Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38211 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Wahyu Setianingsih; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Sarikasih Harefa
S-9646
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asmanadia Hidayat; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Sarikasih Harefa
Abstrak: Wanita Pekerja Seksual Langsung (WPSL) merupakan salah satu kelompok populasi kunci yang paling berisiko untuk tertular dan menularkan virus HIV. Prevalensi HIV pada WPSL meningkat pada tahun 2015 dibandingkan dengan tahun 2013. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status HIV pada WPSL di 16 Kabupaten/Kota di Indonesia tahun 2015. Desain penelitian ini adalah Cross Sectional. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Survey Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) tahun 2015. Sampel penelitian ini merupakan Wanita Pekerja Seksual (WPSL) berumur 15 tahun atau lebih yang telah berhubungan seksual komersial dengan paling tidak 1 pelanggan dalam 1 bulan terakhir. Hasil penelitian diperoleh WPSL dengan status HIV (+) sebesar 8,6 %. Variabel yang berhubungan secara statistik yaitu riwayat riwayat penggunaan napza suntik (OR 5,449, 95% CI 1,624 - 18,285) dan riwayat gejala IMS (OR 1,579, 95% CI 1,148 - 2,172). Oleh karena itu, program pencegahan HIV AIDS perlu terus ditingkatkan bagi kelompok wanita pekerja seksual untuk mencegah penularan virus HIV melalui penggunaan jarum suntik dan transmisi seksual. Kata kunci: Wanita Pekerja Seksual Langsung (WPSL), status HIV, faktor risiko
Read More
S-10007
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Candrawati Mutmainah; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah; Penguji: Korib Mondastri Sudaryo, Viny Sutriani
S-8748
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Leonita Agustine; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Renti Mahkota, Helwiah Umniyati, Junita Rosa Tiurma
Abstrak:
HIV masih menjadi masalah kesehatan masyarakat global. Di Indonesia, estimasi jumlah ODHIV mencapai 570.000 pada tahun 2024, dengan proporsi pengobatan ARV sebesar 68% di antara ODHIV yang mengetahui status HIV mereka, sehingga masih jauh dari target global 95-95-95. Lelaki seks dengan lelaki (LSL) merupakan salah satu populasi kunci dengan tren epidemi yang meningkat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan status tidak menjalani pengobatan ARV pada LSL di Indonesia tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang melalui analisis data sekunder Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) 2023. Sampel berjumlah 828 LSL hidup dengan HIV yang telah mengetahui status HIV. Delapan belas variabel independen diidentifikasi berdasarkan kerangka Health Belief Model dan Protection Motivation Theory. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji chi-square, sedangkan analisis multivariat menggunakan Cox regression constant time untuk mengestimasi Prevalence Ratio (PR). Sebanyak 124 responden (14,98%) tidak menjalani pengobatan ARV. Berdasarkan analisis bivariat, 11 variabel memenuhi kriteria sebagai kandidat model multivariat. Tiga variabel signifikan dalam model akhir, yaitu pengetahuan manfaat pengobatan yang kurang (aPR 2,41; 95% CI 1,53–3,81), persepsi diskriminasi terhadap ODHIV (aPR 2,39; 95% CI 1,64–3,50), dan tidak pernah berdiskusi tentang HIV dengan petugas layanan (aPR 2,31; 95% CI 1,52–3,49). Oleh karena itu, intervensi yang menekankan edukasi manfaat ARV, termasuk pesan Undetectable=Untransmittable, penurunan stigma, serta penguatan kapasitas petugas layanan kesehatan perlu diprioritaskan.

HIV remains a global public health problem. In Indonesia, the estimated number of people living with HIV (PLHIV) reached 570,000 in 2024, with antiretroviral treatment (ART) coverage of 68% among PLHIV who knew their HIV status, indicating that the country is still far from achieving the global 95-95-95 targets. Men who have sex with men (MSM) are one of the key populations with an increasing epidemic trend. This study aimed to identify factors associated with not being on ART among MSM in Indonesia in 2023. This study used a cross-sectional design with secondary data analysis from the 2023 Integrated Biological and Behavioral Survey (IBBS). The sample consisted of 828 MSM living with HIV who knew their HIV status. Eighteen independent variables were identified based on the Health Belief Model and Protection Motivation Theory frameworks. Bivariate analysis was conducted using the chi-square test, while multivariable analysis used Cox regression constant time to estimate Prevalence Ratios (PRs). A total of 124 respondents (14.98%) were not receiving ART. Based on the bivariate analysis, 11 variables met the criteria as candidates for the multivariable model. Three variables remained significant in the final model, namely poor knowledge of treatment benefits (aPR 2.41; 95% CI 1.53–3.81), perceived discrimination toward PLHIV (aPR 2.39; 95% CI 1.64–3.50), and never having discussed about HIV with healthcare providers (aPR 2.31; 95% CI 1.52–3.49). Therefore, interventions emphasizing education on the benefits of ART, including the Undetectable=Untransmittable message, stigma reduction, and strengthening the capacity of healthcare providers should be prioritized.
Read More
T-7609
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurhalina; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Mondastri K. Sudaryo; Hellen Dewi Prameswari
T-3603
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asih Hartanti; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Yovsyah
Abstrak:

Prevalensi Sifilis menurut data STBP Kemenkes Tahun 2011 pada 7 populasi kunci adalah sebesar 6% dimana prevalensi Sifilis tertinggi ditemukan pada Transgender Waria (25%) kemudian diikuti WPSL (10%), LSL (9%), WBP (5%), Pria Potensial Risti (4%), WPSTL (3%) dan Penasun (2%). Sifilis pada Transgender Waria meningkat 1% dari 27% pada STBP 2007 menjadi 28% pada STBP 2011 di kota yang sama. Faktor- faktor yang diduga berhubungan dengan infeksi Sifilis pada Transgender Waria antara lain : Umur, Tingkat Pendidikan, Penggunaan kondom, Penggunaan Napza Suntik, Penggunaan Hormon Suntik Silikon, Status HIV, Datang ke Layanan Klinik IMS, Konsumsi Alkohol dan Lama melakukan hubungan Seks Komersial dengan mendapat imbalan. Tujuan : Mengetahui hubungan faktor ?faktor terhadap infeksi Sifilis pada Transgender Waria. Desain studi Cross Sectional dengan sampel sebanyak 1.089 Waria secara acak dan berasal dari 5 kota besar di Indonesia melalui metode wawancara, Diagnosis Laboratorium Sifilis dilakukan dengan TPHA dan RPR. Hasil : Prevalensi Sifilis pada Transgender Waria di 5 Kota sebesar 25,25%, Faktor yang berhubungan signifikan adalah Status HIV(p=0,000), PR =2,28 (95% CI 1,78-2,92) kemudian Umur >31 tahun (p=0,000) ,PR= 1,76 (95% CI 1,36- 2,28) dan Penggunaan Hormon Suntik Silikon (p=0,012) PR=1,37 (95% CI 1,07-1,76), Tingkat pendidikan, Lamanya melakukan hubungan seks komersial dengan imbalan, Penggunaan Kondom, Konsumsi Napza Suntik, Konsumsi Alkohol dan Akses ke Layanan IMS tidak berhubungan. Kesimpulan : Faktor biologis Status HIV memiliki hubungan yang kuat PR =2,28 (95% CI 1,78-2,92)dengan Kejadian Sifilis pada Kelompok Transgender Waria di 5 Kota besar di Indonesia.


 The prevalence of syphilis according to MOH- IBBS 2007 was found at 6% in the High Risk Population. Highest prevalence was found in Transvestite (25%) followed by Direct Female Sex Worker (10%), MSM (9%), PLT (5%), High Risk Men's (4%), Non Direct Female Sex Worker (3%) and IDU (2%). Syphilis Prevalens among Transvestite increased 1% from 27% to 28 % (2007 to 2011 in the same city). Factors associated with syphilis infection in Transvestite are Age, level of Education, Condom use, Drug Injection use, Use of Silicon Injections, HIV Status, Access to STI Service Clinic, Alcohol consumption and The duration of engaging in commercial sex. Purpose: Knowing associated factors of syphilis infection on Transvestite. Design Cross sectional study with a sample of 1089 randomly Transvestite and derived from the 5 major cities in Indonesia through the interview method and Laboratory diagnosis of syphilis is performed by TPHA and RPR. Results: The prevalence of syphilis in Transvestite in 5 Cities is 25.25% and significant factors related are HIV status (p = 0.000), PR =2,28 (95% CI 1,78-2,92), Age > 31 years (p=0,000) ,PR= 1,76 (95% CI 1,36-2,28), Use of Silicon Injection Hormone p=0,012) PR=1,37 (95% CI 1,07-1,76), Low educational level, The duration of engaging in commercial sex, Condom Use, Drug Injection, Alcohol consumption and Access to STI Service Clinic are not significant related. Conclusion: HIV Status as a biological factors have a strong relation with Syphilis incidence in Transvestite group population within 5 major cities in Indonesia PR =2,28 (95% CI 1,78-2,92).

Read More
T-3680
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nasya Shafira; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Renti Mahkota, Hidayat Nuh Ghazali Djadjuli, Helwiah Umniyati
Abstrak:
Latar Belakang: Kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) merupakan salah satu populasi kunci dengan risiko tinggi terhadap infeksi HIV. Proporsi kasus HIV pada kelompok LSL meningkat dari 25% pada tahun 2023 menjadi 30% pada tahun 2024 di Kota Depok. Identifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian HIV perlu dilakukan sebagai dasar penyusunan program pencegahan yang tepat sasaran. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan memanfaatkan data sekunder Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) tahun 2023. Sampel penelitian terdiri dari 351 LSL di Kota Depok yang dipilih menggunakan metode Respondent-Driven Sampling (RDS). Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-square, serta multivariat menggunakan regresi Cox constant-time untuk memperoleh adjusted Prevalence Ratio (aPR). Hasil: Prevalensi HIV pada LSL di Kota Depok sebesar 16,3%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menghindari pelayanan kesehatan karena stigma/diskriminasi (45,2%), riwayat dibentak (38,1%), riwayat suspek TB (36,8%), riwayat diancam (37,5%), tidak terbiasa membawa kondom (22,9%),  seks dengan pasangan pria tidak tetap (22,6%), pendidikan perguruan tinggi (23,7%), tidak menggunakan kondom (20,1%), dan berkumpul di gym/sauna (19,0%) berhubungan dengan kejadian HIV. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa menghindari pelayanan kesehatan karena stigma/diskriminasi (aPR=3,40; 95% CI:1,85–6,25), seks dengan pasangan pria tidak tetap (aPR=2,10; 95% CI:1,16–3,67), tidak menggunakan kondom (aPR=2,25; 95% CI:1,15–4,42), pendidikan perguruan tinggi (aPR=1,88; 95% CI:1,07–3,31) dan riwayat sirkumsisi (aPR=1,27; 95% CI:0,46 – 3,60) merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian HIV. Kesimpulan: Faktor perilaku seksual dan stigma-diskriminasi berperan penting dalam kejadian HIV pada kelompok LSL di Kota Depok. Upaya pencegahan HIV perlu difokuskan pada pengurangan stigma dan diskriminasi, peningkatan akses layanan kesehatan yang ramah LSL, serta promosi perilaku seksual yang lebih aman.

Background: Men who have sex with men (MSM) are one of the key populations at high risk of HIV infection. In Depok City, the proportion of HIV cases among MSM increased from 25% in 2023 to 30% in 2024. Identifying factors associated with HIV infection is essential to provide evidence for developing targeted HIV prevention programs. Methods: This cross-sectional study utilized secondary data from the 2023 Integrated Biological and Behavioural Survey (IBBS). A total of 351 MSM in Depok City were included using Respondent-Driven Sampling (RDS). Data were analysed using univariate analysis, bivariate analysis with the Chi-square test, and multivariable analysis using constant-time Cox regression to estimate adjusted prevalence ratios (aPR). Results: The prevalence of HIV among MSM in Depok City was 16.3%. Bivariate analysis showed that avoiding healthcare services due to stigma/discrimination (45.2%), a history of being verbally abused (38.1%), a history of suspected tuberculosis (36.8%), a history of being threatened (37.5%), not routinely carrying condoms (22.9%), having sex with non-regular male partners (22.6%), having a university education (23.7%), not using condoms (20.1%), and gathering at gyms/saunas (19.0%) were associated with HIV infection. Multivariable analysis demonstrated that avoiding healthcare services due to stigma/discrimination (aPR = 3.40; 95% CI: 1.85–6.25), having sex with non-regular male partners (aPR = 2.10; 95% CI: 1.16–3.67), not using condoms (aPR = 2.25; 95% CI: 1.15–4.42), having a university education (aPR = 1.88; 95% CI: 1.07–3.31), and circumcision status (aPR = 1.27; 95% CI: 0.46–3.60) were the dominant factors associated with HIV infection. Conclusions: Sexual risk behaviors and stigma-related discrimination play important roles in HIV infection among MSM in Depok City. HIV prevention efforts should prioritize reducing stigma and discrimination, improving access to MSM-friendly healthcare services, and promoting safer sexual behaviors.
Read More
T-7658
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meili Yana; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Tri Yunis Miko, Fatcha Nuraliyah
Abstrak: Perilaku lelaki berhubungan seks tidak aman dengan lelaki merupakan perilaku yang cenderung tertutup dan sulit ditemui di populasi umum, dengan jumlah kaum LSL yang semakin meningkat dan prevalensi HIV dan IMS masihtinggi di kalangan LSL, penelitian terkait HIV pada LSL masih belum banyak ditemui di Indonesia, serta kejadian HIV yang merupakan salah satu masalah kesehatan yang timbul dengan berbagai faktor.Desain penelitian ini adalah potong lintang, dengan menggunakan data sekunder Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) pada kelompok Lelaki suka Seks dengan Lelaki (LSL) di Indonesia Tahun 2011, Variabeldependen adalah kejadian HIV (+) dan variabel independennya meliputi karakteristik demografi (umur, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan), pengetahuan mengenai HIV-AIDS, perilaku (perilaku seksual dengan pasangan seks tetap, konsumsi napza, merasa berisiko tertular, riwayat mengalami gejala IMS), dan layanan klinik VCT. Analisis data yang dilakukan adalah analisisunivariat dan analisis bivariat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi LSL yang mengalami statusHIV(+) sebesar 8,5%, rata-rata umur LSL yaitu 29 tahun, sebagian besar LSL berpendidikan SMU/sederajat sebesar 52%, sebagian besar bekerja sebagaikaryawan sebesar 32,4%, dengan status belum kawin sebesar 77,5%. ProporsiLSL yang memiliki pasangan tetap sebesar 56,3%. Sebagian besar LSL tidakmengkonsumsi napza sebesar 89,6%, merasa berisiko tertular 64,5% dan sebesar30,7% LSL pernah mengalami gejala IMS, serta sebagian besar reponden tidak dirujuk ke layanan VCT sebesar 77,2%.Faktor-faktor yang ada hubungan bermakna dengan kejadian HIV (+) pada LSL adalah tingkat pendidikan, status belum kawin dibandingkan dengan status kawin, bekerja disalon/panti pijat yang dibandingkan karyawan, merasa berisikotertular, dan layanan klinik VCT.
Kata Kunci : STBP, Lelaki suka Seks dengan Lelaki, HIV-AIDS
Read More
S-8105
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salma Noor Azzahra; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Suparmi
Abstrak:
Dilaporkan terdapat 38,4 juta orang yang hidup dengan HIV pada tahun 2021 dan terdapat sebanyak 58 juta kasus kasus kronis Hepatitis C pada tahun 2019. Pengguna NAPZA suntik merupakan populasi yang paling rentan untuk terinfeksi kedua virus ini akibat jalur transmisi kedua virus ini yang sangat besar melalui jarum suntik tidak steril. Kedua penyakit ini dapat terjadi secara bersamaan yang menyebabkan percepatan progres keduanya menjadi kronis. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian koinfeksi HIV/HCV untuk mencegah penyebaran yang lebih lanjut dengan melakukan analisis bivariat dengan menggunakan chi-square dan melihat crude prevalence rate. Studi cross-sectional dari data STBP 2018-2019 di tujuh kabupaten/kota Jawa Barat populasi Penasun dilakukan dan didapatkan bahwa positivity rate koinfeksi HIV/HCV pada Penasun mencapai sebesar 9%. Ditemukan bahwa terdapat hubungan antara usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status perkawninan, riwayat dipenjara, usia pertama kali menggunakan NAPZA suntik, lama menggunakan NAPZA suntik, pernah menggunakan alat suntik tidak steril, usia pertama kali berhubungan seksual, hubungan seksual satu tahun terakhir, penggunaan kondom dengan pasangan tetap, pengetahuan komprehensif HIV, akses LASS, dan akses PTRM dengan kejadian koinfeksi HIV/HCV. Dari hasil tersebut diperlukan intervensi yang tepat untuk mencegah dan menanggulangi tingginya kejadian koinfeksi HIV/HCV pada Penasun.

There are 38.4 million people reported living with HIV in 2021 and there are as many as 58 million cases of chronic hepatitis C cases in 2019. Injecting drug users are the most vulnerable population to be infected with these two viruses due to the transmission routes of these two viruses via unsterile needles. These two diseases can occur simultaneously which causes the accelerated progress of both infections to become chronic. This study aims to look at the factors associated with the incidence of HIV/HCV coinfection to prevent further spread by conducting bivariate analysis using chi-square and looking at the crude prevalence rate. A cross-sectional study of 2018-2019 IBBS data in seven districts/cities of West Java of the IDU population was conducted and it was found that the positivity rate of HIV/HCV coinfection in IDU reached 9%. It was found that there was a relationship between age, gender, education level, marital status, history of imprisonment, age at first injecting drug use, duration of injecting drug use, ever using unsterile injecting equipment, age at first sexual intercourse, sexual intercourse in the past year, use of condoms with regular partners, comprehensive knowledge of HIV, access to sterile syringe service, and access to methadone treatment, with HIV/HCV coinfection. From these results, appropriate interventions are needed to prevent and overcome the high incidence of HIV/HCV co-infection among IDU.
Read More
S-11342
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erlika Wati Murliani; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Krisnawati Bantas, Trijoko Yudopuspito
T-4046
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive