Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36696 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
R.Lita Ayuningdyah; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Evi Martha, Endah Caroline Wuryaningsih, Astrid Sarawaty, Hasnerita Hartono
Abstrak:

ABSTRAK Nama : R. Lita Ayuningdyah Program Studi : Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Peminatan : Kesehatan Reproduksi Judul : Penerimaan orangtua terhadap vaksinasi Human Papilloma Virus (HPV) melalui kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di Kecamatan Tanah Abang Tahun 2017 Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui penerimaan orangtua terhadap vaksinasi HPV melalui kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di DKI Jakarta Tahun 2017. Metode penelitian yang digunakan adalah  Mix Methods, yaitu secara kuantitatif dengan pengisian kuesioner dan kualitatif dengan wawancara mendalam. Hasil penelitian kuantitatif didapatkan 92,7% orangtua menerima vaksinasi HPV yang diberikan melalui kegiatan BIAS. Sementara itu, pada hasil penelitian kualitiatif ditemukan bahwa penolakan orang tua merupakan salah  satu  kendala yang ditemui dalam pelaksanaan BIAS HPV tahun 2016. Kurangnya pengetahuan orang tua terkait manfaat vaksin HPV, sangat berkaitan dengan kurangnya dukungan dari petugas kesehatan, terutama perihal sosialisasi program BIAS HPV. Kata Kunci : Penerimaan, Orangtua, Vaksinasi HPV, BIAS.


ABSTRACT Name : R. Lita Ayuningdyah Study Program : Magister of Public Health Peminatan : Reproductive Health Judul : Parental Acceptance of Human Papilloma Virus (HPV) Vaccination through School Students Immunization Month (BIAS) In Tanah Abang, In 2017 The study was designed to explore the Parental Acceptance of Human Papilloma Virus (HPV) Vaccination through School Students Immunization Month (BIAS) In DKI Jakarta in 2017. This study using quantitative method by filling questionnaires dan qualitative method with in-depht interview. The result from quantitative research found that  92,7% of parents accept the HPV vaccination that given through BIAS. Meanwhile, the result from qualitative research found that parental’s rejection is one of the obstacles encountered in the implementation of HPV BIAS 2016. The lack of parental knowledge regarding the benefits of HPV vaccine, is strongly related to the lack of support from healthcare workers, especially regarding the socialization of the HPV BIAS program. Keywords : Acceptance, Parental, Vaccination, HPV, BIAS

Read More
T-5022
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marisa Sasuwe; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Toha Muhaimin, Purwanto, Ngabila Salama
Abstrak: ABSTRAK Nama : Marisa Sasuwe Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kesehatan Reproduksi) Judul : Gambaran Kesiapan Guru Pembina UKS SD Sebagai Fasilitator Vaksinasi HPV Dalam Program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) Di Jakarta Selatan. Vaksinasi HPV memiliki efektivitas paling tinggi bila diberikan pada anak usia 9-12 tahun. Sejak tahun 2016 Indonesia menjadi satu dari sekian banyak negara yang memberlakukan program vaksinasi HPV berbasis sekolah (BIAS), dimana saat ini program ini masih terbatas di DKI Jakarta.Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa vaksinasi HPV berbasis sekolah memiliki angka cakupan paling tinggi. Namun, menurut data di Jakarta, vaksinasi HPV masih belum mencapai target cakupan 95%. Guru pembina UKS sebagai garda terdepan pelaksanaan vaksinasi HPV di sekolah berperan sanga penting dalam proses pengambilan keputusan orang tua untuk mengijinkan atau menolak pemberian vaksinasi bagi anak mereka. Guru adalah fasilitator yang akan berperan memfasilitasi orang tua dan petugas kesehatan dalam pelaksanaan vaksinasi HPV di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran Kesiapan Guru Pembina UKS SD Sebagai Fasilitator Vaksinasi HPV Dalam Program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) Di Jakarta Selatan menurut karakteristik jenis kelamin,umur, tingkat pendidikan, lama menjabat sebagai guru Pembina UKS dan riwayat pelatihan. Pengukuran kesiapan dilihat dalam enam dimensi yaitu peran, sikap, pengetahuan, kapasitas, kapabilitas dan tanggung jawab. Penelitian dilakukan pada 50 Guru pembina UKS SD di 10 Kecamatan Jakarta Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode cross sectional dan menggunakan pendekatan kuantitatif. Hasil Penelitian menunjukkan 52% Guru Pembina UKS di Jakarta Selatan memiliki kesiapan rendah dan 48% memiliki kesiapan tinggi dalam menjalankan tugas sebagai fasilitator vaksinasi HPV BIAS. Dimensi pengetahuan merupakan dimensi kesiapan yang paling rendah, dengan 70% Guru pembina UKS memiliki pengetahuan kurang tentang vaksinasi HPV dan kanker serviks. Karakteristik Individu memiliki hubungan signifikan dengan kesiapan : umur (p= 0.036), lama menjabat (p=0.012) dan riwayat diklat ( p= 0.010). Sedangkan jenis kelamin (p=0.661) dan tingkat pendidikan (p=0.502) tidak ditemukan hubungan signifikan terhadap kesiapan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka pelatihan tentang vaksinasi HPV dalam BIAS bagi Guru pembina UKS merupakan hal yang paling penting untuk dilaksanakan dalam rangka mendukung kesiapan Guru Pembina UKS sebagai fasiliatator vaksinasi HPV BIAS di Jakarta Selatan. Kata Kunci : Vaksinasi HPV. BIAS, Kesiapan Guru pembina UKS ABSTRACT Name : Marisa Sasuwe Study Program : Reproductive Health Judul : Overview of Elementary School Health Teacher (UKS) Readiness as HPV Vaccination Facilitator in the School Children Immunization Month Program (BIAS) in South Jakarta. HPV vaccination has the highest effectiveness when given to children aged 9-12 years. Since 2016 Indonesia has become one of few countries that has implemented a school-based HPV vaccination program (BIAS), which is currently limited to DKI Jakarta. Previous research has shown that school-based HPV vaccination has the highest coverage rates. However, according to data in Jakarta, HPV vaccination has not yet reached the 95% coverage target. UKS teachers as the frontline in implementing HPV vaccination in schools play an important role in the decision-making process of parents to allow or refuse vaccinations for their children. School Health Teacher is the facilitator who will play a role in facilitating parents and health workers in carrying out HPV vaccinations in schools. This study aims to determine the Readiness Overview of Elementary School Health Teacher (UKS) as Facilitators of HPV Vaccination in the School Children Immunization Month Program (BIAS) in South Jakarta according to the characteristics of gender, age, level of education, length of time serving as a UKS Teacher and training history. Measurement of readiness is seen in six dimensions, namely roles, attitudes, knowledge, capacity, capabilities and responsibilities. The study was conducted on 50 UKS elementary school teachers in 10 sub-districts of South Jakarta. This research is a descriptive study with cross sectional method and uses a quantitative approach. The results showed that 52% of UKS teachers in South Jakarta had low readiness and 48% had high readiness in carrying out their duties as facilitators of BIV HPV vaccination. The knowledge dimension is the lowest readiness dimension, with 70% of UKS teachers having less knowledge about HPV vaccination and cervical cancer. Individual characteristics have a significant relationship with readiness: age (p = 0.036), length of service (p = 0.012) and training history (p = 0.010). While gender (p = 0.661) and education level (p = 0.502) no significant relationship was found in readiness in this study. Based on the results of this study, the training on HPV vaccination in BIAS for UKS Teachers is the most important thing to do in order to support the readiness of the UKS Guidance Teacher as a facilitator for BIV HPV vaccination in South Jakarta. Keywords: HPV vaccination, BIAS, elementary school health teacher, readiness
Read More
T-5790
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hasyyati; Pembimbing: Helda; Penguji: Yovsyah, Astrid Hereline
Abstrak: Skripsi ini membahas hubungan pemberian stimulasi terhadap perkembangan anak umur 12 bulan di Wilayah Kecamatan Jambe pada bulan Mei tahun 2017. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional dan pengambilan sampel dilakukan dengan Total Sampling. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 92,9% dari anak umur 12 bulan di wilayah Kecamatan Jambe mengalami perkembangan yang sesuai dengan umurnya. Sebanyak 61,4% anak umur 12 bulan mendapatkan stimulasi yang cukup. Sebanyak 67,2% dari responden merupaka perempuan. Sebanyak 94.3% anak memiliki berat badan lahir yang normal saat lahir. Sebanyak 94,3% anak memiliki status gizi baik. Sebanyak 68,6% anak diberikan ASI eksklusif. Sebanyak 68,6% dari responden ibu memiliki pendidikan rendah dan 91,4% dari responden ibu tidak bekerja. Sebanyak 85,7% dari anak umur 12 bulan diasuh oleh selain orang tua. Sebanyak 77,1% memiliki jumlah saudara lebih dari satu. Terdapat hubungan antara pemberian stimulasi dengan perkembangan anak umur 12 bulan di Kecamatan jambe pada bulan Mei tahun 2017 (p=0,04). Kata kunci: Perkembangan anak,stimulasi. This thesis discusses about relationship between stimulation with the development of childr aged 13 in jambe sub-district in may 2017. This study is a quantitative study with cross sectional research design and sampling carried out by the Total Sampling. The results showed that 92,9% have the good development of Child, 61,4% child aged 12 in Jambe Sub-district have a sufficient stimulation, 67,2% respondents are girls, 94.3% child have a normal weight when they born, 94,3% child have a good nutrition, 68,6% ASI eksklusif, 68,6% respondents have a low educated mothers, 91,4% mothers does not doing work, 14,3% full taken care ye teir parents, 77,1% have more than one siblings. There is a relatonship between stimuation and the development of child aged 13 in Jambe Sub-district in May 2017 (p=0,04). Keyword : development of child, stimulation.
Read More
S-9559
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Henny Fatmawati; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dadan Erwandi, Rita Damayanti, Malik Afif, Lulu Ariyantheny Dewi
Abstrak:
Kementerian Kesehatan menetapkan program introduksi vaksinasi HPV yang dilaksanakan secara terintegrasi dengan kegiatan BIAS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan program vaksinasi HPV dan persepsi penerimaan orang tua terhadap vaksinasi HPV pada anak perempuan di SD X Kabupaten Sampang dan SD Y Kabupaten Bangkalan, Provinsi Jawa Timur. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam kepada orang tua siswi kelas 5, guru wali kelas 5, tenaga kesehatan di Puskesmas, serta Bagian Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten. Hasil penelitian yaitu kolaborasi lintas sektor dalam sosialisasi pelaksanaan vaksinasi HPV perlu ditingkatkan. Orang tua siswi SD X yang menolak vaksin HPV karena khawatir terhadap efek samping samping dan ketakutan anak terhadap jarum. Pengetahuan orang tua siswi SD X terkait vaksinasi HPV rendah karena tidak mendapatkan informasi dari guru maupun tenaga kesehatan. Orang tua siswi SD Y menerima vaksin HPV karena vaksin bermanfaat untuk anak mereka. Pengetahuan orang tua siswi SDY terkait vaksinasi HPV cukup tinggi. Pemberian informasi di Bangkalan dilakukan dengan 2 metode yaitu tatap muka yang dilakukan tenaga kesehatan kepada guru, dan melalui media sosial Whatsapp group yang dilakukan guru kepada orang tua. Perlu dilakukan sosialisasi kepada guru dan orang tua untuk meningkatkan pengetahuan tentang vaksin HPV, menghilangkan kesalahpahaman tentang vaksin, dan memberikan kejelasan atas pertanyaan dan kekhawatiran, termasuk mengenai KIPI.

The Ministry of Health established an HPV vaccination introduction program that was implemented in an integrated manner with BIAS activities. The purpose of this study was to determine the implementation of the HPV vaccination program and parents' perceptions of acceptance of HPV vaccination for girls at SD X Sampang District and SD Y Bangkalan District, East Java Province. This research is a qualitative research using a case study approach. Data collection was done through in-depth interviews with parents of grade 5 students, homeroom teachers for grade 5, health workers at the Puskesmas, as well as the Surveillance and Immunization Section of the District Health Office. The results of the study are cross-sectoral collaboration in the socialization of the implementation of the HPV vaccination that needs to be improved. Parents of SD X students who refused the HPV vaccine because they were worried about the side effects and their child's fear of needles. The knowledge of parents of SD X students regarding HPV vaccination is low because they did not receive information from teachers or health workers. The parents of SD Y students received the HPV vaccine because the vaccine was beneficial for their child. The knowledge of parents of SDY students regarding HPV vaccination is quite high. The provision of information in Bangkalan was carried out using 2 methods, namely face to face by health workers to teachers, and through social media Whatsapp groups which were carried out by teachers to parents. Socialization needs to be carried out to teachers and parents to increase knowledge about the HPV vaccine, eliminate misunderstandings about vaccines, and provide clarity on questions and concerns, including regarding AEFI.
Read More
T-6822
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farenia Ramadhani; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Evi Martha, Hanny Harjulianti
Abstrak: Latar Belakang: Pelaksanaan program vaksinasi sebagai salah satu strategi preventif pengendalian virus COVID-19 memunculkan berbagai macam respon di masyarakat. Penerimaan vaksinasi COVID-19 dan faktor-faktor yang memengaruhinya sangat berdampak pada keberhasilan program. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerimaan vaksinasi COVID-19 pada mahasiswa Universitas Indonesia tahun 2022 berdasarkan teori health belief model. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah desain potong lintang dengan cara pengambilan data primer melalui survei online dengan sampel penelitian yaitu mahasiswa aktif program sarjana. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antara variabel. Hasil: Dari 295 responden, terdapat 48,1% mahasiswa yang akan melakukan vaksinasi COVID-19. Penerimaan vaksinasi COVID-19 memiliki hubungan yang signifikan dengan pengetahuan, persepsi kerentanan, persepsi keparahan, persepsi hambatan, persepsi manfaat, persepsi kemampuan diri dan isyarat bertindak (p < 0,05). Kesimpulan: Penerimaan vaksinasi COVID-19 pada mahasiswa Universitas Indonesia masih rendah. Berbagai strategi yang efektif harus dilakukan untuk memicu niat mahasiswa melakukan vaksinasi COVID-19. Diperlukan kerjasama antara pemerintah dengan civitas academica melalui sosialisasi/kampanye aktif di kampus dan memaksimalkan chatbot whatsapp Kementerian Kesehatan untuk menguragi keragu-raguan melakukan vaksinasi COVID-19.
Background: COVID-19 vaccination program which known as prevention strategy to control the pandemic shows various response in society. The acceptance of COVID-19 vaccination and its influencing factors give a big impact for the success of the program. The study aims to analyze the acceptance of the COVID-19 vaccination among Universitas Indonesia students in 2022 based on health belief model theory. Methods: This study use a cross-sectional design with primary data through an online survey and the target population constituted undergraduate students. The data analyzed by univariate and bivariate to know the relation between variables. Results: From 295 respondents, about 48,1% intended to accept the vaccination. The acceptance of COVID-19 vaccination has a significant relation with knowledge, perceived susceptibility, perceived severity, perceived barriers, perceived benefits, perceived self efficacy and cues to action (p < 0,05). Conclusions: The acceptance of the COVID-19 vaccination was low among Universitas Indonesia students. Various effective strategies must be done to trigger the intention of COVID-19 vaccination. The cooperation between government and civitas academica through campaign is needed and maximize the use of chatbot whatsapp ministry of health to reduce COVID-19 vaccination hesitation. Keywords: COVID-19, Vaccine Acceptance, Health Belief Model Theory
Read More
S-11146
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mega Santi Widya Putri; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Anies Irawati, Endang Sri Wahyuningsih
Abstrak: ABSTRAK waktu yang lama, biasanya diikuti dengan frekuensi sering sakit, yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti kurangnya pengasuhan, penggunaan air yang tidak bersih, lingkungan yang tidak sehat, terbatasnya akses terhadap pangan dan kemiskinan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsumsi susu dengan kejadian stunting pada anak balita usia 24 bulan di Kecamatan Duren Sawit tahun 2018. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian case control, jumlah sampel penelitian ini adalah 74 orang, pada kelompok kasus 37 anak, dan pada kelompok kontrol 37 anak. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Duren Sawit pada anak balita usia 24 bulan. Hasil: Hasil penelitian analisis bivariat menunjukkan terdapat pengaruh antara konsumsi susu, frekuensi minum susu, jumlah minum susu, mulai minum susu, pendidikan ibu, pengetahuan gizi ibu, penyakit infeksi, asupan energi, asupan lemak, dan asupan zat besi dengan kejadian stunting. Tidak ditemukan pengaruh pendidikan ayah, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, besar keluarga, riwayat ASI Eksklusif, asupan karbohidrat, dan asupan kalsium dengan kejadian stunting. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa konsumsi susu, penyakit infeksi, dan asupan energi berpengaruh terhadap kejadian stunting dan yang paling dominan dalam mempengaruhi kejadian stunting adalah konsumsi susu. Kesimpulan: Konsumsi susu memiliki pengaruh dengan kejadian stunting pada anak usia 24 bulan. Kata Kunci : Balita, Stunting, Konsumsi Susu Introduction: Stunting is a chronic malnutrition caused by a lack of long-term nutritional intake, usually followed by frequent frequent illness, caused by factors such as lack of care, impure water use, unhealthy environment, limited access to food and poverty . Purpose: This study aims to determine the effect of milk consumption with the incidence of stunting in children aged 24 months in Kecamatan Duren Sawit in 2018. Method: This study is a quantitative study with case control research design, the number of samples of this study was 74 people, in case group 37 children, and in the control group of 37 children. This research was conducted in Duren Sawit Subdistrict in children aged 24 months. Results: The results of bivariate analysis showed that there was influence between milk consumption, milk drinking frequency, milk drinking, milk, mother education, mother's nutrition, infectious diseases, energy intake, fat intake, and iron intake with stunting events. No effect of father's education, father's work, mother's job, family size, history of exclusive breastfeeding, carbohydrate intake, and calcium intake with stunting events. The result of multivariate analysis showed that milk consumption, infectious diseases, and energy intake had an effect on stunting event and the most dominant in influencing stunting incidence was milk consumption. Conclusion: Milk consumption has an influence with stunting events in children aged 24 months. Key words: Toddler, Stunting, Milk Consumption
Read More
T-5417
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Esti Katherini Adhi; Pembimbing; Sandra Fikawati, Ahmad Syafiq; Penguji: Endang L. Achadi, Marudut. Mayang Sari
Abstrak: ABSTRAK Prevalensi balita stunting di Kab.Bogor tahun 2013 sebesar 28,3%. Hal tersebut masih menunjukan bahwa stunting di Kab. Bogor masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Susu merupakan sumber pangan yang mengandung energi, protein dan mikronutrien yang hanya ditemukan pada sumber makanan hewani yang dapat berfungsi dalam merangsang pertumbuhan. Pelarangan promosi susu pada anak dibawah umur 3 tahun memunculkan kekhawatiran akan jumlah balita stunting yang malah akan meningkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara asupan susu dengan stunting ada anak balita umur 24 bulan di Kecamatan Bojong Gede Kabupaten Bogor Tahun 2018. Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dengan sampel penelitian sebanyak 113 balita. Hasil penelitian menunjukan 26,5% balita umur 24 bulan di Kecamatan Bojong Gede Kabupaten Bogor Tahun 2018 mengalami stunting. Terdapat hubungan antara umur mulai minum susu dengan kejadian stunting (p=0,021), sedangkan tipe konsumsi susu (p=0,734) dan frekuensi minum susu (p=0,588) tidak mempunyai hubungan dengan kejadian stunting. Balita yang mulai minum susu umur ≥12 bulan mempunyai peluang 4,1 kali (95% CI: 1,23-13,32) untuk menjadi stunting dibandingkan dengan balita yang minum susu umur <12 bulan setelah dikontrol pekerjaan ibu, pendidikan bapak dan asupan protein. Kata kunci: Stunting, asupan susu, mulai minum susu, tipe konsumsi susu, frekuensi minum susu The prevalence of under five children stunting in Kab.Bogor in 2013 is 28,3%. It is shows that stunting in Kab. Bogor is still a public health problem. Milk is a food source that contains energy, protein and micronutrients that found only in animal food sources that can stimulating growth. The prohibition of promotion of milk in children under 3 years old raises concerns about increasing of stunting children . The purpose of this study was to determine the corelation between milk intake and stunting on 24-month-old child in Bojong Gede sub-district, Bogor Regency in 2018. This study used cross-sectional method with 113 research samples. The results showed 26.5% of children aged 24 months in Bojong Gede District, Bogor Regency in 2018 had stunting. There was a corelation between drinking milk start date and stunting (p = 0,021), while type milk consumption (p = 0,734) and milk drinking frequency (p = 0,588) had no corelation with stunting . Toddlers who start drinking milk ≥12 months old have a chance of 4.1 times (95% CI: 1,23-13,32) encounter stunting compared to under-fives who drink milk <12 months after controlled by mother's job, father's education and intake protein. Keyword : stunting, dairy intake, drinking milk start date, type milk consumption, milk drinking frequency
Read More
T-5410
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurizka Deviani; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Evi Martha, Hanny Harjulianti
Abstrak: Penelitian ini merupakan studi kualitatif dengan metode Rapid Assessment Procedure dengan informan 10 orang lansia dan informan kunci 4 orang pendamping lansia dan 4 orang penanggung jawab program vaksinasi Covid-19 di Puskesmas yang bertujuan untuk mengetahui analisis determinan pemanfaatan layanan vaksinasi Covid- 19 pada Lansia di Kecamatan Astanaanyar Tahun 2021. Berdasarkan penelitian didapatkan hasil bahwa faktor yang paling berperan dalam pemanfaatan layanan vaksinasi Covid-19 pada lansia di Kecamatan Astanaanyar adalah faktor predisposisi (kepercayaan terhadap layanan) dan kebutuhan (persepsi mengenai penyakit dan kerentanan), daripada faktor pendukung (ketersediaan sumber daya keluarga, ketersediaan sumber daya pendukung layanan dan aksesibilitas).
Read More
S-10709
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salma Muazaroh; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Mieke Savitri, Nurwirah Verliyanti
Abstrak: Peningkatan perilaku berisiko pada pria dengan status menikah yang membeli seks dapat meningkatkan risiko penularan HIV pada ibu hamil dan anak. Meski fasilitas kesehatan primer dan beberapa rumah sakit di Jakarta Selatan telah menyediakan layanan PPIA, namun tidak semua ibu hamil menjalani tes HIV sehingga angka penularan HIV pada anak masih terjadi. Fenomena ibu hamil yang saat ini lebih banyak mengunjungi fasyankes swasta dan lemahnya sistem integrasi antara Puskesmas dengan fasyankes swasta mempengaruhi cakupan skrining HIV pada K1 ibu hamil.

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui analisis implementasi PPIA, serta variabel yang mempengaruhi keberhasilan implementasi PPIA pada 4 Puskesmas Kecamatan di Jakarta Selatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, studi dokumentasi dan wawancara mendalam kepada tiga kelompok informan yakni 5 orang pemangku kepentingan, 1 orang bidan dari BPM, serta 9 ibu hamil. Data PPIA yang dianalisis berlangsung pada rentang waktu Januari hingga Agustus 2019.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi PPIA di Jakarta Selatan tahun 2019 tidak tercapai. Adapun variabel yang mempengaruhi keberhasilan implementasi PPIA di Jakarta Selatan ialah rendahnya cakupan skrining HIV pada K1 ibu hamil pada ibu yang berkunjung di luar FKTP Publik, lemahnya pencatatan dan pelaporan, serta rendahnya dukungan pemerintah terhadap sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Perlu dilakukan lebih banyak sosialisasi dan peningkatan strategi cakupan PPIA agar penularan HIV pada pasangan berisiko tinggi dan penularan HIV dari ibu terinfeksi ke anak dapat tereliminasi.
Read More
S-10250
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fransiska Meyanti; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Agustin Kusumayati, Rina Artining Anggorodi, Maria J. Adrijanti, Nelly Tina Widjaja
T-3357
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive