Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34157 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Novia Astarina Simangunsong; Pembimbing: Rachmadi Purnawan; Penguji: Carolina Rusdy Akib
Abstrak: Demam berdarah dengue di Kota Administrasi Jakarta Selatan mengalami fluktuasi selama 5 tahun terakhir dan pada tahun 2016 angka insiden naik lebih dari 3 kali lipat dari tahun sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor iklim (curah hujan, kelembaban, suhu) dan kepadatan penduduk dengan angka insiden DBD. Studi ini merupakan studi ekologi time series dan dianalisis dengan uji korelasi. Data angka insiden DBD diperoleh dari Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan. Data iklim bulanan diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Jakarta. Data kepadatan penduduk diperoleh dari Badan Pusat Statistika DKI Jakarta. Hasil penelitian menyatakan bahwa suhu dan kepadatan penduduk tidak memiliki hubungan bermakna dengan angka insiden DBD (p > 0,05). Angka insiden DBD memiliki hubungan yang bermakna dengan curah hujan (r = 0,384 ; p = 0,002), kelembaban (r = 0,496 ; p = 0,000).
Kata kunci: demam berdarah dengue (DBD); iklim

Dengue hemorrhagic fever (DHF) in South Jakarta Administration City was fluctuating during 2012 - 2016 and in 2016 the incidence rate (IR) was more than tripled from the previous year. This study aims to determine the relationship between climatic factors (rainfall, humidity, temperature) and population density with the incidence rate (IR) of DHF. This study is a time series ecology study and was analyzed by correlation test. Incidence rate (IR) data was obtained from the South Jakarta District Health Office. Monthly climate data was obtained from the Meteorology, Climatology and Geophysics Department of Jakarta. Population density data was obtained from the Central Statistics Department of DKI Jakarta. The results demonstrate that temperature and population density have no significant correlation with dengue incidence rate (p > 0,05). The incidence rate (IR) had a significant correlation with rainfall (r = 0.384; p = 0.002), humidity (r = 0.496; p = 0,000).
Key words: climate; dengue
Read More
S-9418
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ikha Purwandari Andari; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Beben Saiful Bahri
S-6112
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Slamet Mujlyati; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Laila Fitria, Muhadi
S-6122
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Afifah Azharadipta; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:

Latar Belakang : Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga saat ini masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama pada daerah perkotaan seperti Kota Administrasi Jakarta Barat. Variabel iklim berupa suhu udara, tingkat kelembaban, serta curah hujan diketahui berhubungan dengan perubahan jumlah kasus DBD karena faktor-faktor tersebut memengaruhi pertumbuhan dan aktivitas nyamuk Aedes spp. sebagai vektor penular penyakit. Kajian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara faktor iklim yang mencakup suhu udara, kelembaban udara, serta curah hujan terhadap kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Administrasi Jakarta Barat selama periode 2016–2025. Metode : Dalam kajian ini digunakan metode kuantitatif dengan rancangan ekologi time series untuk menganalisis data penelitian. Data yang dipakai merupakan data sekunder berupa jumlah kejadian DBD yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, sedangkan data terkait iklim seperti suhu udara, kelembaban udara, serta curah hujan bersumber dari NASA POWER. Teknik analisis yang diterapkan meliputi analisis univariat serta bivariat, dengan pengujian korelasi menggunakan Pearson atau Spearman berdasarkan hasil uji normalitas masing-masing variabel. Hasil : Temuan kajian ini memperlihatkan jika keterkaitan antara faktor iklim berupa suhu udara serta kelembaban udara terhadap kejadian DBD lebih dominan pada Lag 1 dibandingkan Lag 2. Hubungan negatif yang signifikan ditemukan pada tahun 2021 serta 2023. Di sisi lain, faktor iklim curah hujan memperlihatkan hubungan yang lebih kuat pada Lag 2 daripada Lag 1.


Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains one of the major public  health problems in Indonesia, particularly in urban areas such as the Administrative  City of West Jakarta. Climate variables, including air temperature, humidity levels,  and rainfall, are known to be associated with changes in the number of DHF cases  because these factors influence the growth and activity of Aedes spp. mosquitoes  as disease vectors. This study was conducted to determine the relationship between  climate factors, namely air temperature, air humidity, and rainfall, and the incidence  of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in the Administrative City of West Jakarta  during the 2016–2025 period. Methods: This study employed a quantitative method  with a time-series ecological design to analyze the research data. The data used  were secondary data consisting of the number of DHF cases obtained from the DKI  Jakarta Provincial Health Office, while climate-related data such as air temperature,  air humidity, and rainfall were sourced from NASA POWER. The analytical  techniques applied included univariate and bivariate analyses, with correlation  testing using Pearson or Spearman methods based on the normality test results of  each variable.Results: The findings of this study indicate that the relationship  between climate factors, specifically air temperature and air humidity, and DHF  incidence was stronger at Lag 1 compared to Lag 2. Significant negative  relationships were identified in 2021 and 2023. Meanwhile, the climate factor of  rainfall demonstrated a stronger relationship at Lag 2 than at Lag 1.

Read More
S-12247
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cindy Alicia; Pembimbing: Rachmadhi Purwana; Penguji: Dewi Susanna, Rahmawati
S-6393
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Gusni Febriasari; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Sri Tjahjani Budi Utami, Suwitno
S-6534
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Rizki Amelia; Pembimbing: R. Budi Haryanto; Penguji: Dewi Susanna, Agus Handito
Abstrak:
Latar Belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit endemik di seluruh wilayah tropis dan sebagian wilayah subtropic yang disebabkan oleh virus dengue. Penyakit DBD juga merupakan salah satu masalah utama kesehatan masyarakat di Indonesia dan Jakarta barat memiliki jumlah kasus tertinggi pertama dan kedua di Provinsi DKI Jakarta pada beberapa tahun terakhir. Tujuan: Menganalisis hubungan faktor iklim (curah hujan, suhu udara, dan kelembaban udara), kepadatan penduduk, dan angka bebas jentik dengan incidence rate DBD di Kota Administrasi Jakarta Barat tahun 2013-2022. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan analisis korelasi untuk melihat hubungan antara faktor iklim yang meliputi curah hujan, suhu udara, kelembaban udara pada time lag 1 dan time lag 2 serta kepadatan penduduk dengan Incidence Rate DBD. Hasil: Hasil analisis bivariat dengan uji korelasi menunjukkan bahwa hubungan yang signifikan lebih berpengaruh pada curah hujan time lag 2, suhu udara time lag 2 dan kelembaban time lag 2. Variabel lainnya yaitu kepadatan penduduk memiliki hubungan signifikan pada tahun 2014, 2015, 2017, 2019, 2020, dan 2021. Hasil uji regresi linear ganda menghasilkan bentuk model prediksi dengan persamaan IR DBD = -160,665 + 3,763 (suhu) + 1, 033 (kelembaman) - 0,102 (curah hujan) - 0,001 (kepadatan penduduk). jika disimulasikan dengan kombinasi suhu sebesar 26,1°C, kelembaman 82,9%, curah hujan 14,9 mm, dan kepadatan penduduk sebesar 20.000 maka kejadian IR DBD akan muncul sebanyak 2,39 kasus per 100.000 penduduk.

Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an endemic disease throughout the tropics and parts of the subtropics caused by the dengue virus. Dengue fever is also one of the main public health problems in Indonesia and West Jakarta has the first and second highest number of cases in DKI Jakarta Province in recent years. Objective: Analyzing the relationship between climate factors (rainfall, air temperature, and humidity), population density, and larvae-free rates with DHF incidence rates in West Jakarta Administrative City in 2013-2022 Methods: This study uses an ecological study design with correlation analysis to see the relationship between climatic factors which include rainfall, air temperature, air humidity in time lag 1 and time lag 2 and population density with DHF Incidence Rate Results: The results of the bivariate analysis with the correlation test show that a significant relationship has more influence on rainfall time lag 2, air temperature time lag 2 and humidity time lag 2. Another variable, namely population density, has a significant relationship in 2014, 2015, 2017, 2019, 2020, and 2021. The results of the multiple linear regression test produce a predictive model with the DHF IR equation = -160.665 + 3.763 (temperature) + 1.033 (inertia) - 0.102 (rainfall) - 0.001 (population density). if simulated with a combination of temperature of 26.1°C, humidity of 82.9%, rainfall of 14.9 mm, and a population density of 20,000, the incidence of IR DHF will occur as many as 2.39 cases per 100,000 population.
Read More
S-11309
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alfiano Fawwaz Lokopessy; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Suyud Warno Utomo, Sri Indarini
Abstrak: Target nasional pencapaian angka insiden atau incidence rate (IR) Demam Berdarah Dengue (DBD) yaitu < 49 kasus per 100.000 penduduk di suatu wilayah. DKI Jakarta pada tahun 2018 berhasil mencapai target pada 100% kota/kabupatennya, dan Kota Administrasi Jakarta Pusat adalah kota yang mencapai target capaian IR paling kecil pada tahun 2018 dibandingkan dengan kota/kabupaten Jakarta lainnya. Penelitian ini ditujukan untuk menganalisis faktor risiko dan pengendalian yang berpotensi mempengaruhi IR DBD di Kota Administrasi Jakarta Pusat. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Sudinkes dan Sudin Dukcapil Kota Administrasi Jakarta Pusat serta BMKG menggunakan data dari satelit Kemayoran. Data yang diteliti meliputi angka insiden, pelaksanaan sarang nyamuk, angka bebas jentik, larvasidasi, kepadatan penduduk, suhu udara, kelembapan relatif, serta indeks curah hujan (ICH) setempat tahun 2015-2019. Selain analisis univariat, dilakukan analisis bivariat menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment dan Spearman. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang tidak signifikan antara variabel independen dan variabel dependen angka insiden DBD. Ini menunjukkan ada peluang terdapat signifikansi hubungan lebih besar pada faktor risiko atau pengendalian lainnya yang tidak termasuk dalam penelitian ini.
Kata kunci: faktor risiko, faktor pengendalian, angka insiden, dengue, Jakarta Pusat

The focus of this study is to analyse the risk and control factors affecting Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) incidence rates in Central Jakarta in 2015-2019. The purpose of this study is to understand how risk and control factors of DHF may affect the incidence rates in Central Jakarta in reaching the lowest number which could be learnt by other cities in Indonesia, especially those with the same social and environmental characteristics. The data of variables collected were analysed using Pearson Product Moment and Spearman correlation test. Results are showing insignificant relations. The researcher suggests a further study with a more comprehensive variables and data.
Key words: risk factors, control factors, incidence rate, dengue, Central Jakarta
Read More
S-10251
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuri Shizcha Amelinda; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Al Asyary, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Desain studi yang digunakan pada penelitian ini yaitu studi ekologi dengan pendekatan analisis korelasi untuk melihat kekuatan hubungan antara faktor iklim pada bulan yang sama (non-time lag), factor iklim dengan jeda 1 bulan (time lag 1), faktor iklim dengan jeda 2 bulan (time lag 2), kepadatan penduduk, dan kepadatan vektor dengan Incidence Rate DBD. Secara statistik, analisis korelasi menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara curah hujan non-time lag, time lag 1, dan time lag 2, suhu udara time lag 2, kelembaban udara non-time lag, time lag 1, dan time lag 2, kepadatan penduduk, dan angka bebas jentik dengan Incidence Rate DBD.
Read More
S-10613
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Daffa Anindya Fawwaz; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Laila Fitria, Sumarno
Abstrak:
Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Salah satu upaya pengendalian vektor yang dilakukan adalah fogging focus untuk membunuh nyamuk dewasa dan memutus rantai penularan penyakit. Namun, hubungan antara frekuensi pelaksanaan fogging dengan kejadian DBD masih perlu dikaji lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan frekuensi pelaksanaan fogging terhadap kejadian DBD di Kota Administrasi Jakarta Pusat tahun 2021–2025. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan memanfaatkan data sekunder yang diperoleh dari Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Pusat dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman. Variabel perancu yang dianalisis meliputi kepadatan penduduk dan curah hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian DBD dan frekuensi pelaksanaan fogging mengalami fluktuasi selama periode tahun 2021–2025. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan positif yang kuat dan bermakna secara statistik antara frekuensi pelaksanaan fogging dengan kejadian DBD (r = 0,618; p < 0,001). Hubungan positif tersebut mengindikasikan bahwa wilayah dengan kejadian DBD yang lebih tinggi cenderung mendapatkan pelaksanaan fogging yang lebih sering sebagai respons pengendalian penyakit. Kepadatan penduduk juga menunjukkan hubungan positif yang kuat dan signifikan terhadap kejadian DBD, sedangkan curah hujan memiliki hubungan positif tetapi tidak bermakna secara statistik. Dapat disimpulkan bahwa frekuensi pelaksanaan fogging memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian DBD di Kota Administrasi Jakarta Pusat tahun 2021–2025. Namun, pengendalian DBD tidak dapat hanya mengandalkan fogging, melainkan perlu dilakukan secara terpadu melalui pemberantasan sarang nyamuk, edukasi masyarakat, serta pengelolaan lingkungan.

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains a public health problem in Indonesia. One vector control measure is focused fogging to kill adult mosquitoes and break the chain of disease transmission. However, the relationship between fogging frequency and dengue fever incidence requires further study. This study aims to analyze the relationship between fogging frequency and dengue fever incidence in Central Jakarta City between 2021 and 2025. This study used an ecological study design utilizing secondary data obtained from the Central Jakarta City Health Office and the Meteorology, Climatology, and Geophysics Agency (BMKG). Data analysis was performed using univariate and bivariate methods using the Spearman correlation test. Confounding variables analyzed included population density and rainfall. The results showed that dengue fever incidence and fogging frequency fluctuated during the 2021–2025 period. Bivariate analysis revealed a strong and statistically significant positive relationship between fogging frequency and dengue fever incidence (r = 0.618; p < 0.001). This positive relationship indicates that areas with higher dengue fever incidence tend to receive more frequent fogging as a disease control response. Population density also showed a strong and significant positive relationship with dengue fever incidence, while rainfall had a positive but not statistically significant relationship. It can be concluded that fogging frequency is significantly associated with dengue fever incidence in Central Jakarta from 2021 to 2025. However, dengue fever control cannot rely solely on fogging; it requires an integrated approach through mosquito breeding eradication, public education, and environmental management.
Read More
S-12295
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive