Ditemukan 37518 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Nathanaet Putranto; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Iyin Listiyowati
Abstrak:
Bakteri Escherichia coli banyak ditemukan mengkontaminasi makanan jajanan anaksekolah dasar yang dapat meningkatkan risiko untuk terkena penyakit diare. Makananjajanan berisiko tinggi terkontaminasi bakteri E.coli karena diolah dan disajikan dalamkeadaan tidak higiene. Kelurahan Sempur di Kota Bogor adalah daerah tertinggi angkakejadian diarenya pada tahun 2016 dan berdasarkan penelitian yang dilakukan Aqmarina(2014), sebanyak 64,3% sampel makanan jajanan di salah satu Kelurahan Kota Bogorterkontaminasi bakteri E.coli. Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan antarahubungan E.coli pada makanan jajanan dengan diare akut pada anak SD di KelurahanSempur Kota Bogor Tahun 2019.Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectionaldengan metode kuesioner, observasi, serta pengambilan sampel makanan jajanankemudian dilakukan dengan analisis bivariat. Proses pengumpulan data dilakukan padabulan Mei 2019 dengan 132 responden dan 30 sampel makanan jajanan. Berdasarkananalisis statistik, hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikanantara keberadaan bakteri E.coli dalam makanan jajanan dengan kejadian diare akut padaanak SD (p= 0,016 ; OR=2,522). Jenis makanan jajanan juga berhubungan signifikandengan kejadian diare akut (p=0,048 ; OR=2,124). Kebiasaan cuci tangan jugaberhubungan signifikan dengan kejadian diare akut (p=0,031 ; OR=2,304). Sedangkanfrekuensi jajan dan sarana tempat sampah tidak terdapat hubungan yang signifikandengan kejadian diare akut.
Kata kunci : Anak Sekolah Dasar, Diare, Escherichia coli, Makanan jajanan.
Read More
Kata kunci : Anak Sekolah Dasar, Diare, Escherichia coli, Makanan jajanan.
S-10197
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yulia Praptiwi; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Sukanda
S-8801
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Irasdinar Yugitama Irawan; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ema Hermawati, Iyin Listiyowati
S-10196
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Bukroanah Amir Makkau; Pembimbing: I Made Djaja, Budi Hartono; Penguji: Dian Ayubi, Beben Saiful Bahri, Rahpirn Yuswani
Abstrak:
Makanan merupakan kebutuhan pokok namun dapat menyebabkan penyakit parah bahkan kematian dan sangat berisiko bagi anak-anak yang banyak menghabiskan waktu di sekolah. Sehingga mempersiapkan dan menjual makanan yang aman, penting di lakukan di kantin sekolah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan higiene sanitasi dengan kontaminasi bakteri Escherichia coli pada makanan kantin sekolah. Penelitian ini dilakukan dengan desain studi cross sectional pada 73 tempat penjualan makanan di kantin sekolah di Jakarta Timur pada bulan Maret-Juli Tahun 2019. Uji stastisik yang digunakan adalah chi square. Kontaminasi positif bakteri Escherichia coli pada makanan sebesar 30 (41,1%). Terdapat hubungan yang bermakna antara kontaminasi bakteri Escherichia coli dengan jenis makanan dengan nilai p = 0,045 dan OR = 2,642. Disarankan untuk melakukan program Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) pada proses pembuatan makanan untuk mengetahui titik kontaminasi, penyuluhan atau pelatihan higiene sanitasi, serta melengkapi fasilitas sanitasi
Read More
T-5562
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nurina Vidya Ayuningtyas; Pembimbing: Laila Fitria, Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Budi Hartono, Yulia Fitria Ningrum, Tutut Indra Wahyuni
Abstrak:
Menjaga kesehatan siswa sekolah dasar merupakan hal yang penting dilakukan karena siswa merupakan aset pada masa mendatang. Salah satu cara yang dapat kita lakukan antara lain, menjaga kualitas jajanan yang dijual di kantin sekolah. Bahaya biologi berupa kontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli) pada jajanan perlu mendapat perhatian karena terdapat strain E. coli patogen yang dapat memberikan dampak kesehatan. Salah satu strain E. coli patogen adalah Escherichia coli O157:H7 (E. coli O157:H7) yang dapat menyebabkan diare berdarah hingga gangguan ginjal terutama pada anak-anak. Sumber kontaminasi bakteri tersebut dapat berasal dari praktik higiene sanitasi yang tidak memenuhi syarat dan kontaminasi silang dari lingkungan seperti keberadaan hewan pembawa penyakit serta suhu dan waktu penyimpanan makanan matang yang tidak memenuhi syarat. Berlatarbelakang dari permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan higiene sanitasi dengan kontaminasi E. coli O157:H7 pada jajanan anak sekolah dasar di Kota Depok. Selain itu, peneliti juga melihat faktor lingkungan dan karakteristik individu pedagang kantin dalam mempengaruhi kejadian kontaminasi E. coli O157:H7 pada jajanan. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada November 2018 sampai dengan Maret 2019 dengan melibatkan 424 responden pedagang dan 424 sampel jajanan. Penelitian ini menggunakan pengolahan data chi square pada uji bivariat dan regresi logistik pada uji multivariat. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar pedagang kantin SD (91,3%) belum menerapkan praktik higiene sanitasi. Data mengenai kontaminasi jajanan diketahui sebanyak 51,7% terkontaminasi Coliform, 11,8% terkontaminasi E. coli, dan 9% terkontaminasi E. coli O157:H7. Jenis jajanan yang terkontaminasi bakteri Coliform dan E. coli sebagian besar merupakan jajanan yang menggunakan komposisi es, sedangkan jajanan yang terkontaminasi E. coli O157:H7 sebagian besar merupakan jajanan yang menggunakan komposisi telur dalam penyajian kepada konsumen (siswa). Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa higiene sanitasi yang tidak memenuhi syarat meningkatkan risiko kontaminasi E. coli O157:H7 sebesar 3,89 kali pada jajanan setelah dikontrol dengan faktor lingkungan (kepadatan lalat dan waktu penyimpanan makanan matang). Upaya perbaikan kondisi sanitasi di kantin Sekolah Dasar dan kualitas jajanan sekolah dapat dilakukan dengan menyediakan fasilitas penunjang dan melakukan pengawasan rutin terhadap praktik higiene sanitasi pedagang kantin. Selain itu, koordinasi dan kerja sama lintas sektor antara Sekolah dengan Dinas Kesehatan setempat dan pihak lainnya harus dijalankan untuk mengawasi praktik higiene sanitasi dan pemantauan kualitas jajanan sekolah secara rutin agar kualitas jajanan terjaga dengan baik.
Read More
T-5674
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Alifah Syafriyani; Pembimbing: I Made Djaja; Penguji: Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Makanan jajanan merupakan sumber pemenuhan gizi bagi anak-anak di sekolah. Akan tetapi, makanan jajanan khususnya yang dijual di Sekolah Dasar tidak selalu aman, dan juga rentan terkontaminasi Escherichia coli. Oleh karena itu, dilakukan penelitian ini untuk mengetahui hubungan higiene sanitasi makanan jajanan anak Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Medan Satria dan Jati Asih, Kota Bekasi dengan kontaminasi E.coli pada makanan jajanan. Subjek penelitian yaitu penjamah makanan jajanan di 15 SD Negeri dan Swasta Kecamatan Medan Satria dan Jati Asih, Kota Bekasi. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 16,4% (10 sampel) makanan jajanan positif terkontaminasi E.coli. Berdasarkan pengujian chi square terdapat hubungan yang bermakna antara variabel higiene sanitasi bahan makanan (OR=6,150), higiene sanitasi peralatan (OR=10,571), higiene sanitasi makanan jajanan (OR= 19,688) dan kondisi sarana penjaja (OR=19,688) terhadap terjadinya kontaminasi E.coli pada makanan jajanan anak SD di Kec. Medan Satria dan Jati Asih, Kota Bekasi. Dari hasil uji regresi logistik, didapatkan bahwa variabel paling dominan terhadap kontaminasi E.coli adalah kondisi sarana penjaja bersama dengan higiene sanitasi peralatan. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk mencegah terjadinya kontaminasi E.coli melalui penyuluhan, pelatihan, dan pembinaan higiene sanitasi makanan kepada penjamah makanan, penyediaan fasilitas sanitasi, dan program pemantauan kualitas makanan melalui inspeksi higiene sanitasi dan pengujian mikrobiologi makanan.
Kata kunci: Escherichia coli, makanan jajanan, sekolah dasar
Read More
Kata kunci: Escherichia coli, makanan jajanan, sekolah dasar
S-10005
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nuvia Manzilina Afrah; Pembimbing: I Made Djaja; Penguji: Budi Hartono, Verawaty Kasjmir
Abstrak:
Makanan jajanan berperan dalam pemenuhan kebutuhan energi siswa sekolah, tetapi jika tidak terjaga keamanannya justru berpotensi membahayakan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang memengaruhi kontaminasi bakteri Escherichia coli pada makanan jajanan di Sekolah Dasar Kecamatan Beji, Kota Depok. Penelitian menggunakan desain studi cross sectional. Data yang digunakan merupakan data primer, yang terdiri dari hasil uji laboratorium pada 37 sampel makanan dan hasil wawancara dengan 37 penjamah makanan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan 29,7% sampel makanan yang diuji terkontaminasi Escherichia coli. Analisis bivariat dengan uji chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kontaminasi bakteri Escherichia coli dengan pemilihan bahan makanan (p=0,042) dan pengolahan makanan (p=0,003). Sedangkan faktor pelatihan, pengetahuan, perilaku, higiene sanitasi peralatan, higiene sanitasi tempat penyajian makanan, penyimpanan bahan makanan, dan penyajian makanan tidak memiliki hubungan yang signifikan. Berdasarkan analisis multivariat dengan regresi logistik, faktor yang paling berpengaruh terhadap kontaminasi bakteri Escherichia coli yaitu faktor pengolahan makanan (p=0,005). Oleh karena itu, penjamah makanan di sekolah dasar Kecamatan Beji perlu diberikan pembinaan terkait personal hygiene dan higiene sanitasi makanan untuk mengurangi kontaminasi bakteri Escherichia coli pada makanan jajanan.
Kata kunci: Escherichia coli, kontaminasi makanan, kantin, sekolah dasar
School canteen food have an important role in completing the energy needs of primary school students, but if the food safety is not protected, the foods is potentially harmful to health. The objective of this research is to analyze factors affecting Escherichia coli bacteria contamination on the school canteen food at primary schools located in Beji Subdistrict. The design of this study is cross sectional. All the data collected in this research are primary data, which include the laboratory test results of 37 food samples and direct interview results with 37 food handlers using questionnaire. The research shown that 29,7% of food samples is contaminated with Escherichia coli bacteria. Bivariate analysis using chi-square shows that there are significant correlation between raw food materials selection (p=0,042) and food procession (p=0,003) with Escherichia coli bacteria contamination. However, other factors such as training, knowledge, behavior, hygiene and sanitation of cooking utensils, hygiene and sanitation of food serving place, raw food materials storage, and food serving have no significant correlation towards Escherichia coli bacteria contamination. Based on multivariate analysis using logistic regression, the most affecting factor of Escherichia coli bacteria contamination on the street food is food procession (p=0,005). Therefore, personal hygiene and food hygiene and sanitation training need to be conducted to the food handlers at Beji Subdistrict primary schools in order to minimize the Escherichia coli food contamination.
Key words: Escherichia coli, food contamination, canteen, primary school
Read More
Kata kunci: Escherichia coli, kontaminasi makanan, kantin, sekolah dasar
School canteen food have an important role in completing the energy needs of primary school students, but if the food safety is not protected, the foods is potentially harmful to health. The objective of this research is to analyze factors affecting Escherichia coli bacteria contamination on the school canteen food at primary schools located in Beji Subdistrict. The design of this study is cross sectional. All the data collected in this research are primary data, which include the laboratory test results of 37 food samples and direct interview results with 37 food handlers using questionnaire. The research shown that 29,7% of food samples is contaminated with Escherichia coli bacteria. Bivariate analysis using chi-square shows that there are significant correlation between raw food materials selection (p=0,042) and food procession (p=0,003) with Escherichia coli bacteria contamination. However, other factors such as training, knowledge, behavior, hygiene and sanitation of cooking utensils, hygiene and sanitation of food serving place, raw food materials storage, and food serving have no significant correlation towards Escherichia coli bacteria contamination. Based on multivariate analysis using logistic regression, the most affecting factor of Escherichia coli bacteria contamination on the street food is food procession (p=0,005). Therefore, personal hygiene and food hygiene and sanitation training need to be conducted to the food handlers at Beji Subdistrict primary schools in order to minimize the Escherichia coli food contamination.
Key words: Escherichia coli, food contamination, canteen, primary school
S-9656
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sri Ani; Pembimbing: I Made Djaja; Penguji: Tri Yunis Miko, Agustin Kusumayati, Shinta Silaswati, Fauzi Suherman
T-2715
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aria Kusuma; Promotor: Haryoto Kusnoputranto; KoPromotor: I Made Djaja, Rizal Syarief; Ketua sidang: Bambang Wispriyono; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Kusharisupeni, Saptawati Bardosono, Ririn Arminsih Wulandari, Anies Irawati
D-259
Depok : FKM-UI, 2012
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dwi Sisca Kumala Putri; Promotor: Endang Laksminingsih Achadi; Kopromotor: Hartono Gunardi, Yekti Widodo; Penguji: Ahmad Syafiq, Besral, Kusharisupeni Djokosujono, Abas Basuni Jahari
Abstrak:
Read More
ABSTRAK Pertumbuhan pada masa janin, dengan berat dan panjang badan lahir sebagai titik tertinggi pencapaiannya, dapat mempengaruhi pertumbuhan pada masa baduta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola gagal tumbuh linier, terutama waktu kejadian pertama kali melambatnya pertumbuhan dan besarnya perubahan pencapaian PB (Δ z-score PB/U) pada rentang umur 0-6, 6-12, dan 12-23 bulan berdasarkan status berat dan panjang badan lahir. Selain itu juga bertujuan mengetahui pengaruh status berat dan panjang lahir serta faktor risiko lainnya terhadap kejadian pertama kali melambatnya pertumbuhan dan juga terhadap perubahan pencapaian PB. Penelitian ini merupakan penelitian kohort prospektif dengan sampel sebanyak 408 anak responden Studi Kohor Tumbuh Kembang Anak di Kota Bogor Tahun 2012 – 2019. Variabel dependen pada penelitian ini ialah waktu kejadian pertama kali melambatnya pertumbuhan dan perubahan pencapaian PB (Δ z-score PB/U). Variabel independen utama pada penelitian ini ialah status berat dan panjang badan lahir. Pertumbuhan linier didefinisikan melambat jika linear growth velocity interval 3 bulan selama dua interval berturut-turut berada di bawah persentil ke-25 standar growth velocity WHO. Penelitian ini menunjukkan bahwa separuh anak SGA melambat pertumbuhannya sebelum umur 10 bulan dan separuh anak normal melambat pertumbuhannya sebelum umur 9 bulan. Penurunan z-score (Δ z-score PB/U) terbesar ialah pada rentang umur 0 – 6 bulan, sebesar -0,94 pada anak normal dan -0,4 pada anak SGA. Sedangkan pada rentang 6 – 12 bulan sebesar -0,33 pada anak normal dan -0,23 pada anak SGA. Dan pada umur 12 – 23 bulan sebesar -0,18 pada anak normal dan -0,03 pada anak SGA. Anak SGA memiliki risiko 10 persen lebih rendah untuk mengalami kejadian pertama kali melambatnya pertumbuhan pada masa baduta setelah dikontrol lama pemberian ASI, namun secara statistik tidak bermakna. Anak yang diberi ASI < 12 bulan memiliki risiko 50 persen lebih rendah untuk mengalami perlambatan pertumbuhan pertama kali pada masa baduta. Status SGA berpengaruh positif terhadap Δ z-score PB/U Pada periode umur 0 – 6 bulan dan 6 – 12 bulan, namun berpengaruh negatif pada periode umur 12 – 23 bulan. Lama pemberian ASI < 12 bulan juga berpengaruh positif terhadap Δ z-score PB/U. Sedangkan frekuensi ISPA > 50% bulan pengamatan dan asupan seng < EAR berpengaruh negatif terhadap Δ z-score PB/U. Melambatnya kecepatan pertumbuhan linier pertama kali dan penurunan z-score PB/U terbesar, baik pada anak SGA maupun normal, terjadi pada masa bayi. Oleh karena itu pemantauan pertumbuhan linier harus dilakukan lebih ketat pada masa bayi, terutama sebelum umur 9 atau10 bulan. Anak SGA tidak dapat mengejar pencapaian panjang badan anak normal, meskipun memiliki kecepatan pertumbuhan yang secara signifikan lebih cepat di awal masa bayi. Hal tersebut menunjukkan bahwa program pencegahan anak pendek harus dimulai lebih dini, yaitu sejak masa prenatal untuk mencegah bayi lahir SGA. Kata Kunci: gagal tumbuh linier, berat badan lahir, panjang badan lahir.
ABSTRACT Fetal growth, with birth weight and birth length as its culmination, influences the linear growth during the first two years of life. This study aimed to identify the pattern of linear growth failure, mainly the onset of growth deceleration and the changes in the Length-for-Age Z-score (LAZ). Furthermore, this study investigated the risk of birthweight and length status and other factors to the onset of growth deceleration and the changes in the LAZ. This study is a prospective cohort study. This study analyzed 408 children, the participants of the Cohort Study on Child Growth and Development in Kota Bogor between 2012 – 2019. The dependent variables were the time to onset of the growth deceleration and the changes of LAZ (Δ LAZ) at the age interval of 0-6, 6-12, and 12-23 months. The main independent variable was birthweight and length status. The linear growth was defined decelerate when the two consecutive 3-month length increments fall below the 25th percentile of The WHO Child Growth Standard. This study showed that half of the SGA children experience the growth deceleration onset before 10 months, while half of normal children experience it before 9 month of age. The substantial losses occurred between 0-6 months and the LAZ declined by -0,94 z-score in normal children and -0,4 z-score in SGA children. While between 6-12 months, the decline was -0,33 z-score in normal children and 0,23 z-score in SGA children. And between 12-23 months, the decline was -0,18 z-score in normal children and -0,03 z-score in SGA children. The SGA children had a 10 percent lower risk than normal children to experience the onset of growth deceleration, adjusted by the duration of breastfeeding, but statistically insignificant. The children breastfed less than 12 months had a 50 percent lower risk to experience the onset of growth deceleration than children breastfed more than ≥ 23 months. The SGA status had a positive effect on the Δ LAZ in the age period of 0 – 6 months and 6 – 12 months but had a negative effect in the age period of 12 – 23 months. The duration of breastfeeding < 12 months also had a positive effect on Δ LAZ. While upper respiratory tract infection frequency of more than 50% of the observation month and seng intake less than Estimated Average Requirement, had a negative effect on Δ LAZ. The onset of the deceleration in linear growth and the substantial loss of LAZ, in SGA and normal children, occurred in the early period of infancy. Therefore, the linear growth should be monitored strictly and regularly in the period of infancy, especially before 9 or 10 months. The SGA children could not catch up with the normal children’s attained growth. Therefore, the stunting prevention program should start early, from the prenatal period to reduce the risk of SGA. Keywords: growth failure, birthweight, birth length
D-492
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
