Based on this, it needs emergency management in college. Emergency management consists of a pre-emergency, trans-emergency and post-emergency. This study aims to look at the emergency management at the elements in those 3 stages. Research carried at Faculty X Universitas X. This research uses descriptive analytic design with a qualitative approach. The results showed based on Operational Procedure on Emergency Management Universitas X, PP No. 21/2008, UU No. 24/2007, Perda Depok No. 10/2010, and NFPA 2016 Ed. 2013, showed that there are several elements on pre-emergency stage which percentages ―fulfilled‖ are below 60%. They are mitigation (25%); prevention (28,6%); procedure (30%); and training and education (44,4%). Percentage ―fulfilled‖ on mitigation is the least because Faculty X has not done risk assessment on every activities they do. Other elements which has percentage ―fulfilled‖ above 60% in pre-emergency are: general planning (67,88%); resources (77,8%); early warning and communication (77.8%); in trans-emergency is: emergency response (65,6%); and in post-emergency is: business continuity (69%). Key words: Emergency Management, Operational Procedure on Emergency Management Universitas X, pre-emergency, trans-emergency, post emergency
Read More
S-9270
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Olivinia Qonita Putri; Pembimbing: Meily Kurniawidjadja; Penguji: Ridwan Zahdi Syaaf, Septyaningrum
Abstrak: Kedirgantaraan berisiko tinggi ancaman keselamatan dan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran safety climate di PT X Operator Helikopter tahun 2016, menggunakan desain survei dengan pendekatan semikuantitatif untuk pengolahan data. Besar sampel 68 responden diambil dengan teknik simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan skor safety climate sebesar 8,1 atau sangat kuat. Dimensi yang paling kuat adalah Persepsi Karyawan sebagai Individu terhadap nilai safety (8,4), sedangkan variabel yang menunjukkan nilai paling tinggi adalah Kebutuhan Pribadi terhadap Safety (8,9). Skor safety climate paling tinggi ada pada kelompok tingkat jabatan manajer (8,3), masa kerja 10- <15 tahun 5 tahun (8,5) dan departemen Operation (8,6). Kata Kunci: Safety Climate, Safety, Operator Helikopter. Aviation is a high risk industry that has health and safety hazard. This study aims to ascertain safety climate description of PT X Helicopter Operator in 2016 using survey design and semi-quantitative approach. Sample size is 68 respondents using Simple Random Sampling. The result displayed that safety climate score of PT X is 8,1 or very strong. Strongest dimension is Safety as Individual Perception (8,4) whilst the strongest variable is Personal Need for Safety (8,9). The highest safety climate score found from the group of managerial position (8,3), 10- <15 years of working in the company (8,5) and operation department (8,6). Keywords: Safety Climate, Safety, Helicopter Operator
Read More
S-9199
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rumiris Feronika Simaremare; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Indri Hapsari Susilowati, Trisnajaya, Masjuli
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan penilaian terhadap pajanan tekanan panasdi workshop pembuatan batik yang terletak di Kecamatan Mauk, Tangerang.Sebanyak 84% dari pekerja yang diwawancarai mengeluh tentang suhu lingkungankerja yang dirasa terlalu panas, meskipun dalam hal ini sudah terdapat pengendalianterhadap tekanan panas yang terpasang pada bangunan. Penilaian didasarkan pada tigakriteria menurut Worksafe BC 2007, yakni faktor lingkungan, faktor pekerja, danfaktor pekerjaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indeks Suhu Basah dan Bola(ISBB) di luar ruangan (outdoor) lebih tinggi dibanding ISBB di dalam ruangan(indoor) dan indeks panas berada pada area berbahaya dengan level risiko tinggi.Hasil observasi faktor pekerja yang meliputi aklimatisasi, status hidrasi dan pakaiankerja tidak menunjukkan adanya upaya pengendalian yang dilakukan. Demikian jugahasil observasi pada faktor pekerjaan yakni beban kerja dan pola kerja tidakmenunjukkan adanya pengendalian administratif yang diupayakan dalam menanganikeluhan terhadap pajanan tekanan panas ini. Penurunan tingkat risiko pajanan tekananpanas diharapkan dapat dilakukan dengan modifikasi pengendalian teknis,mengupayakan pengendalian administratif serta penggunaan pakaian kerja yangsesuai dengan lingkungan kerja dengan pajanan tekanan panas.
The aim of this study was to make an assessment of the heat stress exposure in a BatikWorkshop located at Kecamatan Mauk, Tangerang. 84% of interviewed workerscomplained about the working environment temperature that tends to be very hot,although the building already has a built-up control to heat stress. The assessment isbased on three criteria by Worksafe BC 2007 that is environmental, worker, and workfactors. The result showed that the Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) outdoorhigher than indoor, and the heat index is at dangerous area with a high risk level.Observation on worker (acclimatization, hydratin and clothing) and work (work loadand work rate) factors did not show any control measures undertaken. The level ofrisk can be reduced by modification of engineering control, administrative control andthe proper personal protective equipment (clothing).
Read More
T-4746
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ekin Hagana Imanuel Sembiring; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Yuni Kusminanti
Abstrak: Penelitian cross sectional ini berisi tentang asesmen safety leadership,safety climate dan safety behavior di PT. X tahun 2016. Dibutuhkan gambaranaspek kepemimpinan, iklim serta perilaku pekerja di PT.X yang dapat digunakansebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengembangan K3. Terdapat 183item pada kuesioner yang telah diisi oleh 87 responden yang merupakan pekerjaPT.X dengan jabatan pelaksana dan lama kerja minimal 6 bulan. Data yang telahdiperoleh selanjutnya diolah untuk mengetahui nilai rata-rata persepsi respondenterhadap ketiga variabel, yaitu safety leadership, safety climate dan safetybehavior.Berdasarkan pengolahan data yang dilakukan diperoleh hasil bahwa safetyleadership atasan responden yang terdiri atas 5 indikator, yaitu: safety caring,safety cocahing, safety controlling, participative decision making dan leading byexample masuk pada kategori baik dengan nilai mean sebesar 76,34%. Hasilasesmen safety climate yang terdiri dari 6 indikator yaitu: management safetypriority, commitment and competence, safety communication, learning and trustin co-worker safety competence, workers safety commitment, workers safetypriority and risk non acceptance, organizational environment dan work pressuremasuk kedalam kategori baik dengan nilai mean sebesar 75,62%. Selain itu,variabel safety behavior juga masuk kedalam kategori baik dengan nilai meansebesar 75,26% yang terdiri atas 2 indikator yaitu safety compliance dan safetyparticipation.Kata kunci: asesmen;safety behavior;safety climate;safety leaderhip.
Read More
S-9277
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wahyu Kusuma Wardani; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Baiduri Widanarko, Edo Irnanda
Abstrak: Persepsi karyawan terhadap implementasi sistem manajemen K3 adalah pandangan karyawan terhadap apa yang diberikan perusahaan yang bertujuan agar karyawan terjamin keselamatan dan kesehatan kerjanya. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi karyawan terhadap implementasi sistem manajemen K3 di PT X. PT. X merupakan perusahaan distributor alat berat yang memiliki tingkat bahaya dan risiko yang cukup tinggi bagi karyawan yang bekerja di lapangan. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik. Dengan jumlah responden yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 133 orang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner. PT. X telah menerapkan sistem manajemen K3 di seluruh area kerjanya dengan mengintegrasikannya berdasarkan OHSAS 18001 dan PP No.50 tahun 2012.
 
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa persepsi karyawan PT. X terhadap implementasi sistem manajemen K3 secara umum masih kurang baik. Dari hasil kuesioner diperoleh bahwa dari 133 responden yaitu sebanyak 69 orang (51,9%) memiliki persepsi kurang baik tentang implementasi sistem manajemen K3 dan 64 orang (48,1%) yang memiliki persepsi baik tentang implementasi sistem manajemen K3. Disarankan agar perusahaan memberikan sosialisasi kepada seluruh karyawan tentang SMK3 khususnya mengenai manfaat penerapan SMK3 bagi perusahaan, peran serta karyawan dalam penerapan SMK3.
 
Meninjau kembali dan menginformasikan kepada karyawan tentang pencapaian tujuan, sasaran dan program-program K3 dalam pertemuan tinjauan manajemen. Mendeskripsikan dengan jelas tugas dan fungsi masing ? masing anggota P2K3 serta meningkatkan pengawasan terhadap kehadiran pengurus terhadap rapat-rapat yang diadakan sehingga pelaksanaan SMK3 oleh P2K3 dapat lebih efektif. Serta menjaga kesinambungan pelaksanaan SMK3 yang telah ada di perusahaan sehingga senantiasa diperoleh tempat kerja yang aman, nyaman, sehat dan produktifitas dapat ditingkatkan.
 

Employee perceptions of implementation occupational health and safety management system (OHSMS) is the view of employees to what is given the company aims to secure the safety and health of employees work. The main objective of this study was to determine the employees' perception of the implementation occupational health and safety management system at PT. X. PT. X is a heavy equipment distributor that has the level of hazard and risk is quite high for employees working in the field. This research is descriptive analytic. With the number of respondents involved in this study as many as 133 people. This study was conducted using questionnaires. PT. X has implemented an occupational health and safety management system throughout the work area by integrating based on OHSAS 18001 and PP 50 in 2012.
 
The results of the study showed that the employees perceptions of implementation occupational health and safety management system at PT. X in general is still not good. From the questionnaire results showed that of the 133 respondents as many as 69 people (51.9%) had a poor perception of the implementation of OHSMS and 64 (48.1%) who have a good perception of the implementation of OHSMS. It is recommended that the company provide socialization of all employees about the benefits of applying OHSMS especially for the company, the participation of employees in the application of OHSMS.
 
Reviewing and inform employees about the achievement of goals, objectives and OHS programs in management review meetings. Describe clearly the duties and functions of each member Committe of OHS and increasing supervision of the presence of officials of the meetings are held so that the implementation OHSMS by committee can be more effective. As well as maintain the continuity of the implementation OHSMS that already exist in the company so always obtained workplace that is safe, comfortable, healthy and productivity can be improved.
Read More
S-9200
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chandra Sunaryo; Pembimbing: Hendra; Penguji: Fatma Lestari, Zulkifli Djunaidi, Wenny Ipmawan, Machfud
Abstrak:
Kecelakaan di lokasi kerja masih terus terjadi dan telah banyak upaya yang dilakukan untuk mencegahnya. Dalam beberapa penelitian, telah banyak dilakukan upaya mengendalikannya antaralain melakukan perbaikan mulai dari peralatan kerja, APD, sistem pelaporan, pelaksanan program-program komunikasi, pelatihan, pelaksanaan inspeksi hingga perbaikan sistem manajemen HSSE juga peningkatan budaya HSSE. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh implementasi Budaya HSSE terhadap Sistem Manajemen HSSE dan pengaruhnya terhadap tingkat kecelakaan kerja. Penellitian ini dilakukan dikarenakan peneliti ingin melihat gambaran implementasi SMHSSE dan Budaya HSSE dari dua Perusahaan berbeda, bagaimana hubungannya dengan angka kecelakaan kerja. Penelitian ini dilakukan dengan desain restrospektif kohort menggunakan data sekunder angka kecelakaan kerja Perusahaan X dari tahun 2016 – 2022 di lapangan EK yang merupakan lapangan eksploitasi dan produksi minyak dan gas Bumi meliputi seluruh area kegiatan baik di offshore, onshore, fasilitas pendukung hingga area perkantoran. Durasi data yang diteliti adalah periode 2016 hingga 2022 dengan menggunakan data-data milik Perusahaan X. Gambaran implementasi SMHSSE Perusahaan X dilihat dari hasil audit SMHSSE pada tahun 2019, 2020 dan 2022 dengan seluruh hasilnya adalah Excellence sedangkan budaya HSSE Perusahaan X berdasarkan hasil survey budaya tahun 2021 dan 2022 berada pada level Proactive. Meskipun kedua Perusahaan sudah sama-sama memiliki budaya HSSE dan penerapan SMHSSE, fluktuasi kecelakaan kerja tetap terjadi. Hal ini terjadi terutama pada proses transisi operasi dan SMHSSE, dimana kinerja HSSE menurun ditandai dengan angka TRIR (Total Recordable Incident Rate) yang meningkat. Namun setelah stabilnya penerapan SMHSSE yang baik, telah memberikan dampak positif terhadap turunnya TRIR. Meskipun telah memiliki budaya HSSE dan implementasi yang sudah baik, masih diperlukan perbaikan pada empat elemen SMHSSE Perusahaan X.

Accidents on the job site are still happening and many efforts have been made to prevent them. In several studies, many efforts have been made to control it, including making improvements ranging from work equipment, PPE, reporting systems, implementing communication programs, training, carrying out inspections to improving the HSSE management system as well as improving the HSSE culture. This study aims to analyze the influence of the implementation of HSSE Culture on the HSSE Management System and its effect on work accident rates. This research was conducted because researchers wanted to see an overview of the implementation of SMHSSE and HSSE Culture from two different companies, how it relates to the number of work accidents. This research was conducted using a retrospective cohort design using secondary data on Company X's work accident rate from 2016 – 2022 in the EK field which is an oil and gas exploitation and production field covering all areas of activity both offshore, onshore, supporting facilities to office areas. The duration of the data studied is the period from 2016 to 2022 using the data belonging to Company X. An overview of Company X's SMHSSE implementation is seen from the results of SMHSSE audits in 2019, 2020 and 2022 with all results being Excellence while Company X's HSSE culture is based on the results of the year's culture survey 2021 and 2022 are at the Proactive level. Even though the two companies already have an HSSE culture and the implementation of SMHSSE, fluctuations in work accidents still occur. This happened especially during the operational transition process and SMHSSE, where HSSE performance decreased marked by an increase in TRIR (Total Recordable Incident Rate). However, after the stable implementation of a good SMHSSE, it has had a positive impact on the decrease in TRIR. Even though it already has a good HSSE culture and implementation, it still needs improvement on the four elements of Company X's SMHSSE.
Read More
T-6804
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendri Amirudin Anwar; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Indri Hapsari Susilowati, Masjuli, Trisnajaya
Abstrak: Robot merupakan sebuah mesin yang kompleks dan rumit dengan kemampuanuntuk bergerak dengan berbagai kecepatan dan berbagai arah. Interaksi antaraorang, robot dan lingkungan berkontribusi menciptakan resiko yangmembahayakan manusia maupun properti yang berada di sekitar robot.Berdasarkan informasi dari situs resmi departemen tenaga kerja Amerika Serikatsejak tahun 1984 hingga tahun 2013 telah terjadi 37 kecelakaan fatal di tempatkerja terkait robot. Tesis ini membahas penilaian risiko yang dilakukan padapekerjaan pengoperasian dan maintenance robot di PT X. Identifikasi bahaya padapenelitian ini menggunakan metode analisa bahaya pekerjaan (JSA/JHA) danpenghitungan nilai risikonya dengan menggunakan metode analisa risko semikuantitatif. Hasil penelitian ini memberikan gambaran tingkat risiko pekerjaanpengoperasian dan maintenance robot, dimana risiko tertinggi adalah tertabraklengan robot baik saat pekerjaan pengoperasian maupun maintenance robot.Tingkat risiko tersebut didapat dari kombinasi kemungkinan kejadian(probability) dan keparahan dampak (severity). Selain itu dihasilkan rekomendasiuntuk mengendalikan sisa risiko yang ada.
Robot is a complex and complicated machine with the ability to move at differentspeeds and in different directions. The interaction between human, robot andenvironment contribute to create risk endangering people and property which islocated around the robot. Based on information from the official website of theUS labor department from 1984 to 2013. There have been 37 fatal accidents in theworkplace related to robots. This thesis discusses the risk assessment carried outon the operation and maintenance work of the robot at PT X. Identification ofdanger in this study using a job hazard analysis (JSA / JHA) and the calculation ofthe risk value using semi-quantitative analysis method. The results of this studyprovide an overview of risk level operation and maintenance work of the robot,where the highest risk is hit by a robot arm while doing the work operation andmaintenance robot. The risk level is obtained from the combination of theprobability of occurrence and severity of impact. These research give somerecommendation to control residual risks.
Read More
T-4685
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yosua Buaton; Pembimbing: Hendra; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Muhammad Dawaman
Abstrak: Kecelakaan kerja itu harus dicegah dan jangan sampai terjadi. Salah satu upaya menurunkan angka kecelakaan kerja adalah dengan pengadaan program pencegahan kecelakaan kerja yaitu dengan melaksanakan penilaian risiko. Dalam usaha pencucian mobil, terdapat banyak potensi bahaya dalam setiap proses kerja. Penelitian ini diharapkan dapat diketahui dan dikenal bahaya dan seberapa besar tingkat risiko serta rekomendasi pengendaliannya. Penelitian ini merupakan penelitian observasional yang menggunakan standar AS/NZS 4360:2004. Pengumpulan data didapat dari hasil observasi dan wawancara serta dokumentasi. Hasil studi menemukan bahwa dalam seluruh alur proses terdapat potensi bahaya seperti bahaya keselamatan kerja, bahaya kesehatan kerja, bahaya lingkungan kerja, bahaya budaya kerja, dan resiko seperti, terpeleset, tertabrak, terantuk, terkilir, postur janggal, dan kejatuhan. Ada beberapa saran yang diberikan berdasarkan hasil penelitian diantaranya yaitu, modifikasi mesin dan area kerja, pemakaian APD, pembuatan SOP dan safety sign, pengadaan shift kerja serta melakukan penyuluhan
Kata kunci : Bahaya, resiko, Penilaian Resiko, Usaha Pencucian Mobil
Occupational accidents must be prevented and should not happened. One of the ways to reduce the number of occupational accidents is doing risk assessment. In a car wash business, there are many potential hazards in every work process. This study held to analize and recognize the hazard and risk and give recommendations to control it. This study is using observational method with AS/NZS 4360: 2004 standard. The data were obtained from observations, interviews and documentation files. The study found potential hazards such as occupational hazards, health hazards, workplace hazards, work culture hazard, and risks such as, slipped, got hit, stumbles, sprains, awkward postures, and falling object in the whole process flow. The suggestions given based on the results of research are engine and work area modifications, using PPE, SOP, and safety sign, making work-shift and doing counseling.
Keywords: Hazard, Risk, Risk Assessment, Car Wash Business
Read More
S-9250
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Henri Murti Prabowo; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Dadan Erwandi, Riana Eva
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran stres kerja karyawan dan melihat faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian stres kerja. Penelitian ini adalah penelitian survei deskriptif. Pengumpulan data melalui kuesioner dengan jumlah responden 52 orang. Hasil penelitian yang dilakukan, menunjukkan tingkat stres kerja didominasi karyawan yang mengalami tingkat stres tinggi 46,2%, tingkat stres menengah 40,4%, tingkat stres rendah 11,5%, dan tingkat stres sangat tinggi 1,9%. Perlu adanya strategi manajemen stres atau coping untuk mengelola stres yang terjadi pada karyawan PT. Bank X pada tahun 2016, sehingga dapat meningkatkan motivasi karyawan, produktivitas kerja, lebih siap menghadapi stres, dan menurunkan angka absensi karyawan. Kata kunci: Stres kerja, Tingkat Stres, Coping. Purpose of this research is to see description of work stress on employees and to get risk factors that related with work stress occurrence. This study is a descriptive survey research. The collecting data of this research through questionnaires with total of respondents 52 people. Result of this research shows work stress levels dominated by employees that have high stress level 46,2%, medium stress level 40,4%, low stress level 11,5%, and very high stress level 1,9%. There is a need about stress management strategies or coping to manage stress that occurs on employees PT. Bank X year 2016, so that increasing employee motivation, work productivity, prepared to deal with stress, and decrease employee absence number. Keywords : Work stress, Stress level, Coping.
Read More
S-9275
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive