Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 42944 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yatinawati; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Yovsyah; F. Jeanne Uktolseja, Sarikasih Harefa
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Yatinawati Program Studi :  Epidemiologi Judul : “Determinan Yang Berhubungan Dengan Kejadian HIV  Pada LSL Di 6 Kota Indonesia Tahun 2015 (Analisis Data Surveilans Terpadu Biologis Dan Perilaku Tahun 2015)” Pembimbing : dr. Syachrizal Syarif, MPH, PhD HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang data menginfeksi sel pada system kekebalan tubuh yang dapat menghancurkan atau merusak fungsinya. Infeksi dari virus ini berkaitan pada kerusakan progresif dari sistem kekebalan tubuh yang dapat mengarah pada defisiensi imun. Kasus HIV pada LSL mengalami peningkatan dari tahun 2007 yaitu 5,35% tahun 2013 menjadi 17,29%. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui determinan yang berhubungan dengan kejadian HIV pada LSL di Indonesia Tahun 2015. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan analisis cox regression yang mana untuk melihat seberapa besar dampak yang ditimbulkan pada faktor risiko HIV. Sampel minimal dalam penelitian ini adalah 690 sampel. Hasil dari penelitian ini adalah  status Sifilis, Gonore atau Klamidia berhubungan dengan kejadian HIV p-value < 0,05. Hal ini dapat diharapkan pada LSL terkait risiko perilaku seks rutin melakukan pemeriksaan kesehatan terutama yang memiliki gejala penyakit sifilis, gonorre dan klamidia. Kata kunci: HIV, LSL, Sifiis, Gonore, Klamidia


ABSTRACT Name :Yatinawati Program Studi : Epidemiology Title :“Determinants Associated With HIV Occurrence In Men who have Sex with Men (MSM) At 6 Cities Indonesia Year 2015 (Integrated Data Surveillance Analysis Biological And Behavior Year 2015" Counselor : dr. Syachrizal Syarif, MPH, PhD HIV (Human Immunodeficiency Virus) is a virus that data infects cells in the immune system that can destroy or menggukan its function. Infection of this virus issued a disturbance of the immune system that can lead to immune deficiency. HIV cases in MSM compared to the year 2007 that is 5 , 35% in 2013 to 17.29%. The purpose of this study was to determine what is related to the incidence of HIV in MSM in Indonesia Year 2015. This study used a cross sectional design with regression analysis which is to see the determinant factors. The minimum sample in this study was 690 samples. The results of this study were history sifilis, gonorrhea or chlamydia disease associated with p-value HIV incidence <0.05. This can be done on MSM who are associated with routine health checks that have a history history sifilis, gonorrhea or clamidya disease. Keywords: HIV, MSM, Sifilis, Gonorrhea or Chlamydia

Read More
T-5153
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rivi Maharani Amri; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Victoria Indrawati
S-9606
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuniar Sinta Dewi; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Nurhalina Afriana
S-9608
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erlika Wati Murliani; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Krisnawati Bantas, Trijoko Yudopuspito
T-4046
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Kholijah Aspia; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Romauli
Abstrak: Transgender adalah salah satu kelompok yang paling terpengaruh oleh epidemic HIV dan 49 kali lebih mungkin untuk hidup dengan HIV dibandingkan populasi umum. Data dari Amerika Latin dan Karibia menunjukkan bahwa prevalensi HIV jauh lebih tinggi pada pekerja seks transgender wanita dibandingkan pada pekerja seks pria dan wanita non-transgender. Tesis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan menjual seks dengan status HIV pada waria di Indonesia yang merupakan analisis lanjut dari data STBP tahun 2015. Penelitian ini adalah studi crosssectional.   Subyek dalam penelitian ini adalah 867 waria yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian didapatkan prevalensi HIV sebesar 26.1% dan proporsi menjual seks pada waria dengan status HIV positif sebesar 31,1%. Analisis multivariat menunjukkan adanya hubungan antara menjual seks dengan status HIV dengan PR adjusted 1,358 [95% CI: (1,045-1,766)] p-value=0,022. Kesimpulan penelitian ini adalah waria yang menjual seks 1,358 kali lebih berisiko memiliki status HIV positif dibandingkan dengan waria yang tidak menjual seks setelah dikontrol oleh variabel riwayat IMS
Read More
T-5817
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Indrawati; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Triyunis Miko Wahyono, Zulmely
Abstrak:
Perilaku seks berisiko merupakan media penularan HIV yang utama dikalangan populasi kunci seperti populasi waria. Faktor risiko kejadian HIV positif pada perilaku seks waria adalah lama melakukan seks anal, konsistensi penggunaan kondom, jumlah pasangan seks, menjual seks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku seks berisiko tersebut dengan kejadian HIV positif. Desain penelitian yang digunakan adalah Cross Sectional, menggunakan data sekunder Survey Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) 2018-2019 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI dengan jumlah responden waria sebanyak 3116. STBP tersebut menggunakan Time Location Sampling (TLS) dan Simple Random Sampling (SRS) sebagai metode sampling responden waria. Sampel penelitian ini diperoleh dengan menggunakan total sampling dari populasi eligible. Informasi terkait perilaku sek berisiko diperoleh melalui interview yang menggunakan kuesioner terstandar dan status HIV diperoleh melalui pemeriksaan serologis meggunakan rapid test. Metode analisis yang digunakan adalah chi-square dan cox regression model. Penelitian menemukan bahwa waria yang memiliki perilaku seks berisiko tinggi berpeluang terinfeksi HIV sebesar 1,45 kali (PR adjusted = 1,45; CI 95% 1,16-1,81) dibandingkan dengan waria yang memiliki perilaku seks berisiko rendah.

The most important risk factor as a primary driver of HIV infection in transgender population is risky sex behavior such as duration of anal sex, consistency of condom use, number of partner sex and selling sex. This study was aimed to investigate association between risky sex behavior and HIV among transgender population in Indonesia 2018-2019. This study was done as secondary data analysis from a national cross-sectional study, namely the Intergrated Biological and Behavior Survey (IBBS) 2018-2019, done by the Ministry of Health of Republic of Indonesia. In this IBBS, Time Location Sampling (TLS) dan Simple Random Sampling (SRS) were used. All of eligible population were to be study participants of this study. Risky sex behaviors was assessed through guided interview, while HIV infection was determined by series of rapid serologic test. Association, between risky sex behavior and HIV, using PR (prevalent ratio), was analyzed using chi-square test and cox regression model. This study found that transgenders with high risk sex behavior were 1.45 times more likely (95% CI 1,16-1,81) to get HIV infection as compared to transgenders with low risk sex behavior.

Read More
T-5848
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shena Masyita Deviernur; Pembimbing: Nurhayati; Penguji: Putri Bungsu, Ari Wulan Sari
Abstrak: Perilaku seksual berisiko HIV/AIDS pada LSL dapat dipengaruhi oleh pengetahuan pencegahan dan miskonsepsi terkait HIV/AIDS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan HIV/AIDS dengan perilaku seksual berisiko HIV/AIDS pada LSL di 3 kota (Yogyakarta, Tangerang, Makassar) di Indonesia tahun 2013. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan menggunakan data STBP 2013. Sampel dalam penelitian ini adalah 343 LSL di 3 kota di Indonesia yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dan dianalilsis secara univariat, bivariat, dan stratifikasi. Hasil penelitian yang didapatkan adalah 16% LSL memiliki tingkat perilaku seksusal berisiko tinggi, 30.9% LSL memiliki pengetahuan pencegahan dan miskonsepsi kurang, 52.5% LSL berusia >24 tahun, 48% LSL kurang berpartisipasi dalam program pelayanan kesehatan HIV/AIDS, 51% LSL mendapat sumber informasi kurang. Berdasarkan analisis bivariat yang dilakukan hubungan dengan perilaku seksual berisiko HIV AIDS yaitu kurang memiliki pengetahuan HIV/AIDS (PR=2.0;95%CI 1.2-3.2), usia ≤ 24 tahun (PR=1.7 ; 95%CI 1.0-2.7), kurang berpartisipasi pada program kesehatan (PR=2.0 ; 95%CI 1.2-3.4), kurang mendapatkan sumber media informasi (PR=0.6 ; 95%CI 0.4-1.0). Hasil stratifikasi antar strata pada variabel kovariat yaitu PR lebih tinggi pada LSL berusia >24 tahun (PR=2.14 ; 95%CI 0.98-4.66), LSL yang kurang mengikuti program pelayanan kesehatan (PR=2.10; 95%CI 1.17-3.77), dan LSL yang baik mendapat media sumber informasi (PR=2.05 ; 95%CI 1.11- 3.77). Oleh karena itu disarankan untuk meningkatkan kembali program IPP, memberikan edukasi sesuai dengan usia, dan memberikan sumber informasi yang lebih efektif dan massive.
Kata kunci: Lelaki Seks Lelaki (LSL), perilaku seksual berisiko, pengetahuan HIV/AIDS

Sexual risk behavior HIV/AIDS among MSM can be influenced by prevention and misconception knowledge of HIV/AIDS. This study aims to determine the relations about knowledge of HIV/AIDS and sexual risk behavior HIV/AIDS among MSM in 3 cities (Yogyakarta, Tangerang, Makassar) in Indonesia on 2013. This study used cross sectional design by using data IBBS 2013. Samples in this study were 343 MSM in 3 cities in Indonesia meet the criteria inclusion and exclusion and analyzed by univariate, bivariate, and stratification. Form the result, the percentage were 16% MSM have high risk of sexual risk behavior, 30.9% MSM have prevention and misconception knowledge less, 52.5% MSM >24 years, 48 % MSM less participate in the health services HIV/AIDS, 51% MSM less of source information. Based on analysis bivariate relationships with sexual risk behavior HIV/AIDS less having knowledge HIV/AIDS (PR = 2.0; 95%CI 1.2-3.2), age ≤ 24 years (PR= 1.7; 95%CI 1.0-2.7), less participate in the health program (PR= 2.0; 95%CI 1.2-3.4), less get media source information (PR= 0.6; 95%CI 0.4-1.0). Stratification results of the strata on the variables of covariate variable have higher PR on MSM aged >24 years (PR= 2.14; 95%CI 0.98-4.66), MSM less follow the program health service (PR = 2.10; 95%CI 1.17-3.77), and MSM got a better media source information (PR= 2.05; 95%CI 1.11-3.77). It is therefore advisable to improve program IPP back, give education in according by age, and provide a source of information that is more effective and massive.
Keywords: Men Who Have Sex with Men (MSM), sexual behavior risk HIV/AIDS, knowledge of HIV/AIDS
Read More
S-9280
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putra Fajar Angkasa; Pembimbing: Tri Yunis Wahyono; Penguji: Yovsyah, Sugeng Wiyana
S-10228
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meili Yana; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Tri Yunis Miko, Fatcha Nuraliyah
Abstrak: Perilaku lelaki berhubungan seks tidak aman dengan lelaki merupakan perilaku yang cenderung tertutup dan sulit ditemui di populasi umum, dengan jumlah kaum LSL yang semakin meningkat dan prevalensi HIV dan IMS masihtinggi di kalangan LSL, penelitian terkait HIV pada LSL masih belum banyak ditemui di Indonesia, serta kejadian HIV yang merupakan salah satu masalah kesehatan yang timbul dengan berbagai faktor.Desain penelitian ini adalah potong lintang, dengan menggunakan data sekunder Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) pada kelompok Lelaki suka Seks dengan Lelaki (LSL) di Indonesia Tahun 2011, Variabeldependen adalah kejadian HIV (+) dan variabel independennya meliputi karakteristik demografi (umur, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan), pengetahuan mengenai HIV-AIDS, perilaku (perilaku seksual dengan pasangan seks tetap, konsumsi napza, merasa berisiko tertular, riwayat mengalami gejala IMS), dan layanan klinik VCT. Analisis data yang dilakukan adalah analisisunivariat dan analisis bivariat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi LSL yang mengalami statusHIV(+) sebesar 8,5%, rata-rata umur LSL yaitu 29 tahun, sebagian besar LSL berpendidikan SMU/sederajat sebesar 52%, sebagian besar bekerja sebagaikaryawan sebesar 32,4%, dengan status belum kawin sebesar 77,5%. ProporsiLSL yang memiliki pasangan tetap sebesar 56,3%. Sebagian besar LSL tidakmengkonsumsi napza sebesar 89,6%, merasa berisiko tertular 64,5% dan sebesar30,7% LSL pernah mengalami gejala IMS, serta sebagian besar reponden tidak dirujuk ke layanan VCT sebesar 77,2%.Faktor-faktor yang ada hubungan bermakna dengan kejadian HIV (+) pada LSL adalah tingkat pendidikan, status belum kawin dibandingkan dengan status kawin, bekerja disalon/panti pijat yang dibandingkan karyawan, merasa berisikotertular, dan layanan klinik VCT.
Kata Kunci : STBP, Lelaki suka Seks dengan Lelaki, HIV-AIDS
Read More
S-8105
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asmanadia Hidayat; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Sarikasih Harefa
Abstrak: Wanita Pekerja Seksual Langsung (WPSL) merupakan salah satu kelompok populasi kunci yang paling berisiko untuk tertular dan menularkan virus HIV. Prevalensi HIV pada WPSL meningkat pada tahun 2015 dibandingkan dengan tahun 2013. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status HIV pada WPSL di 16 Kabupaten/Kota di Indonesia tahun 2015. Desain penelitian ini adalah Cross Sectional. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Survey Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) tahun 2015. Sampel penelitian ini merupakan Wanita Pekerja Seksual (WPSL) berumur 15 tahun atau lebih yang telah berhubungan seksual komersial dengan paling tidak 1 pelanggan dalam 1 bulan terakhir. Hasil penelitian diperoleh WPSL dengan status HIV (+) sebesar 8,6 %. Variabel yang berhubungan secara statistik yaitu riwayat riwayat penggunaan napza suntik (OR 5,449, 95% CI 1,624 - 18,285) dan riwayat gejala IMS (OR 1,579, 95% CI 1,148 - 2,172). Oleh karena itu, program pencegahan HIV AIDS perlu terus ditingkatkan bagi kelompok wanita pekerja seksual untuk mencegah penularan virus HIV melalui penggunaan jarum suntik dan transmisi seksual. Kata kunci: Wanita Pekerja Seksual Langsung (WPSL), status HIV, faktor risiko
Read More
S-10007
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive