Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40389 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Peter Rusli; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Adang Bachtiar, Amila Megraini, Vrilia Adirasari
Abstrak: Rumah sakit sebagai fasilitas kesehatan tingkat lanjut diharapkan dapat memberikan pelayanan paripurna. Dalam prosesnya itu sejalan dengan tujuan Akreditasi Rumah Sakit agar mendapatkan pengakuan mutu serta mengutamakan keselamatan pasien. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kesiapan pemenuhan standar Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) menurut Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) edisi 1 di rumah sakit Mitra dengan menggunakan langkah-langkah dalam problem solving cycle. Penelitian ini adalah riset operasional dengan metode kualitatif dimana pengumpulan datanya dilakukan dengan wawancara mendalam dan telaah dokumen. Hasil penelitan menunjukkan bahwa dari sisi input terhadap sumber daya manusia, sarana dan prasarana, penganggaran dan instrumen sudah maksimal meski dengan berbagai keterbatasan dan kondisi rumah sakit yang masih baru beroperasional. Dalam sisi proses untu pemenuhan kualifikasi sumber daya manusia (SDM) sudah cukup meski pembekalan terhadap pelatihan masih minim dan terbatas pelatihan internal ataupun studi banding ke rumah sakit lain. Pengadaan sarana prasana juga masih menggunakan prioritas yang berhubungan langsung dengan pelayanan seperti pengadaan handrub dan hand soap program cuci tangan dan unit Central Sterile Supply Department (CSSD), londri dan gizi untuk peralatan dan ruangan yang sesuai standar PPI. Pembiayaan masih terkendala karena ketersediaan dana yang terbatas namun mampu dioptimalkan. Pelaksanaan instrumen yang meliputi monitoring evaluasi dinilai masih belum maksimal namun sudah berjalan dengan baik. Sebagai output capaian pemenuhan standar PPI melalui self assessment dari semua bagian input dinilai sudah cukup dan mampu untuk menghadapi porses akreditasi rumah sakit. Kesimpulannya kesiapan SDM, sarana prasarana, kebijakan/ regulasi, penganggaran serta instrumen Standar PPI sebagian besar sudah terpenuhi dan telah siap menghadapi survei akreditasi rumah sakit. Saran bagi Komite PPI dan Infection Prevention and Control Nurse (IPCN), Keperawatan, Manajemen Rumah Sakit serta Tim Akreditasi untuk dapat berkoordinasi secara berkesinambungan agar mendapat umpan balik, melakukan sosialisasi rutin terkait edukasi standar PPI baik kepada staf maupun pasien dan keluarga pasien sehingga mutu rumah sakit terhadap PPI dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan.

The hospital as an advanced health facility is expected to provide complete services. In the process it is in line with the objectives of Hospital Accreditation in order to get quality recognition and prioritize Patient Safety. The purpose of this study was to determine the readiness to fulfill Infection Prevention and Control standards according to SNARS first edition in Mitra Jambi Hospital in terms of problem solving cycle. The research method used is qualitative research where the data collection is done by in- depth interviews and document review. The research results show that in terms of input to human resources, facilities and infrastructure, budgeting and instruments have been maximized despite various limitations and conditions of hospitals that are still operating. In terms of the process for fulfilling human resources qualifications, it is sufficient even though training on training is still minimal and limited to internal training or comparative studies to other hospitals. Procurement of infrastructure is also still using priority directly related to services such as the procurement of hand rubs and hand soap hand washing programs and Central Sterile Supply Department (CSSD) units, laundry and nutrition for equipment and rooms that comply with Infection Prevention and Control standards. Financing is still constrained due to the limited availability of funds but can be optimized. The implementation of the instrument which includes monitoring evaluation is considered to be still not maximal but has gone well. As an output, the achievement of meeting Infection Prevention and Control standards through self-assessment from all parts of the input is considered sufficient and able to deal with the hospital accreditation process. In conclusion, the readiness of human resources, infrastructure, policies/ regulations, budgeting as well as the PPI Standard instruments have been largely fulfilled and are ready to face hospital accreditation surveys. Suggestion to Infection Prevention and Control Committee and Infection Prevention and Control Nurse (IPCN), Nurse Department, Hospital Management and also Accreditation Team to continuous coordination each other to achieve feedback, regularly socialization for educational of Infection Prevention and Control standard to staff and also patient with their family, goals to maintain and increasing hospital quality thorough Infection Prevention and Control.
Read More
B-2157
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ferti Dwi Ekasari; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Ede Surya Darmawan, Winarto, Indah Rachmawati
Abstrak: Pelaksanaan akreditasi rumah sakit merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien di rumah sakit serta persyaratan yang harus dipenuhi oleh setiap rumah sakit yang melayani Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) merupakan salah satu standar akreditasi yang sangat penting di rumah sakit dan merupakan program yang baru berjalan di RSUD Cempaka Putih. Peneliti merasa perlu untuk mengetahui bagaimana kesiapan RSUD Cempaka Putih terhadap standar PMKP sesuai SNARS Edisi 1 sehingga tercipta budaya mutu dan keselamatan pasien. Jenis penelitian ini merupakan penelitian desktiptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pengumpulan dan analisis data kuantitatif dengan menggunakan kuesioner kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan dan analisis data kualitatif dengan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan RSUD Cempaka Putih dalam pelaksanaan implementasi program PMKP baru sekitar 50%, masih diperlukan upaya perbaikan secara bertahap. Rencana aksi yang dapat dilakukan dalam meningkatkan efiesiensi pelaksanaan program PMKP di RSUD Cempaka Putih antara lain dengan perbaikan sarana dan prasarana, peningkatan kompetensi dan wawasan terhadap program PMKP, peningkatan kesadaran dan disiplin staf rumah sakit, resosialisasi komunikasi dan koordinasi program PMKP serta pemenuhan manajemen data yang terintegrasi.

The implementation of hospital accreditation is a government effort to improve the quality of service and safety of patients in hospitals and the requirements that must be met by each hospital serving the National Health Insurance Program (JKN). Quality and Patient Safety Improvement (PMKP) is one of the most important accreditation standards in hospitals and is a new program that runs in Cempaka Putih Hospital. The researcher felt that it was necessary to find out how prepared the Cempaka Putih Hospital was towards the PMKP standard in accordance with SNARS Issue 1 so as to create a quality and patient safety culture. This type of research is desktiptif research with quantitative and qualitative approaches. Collection and analysis of quantitative data using a questionnaire then continued with the collection and analysis of qualitative data with indepth interviews. The results showed that the readiness of Cempaka Putih Hospital in the implementation of the PMKP program was only around 50%, it still needed gradual improvement efforts. Action plans that can be taken to improve the efficiency of the PMKP program implementation at Cempaka Putih Hospital include improvements in facilities and infrastructure, increased competency and insight into PMKP programs, increased hospital staf awareness and discipline, communication and coordination of PMKP programs and fulfillment of an integrated data management.
Read More
B-2111
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Firman Kurnianto; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Surya Ede Darmawan, Vetty Yuliantiy Permanasari, Alinur, Hendik Wicaksono
Abstrak: Latar Belakang: PPI adalah salah satu bab dalam SNARS Edisi 1 meliputi 9 fokus area. Saat ini belum ada analisa capaian standar PPI berdasarkan kepemilikan rumah sakit dengan data sekunder SNARS Edisi 1 di Indonesia. Metode: Cross sectional menggunakan data sekunder KARS. Sampel seluruh RS terakreditasi tahun 2018-2019 yang diuji berdasarkan variable kepemilikan. Hasil dan Pembahasan: Didapatkan 1.271 RS dengan RS pemerintah (537 RS) dan RS swasta (734 RS). Fokus Area 4 nilai tertinggi pada regulasi pelayanan sterilisasi, pengelolaan linen serta nilai terendah pada penjaminan proses sterilisasi dan desinfeksi di luar CSSD, bukti pelaksanaan monitoring kepatuhan PPI dalam pelayanan sterilisasi pihak ketiga dan pihak ketiga pengelolaan linen harus memenuhi sertifikasi mutu. Fokus Area 8 nilai tertinggi pada regulasi penempatan pasien infeksi airborne, hand hygiene dan alat pelindung diri serta nilai terendah pada bukti monitoring IPCN terhadap penempatan pasien imunitas rendah, terhadap penempatan dan proses transfer pasien airborne disease serta RS menyediakan ruang isolasi tekanan negatif. Kesimpulan: Nilai tertinggi Fokus Area 4 didapatkan pada unsur regulasi pelayanan sterilisasi dan pengelolaan linen. Nilai tertinggi Fokus Area 8 didapatkan pada unsur regulasi penempatan pasien infeksi airborne, hand hygiene, alat pelindung diri
Background: PPI is one of the chapters in SNARS Edition 1 covering 9 focus areas. Currently, there is no analysis of the achievement of PPI standards based on hospital ownership with secondary data from SNARS Edition 1 in Indonesia. Cross sectional using KARS secondary data. Samples of all accredited hospitals in 2018-2019 were tested based on ownership variables. Results and Discussion: There were 1,271 hospitals with government hospitals (537 hospitals) and private hospitals (734 hospitals). Area 4 focuses on the highest score on regulation of sterilization services, linen management and the lowest score on the guarantee of sterilization and disinfection processes outside of CSSD, evidence of PPI compliance monitoring in third party sterilization services and third party linen management must meet quality certification. Focus Area 8, the highest score on the regulation of the placement of patients with airborne infections, hand hygiene and personal protective equipment and the lowest score on the evidence of IPCN monitoring on the placement of patients with low immunity, on the placement and transfer process of airborne disease patients and hospitals providing negative pressure isolation rooms. Conclusion: The highest value of Focus Area 4 was obtained on the elements of regulation of sterilization services and linen management. The highest value of Focus Area 8 was obtained on the elements of regulation of the placement of patients with airborne infections, hand hygiene, personal protective equipment
Read More
B-2239
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anak Agung Raka Jeni; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Prastuti C. Soewondo, Amal Chalik Sjaaf, TB. Firmansyah B. Rifai, Albert Maramis
Abstrak: Akreditasi rumah sakit adalah pengakuan pemerintah kepada rumah sakit yang telahmemenuhi standar yang telah ditetapkan. Akreditasi rumah sakit di Indonesiadilaksanakan untuk menilai kepatuhan rumah sakit terhadap standar akreditasi. Di RSUDharma Yadnya sudah melaksanakan akreditasi 4 standar : Pencegahan danPengendalian Infeksi, Kualifikasi dan Pendidikan Staf, Hak Pasien dan Keluarga danSasaran Keselamatan Pasien. Pada standar PPI paling banyak meninggalkanPerencanaan Perbaikan Strategis (PPS) yaitu sebanyak 23 item dari 11 elemen penilaiandibandingkan dengan tiga standar lainnya. Adapun tujuan dari penelitian ini adalahuntuk diketahui proses pelaksanaan perbaikan 23 item dan hambatan yang ditemukan.Metode penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan teknik pengambilan datawawancara mendalan dan telaah dokumen, dengan 4 orang partisipan. Hasil penelitianini menunjukkan pada re-survey pertama tahun 2016 terselesaikan 5 elemen penilaian,re-survey kedua tahun 2017 terselesaikan 16 elemen penilaian dan menyisakan 2elemen penilaian yang belum tercapai yaitu pada pemenuhan sarana ruang isolasidengan ruangan bertekanan negatif dan filtrasi HEPA. Dengan kendala harga alat danpemeliharaan yang mahal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa untuk membangunbangunan rumah sakit yang baru apalagi untuk keperluan investasi, harusmemperhatikan arsitektur rumah sakit yang ditentukan oleh standar akreditasi rumahsakit.
Hospital accreditation is the government's recognition to hospitals that have met theestablished standards. Hospital accreditation in Indonesia is conducted to assess hospitalcompliance with accreditation standards. Dharma Yadnya Hospital have implemented 4accreditation standard: Infection Prevention and Control, Qualification and StaffEducation, Patient and Family Rights and International Patient Safety Goals. At mostinfection prevention and control standards leave strategic improvement planning asmany as 23 items from 11 assessment elements compared with three other standards.The purpose of this research is to know the implementation process to improve 23assessment element and obstacles found. The method of this research is qualitativeresearch, using deep interview and document review technique, with 4 participants. Theresult of this study showed that in the first re-survey of 2016 completed 5 elements ofassessment, the second re-survey of 2017 completed 16 elements of assessment andleaving 2 elements of assessment that have not been achieved, that is the fulfillment ofisolation facilities with negative pressure rooms, and HEPA filtration. With expensivetool and maintenance cost constraints. This research concluded that to build a newhospital building especially for investment purposes, must pay attention to hospitalarchitecture which determined by hospital accreditation standard.
Read More
B-2024
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Regina Destrina Damanik; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Surya Ede Darmawan, Helen Andriani, Titi Anggraeni, Jaka Supriyadi
Abstrak: Keselamatan pasien merupakan inti dari mutu pelayanan. Untuk mencapainya diperlukan komitmen yang kuat dari individu dan tim. Pentingnya budaya keselamatan ditekankan dalam sebuah laporan oleh Institute of Medicine (IOM) yang mengatakan budaya keselamatan pasien perlu dikembangkan agar selanjutnya akan difokuskan dalam upaya peningkatan reliabilitas dan keamanan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil capaian pemenuhan standar Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) dalam akreditasi Rumah Sakit berdasarkan SNARS Edisi 1. Penelitian ini menggunakan metode crossectional dari data sekunder hasil akreditasi RS yang berpedoman pada SNARS edisi 1 dalam kurun waktu tahun 2018-2019 dan khusus pada penilaian bab Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) yang bersumber dari basis data KARS. Kemudian dilanjutkan dengan metode kualitatif untuk mendapatkan faktor pendukung dan dan penghambat akan dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap informan sesuai dengan syarat informan. Penelitian dilakukan menggunakan data sekunder dari basis data SIKARS pada tahun 2018-2019 yang diperoleh dengan persetujuan Ketua Eksekutif KARS setelah melalui kaji etik. Kemudian setelah mendapatkan data sekunder dilanjutkan dengan wawancara mendalam. Hasil dari penelitian ini adalah dari 1271 rumah sakit yang telah diakreditasi oleh KARS tahun 2018-2019 hampir seluruh RS Kelas A, B, C dan D memenuhi secara lengkap standar fokus area 1 PMKP. untuk capaian fokus area 2, 3, 4 dan 5 PMKP, lebih banyak RS kelas A yang terpenuhii secara lengkap dibandingkan RS kelas B, C dan D. Dari uji komparatif ditemukan seluruh fokus area 1,2,3,4 dan 5 PMKP berhubungan dengan RS Kelas A,B,C dan D dengan nilai p <0,005. Faktor yang mendukung terhadap pemenuhan standar PMKP adalah adanya dukungan top manajemen, fasilitas yang mendukung budaya pelaporan mutu dan keselamatan pasien. Factor yang menghambat adalah kurangnya pelatihan yang mengenai Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
Read More
B-2211
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lenggo Geni Sari; Pembimbing : Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Anhari Achadi, Ede Surya Darmawan, Nani Widodo, Cahyarini
Abstrak: Infeksi yang berhubungan dengan perawatan kesehatan atau infeksi yang diperoleh dalam perawatan kesehatan adalah efek samping yang paling umum dalam penyediaan layanan kesehatan di seluruh dunia. Rumah sakit bertujuan untuk memberikan perlindungan bagi keselamatan pasien, masyarakat, lingkungan rumah sakit dan sumber daya manusia di rumah sakit dan meningkatkan kualitas dan mempertahankan standar layanan rumah sakit. Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) adalah upaya untuk memastikan perlindungan setiap orang dari kemungkinan tertular infeksi dari sumbersumber publik dan saat menerima layanan kesehatan di berbagai fasilitas kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis implementasi program pencegahan dan pengendalian infeksi di RSUP Persahabatan Jakarta. Desain penelitian adalah kualitatif dengan menggunakan metode wawancara mendalam terstruktur, telaah dokumen serta observasi dengan memakai lembaran observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sumber Daya Manusia masih kurang, sarana dan prasarana belum berkesinambungan dibeberapa unit layanan, kepatuhan kebersihan tangan di kalangan peserta didik masih rendah, laporan mengenai infeksi daerah operasi masih belum optimal dan pencatatan serta pelaporan kegiatan program PPI belum disampaikan ke Kementerian Kesehatan. Implementasi program PPI di rumah sakit membutuhkan dukungan SDM, sarana prasarana yang berkesinambungan terutama untuk sarana prasarana kebersihan tangan, edukasi yang intens terhadap peserta didik dan karyawan rumah sakit akan kepatuhan kebersihan tangan dan sistem pencatatan dan pelaporan kegiatan PPI sesuai aturan yang ada.
Read More
B-2078
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Putu Dharma Anggara Putra; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Ede Surya Darmawan, Dumilah Ayuningtyas, Indah Rosana Dj., Dewi Lestarini
B-2057
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Nyoman Dwi Sutrisnawati; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Anhari Achadi, Vetty Yuilianty Permanasari, Satrio Nugroho Pratomo, Yuli Prapancha Satar
B-1762
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ida Bagus Nyoman Maharjana; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Helen Adnriani, Sutoto, R.A. Tuty Kuswardhani
Abstrak:
Latar belakang: Pelayanan kefarmasian di rumah sakit telah diatur dengan terbitnya Permenkes nomor 72 tahun 2016. Akreditasi sebagai pengakuan mutu pelayanan di rumah sakit menuangkan pedoman pelayanan kefarmasian pada bab Pelayanan Kefarmasian dan Penggunaan Obat (PKPO) yang terdiri dari 7 standar dan 80 elemen penilaian. SNARS sebagai pedoman akreditasi yang diterbitkan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS), lembaga independen yang ditetapkan Menteri Kesehatan, untuk menilai implementasi pelayanan sesuai standar. Belum diketahui kesesuaian dan tantangan pelayanan kefarmasian di RS terhadap SNARS termasuk faktor-faktor pendukung dan penghambat pada pemenuhan standar akreditasi. Metode: Mix-methods. Cross sectional menggunakan data sekunder dari basis data KARS. Sampel adalah total populasi, diujikan berdasarkan variabel jenis, kepemilikan, kelas dan propinsi rumah sakit terhadap nilai rata-rata PKPO. Kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap surveior KARS dan asesi RS. Hasil dan Pembahasan: Didapatkan 1.725 RS dengan nilai rata-rata skor akhir PKPO adalah 79,16. Terdapat perbedaan yang signifikan pada kepemilikan (Pemerintah, Swasta) (p=0,001), kelas (A, B, C, D) (p<0,001), dan Propinsi (p<0,001). Berdasarkan standar PKPO, rata-rata nilai tertinggi pada standar penyimpanan untuk jenis (RSU dan RSK), kepemilikan (pemerintah dan swasta), pada kelas (B,C,D), dan propinsi, sedangkan standar peresepan dan penyalinan pada rumah sakit kelas A. Rata-rata nilai terendah pada standar monitoring untuk semua variabel. Kesimpulan: Standar penyimpanan menjadi kekuatan pelayanan kefarmasian rumah sakit di Indonesia terhadap kesesuaian SNARS. Standar monitoring menjadi tantangan terhadap kesesuaian SNARS pada jenis (RSU dan RSK), kepemilikan (pemerintah dan swasta), kelas (A,B,C,D), dan propinsi rumah sakit di Indonesia

Background: Pharmaceutical services in hospitals have been regulated by the issuance of Minister of Health regulation number 72 in 2016. Accreditation as an acknowledgment of service quality in hospitals standard for pharmaceutical and medication services in the PKPO chapter which consists of 7 standards and 80 assessment elements. SNARS as an accreditation guideline issued by the Indonesian Commission on Accreditation of Hospital (KARS), an independent agency approved by the Minister of Health, to assess the implementation of services according to standards. Not yet known the suitability and challenges of pharmaceutical and medication services in hospitals toward SNARS including supporting factors and obstacles in meeting the accreditation standards. Methods: Mix-methods. Cross sectional uses secondary data from the KARS database. The sample is the total population, tested based on variable type, ownership, class and hospital province towards mean value of PKPO. Qualitative with in-depth interviews with KARS surveyors and hospital assistants. Results & Discussion: 1.725 hospital were obtained with a mean PKPO final score of 79.16. There are significant differences in ownership (Government, Private) (p = 0.001), class (A, B, C, D) (p < 0,001), and Province (p < 0,001). Based on the focus area, the highest mean values are in storage standards for types (General and Specialist), ownership (government and private), in classes (B, C, D), and provinces, while prescribing and copying standards in class A hospitals. The lowest mean value in the monitoring standard for all variables. Conclusions: Storage standards become the strength of hospital pharmacy services in Indonesia to the compliance of SNARS. Monitoring standard be a challenge to SNARS compliance in types (General and Specialist), ownership (government and private), class (A, B, C, D), and provincial hospitals in Indonesia.

Read More
B-2147
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Etik Wuryanti; Pembimbing : Prastuti Soewondo; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Puput Oktamianti, Yos E Susanto, Elizabeth
Abstrak: Reformasi cara pembayaran dari fee for service ke arah prospective payment di era JKN menjadi fokus perhatian di rumah sakit, khususnya untuk pengendalian biaya. Instalasi Farmasi Rumah Sakit sebagai bagian utama dari layanan kesehatan dijadikan sebagai revenue center sekaligus cost center, untuk itu perlu dikelola dengan baik agar rumah sakit mampu bertahan dan berkembang di era JKN. Dengan demikian pengendalian persediaan obat yang efektif dan efisien menjadi sesuatu hal yang prioritas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui fungsi pengendalian persediaan obat dengan metode analisa ABC Pemakaian, ABC Investasi dan ABC Indeks Kritis. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi perencanaan dan pengendalian persediaan obat di Instalasi Farmasi RS XYZ belum berjalan dengan optimal dikarenakan belum adanya metode yang cukup tepat dan berbasis bukti. Perencanaan pengadaan obat dilakukan untuk mengakomodir kebutuhan 3-4 hari kedepan dengan melihat tren pemakaian 14 hari terakhir. Analisa ABC yang dilakukan pada penggunaan obat di Instalasi Farmasi RS XYZ menunjukkan bahwa terdapat 2108 jenis obat yang digunakan, dimana hasil pada analisa ABC pemakaian, 84% atau sejumlah 1769 item obat masuk ke dalam kelompok C yang merupakan item slow moving. Hasil analisa ABC investasi kelompok A memiliki jumlah investasi paling besar dengan nominal Rp. 27.563.544.473,-. Hasil analisa ABC indeks kritis terhadap obat yang dijadikan sampel pada penelitian didapatkan ada 163 item obat yang masuk kelompok A ABC Indeks Kritis. Selanjutnya dilakukan penghitungan EOQ, SS dan ROP terhadap kelompok A ABC Indeks Kritis sebagai metode pengendalian persediaan obat sehingga diketahui berapa jumlah ekonomis yang akan dipesan, berapa stok aman selama masa tunggu dan pada jumlah berapa obat harus dipesan kembali.
Read More
B-2079
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive