Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41997 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Galuh Widyastuti; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Ika Dewi Subandiyah
Abstrak: Penyakit tuberkulosis (TB) adalah salah satu penyakit menular yang telah lama menjadi isu global dan menjadi salah satu isu kesehatan prioritas di Indonesia. Sepanjang tahun 2018, ditemukan sebanyak 566.623 kasus tuberkulosis di seluruh Indonesia yang disertai dengan penurunan angka keberhasilan pengobatan (success rate) dibandingkan tahun sebelumnya (2017). Khususnya di provinsi DKI Jakarta, daerah Jakarta Selatan memiliki success rate tuberkulosis terendah sebesar 21,68% di tahun 2018. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan awal (korelasi) antara faktor kepadatan penduduk, individu, dan pelayanan kesehatan dengan insidens tuberkulosis di Jakarta Selatan pada tahun 2018. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi berdasarkan tempat yang mencakup 10 kecamatan di wilayah Jakarta Selatan. Hasil studi menunjukan adanya korelasi yang cukup kuat dan berpola negatif (r= -0,314) antara kepadatan penduduk dengan insidens TB dan korelasi yang cukup kuat dan berpola positif (r= 0,284) antara faktor usia dengan insidens TB. Sedangkan, faktor cakupan pengobatan TB memiliki korelasi yang lemah (r= 0,116) dan berpola positif dan faktor success rate TB memiliki korelasi yang lemah (r= -0,109) berpola negatif. Sementara, tren di setiap tempat menunjukan perbandingan penderita TB berjenis kelamin laki-laki yang lebih banyak daripada perempuan. Pada penelitian ini, hanya ditemukan hubungan yang signifikan pada variabel kepadatan penduduk dengan insidens TB (p= 0,011). Sementara, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara faktor individu (p= 0,426), cakupan pengobatan TB (p= 0,751), dan success rate TB (p= 0,765).
Kata Kunci: tuberkulosis, kepadatan penduduk, faktor individu, faktor pelayanan kesehatan, studi ekologi.

Tuberculosis (TB) is one of communicable disease that has become a global issue and also a prioritized health issue in Indonesia. In 2018, 566.623 cases of TB were found in Indonesia along with the decreasing number of the national success rate compare to the previous year (2017). Specifically in DKI Jakarta province, South Jakarta had the lowest tuberculosis success rate with 21.68% in 2018. This research aims to determine the association between population density, individual factors, and TB treatment factors with the incidence of tuberculosis in South Jakarta in 2018. A place-series ecological study is used in this research that includes 10 sub-districts in South Jakarta. The results show a fair and negative correlation (r= -0.314) between population density and TB incidence, and a fair and positive correlation (r= 0.284) between age and TB incidence. Meanwhile, treatment coverage (r= 0.116) shows a weak and positive correlation (r= - 0.400) while success rate shows a weak and negative correlation (r= -0.109) with TB incidence. The trend of each sub-district shows that male gender dominates the TB patient population compare to female. In this research, only population density factor shows a significant relation with TB incidence (p= 0.011). Neither age (p= 0.426), treatment coverage (p= 0.751), nor success rate (p= 0.765) show a significant relationship with TB incidence.
Keywords: tuberculosis, population density, individual factors, treatment factors, ecological study.
Read More
S-10277
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Natasha Shafa Amalia; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Fitri Kurniasari, Syafran Arrazy
Abstrak: Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit menular kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan menjadi penyebab kematian menular nomor satu di dunia. Indonesia menempati peringkat kedua dengan beban TB tertinggi. Kabupaten Bogor menjadi wilayah dengan kasus TB tertinggi di Jawa Barat pada tahun 2023. Tujuan: Mengetahui hubungan antara faktor pelayanan kesehatan dan faktor individu terhadap incidence rate tuberkulosis paru di 20 kecamatan di Kabupaten Bogor pada tahun 2023 – 2024. Metode: Penelitian menggunakan desain studi ekologi dengan sampel 20 kecamatan di Kabupaten Bogor. Menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dan BPS Kabupaten Bogor. Hasil: Hasil penelitian dengan variabel yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan terhadap incidence rate TB paru adalah cakupan pengobatan di Kabupaten Bogor (p = 0,000; r = 978), serta success rate di Kecamatan Leuwiliang (p = 0,004; r = 0,696), Kemang (p = 0,036; r = -0,543), dan Jasinga (p = 0,038; r = -0,540). Tidak terdapat hubungan signifikan pada variabel usia dan proporsi jenis kelamin (p>0,05). Kesimpulan: Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor disarankan untuk mengevaluasi metode penemuan kasus, memperkuat pelaporan TB oleh fasyankes, menyelenggarakan edukasi pentingnya pengobatan tuntas, serta meningkatkan intervensi pada kelompok berisiko.
Introduction: Pulmonary tuberculosis is a chronic infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis and is the leading cause of death from infectious diseases worldwide. Indonesia ranks second among countries with the highest TB burden. Bogor Regency had the highest number of TB cases in West Java in 2023. Objective: To determine the correlation between healthcare service factors and individual factors with the incidence of pulmonary tuberculosis in 20 sub-districts of Bogor Regency during 2023 – 2024. Methods: This study employed an ecological study design, with a sample of 20 sub-districts in Bogor Regency. Secondary data were obtained from the Bogor Regency Health Office and the Bogor Regency Central Bureau of Statistics. Results: The variable that showed a significant relationship with the incidence of pulmonary TB were treatment coverage in Bogor Regency (p = 0,000; r = 0,978), as well as treatment success rate in Leuwiliang sub-district (p = 0,004; r = 0,696), Kemang (p = 0,036; r = -0,543), and Jasinga (p = 0,038; r = -0,540). There was no significant correlation between the incidence rate and age or gender proportion (p>0,05). Conclusion: The Bogor Regency Health Office is advised to evaluate case-finding methods, strengthen TB reporting by health facilities, conduct education on the importance of completing treatment, and enhance interventions targeting at-risk groups.
Read More
S-11956
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novia Dwiyanti; Pembimbing: Laila Fitria; Budi Hartono, Didik Surpiyono
Abstrak:
Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk di Indonesia. Kabupaten Bogor merupakan salah satu kabupaten/kota yang memiliki kasus TB paru tertinggi di Jawa Barat sejak tahun 2017. Faktor iklim berupa suhu, kelembaban, dan curah hujan diketahui dapat mempengaruhi keberadaan bakteri penyebab tuberkulosis untuk tumbuh dengan optimal. Kepadatan penduduk juga diketahui juga dapat mempengaruhi persebaran tuberkulosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor iklim (suhu udara, kelembaban, dan curah hujan) dan kepadatan penduduk dengan prevalensi tuberkulosis paru di Kabupaten Bogor. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi berdasarkan waktu untuk variabel iklim dan berdasarkan tempat untuk variabel kepadatan penduduk. Penelitian ini dilakukan di wilayah Kabupaten Bogor pada Bulan Januari 2020 hingga Desember 2021 dan 40 kecamatan di Kabupaten Bogor. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi spearman. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata prevalensi tuberkulosis paru di Kabupaten Bogor pada tahun 2020 adalah 17.14 kasus per 100.000 dan pada tahun 2021 adalah 18.04 kasus per 100.000. Terdapat hubungan yang signifikan antara suhu dengan prevalensi uberkulosis paru pada tahun 2021 dengan hubungan korelasi kuat (p= 0.028, r= 0.632), namun tidak terdapat hubungan signifikan antara prevalensi tuberkulosis dengan kelembaban udara, curah hujan, dan kepadatan penduduk (p>0.05) pada tahun 2020 dan 2021. Sebagai kesimpulan, diketahui bahwa di antara variabel suhu, curah hujan, kelembaban, dan kepadatan penduduk, hanya terdapat 1 variabel yang berhubungan dengan tuberkulosis paru yaitu suhu udara pada tahun 2021.


Tuberculosis (TB) is an infectious disease that is still a public health problem in the world, including in Indonesia. Bogor Regency is one of the regencies/cities with the highest pulmonary TB cases in West Java since 2017. Climatic factors such as temperature, humidity, and rainfall are known to influence the presence of bacteria that cause tuberculosis to grow optimally. Population density is also known to influence the spread of tuberculosis. This study aimed to determine the relationship between climatic factors (air temperature, humidity, and rainfall) and population density with prevalence of pulmonary tuberculosis in Bogor Regency. This study used a time-based ecological study design for climate variables and place-based for population density variables. It was conducted in Bogor from January 2020 to December 2021 and 40 sub-districts in Bogor. Data were analysed using Spearman correlation test. Results showed the average prevalence of pulmonary tuberculosis in Bogor Regency in 2020 was 17.14 cases per 100,000 and in 2021 was 18.04 cases per 100,000. There was a significant relationship between temperature and the prevalence of pulmonary tuberculosis in 2021 with a strong correlation (p = 0.028, r = 0.632), but there was no significant relationship between the prevalence of tuberculosis with air humidity, rainfall, and population density (p>0.05) in 2020 and 2021. In conclusion, it is known that among the variables of temperature, rainfall, humidity, and population density, there is only 1 variable related to pulmonary tuberculosis, namely air temperature in 2021.
Read More
S-11484
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ummi Salamah; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Zakianis, Olga Afrista
Abstrak: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor iklim (suhu, kelembapan dan curah hujan), kepadatan vektor (angka ABJ), kepadatan penduduk dengan incidence rate demam berdarah dengue di Kecamatan Kramat Jati Tahun 2011-2020. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi menurut time trend dengan unit analisis per bulan selama 10 tahun (2011-2020) dengan menggunakan data sekunder. Hasil penelitian pada data seluruh tahun (2011-2020) menunjukkan bahwa suhu, kelembaban, curah hujan, kepadatan penduduk dan Angka Bebas Jentik memiliki hubungan signifikan dengan incidence rate DBD di Kecamatan Kramat Jati.
Read More
S-10876
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fadhilah Rasya Rahmadianingputri' Pembimbing: Zakianis; Penguji: R. Budi Haryanto, Edwin Nasli
Abstrak: Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang dapat merenggut sekitar 1,5 juta jiwa setiap tahunnya. Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang paling sering menyerang paru-paru. Penyakit Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pada tahun 2020, Provinsi DKI Jakarta berada diurutan kedua dalam hal Penyakit Tuberkulosis, yaitu 228 kasus per 100.000 penduduk. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit tuberculosis, meliputi faktor sosioekonomi, faktor kondisi rumah dan lingkungan, dan faktor gaya hidup. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara faktor status sosioekonomi, faktor kondisi rumah dan lingkungan, dan faktor gaya hidup terhadap kasus kejadian Penyakit Tuberkulosis di Provinsi DKI Jakarta tahun 2021. Serta, menganalisis hubungan antara kejadian Penyakit Tuberkulosis dan kematian COVID-19 di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan unit analisis kecamatan di Provinsi DKI Jakarta yang berjumlah 44. Data yang digunakan adalah data sekunder dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi DKI Jakarta, Badan Pusat Statistik, dan Data Terbuka Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Data disajikan dengan table untuk mengetahui besarnya kejadian Penyakit Tuberkulosis. Hasil analysis bivariat dengan uji korelasi menunjukkan bahwa faktor sosioekonomi, yaitu tingkat Pendidikan yang rendah merupakan faktor risiko terjadinya Penyakit Tuberkulosis.
Tuberculosis is an infectious disease that can kills almost 1,5 million humans every year. Tuberculosis is a disease that attacks the lung frequently. Tuberculosis is a disease caused by bacteria Mycobacterium tuberculosis. in 2020, DKI Jakarta Province, the capital city of Indonesia, was the second rank with the highest tuberculosis, that was 228 cases per 100.000 population. There are many factors that influence the incidence of tuberculosis, including socioeconomic factors, house and environmental condition factors, and lifestyle factors. The objective of this research is to analyze the relationship between socioeconomic status factors, house and environmental condition factors, and lifestyle factors with incidence of tuberculosis in DKI Jakarta Province in 2021. This research used Ecological study design with sub-district analysis unit in DKI Jakarta Province amounts 44. The data used are secondary data from DKI Jakarta Health Agency, DKI Jakarta Department of Population and Civil Registration, Central Statistics Agency, and Open Data from the DKI Jakarta Government. The data was displayed in a table to find out the magnitude of the incidence of tuberculosis. The results of the study indicate that socioeconomic factors, namely low levels of education are risk factors for the occurrence of Tuberculosis.
Read More
S-10975
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuri Shizcha Amelinda; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Al Asyary, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Desain studi yang digunakan pada penelitian ini yaitu studi ekologi dengan pendekatan analisis korelasi untuk melihat kekuatan hubungan antara faktor iklim pada bulan yang sama (non-time lag), factor iklim dengan jeda 1 bulan (time lag 1), faktor iklim dengan jeda 2 bulan (time lag 2), kepadatan penduduk, dan kepadatan vektor dengan Incidence Rate DBD. Secara statistik, analisis korelasi menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara curah hujan non-time lag, time lag 1, dan time lag 2, suhu udara time lag 2, kelembaban udara non-time lag, time lag 1, dan time lag 2, kepadatan penduduk, dan angka bebas jentik dengan Incidence Rate DBD.
Read More
S-10613
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitiri Rakhmania; Pembimbbing: Ema Hermawati; Penguji: R. Budi Haryanto, Aturut Yansen
Abstrak:
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan menyebar melalui udara. Jakarta Timur menjadi kota dengan jumlah kasus TB semua tipe tertinggi selama 6 berturut-turut dari tahun 2016-2021. Kejadian TB dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan faktor-faktor risiko TB yaitu faktor lingkungan (jumlah rumah sehat dan kepadatan penduduk), faktor individu (jenis kelamin), dan faktor pelayanan kesehatan (angka keberhasilan pengobatan TB) dengan prevalence rate tuberkulosis di setiap kecamatan (10 kecamatan) di Kota Jakarta Timur pada tahun 2021 dengan desain studi ekologi. Hasil penelitian analisis tren kasus tuberkulosis menurut jenis kelamin, diketahui bahwa kasus tuberkulosis lebih lebih banyak diderita oleh laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Terdapat 3 kecamatan yang telah mencapai target global angka keberhasilan pengobatan TB sebesar 90% yaitu Kecamatan Cakung (91%), Ciracas (91%), dan Duren Sawit (90%). Kecamatan Cakung dapat menjadi salah satu contoh berjalannya program pengobatan TB yang sudah efektif karena memiliki angka keberhasilan pengobatan TB (success rate TB) tertinggi (91%) dengan prevalence rate tuberkulosis terendah (129,80 per 100.000 penduduk). Hasil uji korelasi menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara jumlah rumah sehat dengan prevalence rate tuberkulosis pada 7 dari 10 kecamatan yaitu Cakung (p=0,009; r=-0,713), Ciracas (p=0,033; r=-0,615), Duren Sawit (p=0,005; r=0,748), Jatinegara (p=0,048; r=-0,580), Kramat Jati (p=0,013; r=0,692), Makasar (p=0,020; r=-0,657), dan Matraman (p=0,045; r=0,587). Selain itu, hubungan yang signifikan juga didapatkan antara kepadatan penduduk dengan prevalence rate tuberkulosis pada 7 dari 10 kecamatan yaitu Cakung (p=0,009; r=0,713), Ciracas (p=0,033; r=0,615), Duren Sawit (p=0,005; r=0,748), Jatinegara (p=0,048; r=0,580), Kramat Jati (p=0,013; r=0,692), Makasar (p=0,020; r=0,657), dan Matraman (p=0,045; r=0,587). Oleh karena itu, disarankan untuk meningkatkan kegiatan edukasi terkait rumah sehat dan edukasi terkait tuberkulosis kepada kelompok masyarakat, serta mengoptimalkan gerakan penanggulangan tuberkulosis dan penataan tata kota pada wilayah dengan kepadatan penduduk yang tinggi.

Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the bacteria Mycobacterium tuberculosis and spread through the air. East Jakarta has been the city with the highest number of TB cases of all types for 6 consecutive years from 2016-2021. The incidence of TB can be influenced by several risk factors. The purpose of this study was to analyze the relationship of TB risk factors, namely environmental factors (number of healthy houses and population density), individual factors (gender), and health service factors (success rate TB) with the prevalence rate of tuberculosis in each sub-district (10 sub-districts) in East Jakarta City in 2021 with an ecological study design. The results of the study analyzed the trend of tuberculosis cases by gender, it was found that tuberculosis cases were more prevalent among men than women. There are 3 sub-districts that have reached the global target of 90% success rate TB, namely Cakung (91%), Ciracas (91%), and Duren Sawit (90%). Cakung sub-district can be an example of an effective TB treatment program because it has the highest success rate TB (91%) with the lowest TB prevalence rate (129.80 per 100,000 population). Correlation test results showed a significant relationship between the number of healthy houses and TB prevalence rate in 7 out of 10 sub-districts, namely Cakung (p=0.009; r=-0.713), Ciracas (p=0.033; r=-0.615), Duren Sawit (p=0.005; r=0.748), Jatinegara (p=0.048; r=-0.580), Kramat Jati (p=0.013; r=0.692), Makasar (p=0.020; r=-0.657), and Matraman (p=0.045; r=0.587). In addition, a significant relationship was also found between population density and tuberculosis prevalence rate in 7 out of 10 sub-districts, namely Cakung (p=0.009; r=0.713), Ciracas (p=0.033; r=0.615), Duren Sawit (p=0.005; r=0.748), Jatinegara (p=0.048; r=0.580), Kramat Jati (p=0.013; r=0.692), Makasar (p=0.020; r=0.657), and Matraman (p=0.045; r=0.587). Therefore, it is recommended to increase educational activities related to healthy homes and tuberculosis-related education to community groups, as well as optimize the tuberculosis prevention movement and urban planning in areas with high population density.
Read More
S-11277
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maria Marchella Purwaningtyas; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Maryati Kasiman
Abstrak:

Nama : Maria Marchella Purwaningtyas
Program Studi : Kesehatan Lingkungan
Judul : Studi Ekologi: Hubungan Cakupan Pengobatan, Success Rate, Jenis Kelamin, dan Kepadatan Penduduk terhadap Incidence Rate Tuberkulosis Paru di Jakarta Selatan pada tahun 2022
Pembimbing : Prof. Dr. R. Budi Haryanto, S.K.M., M.Kes., M.Sc.

Latar Belakang: Tuberkulosis paru merupakan salah satu jenis penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini ditularkan melalui media udara. Tuberkulosis menempati urutan kedua sebagai penyebab utama kematian. Indonesia saat ini berada di peringkat kedua sebagai negara dengan penderita tuberkulosis tertinggi di dunia. Kota Jakarta Selatan berada di urutan ke-3 dengan kasus tuberkulosis terbanyak di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2022. Tujuan: Mengetahui hubungan antara cakupan pengobatan, success rate, jenis kelamin, dan kepadatan penduduk terhadap incidence rate tuberkulosis paru di 10 kecamatan di Jakarta Selatan pada tahun 2022. Metode: Menggunakan desain studi berupa studi ekologi dengan uji korelasi untuk menganalisis hubungan antara cakupan pengobatan, success rate, jenis kelamin, dan kepadatan penduduk terhadap incidence rate tuberkulosis paru di 10 kecamatan di Jakarta Selatan dengan menggunakan data dari bulan Januari-Desember pada tahun 2022. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cakupan pengobatan memiliki hubungan yang signifikan terhadap incidence rate tuberkulosis paru di 10 kecamatan (p = 0,000 –1,000), success rate memiliki hubungan yang signifikan terhadap incidence rate tuberkulosis paru di Kecamatan Jagakarsa (p = 0,047, r = 0,582), proporsi jenis kelamin laki-laki penderita tuberkulosis paru tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap incidence rate tuberkulosis paru di seluruh kecamatan (p = > 0,05), proporsi jenis kelamin perempuan penderita tuberkulosis paru tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap incidence rate tuberkulosis paru di seluruh kecamatan (p = > 0,05), dan kepadatan penduduk memiliki memiliki hubungan yang signifikan terhadap incidence rate tuberkulosis paru di Kecamatan Jagakarsa (p = 0,020, r = -0,659). Kesimpulan: Hasil studi ini menyarankan Suku Dinas Kesehatan Kabupaten Jakarta Selatan dengan Pemerintah Kota Jakarta Selatan untuk melakukan advokasi dan pemberdayaan masyarakat setempat, memanfaatkan peran dan pelayanan fasilitas kesehatan dalam promosi Kesehatan, serta pelaporan kasus tuberkulosis guna memaksimalkan pengendalian dan pencegahan penyakit tuberkulosis paru.
Kata Kunci:
Cakupan Pengobatan Tuberkulosis Paru, Success Rate Tuberkulosis Paru, Jenis Kelamin, Kepadatan Penduduk Tuberkulosis Paru


Name                : Maria Marchella Purwaningtyas Major                : Environmental Health Title        : Ecological Study: The Correlation between Case Detection Rate, Treatment Success Rate, Gender, and Population Density with Incidence Rate of Pulmonary Tuberculosis in South Jakarta in 2022 Counsellor        : Prof. Dr. R. Budi Haryanto, S.K.M., M.Kes., M.Sc.  Background: Pulmonary tuberculosis is one of contagious diseases caused by Mycobacterium tuberculosis. Tuberculosis is transmitted through the air. Tuberculosis ranks as the second main cause of death in the world. Indonesia is currently ranked second as country with the highest number of tuberculosis cases. In 2022, South Jakarta City is ranked 3rd with the most tuberculosis cases in DKI Jakarta Province. Objective: This study aims to determine the relationship between treatment coverage, success rate, gender, and population density on the incidence rate of pulmonary tuberculosis in 10 sub-districts in South Jakarta in 2022. Method: The research method being used in this study is an ecological study with a correlation test to analyze the relationship between treatment coverage, success rate, gender, and population density on the incidence rate of pulmonary tuberculosis in 10 sub-districts in South Jakarta using data from January to December in 2022. Result: This study shows that treatment coverage has a significant relationship with the incidence rate of pulmonary tuberculosis in 10 sub-districts (p = 0,000–1,000), success rate has a significant relationship with the incidence rate of pulmonary tuberculosis in Jagakarsa District (p = 0,047, r = 0,582), the proportion of men with pulmonary tuberculosis does not have a significant relationship with the incidence rate of pulmonary tuberculosis in all sub-districts (p = > 0,05), the proportion of women with pulmonary tuberculosis does not have a significant relationship with the incidence rate of pulmonary tuberculosis in all sub-districts (p = > 0.05), and population density has a significant relationship with the incidence rate of pulmonary tuberculosis in Jagakarsa District (p = 0.020, r = -0.659). Conclusion: It is advisable for the and health department of South Jakarta district along with South Jakarta government to advocate and empower the local communities, utilize the role and service of health facilities in health promotion and tuberculosis cases reporting in order to maximize the control and prevention of pulmonary tuberculosis.  Keywords: Pulmonary TB Case Detection Rate, Pulmonary TB Treatment Success Rate, Gender, Population Density, Pulmonary Tuberculosis

 

Read More
S-11823
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Afifah Zahra; Pembimbing: R. Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Maryati Kasiman
Abstrak: Melihat data 2014 hingga 2016 yang dimiliki oleh puskesmas Cilandak, trend kasus DBD di Kecamatan Cilandak cenderung meningkat pada bulan Januari hingga Mei, mulai turun ketika bulan juni dan titik terendahnya pada bulan Desember. Trend kasus tersebut selalu sama terjadi di setiap tahunnya ini menimbulkan ketertarikan penulis untuk meneliti terkait faktor iklim, faktor kepadatan vektor yang dilihat dari angka bebas jentik (ABJ), dan faktor kepadatan penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor iklim (suhu udara, kelembaban, dan curah hujan), faktor kepadatan vektor (angka ABJ), dan kepadatan penduduk dengan angka incidence rate DBD di Kecamatan Cilandak Tahun 2010-2019. Jenis data yang diambil adalah data sekunder. Data incidence rate DBD, dan angka ABJ didapatkan dari laporan tahunan Puskesmas Kecamatan Cilandak. Data mengenai kepadatan penduduk didapatkan dari Badan Pusat Statistik. Data terkait iklim didapat dari BMKG. Hubungan akan dianalisis menggunakan uji pearson product moment. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa secara keseluruhan tahun 2010-2019, curah hujan dan kelembaban memiliki hubungan dengan IR DBD di Kecamatan Cilandak (p=0,029, r=0,685).
Kata Kunci : Iklim, Kepadatan penduduk, ABJ, angka insiden, DBD, Kecamatan Cilandak.

Looking at the 2014 to 2016 data held by the Cilandak puskesmas, the trend of dengue cases in Cilandak sub-district tends to increase in January to May, starting to fall when June and its lowest point in December. The case trend is always the same that happens every year and this raises the interest of the writer to research related to climate factors, vector density factors seen from larval free numbers (ABJ), and population density factors. This study aims to analyze the relationship between climate factors (air temperature, humidity, and rainfall), vector density factors (ABJ figures), and population density with DHF incidence rate in Cilandak District in 2010-2019. The type of data taken is secondary data. DHF incidence rate data, and ABJ figures were obtained from the annual report of the Cilandak District Health Center. Data on population density was obtained from the Central Statistics Agency. Climate related data obtained from BMKG. Relationships will be analyzed using the Pearson product moment test. The results of the bivariate analysis showed that overall in 2010-2019, rainfall and humidity had a relationship with IR DHF in Cilandak District (p = 0.029, r = 0.685).
Keywords: Climate, Population density, ABJ, incidence rate, DHF, Cilandak District.
Read More
S-10479
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mohammad Arief Syaifulloh; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara faktor individu meliputi jenis kelamin, lingkungan meliputi kepadatan penduduk dan cakupan rumah sehat, dan perilaku meliputi cakupan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) tatanan rumah tangga terhadap kasus tuberculosis di Kota Depok tahun 2015-2019. Metode penelitian yang digunakan yaitu studi ekologi menggunakan data sekunder dalam rentang tahun 2015-2019 berbentuk data agregat dari 11 kecamatan yang ada di Kota Depok sebagai unit analisisnya. Data diperoleh dari buku profil kesehatan Kota Depok yang diterbitkan oleh Dinas Kesehatan Kota Depok. Data dianalisis secara univariat dan bivariat lalu ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik.
Read More
S-10604
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive