Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34534 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Isnani Dewi Saefina; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achadi, Pratiwi Andayani
S-9613
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elfrida Rinawaty Manurung; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Anhari Achadi, Vetty Yulianty Permanasari, Liman Harijono, Krsitiawan Basuki Rahmat
Abstrak:
Tantangan resistensi antimikroba yang dihadapi Indonesia serupa dengan banyak negara di Kawasan Asia dan sekitarnya. Hasil survei penggunaan antimikroba yang dilakukan EXPLAIN* (Exploration of Antimicrobial Consumption to Identify Targets for Quality Improvement in Indonesian Hospitals) di seluruh bangsal rawat inap RS Royal Taruma tanggal 19-22 Maret 2019 dari 100 pasien yang diteliti didapatkan hasil penggunaan antibiotik empiris sebanyak 97% yang terdiri dari 81% untuk terapi empiris, 12 % profilaksis medis, 4% profilaksis bedah, dengan diagnosis terbanyak untuk pemberian antibiotik adalah tifoid, pneumonia dan demam berdarah. Pasien tanpa indikasi yang jelas mendapatkan antibiotik sebanyak 16%. RS Royal Taruma pada bulan November 2018 membentuk Tim PPRA untuk mendukung program nasional dan mengurangi penggunaan antibiotik irasional di RS Royal Taruma. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi kebijakan PPRA terhadap penggunaan antibiotik di RS Royal Taruma. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan menganalisis penggunaan antibiotik secara kuantitatif DDD (Defined daily doses)/100 patient-days secara berkala dengan mengambil data sekunder Tim PPRA triwulan di bulan Februari, Mei dan Agustus 2020. Dilanjutkan dengan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam 14 sumber informan untuk mengetahui tentang persepsi, pendapat, pikirannya tentang penggunaan antibiotik terkait dengan impelementasi kebijakan PPRA di RS Royal Taruma. Dari hasil DDD/100 patient-days, didapatkan hasil tiga antibiotik terbanyak yang digunakan adalah Cetriaxon (64,7%), Levofloxacin (20,1%) dan Meropenem (6,9%), yang termasuk kedalam golongan antibiotik berspektrum luas. Total penggunaan antibiotik sebanyak 1206,59 DDD/100 patient-days atau dalam satu hari terdapat 12,1 DDD antibiotik yang digunakan pada 100 pasien rawat inap dengan total lama perawatan selama 5547 hari. Dari hasil wawancara mendalam dapat disimpulkan bahwa implementasi kebijakan PPRA sudah dilaksanakan namun belum berjalan optimal dan perlu ditingkatkan lagi

The challenges of antimicrobial resistance facing Indonesia are similar to those of many countries in the Asian Region and beyond. The results of a survey on the use of antimicrobials conducted by EXPLAIN * (Exploration of Antimicrobial Consumption to Identify Targets for Quality Improvement in Indonesian Hospitals) in all inpatient wards of Royal Taruma Hospital on 19-22 March 2019, out of 100 patients studied, it was found that 97% of empirical antibiotics were used. consisting of 81% for empiric therapy, 12% for medical prophylaxis, 4% for surgical prophylaxis, with the most common diagnoses for antibiotics being typhoid, pneumonia and dengue fever. 16% of patients without a clear indication received antibiotics. Royal Taruma Hospital in November 2018 formed the PPRA Team to support the national program and reduce the use of irrational antibiotics at the Royal Taruma Hospital. The purpose of this study was to determine the implementation of PPRA policies on the use of antibiotics at the Royal Taruma Hospital. This research is a descriptive analytical study by analyzing the quantitative use of antibiotics, DDD (Defined daily dosage) / 100 patient-days periodically by taking secondary data from the PPRA Team for the quarterly months of February, May and August 2020. Followed by a qualitative approach with in-depth interviews with 14 sources. informants to find out about their perceptions, opinions, thoughts about the use of antibiotics related to the implementation of PPRA policies at Royal Taruma Hospital. From the DDD / 100 patient-days results, the three most widely used antibiotics were Cetriaxon (64.7%), Levofloxacin (20.1%) and Meropenem (6.9%), which belong to the broad-spectrum antibiotic class. Total antibiotic use was 1206.59 DDD / 100 patient-days or in one day there were 12.1 DDD antibiotics used in 100 hospitalized patients with a total length of stay of 5547 days. From the results of the in-depth interview it can be concluded that the implementation of PPRA policies has been implemented but has not run optimally and needs to be further improved
Read More
B-2182
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sukma Marthia Rahani; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Anhari Achadi, Mardiati Nadjib, Erike A. Suwarsono, Dede Sri Mulyana
Abstrak:
Penggunaan antibiotik yang tepat dan rasional dipercaya dapat mencegah terjadinya resistensi terhadap antibiotik juga berpengaruh terhadap keberhasilan pengobatan pasien pneumonia. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional diduga juga dapat menyebabkan pemanjangan lama hari rawat di rumah sakit sehingga mempengaruhi biaya perawatan pasien pneumonia. Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan terjadi peningkatan prevalensi pneumonia berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan sebesar 2%, sedangkan tahun 2013 sebesar 1.8%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kerasionalan penggunan antibiotik dengan outcome klinis pasien pneumonia di Rumah Sakit Haji Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-analitik (cross-sectional) kuantitatif yang pengambilan datanya dilakukan secara retrospektif menggunakan data rekam medik pasien di Rumah Sakit Haji Jakarta periode 1 Januari 2019 sampai dengan 31 Desember 2019. Dari 77 sampel yang didapat, sebanyak 37,7% pasien mendapatkan antibiotik secara tepat, 93.5% pasien mendapat dosis antibiotik secara tepat, 85.7% pasien yang mendapat antibiotik dengan durasi yang tepat, dan 98.7% pasien mendapat antibiotik dengan frekuensi yang tepat. Perbaikan klinis yang terjadi ≤ hari kelima sebanyak 88.3% dan lama hari rawat (length of stay) ≤ 5 hari sebanyak 67.5%. Kerasionalan penggunaan antibiotik tidak menunjukkan hubungan yang bermakna terhadap outcome klinis (p value > 0.05) dan lama hari rawat (p value > 0.05).
Appropriate and rational use of antibiotic is believed to prevent the occurrence of resistance to antibiotic also affect the success of the treatment of pneumonia patients. The irrational use of antibiotic is thought to also be able to cause lengthening of the length of stay in the hospital, thereby affecting the cost of treating pneumonia patients. Riskesdas data for 2018 showed an increase in the prevalence of pneumonia based on diagnosis by health professionals by 2%, while in 2013 it was 1.8%. The purpose of this study was to determine the relationship between the rational use of antibiotic with the clinical outcome of pneumonia patients at the Jakarta Hajj Hospital. This research is a quantitative descriptive-analytic (cross-sectional) study whose data was collected retrospectively using medical records of patients at the Jakarta Hajj Hospital for the period of January 1 2019 to 31 December 2019. Of the 77 samples obtained, 37.7% patients get the right antibiotik, 93.5% of patients get the right dose of antibiotic, 85.7% of patients get antibiotic with the right duration, and 98.7% of patients get antibiotic with the right frequency. Clinical improvement that occurred ≤ fifth day was 88.3% and length of stay ≤ 5 days was 67.5%. The rationality of antibiotik use did not show a significant relationship to clinical outcome (p value > 0.05) and length of stay (p value > 0.05).
Read More
B-2151
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irmawati; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Jaslis Ilyas, Mardiati Nadjib, Arda Yunita Subardi, Mario Abet Nego
Abstrak:
Latar Belakang: Peningkatan penggunaan antibiotik dalam beberapa dekade terakhir telah memberikan dampak besar terhadap kesehatan masyarakat global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut resistensi antimikroba (Antimicrobial Resistance/AMR), berkontribusi terhadap meningkatnya angka kesakitan dan kematian, sekaligus menimbulkan beban ekonomi yang tinggi bagi sistem kesehatan. RSUD Kabupaten Bekasi sebagai rumah sakit rujukan daerah menghadapi tantangan serupa, ditandai dengan tingginya penggunaan antibiotik spektrum luas dan meningkatnya pola resistensi bakteri.  Berdasarkan antibiogram tahun 2024, angka MDRO untuk MRSA 22,22% dan ESBL 40%. Tujuan penelitian: Menilai implementasi Program Regulasi Antimikroba Sistem Prospektif (RASPRO) terhadap pola resistensi antimikroba dan efisiensi biaya penggunaan antibiotik, serta menganalisis peran tata kelola, sumber daya manusia, dan sistem monitoring evaluasi dalam mendukung program tersebut. Metode penelitian: Menggunakan desain kohort prospektif dengan pendekatan kuantitatif, membandingkan kondisi sebelum dan sesudah implementasi RASPRO. Subjek penelitian adalah pasien rawat inap yang mendapatkan terapi antibiotik di RSUD Kabupaten Bekasi dan memenuhi kriteria inklusi dalam penelitian ini. Data dianalisis melalui evaluasi pola penggunaan antibiotik (Defined Daily Dose/DDD), rasionalitas terapi berdasarkan metode Gyssens, serta analisis efisiensi biaya pembelian antibiotik. Hasil penelitian: Menunjukkan adanya perbaikan rasionalitas penggunaan antibiotik, penurunan penggunaan antibiotik spektrum luas tertentu, serta peningkatan biaya pengadaan antibiotik tertentu setelah implementasi RASPRO. Keberhasilan RASPRO juga sangat dipengaruhi oleh komitmen manajemen, kolaborasi tim PPRA, dan sistem audit prospektif yang konsisten. Kesimpulan: Implementasi RASPRO efektif dalam peningkatan rasionalitas penggunaan antibiotik namun dari segi biaya perlu adanya evaluasi faktor-faktor yang memengaruhi efisiensi dalam pembiayaan antibiotik.

Background: Antimicrobial resistance (AMR) represents a major challenge to the quality of healthcare services and hospital cost efficiency, largely driven by irrational antibiotic use. Bekasi District General Hospital implemented the Prospective Antimicrobial Regulation Program (RASPRO) as part of the Antimicrobial Resistance Control Program (PPRA) to optimize antibiotic use, reduce resistance, and improve cost efficiency. Research Objectives: Evaluate the impact of RASPRO implementation on antibiotic utilization patterns, appropriateness of therapy, antimicrobial resistance trends (antibiogram 2024), and antibiotic cost efficiency, while also analyzing the role of hospital governance and monitoring–evaluation systems in supporting program effectiveness. Research method: A prospective cohort study with a quantitative approach was conducted among hospitalized patients receiving antibiotic therapy before and after RASPRO implementation. Data were analyzed using indicators of antibiotic consumption, appropriateness of therapy assessed by the Gyssens method, antimicrobial resistance trends based on hospital antibiograms, and changes in antibiotic procurement costs. Research results:  demonstrated that RASPRO implementation improved the appropriateness of antibiotic use, reduced the utilization of broad-spectrum and restricted antibiotics, and achieved cost efficiency in antibiotic procurement. In addition, the program strengthened clinical governance through increased adherence to antibiotic use guidelines and optimization of the PPRA team’s role. Conclusion: The implementation of RASPRO has proven effective in improving the rational use of antibiotics. However, from a cost perspective, further evaluation is required to identify factors influencing the efficiency of antibiotic-related expenditures. Keywords: antimicrobial resistance; RASPRO; antibiotic stewardship; cost efficiency; hospital governance
Read More
B-2573
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sarwanti; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Anhari Achadi, Puput Oktamianti, Yawestri Pudjiati, Andi Julia Rifiana
Abstrak: ABSTRAK
 
Pengisian rekam medik merupakan kegiatan yang sangat penting untuk memberikan pelayanan yang baik kepada pasien dan data rekam medik sangat diperlukan untuk kepentingan manajemen rumah sakit, pasien, dan petugas kesehatan sendiri. Pengelolaan rekam medik yang dilakukan secara seksama dan lebih profesional merupakan salah satu pelayanan yang dapat menunjang pemberian pelayanan medik yang cepat, tepat, dan akurat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku dokter spesialis surgical dalam kelengkapan pengisian resume medik pasien rawat inap di RSUP Fatmawati tahun 2014. Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Sedangkan desain penelitiannya adalah cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah total sampel 73 orang dokter spesialis bedah surgical ( THT, mata, bedah, orthopedi, kebidanan ). Analisis menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik berganda.
 
 
Hasil penelitian ada hubungan yang signifikan antara monitoring, beban kerja, pengetahuan, variabel pelatihan dan kompensasi dengan perilaku dokter spesialis pegisian resume medik di RSUP Fatmawati. Variabel kompensasi merupakan variabel paling dominan memiliki hubungan secara signifikan dengan perilaku dokter spesialis surgical dalam pengisian resume medik di RSUP Fatmawati. Pihak manajemen perlu meningkatkan pengawasan (monitoring) terhadap pengisian resume medis bekerjasama dengan tim komite medik. Kendala-kendala yang ditemukan dalam pengisian resume medis dibahas dan diselesaikan bersama dengan melibatkan seluruh dokter.
 

ABSTRACT
 
Completion of medical records is an activity that is very important to provide good service top patient and medical records management is indispensable for the benefit of hospitals, patients, and health workers themselves. Management of medical records that done carefully and professionally is one of the care that can support the provision of medial services that is fast, precise, and accurate. The purpose of this study was to determine the factors that influence the behavior of the completeness of inpatient discharge summaries in Fatmawati Hospital in 2014. This research is analytic study with quantitative and qualitative approaches. While the sampla of 73 surgical surgeons (ENT, eye, surgery, orthopaedic, obstetrics). Analysis using Chi-square test and multiple logistic regression.
 
 
The results of the study there was a significant correlation between monitoring, workload, knowledge, training and compensation variables with the completion behavior of discharge summary by surgeons in Fatmawati Hospital. Variable compensation is the most dominant variable has a significant correlation with the behavior of surgical specialists in medical resume completion. The management needs to improve supervision the completion of medical resume working together with a team of medical committee. Barriers found in medical resume completion discussed and solved together by all the doctor.
Read More
B-1624
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hilda Elsa Putri; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Puput Oktamianti, Astried Maydhita Putri
S-8943
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evelina Endang Nurjaman; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Purnawan Junadi, Margareth Aryani Santoso, Anhari Achadi
Abstrak:
Pendahuluan: Peresepan antibiotik pra-pembedahan (profilaksis) merupakan penggunaan antibiotik yang sering dijumpai di rumah sakit dan pengendalian penggunaannya sangat penting namun belum banyak diteliti di Indonesia. Berdasarkan data dari surveillans audit bundles pencegahan Infeksi Daerah Operasi di RS X periode Oktober-Desember 2023, didapatkan kesesuaian jenis antibiotik profilaksis maupun ketepatan waktu pemberian antibiotik profilaksis 30-60 menit sebelum insisi masih di bawah 60%. Metodologi: Penelitian dilakukan untuk menganalisis kesesuaian dan rasionalitas peresepan antibiotik profilaksis serta melakukan evaluasi penyebab ketidaksesuaian. Penelitian dilakukan dalam dua tahap yaitu deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan wawancara semi terstruktur. Hasil: Penelitian ini didapat capaian kesesuaian peresepan antibiotik profilaksis masih kurang dari 60%.  Dari analisis faktor yang mempengaruhi perilaku didapatkan kapabilitas dan kesempatan sudah baik namun kekhawatiran risiko infeksi dan keluarah hasil operasi mempengaruhi motivasi untuk memberikan antibiotik profilaksis secara bijak. Kesimpulan: Capaian kesesuaian peresepan antibiotik profilaksis masih rendah (< 60%) dengan variasi yang tinggi karena belum tersedianya prosedur detail. Ketidakpatuhan tertinggi ditemukan pada kelompok ortopedi terkait indikasi dan durasi pemberian. Meskipun tingkat kepatuhan rendah, tidak ditemukan kejadian Infeksi Daerah Operasi (IDO) pada seluruh subjek. Ketidakpatuhan dokter dipicu oleh kekhawatiran terhadap hasil operasi dan skeptisisme atas efektivitas antibiotik lini pertama, yang lebih memprioritaskan keamanan pasien jangka pendek dibandingkan risiko resistensi antimikroba. Oleh karena itu, pimpinan rumah sakit perlu melakukan intervensi secara sistematis dan menerapkan pemantauan menyeluruh untuk meningkatkan peresepan antibiotik profilaksis sesuai standar.

Introduction: The use of presurgical antibiotics is common, but adherence to guideline is low. Improper use can lead to antibiotic resistance. A preliminary study was conducted at Hospital X between October and December 2023. The study found that the correct type of antibiotic and the timing of administration (30-60 minutes before incision) were both below 60% adherence. Research objectives is to analyze the appropriateness and rationality of pre-surgical antibiotics prescriptions and to evaluaste the causes of noncompliance. The research used a mixed-methods approach. Descriptive statistics to analyze prescribing patterns. Semi-structured interviews to understand the reasons behind prescribing practices. Research finding: Adherence to prescribing guidelines for antibiotic prophylaxis was less than 60%. While doctors had the capability and opportunity to prescribe correctly, concerns about infection risk and surgical outcomes influenced their motivation, leading to potentially less judicious use of antibiotics. The study concludes that compliance with prophylactic antibiotic prescribing remains low (< 60%), characterized by significant practice variation due to the absence of detailed procedural guidelines. The lowest compliance was observed within the orthopedic group regarding indications and duration of administration. Despite low adherence, no Surgical Site Infections (SSI) were reported across all subjects. Clinician non-compliance is driven by concerns over surgical outcomes and skepticism regarding the efficacy of first-line antibiotics, prioritizing immediate patient safety over the long-term risk of antimicrobial resistance. Consequently, hospital leadership must implement systematic interventions and comprehensive monitoring to align prophylactic antibiotic prescribing with established standards.  Key words: antibiotic prophylaxis, appropriateness, rationality,  behaviour
Read More
B-2562
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Haryman Utama Suryadinata; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Sandi Iljanto, Atik Nurwahyuni, Robby Purnamasidhi, T. Robertus
Abstrak: Penggunaan antibiotik yang salah atau irasional dapat menyebabkan terjadinya kasus Antibiotic Resistance (ABR). Salah satu proses dalam mengendalikan ABR yaitu dengan melakukan evaluasi rasionalitas penggunaan antibiotik dengan alur Gyssens. Rumah Sakit X saat ini berupaya untuk terus memenuhi standar pelayanan kesehatan yaitu tentang penggunaan antibiotik yang rasional. Metode untuk mengevaluasi rasionalitas yang digunakan adalah dengan metode Gyssens. Kemudian, beberapa hasil yang menarik akan diverifikasi dengan tim pada saat diskusi dilakukan. Sampel yang dikumpulkan sebanyak 307 kali penggunaan antibiotik. Terdapat 7,5% penggunaan antibiotik yang sesuai dengan pedoman dan penggunaan antibiotik terbanyak pada golongan Cephalosporin generasi 3 (Ceftriaxone) dan Beta Lactam (Ampisilin Sulbaktam). Penyebab terjadinya ketidaksesuaian dan dalam penggunaan antibiotik adalah belum adanya standar pedoman penggunaan antibiotik pada seluruh kelompok diagnosa penyakit, beberapa antibiotik tidak tersedia di rumah sakit, beberapa kebijakan dan program belum berjalan maksimal. Dampak tersebut dapat menyebabkan potensi terjadinya resistensi, penurunan efektivitas obat bahkan dapat meningkatkan biaya pengobatan. Beberapa solusi harus segera dilakukan yang bertujuan untuk meningkatkan cost saving dan hal ini dapat berpengaruh terhadap pembelian obat di rumah sakit termasuk pada mengurangi potensi risiko lainnya yang dapat muncul. Hal tersebut memiliki tujuan akhir yang sama yaitu kualitas pelayanan kesehatan yang bermutu dengan biaya yang terkendali. Kata Kunci: Antibiotik, Penggunaan Antibiotik, Evaluasi Rasionalitas, Metode Gyssens, Alur Gyssens Irational antibiotics usage could drive into Antibiotics Resistance (ABR) which could be control by doing the evaluation of antbiotic usage. Nowdays, Hospital X is very concern to improve their quality of services by pushing rational usage of antibiotics. This reasearch will evaluate the rationality of antibioic useage with Gyssens algorithm, and cntinue by some discussion with the team for verification the interesting results. The total sample is 307 cases of antibiotic used. There are 7,5% rational cases of antibiotics usage which Cephalosporin 3 generation (Ceftriaxone) and Beta Lactam (Ampicillin Sulbactam) were the most frequent delivered. Those irational antibiotic usage caused by there was no antibiotics used guideline for therapy especially for antibiotics therapy, some kind of antibiotics are not available in hospital and some internal regulations and programs were not working properly which could drive to antibiotics resistance, inefficient of the treatment and also increase the treatment cost. The hospital should do some improvement to prevent the resistance, which could give some benefits such as increase cost saving of the treatment, decrease the purchasing level and minimum risk of potential incident. All of those things just to reach the best quality with the controlled cost of healthy services Keywords : Antibiotics, Antibiotics Usage, Rationality Evaluation, Gyssens Algorithm
Read More
B-1947
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nila Indrawati; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Ronnie Rivany, Mieke Savitri, Endang Andriyani, Eka Nursiaty
Abstrak:

Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis pengendalian persediaan antibiotik pada tahun 2011 di RSIA Budi Kemuliaan. Desain penelitian yang digunakan Cross Sectional dengan pendekatan kualitatif untuk menganalisis unsur-unsur yang berpengaruh pada efektifitas pengendalian dan pendekatan kuantitatif digunakan untuk melakukan analisis ABC antibiotik pada tahun 2011. Hasil yang didapat dari penelitian ini untuk analisis ABC nilai indeks kritis, kelompok A terdiri dari 8 item obat atau 6,25 % dari seluruh item antibiotik, kelompok B 58 item atau 45,31% dan kelompok C 48,44% atau 62 item antibiotik Untuk evaluasi Formularium, 28 item antibiotik dalam kelompok C dapat dihilangkan. Efektifitas pengendalian belum tercapai, dikarenakan kebijakan yang ada belum cukup dan belum dibakukan menjadi pedoman yang disosialisasikan serta dievaluasi secara rutin dan belum dibakukannya prosedur-prosedur yang berkaitan dengan pengendalian persediaan, serta sistem informasi yang tersedia belum menunjang proses pencatatan dan pelaporan.


 The aim of this research is to analyze antibiotics stock control in Budi Kemuliaan Hospital in 2011. This was a cross-sectional study using qualitative approach to analyze some factors influencing control effectivity and quantitative approach to analyze ABC antibiotics in 2011. The result of this study, using ABC analysis of critical index point, showed that Group A consisted of 8 drug items or 6.25% of total antibiotics items, Group B consisted of 58 items (45.31%) and Group C consisted of 62 items (48.44%). Twenty eight itemsin Group C could be deleted from Budi Kemuliaan Hospital?s drug formularium lists.The effectivity of stock control had not been achieved yet because the policy regarding stock controlhad not been established adequately andhad not became a guidance to be socialized and evaluated routinely;there were many procedures of drug stock control had not became SOP (Standard Operating Procedure); and the excellence information system that supported good documentation had not been available yet.

Read More
B-1429
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Seli Pibriani Hendra Yani; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Aziz, Anhari Achadi
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang Pengaruh Kompensasi dan Pengembangan Karir Terhadap Turnover Perawat di Instalasi Rawat Inap RSUP Fatmawati Tahun 2017. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Kompensasi dan Pengembangan Karir Terhadap Turnover Perawat di Instalasi Rawat Inap RSUP fatmawati Tahun 2017. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional dan data diperoleh dari hasil wawancara dan kuisioner menggunakan skala linkert. Populasi penelitian ini adalah seluruh perawat rawat inap RSUP Fatmawati Tahun 2017. Sampel yang digunakan sebanyak 82 perawat dengan metode pengambilan sampel simple random sampling. Analisis data yang digunakan Uji Validitas Kuisioner, Uji Reabilitas Kuisioner, Uji korelasi, dan Uji Regresi Linier sederhana dengan dengan menggunakan SPSS 20,0 for windows. Hasil penelitian didapatkan bahwa Kompesasi berpengaruh negatif, kuat, dan signifikan, sebesar 82% terhadap turnover perawat dan pengembangan karir berpengaruh negatif dan lemah, terhadap turnover perawat di Instalasi Rawat Inap RSUP Fatmawati sekitar 18%.
Kata kunci : Kompensasi, Pengembangan Karir, Turnover

This study discusses the Influence of Compensation and Career Development on Turnover Nurse in Inpatient Installation RSUP Fatmawati Year 2017. The purpose of this study is to determine the Effect of Compensation and Career Development on Turnover Nurse in Inpatient Installation RSUP fatmawati Year 2017. This research is a quantitative research with cross sectional approach and data obtained from interviews and questionnaires using linkert scale. The population of this research is all nurses of Inpatient Hospital of Fatmawati Year 2017. The sample used is 82 nurses with simple random sampling method. Data analysis used Test Questionnaire Validity, Test Questionnaire Reaction, Correlation Test, and Linear Regression Test simple by using SPSS 20,0 for windows. The result of the research shows that Compensation has negative, strong, and significant effect, 82% toward nurse turnover and career development have negative and weak effect on nurse turnover at RSUP Fatmawati hospital about 18%.
Keywords : Compensation, Career Development, Turnover
Read More
S-9627
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive