Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 22559 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ingrid Masitoh; Pembimbing : Tris Eryando; Penguji : Besral, Enizarti, Inda Torisia Hatang
Abstrak:

ABSTRAK Nama :  Ingrid Masithoh Program Studi :  Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul :  Retensi Dokter dan Dokter Gigi Pegawai Tidak Tetap Ketersediaan tenaga kesehatan yang berkesinambungan sangat vital dalam mendukung pemberian layanan kesehatan yang berkesinambungan pula. Di daerah yang kekurangan tenaga kesehatan, mengoptimalkan retensi menjadi sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran retensi dokter dan dokter gigi Pegawai Tidak Tetap di daerah terpencil dan sangat terpencil serta faktor yang mempengaruhi retensi. Penelitian ini menggunakan desain cohort retrospective dengan analisis survival dan cox regresi. Sampel penelitian 10.361 dokter dan 3.496 dokter gigi yang berasal dari data pengangkatan Pegawai Tidak Tetap tahun 2008 – 2015 milik Biro Kepegawaian Kementerian Kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama masa penugasan minimum yang diwajibkan kepada dokter/dokter gigi PTT maka semakin banyak faktor yang mempengaruhi retensinya. Seiring peningkatan minimal masa tugas, pada 2 tahun pertama retensinya semakin meningkat, akan tetapi PTT yang berhenti sesudah penugasan pertamanyapun semakin meningkat. Tidak terdapat perbedaan retensi antar jenis kelamin, dan fasilitas kesehatan dengan kriteria sangat terpencil memiliki retensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang terpencil. Kata kunci : retensi PTT, faktor retensi, dokter/dokter gigi PTT


ABSTRACT Name :  Ingrid Masithoh Program :  Public Health Study Title :  Retention of Doctors and Dentists in Non-Permanent Personnel :  Appointment Program The availability of sustainable health workers is vital in supporting the delivery of sustainable health services as well. In areas that are short of health personnel, optimizing retention is critical. This study aims to determine the retention of doctors and dentists in Non-Permanent Personnel Appointment Program in remote and rural areas, and factors that affect their retention. This study used a retrospective cohort design with survival and cox regression analysis. The sample was 10,361 doctors and 3,496 dentists in Non-Permanent Personnel Appointment Program, from 2008 until 2015 that belong to the Bureau of Personnel Ministry of Health. The results showed that the longer the required minimum assignment period to the doctor / dentist, the more factors will affect the retention, and the longer minimum assignment the retention increase until the first 2 years,  There is no difference in retention between the types of  marital status. Doctors/dentists who are assigned to very remote criteria have higher retention than in remote criteria. Keywords : retention of Non-Permanent Personnel Appointment Program, retention factors, doctors/dentists of Non-Permanent Personnel Appointment Program

Read More
T-5110
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jessie Andrean; Pembimbing: Martya Rahmaniati M.; Penguji: Rico Kurniawan, Verry Adrian, Jhonson Hotsar
Abstrak:
Amanat Undang – Undang dan Peraturan Menteri Kesehatan telah mewajibkan dokumentasi data dan informasi pelayanan kesehatan beralih ke metode digital. Untuk itu praktik mandiri dokter dan dokter gigi diminta mengalihkan penyelenggaraan rekam medis dari manual menjadi elektronik. Pembinaan dan pengawasan terhadap praktik mandiri dokter dan dokter gigi tersebut mengalami beberapa kendala. Untuk mengatasi kendala tersebut maka dirancang sistem informasi untuk praktik mandiri dokter dan dokter gigi yang menggabungkan fungsi penyelenggaraan rekam medis elektronik dengan pembinaan dan pengawasannya. Identifikasi kebutuhan terhadap sistem informasi diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. Sistem informasi dikembangkan dengan metode System Development Life Cycle dengan pendekatan prototipe. Pengujian terhadap prototipe dilakukan dengan metode blackbox. Umpan balik terhadap prototipe dilakukan dengan wawancara mendalam. Penelitian ini menghasilkan prototipe sistem informasi untuk praktik mandiri dokter dan dokter gigi. Sistem dapat diakses 5 level pengguna yaitu Dinas Kesehatan Provinsi, Suku Dinas Kesehatan Kota, Puskesmas Kecamatan, Praktik Mandiri Dokter atau Dokter Gigi, dan Admin. Sistem informasi dapat memfasilitasi penyelenggaraan rekam medis elektronik, pencatatan dan pelaporan pelayanan kesehatan, serta diseminasi data dan informasi. Melalui sistem informasi ini praktik mandiri dokter dan dokter gigi dapat mendokumentasikan pelayanan kesehatan secara digital serta dapat membantu pemerintah melaksanakan kegiatan pembinaan dan pengawasan.

The mandate of the Laws and Regulations of the Minister of Health has made it mandatory for the documentation of data and information on health services to switch to digital methods. For this reason, the private practice of doctors and dentists is required to shift the administration of medical records from manual to electronic. Guidance and supervision of the independent practice of doctors and dentists encountered several obstacles. To overcome these obstacles, an information system was designed for the private practice of doctors and dentists that combines the functions of administering electronic medical records with their guidance and supervision. Identification of the need for information systems is obtained through in-depth interviews, observation, and document review. The information system was developed using the System Development Life Cycle method with a prototype approach. Testing of the prototype was carried out using the blackbox method. Feedback on the prototype is done by in-depth interviews. This research produces a prototype of an information system for private practice of doctors and dentists. The system can be accessed by 5 levels of users, namely the Provincial Health Office, City Health Office, District Health Center, Private Doctor or Dentist Practice, and Admin. Information systems can facilitate the implementation of electronic medical records, recording and reporting of health services, as well as dissemination of data and information. Through this information system private practice of doctors and dentists can digitally document health services and can help the government carry out guidance and supervision activities.
Read More
T-6679
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Manendra Muhtar; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Besral, Ella Nurlaella Hadi, Melissa Adiatman, Mita Juliawati
Abstrak: Latar Belakang: Perawatan gigi dan mulut memiliki risiko tinggi untuk terjadi penularan COVID-19, maka sangatlah penting untuk dokter gigi melaksanakan perawatan dengan protokol pencegahan transmisi COVID-19 yang ketat. Pada penelitian ini dilakukan analisis kesiapan dokter-dokter gigi di Indonesia terhadap upaya pencegahan transmisi COVID-19, yang belum banyak diteliti di Indonesia. Dilakukan juga analisis kesiapan dengan faktorfaktor yang dapat memiliki asosiasi dengan kesiapan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross- sectional). Pengambilan data dilakukan dengan kuesioner secara daring. Total diperoleh 520 sampel, dengan sampel berupa dokter gigi yang masih aktif berpraktik dengan minimal gelar dokter gigi. Pada awal kuesioner, ditanyakan pertanyaan awal mengenai karakteristik responden. Selanjutnya, responden diberikan 21 pertanyaan mengenai persepsi mereka terhadap upaya pencegahan transmisi COVID-19, dan 18 pertanyaan mengenai kesiapan/ rutinitas melaksanakan tindakan-tindakan pencegahan transmisi COVID-19 pada tempat praktik mereka. Hasil: Analisis multivariat dengan regresi logistik menunjukkan bahwa variabel yang memiliki asosiasi signifikan dengan kesiapan setelah dikontrol variabel lain adalah persepsi (adjusted odds ratio: 22,1, 95% CI: 2,9- 171,8), usia (adjusted odds ratio 0,3, 95% CI: 0,1-0,8), dan lokasi praktik (adjusted odds ratio 2,9, 95% CI: 1,5-5,6). Kesimpulan: Pelatihan dan edukasi dari organisasi profesi dokter gigi untuk meningkatkan kesiapan dokter gigi terhadap berbagai upaya pencegahan transmisi COVID-19 perlu diberikan. Selain pelatihan, berbagai stakeholder juga perlu bekerjasama untuk menangani segala keterbatasan sumber daya yang diperlukan untuk pencegahan COVID-19
Read More
T-6173
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amri Hidayat; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo; Penguji: Besral, Ayu Nurul Chotimah
S-8390
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Firil Kusuma Ardiati; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Ari Wulan Sari
T-4362
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anton Suryatma; Pembimbing: Besral, Martgya Rahmaniati Makful; Penguji: R. Sutiawan. Harimat Hendrawan, Rini Rachmawati
Abstrak: Pendahuluan. Indonesia menerapkan program internship dokter Indonesia sejak tahun 2010 dengan tujuan pemahiran kompetensi dokter umum yang baru lulus. Salah satu permasalahan dalam program internship adalah kelayakan wahana. Penelitian ini ingin mengetahui pengaruh kelayakan wahana terhadap kompetensi dokter Indonesia. Metode. Penelitian ini merupakan analisis lanjut dari data penelitian Assesmen Program Internship Dokter Indonesia 2015 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dengan menggunakan desain potong lintang. Data diambil dari peserta internship dan data wahana yang berada di 9 Kabupaten yang terpilih berdasarkan metode sampling proportional probability to size (PPS). Analisis yang digunakan adalah analisis jalur dimana ingin dilihat pengaruh langsung maupun tidak langsung dari wahana terhadap peningkatan kompetensi yang terdiri dari pengetahuan upaya kesehatan masyarakat, upaya kesehatan perorangan, kemampuan diagnosa dan kemampuan tindakan dokter internship. Hasil. Dari 9 kabupaten tersebut, wahana terbagi menjadi empat kategori yaitu: rs tidak layak pkm tidak layak (3 wahana), rs tidak layak pkm layak (1 wahana), rs layak pkm tidak layak (2 wahana) dan rs layak pkm layak (3 wahana). Untuk pengaruh wahana terhadap pengetahuan upaya kesehatan masyarakat secara statistik bernilai signifikan dengan kategori wahana yang memiliki puskesmas layak menghasilkan peningkatan nilai ukm lebih baik dibandingkan kategori lainnya. Untuk pengaruh wahana terhadap pengetahuan upaya kesehatan perorangan, diagnosa dan tindakan secara statistik tidak bernilai signifikan. Kesimpulan. Tempat penempatan / wahana merupakan salah satu komponen penting dalam program internship dokter indonesia, hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan kompetensi pengetahuan dan tindakan pada peserta internship di masing-masing kategori wahana. Peningkatan pengetahuan upaya kesehatan masyarakat karena pengaruh wahana lebih besar terjadi pada wahana dengan kategori puskesmas layak, sedangkan peningkatan pengetahuan upaya kesehatan perorangan karena pengaruh wahana hampir merata pada semua kategori wahana. Untuk peningkatan kemampuan diagnosa karena pengaruh wahana dapat dilihat dari jalur langsung ataupun jalur tidak langsung melalui pengaruh pengetahuan upaya kesehatan perorangan dan walaupun tidak signifikan secara statistik, peningkatannya juga terjadi pada seluruh wahana. Dan peningkatan kemampuan tindakan karena pengatuh wahana dapat dilihat dari jalur langsung ataupun jalur tidak langsung melalui pengaruh pengetahuan upaya perorangan dan jalur tidak langsung melalui pengaruh kemampuan diagnosa. Kata kunci: Analisis jalur, kompetensi, internship, wahana Introduction. Indonesian medical internship program has been adopted in Indonesia since 2010 with aim to exercise medical competency of the newly graduated general practitioner. One of the critical problems in internship program is the feasibility of medical internship training facilities. Thus, this study was to reveal the influence of medical internship training facilities feasibility on Indonesian doctor competency. Method. This study was a further analysis of research data Asesmen Program Internship Dokter Indonesia 2015 previously done by National Institute of Health Research Development Indonesian Ministry of Health using cross sectional study design. The data was taken from internship participants and training facilities in 9 chosen districts based on sampling method proportional probability to size (PPS). Analysis was using pathway analysis to see both direct and indirect influence of training facilities on competence improvement, consisted of public health knowledge, personal health care, diagnosis and intervention skills. Results. Of all 9 districts, training facilities were divided into 4 categories: improper hospital- improper public health center (3 facilities), improper hospitalproper public health center (1 facility), proper hospital-improper public health center (2 facilities), and proper hospital-proper public health center (3 facilities). The influence of training facility on intern knowledge showed significant results, in which facilities with proper public health center improved public health knowledge score better than other categories. On the other hand, the influence of training facility on personal health care, diagnosis, and intervention skills was not significant. Conclusion. Training facility is one of important components in Indonesian medical internship program, as it was proven by improvement of intern knowledge and intervention skills in each training facility categories. Improvement of public health knowledge contributed by training facility is higher in facilities with proper public health center, while improvement of personal health care knowledge is similar in almost all facilities. Improvement of diagnosis skill contributed by training facility can be seen in both direct and indirect pathways through increased personal health care knowledge, despite statistically not significant, improvement was found in all facilities. Improvement of intervention skill contributed by training facility can be seen in both direct and indirect pathways through increased personal health care knowledge and in indirect pathway through increased diagnosis skill. Key words: Pathway analysis, Competency, Internship, Training Facility
Read More
T-5043
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yeni; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Agustin Kusumayati, Ratna Djuwita, Wenita Indra Sari, Fatcha Nuraliyah
T-3867
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fanesya Nuur Haniifah; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Besral; Sudibyo Alimoeso
Abstrak: Indonesia merupakan negara berkembang dengan proporsi kehamilan tidak diinginkan memiliki persentase yang cenderung sama dari hasil SDKI 2002-2003 hingga 2017 yaitu berada di sekitar angka 7%. Budaya patriarki yang ada dalam kebudayaan Indonesia membuat perempuan sulit untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan terutama dalam bidang kesehatan reproduksi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan otonomi reproduksi perempuan dengan kehamilan tidak diharapkan. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang berasal dari Survei Kesehatan Reproduksi Perempuan di Jawa 2018 yang menggunakan desain crosssectional.Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 3.510 wanita usia subur 15-49 tahun yang pernah melahirkan anak terakhir dan sedang hamil saat survei dilakukan. Analisis data yang digunakan adalah regresi logistic multinomial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengambilan keputusan terhadap penggunaan kontrasepsi dan kemampuan komunikasi berhubungan dengan kehamilan tidak diharapkan setelah dikontrol dengan confounder.
Read More
S-10942
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wijayanti; Pembimbing: Besral; Penguji: R. Sutiawan, Andreas Dwi Atmoko
Abstrak: Pada tahun 2012 penyakit gigi dan mulut menempati urutan empat besar penyakit utama di Kota Bogor , dalam proses pencatatan dan pelaporan program kesehatan gigi dan mulut Puskesmas Kota Bogor terdapat beberapa permasalahan yaitu keterlambatan saat melaporkan ke Dinas Kesehatan dikarenakan banyaknya penyalinan data, isi laporan masih ada tidak sesuai format laporan dan tidak memiliki basis data. Aplikasi SIKDA Generik menyediakan basis data dan pencatatan terintegrasi antar unit sehingga memudahkan pencatatan dan pelaporan di Puskesmas, namun masih belum tersedia indikator pelaporan program kesehatan gigi dan mulut, sehingga diperlukan pengembangan modul sistem informasi kesehatan gigi dan mulut pada aplikasi SIKDA Generik . Telah dihasilkan modul sistem informasi kesehatan gigi dan mulut pada aplikasi SIKDA Generik berbasis komputer yang dapat mempermudah dalam pencatatan dan pelaporan program kesehatan gigi dan terintegrasi antar pelayanan tanpa terjadi data yang duplikasi, tidak valid, dan keterlambatan pelaporan . Sistem informasi kesehatan gigi dan mulut pada Aplikasi SIKDA Generik masih diperlukan perbaikan dalam penerapannya sehingga membutuhkan kerjasama antar pihak yaitu Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan dan Puskemas dalam penerapan aplikasi tersebut.
Read More
S-8310
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eri Nasution; Pembimbing: Meiwita P. Budiharsana; Penguji: Besral, R. Setiawan, Ria Maria Theresa, Fatcha Nuraliyah
Abstrak: Saat ini transmisi seksual merupakan faktor utama penyebaran penyakitHIV-AIDS di Indonesia. Wanita Pekerja Seks (WPS) merupakan bagian yangberkontribusi didalamnya. Wanita Pekerja Seks Langsung adalah wanita yangmemberikan layanan seksual yang tujuan utama transaksinya mempertukarkanpelayanan seksual dengan uang. Wanita Pekerja Seks Tidak Langsung adalahwanita yang memberikan layanan seksual tapi bukan merupakan sumber utamapendapatan, pelayanan yang diberikan dapat memberikan penghasilan tambahan.Program promosi pemakaian kondom pada hubungan seksual berisiko telahdilakukan oleh pemerintah untuk memutus mata rantai penularan. Namun hinggasaat ini konsistensi pemakaian kondom pada WPS masih rendah.Penelitian ini menggunakan data hasil Survey Terpadu Biologi danPerilaku (STBP) 2013 dengan memilih 2714 responden yang memenuhi kriteriainklusi dan eksklusi. Tujuan penelitian ini untuk membandingkan karakteristik,perilaku pemakaian kondom dan mengetahui faktor-faktor yang berhubungandengan pemakaian kondom. Penelitian menggunakan desain cross sectional.Hasil penelitian ditemukan bahwa konsistensi pemakaian kondom pada WPSL37,7% dan WPSTL sebesar 35.6%, konsistensi untuk semua WPS sebesar 36.9%.WPSL cenderung lebih tua, pendidikan lebih rendah, lebih banyak yang berstatuscerai, lebih lama menjadi WPS, lebih dini memulai hubungan seks, lebih banyakmemiliki riwayat IMS, lebih merasa berisiko, lebih terpapar program, lebh banyakyang punya kondom dan jumlah pelanggan yang lebih banyak dibandingkanWPSTL.Faktor yang berhubungan dengan konsistensi pemakaian kondom padaWPSL adalah status perkawinan, riwayat IMS, keterpaparan program, dankepemilikan kondom. Faktor yang berhubungan dengan konsistensi pemakaiankondom pada WPSTL adalah status perkawinan, riwayat IMS, pengetahuan HIV,keterpaparan program, kepemilikan kondom dan jumlah pelanggan.Disarankan untuk meningkatkan upaya promotif dan preventif pada WPSdengan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik WPS.
Kata kunci : Konsistensi, kondom, WPSL, WPSTL.
Read More
T-4558
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive