Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36375 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sahroni; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Tri Krianto, Soekidjo Notoatmodjo, Hana Johan, Evelyn Yolanda
Abstrak: Studi terdahulu telah menunjukkan hubungan yang positif antara literasi kesehatan dengan status kesehatan serta pemanfaatan layanan kesehatan, namun belum banyak penelitian mengenai literasi kesehatan pada penderita hipertensi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan sosial ekonomi tingkat literasi kesehatan pada penderita hipertensi di Puskesmas se-Kota Cilegon, Banten dengan menggunakan disain potong lintang. Penelitian ini mengambil data dari penderita hipertensi di delapan puskesmas di Kota Cilegon (n=138). Pengukuran literasi kesehatan dilakukan menggunakan instrumen Health Literacy Scale European Union dengan 16 pertanyaan yang telah diadaptasi. Analisis dilakukan menggunakan model regresi linier ganda dengan literasi kesehatan sebagai variabel dependen dan sebagai variabel independen adalah usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan pengetahuan hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor literasi kesehatan pada penderita hipertensi adalah 58.4 (SD=14.2) dari skala 100. Hasil analisis regresi linier ganda menunjukkan hubungan yang bermakna antara skor literasi kesehatan dengan pendidikan (=10.6, SE=1.8 p<0.001), pendapatan (=6.1, SE=1.7, p<0.001) dan pengetahuan hipertensi (=14.4, SE=1.5, p<0.001). Hasil ini mengindikasikan perlunya penanganan ekstra pada penderita hipertensi yang berpendidikan kurang dari SMA, berpenghasilan di bawah upah minimum regional dan pengetahuan hipertensi yang kurang.
Read More
T-5524
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Imelda Sussanti Nailius; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Dian Ayubi, Tri Krianto, Rudy Priyono, Tiurmasari E. Saragih
Abstrak: Tuberkulosis merupakan salah satu prioritas utama masalah kesehatan saat ini dengan jumlah kasus yang diobati dan dilaporkan di Indonesia masih dibawah target nasional pada tahun 2021. Angka keberhasilan pengobatan tuberkulosis di Kota Kupang dilaporkan dalam empat tahun terakhir belum tercapai secara optimal. Salah satu faktor ketidakberhasilan minum obat disebabkan karena jangka waktu minum obat yang lama yang memungkinkan untuk terjadi ketidakpatuhan dalam minum obat. Ketidakpatuhan dalam minum obat dapat menyebabkan kegagalan dalam pengobatan, pengobatan ulang maupun resisten terhadap obat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan determinan sosial dan literasi kesehatan dengan kepatuhan minum obat penderita tuberkulosis di Kota Kupang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional yang dilakukan pada penderita tuberkulosis yang sedang menjalani pengobatan di puskesmas di Kota Kupang. Data dikumpulkan dengan cara pengisian kuesioner secara online (self administered survey) pada 126 penderita tuberkulosis yang sedang menjalani pengobatan di 11 puskesmas di Kota Kupang. Data dianalisis menggunakan uji regresi logistik sederhana dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menemukan 23,8 % penderita tuberkulosis tidak patuh dalam minum obat tuberkulosis. Variabel literasi kesehatan (p=0,008) dan umur responden (p=0,029) dengan p-value <0,05 dinyatakan berhubungan signifikan dengan kepatuhan minum obat penderita tuberkulosis. Literasi kesehatan menjadi variabel yang paling dominan dalam mempengaruhi kepatuhan minum obat penderita tuberkulosis setelah di kontrol oleh variabel umur, pendidikan dan pendapatan. Pentingnya kolaborasi terintegrasi antara berbagai lembaga terkait untuk melakukan edukasi terkait tuberkulosis lewat berbagai media dapat meningkatkan literasi kesehatan masyarakat dan kepatuhan minum obat tuberkulosis.
Tuberculosis is one of the most challenging public health issues at the moment, with the number of cases being treated and reported in Indonesia still falling short of the national objective for 2021. In the last four years, the success rate for tuberculosis treatment in Kupang City has not been optimal. One of the reasons people fail to take medication is because they have been taking it for a long time, which allows for non-compliance. Non-adherence in taking medication can lead to treatment failure, re-treatment or drug resistance. The purpose of this study was to determine the relationship between social determinants and health literacy with medication adherence for tuberculosis patients in Kupang City. This study is a cross-sectional quantitative study that was carried out on tuberculosis patients receiving care at a medical facility in Kupang City. Data were collected by filling out online questionnaires (self-administered survey) on 126 tuberculosis patients who were undergoing treatment at 11 health centers in Kupang City. Simple logistic regression and multiple logistic regression were used to analyze the data. According to the study's findings, 23.8 percent of tuberculosis patients did not take their tuberculosis medications. Health literacy variables (p=0.008) and respondent age (p=0.029) with p-value 0.05 were shown to be significantly related to tuberculosis patients' medication adherence. After adjusting for age, education, and income, health literacy emerged as the most influential variable in affecting medication adherence in tuberculosis patients. The significance of integrated collaboration among multiple associated entities to undertake tuberculosis education through various media can improve public health literacy and adherence to tuberculosis medications.
Read More
T-6470
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sahridayanti Nainggolan; Pembimbing: Rita Damayanti, Dian Ayubi; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Ummi Kalsum, Intan Kusumawati
Abstrak: Kepuasan pelayanan merupakan salah satu indikator pemantauan kualitas pelayanan. Kepuasan pelayanan persalinan dipengaruhi berbagai faktor dan dinilai dari lima dimensi mutu pelayanan tangible, reability, responsivness, assurance dan emphaty. Tujuan penelitian mengetahui tingkat kepuasan pelayanan persalinan dan faktor yang berpengaruh dengan kepuasan pelayanan. Variabel terikat kepuasan pelayanan persalinan, variabel bebas: umur, jumlah anak, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, tempat pelayanan dan biaya pelayanan. Jenis penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional, waktu penelitian 1-20 Mei 2017 menggunakan kuesioner. Populasi seluruh ibu bersalin normal 538, sampel sebanyak 140 diambil secara systemstic random sampling. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata tingkat kepuasan pelayanan persalinan di fasilitas kesehatan se-Kota Jambi 89,9%. Prioritas utama perbaikan pelayanan pada kebersihan ruang persalinan dan kebersihan kamar mandi ruang perawatan. Faslitas swasta paling berpengaruh terhadap kepuasan, diikuti keterjangkauan biaya dan ibu dengan pendidikan tinggi. Perlunya rumah sakit, puskesmas, rumah bersalin dan BPS untuk menjaga kebersihan terutama di ruangan pelayanan dan kamar mandi pasien, memperhatikan karakteristik pasien saat memberikan pelayanan. Khususnya fasilitas pemerintah dapat efesiensi biaya guna mensejajarkan pelayanan dengan swasta. Bagi fasilitas swasta ikut kerjasama dengan BPJS agar biaya pelayanan dapat dijangkau masyarakat. Kata kunci: Kepuasan, pelayanan persalinan, dimensi mutu Service satisfaction is one of the indicators of service quality monitoring. Maternity service satisfaction is influenced by various factors and assessed from five dimensions of tangible, reability, responsiveness, assurance and emphaty service quality. The purpose of the study to know the level of satisfaction of delivery services and factors that influence with service satisfaction. Dependent variable of satisfaction of delivery service, independent variable: age, number of children, education, occupation, knowledge, service place and service cost. The type of quantitative research with cross sectional design, the time of the study from May 1 to 20, 2017 using questionnaires. The total maternal population was 538, 140 samples were taken by systemstic random sampling. The results showed the satisfaction level of delivery service in health facilities in Jambi City 89.9%. The main priority of service improvement on the cleanliness of the delivery room and the cleanliness of the bathroom treatment room. Private facilities are most influential on satisfaction, followed by cost affordability and mothers with higher education. The need for hospital, health center, maternity hospital and BPS to maintain hygiene, especially in patient service room and bathroom, pay attention to patient characteristic when giving service. In particular, government facilities can cost efficiency to align services with the private sector. For private facilities join the cooperation with BPJS so that service costs can be reached by the community. Key words: Satisfaction, delivery service, quality dimension
Read More
T-5058
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulita Sirinti Pongtambing; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Rita Damayanti, Dadan Erwandi, Ida Leida M., Sudirman Nasir
Abstrak:
Meningkatnya prevalensi gangguan mental di kalangan anak muda di Indonesia mengindikasikan pentingnya upaya memperbaiki literasi kesehatan mental di kalangan anak muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan sosial yang berkaitan dengan literasi kesehatan mental pada mahasiswa Universitas Hasanuddin. Penelitian ini menggunakan data dari Studi Literasi Kesehatan 2019 yang menggunakan desain potong lintang. Pengukuran literasi kesehatan mental dilakukan dengan menggunakan instrumen Mental Health Literacy Scale (MHLS) yang telah di adaptasi ke konteks Indonesia. Hasil pada penelitian ini menunjukkan nilai rata-rata kesehatan mental yang relatif rendah (M=59,60 dengan skala 0-100). Analisis bivariat menunjukkan bahwa jenis kelamin, status pacaran, dan rumpun ilmu merupakan determinan yang berasosiasi signifikan dengan MHLS. Adapun hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa literasi kesehatan mental lebih rendah pada mahasiswa laki-laki, mahasiswa yang menolak menjawab suku, dan mahasiswa yang tergolong dalam rumpun ilmu sains dan teknologi. Hasil ini menyarankan intervensi kesehatan mental pada kelompok mahasiswa tersebut melalui edukasi dan call center kesehatan mental.

The prevalence of mental disorders among young adults in Indonesia has increased, indicating the importance of improving mental health literacy among them. This study aimed to determine the social determinants and mental health literacy among first year undergraduate students of Universitas Hasanuddin, South Sulawesi, Indonesia. Data for this study came from the Indonesia Health Literacy Study 2019, a cross-sectional online survey of undergraduate students from four public universities in four provinces of Indonesia. Mental health literacy was measured using the Mental Health Literacy Scale (MHLS) which had been adapted into Indonesia context. The results showed that respondents had relatively low mental health literacy (M=59,60 on a scale of 0-100). Bivariate analysis showed that gender, relationship status, and scientific clusters were associated with MHLS. Multivariate analysis showed that mental health literacy was lower among male students, students who refused to reveal their ethnic identities, and students of science-tech cluster. Interventions through mental health education and mental health call center are recommended to improve mental health literacy, especially among these undergraduate students of Universitas Hasanuddin.

Read More
T-5915
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yoslien Sopamena; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Tri Krianto, Ahmad Syafiq, Christiana R. Titaley, Ety Yuni Ristanti
Abstrak: Literasi gizi merupakan salah satu prediktor penyakit tidak menular, namun belum banyak penelitian yang menilai kemampuan literasi gizi masyarakat, termasuk pada kelompok masyarakat berpendidikan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara determinan sosial dan literasi gizi pada mahasiswa program sarjana di Universitas Pattimura angkatan 2018 dengan menggunakan data sekunder Studi Literasi Kesehatan 2019. Enam determinan yang diukur yaitu jenis kelamin, uang saku mingguan, status tempat tinggal, suku, partisipasi sosial dan program pendidikan. Tingkat literasi gizi diukur menggunakan kuesioner The Newest Vital Signs. Analisa deskriptif terdiri dari frekuensi untuk variabel kategorik dan mean, median, varian untuk variabel numerik. Uji non-parametrik Mann-Whitney dilakukan untuk mencari hubungan antar variabel dan regresi liner multivariabel untuk mencari variabel yang paling berpengaruh. Dari 382 partisipan, lebih banyak yang memiliki tingkat literasi yang tidak adekuat dibanding yang adekuat (54,7% vs 45,3%). Adapun rerata skor literasi gizi seluruh partisipan adalah 2,31 (SD=1,30) dari skala 6. Untuk determinan sosialnya, hanya keragaman suku yang diketahui memiliki hubungan yang signifikan dengan skor literasi gizi. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi determinan lain yang berkaitan dengan literasi gizi.
Nutrition literacy is one of the predictors of non-comunicable diseases; however, research around nutrition literacy assessment is lacking in Indonesia, including among its welleducated population. This study aimed to examine the determinants of nutrition literacy among first year undergraduate students of the University of Pattimura, Maluku. Using data derived from the Health Literacy Study 2019, six determinants of nutrition literacy (i.e., sex, weekly expenditure, living place status, perceived ethnic diversity, social participation and education programs) were analyzed. Nutrition literacy was measured using the adapted 6-item Newest Vital Signs. Descriptive statistic of frequency, mean and median was used to describe each of the main variables. The non-parametric MannWhitney was performed to examine the association between independent and dependent variables. Linear regression linear was used to analyze association between independent variables and nutriton literacy. Of the 382 participants, the average score of nutrition literacy was 2,31 (SD=1,30), with more than half of them have inadequate nutrition literacy (54,7%) compare to those who have adequate nutrition literacy (45,3%). Perceived ethnic diversity was the only social determinant that significantly associates with nutrition literacy. Future research exploring association of other social determinants to nutrition literacy is recommended
Read More
T-5987
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Silva Dwi Rahmizani; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi, Dien Anshari; Penguji: Hadi Partomo, Firy Triyanti, , H. Kadiyo
Abstrak: Gangguan mental merupakan salah satu tantangan kesehatan global dikarenakan prevalensi yang tinggi dan penderitaan berat yang ditanggung oleh individu, keluarga, komunitas, dan negara. Prevalensi gangguan mental emosional tertinggi di Jawa Barat adalah Kota Bogor sebesar 28,1%. Perlu dilakukan langkah pencegahan agar kesehatan mental masyarakat tetap terjaga. Langkah yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan pendekatan yaitu dengan literasi kesehatan mental. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran literasi kesehatan mental dan determinannya pada remaja sekolah menengah atas/ sederajat di Kecamatan Bogor Utara tahun 2019. Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner online pada 382 siswa yang dipilih secara mutistage random sampling. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2019 di lima sekolah yang berada di kecamatan Bogor Utara. Hasil penelitan menunjukkan literasi kesehatan mental yang berada pada kategori tinggi baru mencapai 42,4%. Faktor yang berhubungan signifikan dengan literasi kesehatan mental pada penelitian ini adalah umur, jenis kelamin, akses informasi dan pendapatan keluarga merupakan faktor yang paling dominan terhadap literasi kesehatan mental (p=0,002, OR: 2,026). Perlu peningkatan intervensi preventif dan promotif seperti edukasi dan promosi terkait aspek pengetahuan, sikap, keyakinan dan isu-isu kesehatan mental guna meningkatkan literasi kesehatan mental yang lebih baik pada remaja sekolah khususnya siswa sekolah menengah atas/ sederajat
Read More
T-5642
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wa Ode Sri Andriani; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Dian Ayubi, Ahmad Syafiq, Ruslan Majid, Fikki Prasetya
Abstrak: Literasi gizi fungsional menjadi keterampilan dasar dan penting yang dibutuhkan seseorang dan promosi kesehatan di era penyakit akibat masalah gizi semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan determinan sosial dan literasi gizi fungsional pada mahasiswa S1 reguler tahun pertama di Universitas Halu Oleo. Disain penelitian menggunakan disain cross sectional, penelitian ini mengambil data dari Studi Literasi Kesehatan 2019 di Universitas Halu Oleo, Provinsi Sulawesi Tenggara (n=359). Pengukuran literasi gizi dilakukan menggunakan instrumen The Newest Vital Sign (NVS) berisi 6 pertanyaan mengenai label gizi yang telah diadaptasi. Analisis menggunakan regresi linier berganda dengan literasi gizi fungsional sebagai variabel dependen dan determinan sosial seperti jenis kelamin, suku, status tempat tinggal, uang saku, akses layanan kesehatan, dan akses informasi kesehatan sebagai variabel independen. Hasil penelitian menunjukkan tingkat literasi gizi fungsional mahasiswa kurang memadai (M=2,47; SD=1,285). Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan hubungan signifikan antara skor literasi gizi fungsional dengan determinan sosial jenis kelamin (β=0,30, p=0,019). Hasil ini mengindikasikan hubungan yang lemah antara determinan sosial dan literasi gizi fungsional pada mahasiswa. Dan diperlukan upaya pengembangan edukasi terkait label gizi guna membantu mahasiswa dalam meningkatkan literasi gizi fungsional
Functional nutiriton literacy is a basic and important skill that a person needs and health promotion in an era of disease due to nutritional problems is increasing. This study aims to determine the associated between social determinants and functional nutrition literacy in first-year regular undergraduate students at Halu Oleo University. This research using cross-sectional, that takes data from Health Literacy Study 2019 at Halu Oleo University, Southeast Sulawesi Province (n=359). The measuremenet of nutritional literacy was carried out using The Newest Vital Sign (NVS), containing 6 questions regarding adapted nutrition labels. The analysis used multiple linier regressin, with functional nutrition literacy as the dependent variable and social determinants such as gender, ethnicity, residence status, pocket money, access to health services, and access to health information as independent variables. The results showed that the functional nutrition literacy level of the students was inadequate (M=2,47; SD=1,285). The results of multiple linear regression analysis showed a significant relationship between functional nutrition literacy scores and social determinantas, gender (β=0,30, p=0,019). These results indicate a weak relationship between social determinants and functional nutrition literacy. And efforts are needed to develop education related to nutrition labels to assist students to improve functional nutritional literacy
Read More
T-6032
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rita Kirana; Pembimbing: Zulazmi Mamdy
Abstrak:
Salah satu penyebab tingginya angka kematian Balita di Indonesia adalah diakibatkan penyakit diare. Angka diare yang didapat dari Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT, 1995) bila diproyeksikan pada semua golongan umur adalah 54/100.000 penduduk dan pada Balita terjadi kematian 55.000 (2,5il000 Balita). Propinsi Kalimantan Selatan mempakan daerah endemis diare. Berdasarkan Profil Kesehatan Kalimantan Selatan tahun 1995, telah teljadi tiga kali kejadian luar biasa (KLB) pada dua kabupaten yang mencakup 5 kecamatan dan 8 desa Di kota Banjarmasin sebagai ibukota Propinsi Kalimantan Selatan, menurut klasifikasi rawat jalan dan rawat inap di rumah sakit, diare menduduki urutan pertama dan rnenduduki urutan ke dua di Puskesmas. Dari data Profil Dinas Kesehatan kota Banjamlasin tahun 2000, salah satu upaya penanggulangan diare adalah dengan pemberian cairan rehidrasi oral (oralit) kemasan (92,69%) kepada penderita diare. Tujuan perlelilian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apakah yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam pemberian cairan rehidrasi oral di rumah pada Balita diare yang berobat ke Puskesmas se kota Banjamlasin tahun 2001. Rancangan penelitian ini adalah Cross Secrionai. Populasi adalah ibu-ibu yang mempunyai balita diare dau berobat ke Puskesmas so kota banjarmasin, sedangkan sampel adalah ibu-:ibu yang mempunyai balita diare yang berobat ke Puskesmas se kota Banjarrnasin pada bulan Maret tahun 2001 (Quora Sampling). Pengumpulan data dilakulcan dengan kuesioner dan wawancara langsung. Data kemudian diolah secara statistik dengan teknik analisis Chi Square dan Multiple Regression Logistic. Dari hasil analisis bivariat diketahui ada empat variabel yang mempunyai hubungan bemrakna terhadap perilaku ibu dalam pemberian cairan rehidrasi oral di rumah pada Balita diare, yaitu variabel pcndidikan, variabel pengerahuan, variabel sikap, dan variabel kerersediaan oairan rehidrasi oral. Sedangkan variabel nomra subyektif dan variabel rasa diketahui tidak ada hubungan yang bermalma dengan perilaku ibu dalam pemberian cairan rehidrasi oral di rumah pada Balita diare. Dari model Regression Logistic diketahui temyata variabel yang paling berhubungan dengan perilaku ibu dalam pemberian cairan rehidrasi oral di rumah pada balita diare adalah variabel sikap yang dinyatakan dengan nilai Odds Ratio terbesar yaitu 8,508 ( 95% CI = l,0/-l-9 - 68,98l). Yang berarti ibu yang bersikap positif kemungkinan memberikan cairan rehidrasi oral pada balitanya yang diare sebesar 8,508 kali lebih besar dibandingkan ibu yang bersikap negatif terhadap pemberian CRO pada balita diare. Sebagai saran unluk tindak lanjut, maka upaya yang sebaiknya dilalrukan oleh Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin adalah perlunya peningkatan dan pengembangan Program Pemberantasan Penyakit Menular Diare sehubungan dengan didapatkannya infomrasi dari penelitian ini tentang rendahnya pemberian cairan rehidrasi oral di rumah oleh ibu kopada balita diare. Bagi Puskesmas se kota Banjamrasin, disarankan agar lebih meningkatkan dan mengembangkan materi penyuluhan tentang diare dan cairan rehidrasi oral. Disarankan juga perlunya penelitian lebih lanj ut tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam pemberian cairan rehidrasi oral di rumah pada Balita diare, dengan melihat variabel-variabel lairmya, seperti, suku, tinglcat pendidikan suami, status pekerjaan dan lain-lain.

One ofthe causes of Child Mortality Rate in Indonesia is diarrhea. According to household health survey ( SKRT, l995) the incidence of diarrhea all age groups is 54/l00.000 and among child under tive years old is 55.000 deaths (2.5/l000). South Kalimantan is endemic area of diarrhea. Based on health profile of south Kalimantan 1995, there were three times diarrhea epidemic incidence. ln two regencies which covered 5 sub districts and S villages. While in Banjarmasin as capital of South Kalimaman, according to classification of medical treatment in hospital placed at first rank and second in public health center. From health office profile of Banjamiasin city 2000, one of effort to cope with diarrhea is provide oral rehydration fluid (92,69%) to patients. Objective of this research is to find out factors that related to mother?s behavior In The Use oral rehydration fluid at home to children under five years old with diarrhea who has taken medial care to public health centers in Banjanriasin city year 2001. This research use Cross Sectional Design. Population and sample are mothers which their children under tive years old get diarrhea and take medical care to public health centers in Banjarhidsih city, where as sample are mothers who brought their children under five years old get diarrhea and take medical care to public health centers in Banjarmasin city in March 2001 (Quola Sampling). Data collecting use questioner and interview. Data processed statistically and analyzed with Chi Square and Multiple Regression Logistic techniques. Bivariate analysis, should four variables were proved to be significant by correlated with mother?s behavior in the use oral rehydration fluid to children under five year old at home. They are education variable, knowledge variable, attitude variable and availability variable. While subjective nomi variable and taste variable found have no significant correlation with mother?s behavior In The Use oral rehydratiori fluid at home. From regression logistic model found the most significant variable related to mother behavior ln The Use oral rehydration fluid at home is attitude variable with Odds ratio 8,508 ( 95% Cl = 1,049 - 68,9811 From result of interaction test not found any significant correlation between variable. Based on result of this research health office of Banjarmasin should improve and develop of transmitted disease program for diarrhea because lack of mother's which giving their child with diarrhea with oral rehydration Fluid at home. For every public health centers in Banjarmasin, should improve and develop education matters about diarrhea and oral rehydration fluid. Other suggestion is conduct the other research with more variable, such as ethnic, husband education.
Read More
T-1008
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Wahyuni; Pembimbing: Ella Nurlaela; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Evi Martha, Santoso E Budiono
Abstrak: HIV/AIDS adalah masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian yang sangat serius. Hal ini terlihat dari jumlah kasus HIV/AIDS yang setiap tahunnya meningkat secara signifikan. Di Cilegon pada awal tahun 2005 diketahui hanya terdapat 5 orang penderita, namun hingga tahun 2015 terdapat 460 penderita ( Kasus HIV 316 orang, dan AIDS 144 orang). Tujuan penelitian untuk mengetahui determinan status HIV/AIDS di fasilitas kesehatan Kota Cilegon. Populasi penelitian adalah seluruh pasien yang mengunjungi klinik IMS di fasilitas kesehatan Cilegon, sedangkan sampel adalah pasien yang mengunjungi klinik IMS di fasilitas kesehatan Cilegon pada periode penelitian dan bersedia di wawancara. Desain case control dengan sampel sebanyak 88 responden terdiri dari 44 kasus, dan 44 kontrol. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan melihat medical record di 10 fasilitas kesehatan Cilegon. Analisiss dilakukan untuk melihat hubungan dan faktor yang paling dominan terhadap status HIV/AIDS. Variabel dependent adalah status HIV/AIDS, sedangkan yang diduga sebagai determinan status HIV/AIDS adalah umur, status pernikahan, pekerjaan, pendidikan, riwayat IMS, perilaku seksual, penggunaan narkotika suntik dan akses ke pelayanan kesehatan. Hasil analisis menunjukkan status pernikahan memiliki nilai p 0,001. Sedangkan pengguna narkotika suntik memiliki nilai p 0,008 dengan nilai OR 11,733. Pada uji interaksi semua variabel memiliki nilai p >0,05. Variabel yang berhubungan dengan status HIV/AIDS yaitu status pernikahan dan pengguna narkotika suntik, sedangkan variabel pendidikan, riwayat IMS, perilaku seksual dan akses ke pelayanan kesehatan adalah variabel confounding terhadap status HIV/AIDS. Pengguna narkotika suntik memiliki risiko 11 kali untuk terinfeksi HIV/AIDS. Dinas Kesehatan Cilegon dapat memberikan edukasi bagi penasun untuk tidak menggunakan jarum suntik secara bersama dan Komisi Penanggulangan AIDS dapat memfasilitasi penasun dengan menyediakan jarum suntik gratis yang disediakan di fasilitas kesehatan yang ditunjuk. Kata kunci : HIV/AIDS, penasun, perilaku seksual.
Read More
T-4968
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratih Dwi Puspitasari; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Ella Nurlaela Hadi, Ratna Asih Sri Rahayu
Abstrak:

Latar belakang: Kerusakan gigi pada anak sekolah menjadi masalah serius yang mengakibatkan terganggunya aktivitas sehari-hari. Literasi kesehatan berperan penting dalam kemampuan orang tua anak untuk mengakses, memahami, menilai dan menerapkan informasi kesehatan untuk mengambil keputusan terkait sikap tanggung jawab kesehatan. Puskesmas Pasir Jaya Kabupaten Tangerang memiliki 18 sekolah binaan program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) dengan persentase karies gigi sebanyak 69%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan literasi kesehatan dengan tanggung jawab kesehatan orang tua akan kesehatan gigi anak. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan survei melalui kuesioner. Jumlah sampel sebanyak 244 responden yang dipilih menggunakan purposive sampling. Instrumen yang digunakan meliputi HLS-EU-Q16 dan PACOH. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman rho. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran tautan kuesioner kepada orang tua serta koordinasi dengan pihak puskesmas dan wali kelas. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara literasi kesehatan orang tua dengan tanggung jawab akan kesehatan gigi anak dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,210 dengan nilai signifikansi 0,001 (p < 0,05). Kesimpulan: adanya hubungan positif antara literasi kesehatan dengan tanggung jawab kesehatan, meskipun berada pada kategori lemah.


Background: Dental caries among school-aged children remains a serious public health problem that can interfere with daily activities. Health literacy plays an important role in parents’ ability to access, understand, appraise, and apply health information when making decisions related to health responsibility. Pasir Jaya Primary Health Center, Tangerang Regency, supervises 18 schools under the School Dental Health Program (UKGS), with a dental caries prevalence of 69%. This study aimed to analyze the relationship between health literacy and parental health responsibility toward children’s oral health. Methods: This study employed a cross-sectional design with a survey approach using questionnaires. A total of 244 respondents were selected through purposive sampling. The instruments used were the HLS-EU-Q16 and PACOH questionnaires. Data were analyzed using the Spearman rho correlation test. Data collection was conducted by distributing a questionnaire link to parents and coordinating with the public health center and homeroom teachers. Results: There was a significant relationship between parental health literacy and responsibility for children’s dental health, with a correlation coefficient of 0.210 and a significance value of 0.001 (p < 0.05). Conclusion: There is a positive relationship between health literacy and health responsibility, although the strength of the relationship is categorized as weak.

Read More
S-12217
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive