Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33972 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Andini Retno Yunitasari; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Siti Arifah Pujonarti, Fajrinayanti, Yosnelli
Abstrak: Indonesia menghadapi masalah gizi yang cukup serius. Sebagian besar stigma masyarakat di Indonesia akan merasa bangga bila memiliki anak balita yang bertubuh gendut dan masih berpikiran anak gemuk itu lucu dan menggemaskan. Padahal, anak yang mengalami kelebihan berat badan dan obesitas juga cenderung mengalami kelebihan berat badan dan obesitas di usia remaja dan dewasa. Bila tidak ditangani dengan cepat dan tepat dapat menimnulkan kerugian ekonomi dan penurunan kualitas sumber daya manusia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh gizi lebih (overweight/obesitas) pada anak balita usia 24-59 bulan terhadap gizi lebih pada dewasa usia 22-26 tahun. Desain yang digunakan adalah studi longitudinal menggunakan data Indonesian Family Life Survey (IFLS) I tahun 1993 dan IFLS 5 tahun 2014. Sampel yang diapat di follow up dari IFLS 1-IFLS5 sebanyak 608 orang. Analisis statistik yang dilakukan yaitu univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak usia 24-59 bulan di tahun 1993 yang memliki status gizi lebih sebesar 3.30%, sementara saat usia dewasa 22-26 tahun di tahun 2014 yang memiliki status gizi lebih sebesar 23.8%. Overweight/obesitas pada usia 24-59 bulan tidak memengaruhi overweight/ obesitas usia 22-26 tahun (p=0.758 dan OR=1,18). Kata Kunci : Gizi lebih, overweight/obesitas, balita, dewasa
Indonesia faces a quite serious nutritional problem. Most of the stigma of parents in Indonesia is they will be proud if they have fat toddlers and still think that fat children are cute and adorable. In fact, children who were overweight and obese also tend to be overweight and obese in their adolescence and adulthood. If it is not handled quickly, it can cause economic losses and a decrease in the quality of human resources. The aim of this study was to find out effects of overweight and obesity on toddlers aged 24-59 years against overweight and obesity in adults aged 22-26 years (Based on IFLS Data for 1993 and 2014). The design used was longitudinal study using data from Indonesian Family Life Survey (IFLS) I in 1993 and IFLS 5 in 2014. Samples eligible were as many as 608 people. Data was analyzed by using univariate, bivariate, and multivariate method. This results of this study were only 3.3% of subject was overweight/obese toddler in 1993, while in 2014, adult whose are overweight/ obese were 23.8%. (Overweight / obesity in toddlers at the age of 24-59 years did not affect overweight / obesity in adult aged 22-26 years (p = 0.758 and OR = 1.18).
Read More
T-6048
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Latifah Hasna Umama; Pembimbing: Fatmah; Penguji: Asih Setiarini, Eti Rohati
Abstrak: Telehealth merupakan salah satu bentuk kemajuan teknologi telekomunikasi yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan layanan kesehatan jarak jauh. Telehealth dimanfaatkan dalam berbagai bidang, termasuk salah satunya untuk memberikan pendampingan gizi (teledietetics). Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pendampingan gizi yang dilakukan dengan memanfaatkan adanya telehealth. Desain studi penelitian ini yaitu kuasi eksperimental satu kelompok dengan membandingkan perubahan pengetahuan dan asupan zat gizi makro sebelum dan setelah diberikan intervensi. Sebanyak 25 orang karyawan Wilayah Telkom Bekasi direkrut dan diintervensi selama 2 minggu. Subyek diberikan 1 buah video, 2 buah poster digital, dan 1 sesi konseling setiap minggunya. Setelah intervensi, subyek mengalami peningkatan pengetahuan yang signifikan dengan p value sebesar 0,001. Terdapat kecenderungan penurunan asupan energi sebesar 68 kkal (p value = 0,188); lemak 4,5 gram (p value = 0,358); dan karbohidrat 8 gram (p value = 0,479); serta peningkatan asupan protein sebesar 3,9 gram (p value = 0,075). Namun, data belum dapat membuktikan perubahan asupan zat gizi makro yang signifikan.
Read More
S-10127
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elisabeth Juliana Monica; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ahmad Syafiq, Sada Rasmada
Abstrak:
Balita merupakan kelompok yang rentan untuk mengalami gizi lebih karena penambahan dan pembesaran sel lemak terjadi secara cepat. Gizi lebih terjadi karena asupan yang masuk ke dalam tubuh lebih besar daripada pengeluaran energi. Angka kejadian gizi lebih pada balita di Provinsi Sumatera Selatan, yaitu 10,8% melebihi angka kejadian gizi lebih balita di Indonesia, yaitu 8%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan proporsi faktor-faktor yang menyebabkan kejadian gizi lebih pada balita. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional dengan menggunakan data sekunder Riset Kesehatan Dasar 2018. Analisis bivariat dilakukan dengan uji chi square dan regresi linier. Hasil penelitian ini menunjukkan kejadian gizi lebih pada balita (Z-score (> +2 SD)) di Provinsi Sumatera Selatan, yaitu 23,9%. Hasil analisis pada faktor orang tua (IMT Ibu) menunjukkan perbedaan proporsi yang signifikan. Sementara faktor orang tua yang lainnya, faktor anak, dan faktor sosial ekonomi tidak menunjukkan adanya perbedaan proporsi yang signifikan. Diperlukan kesadaran keluarga terutama ibu sebagai pengasuh utama balita untuk lebih memerhatikan pola konsumsi balita demi mencegah berlanjutnya kejadian gizi lebih hingga fase kehidupan selanjutnya.

Toddlers are a group that is vulnerable on getting excess nutrition because of the addition and enlargement of fat cells occurs quickly. Overnutrition occurs because of the intake that enters the body is greater than energy expenditure. The incidence of overnutrition in toddlers at South Sumatera Province, which is 10,8%, exceeds the incidence of overnutrition in Indonesia, which is 8%. This study aims to analyze the difference in the proportion of factors that cause the occurrence of overnutrition in toddlers. This research is a cross-sectional study using secondary data from Basic Health Research 2018. Bivariate analysis was carried out using chi square and linear regression test. The results of this study indicate the incidence of overnutrition in toddlers (Z-score (> +2 SD)) in South Sumatera Province, which is 23,9%. The result of the analysis on parental factors (Mother’s BMI) showed that there was a significant difference in proportion. Meanwhile, other parental factors, child factors, and socioeconomic factors did not show any significant differences in proportion. Family awareness, especially mothers as the main caregivers of toddlers, are needed to pay more attention on toddlers consumption patterns in order to prevent the continuation of overnutrition in the next phase of life.
Read More
S-11469
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nisa Nurul Jannah; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Asih Setiarini, Adhi Dharmawan Tato
Abstrak: Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui perubahan pengetahuan,sikap, dan perilaku gizi seimbang pada pengguna Facebook Indonesia denganmedia teks, komik dan video. Rancangan penelitian ini adalah quasi eksperimendengan teks sebagai kontrol. Penelitian ini dilakukan kepada 84 respondenterpilih. Kelompok teks berjumlah 25 orang, kelompok komik berjumlah 28orang, dan kelompok video berjumlah 31 orang. Pengambilan data dilakukansebanyak 3 kali selama 4 minggu yang terdiri dari 1 kali pre test dan 2 post test.Uji statistik yang digunakan untuk menganalisis hasil perubahan pada setiapkelompok adalah ANOVA. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatanpengetahuan pada kelompok teks, peningkatan pengetahuan pada kelompokkomik, dan peningkatan pengetahuan dan sikap pada kelompok video (p<0,05).
Kata Kunci : Gizi Seimbang, Pengetahuan, Sikap, Perilaku, Teks, Komik, Video.
Read More
S-9146
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aylinda Wahyuni Putri; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Triyanti, Widjaja Lukito, Agus Triwinarto
Abstrak: Prevalensi gizi lebih (overweight dan obesitas) pada penderita hipertensi cukup tinggi di Indonesia. Penderita hipertensi yang mengalami gizi lebih dikaitkan dengan peningkatan risiko sindrom metabolik. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui trend dan determinan gizi lebih pada penderita hipertensi usia 25-69 tahun di Kota Bogor tahun 2015-2017. Penelitian ini adalah penelitian longitudinal dengan analisis time series menggunakan data sekunder dari studi kohor faktor risiko penyakit tidak menular yang dilakukan oleh Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI. Faktorfaktor yang diteliti mempengaruhi kejadian gizi lebih pada penderita hipertensi adalah asupan zat gizi makro (energi, karbohidrat, protein, lemak), aktifitas fisik, stres, kebiasaan merokok, usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan tingkat penghasilan. Prevalensi gizi lebih pada penderita hipertensi tahun 2015-2017, yaitu 69%, 66,1% dan 62,6%. Penderita hipertensi mengalami peningkatan IMT yang tidak signifikan selama tahun 2015-2017, baik pada kelompok gizi lebih maupun kelompok gizi normal. Ratarata asupan zat gizi makro (energi, karbohidrat, protein, lemak) pada kelompok gizi lebih mempunyai trend yang lebih tinggi dibandingkan kelompok gizi normal. Sedangkan aktifitas fisik pada kelompok gizi normal mempunyai trend yang lebih tinggi daripada kelompok gizi lebih. Berdasarkan hasil analisis multivariat menunjukkan determinan gizi lebih pada penderita hipertensi tahun 2015 adalah jenis kelamin setelah dikontrol dengan asupan karbohidrat, asupan protein, asupan lemak, aktifitas fisik dan tingkat penghasilan. Determinan gizi lebih pada penderita hipertensi tahun 2016 adalah asupan lemak setelah dikontrol dengan asupan karbohidrat, tingkat pendidikan dan jenis kelamin. Sedangkan pada tahun 2017, determinan gizi lebih pada penderita hipertensi adalah asupan protein dan asupan karbohidrat setelah dikontrol dengan variabel asupan lemak.
The prevalence of overnutrition (overweight and obesity) in patients with hypertension is high in Indonesia. Patients with hypertension in overweight or obese are at high risk of developing metabolic syndrome. The objective of this study was to determine trends and determinants of overnutrition in patients with hypertension age 25-69 years in Bogor City in 2015-2017. This research is a longitudinal study using secondary data from a cohort study of risk factors for non-communicable diseases conducted by the Indonesian Ministry of Health. Factors analyzed in relation to the incidence of overnutrition in hypertensive patients are intake of macro nutrients (energy, carbohydrates, protein, fat), physical activity, stress, smoking habits, age, gender, education level and income level. Patients with hypertension had an insignificant increase in BMI during 2015-2017, both in the overnutrition and normal groups. The average intake of macro nutrients (energy, carbohydrate, protein, fat) in the overnutrition group had a higher trend than in the normal group. Meanwhile, physical activity in the normal group had a higher trend than in the overnutrition group. Based on the results of multivariate analysis, the determinants of overnutrition in hypertensive patients in 2015 were gender after being controlled by carbohydrate intake, protein intake, fat intake, physical activity and income. Determinant of overnutrition in hypertensive patients in 2016 is fat intake after being controlled by carbohydrate intake, education and gender. Whereas in 2017, the determinants of overnutrition in hypertensive patients are protein intake and carbohydrate intake after being controlled by fat intake.
Read More
T-6013
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Joellyn Sherapine Lumbantobing; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Kusharisupeni Djokosujono
Abstrak: Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai yang ditandai dengan indeks TB/U < -2 SD. Stunting dapat menghambat seorang anak dalam mencapai potensi fisik dan kognitifnya baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 mencatat penurunan prevalensi stunting sebesar 2,8% dari tahun 2021 menjadi 21,8%. Prevalensi stunting di Indonesia masih tergolong kategori tinggi. Sulawesi Barat merupakan provinsi dengan prevalensi stunting tertinggi kedua. Terdapat peningkatan prevalensi secara khusus pada kelompok usia 24-59 bulan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian stunting dan faktor dominan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di Provinsi Sulawesi Barat tahun 2022. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel yang digunakan adalah 2479 sampel menggunakan total sampling. Penelitian ini menggunakan data sekunder SSGI tahun 2022 yang diperoleh sesuai prosedur yang berlaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 34,8% anak usia 24-59 bulan di Provinsi Sulawesi Barat tergolong stunting. Analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara berat badan lahir (p <0,001; OR = 2,537), panjang badan lahir (p <0,001; OR = 2,355), jumlah anggota keluarga (p = 0,037; OR = 1,194), akses air minum (p = 0,004; OR = 1,382), akses sanitasi (p <0,001; OR = 1,942), dan wilayah tempat tinggal (p = 0,003; OR = 1,333) dengan kejadian stunting. Namun, tidak ditemukan adanya hubungan antara riwayat penyakit infeksi, jumlah anak umur 0-59 bulan, ketahanan pangan, status imunisasi dasar, pemanfaatan posyandu, suplementasi vitamin A, dan pemberian obat cacing dengan kejadian stunting. Penelitian ini menemukan bahwa faktor dominan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di Provinsi Sulawesi Barat adalah panjang badan lahir.
Stunting is a growth and development disorder experienced by children due to poor nutrition, recurrent infections, and inadequate psychosocial stimulation which is characterized by a HAZ index < -2 SD. Stunting can prevent a child from reaching his physical and cognitive potential, not only in the short but also in the long term. The 2022 Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) recorded a reduction in stunting prevalence of 2.8% from 2021 to 21.8%. The prevalence of stunting in Indonesia is still in the high category. West Sulawesi is the province with the second-highest prevalence of stunting. There is a particular increase in prevalence in the 24-59 months age group. Therefore, this study aims to determine the description of stunting and the dominant factor in the incidence of stunting in children aged 24-59 months in West Sulawesi Province in 2022. This research is a quantitative study with a cross-sectional approach. The number of samples used was 2479 samples using total sampling. This research uses SSGI secondary data for 2022 which was obtained according to applicable procedures. The research results show that 34.8% of children aged 24-59 months in West Sulawesi Province are classified as stunted. Bivariate analysis showed that there was a significant relationship between birth weight (p < 0.001; OR = 2.537), birth length (p < 0.001; OR = 2.355), number of family members (p = 0.037; OR = 1.194), access to water (p = 0.004; OR = 1.382), access to sanitation (p < 0.001; OR = 1.942), and area of residence (p = 0.003; OR = 1.333) with the incidence of stunting. However, no relationship was found between the history of infectious diseases, number of children aged 0-59 months, food security, basic immunization status, use of integrated service post (posyandu), vitamin A supplementation, and administration of deworming drug (p > 0,05) with the incidence of stunting. This research found that the dominant factor in the incidence of stunting in children aged 24-59 months in West Sulawesi Province is birth length.
Read More
S-11748
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adelina Irmayani Lubis; Pembimbing: Endang Laksminingsih Achadi; Penguji: Asih Setiarini, Kusharisupeni, Rahmawati, Yuni Zahraini
Abstrak: Stunting atau pendek merupakan kondisi kekurangan gizi kronis yangmencerminkan kegagalan pertumbuhan linier yang disebabkan oleh multifaktor.Anak balita yang mengalami stunting didahului dengan gagal tumbuh dan melaluiserangkaian proses yang panjang serta bersifat irreversible. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui faktor-faktor risiko kejadian stunting pada balita usia24-59 bulan di Indonesia berdasarkan data IFLS 2014. Desain penelitian adalahcross sectional dengan jumlah sampel balita usia 24-59 yaitu 2.790 orang.Stunting diperoleh dari pengukuran tinggi badan kemudian dikategorikanberdasarkan nilai Z-score TB/U. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 21,97%balita stunting dan 9,57% stunting parah. Hasil uji bivariat menunjukkan bahwaberat lahir, penyapihan, status anemia, tingkat pendidikan ayah dan ibu, pekerjaanibu, paritas ibu, dan daerah tempat tinggal memliki hubungan signifikan denganstunting. Analisis regresi logistik menghasilkan berat lahir sebagai faktor dominankejadian stunting dengan nilai OR = 2,545. Penelitian ini menyarankan kepadapemerintah untuk membuat kebijakan dan program gizi untuk remaja, programkesehatan untuk ibu hamil seperti pemberian paket nutrisi dan pemantauan khususanak BBLR dengan pemberian suplemen tambahan. Karena faktor dominanterjadinya stunting adalah BBLR, maka perlu memprioritaskan program yangmenurunkan risiko terjadinya BBLR, yaitu calon ibu hamil, remaja putri, dan ibuhamil tidak anemia dan tidak mengalami KEK, melalui minum TTD sesuaianjuran dan menerapkan pola makan bergizi seimbang.Kata Kunci : Stunting, Berat Lahir, usia 24-59 bulan.
Read More
T-5120
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farah Dhani Yustika; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Engkus Kusdinar Achmad, Salimar
Abstrak: Anak dengan kondisi stunting mengalami pertumbuhan yang tidak optimal, daya tahan tubuh rendah dan rentan terhadap penyakit, dan kemampuan kognitif yang rendah, meningkatkan risiko kegemukan dan penyakit degeneratif sehingga mempengaruhi kualitas sumber daya manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dan hubungan asupan zat gizi, riwayat ASI eksklusif, riwayat infeksi penyakit, berat lahir, panjang lahir, pendidikan ayah dan pendidikan ibu dengan kejadian stunting. Penelitian cross-sectional ini menggunakan data sekunder Gizi dan Kesehatan Balita di Kecamatan Babakan Madang Tahun 2018 dengan jumlah sampel 134 responden yang didapatkan dengan teknik purposive sampling. Hasil analisis bivariat dengan uji chisquare menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan pendidikan ibu terhadap kejadian stunting (p= 0,040; OR= 2,986; 95%, CI: 1,128-7,903). Diperlukan peran aktif Dinas Kesehatan untuk mensosialisasikan pentingnya asupan gizi seimbang bagi anak serta puskesmas dan posyandu untuk melakukan pengukuran tinggi badan minimal 6 bulan sekali.
 

 
Stunting causing non-optimal growth, low endurance, susceptibility to disease and low cognitive abilities and increase the risk of obesity and degenerative diseases which affected human resources quality. This study aims to determine the relationship between nutrient intake, history of exclusive breastfeeding, history of disease infection, birth weight, length of birth, paternal education and maternal education with stunting. This cross-sectional study using secondary data in Babakan Madang District, Bogor in 2018 with a sample of total 134 children obtained by purposive sampling technique. Bivariate analysis with the chi-squared test showed that there was significant relationship between maternal education and the incidence of stunting (p = 0.04; OR = 2.986; 95%, CI: 1,128-7,903). This study gives us empirical evidence for Ministry of Health to increasing campaign and promotion regarding the importance of balanced nutrition for children under five and Puskesmas and Posyandu should be used to measure height for age at least once in six months.
Read More
S-9915
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ulfa Teni Safira; Pembimbing: Fatmah; Penguji: Sandra Fikawati, Eti Rohati
S-10048
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anissa Damaiyanti; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Salimar Yunas
Abstrak:
Gizi lebih merupakan bentuk malnutrisi (gizi tidak seimbang) yang timbul dari asupan gizi berlebihan yang menyebabkan penumpukan lemak tubuh sehingga mengganggu kesehatan. Gizi lebih pada anak merupakan salah satu masalah Kesehatan yang berdampak negatif jangka panjang bagi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gizi lebih pada balita 6-59 bulan di Kepulauan Riau. Penelitian Cross Sectional ini menggunakan data SSGI (Survey Status Gizi Indonesia) 2021 dengan total responden 2809 balita setelah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data analisis menggunakan uji chi-square pada analisis bivariat dan uji regresi logistik ganda pada analisis multivariat. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2023 yang menunjukkan terdapat 5,9% balita yang mengalami gizi lebih. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga variabel yang secara signifikan berhubungan dengan kejadian gizi lebih pada anak usia 6-59 bulan, yaitu umur, berat lahir, dan status pekerjaan ibu. Analisis multivariat ditemukan bahwa status pekerjaan ibu merupakan faktor dominan dari gizi lebih pada balita 6-59 bulan di Kepulauan Riau berdasarkan analisis SSGI 2021 dengan p-value 0,015 dan OR 1,466 (CI 95%: 1,063 – 2,021). Saran yang dapat diberikan berdasarkan penelitian untuk instansi kesehatan, diharapkan dapat melakukan program pencegahan dan penanggulangan obesitas dengan menggunakan pendekatan promosi, pencegahan, dan rehabilitasi terkait gizi seimbang dan perilaku makan sehat. Selain itu, juga dapat berupaya untuk membangun fasilitas penitipan anak yang aman dan sehat di lingkungan kerja untuk mendukung ibu bekerja dalam memberikan perawatan yang baik kepada anak.

Overnutrition is a form of malnutrition arising from excessive nutrient intake, leading to the accumulation of body fat that disrupts health. Overnutrition in children is a long-term health issue with negative impacts. This study aims to identify factors associated with the occurrence of overnutrition among children aged 6-59 months in Kepulauan Riau. This Cross-Sectional study utilized data from the Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI) in 2021, with a total of 2809 toddler respondents meeting inclusion and exclusion criteria. Chi-square tests were employed in bivariate analysis, and multiple logistic regression tests were used in multivariate analysis. The study, conducted in 2023, revealed that 5.9% of toddlers experienced overnutrition. Research findings indicate three variables significantly associated with overnutrition incidents in children aged 6-59 months: age, birth weight, and maternal employment status. Multivariate analysis identified maternal employment status as the dominant factor in overnutrition among toddlers in the Riau Islands, according to SSGI 2021 analysis, with a p-value of 0.015 and OR 1.466 (95% CI: 1.063 – 2.021). Recommendations based on the research suggest that health institutions implement preventive and intervention programs against obesity, focusing on balanced nutrition promotion, prevention, and rehabilitation of healthy eating behaviors. Additionally, efforts can be made to establish safe and healthy childcare facilities in the workplace environment to support working mothers in providing proper care for their children.
Read More
S-11505
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive