Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36927 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Resky Syam; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Asih Setiarini, Triani Posma Rohana
S-10259
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hesti Atasasih; Pembimbing: Endang Laksminingsih; Penguji: Besral; Tiara Lutfie; Asril
Abstrak:

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan linier yang disebabkan oleh kekurangan asupan zat gizi dan / atau penyakit infeksi kronis berulang yang ditunjukkan dengan nilai z-score tinggi badan menurut usia (TB/U) < -2 SD. Prevalensi stunting di provinsi Riau  25,1% sedangkan Kota Pekanbaru sebesar 23.9% berdasarkan hasil PSG 2017, hal ini sudah  termasuk dalam kategori masalah kesehatan masyarakat. Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian  stunting pada anak  usia 6 - 23 bulan di  Kota Pekanbaru tahun 2018. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik, desain penelitian cross sectional dengan pendekatan kuantitatif, pengambilan sampel  menggunakan teknik multi stage random sampling (CI 95 %) dan (1-β 80%), didapatkan sampel sebanyak 269 anak. Data dikumpulkan melalui  wawancara, food recall  2x24 jam. Pengolahan dan analisis data menggunakan uji chi square (bivariat) dan regresi logistik ganda (multivariat). Hasil penelitian menunjukkan prevalensi  stunting  26,8%. Hasil bivariat menunjukkan ada hubungan  yang signifikan antara berat lahir,  riwayat pemberian ASI Eksklusif, asupan protein dan zink, serta  panjang lahir dengan kejadian stunting (CI 95%). Analisis multivariat menunjukkan berat lahir merupakan faktor dominan  yang berhubungan dengan kejadian stunting dengan  nilai OR 2,712 (95% CI : 1,373 -5,359). Kesimpulan penelitian ini adalah berat lahir merupakan faktor dominan berhubungan dengan kejadian stunting. Kata Kunci : stunting, berat badan lahir, anak usia 6 – 23 bulan


Stunting is a linear growth disorder caused by a deficiency in nutrient intake and / or chronic recurrent infectious diseases as indicated by the z-score score of height by age (TB / U) <-2 SD. The prevalence of stunting in Riau is 25.1% while Pekanbaru is 23.9% based on PSG 2017 results, it is included in the category of public health problem. The purpose of research is to know factors related to stunting in toddlers aged 6 - 23 months in Pekanbaru 2018. This research use analytic observational method, cross sectional research design with quantitative approach, using multi stage random sampling technique (95% CI) and (1-β 80%), obtained a sample of 269 toddlers. Data collected through interviews, food recall 2x24 hours. Processing and data analysis using chi square test (bivariate) and multiple logistic regression (multivariate). The results showed the prevalence of stunting 26.8%. Bivariate results showed significant relationship between birth weight, exclusive breastfeeding, protein and zinc intake, and birth length with stunting (95% CI). Multivariate analysis showed that birth weight was the dominant factor associated with stunting with OR of 2,712 (95% CI: 1,373 -5,359). The conclusion of this study is birth weight is the dominant factor associated with stunting. Keyword: stunting, birth weight, toddlers 6-23 months

Read More
T-5182
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irfani Aisya Siregar; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Fajrinayanti, Trini Sudiarti
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan faktor-faktor yang berhubungan dengan dengan kejadian underweight pada anak berusia 24-30 bulan berdasarkan faktor resikonya, seperti: asupan gizi, riwayat penyakit infeksi, riwayat BBLR, pola asuh, dan karakteristik keluarga di Kelurahan Jatinegara dan Pulogebang, Kecamatan Cakung, Kota Jakarta Timur pada tahun 2019. Penelitian dilakukan dengan desain studi potong lintang dan menggunakan data sekunder yang diambil pada bulan Mei 2019 dengan jumlah responden sebanyak 221 orang. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi square untuk data kategorik dan uji mann whitney untuk data numerik tidak terdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 16,7% anak berusia 24-30 bulan mengalami underweight. Analisis bivariat dengan menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian underweight dengan asupan energi, asupan protein, dan asupan vitamin A pada anak berusia 24-30 bulan di Kecamatan Cakung Jakarta Timur pada tahun 2019.
This study aims to determine the description and factors associated with the incidence of underweight in children aged 24-30 months based on risk factors, such as: nutritional intake, history of infectious diseases, history of low birth weight, feeding practices, and family characteristics in Jatinegara and Pulogebang Villages, Cakung Subdistrict, East Jakarta in 2019. The research was conducted with a cross-sectional design and used secondary data taken in May 2019 with a total of 221 respondents. Data analysis was performed using the chi square test for categorical data and the Mann Whitney test for non-normally distributed numerical data. The results showed that as many as 16.7% of children aged 24-30 months were underweight. Bivariate analysis showed that there was a significant relationship between the incidence of underweight and energy intake, protein intake, and vitamin A intake in children aged 24-30 months in Cakung District, East Jakarta in 2019.
Read More
S-11106
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nazlia Anjani; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Farida Ariyyani
Abstrak:
Wasting merupakan bentuk kekurangan gizi yang merepresentasikan berat badan balita kurus berdasarkan tinggi badan. Pada tahun 2022 berdasarkan data dari SSGI prevalensi wasting di DKI Jakarta lebih tinggi (8%) dibanding prevalensi nasional (7.7%). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian wasting pada balita usia 0-23 bulan di DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari SSGI 2022 dengan desain studi cross sectional dan metode stratified two stage sampling. Jumlah sampel yang digunakan sebesar 1192. Analisis data yang digunakan adalah chi-square, regresi logistik sederhana, dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian didapatkan 8.47% balita mengalami wasting. Analisis bivariat menggunakan CI 95% didapatkan terdapat hubungan yang bermakna antara usia balita dengan kejadian wasting pada balita usia 0-23 bulan di DKI Jakarta (p value 0.043) tetapi tidak terdapat hubungan yang bermakna dengan jenis kelamin, tingkat pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, diare, ISPA, cacingan, TB paru, ASI eksklusif, status imunisasi, kunjungan ANC, MDD, IMD, kepemilikan KIA, pemberian vitamin A, PMT, BBLR, ketahanan pangan, sumber air minum, dan ketersediaan jamban. Analisis multivariat diperoleh tingkat pendidikan ibu merupakan faktor protektif dengan kejadian wasting (OR=0.467). Hasil uji interaksi diperoleh terdapat interaksi antara pendidikan ibu dengan infeksi ISPA (pvalue 0.030) dan TB paru (p value 0.021).

Wasting is a form of malnutrition that represents the weight of thin children based on height. In 2022, based on data from SSGI, the prevalence of wasting in DKI Jakarta was higher (8%) compared to the national prevalence (7.7%). The purpose of this study is to determine the factors associated with wasting in children aged 0-23 months in DKI Jakarta. This study used secondary data from SSGI 2022 with a cross-sectional study design and stratified two-stage sampling method. The sample size used was 1192. Data analysis used chi-square, simple logistic regression, and multiple logistic regression. The research found that 8.47% of children experienced wasting. Bivariate analysis using 95% CI found a significant correlation between the age of children with wasting among children in 0-23 months of age in DKI Jakarta (p-value 0.043), but there was no significant correlation with gender, mother’s education level, maternal occupation status, diarrhea, ARI, helminthiasis, pulmonary TB, exclusive breastfeeding, immunization status, ANC visits, MDD, IMD, ownership of KIA, vitamin A supplementation, PMT, LBW, food security, source of drinking water, and availability of toilets. Multivariate analysis found that maternal education level was a protective factor against wasting (OR=0.467). Interaction analysis found interactions between maternal education level and ARI infection (p-value 0.030) and pulmonary TB (p-value 0.021).
Read More
S-11727
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Paramitha Anisa; Pembimbing: Yvonne Magdalena Indrawani; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Rahmawati
S-7224
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kholifah Uswatun Khasanah; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Eti Rohati, Ahmad Syafiq
Abstrak: Diare merupakan salah satu penyakit infeksi yang menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas anak serta sering menimbulkan terjadinya KLB di beberapa provinsi di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada baduta di Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan, Kota Depok tahun 2020. Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan menggunakan desain studi cross-sectional. Variabel kejadian diare pada baduta digunakan sebagai variabel dependen, sementara variabel independen menggunakan data karakteristik lingkungan, perilaku, gizi, dan sosiodemografi. Data kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 11,3% baduta mengalami diare dalam 1 bulan terakhir. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jarak SGL/SPT dengan TPA/TPS, kebiasaaan memotong kuku baduta, riwayat ASI Eksklusif dan penghasilan kepala rumah tangga dengan kejadian diare pada baduta usia 6-24 bulan.
Diarrhea is an infectious disease that causes child morbidity and mortality and often causes outbreaks in several provinces in Indonesia. The purpose of this study was to determine the factors associated with the incidence of diarrhea in children under two in the Pasir Putih Village, Sawangan District, Depok City in 2020. This study used secondary data with a cross-sectional study design. Incidence of diarrhea in children under two was used as the dependent variable, while the independent variable used was environmental, behavioral, nutritional, and sociodemographic characteristics. The data were then analyzed by univariate and bivariate analysis. The results showed that as many as 11.3% of children under two experienced diarrhea in the last 1 month. The results of the bivariate analysis showed that there was a significant relationship between the distance of well from nearest landfill/laystall, the habit of cutting children's nails, the history of exclusive breastfeeding and the income of the head of the household with the incidence of diarrhea in children aged 6-24 months.
Read More
S-11102
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rayhana; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Putra, Wahyu Kurnia Yusrin, Anies Irawati
Abstrak: Prevalensi anemia anak di Indonesia, berdasarkan data Riskesdas tahun 2013, sebanyak 28,1%. Angka ini meningkat dari sebelumnya di tahun 2007 hanya sebesar 27,7%. Lalu meningkat lagi di tahun 2018 pada riskesdas menunjukan angka 38,5%. Hasil penelitian Zuffo et al., 2016); Prieto-Patron et al., 2018; Li et al., 2019; Woldie, Kebede and Tariku, 2015; Konstantyner, Roma Oliveira and De Aguiar Carrazedo Taddei, 2012 menunjukan bahwa kelompok yang lebih berisiko menderita anemia adalah usia 0-23 bulan. Penelitian di Bali tahun 2019 juga menunjukan hasil yang sama bahwa sebanyak 71% anak berusia dibawah dua tahun menderita anemia, sedangkan hanaya 9% anak usia diatas dua tahun yang menderita anemia. Untuk itu penelitian ini perlu dilakukan agar dapat diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia baduta di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui prevalensi kejadian anemia baduta di Indonesia dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia baduta di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Riskesdas tahun 2018. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 832 anak. Penelitian ini juga melakukan uji multivariat yaitu regresi logistic, untuk mengetahui faktor dominan kejadian anemia pada baduta di Indonesia. Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa prevalensi anemia baduta mencapai 54,9%. Pada penelitian ini usia baduta 0-11 bulan [OR 1,770 (1,33-2,34)], status gizi wasting [OR 1,626 (1,03-2,55)], status gizi underweight [OR 1,556 (1,05-2,33)], pendidikan ibu rendah [OR 2,512 (1,39-4,54)], pendidikan ibu menengah [OR 1,893(1,07-3,32)], dan wilayah rumah tinggal perdesaan [OR 1,386 (1,05-1,82)] ditemukan beruhubungan signifikan dengan kejadian anemia baduta. Variabel paling dominan yang ditemukan adalah usia baduta. Oleh karena itu, disarankan bagi dinas kesehatan di Indonesia untuk menanggulangi anemia diharapkan posyandu dan puskesmas dapat sedini mungkin mendeteksi anemia pada anak, yakni pada rentang usia 3-5 bulan, atau setidaknya sesuai dengan rekomendasi skrining pertama anemia yakni, pada usia maksimal 9-12 bulan. Juga, diharapkan dapat menyediakan suplementasi yang cukup dan memadai baik untuk baduta maupun ibu hamil.
The prevalence of anemia in children in Indonesia, based on data from Indonesia Based Health Research in 2013, was 28.1%. This figure increased from the previous year in 2007 which was only 27.7%. Then it increased again in 2018 at riskesdas showing the figure of 38.5%. Research results Zuffo et al., 2016); Prieto-Patron et al., 2018; Li et al., 2019; Woldie, Kebede and Tariku, 2015; Konstantyner, Roma Oliveira and De Aguiar Carrazedo Taddei, 2012 showed that the group at higher risk for anemia was aged 0-23 months. Research in Bali in 2019 also showed the same results that as many as 71% of children under two years of age suffer from anemia, while only 9% of children aged over two years suffer from anemia. For this reason, this research needs to be carried out in order to know the factors associated with the incidence of anemia in under-two in Indonesia. The purpose of this study was to determine the prevalence of anemia in under-two in Indonesia and the factors associated with the incidence of anemia in under-two in Indonesia. This study uses secondary data from Indonesia Based Health Research 2018. The research design used is cross-sectional with a total of 832 children as respondents. This study also conducted a multivariate test, namely logistic regression, to determine the dominant factor in the incidence of anemia in children under two in Indonesia. Based on the results of the analysis, it is known that the prevalence of anemia in under-two reaches 54.9%. In this study, children aged 0-11 months [OR 1.770 (1.33-2.34)], nutritional status wasting [OR 1.626 (1.03-2.55)], nutritional status underweight [OR 1.556 (1.05 -2.33)], low maternal education [OR 2.512 (1.39-4.54)], secondary maternal education [OR 1.893(1.07-3.32)], and rural area of residence [OR 1.386 (1.05-1.82)] was found to be significantly associated with the incidence of anemia in under-two. The most dominant variable found was the children age. Therefore, it is recommended for health offices in Indonesia to overcome anemia, it is hoped that posyandu and puskesmas can detect anemia in children as early as possible, namely in the age range of 3-5 months, or at least according to the recommendation for the first screening for anemia, namely, at a maximum age of 9-12 month. Also, it is expected to provide adequate and adequate supplementation for both children and pregnant women.
Read More
S-10987
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Early Vici Azmia; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Trini Sudiarti, Salimar
Abstrak:
Prevalensi balita wasting di Indonesia tahun 2022 sebesar 7,7%, menurut WHO masalah wasting ini sudah termasuk masalah kesehatan masyarakat yang buruk. Wasting adalah masalah gizi pada balita yang berdampak pada morbiditas dan mortalitas. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian wasting pada balita usia 6–59 bulan di Kelurahan Cimpaeun Kota Depok Tahun 2023. Penelitian ini dilakukan pada bulan April–Juni 2023, menggunakan desain cross-sectional, metode proportionate stratified random sampling dengan sampel penelitian 136 balita usia 6–59 bulan. Data dianalisis univariat dan bivariat menggunakan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan 9,6% balita usia 6–59 bulan di Kelurahan Cimpaeun Kota Depok Tahun 2023 menderita wasting, dan termasuk pada masalah kesehatan masyarakat yang buruk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asupan energi, asupan protein, pengetahuan gizi ibu, dan pendapatan keluarga berhubungan dengan kejadian wasting pada balita usia 6–59 bulan. Risiko wasting lebih tinggi pada balita dengan asupan energi dan protein yang kurang, pengetahuan gizi ibu yang kurang, serta pendapatan keluarga yang rendah.

The prevalence of wasting under five in Indonesia in 2022 is 7.7%, according to WHO this wasting problem is a bad public health problem. Wasting is a nutritional problem in toddlers that has an impact on morbidity and mortality. The research objective was to determine the factors associated with wasting in toddlers aged 6–59 months in Cimpaeun Village in 2023. This research was conducted in April–June 2023, using a cross-sectional design, proportionate stratified random sampling method with a research sample of 136 toddlers aged 6–59 months. Data were analyzed univariately and bivariately using chi-square. The results showed that 9.6% of toddlers aged 6–59 months in the Cimpaeun Village in 2023 were suffering from wasting, and this is a bad public health problem. The results showed that energy intake, protein intake, mother's nutritional knowledge, and family income were associated with wasting in toddlers aged 6–59 months. The risk of wasting is higher for toddlers with less energy and protein intake, less knowledge of mother's nutrition, and low family income.
Read More
S-11394
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fiddlin Nurani Qomara Putri; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Sandra Fikawati, Kusharisupeni
Abstrak:
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang ditandai dengan nilai tinggi badan menurut umur (TB/U) atau panjang badan menurut umur (PB/U) berada di bawah -2 standar deviasi standar pertumbuhan anak WHO. Kejadian stunting bersifat multifaktorial dan dipengaruhi oleh faktor anak, pola asuh dan pemberian makan, kondisi kesehatan, karakteristik ibu, serta faktor lingkungan dan sanitasi. Dampak stunting tidak hanya berupa hambatan pertumbuhan fisik, tetapi juga gangguan perkembangan kognitif, peningkatan risiko PTM pada usia dewasa, serta menurunnya produktivitas. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Provinsi Sulawesi Barat tahun 2024 mencapai 35,4%, jauh di atas prevalensi nasional (19,8%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Sulawesi Barat tahun 2024. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain cross sectional yang meneliti data sekunder SSGI 2024 dengan jumlah sampel 713 anak serta metode pemilihan sampel yaitu total sampling. Data dianalisis menggunakan uji chi square, fischer test, dan regresi logistik ganda dengan analisis bivariat menghasilkan adanya hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, berat badan lahir, panjang badan lahir, pola konsumsi susu, sumber air minum rumah tangga, tingkat pendidikan ibu, dan pengetahuan/sikap ibu terkait stunting dengan kejadian stunting pada anak 6-23 bulan di Sulawesi Barat. Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara riwayat IMD, ASI eksklusif, konsumsi protein hewani, Minimum Acceptable Diet (MAD), riwayat penyakit infeksi, kepemilikan jamban, dan status pekerjaan terhadap kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Sulawesi Barat tahun 2024. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor dominan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Sulawesi Barat tahun 2024 adalah berat badan lahir (aOR = 3,05) yang berarti anak dengan berat badan lahir rendah memiliki peluang 3,05 kali lebih besar untuk mengalami stunting.

Stunting is a condition of growth failure characterized by a height-for-age (HAZ) or length-for-age (LAZ) below -2 standard deviations of the WHO Child Growth Standards. Stunting is a multifactorial condition influenced by child characteristics, feeding practices, health status, maternal factors, as well as environmental and sanitation conditions. The impact of stunting includes not only impaired physical growth but also cognitive developmental delays, an increased risk of non-communicable diseases (NCDs) in adulthood, and reduced productivity. Based on the Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI), the prevalence of stunting in West Sulawesi Province in 2024 was 35.4%, which is considerably higher than the national prevalence (19.8%). This study aimed to identify the dominant factors associated with stunting among children aged 6-23 months in West Sulawesi in 2024. This quantitative study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2024 SSGI. A total of 713 children were included through total sampling. Data were analyzed using the Chi-square test, Fisher's exact test, and multiple logistic regression. Bivariate analysis showed significant associations between child sex, birth weight, birth length, milk consumption pattern, household drinking water source, maternal education level, and maternal knowledge and attitudes regarding stunting with the occurrence of stunting among children aged 6-23 months in West Sulawesi. However, no significant associations were found between early initiation of breastfeeding, exclusive breastfeeding, animal-source protein consumption, Minimum Acceptable Diet (MAD), history of infectious diseases, household latrine ownership, maternal employment status, and stunting. Multivariate analysis identified low birth weight as the dominant factor associated with stunting (aOR = 3.05), indicating that children with low birth weight were 3.05 times more likely to experience stunting than those with normal birth weight.
Read More
S-12348
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmi Ariyani; Pembimbing: Endang Laksminingsih; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Besral, Tiara Lutfie, Asril
Abstrak: abstrak Stunting merupakan salah satu permasalahan status gizi di Indonesia. 1 dari 3 anak di. Indonesia mengalami stunting. Indonesia masuk 5 besar negara yang memiliki prevalensi stunting tertinggi (37,2%) di dunia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita usia 12-59 bulan. Metoda Desain penelitian adalah cross-sectional. Sampel penelitian ini pada Indonesia Family Life Survey (1FLS) yaitu anak yang berusia 12-59 bulan tahun 2014 sebesar 1442 orang. Data dianalisis dengan regresi logistik. Hasil: Hubungan yang signifikan antara stunting dengan berat lahir, jenis kelamin, riwayat penyakit infeksi, usia ibu saat hamil, pendidikan ibu, pendidikan ayah, tinggi badan ibu, tinggi badan ayah, wilayah tempat tinggal, sanitasi dasar dan fasilitas air bersih. Balita yang memiliki berat lahir <2500 gram kemungkinan mengalami stunting 2,58 setelah dikontrol dengan faktor-faktor lainnya. Kesimpulan: Berat lahir menjadi salah satu faktor risiko penting dalam stunting. Untuk mencegah peningkatan stunting memerlukan program intervensi yang spesifik dan sensitif. Penanganan sejak dini khususnya 1000 Hari Pertama Kehidupan melalui kualitas pemeriksaan ibu hamil, pemantauan penambahan berat badan ibu selama hamil,serta pemberian minimal 90 tablet tambah darah. Kata Kunci :Stunting, Berat Lahir, 1000 Hari Pertama Kehidupan Stunting is one of nutritional problems in Indonesia. 1 of 3 children in Indonesia has stunting. Indonesia entered the top 5 countries that have the highest stunting prevalence (37.2%) in the world. Objectives: This study aims to find out the risk faktors stunting in children aged 12-59months. Methods: The study design was cross-sectional. This study took samples on Indonesia Family Life Survey (1FLS) that were 1442 children aged 12-59 months in 2014. Data analysis applied logistic regression. Results: Significant association between stunting and birth weight, sex, history of infectious diseases, maternal age during pregnancy, maternal education, father's education, maternal height, father's height, residence area, basic sanitation and clean water facilities. Children who have birth weight <2500 grams are likely to have stunting 2.58 after controlled with other factors.Conclusion: Birth weight is an important risk factor in stunting. To prevent stunting increases requires a specific and sensitive intervention program. Early handling, especially the First 1000 Days of Life through the quality of pregnant women's examination, monitoring of maternal weight gain during pregnancy, and giving at least 90 tablets plus blood. Keywords: Stunting, Birth Weight, 1000 Days of Life
Read More
T-5179
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive