Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33171 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Joan Puspita Tanumihardja; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Helen Andriani, Nanin Susanti, Clara Yosefina Francis
Abstrak:
enyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) merupakan salah satu penyakit kronis yang memiliki potensi kejadian readmisi dengan beberapa determinan yang saling berkaitan. Jika determinan ini dapat dicegah maupun dikendalikan maka ada kemungkinan kejadian ulangan dapat dicegah pula. Tesis ini membahas hubungan kepatuhan penerapan clinical pathway terhadap readmisi Penyakit Paru Obstruktif Kronis di RS St Elisabeth Lela Kabupaten Sika tahun 2019. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dengan pendekatan kuantitarif. Terdapat 3 kelompok determinan yang berhubungan dengan readmisi pasien PPOK yaitu faktor fasilitas kesehatan rujukan (kepatuhan implementasi clinical pathway), faktor follow up pengobatan (follow up ke Instalasi Rawat Jalan dan Puskesmas), serta faktor pasien (umur, jenis kelamin, penyakit penyerta dan penyakit penyulit). Hasil penelitian mengungkap variabel dominan yang berkaitan dengan kejadian readmisi pasien PPOK di rumah sakit adalah penyakit penyulit, setelah dikontrol oleh kepatuhan implementasi clinical pathway dan kunjungan kontrol pasien ke Puskesmas. Diperlukan perbaikan implementasi clinical pathway terutama pada indikator gizi pasien serta penerapan Manajer Pelayanan Pasien (MPP) yang menjadi jembatan antar Profesional Pemberi Asuhan (PPA) sehingga pasien PPOK mendapatkan tatalaksana berkesinambungan dari fasilitas kesehatan rujukan ke fasilitas kesehatan primer maupun sebaliknya.
As one of chronic diseases, COPD patient has a potential to excacerbate and readmitted to hospital, having few relatable determinants if which avoided or controlled can give a chance of avoidable excacerbation and or readmssion.This thesis discusses how clinical pathway implementation adherence influences Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) readmission in St Elisabeth Lela Hospital in Sikka District 2019. This research used cross sectional design with quantitative approach. Variables analyzed were within 3 determinant groups related to COPD patient readmission : referral health facilites (clinical pathway implementation adherence), treatment follow up (to policlinics or primary care health facilities) and patient (age, gender, comorbidities and complications). Research result suggest that complications dominantly related to patient readmission, controlled with clinical pathway implementation adherence and follow up visits to primary care health facility. Further improvement on clinical pathway implementation is needed especially for the nutrition indicator and also the need to put Case Manager into practice to coordinate health proffesionals surrounding and taking take of COPD patients in hospital to be able to attain continued treatment from referral to primary care health facilities and vice versa
Read More
B-2152
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Christina Prilia Damaranti; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Anhari Achadi, Masyitoh, Ramaniya Kirana, Eka Ginanjar
Abstrak:
PPOK merupakan penyakit pernapasan kronis penyebab morbiditas dan mortalitas terbanyak dengan dampak pembiayaan yang cukup tinggi di Indonesia. Clinical Pathway (CP) adalah bagian dari pelaksanaan tata kelola klinis rumah sakit dan salah satu tools dalam mewujudkan sistem kendali mutu dan kendali biaya di era JKN. Efektivitas kepatuhan penerapan clinical pathway (CP) terhadap luaran klinis pasien pada beberapa penelitian menunjukkan hasil yang positif. RS Paru Respira Yogyakarta telah menetapkan CP PPOK sebagai CP prioritas, namun dalam proses evaluasi kepatuhan CP belum menggunakan seluruh komponen PPA seperti yang diatur dalam Permenkes Nomor 30 Tahun 2022. Paradigma pelayanan kesehatan saat ini adalah value-based healthcare sehingga perlu dilakukan evaluasi dampak kepatuhan CP terhadap luaran klinis pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepatuhan CP terhadap luaran klinis pasien PPOK dan proses penerapan kepatuhan CP PPOK di RS Pusat Paru Respira Yogyakarta tahun 2022. Desain penelitian adalah observasional (cross sectional) dengan pendekatan mix method. Pengambilan data metode kuantitatif menggunakan rekam medis pasien rawat inap dengan diagnosis utama PPOK tahun 2022 (n=57) dan metode kualitatif dengan wawancara mendalam, observasi dan telaah dokumen. Hasil penelitian kuantitatif didapatkan tingkat kepatuhan CP PPOK sebesar 87,7%, ada hubungan yang signifikan antara DPJP dengan kejadian komplikasi (p value=0,003) dan antara kepatuhan CP dengan luaran klinis yaitu komplikasi (p value=0,05 dan OR=6,75), faktor yang paling berpengaruh pada luaran klinis pasien adalah kepatuhan terhadap CP. Metode kualitatif, berdasarkan perspektif 10 variabel dalam teori Gibson dan Mathis-Jackson, didapatkan hasil yang baik pada variabel sikap. Untuk variabel pengetahuan, supervisi, komunikasi, pelatihan, SDM, standar kinerja, sarana prasarana, insentif dan struktur organisasi masih perlu peningkatan. Untuk meningkatkan kepatuhan CP diperlukan komunikasi yang efektif antara pembuat dan pelaksana CP, pemahaman dan komitmen penuh para PPA, dukungan manajemen untuk rutin meninjau ulang tata laksana CP, meningkatkan sosialisasi, pelatihan, sarana prasarana, kebutuhan SDM, fasilitas IT penunjang serta regulasi terkait pelaksanaan CP.

COPD is a chronic respiratory disease that causes the most morbidity and mortality with a high cost impact in Indonesia. Clinical Pathway (CP) is part of the implementation of hospital clinical governance and one of the tools in quality and cost control system in JKN era. The effectiveness of clinical pathway (CP) compliance to patient clinical outcomes in several studies has shown positive results. Respira Lung Hospital Yogyakarta has designated CP COPD as a priority CP, but in the process of evaluating CP compliance, it has not used all Profesional Caregiver components as stipulated in Health Ministerial Regulation No. 30 of 2022. The current paradigm of health services is value-based healthcare, so it is necessary to evaluate the impact of CP compliance on the patient's clinical outcome. This study aims to determine the association of CP compliance to the clinical outcome of COPD patients and the process of implementing COPD CP compliance at the Respira Lung Hospital Yogyakarta in 2022. The research design is observational (cross sectional) with mix method approach. Quantitative method data collection using inpatient medical records with a primary diagnosis of COPD in 2022 (n=57) and qualitative method using with in-depth interviews, observation and document review. The results of quantitative study showed that COPD CP compliance rate is 87.7%, there is a significant relationship between doctor in charge of services with the incidence of complications (p value=0.003) and between CP compliance with clinical outcomes of complications (p value=0.05 and OR=6.75), factor that most influenced the patient's clinical outcome was CP compliance. Qualitative methods, based on the perspective of 10 variables in the theory of Gibson and Mathis-Jackson, showed good results on attitude variables. Knowledge, supervision, communication, training, human resources, performance standards, infrastructure, incentives and organizational structure variables still need improvement. To improve CP compliance, an effective communication between CP makers and implementer are required, full understanding and commitment of Profesional Caregivers, management support to regularly review CP governance, improve socialization, training, infrastructure, human resource needs, supporting IT facilities and regulations related to the implementation of CP are required.
Read More
B-2383
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Genoveva Maditias Dwi Pertiwi; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Prastuti Soewondo, Amal Chalik Sjaaf, Elga Ria Vinensa, Isnaini Ashar
Abstrak: Stroke merupakan salah satu penyakit cerebrovaskuler yang masih menjadi masalah besar dalam kesehatan masyarakat di dunia. American Stroke Association melaporkan bahwa dalam penanganan stroke dengan fasilitas yang tidak memadai dan tidak terintegrasi akan berkontribusi terhadap kematian, kecacatan, dan biaya perawatan yang tinggi. Oleh sebab itu untuk diperlukan kolaborasi tim professional dan implementasi perawatan berbasis bukti pada pelayanan stroke. Clinical Pathway (CP) merupakan suatu konsep perencanaan pelayanan yang berisi langkah-langkah perawatan pasien dan berbasis bukti. Rumah Sakit Mitra Husada telah menetapkan CP Stroke Infark sejak tahun 2019 karena termasuk dalam 10 besar penyakit terbanyak. Sementara itu capaian indikator mutu Kepatuhan Terhadap CP Stroke Infark pada tahun 2020 belum mencapai standar. Apabila hal ini terus terjadi maka Kendali Mutu dan Kendali Biaya (KMKB) di Rumah Sakit Mitra Husada tidak akan tercapai. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain cross sectional untuk menganalisis hubungan kepatuhan terhadap CP Stroke Infark dengan tarif perawatan di RS Mitra Husada tahun 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 72 pasien (38.3%) yang ditatalaksana patuh sesuai CP, artinya hasil ini belum mencapai standar (80%). Didapatkan Rata-rata tarif seluruh pasien stroke infark yang dirawat inap sebesar Rp. 4.955.564.- Terdapat 18 pasien (18.8%) yang ditatalaksana patuh terhadap CP memiliki tarif> rata-rata tarif seluruh pasien, sedangkan terdapat 52 pasien (81.2%0 yang ditatalaksana tidak patuh tergadap CP memiliki tarif > rata-rata tarif seluruh pasien. Terdapat hubungan yang bermakna antara kepatuhan terhadap CP stroke Infark, komplikasi, dan kelas rawat dengan tarif perawatan. Rumah sakit perlu mengkaji ulang isi CP dan melakukan monitoring evaluasi terhadap pelaksanaan CP dalam rangka mewujudkan Kendali Mutu dan Kendali Biaya di Rumah Sakit Mitra Husada Pringsewu.
Read More
B-2275
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Susi Kurnia Riza; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Fanty Rahmania, Nina Rosyina
Abstrak: Apendektomi adalah tindakan operasi pada kasus apendisitis yang merupakan kasus emergensi bedah paling sering yaitu sebanyak 250.000 di Amerika Serikat dan 621.435 kasus di Indonesia setiap tahunnya. Menurut data RS XYZ tahun 2018, Apendektomi termasuk lima besar tindakan operasi dengan total kasus sebanyak 107 kasus dan menempati urutan pertama tindakan berbiaya tinggi dengan selisih tarif RS terhadap tarif INA CBGS 363 %. Clinical pathway merupakan sebuah kerangka kerja dalam memberikan pelayanan kesehatan sebagai upaya mengendalikan mutu dan biaya pelayanan kesehatan, dimana clinical pathway mampu mengurangi variasi-variasi yang terjadi dalam pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan clinical pathway Apendektomi di RS XYZ Tahun 2019. Metode yang digunakan adalah mix method research dengan metode kuantitatif dan kualitatif. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dari seluruh data pasien apendektomi di RS XYZ pada bulan Januari i Desember 2019 yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi dan didapatkan sejumlah 85 data tagihan pasien. Dari hasil penelitian didapatkan ketidaksesuaian antara pelayanan yang diberikan dengan clinical pathway. Gap terbesar pada penggunaan obat yaitu sebesar 42 % . Variasi yang didapat yaitu pada pemberian obat dan alat kesehatan, tindakan medis dan keperawatan, serta pemeriksaan penunjang, hal ini mengakibatkan rata-rata lama hari rawat menjadi lebih panjang dibandingan dengan clinical pathway yaitu 3,76 hari. Variasi yang tidak sesuai dengan clinical pathway dapat mempengaruhi mutu pelayanan dan jumlah tagihan rumah sakit.
Appendectomy is a surgical procedure for appendicitis, which is the most frequent surgical emergency case, as many as 250,000 in the United States and 621,435 cases in Indonesia each year. According to data from XYZ Hospital in 2018, Appendectomy is one of the top five operations with a total of 107 cases and ranks first in high-cost procedures with the difference between hospital rates and INA CBGS rates of 363%. Clinical pathway is a framework in providing health services as an effort to control the quality and cost of health services, where clinical pathways are able to reduce variations that occur in health services. This study aims to evaluate the application of clinical pathway appendectomy at XYZ Hospital in 2019. The method used is a mix method research with quantitative and qualitative methods. Sampling used a total sampling technique from all appendectomy patient data at XYZ Hospital in January - December 2019 according to the inclusion and exclusion criteria and obtained a total of 85 patient bill data. From the research results, it was found that there was a mismatch between the services provided and the clinical pathway. The biggest gap in drug use is 42%. The variations obtained were in the provision of drugs and medical devices, medical and nursing actions, and supporting examinations, this resulted in the average length of stay being longer compared to the clinical pathway, namely 3.76 days. Variations that are not in accordance with the clinical pathway can affect the quality of service and the amount of hospital bills.
Read More
B-2166
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yusuf Subekti; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Anhari Achadi, Vetty Yulianty Permanasari, Tranggono Yudo Utomo, Armansyah
Abstrak: Stroke adalah penyebab utama kematian dan kesakitan di Indonesia, menurut data Riskesdas prevalensinya terus meningkat dengan angka 10,9 per mil di tahun 2018. Stroke non hemoragik merupakan kasus terbanyak di rawat inap RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Bekasi. RS telah membuat clinical pathway, tetapi belum dilakukan pembaharuan setelah lebih dari 3 tahun dibuat. Penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran input, proses, output, dan outcome dan tantangan yang dihadapi saat implementasi clinical pathway. Penelitian ini retrospektif menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dalam kerangka evaluasi sistem. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada variabel input dari sisi SDM, dana, kebijakan, sarana prasarana, obat dan alkes tersedia dan siap menerapkan CP, tantangan pada koordinasi tim. Variabel proses sudah berjalan dengan tantangan pada identifikasi tim, penunjukan ketua tim dan sosialisasi CP belum optimal. Variabel output didapatkan LHR rata-rata sesuai dengan CP, varian didapatkan pada visite, pemeriksaan penunjang, tindakan, konsultasi obat dan alkes. Variabel outcome terdapat selisih tagihan sebesar Rp. 224.103 (5%) dengan Selisih positif pada layanan fisioterapi Rp 178.470 (143%), Visite Rp. 88.215 (26%), Gizi Rp. 78.014 (18%), Akomodasi Rp. 53.625 (10%), Tindakan Rp. 45.805 (7%), Konsultasi Rp. 6.750 (6%). Selisih negatif terjadi pada layanan Obat Rp. 123.911 (25%), Laboratorium Rp. 92.465 (21%), Radiologi Rp. 8.238 (1%) dan Alkes Rp. 2.162 (1%).
Stroke is the leading cause of death and illness in Indonesia, according to Riskesdas data the prevalence continues to increase by 10.9 per mile in 2018. Non-hemorrhagic strokes are the most frequent inpatients cases at dr.Chasbullah Abdulmadjid Hospital. The hospital has made the clinical pathway, but no updates have been made after more than 3 years. This study aims to get an overview of the inputs, processes, outputs, and outcomes and challenges faced when implementing clinical pathways. This is retrospective research, uses quantitative and qualitative approaches in a system evaluation framework. The results showed that the input variables in terms of HR, funds, policies, infrastructure, drugs and medical equipment are available and ready to apply CP, the challenge is lies in the team coordination. Process variables are already running with challenges in team identification, team leader election and the CP socialization still not optimal. Output variables obtained an average LHR in accordance with CP, variants were obtained on the visit, supporting examinations, nursing services, drug consultations and medical devices. The outcome variable, there is a price difference between real and appropriate CP of Rp. 224,103 (5%), Positive difference in physiotherapy services Rp. 178,470 (143%), Visite Rp. 88,215 (26%), Nutrition Rp. 78,014 (18%), Accommodation Rp. 53,625 (10%), nursing services Rp. 45,805 (7%) and Consultation Rp. 6,750 (6%). A negative difference occurs in the drug service Rp. 123,911 (25%), Laboratory Rp. 92,465 (21%), Radiology Rp. 8,238 (1%) and Medical Devices Rp. 2,162 (1%).
Read More
B-2156
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Renny Margaretta Sitorus; Pembimbing: Ronnie Rivany; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Mieke Savitri, Stefanus Eke Ola
Abstrak: Abstrak
Tesis ini menganalisis efektifitas biaya yang dikeluarkan pasien hemoroid interna grade 3-4 yang menjalani tindakan haemorrhoidectomy Stapled dan konvensional. Penelitian ini menggunakan perhitungan Activity Based Costing dengan simple distribution untuk mendapatkan cost lalu dibandingkan dengan nilai output, sehingga didapatkan Cost Effectiveness Ratio (CER). Nilai CER kemudian dibandingkan dan mana yang lebih kecil adalah yang lebih efektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alternatif Stapled menghasilkan nilai CER yang lebih kecil dibandingkan dengan CER alternatif konvensional. Maka dapat disimpulkan bahwa tindakan haemorrhoidectomy Stapled lebih efektif dibandingkan dengan alternatif konvensional. 
This thesis was analysing the effectiveness of cost that spent by patients with internal hemorrhoid grade 3 to 4 underwent haemorrhoidectomy Stapled and conventionals. This research was using Activity Based Costing with simple distribution method to calculate the cost then divided by output value to get Cost Effectiveness Ratio (CER). CER values were then compared and the lower is the more effective. Result of this research showed that value of CER of Stapled alternative were smaller compared with CER of conventionals alternative. It can be concluded that Stapled haemorrhoidectomy is more effective than conventionals alternative.
Read More
B-1468
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fenny Setianingrum; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Pujiyanto, Masyitoh, Arief Wardoyo
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Fenny Setianingrum Program Studi : Kajian Administrasi Rumah Sakit : Kepatuhan Dokter Penanggung Jawab Pasien Terhadap Clinical Pathway Demam Berdarah Dengue I – II/Demam Dengue Dewasa periode Januari – Agustus 2017 di RS Simpangan Depok Pembimbing Judul : Prastuti Soewondo, SE, MPH, Ph.D Kata kunci : clinical pathway, demam berdarah dengue derajat I – II/demam dengue Infeksi virus dengue masih merupakan masalah keseharian dalam praktik klinis kedokteran dan program pengendalian penyakit Kementerian Kesehatan di Indonesia. Perjalanan penyakit dan luaran (outcome) yang bervariasi, mengharuskan para klinisi di fasilitas kesehatan untuk mampu menegakkan diagnosa sesuai panduan klinis yang didukung berdasarkan pemeriksaan laboratorium yang standar, selain mengandalkan observasi gejala dan tanda klinis lainnya. Untuk dapat mengelola outcome dengan baik, Rumah Sakit Simpangan Depok telah menyusun dan mengoperasionalkan clinical pathway yang dapat digunakan sebagai acuan tata laksana Demam Berdarah bagi para dokter/dokter spesialis untuk menghasilkan luaran yang dapat meningkatkan kualitas layanan di fasilitas kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis kepatuhan terhadap pelaksanaan clinical pathway untuk demam berdarah dengue I - II/demam dengue di RS Simpangan Depok sebagai alat untuk mengelola outcome sebagai salah satu indikator mutu pelayanan kesehatan. Menggunakan pendekatan kualitatif, analisis data sekunder dari rekam medik pasien dengan diagnosis demam berdarah dengue derajat I – II/demam dengue selama periode Januari – Agustus 2017 telah dilakukan, didukung inteview dari delapan responden terkait. Hasil analisis atas evaluasi rekam medis menunjukkan masih ada beberapa varian dalam tata laksana layanan pengobatan dengue dengan angka kepatuhan sebesar 11,3%. Informasi ini sangat berguna untuk memberikan umpan balik atas pelaksanaan Clinical pathway yang tujuannya untuk meningkatkan kualitas layanan di rumah sakit tersebut. Para pemberi pelayanan kesehatan merasakan manfaat adanya clinical pathway namun juga membatasi dalam pemberian terapi kepada pasien. Kesimpulan : Pelaksanaan clinical pathway dalam penatalaksanaan demam berdarah dengue derajat I – II/demam dengue berguna sebagai alat pengelolaan outcome klinis, walau dibutuhkan upaya khusus agar para klinisi mematuhi Clinical Pathway yang telah disepakati agar terjadi peningkatan kualitas layanan di RS Simpangan Depok


ABSTRACT Name : Fenny Setianingrum Program of study : Hospital administration : Compliance Of Doctor Against Clinical Pathway Dengue Hemorrhagic I - II / Dengue Fever in Adult Patient period January - August 2017 at Simpangan Hospital Depok Counselor Title : Prastuti Soewondo, SE, MPH, Ph.D Keywords : clinical pathway, dengue hemorrhagic fever, dengue fever Dengue virus infection remains to be a critical problem in the clinical practice of medicine and Communicable Disease Control program under the Ministry of Health in Indonesia. The variations in how the disease manifests and thus differences in clinical outcome, require clinicians to perform diagnosis according to standardized clinical guidelines that is supported by the standard laboratory results, in addition to symptoms observed and other clinical signs. To improve and manage outcomes, Simpangan Depok Hospital has developed a clinical pathway to be used as a standard reference for doctors in handling Dengue Fever in order to produce more consistent outcomes that can improve the quality of services provided. The purpose of this study is to analyze the compliance on implementation of clinical pathways for dengue hemorrhagic fever grade I - II / dengue fever in RS Simpangan Depok as a tool to manage clinical outcomes, as one indicator of the quality of health services. Through a qualitative approach, the study analyzes secondary data of medical records of patients with a diagnosis of dengue hemorrhagic fever grade I - II / dengue fever during the period January - August 2017, supported with in-depth interviews from eight informants. The results of the secondary data analysis indicate some variance in the provision of treatment compliance rates of 11,3%. This information will serve as much needed feedback on the implementation of clinical pathways in dengue hemorrhagic grade I – II management in improving the quality of health care. Conclusions: Implementation of clinical pathways in the treatment of dengue hemorrhagic fever grade I - II / dengue fever is critical tool in managing clinical outcome, though special efforts are needed to enable clinicians to comply with the agreed upon clinical pathway to ensure the quality of health services.

Read More
B-1950
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizka Chairani Riza; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Mardiati Nadjib, Kurnia Sari, Dyana Ratna Mariza, Agus Budhy
Abstrak: Proses penyusunan hingga tahap penerapan dan faktor output berupa kesesuaian pelayanan kesehatan dengan clinical pathway demam tifoid (lama hari rawat, visite, pemeriksaan penunjang, penggunaan obat dan alat kesehatan serta tindakan keperawatan). Hasil penelitian didapatkan bahwa faktor input sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penghambat penerapan clinical pathway demam tifoid sehingga penerapannya kurang berjalan baik, sedangkan dari sisi proses langkah penyusunan clinical pathway tidak dijalankan dengan benar sehingga menjadi awal hambatan pada proses penerapan selanjutnya, dan dari faktor output masih belum ada kesesuaian pelayanan dengan clinical pathway demam tifoid seperti penggunaan obat dan pemeriksaan penunjang.
Read More
B-2107
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aditya Toga Sumondang Saragih; Pembimbing: Wahyu Sulistiadi; Penguji: Puput Oktamianti, Dumilah Ayunigtyas, M Ihsan Ramdani
Abstrak: Tesis ini membahas hubungan budaya keselamatan pasien terhadap kepatuhanpenerapan kewaspadaan universal/kewaspadaan standar oleh perawat dan bidan dirawat inap RS Budhi Asih Jakarta Tahun 2015. Penelitian ini adalah penelitiandeskriptif analitis untuk melihat hubungan antara budaya keterbukaan, budayakeadilan, budaya pelaporan, budaya belajar dan budaya informasi dengankepatuhan akan penerapan kewaspadaan universal/standar menggunakan desainpotong lintang dengan self administered questionnaire. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa kepatuhan akan penerapan kewaspadaan universal olehperawat dan bidan di rawat inap RS Budhi Asih sudah baik. Ditemukan adanyahubungan antara budaya keterbukaan dan budaya pelaporan dengan kepatuhanakan penerapan kewaspadaan universal/standar. Manajemen rumah sakit harusmengintegrasikan unsur keselamatan petugas dan pasien dalam setiap kebijakandan menciptakan iklim yang mendukung keterbukaan dan pelaporan insiden yangterjadi sebagai masukan bagi kemajuan rumah sakit di masa mendatang.
This thesis describes relationship between Patient Safety Culture and compliance inimplementation of Universal Precautions/Standard Precautions by Nurses and Midwivesat inpatient unit in Budhi Asih Hospital Jakarta 2015. The study was a descriptiveanalytical research on the relationship between open culture, just culture, reportingculture, learning culture and information culture with the compliance in implementationof universal precaution /standards precautions using cross sectional study design withself administered questionnaires. The results showed that compliance to theimplementation of universal precautions by nurses and midwives in Budhi Asih Hospitalinpatient is good. Found an association between open culture and reporting culture withcompliance in the implementation of universal precautions or standards precautions.Hospital management must integrate patient and officers safety aspects in every policyand create a favorable climate of openness and reporting incidents that occurred as inputfor the improvement of the hospital safety culture in the future.
Read More
B-1710
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shanti Wirdiawati; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Ede Surya Darmawan, Wachyu Sulistiadi, Budi Hartono
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan clinical pathway dan biaya perawatan odontectomy M3 impaksi tanpa penyakit penyerta di RS Islam Jakarta Cempaka Putih pada tahun 2009, dengan melakukan riset operasional secara kualitatif dan kuantitatif dengan rancangan retrospective. Terdapat 72 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang diolah adalah data morbiditas tahun 2008- 2009 dan data keuangan tahun 2009.
 
Biaya odontectomy M3 impaksi tanpa penyakit penyerta dihitung dengan metode ABC (Activity Based Costing) dengan struktur biaya investasi, operasional, pemeliharaan dan biaya tidak langsung. Berdasarkan clinical pathway, biaya odontectomy M3 impaksi tanpa penyakit penyerta adalah Rp. 1.057.163,- (mesio angular), Rp. 1.241.810,- (horizontal), Rp. 1.445.210,- (terpendam) untuk odontectomy anesthesi lokal rawat jalan dan Rp. 6.540.846,- untuk odontectomy anesthesi umum one day care. Sedangkan CRR (Cost Revenue Rate) masing-masing adalah 72 % (mesio angular), 72 % (horizontal), 77 % (terpendam) dan 65 % (odontectomy anestesi umum-one day care).
 

This research is aimed to obtain clinical pathway and cost of treatment third-molar impaction odontectomy at RS Islam Jakarta Cempaka Putih in 2009, by doing operational research qualitatively and quantitatively, using retrospective methode. There are 72 samples which comply with included and excluded criteria. Data that used in this research are morbidity data in 2008-2009 and financial data in 2009.
 
The cost is accounted by ABC (Activity Based Costing) method, which the cost structures are investation, operational, maintainance and indirect cost. Based on clinical pathway at RS Islam Jakarta Cempaka Putih, costs of treatment third molar impaction odontectomy are Rp. 1.057.163,- (mesio angular), Rp. 1.241.810,- (horizontal), Rp. 1.445.210,- (embedeed) for local anesthesiaambulatory treatment and Rp. 6.540.846,- for general anesthesia- one day care treatment. In addition, CRR (Cost Revenue Rate) of each treatment are 72 % (mesio angular), 72 % (horizontal), 77 % (embedded) dan 65 % (odontectomy anestesi umum-one day care).
Read More
B-1253
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive