Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 28573 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rifki Yusup; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji: Mardiati Nadjib, Sandi Iljanto, Mohammad Ali Toha, Wisnu Sri Nurwening
Abstrak: Keterlekatan dokter terhadap rumah sakit memililiki peran penting dalam upayameningkatkan pelayanan kesehatan terhadap pasien. Keterlekatan dokter yang tinggiakan meningkatkan peluang rumah sakit untuk maju dan berkembang. Penelitian inibertujuan untuk mengukur keterlekatan dokter, menganalisis hubungan status kemitraandan waktu tempuh terhadap keterlekatan dokter, serta mendapatkan gambaranmengenai faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini merupakan penelitiankuantitatif dan kualitatif, metode kuantitatif menggunakan kuesioner yang bertujuanmengukur tingkat keterlekatan dengan mengadopsi instrumen keterlekatan dari UWES(Ultrecht Work Engagement Scale) dan metode kualitatif dengan melakukan depthinterview untuk mendapatkan gambaran persepsi dokter mengenai faktor-faktor yangmempengaruhi keterlekatan dokter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah dokteryang memiliki keterlekatan tinggi hanya 19.1 % persen, dan memiliki keterlekatanlemah 80.9 % persen. Tidak ada hubungan secara statistik antara pola kemitraanmaupun waktu tempuh terhadap keterlekatan. Sebagian besar dokter mempunyaipersepsi positif terhadap fasilitas pelayanan, staf pendukung, serta nilai kompensasi, danmemiliki persepsi negatif terhadap dukungan pengembangan keilmuan, keterlambatanpembayaran jasa medis dan kepemimpinan manajer pelayanan yang dapatmempengaruhi tingkat keterlekatan.Kata kunci: Engagement, Employee Engagement, Keterlekatan Dokter.
Read More
B-1980
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lydia Indrayati; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Mieke Savitri, Sandi Iljanto, Pudji Tri Astuti
Abstrak:

ABSTRAK Kumpelisi telah menyehubkan banyak perubuhan-pcrubahan internal rumah sakit dalam memberikan Iayanan kesehatan bagi masyarakat. Secara khusus hubungan antara rumah snkil dam doklcr. Duktcr mcrupukan kelompok profcsi yang memegang kontrol dominan lcrhadap pcnggunaan sumber daya yang ada di rumah Sakit sehingga diperlukan suatu upaya untuk mendukung seorang dokter agar menyukai pekenjaannya dan loyal tcrhadap rumah sakit. Salah satu talftor antcscden perilaku menarik diri pada profesi dokter adalah faktor-ihktor yang berkaitan dengan kcbijakan rumah sakit yang bcrdampak pada otonomi dokter dan personal time, hubungan dengan pasien, masalah- masalah pclayanan pasicn, hubungan kcrja dengan lemun sejawat, lnubungan ke.ja dengan staf, hubungan dengan komunitas, kompensasi, dukungan administrasi, dan sumber daya. Pcriiaku mcnarik diri yang ciilakukan pada rumah sakit X di Bogor terhadap 53 dokter dilakukan menggunakan analisa univariat, bivariat. dan multivariat iengan variabel bebas yang mempengaruhi yaitu kepuasan dokter (posisi/peran dan otonomi), kompcnsasi (tarif dan sharing), jadua! kaxja, dan kondisi lingkungan kerja (hubungan kerja dan sumber daya rumah sakit). Status kcpegawaian dokter juga menxpakan faktor yang dapat mempengaruhi perilaku menarik diri. Hampir sepanuh doxter di rumah sakit ?X? berperilaku menarik diri dengun Ihktor-|`aktor yang mcmpunyai hubungan yang signiiikan, yaitu taktor kompensasi, jadwal kenja dan kondisi lingkungan kerja. Sedangkan faktor kepuasan terhadap pcran & otonomi Serta faktor status kepegawaian tidak mempunyai hubungan yang signifikan. Setelah dilakukan pemodelan, maka diketahui faktor anteseden yang bexpcran dalam terjadinya perilaku menarik diri adalah faklor jadwal bekeria dan faktor kondisi lingkungan kcrja. Dengun ricmikian untuk mcngantisipasi kejadian penlaku menarik diri yang terjadi di kalangan dokter, rumah sakit perlu mengkaji ulang kebijakamkebijakan rumah sakit yang bcrdampak tcrhadap kcjadian perilaku Iersebut.


ABSTRACT High competition has lead hospital into many intemal changes in order to give maximum satisfaction to the community. One of them is the transformation of relationship between hospital and physicians. Physicians can be described as group of profession who has essential function in hospital in terms that they have power to pursue success for hospital. So then it is crucial to put many efforts to create circumstances in which pacify them and to be loyal. The antecedent tactors for physician?s withdrawal behavior are hospital`s policies that give impacts to physician?s autonomy and personal time. rclauionship with patients, relationship with colleagues, compensation. administrative support. and hospital`s resources. - This research describes the univariance, bivariance and multivariance analysis of fifty-three pi~ysician?s behaviour to withdrawal from their responsibility in named X hospital. The analysis engage the independent variables which are physicians? satisfaction (position and autonomy), compensation (salary and sharing), working schedule and working-envi1'onrner.t condition (relationship among colleagues and staff and hospital resources). In addition, employment status also is an important factor that might cause physicians withdrawal behavior. The result of this analysis states that almost half of total physicians are willing to withdrawal for the majority reasons of compensation, working schedule and working-envirornient condition. Conversely, physician`s satisfaction (position and autonomy) and employment status are not significant for this issue. Furthermore, in variable modelling, it is simply concluded that the antecedent factor for withdrawal behavior are working schedule and working-environment condition. Thus, in order to conquer this substance, X hospital significantly requires policies evaluation regarding those two major factors.

Read More
B-1044
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
D.A.N. Martasari B.; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Adang Bachtiar, I Made Indra Waspada
Abstrak: Inisiasi Menyusu Dini (IMD) merupakan salah satu langkah dalamSepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui dalam program Rumah SakitSayang Ibu dan Bayi (RSSIB). Rumah sakit X telah dikenal sebagai rumah sakityang mendukung program IMD. Ketidakseragaman pelaksanaan IMDpascapersalinan caesar oleh dokter spesialis merupakan hal penting untukditangani oleh manajemen RS X sebagai RSSIB. Didapatkan data bahwakontribusi operasi caesar dalam tidak terlaksananya IMD di RS X terusmeningkat, yaitu dari 58% pada tahun 2010 meningkat menjadi 72% pada tahun2013. Oleh karena itu, analisis perilaku dokter spesialis pada pelaksanaan IMDpascapersalinan caesar perlu dilakukan karena dokter spesialis adalah penentukeputusan pelaksanaan IMD tersebut.Tujuan penelitian kualitatif ini untuk mengetahui faktor internal daneksternal yang mempengaruhi perilaku dokter spesialis pada pelaksanaan IMDpascapersalinan caesar di RS X. Pada penelitian ini digunakan modifikasi theoryof planned behaviour dan teori perilaku Gibson, Informan penelitian berjumlah 18informan yang ditentukan menggunakan prinsip adequacy dan appropriateness.Teknik analisis yang digunakan adalah dengan content analysis. Dari hasilanalisis dengan wawancara mendalam, observasi dan telaah dokumendisimpulkan bahwa norma subjektif dokter spesialis, kepemimpinan manajemendan sumber daya rumah sakit adalah yang paling mempengaruhi perilaku dokterspesialis. Perlu upaya untuk melakukan peninjauan lebih lanjut mengenai StandarProsedur Operasional IMD pascapersalinan caesar agar pelaksanaannya bisaberjalan dengan lebih baik, sehingga berdampak positif bagi kepuasan pasien danjuga kinerja dokter spesialis terkait pelaksanaan IMD ke depannya.Kata kunci : Inisiasi menyusu dini, perilaku, dokter spesialis
Early Initiation of Breastfeeding (EIB) is one step in the Ten Steps toSuccesful Breastfeeding which is form the basis of The Mother-Baby FriendlyHospitals Initiative (MBFI). Hospital X has been known as a hospital thatsupports the EIB program. Variability from the implementation of EIB aftercesarean procedure by specialists is important to be handled by the hospitalmanagement as MBFI. The data obtained that the contribution of caesareanprocedure to the non-performance of EIB in X hospital continues to increase,from 58 % in 2010 increased to 72 % in 2013. Therefore, the analysis of thebehavior of specialists in the implementation of EIB after cesarean procedureneeds to be done because the specialists are the decision makers.The purpose of this qualitative study is to determine the internal andexternal factors that influence the behavior of specialists in the implementation ofEIB after caesarean procedure in X hospital. This study used a modified theory ofplanned behavior and the theory of behavior Gibson. Research informants were 18informants that determined using the principles of adequacy and appropriateness.The analysis technique used is the content analysis. From the analysis with in-depth interviews, observation and document review concluded that the subjectivenorm of specialists, leadership of hospital management and hospital resources areinfluencing the behavior of specialists. Hospital needs an effort to conduct furtherreview of the Standard Operating Procedures of the implementation of EIB, sothat there will be a positive impact on patient satisfaction and also on specialistsperformance related to the implementation of EIB.Keywords : Early initiation of breastfeeding, behaviour, specialists.
Read More
B-1584
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Denok Mustika; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Jaslis Ilyas, Vetty Yulianty Permanasari, Mike Kaltarina, Enny Ekasari
B-1629
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ines Soepinarko Putri; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Pujianto, Ronnie Rivany, Saptono
B-1680
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amelia Rahayu; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Adang Bachtiar, Amal Chalik Sjaaf
Abstrak:
Mutu Pelayanan Kesehatan merupakan standar layanan kesehatan untuk individu dan masyarakat yang dapat meningkatkan luaran kesehatan yang optimal. Indikator Nasional Mutu digunakan sebagai tolak ukur dalam mengukur mutu pelayanan kesehatan. Harapan pasien untuk mendapatkan mutu pelayanan yang baik dapat diberikan oleh dokter yang bertugas ketika melayani pasien yang mampu menerapkan kepemimpinan klinis dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan domain-domain kepemimpinan klinis dokter terhadap mutu layanan kesehatan di rumah sakit. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian dilakukan pada 42 orang dokter umum dan spesialis dengan kuesioner kepemimpinan klinis dokter. Sedangkan mutu layanan kesehatan di Rumah Sakit Izza dilihat pada capaian indikator nasional mutu rumah sakit. Terdapat 5 domain dengan masing-masing 8 dimensi pada kepemimpinan klinis dan 12 indikator nasional mutu yang dianalisis dari 13 total indikator nasional mutu. Pada penelitian ini didapatkan 2 domain kepemimpinan klinis yang berhubungan dengan mutu layanan kesehatan di rumah sakit, yaitu domain kualitas personal dan peningkatan pelayanan. Tiga domain lainnya, yaitu Kerja sama dengan sejawat dan interprofesi, pengelolaan pelayanan, dan penentuan arah pelayanan tidak berhubungan terhadap mutu layanan kesehatan di rumah sakit

Quality of Health Services is a standard of health services for individuals and communities that can improve optimal health outcomes. National quality indicators are used as benchmark in measuring the quality of health services. Patient expectations for good quality of service can be provided by the doctor on duty when serving patients who are able to apply clinical leadership well. This study aims to determine the relationship of physician clinical leadership domains to the quality of health services in hospitals. This study was conducted using a survey method with a quantitative approach. The study was conducted on 42 general practitioners and specialists with a physician clinical leadership questionnaire. While the quality of health services at Izza Hospital is seen in the achievement of national indicators of hospital quality. There are 5 domains with 8 dimensions each in clinical leadership and 12 national quality indicators analyzed from 13 total national quality indicators. In this study, 2 domains of clinical leadership were found to be related to the quality of health services in the hospital, namely the domains of personal quality and service change. The other three domains, namely Collaboration with peers and interprofessionals, managing service, and setting direction are not related to the quality of health services in hospitals.
Read More
B-2367
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Binar Nursanti; Pembimbing: Wahyu Sulistiadi; Penguji: Surya Ede Darmawan, Amal Chalik Sjaaf, Endang Adriyani
B-1339
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Abshar Ridwan Hasyim; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Puput Oktamianti, Djoni Darmadjaja, Amila Megraini
Abstrak: Rumah Sakit ABC Jakarta yang mulai bekerjasama dengan BPJS Kesehatan padaMei 2017, melihat kebutuhan untuk merekrut dokter spesialis full timer untuk menunjangpelayanan spesialistik pada era JKN. Dengan belum siapnya sistem tunjangan yang baikdi Rumah Sakit ABC Jakarta, maka diperlukan adanya suatu rancangan remunerasisebagai sistem tunjangan dokter spesialis di Rumah Sakit ABC Jakarta pada era JKN.Metode penelitian yang digunakan merupakan kombinasi antara penelitiankuantitatif dan kualitatif dengan menggunakan data primer dan sekunder. Data primerdidapat dari wawancara mendalam dan survey, sementara data sekunder diambil dari hasiltelaah dokumen. Penelitian ini menghasilkan rancangan sistem remunerasi untuk dokterspesialis yang diadaptasi dari Keputusan Menteri Kesehatan No. 625/Menkes/SK/V/2010dan Buku Panduan Remunerasi IDI tahun 2016, yang memperhatikan prinsip-prinsipremunerasi serta tiga komponen remunerasi (Pay for Position, Pay for Performance danPay for People).Kata kunci : rancangan remunerasi, remunerasi dokter, remunerasi di era JKN,remunerasi di rumah sakit swasta, prinsip remunerasi, komponenremunerasi.
ABC Hospital Jakarta, which began to have an agreement with BPJS HealthInsurance in May 2017, saw the need to recruit full timer specialists to support specialistservices in the NHC era. With the absence of a good allowance system at ABC HospitalJakarta, it was necessary to have a design on remuneration for medical specialist as anallowance system at ABC Hospital Jakarta in the NHC era.The research method used was a combination of quantitative and qualitative studyusing primary and secondary data. Primary data obtained from in-depth interviews andsurveys, while secondary data was taken from the results of document review. This studyresulted in the design of a remuneration system for specialists adapted from the Ministerof Health Decree No. 625/Menkes/SK/V/2010 and IDI Remuneration Guidebook of2016, which taken into account the principles of remuneration and three components ofremuneration (Pay for Position, Pay for Performance and Pay for People).Keywords : remuneration design, remuneration for doctor, remuneration in NHC era,remuneration in private hospital, principles of remuneration, component ofremuneration.
Read More
B-1961
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anak Agung Ngurah Budiarta; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Purnawan, Junadi, Budi Hartono, Amila Megraini
Abstrak:

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan komitmen diantara dokter spesialis di rumah sakit BaliMed yang sebagian besar adalah pemilik saham,   dalam upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan. Kuantitas ditinjau dari jumlah rujukan dan jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit, sedangkan kualitas ditinjau dari kedisiplinan dokter spesialis dalam menjamin mutu pelayanan melalui ketepatan waktu praktek,  visite dan kelengkapan administrasi dalam pelayanan,   dokter spesialis adalah ujung tombak pelayanan di rumah sakit. Pengaruh peran manajerial yaitu Kepemimpinan,  Kompensasi dan Iklim kerja terhadap komitmen dokter spesialis kemudian dinilai ditinjau dari sudut persepsi dokter spesialis yang melakukan praktek di rumah sakit BaliMed. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif   dengan disain cross sectional. Hasil analisis bivariat memperlihatkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara peran manajerial dengan komitmen dokter spesialis antara lain Kepemimpinan (p=0, 00),      Kompensasi ( p = 0, 00  ) dan Iklim kerja (p= 0, 00 ). Hasil Analisis Multivariat menggunakan analisis regresi linier berganda dengan alpha < 0, 05 menunjukkan bahwa  secara bersama-sama Peran manajerial Kepemimpinan,  Kompensasi dan Iklim kerja berpengaruh secara bermakna terhadap Komitmen Dokter spesialis (p=0, 000). Sedangkan secara terpisah variabel kepemimpinan(0, 990) tidak berpengaruh terhadap komitmen dokter sedangkan faktor kompensasi( p= 0, 024) dan iklim kerja (p=0, 000) mempunyai pengaruh yang bermakna terutama iklim kerja mempunyai pengaruh paling besar terhadap komitmen dokter spesialis. Kata kunci : Peran Manajerial Kepemimpinan,  Kompensasi,  Iklim kerja, Komitmen.


 

This research was performed since there was a diferrence in regards of commitment among consulting doctors especially the specialists in BaliMed Hospital,  whereas most of them are owners of the hospital,  in terms of increasing the quality and quantity of service. Quantity is the volume of patients reffered and hospitalized in the hospital,  while quality is the discipline of the specialists in terms of punctuality of their schedule and the administration completeness. These are very important since specialist is the spearhead of hospital service.The influence of managerial roles,  such as Leadership, Compensation,  and Work Climate to the specialists’ commitments observed from the specialists who practice at BaliMed Hospital. This research is a quantitative with cross sectional design. Bivariate analysis result shows that there is significant correlation between Managerial Role with Commitment of specialists such as Leadership (p=0.00), Compensation (p=0.00),  dan Work Climate (p=0.00). Multivariate analysis result using multiple linear regression analysis with alpha < 0.05 shows that Managerial Role,  Leadership,  Compensation,  dan Work Climate simultaneously have a significant influence to the specialist commitment (p=0.000). In the other hand, leadership variable (p=0.990) solely has no influence with specialist commitment, while compensation (p=0.024 and especially work climate (p=0.000) have a significant influence to the commitment of the specialist. Keyword: managerial role,  leadership,  compensation,  work climate, commitment.

Read More
B-1418
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Emma Aprilia; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Purnawan Junadi, Amal Chalik Sjaaf, Budi Hartono, Amila Megraini
Abstrak:

Dokter adalah tenaga kesehatan yang memiliki peran dan otoritas dalam penulisan resep obat untuk pasien. Proses seleksi dan pemilihan obat seharusnya dilakukan secara rasional dan mengikuti pedoman panduan obat yang ditetapkan oleh World Health Organization. Masih banyak ditemui peresepan obat di luar formularium di Rumah Sakit Risa Sentra Medika, 70 % dari 100% target penggunaan formularium. Penelitian ini bertujuan mengetahui motivasi dokter dalam penulisan resep. Faktor yang mempengaruhi dilihat dari faktor motivasi instrinsik (persepsi, kepentingan, dan aspirasi) faktor ekstrinsik (diagnosis, konsistensi, dan kerjasama), organisasi (kepemimpinan, sosialisasi, supervisi, fee), industri farmasi (promosi dan imbalan), serta implementasi kebijakan. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan desain studi kasus. Data primer diperoleh dari wawancara mendalam dan dilengkapi dengan observasi dan telaah dokumen sebagai bentuk triangulasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa motivasi dokter dalam menuliskan resep dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain, diagnosis penyakit, kondisi keuangan pasien, imbalan dari hasil kerjasama dengan industri farmasi. Imbalan dari pihak luar memberikan pengaruh yang kuat pada dokter dalam menuliskan resep. Sebagai saran untuk tindak lanjut, diperlukan peraturan yang jelas mengenai penerapan formularium oleh Direktur Rumah Sakit Risa Sentra Medika. Hal lain yang penting untuk diperhatikan dalam proses pelaksanaan penggunaan formularium adalah pemberian imbalan dan sanksi yang jelas bagi para dokter.


 Doctor are health profesionals who have a role and authority in prescribing drugs to patients. Selection process and selection of drugs should be done rationally and follow the guidelines established drug guidelines by the World Health Organization. There are mostly found outside the formulary prescriptions at Risa Hospital Medical Center, 70% of the 100% target of the use of formularies. This study aims to find motivation in the prescribing physician. Factors influencing views of intrinsic motivation factors (perceptions, interests, and aspirations), extrinsic factors (diagnosis, consistency, and cooperation), organization (leadership, socialization, supervision, fee), the pharmaceutical industry (promotion and compensation), as well as policy implementation. The research was conducted with a qualitative approach and case study designs. Primary data obtained from interviews and observations and is equipped with a document review as a from of triangulation. This study concluded that the motivation of doctors in prescribing is influenced by many factors, among others, the diagnosis of diseases, the financial condition of the patient, the rewards of collaboration with the pharmaceutical industry. Remuneration from an outside party provides a strong influence on the prescribing physician. As a suggestion for a follow-up, needed clear rules for the application of the formula by the Director Risa Hospital Medical Center. Another important point to consider in the process of implementing the use of formularies is giving a clear rewards and sanctions for physicians.

Read More
B-1433
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive