Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38142 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Balqis; Promotor: Hasbullah Thabranyl; Kopromotor: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Anhari Achadi, Dumilah Ayuningtyas, Besral, Zubairi Djoerban, Lely Wahyuniar, Makhdum Priyatno
Abstrak:
Penelitian ini membahas peran kolaborasi lintas sektor terhadap kinerja program pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS di Provinsi Sulawesi Selatan, merupakan penelitian mix method dengan design cross sectional dan kualitatif dengan Rapid Assessment Procedur. Pengukuran kolaborasi P2 HIV-AIDS dilakukan melalui beberapa tahap. Tahap pertama adalah pengembangan indikator proses kolaborasi melalui pendekatan kualitatif dengan melakukan indepth interview pada berbagai pemangku kepentingan yaitu KPAN, kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial dan Kementerian Pendidikan, telaah dokumen dan diskusi pakar. Hasil wawancara dianalisis melaui analisis tematik. Tahap kedua dilakukan uji coba kuesioner yang telah dikembangkan dengan uji Alpha Cronbach dan confirmatory factor analysis. Tahap ketiga melakukan perbaikan instrument dari hasil ujicoba yang telah dilakukan melalui diskusi pakar. Tahap terakhir dilakukan pengukuran kolaborasi di Provinsi Sulawesi Selatan dengan melibatkan 328 responden yang mewakili lembaga yang berkolaborasi. Pegukuran menggunakan analisis uji beda mean untuk mengetahui perbedaan rata-rata proses kolaborasi antar kelompok wilayah, kepentingan lembaga, keberadaaan KPA dan peran pemda dan uji beda proporsi untuk mengetahui hubungan antar pemerintah daerah dengan keberadaan KPA serta mengetahui hubungan antara output kolaborasi dan kinerja temuan kasus ODHA. Dilakukan juga analisis regersi logistic untuk melihat pengaruh peran kolaborasi lintas sektor terhadap kinerja program P2 HIV-AIDS. Penelitian ini menghasilkan 29 indikator dari 5 dimensi proses kolaborasi. Hasil peneitian juga menunjukkan terdapat perbedaan rerata skor proses kolaborasi antar ketiga kelompok fokus wilayah, kelompok kepentingan lembaga dan kelompok keberadaan KPA. Terdapat hubungan antar peran sekretariat KPA dengan berjalannya proses kolaborasi serta ada hubungan yang kuat antar perhatian pemerintah daerah dengan keberadaan sekretariat KPA. Terdapat hubungan antar proses kolaborasi dengan output kolaborasi dan juga antar output kolaborasi dengan kinerja temuan kasus ODHA. Dimensi kolaborasi yang berpengaruh terhadap peningkatan temuan kasus ODHA adalah dimensi output yaitu penguatan kebijakan, program, dana dan SDM. Peran output kolaborasi dalam hal ini program, dana dan SDM memiliki kontribusi yang besar terhadap temuan kasus ODHA. Studi ini merekomendasikan perlu peran kolaborasi lintas sektor dalam peningkatan kinerja pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS.
Read More
D-416
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Robbiatul Afda`tiyah; Pembimbing: Toha Muhaimin; Penguji: Luknis Sabri, Rahmadewi
S-8146
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farhati; Promotor: Sabarinah; Kopromotor: Agustin Kusumayati, Umaimah Wahid; Penguji: Evi Martha, Kemal Nazaruddin Siregar, Milla Herdayati, M.Yani, Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
Abstrak: Latar Belakang: Remaja di Aceh menghadapi tantangan perilaku berisiko seperti penyalahgunaan narkoba, merokok, perilaku seksual pranikah, kehamilan remaja serta paparan HIV/AIDS yang berdampak pada kesehatan, sosial dan kualitas SDM. Rendahnya pengetahuan dan ketahanan diri remaja serta keterbatasan program yang ada menjadi tantangan serius. Di sisi lain Aceh memiliki kekuatan sosial dan religius melalui peran Teungku Inong  dan tradisi Seumeubeut sebagai ruang edukasi yang dekat dengan remaja, namun belum dimanfaatkan sebagai pendekatan edukasi kesehatan remaja secara optimal. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model edukasi kesehatan reproduksi dan life skills  berbasis komunitas melalui peran Teungku Inong dan praktik Seumeubeut dalam pencegahan perilaku berisiko kesehatan remaja di Provinsi Aceh. Metode: Penelitian ini menggunakan Mixed Method Exploratory Sequential Design dalam tiga tahap: kualitatif fenomenologi, pengembangan model edukasi berbasis komunitas, dan kuantitatif kuasi-eksperimen. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh dari bulan Oktober 2024 hingga November 2025 dengan sampel penelitian Teungku Inong  sejumlah 62 pada kelompok intervensi dan 61 pada kelompok kontrol, serta remaja sejumlah 186 orang. Analisis data menggunakan Generalized Estimating Equations (GEE) dan Difference in Difference (DiD). Hasil: Teungku Inong  memiliki legitimasi moral dan sosial yang kuat sebagai mediator sosial dalam komunitas, namun memerlukan penguatan kapasitas konseptual terkait kesehatan reproduksi dan life skills . Model Seumeubeut Terpadu yang dikembangkan mengintegrasikan edukasi kesehatan reproduksi, kecakapan hidup psikososial, serta nilai-nilai Islam dan budaya Aceh dalam format pengajian komunitas. Analisis GEE menunjukkan interaksi pada post-test 1 meningkatkan skor peran sebesar β = 3,465 (95% CI: 1,711–5,218; p < 0,001) dan β = 2,578 (95% CI: 0,458 - 4,697 p = 0,01) pada post-test 2. Hasil analisis DiD terdapat peningkatan skor peran pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol dengan koefisien sebesar 15,19 (p < 0,001). Intervensi model berkontribusi terhadap peningkatan peran sebesar 44% pada post-test pertama (1 bulan) dan 49% pada post-test kedua (2 bulan pasca intervensi). Kesimpulan dan saran: Model Seumeubeut Terpadu terbukti secara signifikan meningkatkan peran Teungku Inong sebagai agent of change sekaligus memperkuat faktor protektif remaja terhadap perilaku berisiko. Model Seumeubeut Terpadu dapat direkomendasikan sebagai pendekatan promotif-preventif berbasis komunitas yang kontekstual, aplikatif, dan berpotensi berkelanjutan dalam sistem perlindungan remaja di Aceh.
Background: Adolescents in Aceh face challenges related to risky behaviors such as drug abuse, smoking, premarital sexual activity, teenage pregnancy, and exposure to HIV/AIDS, which impact their health, social well-being, and the quality of human resources. Low levels of knowledge and resilience among adolescents, as well as the limitations of existing programs, pose serious challenges. On the other hand, Aceh possesses social and religious strengths through the role of Teungku Inong and the Seumeubeut tradition as educational spaces close to adolescents, yet these have not been optimally utilized as an approach to adolescent health education. This study aims to develop a community-based reproductive health and life skills  education model through the role of Teungku Inong and Seumeubeut practices in preventing risky health behaviors among adolescents in Aceh Province. Methods: This study employs a mixed-methods exploratory sequential design in three phases: phenomenological qualitative analysis, development of a community-based educational model, and quasi-experimental quantitative analysis. The study was conducted in Bireuen Regency, Aceh Province, from October 2024 to November 2025, with a sample of 62 Teungku Inong in the intervention group and 61 in the control group, as well as 186 adolescents. Data analysis utilized Generalized Estimating Equations (GEE) and Difference-in-Differences (DiD). Results: Teungku Inong possess strong moral and social legitimacy as social mediators within the community; however, they require capacity building regarding reproductive health and life skills . The Integrated Seumeubeut Model developed integrates reproductive health education, psychosocial life skills , as well as Islamic values and Acehnese culture into a community study group format. GEE analysis revealed that the interaction term in Post-test 1 increased role scores by β = 3.465 (95% CI: 1.711–5.218; p < 0.001) and by β = 2.578 (95% CI: 0.458–4.697; p = 0.01) in Post-test 2. Results of the DiD analysis showed an increase in role scores in the intervention group compared to the control group with a coefficient of 15.19 (p < 0.001). The model intervention contributed to a 44% increase in role scores at the first post-test (1 month) and a 49% increase at the second post-test (2 months post-intervention). Conclusions and recommendations: The Integrated Seumeubeut Model was proven to significantly enhance the role of Teungku Inong as agents of change while strengthening protective factors for adolescents against risky behaviors. The Integrated Seumeubeut Model can be recommended as a community-based, contextually relevant, practical, and potentially sustainable promotive-preventive approach within the adolescent protection system in Aceh.
Read More
D-635
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Toha Muhaimin; Promotro: Budi Utomo; Ko-Promotor: Sudarto Ronoatmodjo, Samsuridjal Djauzi; Penguji: Sudijanto Kamso, Arwin Akib, Irwanto, Kemal N. Siregar
D-239
Depok : FKM-UI, 2010
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitrah Reynaldi; Promotor: Dumilah Ayuningtyas; Kopromotor: Prastuti Soewondo, Purnawan Junadi; Penguji: Adang Bachtiar, Wachyu Sulistiadi, Veni Hadju, Harimat Hendarwan, Aripin Ahmad
Abstrak:
Prevalensi stunting di Provinsi Aceh mengalami proses penurunan yang gradual (dengan rata-rata 3,42% per tahun) meskipun telah diperkenalkan berbagai program dan alokasi anggaran yang besar. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model kebijakan Kolaboratif Governansi Plus melalui integrasi kearifan lokal guna memperkuat kolaborasi polisentris antara pemerintah daerah, Majelis Adat Aceh (MAA), dan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU). Studi kualitatif dengan pendekatan multi-kasus dilakukan di Kota Sabang, Kabupaten Nagan Raya, dan Kabupaten Gayo Lues yang memiliki karakteristik wilayah dan capaian penurunan stunting berbeda. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 18 informan kunci, telaah dokumen kebijakan, dan observasi, lalu dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan integrasi kearifan lokal masih bersifat parsial dan belum terlembaga sistematis. Peran MAA dan MPU dalam siklus kebijakan sangat terbatas dan lebih bersifat simbolik daripada substantif. Penelitian menghasilkan model Kolaboratif Governansi Plus yang menempatkan pemerintah, MAA, dan MPU sebagai pusat otoritas setara dalam tata kelola stunting. Model ini menawarkan mekanisme pelembagaan kolaborasi, penganggaran inklusif, dan indikator berbasis budaya untuk menghasilkan kebijakan yang tidak hanya efektif secara teknis tetapi juga memiliki legitimasi kultural dan keberlanjutan sosial.

The prevalence of stunting in Aceh Province has experienced a gradual decline (averaging 3.42% per year) despite the introduction of various programs and substantial budget allocations. This study aims to develop a Collaborative Governance Plus policy model through the integration of local wisdom to strengthen polycentric collaboration between the regional government, the Aceh Customary Council (MAA), and the Ulema Consultative Council (MPU). A qualitative study employing a multi-case approach was conducted in Sabang City, Nagan Raya Regency, and Gayo Lues Regency three regions with distinct characteristics and varying rates of stunting reduction. Data were collected through in-depth interviews with 18 key informants, policy document review, and observation, then analyzed thematically. The findings reveal that the integration of local wisdom remains partial and has not been systematically institutionalized. The roles of MAA and MPU within the policy cycle are highly limited and tend to be more symbolic than substantive. The study produces a Collaborative Governance Plus model that positions the government, MAA, and MPU as equal centers of authority in stunting governance. This model offers mechanisms for institutionalizing collaboration, inclusive budgeting, and culturally-based indicators to generate policies that are not only technically effective but also possess cultural legitimacy and social sustainability.

Read More
D-623
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ruwayda; Promotor: Sutanto Priyo Hastono; Kopromotor: Evi Martha, Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Anhari Achadi, Rita Damayanti, Ade Jubaedah, Muldiasman, Dwi Tyastuti
Abstrak:

ABSTRAK

Latar Belakang: Tingginya angka kematian ibu dan neonatus di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) yang belum mencapai target. Kinerja bidan desa, sebagai ujung tombak pelayanan, dipandang sebagai salah satu faktor krusial yang dapat ditingkatkan melalui supervisi dari bidan koordinator puskesmas. Meskipun demikian, data menunjukkan pelaksanaan supervisi fasilitatif KIA di provinsi Jambi pada tahun 2022 dan 2023 baru mencapai 10.86% dan 17.38% dari target 90%. Khususnya di kabupaten Muaro Jambi, capaiannya lebih rendah lagi, yaitu 11.64% (2022) dan 15.07% (2023). Kesenjangan ini menunjukkan perlunya intervensi strategis untuk meningkatkan kualitas supervisi demi mengoptimalkan kinerja bidan dalam pelayanan KIA.
Tujuan: Mengetahui pengaruh model integrasi midwifery opinion leader dan supervisi fasilitatif terhadap kinerja bidan dan dampaknya pada cakupan pelayanan kesehatan ibu dan anak di Provinsi Jambi tahun 2025.
Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian mixed methods exploratory sequential design terdiri dari 3 tahap yaitu tahap I diawali scoping review, studi pendahuluan dan uji coba instrumen dilanjutkan identifikasi kebutuhan model menggunakan metode kualitatif dengan desain phenomenology. Tahap II meliputi pengembangan model, panel expert, pelatihan dan uji coba model. Tahap III dilakukan uji model terhadap kinerja bidan dengan indikator standar kompetensi kinerja (SKK) dan cakupan pelayanan KIA dengan penelitian quasi experiment pretest-posttest with control designs. Populasi adalah seluruh bidan desa/pustu di provinsi Jambi. Sampel yaitu kelompok intervensi sebanyak 60 responden (di kabupaten Muaro Jambi) dilakukan intervensi model integrasi MOL dan supervisi fasilitatif, sedangkan kelompok kontrol 60 responden (di kota Jambi) dilakukan hanya supervisi fasilitatif. Waktu penelitian pada bulan Mei 2024 hingga Agustus 2025, analisis data dengan univariat, bivariat dan multivariat (Difference in Difference).
Hasil: Berdasarkan identifikasi kebutuhan ditemukan subtema: kinerja bidan, kebutuhan supervisi dan model supervisi. Selanjutnya dilakukan pengembangan model supervisi dengan pendekatan teori COM-B, supportif supervision, midwifery leadership dan coaching sehingga diperoleh model midwifery opinion leader (MOL) yang dapat diintegrasikan dengan program supervisi fasilitatif KIA puskesmas. Hasil uji penerimaan model diperoleh hasil skor tertinggi yaitu sikap terhadap penggunaan rata-rata 4.9 dan terendah yaitu persepsi manfaat dengan skor 4.71. Hasil analisis diff in diff diketahui pada 2 kelompok sebelum dan sesudah intervensi terhadap skor standar kompetensi kerja: penataan pelayanan 1.36(0.24-1.60), asuhan bayi baru lahir 2.36(0.75-3.12) pemeriksaan kehamilan 1.33(0.48-1.82), pemeriksaan ibu bersalin 1.93(1.72-3.65) dan asuhan ibu nifas 1.43(0.30-1.74).Uji dampak model terhadap cakupan KIA yaitu: kunjungan ibu hamil ke-4 (K4)18.25(3.83-22.08), persalinan nakes (PN) 15.53(3.47-19.00), kunjungan nifas (KNF) 15.59(3.41-19.00), kunjungan neonatal lengkap (KNL) 14.35(9.97-24.33), kunjungan bayi (KBY) 19.08 (7.26-26.35) dan kunjungan balita (KBAL) 5.81 (16.14-21.95).
Kesimpulan dan Saran: Model integrasi Midwifery Opinion Leader (MOL) dan supervisi fasilitatif berpengaruh dalam meningkatkan kinerja bidan dalam pelayanan KIA. Disarankan mempertimbangkan model ini dalam kegiatan program supervisi kesehatan ibu dan anak di Puskesmas.


ABSTRACT


Background: The high maternal and neonatal mortality rates in Indonesia are influenced by various factors, including the quality of maternal and child health (MCH) services, which have not yet reached their targets. The performance of village midwives, as the frontline of service delivery, is seen as a crucial factor that can be improved through supervision by health center coordinator midwives. However, data shows that the implementation of facilitative MCH supervision in Jambi province in 2022 and 2023 has only reached 10.86% and 17.38% of the 90% target. In Muaro Jambi district, in particular, the achievement was even lower, at 11.64% (2022) and 15.07% (2023). This gap indicates the need for strategic interventions to improve the quality of supervision in order to optimize the performance of midwives in MCH services.
Objective: To determine the effect of the midwifery opinion leader integration model and facilitative supervision on midwives' performance and its impact on the coverage of maternal and child health services in Jambi Province in 2025.
Research Method: This research is a mixed methods exploratory sequential design consisting of 3 stages, namely stage I, which begins with a scoping review, preliminary study, and instrument testing, followed by the identification of model requirements using a qualitative method with a phenomenology design. Stage II includes model development, expert panel, training, and model testing. Phase III involved testing the model on midwives' performance using standard competency performance (SKK) indicators and MCH service coverage using a quasi-experimental pretest-posttest with control designs. The population consisted of all village midwives/health workers in Jambi Province. The sample consisted of an intervention group of 60 respondents (in Muaro Jambi district) who underwent the MOL integration model intervention and facilitative supervision, while the control group of 60 respondents (in Jambi city) only underwent facilitative supervision. The research period was from May 2024 to August 2025, with data analysis using univariate, bivariate, and multivariate (Difference in Difference) methods.
Results: Based on the identification of needs, the following sub-themes were found: midwife performance, supervision needs, and supervision models. Subsequently, a supervision model was developed using the COM-B theory, supportive supervision, midwifery leadership, and coaching approaches, resulting in a midwifery opinion leader (MOL) model that can be integrated with the KIA puskesmas facilitative supervision program. The model acceptance test results showed the highest score for attitude toward use, with an average of 4.9, and the lowest score for perceived benefits, with a score of 4.71. The results of the diff in diff analysis showed that in the two groups before and after the intervention, the standard work competency scores were: service management 1.36 (0.24-1.60), newborn care 2.36 (0.75-3.12), pregnancy check-ups 1.33 (0.48-1.82), maternity check-ups 1.93 (1.72-3.65), and postpartum care 1.43 (0.30-1.74). The model's impact on MCH coverage was as follows: fourth antenatal visit (K4) 18.25 (3.83-22.08), skilled birth attendance (PN) 15.53 (3.47-19.00), postnatal visit (KNF) 15.59 (3.41-19. 00), complete neonatal visits (KNL) 14.35 (9.97-24.33), infant visits (KBY) 19.08 (7.26-26.35), and toddler visits (KBAL) 5.81 (16.14-21.95).
Conclusion and Recommendations: The integration model of Midwifery Opinion Leader (MOL) and facilitative supervision has an impact on improving midwives' performance in maternal and child health services. It is recommended to consider this model in maternal and child health supervision program activities at health centers.

Read More
D-603
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendriyanto; Promotor: Meiwita P. Budiharsana; Ko Promotor: Mardiati Nadjib; Penguji: Pujiyanto; Julianty Pradono, Rita Damayanti, Dumilah Ayuningtyas, Besral, Trihono
Abstrak: Program pengendalian penyakit kronis (Prolanis) dan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan dua program yang berupaya untuk mengendalikan hipertensi di kalangan masyarakat Indonesia. Dalam implementasinya kedua program ini terlihat tidak saling terkoordinasi antara satu dan lainnya, baik BPJS Kesehatan dan Kementerian Kesehatan RI. Penelitian ini bertujuan untuk melihat keterkaitan prolanis dan Posbindu PTM terhadap hipertensi terkontrol di Provinsi Jambi. Hasil penelitian memperlihatkan proporsi hipertensi terkontrol pada kedua kelompok ini masih tergolong rendah yaitu 18% pada prolanis dan 10 % pada kelompom posbindu PTM , sedangkan control hanya 9%. Kondisi tersebut dimungkinkan berkontribusi terhadap turunnya kinerja program PTM menurut Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM). Dari hasil analisis multilevel terbukti bahwa level individu lebih dominan mempengaruhi tekanan darah yang terkontrol dibandingkan level kelompok. Keunggulan prolanis terlihat pada variabel yang bersifat individu, artinya individu yang ada di kelompok prolanis lebih efektif dibandingkan posbindu PTM. Sedangkan posbindu PTM memiliki pengaruh lebih besar secara statistik pada level kelompok dibandingkan prolanis. Kondisi ini memberi peluang besar untuk melakukan integrasi program prolanis dan posbindu PTM agar lebih efektif dan efisien.
Read More
D-441
Depok : FKM-UI, 2021
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Permatasari; Promotor: Mardiati Nadjib; Kopromotor: Besral; Penguji: Adang Bachtiar, Dumilah Ayuningtyas, Pujiyanto, Hikmat Permana, Fachmi Idris, Mahlil Ruby, Eva Susanti
Abstrak:
Latar belakang. Manajemen penyakit dari sisi peserta dan jejaring fasilitas kesehatan pada implementasi pelayanan rujuk balik terhadap pengendalian diabetes mellitus belum bejalan dengan efektif. Masalah terbesar yang ditemukan dalam PRB adalah manajemen pelayanan rujuk balik yang kurang, sering terjadinya kekosongan obat dan koordinasi klinis belum berjalan dengan baik antar Fasilitas Kesehatan, dan Penderita dengan diagnosis DM tipe masih banyak yang belum terdaftar pada kegiatan Prolanis. Tujuan penelitian untuk membuktikan kontribusi prolanis terhadap keterkendalian gula darah peserta PRB setelah dikontrol faktor individu, faktor fasilitas Kesehatan dan faktor di tingkat kabupaten/kota. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain kohort retrospektif. Pengumpulan data dilakukan dengan data primer yang berupa hasil pengisian kuesioner dan data dari faskes. Sampel penelitian ini merupakan penderita DM yang berkunjung ke jejaring faskes dalam 6 bulan terakhir yang terpilih dalam survei. Pengujian data dilakukan melalui analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Analisis dilakukan dengan analisis multilevel regressi logistic. Hasil. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya perbedaan kontribusi program rujuk pada penderita DM peserta Prolanis dengan peserta Non Prolanis setelah dikontrol faktor individu dan faktor kontekstual pada penyedia layanan kesehatan terhadap keterkendalian gula darah pada Penderita diabetes melitus tipe 2. Hal ini terlihat dari penderita DM peserta PRB kelompok Prolanis memiliki peluang 5,63 kali lebih besar dapat meningkatkan keterkendalian gula darah. Kelompok penderita DM yang hanya mengikuti PRB memiliki kontribusi 3,85 kali lebih besar dapat meningkatkan keterkendalian gula darah. Diskusi. Prolanis berkontribusi terhadap keterkendalian gula darah pada Penderita diabetes mellitus tipe 2 peserta PRB. Peserta PRB yang mengikuti kegiatan Prolanis dapat lebih meningkatkan keterkendalian gula darah dibandingkan dengan peserta PRB yang tidak mengikuti kegiatan prolanis. Faktor individu dan faktor kontekstual pada penyedia layanan Kesehatan akan berdampak pada keterkendalian gula darah. Kesimpulan. Program rujuk balik memiliki kontribusi terhadap keterkendalian gula darah penderita DM namun kontribusinya akan lebih besar jika penderita DM peserta PRB juga aktif mengikuti kegiatan Prolanis. Saran. Keikutsertaan kegiatan Prolanis menjadi anjuran bagi penderita DM peserta program rujuk balik agar mendapatkan edukasi yang kesehatan yang memadai dalam rangka meningkatkan keterkendalian gula darah.

Background. Disease management from the participant side and the network of health facilities in the implementation of referral services for controlling diabetes mellitus have not been effective. The biggest problems found in PRB are poor management of referral services, frequent drug shortages and clinical coordination not yet running well between Health Facilities, and many sufferers diagnosed with type DM are still not registered with Prolanis activities. The aim of the research is to prove the contribution of prolanis to the control of blood sugar in PRB participants after controlling for individual factors, health facility factors and factors at the district/city level. Method. This research is a quantitative study with a retrospective cohort design. Data collection was carried out using primary data in the form of questionnaire results and data from health facilities. The sample for this study was DM sufferers who visited the health facility network in the last 6 months who were selected in the survey. Data testing was carried out through univariate, bivariate and multivariate analysis. Analysis was carried out using multilevel logistic regression analysis. Results. The results of this study show that there is a difference in the contribution of the referral program for DM sufferers who participated in Prolanis and non-Prolanis participants after controlling for individual factors and contextual factors in health service providers on controlling blood sugar in type 2 diabetes mellitus sufferers. This can be seen from DM sufferers participating in the PRB group. Prolanis has a 5.63 times greater chance of improving blood sugar control. The group of DM sufferers who only participated in PRB had a 3.85 times greater contribution to improving blood sugar control. Discussion. Prolanis contributes to blood sugar control in people with type 2 diabetes mellitus in PRB participants. PRB participants who took part in Prolanis activities were able to improve blood sugar control more compared to PRB participants who did not take part in Prolanis activities. Individual factors and contextual factors among health service providers will have an impact on blood sugar control. Conclusion. The referral program contributes to the control of blood sugar in DM sufferers, but the contribution will be greater if DM sufferers who are PRB participants also actively participate in Prolanis activities. Suggestion. Participating in Prolanis activities is a recommendation for DM sufferers participating in the referral program to receive adequate health education in order to improve blood sugar control.
Read More
D-517
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irwandy; Promotor: Amal Chalik Sjaaf; Kopromotor: Anhari Achadi, Mardiati Nadjib; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Purnawan Junadi, Besral, Abdul Kadir, Supriyantoro, Harimat Hendrawan
Abstrak: ABSTRAK Pengelolaan rumah sakit yang efisien dengan tetap memperhatikan kendali mutu dan biaya menjadi kunci agar mampu bertahan di era Jaminan Kesehatan Nasional saat ini khususnya bagi RS yang berstatus BLUD yang dituntut untuk dapat mengelola operasional rumah sakit dengan prinsip efisiensi dan produktifitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat efisiensi rumah sakit BLUD di Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2014-2017. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Populasi penelitian adalah seluruh RS Pemerintah yang telah berstatus BLUD di Provinsi Sulawesi Selatan. Sampel RS penelitian sebanyak 25 RS. Unit analisis adalah kinerja tahunan RS selama 4 tahun (2014-2107). Untuk mengembangkan indikator efisiensi RS digunakan metode wawancara Delphi dan Uji Stabilitas dan Sensititifitas Indikator dengan stepwise modelling melalui pendekatan backward menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA). Penilaian Efisiensi dan Produktifitas RS dianalisis dengan menggunakan metode DEA dan Malmquist Productivity Index. Dalam menilai faktor yang berpengaruh terhadap tingkat efisiensi RS digunakan Regresi Tobit. Selanjutnya potensi pengembangan efisiensi RS dianalisis dengan menganalisis total potential Improvement RS, wawancara mendalam dan Matriks Analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan indikator input dan output yang dapat digunakan untuk mengukur efisiensi RS BLUD di Provinsi Sulawesi Selatan terdiri atas indikator input yakni luas bangunan, Total Asset, Total Biaya Operasional dan Total Biaya Farmasi sedangkan indikator output terdiri atas jumlah pasien, jumlah pemeriksaan laboratorium, tindakan operasi, total pendapatan operasional, Av-LOS dan TOI. Skor efisiensi RS selama periode penelitian (2014-2017) sebesar 1,023 (2.3%) dan produktifitas rumah sakit tumbuh sebanyak 4% namun hasil penelitian menunjukkan dari tahun ketahun tingkat efisiensi dan produktifitas RS cenderung terus menurun. Selanjutnya ditemukan bahwa terdapat pengaruh antara tingkat efisiensi rumah sakit dengan kelas RS, status BLUD, Akreditasi rumah sakit, jumlah RS sekitar dan jumlah penduduk. Untuk mencapai tingkat efisiensi yang optimal RS perlu mengoptimalisasikan penggunaan input RS seperti asset, bangunan, biaya operasional dan biaya farmasi rumah sakit. Selanjutnya RS masih harus meningkatkan kapasitas outputnya agar optimal yakni untuk jumlah pasien sebesar 10,05%, pemeriksaaan laboratorium sebesar 18,2%, tindakan operasi sebesar 11,73%, pendapatan operasional RS sebesar 8,45% serta menjaga tingkat Av-LOS RS agar tidak terjadi peningkatan melebihi 20,39% dari ratarata saat ini dan 21,59% untuk TOI. Kata Kunci: Efisiensi, RS, BLUD, DEA, Indonesia, Sulawesi Selatan ABSTRACT Managing the hospital with concern to quality control and costs is the key to survive in the current era of National Health Insurance, especially for hospitals with BLUD status that are required to be able to manage with the principle of efficiency and productivity. The purpose of this study was to analyze the level of efficiency of BLUD hospitals in South Sulawesi Province in 2014-2017. This study used a cross sectional design with quantitative and qualitative approaches. The study population was all government hospitals that had BLUD status in South Sulawesi Province. The samples were 25 hospitals. The unit of analysis were the annual performance of hospitals (years 2014-2107). To develop hospital efficiency indicators, we used the Delphi interview method and Stability and Sensitivity Test with stepwise modeling through a backward approach using the Data Envelopment Analysis (DEA). The hospital efficiency and productivity assessment were analyzed using the DEA and the Malmquist Productivity Index. In assessing the factors that influence the level of efficiency of the hospital, tobit regression is used. Furthermore, the strategy to improve the efficiency of hospitals was analyzed with DEA, in-depth interviews with hospital managers and SWOT Analysis Matrix. The results showed that the indicators that can be used to measure the efficiency of the BLUD Hospital in South Sulawesi Province consisted building area, Total Assets, Total Operating Costs and Total Pharmaceutical Costs as input indicators, while the output indicator consisted of the number of patients, number of laboratory examinations, number of operations procedures, total income of hospital, Av-LOS and TOI. Hospital efficiency scores during the study period (2014-2017) were 1.023 (2.3%) and hospital productivity grew by 4% but the results of the study showed that from year to year the level of efficiency and productivity of hospitals tended to decline. Furthermore, it was found that there was an influence between the level of efficiency of the hospital and the hospital class, BLUD status, hospital accreditation, number of hospitals around and population density. To achieve the optimal level of efficiency, the hospital needs to optimize the use of hospital inputs such as assets, buildings, operational costs and hospital pharmacy costs. Furthermore, the hospital still has to increase the output capacity to be optimal, by improve the number of patients at 10.05%, laboratory examination by 18.2%, operating procedure by 11.73%, hospitals income at 8.45% and maintaining the level of Av-LOS should be not increase more than 20.39% of the current average and 21.59% for TOI. Keywords: Efficiency, Hospital, BLUD, DEA, Indonesia, South Sulawesi Province
Read More
D-394
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Triseu Setianingsih; Promotor: Purnawan Junadi; Kopromotor: Adang Bachtiar, Penguji: Sudijanto Kamso, Dumilah Ayuningtyas, Ede Surya Darmawan, Soewarta Kosen, Artha Budi Susila Duarsa, Aria Kusuma
Abstrak: Di Indonesia Angka kematian neonatus masih belum mengalami penurunan dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2012 yaitu 19/1000 KH (SDKI,2012).Sebagian besar kematian neonatal yang terjadi setelah 6-48 jam pasca kelahiran dapat dicegah dengan perawatan bayi baru lahir yang tepat dan dimulai segera setelah melahirkan melalui Kunjungan neonatal pertama (KN1) yang adekuat dan sesuai standar (WHO,2012). Namun kualitas pelayanan KN1 masih belum sesuai dengan target yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara multivel faktor-faktor yang mempengaruhi Kunjungan neonatal pertama dari berbagai level.
 
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan didukung oleh penelitian kualitatif. Sampel yang digunakan untuk masing-masing level adalah 1014 ibu bayi untuk level 1, 95 orang pengelola desa untuk level desa, 51 pengelola Program kesehatan anak Puskesmas untuk level 3 dan 13 pengelola Program kesehatan anak kabupaten untuk level 4 yang ada di 8 Propinsi di Indonesia. Analisis data dilakukan melalui analisis univariat, bivariat, multivariat dengan Regresi Logistik dan permodelan Multilevel dengan menggunakan analysis multilevel regression logistic random intercept model dengan menggunakan Program Stata 14.0. Metode triangulasi digunakan dalam studi kualitatif untuk menjaga validitas data.
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa capaian KN1 askes sebesar 47.5% lebih tinggi dibanding KN1 berkualitas yaitu 29.3 %. Hasil pemodelan multilevel menunjukkan bahwa variabel yang paling besar pengaruhnya terhadap KN1 Akses dan kualitas adalah Penolong persalinan dengan PValue.0.000 dan OR=3.359 untuk KN1 akses dan PValue 0.04 dan OR = 3.035 untuk KN1 kualitas. Pada permodelan akhir, secara bersama-sama kontribusi semua level pada KN1 akses sebesar 57.27 % sedangkan untuk KN1 kualitas sebesar 87.76%. Berdasarkan penerapan manajemen mutu total sebagian besar 52.6 % Puskesmas berada pada fase 2 dan Level 2 yaitu masih berorientase ke Proses belum mengarah ke penerapan Total manajemen mutu (TQM). Penelitian ini menunjukkan kesesuaian pola hubungan antara enabler dan result sesuai pola dalam EFQM model.
 
Disarankan kepada Dinas Kesehatan kabupaten dan Kementerian Kesehatan, untuk mengupayakan dan menjamin keberadaan dan pendistribusian bidan di setiap desa dan mengoptimalkan perencanaan tenaga kesehatan (bidan) sesuai PMK N0.33 Tahun 2015. Disarankan kepada Puskesmas untuk mengupayakan kontak antara petugas kesehatan dengan ibu bayi sebelum kelahiran bayi untuk meningkatkan akses pada periode berikutnya yaitu KN1. Perlu adanya kerjasama dan kemitraan yang baik antara puskesmas dengan pengelola desa untuk menguatkan keberdayaan desa dalam bidang kesehatan sehingga pada level individu ibu menjadi lebih berdaya dan memiliki peluang yang besar untuk membawa anaknya dalam pelaksanaan KN1 , selain itu untuk meningkatkan kualitas manajemen Puskesmas perlu adanya supervisi dan penerapan SMM (Sistem Manajemen Mutu) Puskesmas misalnya melalui penerapan ISO untuk menjamin Pelayanan Prima dan pengelolaan Puskesmas yang berkualitas.
 

 
Neonatal mortality rate in Indonesia is still experiencing a decrease from 2007 up to 2012, namely 19/1000 KH (IDHS, 2012) .Most of neonatal deaths that occur after 6-48 hours after birth can be prevented with newborn care is appropriate and started soon after birth through the first neonatal visit (KN1) adequate and appropriate standards (wHO, 2012). However KN1 service quality still does not meet the expected target.
 
This study aims to analyze multivel factors affecting neonatal visit was the first of a variety of levels. This research is a quantitative research was supported by qualitative research. The sample used for each level is 1014 mothers of infants to level 1, 95 managers of the village to the village level, 51 managers of health programs Child Health Center for level 3 and 13 managers Program child health districts to level 4 in 8 Provinces in Indonesia , The data analysis was done through univariate, bivariate, and multivariate logistic regression modeling Multilevel analysis using multilevel logistic regression models with random intercept using the program Stata 14.0. Triangulation method used in a qualitative study to maintain the validity of the data.
 
The results showed that the achievement KN1 askes by 47.5% higher than the quality KN1 ie 29.3%. Multilevel modeling results indicate that the variables that most influence on KN1 Access and quality are labor Helper with PValue.0.000 and OR = 3.359 for KN1 access and pvalue 0:04 and OR = 3,035 for KN1 quality. At the end of the modeling, jointly contribute to the KN1 access all levels of 57.27% while for KN1 quality of 87.76%. Based on the application of total quality management largely PHC 52.6% are in Phase 2 and Level 2 is still berorientase to process not yet led to the implementation of total quality management (TQM). This study demonstrated the suitability of the pattern of relationships between enablers and the result according to the pattern in the model EFQM.
 
Suggested to the District Health Office and the Ministry of Health, to seek and ensure the presence and distribution of midwives in every village and optimize the planning of health professionals (midwives) in accordance PMK N0.33 Year 2015. It is suggested to contact the health center to seek health care workers with the baby's mother before birth baby to improve access in the next period that is KN1. The need for cooperation and partnership between local health centers with managers of the village to strengthen the empowerment of villagers in the health sector so that at the level of individual mothers become more empowered and have a great opportunity to bring his son in the implementation KN1, in addition to improving the quality of management of PHC need for supervision and implementation of QMS (quality Management System) health centers for example through the implementation of ISO to guarantee the quality Service and quality management of the health center.
Read More
D-347
Depok : FKM-UI, 2016
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive