Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36627 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Mujahidil Aslam; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Engkus Kusdinar Achmad, Dwiretno Yuliarti, Rian Anggraini
Abstrak: ABSTRAK Remaja merupakan proses perkembangan menuju dewasa. Masa remaja ini rentan terhadap terjadinya risiko penyakit degeneratif, salah satunya adalah hipertensi. Penelitian ini merupakan penelitian desain cross sectional. Metode sampling secara simple random sampling. Tujuan penelitian mengetahui faktor dominan kejadian hipertensi pada siswa di SMK Kesehatan Annisa 3 Citeurup Bogor Tahun 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 11,8% dari 152 siswa di SMK Kesehatan Annisa 3 Citeurup Bogor mengalami hipertensi. Faktor yang berhubungan bermakna adalah jenis kelamin, IMT/U dan durasi tidur. Faktor paling dominan adalah jenis kelamin. Saran untuk siswa melakukan pemeriksaan tekanan darah rutin dan mengkonsumsi makanan bergizi seimbang serta mengurangi makanan yang berlemak yang dapat memicu tekanan darah tinggi dan kegemukan. Kata kunci: Hipertensi, IMT/U, jenis kelamin, remaja ABSTRACT Adolescence is a process of development toward adulthood. Adolescence is vulnerable to the occurrence of the risk of degenerative diseases, one of which is hypertension. This research is a cross sectional design study. A simple random sampling method. The purpose of research to determine the dominant factors of hypertension incidence in students in SMK Kesehatan Annisa 3 Citeurup Bogor Year 2018. The results showed that 11.8% of 152 students in SMK Kesehatan Annisa 3 Citeurup Bogor hypertension. Related factors are gender, BMI of age and sleep duration. The most dominant factor is gender. Suggestions for students perform routine blood tests and nutritious foods and reduce fatty foods that can form high blood and obesity. Key words: Hypertension, BMI of age, gender, adolesecent
Read More
T-5184
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nura Suciati Fauzia; Pemimbing: Asih Setiarini, Triyanti; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Yuni Zahraini, Nurfi Afriansyah
Abstrak: Konsep literasi gizi telah diuraikan dalam literasi kesehatan. Literasi gizi berartimenjadi suatu fungsi untuk mendapatkan, memproses, memahami informasi gizidan keterampilan yang diperlukan untuk membuat gizi yang tepat. Tujuanpenelitian untuk mengetahui hubungan antara literasi gizi dengan status gizi siswakesehatan Yayasan Annisa Jaya Bogor. Penelitian ini dilakukan dengan metodekuantitatif dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel dengantotal sampling dengan jumlah 120 mahasiswa. Pengumpulan data dilakukandengan melakukan pengukuran antropometri untuk mengetahui status giziberdasarkan IMT dan pengisian kuesioner yang diadopsi dari Nutritional LiteracyScale (NLS). Pengolahan dan analisis data menggunakan model chi square danregresi logistik faktor risiko. Hasil penelitian menyebutkan rendahnya tingkatliterasi gizi pada mahasiswa kesehatan Yayasan Annisa Jaya Bogor sebesar 59%.Sedangkan untuk status gizi mahasiswa, status gizi kurus sebanyak 44,5%, gemuk25,7%, dan normal 29,8%. Hasil uji chi square menunjukkan ada hubungan yangsignifikan antara literasi gizi dengan status gizi mahasiswa (p = 0,019), sementaratidak terdapat hubungan antara umur, jenis kelamin, tempat tinggal, tingkatsemester, dan program studi dengan status gizi (p = ≥0,05). Mengubah polamakan menjadi gizi seimbang dan meningkatkan literasi gizi sangat pentingsebagai upaya untuk mempertahankan status gizi yang baik.Kata kunci:Literasi, literasi kesehatan, literasi gizi, IMT, status gizi, mahasiswa
The concept of nutritional literacy has been described in health literacy. Nutritionliteracy means being a function to acquire, process, understand the nutritionalinformation and skills necessary to make proper nutrition. The purpose of thisresearch was to know the correlation between nutritional literacy and nutritionalstatus of health students of Annisa Jaya Foundation Bogor. This research is doneby quantitative method with cross sectional design. Sampling technique with totalsampling with total 120 students. The data collection was done by measuringanthropometry to determine the nutritional status based on IMT and filling thequestionnaire adopted from Nutritional Literacy Scale (NLS). Processing anddata analysis using chi square model and logistic regression of risk factor. Theresult of this research mention the low level of nutrition literacy in health studentof Annisa Jaya Foundation Bogor 59%. As for the nutritional status of students,nutritional status of 44.5%, 25.7%, and 29.8% normal. The result of chi squaretest showed that there was a significant correlation between nutritional literacyand student's nutritional status (p = 0,019), while there was no correlationbetween age, sex, residence, semester level, and study program with nutritionalstatus (p = ≥0, 05). Changing diets into balanced nutrition and increasingnutritional literacy is very important as an effort to maintain good nutritionalstatus.Keywords: Literacy, health literacy, nutritional literacy, nutritional status, BMI,students.
Read More
T-5185
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadia Indawarie Zachra; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Salimar
Abstrak:
Hipertensi pada dewasa muda cenderung tidak disadari oleh penderitanya sehingga tidak terkontrol dengan baik. Hal ini membahayakan sebab hipertensi yang tidak terkontrol dengan baik dan berkelanjutan hingga tua dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Selain itu, prevalensi hipertensi pada kelompok usia 25-34 tahun di Provinsi Kalimantan Timur terus meningkat setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran prevalensi hipertensi, hubungan antara faktor risiko hipertensi dengan kejadian hipertensi dan mengetahui faktor dominan kejadian hipertensi pada kelompok usia 25-34 tahun di Provinsi Kalimantan Timur tahun 2018. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari – April 2021. Populasi pada penelitian ini adalah kelompok usia 25-34 tahun di Provinsi Kalimantan Timur. Total sampel yang termasuk ke dalam kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 1.947 sampel. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskesdas 2018. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 60,3% kelompok usia 25-34 tahun di Provinsi Kalimantan Timur sering mengonsumsi makanan tinggi natrium, 58,9% sering mengonsumsi minuman manis, 57% sering mengonsumsi makanan tinggi lemak, dan 97,8% kurang mengonsumsi buah dan sayur. Hasil analisis chi-square menunjukkan bahwa daerah tempat tinggal dan status gizi lebih memiliki hubungan dengan kejadian hipertensi. Berdasarkan hasil analisis univariat menunjukkan bahwa status gizi lebih merupakan faktor dominan kejadian hipertensi pada kelompok usia 25-34 tahun di Provinsi Kalimantan Timur tahun 2018 dengan nilai OR = 2,655 (95% CI: 2,156 – 3,270). Peneliti menyarankan kepada Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur untuk memberikan Komunikasi, Informasi dan Edukasi gizi baik melalui sosialisasi, media cetak, ataupun media sosial agar dapat melakukan penurunan berat badan dengan menerapkan gaya hidup sehat, menggalakkan layanan Posbindu PTM keliling yang diadakan di daerah dengan tingkat masyarakat yang berisiko tinggi mengalami hipertensi yakni daerah pedesaan dan daerah yang kurang akses pelayanan kesehatan, dan bekerjasama dengan pihak perusahaan untuk menyediakan alat ukur tekanan darah otomatis untuk memantau tekanan darah dan timbangan berat badan untuk memantau berat badan pekerja.

Hypertension in young adults tends to go unnoticed by the sufferer so that it is not well controlled. This is dangerous because hypertension that is not well controlled and sustained until old age can have a negative impact on health. In addition, the prevalence of hypertension in young adults aged 25-34 years in East Kalimantan continues to increase every year. This study aims to determine the prevalence of hypertension, the relationship between risk factors for hypertension and the incidence of hypertension and determine the dominant factors for the incidence of hypertension in the age group 25-34 years in East Kalimantan Province in 2018. The research design used was cross-sectional. This research was conducted in January - April 2021. The population in this study were young adults aged 25-34 years in East Kalimantan Province. The total sample included in the inclusion and exclusion criteria was 1,947 samples. This study used secondary data from Riskesdas 2018. The results showed that 60.3% of young adults aged 25-34 years in East Kalimantan often consume foods high in sodium, 58.9% often consume sugary drinks, 57% often consume foods high in fat, and 97.8% consume less fruits and vegetables. The results of chi-square analysis showed that the area of residence and nutritional status had more association with the incidence of hypertension. Based on the results of univariate analysis, it shows that overnutrition status is a dominant factor in the incidence of hypertension in young adults aged 25-34 years in East Kalimantan in 2018 with an OR value = 2.655 (95% CI: 2.156 - 3.270). Researchers suggest the East Kalimantan Provincial Health Office to provide Communication, Information and Education on nutrition either through socialization, print media, or social media in order to lose weight by implementing a healthy lifestyle, promoting mobile Posbindu PTM services held in areas with a high level of community risk of hypertension, namely rural areas and areas with less access to health services, and working with companies to provide automatic blood pressure measuring devices to monitor blood pressure and weight scales to monitor workers' weight.
Read More
S-11232
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reny Hariyani Tandi Liling; Pembimbing: Endang Laksminingsih; Penguji: Siti Arifah Pudjonarti, Eti Rohati
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang kegemukan serta faktor-faktor penyebabkegemukan pada siswa-siswi Sekolah Dasar kelas 6 di Jakarta Utara. Tujuan daripenelitian ini untuk mengetahui besaran prevalensi kegemukan dan membuktikan durasitidur sebagai faktor dominan dari kegemukan pada populasi studi. Penelitian inimenggunakan desain penelitian studi cross sectional. Proses pengambilan data meliputipengukuran antropometri menggunakan timbangan berat badan yang telah divalidasiserta microtoise, wawancara food recall 24 jam, pengisian kuesioner untuk mengetahuiinformasi terkait aktivitas fisik, pola makan, dan durasi tidur. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa terdapat 52,3% siswa-siswi yang gemuk (IMT/U Z-score >1,00standar deviasi). Faktor risiko yang berhubungan dengan kegemukan ialah durasi tidur.Peneliti merekomendasikan agar dilakukan edukasi mengenai Gerakan Masyarakat Sehat(GERMAS) pada siswa-siswi.
Kata kunci: Status gizi; Kegemukan; Anak Sekolah; Durasi Tidur
This study discusses the obesity and factors causing obesity in 6th grade elementary schoolstudents in North Jakarta. The purposes of this study were to determine the prevalence ofobesity and prove the priority to sleep as the dominant factor of obesity in the studypopulation. This study used cross sectional study design. The data collection processincludes anthropometric measurements using validated weight scales and microtoise, 24-hour food recall interview, filling out questionnaires to find out related information, diet,and sleep duration. The results showed that there were 52.3% students having obesity(IMT/U Z-score> 1.00 standard deviation). The factors associated with obesity is sleepduration. Researcher recommends to educate students about Gerakan Masyarakat Sehat(GERMAS) to students.
Key words: Nutritional status; Obesity; School children; Sleep duration.
Read More
S-9791
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ivonne Kusumaningtias; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Kusharisupeni, Kusdinar Achmad, Suroto, Misti
Abstrak: Tekanan darah tinggi atau biasa disebut hipertensi, merupakan salah satu masalahkesehatan masyarakat yang banyak diderita di seluruh dunia termasuk Indonesia.Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis dimana terjadi peningkatantekanan darah secara kronis dalam jangka waktu lama. Tujuan penelitian adalah untukmengetahui faktor paling dominan (umur, jenis kelamin, riwayat keluarga, IMT, lingkarpinggang, asupan natrium, asupan lemak, aktifitas fisik dan stres) kejadian hipertensipada pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat denganmenggunakan metode cross sectional. Populasi penelitian adalah pegawai DirektoratJenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan. Sampel penelitian adalahpegawai dengan usia 26-57 tahun dengan jumlah 84 orang. Hasil penelitian dengananalisis bivariat menunjukkan adanya hubungan antara umur (p= 0.023) dan obesitas(p=0,043) dengan kejadian hipertensi. Analisis multivariabel menunjukkan faktor yangpaling dominan berhubungan dengan kejadian hipertensi pada pegawai adalah IMT (pvalue 0.02). Pegawai dengan obesitas berisiko 4 kali untuk menderita hipertensidibandingkan dengan pegawai yang tidak obesitas. Umur juga merupakan salah satufaktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada pegawai umur 26-57 tahun (pvalue = 0.02).Kata kunci : faktor dominan, hipertensi, obesitas, umur.
Read More
T-4787
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fellatinnisa Zafira Rajwadini; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Sandra Fikawati, Fadila Wirawan
Abstrak:
Dislipidemia merupakan kondisi ketidakseimbangan lipid dalam tubuh yang ditandai dengan ditemukannya minimal satu abnormalitas kadar kolesterol total, kolesterol LDL, trigliserida, dan kolesterol HDL. Prevalensi dislipidemia pada usia produktif di Indonesia tergolong tinggi. Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dislipidemia pada penduduk usia produktif (15-64 tahun) di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi potong lintang menggunakan data sekunder Riskesdas 2018. Analisis data yang dilakukan pada penelitina ini adalah analisis univariat dengan distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan uji kai kuadrat, dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 28.007 subjek, 61,6% mengalami dislipidemia. Analisis bivariat menunjukkan hasil yang signifikan antara usia, wilayah tempat tinggal, diabetes melitus, gangguan fungsi ginjal, hipertensi, IMT, obesitas sentral, dan riwayat merokok dengan kejadian dislipidemia (p value < 0,05). Sementara pada variabel konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, konsumsi makanan berlemak, dan konsumsi buah sayur juga ditemukan hubungan yang signifikan namun bersifat protektif terhadap kejadian dislipidemia. Analisis multivariat menunjukkan bahwa diabetes melitus merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan dislipidemia (p value = 0,000; OR 1,88; 95% CI : 1,49-2,38).

Dyslipidemia refrers to a condition of lipid imbalance in the body which is characterized by the finding of at least one abnormality of total cholesterol, LDL cholesterol, triglyceride, and HDL cholesterol levels. The prevalence of dyslipidemia in productive age in Indonesia is high. This study aims to determine the dominant factors and factors associated with the incidence of dyslipidemia in the productive age population (15-64 years) in Indonesia. This research is a quantitative study with a cross-sectional study design using secondary data from Riskesdas 2018. Data analysis was carried out in this study using univariate analysis with frequency distribution, bivariate analysis using the chi square test, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The results showed that out of 28.007 subjects, 61.6% had dyslipidemia. Bivariate analysis showed significant results between age, region of residence, diabetes mellitus, impaired kidney function, hypertension, BMI, central obesity, history of smoking, consumption of sweet foods, consumption of sweet drinks, consumption of fatty foods, and consumption of fruits and vegetables with the incidence of dyslipidemia (p-value < 0.05). Meanwhile, in variable consumption of sweet foods, consumption of sweet drinks, consumption of fatty foods, and consumption of fruit and vegetables found a significant but protective relationship to the incidence of dyslipidemia. Multivariate analysis showed that diabetes mellitus was the dominant factor associated with dyslipidemia (p value = 0.000; OR 1.88; 95% CI: 1.49-2.38).
Read More
S-11419
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hesty Ghaits Mubarrok; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Agus Triwinarto
Abstrak:

Latar Belakang: Hipertensi Sistolik Terisolasi (HST) didefinisikan sebagai kondisi dimana tekanan darah sistolik ≥140 mmHg sedangkan tekanan darah diastolik < 90 mmHg. HST dinilai sebagai fenomena penuaan, merupakan jenis hipertensi paling berbahaya karena berespon lemah terhadap obat antihipertensi. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dan faktor dominan yang berhubungan dengan HST, dengan desain penelitian cross-sectional. Metode: Data yang digunakan yaitu Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 dengan sampel sebesar 18.599 (HST dan normal) serta subjek yang HST yaitu 1.471, dan dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 7,9% sampel yang mengalami hipertensi sistolik terisolasi (HST), dengan 85% sampel mengalami HST derajat I, 12,8% HST derajat II, dan 8,8% HST derajat III; terdapat hubungan signifikan antara umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan, status perkawinan, obesitas, obesitas sentral, stres psikologis, diabetes mellitus, konsumsi makanan asin, konsumsi makanan berlemak, dan aktivitas fisik terhadap kejadian HST, serta tidak ada hubungan antara konsumsi buah, konsumsi sayur, kebiasaan merokok dengan kejadian HST di Indonesia pada tahun 2018. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah tingkat pendidikan menjadi faktor dominan kejadian HST di Indonesia adalah tingkat pendidikan (OR = 2,14) setelah dikontrol variabel kebiasaan merokok.


 

Background: Isolated Systolic Hypertension (HST) is defined as a condition where the systolic blood pressure is ≥140 mmHg while the diastolic blood pressure is <90 mmHg. HST is considered a phenomenon of aging, is the most dangerous type of hypertension because it responds weakly to antihypertensive drugs. Objective: The aim of this study is to determine the associated factors and dominant factors associated with HST, with a cross-sectional research design. Method: The data used was Basic Health Research (Riskesdas) in 2018 with a sample of 18,599 (HST and normal) and 1,471 HST subjects, and analyzed using the chi-square test and logistic regression. Results: The results of this study showed that 7.9% of samples experienced isolated systolic hypertension (HST), with 85% of samples experiencing HST grade I, 12.8% HST grade II, and 8.8% HST grade III; there is a significant relationship between age, gender, education level, employment status, marital status, obesity, central obesity, psychological stress, diabetes mellitus, consumption of salty foods, consumption of fatty foods, and physical activity on the incidence of HST, and there is no relationship between consumption of fruit, vegetable consumption, smoking habits with the incidence of HST in Indonesia in 2018. Conclusion: The conclusion of this study is that the level of education that is the dominant factor in the incidence of HST in Indonesia is the level of education (OR = 2.14) after controlling for the smoking habit variable.

Read More
S-11743
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Qonitah Azzahra; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Asih Setiarini, Dwiretno Yuliarti
Abstrak: Hipertensi pada remaja semakin meningkat dan menyebabkan peningkatan berbagai penyakit degeneratif lainnya ketika dewasa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor dominan yang paling berhubungan terhadap kejadian prehipertensi dan hipertensi pada remaja usia 15-18 tahun di SMA Negeri 3 Kisaran Kabupaten Asahan Sumatera Utara tahun 2016. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional yang dilakukan pada 145 responden kelas X dan XI. Variabel dependen yang diteliti adalah hipertensi dan prehipertensi sedangkan variabel independen yang diteliti adalah jenis kelamin, riwayat hipertensi keluarga, status gizi, asupan energi, asupan lemak, asupan natrium, asupan serat, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, keadaan stres dan durasi tidur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi prehipertensi 42,1% dan hipertensi 12,4%. Berdasarkan hasil analisis bivariat terdapat perbedaan bermaknan antara prehipertensi dan hipertensi berdasarkan jenis kelamin (p value = 0,005), riwayat hipertensi keluarga (p value = 0,040), status gizi (p value = 0,012), asupan lemak (p value = 0,036), asupan natrium (p value = 0,031), asupan serat (p value = 0,010), aktivitas fisik (p value = 0,044), keadaan stres (p value = 0,043), dan durasi tidur (p value = 0,023). Sedangkan bedasarkan analisis multivariat, faktor dominan kejadian prehipertensi dan hipertensi adalah aktivitas fisik. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk meneliti hubungan kasualitas pada faktorfaktor tersebut dan untuk mencari apakah ada faktor dominan lain yang berhubungan dengan kejadian prehipertensi dan hipertensi pada remaja. Peneliti menyarankan agar siswa rutin melakukan pengukuran tekanan darah setidaknya sebulan sekali, aktif berolahraga paling sedikit tiga kali seminggu, memantau berat badan minimal sebulan sekali untuk memantau status gizi baik, dan menjaga asupan zat gizi dengan mengonsumsi makanan sesuai dengan pedoman gizi seimbang. Kata Kunci: hipertensi, remaja, aktivitas fisik, status gizi
Hypertension in adolescents has increased and led to an increase in various other degenerative diseases when adults. The purpose of this study was to determine the most dominant factor that related to the incidence of prehypertension and hypertension in adolescents aged 15-18 years old at SMA Negeri 3 Kisaran Asahan District North Sumatra in 2016. The study used cross-sectional design which was conducted on 145 respondents of 10th and 11th grader. The dependent variables in this study is hypertension and prehypertension, while independent variables were gender, family history of hypertension, nutritional status, energy intake, fat intake, sodium intake, fiber intake, physical activity, smoking, stress and sleep duration. The results showed that the prevalence of prehypertension and hypertension were 42,1% and 12,4% respectively. Based on the bivariate analysis, there were significant differences between prehypertension and hyepertension based on sex (p value = 0,005), family history of hypertension (p value = 0,040), nutritional status (p value = 0,012), fat intake (p value = 0,036), sodium intake (p value = 0,031), fiber intake (p value = 0,010), physical activity (p value = 0,044), stress (p value = 0,043), and sleep duration (p value = 0,023). While based on the multiariate analysis, the dominant factor of prehypertension and hypertension was physical activity. Further research is needed to examine the relationship of causality on these factors and to explore whether there other dominant factor of prehypertension and hypertension among adolescents. The author suggests that the students should routinely check the blood pressure measurements at least once a month, exercise at least three times a week, monitoring the body weight at least once a month to maintain good nutrional status, and keep the intake of nutritionts by eating foods according to balanced nutriotional guidelines. Keywords: hypertension, adolescents, physical activity, nutritional status
Read More
S-9103
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Winda Natasya; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Eko Aditya Meinarno, Salimar
Abstrak: Gangguan mental emosional merupakan keadaan penderitaan emosional atau perubahan psikologis yang dialami seseorang ditandai dengan adanya gejala depresi, kecemasan, dan perasaan tidak enak (rasa lelah, sulit tidur, kehilangan motivasi). Hubungan antara faktor pola makan dan gaya hidup terhadap kesehatan mental mulai menjadi perhatian belakangan ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor dominan yang memengaruhi kejadian gangguan mental emosional pada siswasiswi SMA Negeri 1 Jakarta tahun 2018. Penelitian dilakukan secara kuantitatif dengan metode cross sectional, menggunakan data primer yang diperoleh melalui pengisian kuesioner, pengukuran antropometri, dan wawancara food recall 1x24 jam dari 156 responden yang dipilih dengan cara nonprobability sampling (consecutive sampling). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 34,6% responden mengalami gangguan mental emosional. Berdasarkan hasil analisis bivariat dengan uji chi square ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara kualitas diet, moderasi diet, balansi diet, dan uang saku dengan kejadian gangguan mental emosional pada responden. Moderasi diet ditemukan sebagai faktor dominan dari kejadian gangguan mental emosional pada siswasiswi SMA Negeri 1 Jakarta tahun 2018. Siswa-siswi yang moderasi dietnya buruk atau dengan kata lain mengonsumsi total lemak, lemak jenuh, kolesterol, natrium, dan makanan kalori kosong (gula, minyak, alkohol) secara berlebih berisiko 3,628 kali besar mengalami kejadian gangguan mental emosional dibandingkan yang memiliki moderasi diet baik. Perlu dilakukan upaya edukasi mengenai pentingnya diet yang berkualitas terutama dibagian moderasi dan faktor risiko lainnya sebagai upaya pencegahan terjadinya gangguan mental emosional serta gangguan mental yang lebih serius. Kata kunci : Gangguan mental emosional, faktor terkait gizi, moderasi diet, kualitas diet, anak sekolah menengah atas Psychological distress is a state of emotional suffering or psychological changes experienced by a person characterized by symptoms of depression, anxiety, and feelings of unease (fatigue, sleeplessness, loss of motivation). The relationship between dietary and lifestyle factors to mental health began to be a concern lately. The purpose of this study is to determine the dominant factors that affect the prevalence of psychological distress in the students of SMA Negeri 1 Jakarta in 2018. The study was conducted quantitatively by cross sectional method, using primary data obtained through questionnaires, anthropometric measurements, and interview food recall 1x24 hours from 156 respondents selected by nonprobability sampling (consecutive sampling). The results showed that as much as 34.6% of respondents experiencing psychological distress. The results of bivariate analysis with chi square test found significant relationship between diet quality, dietary moderation, dietary balance, and allowance with the incidence of psychological distress in respondents. Dietary moderation was found to be the dominant factor of psychological distress in high school students of SMA Negeri 1 Jakarta 2018. Students with poor dietary moderation or in other words consumed total fat, saturated fat, cholesterol, sodium, and empty calorie foods (sugar, oil, alcohol) excessively are at risk 3,628 times bigger to experience psychological distress than those with good dietary moderation. Educational efforts need to be made about the importance of quality diet, especially in the moderation and other significant risk factors as an effort to prevent the incidence of psychological distress and more serious mental disorders. Key word : Psychological distress, nutrition related factors, dietary moderation, diet quality, high school students
Read More
S-9715
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ira Primona Simarmata; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Sandra Fikawati, Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Iskari Ngadiarti, Yuni Zahraini
Abstrak:

 

Hipertensi yang umumnya terjadi pada usia lanjut kini menunjukkan tren peningkatan
pada usia remaja. Peningkatan prevalensi ini diduga berkaitan dengan meningkatnya
paparan faktor risiko seperti obesitas, konsumsi garam tinggi, kurang aktivitas fisik, serta
rendahnya konsumsi buah dan sayur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran
dan faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada mahasiswa
Poltekkes Kemenkes Jakarta II tahun 2025. Penelitian ini merupakan peneltian kuantitatif
dengan menggunakan desain cross sectional dan data primer dengan sampel adalah
mahasiswa. Sebanyak 124 responden dipilih menggunakan teknik stratified random
sampling secara proporsional berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan
data dilakukan menggunakan tensimeter digital, timbangan, microtoise, BIA, pita ukur,
kuesioner, dan food recall 2x24 jam. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square
dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan proporsi kejadian
hipertensi berdasarkan riwayat hipertensi keluarga (p=0,008; OR=2,374), durasi tidur
(p=0,013; OR=0,392), IMT/U (p=0,030; OR=2,411), persen lemak tubuh (p<0,001;
OR=3,942), lingkar perut (p<0,001; OR=3,942), dan asupan energi (p=0,033;
OR=2,243). Analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor dominan yang berhubungan
dengan kejadian hipertensi adalah persen lemak tubuh (p=0,012; OR=4,639; 95%
CI=1,397–15,409). Persen lemak tubuh yang tinggi merupakan faktor dominan yang
berhubungan dengan kejadian hipertensi pada mahasiswa.


Hypertension, which commonly occurs in older adults, is now showing an increasing  trend among adolescents. This rising prevalence is suspected to be related to increased  exposure to risk factors such as obesity, high salt intake, physical inactivity, and low  consumption of fruits and vegetables. This study aimed to identify the distribution and  dominant factors associated with the incidence of hypertension among students at  Poltekkes Kemenkes Jakarta II in 2025. This is a quantitative study using a cross-sectional  design and primary data, with students as the research subjects. A total of 124 respondents  were selected using stratified random sampling proportionally based on inclusion and  exclusion criteria. Data were collected using a digital sphygmomanometer, weighing  scale, microtoise, BIA, measuring tape, questionnaire, and 2x24-hour food recall. Data  analysis was performed using chi-square and logistic regression tests. The results showed  significant differences in hypertension incidence based on family history of hypertension  (p=0.008; OR=2.374), sleep duration (p=0.013; OR=0.392), BMI-for-age (p=0.030;  OR=2.411), body fat percentage (p<0.001; OR=3.942), waist circumference (p<0.001;  OR=3.942), and energy intake (p=0.033; OR=3.430). Multivariate analysis indicated that  the dominant factor associated with hypertension was body fat percentage (p=0.012;  OR=4.639; 95% CI=1.397–15.409). High body fat percentage was found to be the  dominant factor associated with hypertension among students.  

 

Read More
T-7435
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive