Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 2019 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Bulletin ALARA, Vol.16, No.3, April 2015, hal. 132-138
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fransiskus X. Supiarso; Pembimbing: Ridwan Z. Sjaaf; Penguji: Chandra Satrya, Amiroel Pribadi
Abstrak:

International Atomic Energy Agency memperkenalkan konsep budaya keselamatan sebagai respon atas kecelakaan di Chernobyl pada tahun 1986. Konsep ini telah menarik banyak perhatian para ahli dan praktisi untuk mengembangkan konsep yang serupa. Begitu banyak definisi-definisi tentang budaya keselamatan dengan pendekatan yang berbeda-beda. Perkembangan dan ilmu perilaku, sosial, budaya dan manajemen juga tidak dapat dipisahkan dari perkembangan konsep tersebut. Meski demikian, konsep dan model IAEA ini tidak berubah sejak pertama kali diperkenalkan pertama kali walau telah bauyak dokumentasi yang dikembangkan untuk mendukung atau sebagai tambahan dari model awal. Tesis ini mencoba untuk melakukan pengkajian atas konsep budaya keselamatan IAEA dan membuat model yang baru berdasarkan dokumentasi IAEA dan sumber-sumber yang lain. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dan teknik kajian isi terhadap sejumlah dokumen utama IAEA dan beberapa dokurnen tambahan Iainnya. Dari pengkajian tersebut dihasilkan lcritik dan usulan pengembangan konstruk model budaya keselamatan.


 

International Atomic Energy Agency introduced the concept of safety culture as a respond to Chernobyl disaster in 1986. This concept has raised attention of many experts and practices to develop the concept. Hence,there are many deiinitions of safety culture with different approaches. The development of behavioral, social, culture and management scientific also intluenced the concept. Even tough, the model and concept of IAEA has not been changed since it was introduced at the iirst time. However, much documentation have been produced as supplement to previous model. This research focuses to review the concept of IAEA?s safety culture and create new model based on IAEA docurnentations. By qualitative method, the author tried to interpret the meaning of text and documentation source by content analyses technique.

Read More
T-2408
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chandra Satrya; Promotor: Indri Hapsari Susilowati; Kopromotor: Zulkifli Djunaidi, Sabarinah; Penguji: L. Meily Kurniawidja, Widura Imam Mustopo, Yuli Sulistiyohadi, Agus Triyono, Rudiyanto
Abstrak:
ABSTRAK Budaya keselamatan dan kesehatan kerja merupakan jalan atau cara memasyarakatkan keselamatan dan kesehatan kerja di perusahaan. Budaya keselamatan dan kesehatan kerja meliputi banyak aspek mulai dari atribut yang yang tidak nyata yang dimiliki karyawan sampai kepada yang bersifat artifak yang bisa terlihat nyata di lingkungan perusahaan. Penelitian itu bertujuan untuk menggali dan menganalisis fenomenafenomena yang terjadi di perusahaan yang semula memiliki kesadaran terhadap keselamatan dan kesehatan kerja yang rendah serta angka kecelakaan fatal yang t inggi dimana kemudian mengalami perubahan yang bermakna dan memperlihatan pertumbuhan budaya keselamatan dan kesehatan kerja yang poistif. Penelitian ini menerapkan Explanatory Sequential Mix-Method. Hasil analisis penelitisan menunjukkan kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja yang rendah dapat dipicu dengan pendekatan paksa oleh lembaga yang berwenang dan menghasilkan praktek manajemen sitem, manajemen risiko serta praktek kepemimpinan yang lebih baik. Kesimpulannya adalah: pada perusahaan dimana kesadaran terhadap keselamatan dan kesehatan kerja sangat rendah maka pendekatan paksa perlu dan dapat diandalkan untuk memicu peningkatan budaya serta praktek manajemen K3 serta menurunkan kecelakaan fatal yang bermakna. Kata kunci: budaya keselamatan dan kesehatan kerja, kepemimpinan, sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja, manajemen risiko.

ABSTRACT The culture of occupational safety and health is a way to promote occupational safety and health in the company. The culture of occupational safety and health includes many aspects, from intangible attributes possessed by employees to tangible artifacts visible in the company environment. This research aims to explore and analyze phenomena occurring in companies that initially had low awareness of occupational safety and health and high rates of fatal accidents, which then experienced significant changes and showed growth in a positive safety and health culture. This research applies the Explanatory Sequential Mix-Method. The analysis results indicate that low awareness of occupational safety and health can be triggered by a forced approach by authorized institutions, resulting in better management system practices, risk management, and leadership practices. The conclusion is: in companies where awareness of occupational safety and health is very low, a forced approach is necessary and reliable to trigger the improvement of the culture and management practices of occupational safety and health and to significantly reduce fatal accidents. Keywords: culture of occupational safety and health, leadership, occupational safety and health management system, risk management.
Read More
D-533
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putu Nadi Astuti; Promotor: Zulkifli Djunaidi; Kopromotor: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Fatma Lestari, Johny Wahyuadi Mudaryoto, Lana Saria, Herlina J. EL-Matury, Ayende, Ridha Renaldi
Abstrak:
Industri petrokimia merupakan sektor berisiko tinggi yang membutuhkan penerapan sistem manajemen keselamatan dan budaya keselamatan yang matang. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model maturitas budaya keselamatan yang sesuai untuk industri petrokimia di Indonesia. Model ini mengadaptasi teori Hudson, Fleming, Parker et al., dan Filho, serta menggambarkan lima tingkat kematangan budaya keselamatan, dari tingkat “Dasar” hingga “Berkelanjutan.”. Melalui pendekatan multidimensi, dikembangkan kerangka dan instrumen penilaian yang valid dan reliabel dengan lima dimensi utama: Komitmen, Komunikasi, Informasi, Keikutsertaan Karyawan, dan Pembelajaran Organisasi. Penelitian ini menemukan bahwa semua perusahaan dalam sampel telah mencapai tingkat “Berkelanjutan,” khususnya pada aspek Komitmen dan Pembelajaran Organisasi. Namun, Keikutsertaan Karyawan masih menjadi aspek yang perlu ditingkatkan. Hasil juga menunjukkan bahwa perusahaan multinasional dan penanggung jawab keselamatan menunjukkan pemahaman budaya keselamatan yang lebih baik. Model yang dikembangkan dapat digunakan sebagai alat praktis untuk menilai dan meningkatkan strategi keselamatan berkelanjutan di sektor petrokimia, mendorong keterlibatan aktif pekerja, serta memperkuat efektivitas sistem manajemen keselamatan proses.

The petrochemical industry is a high-risk sector requiring a mature implementation of safety management and safety culture. This study aims to develop a safety culture maturity model tailored to the Indonesian petrochemical industry. The model adapts the theoretical frameworks of Hudson, Fleming, Parker et al., and Filho, and describes five levels of safety culture maturity, from "Basic" to "Sustainable." A multidimensional approach was used to develop a valid and reliable assessment framework and instrument comprising five key dimensions: Commitment, Communication, Information, Employee Participation, and Organizational Learning. Findings show that all sampled companies have reached the “Sustainable” level, particularly in Commitment and Organizational Learning. However, Employee Participation remains an area needing improvement. The study also reveals that multinational companies and safety officers demonstrate a stronger understanding of safety culture. The developed model serves as a practical tool for evaluating and improving sustainable safety strategies in the petrochemical sector, enhancing employee engagement, and strengthening the effectiveness of process safety management systems.
Read More
D-604
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indra Pehulisa Sembiring; Promotor: Zulkifli Djunaidi; Kopromotor: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Baiduri Widanarko, Fatma Lestari, Patuan Alfons, Herlina J. El-Matury, Masjuli
Abstrak:
Implementasi Sistem Manajemen Budaya Keselamatan di Pertamina masih perlu dilakukan formulasi yang paling optimum. Hasil pengukuran Budaya Keselamatan (Safety Maturity Level), serta integrasi dengan sistem SUPREME yang ada di Pertamina dalam mencapai tingkat kematangan budaya keselamatan yang diinginkan. Penelitian dilakukan melalui tiga tahapan: penentuan korelasi antara proses SUPREME dan elemen budaya keselamatan, analisis kuantitatif terhadap data audit SUPREME dan survei budaya keselamatan, serta pengembangan model integrasi. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan proses SUPREME secara simultan terhadap nilai budaya keselamatan. Secara khusus, proses 2 (Kebijakan dan Sasaran) dan proses 5 (Perencanaan dan Prosedur) memiliki pengaruh signifikan terhadap budaya keselamatan. Nilai adjusted R square sebesar 35,6% menunjukkan bahwa sebagian besar variasi budaya keselamatan dapat dijelaskan oleh penerapan SUPREME. Model integrasi yang dihasilkan dapat menjadi panduan untuk mempermudah penerapan sistem manajemen keselamatan menuju budaya keselamatan yang matang. Studi ini juga merekomendasikan evaluasi teknik proses keselamatan di masa mendatang untuk menilai keandalan, ketersediaan, dan kemampuan perawatan peralatan yang digunakan dalam operasi produksi.

The implementation of the Safety Culture Management System at Pertamina still requires an optimal formulation. This study examines the results of Safety Culture (Safety Maturity Level) assessments and their integration with Pertamina’s existing SUPREME system to achieve the desired level of safety culture maturity. The research was conducted in three stages: identifying the correlation between SUPREME processes and safety culture elements, conducting quantitative analysis of SUPREME audit data and safety culture surveys, and developing an integration model. Regression analysis shows that SUPREME processes, when considered together, have a significant influence on safety culture scores. In particular, Process 2 (Policies and Targets) and Process 5 (Planning and Procedures) show a statistically significant impact. The adjusted R square value of 35.6% indicates that a considerable portion of the variation in safety culture can be explained by SUPREME implementation. The proposed integration model can serve as a practical guide to support the application of safety management systems in achieving a mature safety culture. This study also recommends future evaluations of process safety engineering to assess the reliability, availability, and maintainability of equipment used in production operations.
Read More
D-610
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Duta Liana; Promotor: Fatma Lestari; Ko Promotor: Sutoto, Robiana Modjo; Penguji: Anhari Achadi, Adang Bachtiar, Besral, Doni Hikmat Ramdhan, Emma Rachmawati
Abstrak: Penelitian kematangan budaya keselamatan di layanan kesehatan sangat jarang dilakukan, hanya berfokus pasien dan menggunakan instrumen MaPSaF. Tujuan penelitian untuk mengembangkan instrumen pengukuran kematangan budaya keselamatan secara komprehensif meliputi mutu, keselamatan pasien, keselamatan dan kesehatan pekerja dengan 5 (lima) tingkat yaitu patologi, reaktif, birokratif, proaktif, generatif. Instrumen DUTA-RS mengandung 1118 EP dari SNARS edisi 1. Desain penelitian cross-sectional dengan data sekunder akreditasi RS dari KARS (2018-2019) dan data primer sebagai post hoc evaluation untuk validasi data sekunder, berupa kuesioner, focus Group Discussion dan wawancara mendalam. Analisis data menggunakan deskriptif, mean, safety culture maturity level (SCML), Confirmatory Factor Analysis dan Stuctural Equation Modeling. Hasil penelitian menunjukkan kematangan budaya keselamatan pada tingkat proaktif (58%), kelulusan paripurna menunjukkan tingkat proaktif (50,8%) dan generatif (48,7%). Model DUTA-RS memenuhi goodness of fit dengan variabel konstruk valid dan reliabel. Variabel yang berpengaruh adalah situasional (p- value=0,016, koefisien standar=0,596) dan perilaku keselamatan (p-value=0,030, koefisien standar=0,521). Indikator terkuat adalah kepemimpinan (faktor loading=0,87), manajemen risiko (faktor loading=0,87), kepatuhan (faktor loading=0,85). Variabel iklim keselamatan tidak berpengaruh terhadap kematangan budaya keselamatan (p-value=0,635). Indikator terlemah iklim keselamatan adalah pembelajaran (faktor loading=0,62), komunikasi (faktor loading=0,65). Pada data primer dan sekunder menunjukkan kesamaan nilai rata-rata iklim keselamatan dalam kategori baik dan hasil SCML pada level 4 (proaktif). Website DUTA-RS memunculkan tingkat kematangan budaya keselamatan, nilai rata-rata indikator, indikator terlemah setiap variabel, saran perbaikan. Website DUTA-RS dapat dibridging dengan SIKARS untuk benchmarking dalam skala nasional. Penelitian selanjutnya untuk pengembangan website DUTA-RS.
Read More
D-447
Depok : FKM-UI, 2021
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Danaswari Ayudya Wardani; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Anhari Achadi, Budi Hartono, Agus Pramujono
Abstrak:

Penelitianinidilakukandengantujuanmengembangkan model budaya keselamatan pasien yang sesuai di RSIA Tumbuh Kembang Cimanggis.Penelitianiniadalahgabunganantarastudi kualitatifdankuantitatif.Penelitiankualitatifdilakukandenganwawancara mendalam untuk mengetahui asumsi, nilai, dan keyakinan pegawai terhadap keselamatan pasien sebagai dasar pemetaan budaya keselamatan pasien pegawai,sementarakuantitatifdilakukandengankuesioner untuk mengetahui gambaran faktor individu dan faktor organisasi pegawai.Dari 118 responden yang diteliti didapatkan 55,9% responden memiliki pengetahuan dan sikap yang baik, 52,5% responden memiliki motivasi baik, 57,6% responden memiliki tingkat kompetensi yang baik, 61% responden memiliki kewaspadaan situasi yang baik, 73,7% responden  mengalami tingkat stress kerja yang rendah, 50,5% repondenmenyatakantingkatkelelahanyang dialami juga cukup baik. Untuk faktor organisasi diperoleh informasi 53,4% responden menyatakan kepemimpinan baik, 51,7%. Responden memandang kerja tim baik, 53,4% responden menyatakan kepemimpinan tim baik, dan 55,1% responden menyatakan pengambilan keputusuan sudah dilakukan dengan baik. Gambaran faktor lingkungan diperoleh melalui observasi dengan checklist.Semua informasi yang diperoleh akan dipergunakan sebagai bahan pertimbangan pengembangan model budaya keselamatan pasien yanng baru. Hasil temuan faktor individu, faktor organisasi, dan faktor lingkungan cukup mendukung peneliti untuk mengembangkan budaya keselamatan pasien yang dapat menunjang terciptanya standar keselamatan pasien yang optimal. Usulan pengembangan budaya tersebut kemudian dipresentasikandidalam diskusi kelompok terarah untuk mengetahui respon pegawai dan manejemen serta sasaran yang hendak ditekankan melalui budaya yang baru. Disepakati bahwa Safety, Good Communication, Team Work, Home Sweet Hospital, dan Better Everyday menjadi elemen kunci budaya keselamatan pasien yang baru yang sesuai di RSIA Tumbuh Kembang. Kata kunci: budaya, keselamatan pasien, organiasasi.


The aim of this research is to develop a model of patient safety culture that fits RSIA Tumbuh Kembang Cimanggis. The study was a combination of qualitative and quantitative study. Qualitative research conducted with in-depth interviews to find out what assumptions, values, beliefs of patient safety that the employee have as a basis for mapping the current patient safety culture, while quantitative conducted with a questionnaire to know the description of individual factors and organizational factors. From 118 employee surveyed earned 55.9% of respondents have knowledge and good attitude, 52.5% of respondents have a good motivation, 57.6% of respondents have a good level of competence, 61% of respondents have a good awareness of the situation, 73.7% of respondents had low levels of job stress, 50.5 % respondents stating the level of fatigue is also quite good. Organizational factors obtained for 53.4% of respondents said the information good leadership, 51.7%. Respondents saw good teamwork, 53.4% of respondents said good team leadership, and 55.1% of respondents said taking decision have done well. Overview of environmental factors is obtained through the observation checklist. All information obtained will be used as a reference model of the development of new patient safety culture. The findings of the individual factors, organizational factors, and environmental factors sufficient to support researchers to develop a culture of patient safety that can support the creation of optimal patient safety standards. Proposed development of a culture is then presentate in focus groups to evaluate the employee and managment response and what kind of target are going to emphasized by the new culture. It was agreed that the Safety, Good Communication, Team Work, Home Sweet Hospital, and Better Everyday became a key element of the new patient safety culture that fits RSIA Tumbuh Kembang Cimanggis Keyword : culture, patient safety, organization.

Read More
B-1426
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bulletin ALARA, Vol.16, No.3, April 2015, hal.127-131
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Zubaedah; Pembimbing: Meily L. Kurniawidjaja; Penguji: Mila Tejamaya, Ridha De Fitria
Abstrak: Skripsi ini membahas mengenai program observasi keselamatan sebagai cara mengubah perilaku tidak aman sehingga secara dini perilaku tindakan tidak aman sebelum cidera terjadi. Evaluasi terhadap program observasi keselamatan perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa efektif program berjalan dalam upaya peningkatan perilaku kerja aman di PT Trakindo Utama cabang Jakarta tahun 2009. Penelitian ini adalah studi evaluasi deskriptif analitik dengan menggunakan survey berupa penyebaran kuesioner dan data sekunder perusahaan. Populasi penelitian adalah adalah seluruh pekerja pada direct service (pekerja di area workshop) sebanyak 85 diwakili 61 orang responden. Simpulan hasil penelitian bahwa ownership yang baik masih kurang berkontribusi pada pelaksanaan program observasi keselamatan dan berdasarkan tipe dalam penerapannya, PTTU cabang Jakarta berada pada tipe participative yaitu partisipasi sebatas upaya pencapaian tujuan target pengumpulan pelaporan kartu. Kontribusi terbesar dalam pelaksanaannya adalah supervisor dan foreman sedangkan partisipasi karyawan masih kurang. Karena masih belum efektifnya pelaksanaan program observasi keselamatan, maka disarankan pihak perusahaan melakukan evaluasi kinerja sesuai dengan penetapan tujuan. Hasil evaluasi perlu dianalisis sehingga dapat mengidentifikasi masalah. Selain itu, motivasi pekerja dan manajemen harus ditingkatkan sehingga upaya perubahan perilaku bekerja aman dapat tercapai dan menurunnya angka kecelakaan kerja akibat perilaku tidak aman.
Read More
S-5604
Depok : FKM UI, 2009
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Rudy Ihsani; Pembimbing: Hendra; Penguji: Dadan Erwandi, Doni Hikmat Ramdhan, Irma Primadiati Afika, Ridha Renaldi
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara laporan observasi keselamatan kerja dan angka kecelakaan kerja di PT X selama tahun 2022–2024. Selain itu, penelitian menilai tingkat penerapan program observasi, kualitas tindak lanjut temuan, serta karakteristik kecelakaan yang terjadi. Desain penelitian yang digunakan adalah studi ekologi dengan pendekatan kuantitatif berdasarkan data observasi UA/UC dan data insiden yang tercatat dalam sistem perusahaan. Total laporan UA/UC selama tiga tahun adalah 17.008 laporan, sedangkan total insiden berjumlah 270 kasus. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan nilai r = –0,99, yang menggambarkan hubungan linear sangat kuat dan bersifat negatif antara jumlah laporan UA/UC dan jumlah insiden. Uji signifikansi menghasilkan nilai p-value < 0,05, sehingga hubungan tersebut dinyatakan signifikan secara statistik. Berdasarkan penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara aktivitas observasi keselamatan, kualitas tindak lanjut temuan dan angka kecelakaan kerja di PT X. Temuan ini menegaskan pentingnya penerapan program observasi yang efektif dan tindak lanjut temuan dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja.

This study aims to analyze the relationship between workplace safety obsearvation reports and occupational accident rates at PT X during the period 2022–2024. In addition, the study evaluates the level of implementation of the safety observation program, the quality of follow-up actions on observation findings, and the characteristics of occupational accidents that occurred. The research employed ecological design with a quantitative approach, using data from Unsafe Action/Unsafe Condition (UA/UC) observation reports and incident records documented in the company’s internal system. Over the three-year period, a total of 17,008 UA/UC observation reports and 270 incident cases were recorded. The Pearson correlation analysis yielded a correlation coefficient of r = –0.99, indicating a very strong and negative linear relationship between the number of UA/UC reports and the number of occupational accidents. The significance test produced a p-value < 0.05, confirming that the relationship is statistically significant. Based on these findings, the study concludes that there is a significant relationship between safety observation activities, the quality of follow-up actions, and occupational accident rates at PT X. These results Highlight the importance of effective implementation of safety observation programs and adequate follow-up actions in preventing workplace accidents.
Read More
T-7466
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive