Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 28539 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Abdul Robby Azhadi; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Adang Bachtiar, Prastuti Soewondo, Wiwiek Heryhta, Nuniek Ria Sundari
Abstrak: Sistem Jaminan Kesehatan Nasional atau yang lebih kita kenal dengan sebutan JKN mempu menghadirkan manfaat bagi seluruh masyarakat Indonesia. Terlebih lagi di era JKN ini, semakin banyak masyarakat yang sadar akan kesehatannya. Hal ini berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah kunjungan pasien rawat jalan maupun rawat inap di RSUD Pasar Minggu. Jumlah angka kunjungan rawat jalan meningkat pada tahun 2018 hingga 2020 mencapai lebih dari 20.000 kunjungan per bulan. Angka yang tinggi ini jika tidak diimbangi dengan kemampuan penagihan klaim JKN yang sebanding maka akan menghambat cashflow Rumah Sakit. Oleh sebab itu RSUD Pasar Minggu menerapkan sistem IT yang menunjang seluruh proses tersebut sampai kepada tahap penagihan. Sistem IT di RSUD Pasar Minggu diharapkan mempunyai tingkat efektivitas dan efisiensi yang tinggi sehingga mampu memperbaiki cashflow Rumah Sakit
The National Health Insurance System or better known as JKN is able to bring benefits to all Indonesian people. Moreover, in this JKN era, more and more people are aware of their health. This is directly proportional to the increasing number of outpatient and inpatient visits at Pasar Minggu Hospital. The number of outpatient visits reached more than 20,000 visits per month since 2018 until 2020. If this high figure is not balanced with the comparable ability to collect JKN claims, it will hamper the hospital cash flow. Therefore, RSUD Pasar Minggu has implemented an IT system that supports the entire process up to the billing stage. Hopefully IT system at Pasar Minggu Hospital have a high level of effectiveness and efficiency so that it can support the hospital cash flow
Read More
B-2192
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisaa Perica Rasyid; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Jaslis Ilyas, Wahyu Sulistiadi, Netry Listriani, Khafifah Any
Abstrak: Waktu tunggu yang lama pada pelayanan resep obat akan mengurangi kepuasan pelanggan dan menyebabkan pelayanan tidak efisien. Lean merupakan salah satu metodologi yang dapat digunakan untuk menangani ketidakefisienan dalam pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan metode lean dalam mengurangi waktu tunggu pelayanan resep obat pada instalasi farmasi rawat jalan RSUD Pasar Minggu tahun 2017.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif (analitik observasional) untuk melihat alur pelayanan resep obat dan mengidentifikasi pemborosan pelayanan resep obat. Dan didukung oleh penelitian kuantitatif (analisis deskriptif) untuk memperoleh data perhitungan waktu setiap tahapan proses pelayanan resep obat.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui rata-rata waktu tunggu pelayanan resep obat non racikan selama 89.6 menit (88.17% kegiatan menunggu) dan 124.70 menit (82.10% kegiatan menunggu) pada pelayanan resep obat racikan.

Hasil penelitian mengidentifikasi bahwa terdapat 8 jenis pemborosan (DOWNTIME) pada pelayanan resep obat. Usulan perbaikan dengan metode lean diharapkan dapat menurunkan waktu tunggu menjadi 66.67% pada pelayanan resep obat non racikan dan 56.67% pada pelayanan resep obat racikan.

Kata kunci : farmasi; metode lean; pemborosan; waktu tunggu

Long waiting times on prescription services will reduce patient satisfaction and lead to inefficient services. Lean is one of the methodologies that can be used to deal with inefficiencies in health services. This study aims to analyze the application of lean method in reducing waiting time of outpatient prescription services at Pasar Minggu public hospital in 2017.

This study used qualitative research methods (observational analytics) to examine the flow and identify waste of prescription drug services. And also supported by quantitative research (descriptive analysis) to get the exact calculation of every step of prescription drug services.

Based on the result of the research, it is known that the average waiting time of medicine prescription services is 89.6 minutes (88.17% waiting activity) and 124.70 minutes (82.10% waiting activity) of personalized medicine prescription services.

The study identified that there were 8 types of waste (DOWNTIME) in prescription services. The future improvement by lean method is expected to reduce waiting time to 66.67% on medicine prescription services and 56.67% on personalized medicine prescription services.

Keywords : pharmacy; lean methode; waste; waiting times
Read More
B-1897
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tengku Lya Handa Suri; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Jaslis Ilyas, Vetty Yulianty Permanasari, Hariyadi Wibowo, Enny Ekasari
B-2044
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ainurinsan Amaludin; Pembimbuing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Anhari Achadi, Vetty Yulianty Permanasari, Netry Listriani, Khafifah Any
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Ainurinsan Amaludin Program Studi : Kajian Administrasi Rumah Sakit Judul : Efisiensi Pengadaan dan Penyimpanan Obat dalam Penyusunan Rencana Pengadaan Obat di RSUD Pasar Minggu Masalah terkait pengadaan obat di rumah sakit kerapkali terjadi, tidak terkecuali di RSUD Pasar Minggu. Masalah pengadaan obat yang sering terjadi di RSUD Pasar Minggu adalah peningkatan anggaran obat, seringnya terjadi kekosongan stok obat, dan lead time  pengadaan obat yang relatif lama. Oleh karena itu, diperlukan upaya efisiensi pengadaan dan penyimpanan obat dalam penyusunan rencana kebutuhan obat untuk memperlancar kegiatan operasional dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Bentuk penelitian ini adalah riset operasional dengan metode kualitatif dan kuantitatif untuk menyusun upaya efisiensi baik dari pendekatan farmasi dan non farmasi. Pendekatan farmasi dilakukan dengan mengelompokkan obat menurut Analisis ABC nilai investasi kemudian membandingkan beberapa model inventori demi mendapatkan model dengan total biaya pengadaan dan penyimpanan obat terkecil, sementara pendekatan non farmasi melalui upaya manajemen formularium. Hasil Analisis ABC nilai investasi menunjukkan bahwa terdapat 34 jumlah obat kelompok A yang menjadi fokus utama efisiensi pengendalian biaya obat. Obat kelompok A tersebut kemudian dihitung perencanaan kebutuhannya dengan menggunakan model inventori Economic Order Quantity (EOQ) untuk menghasilkan perhitungan total biaya pengadaan dan penyimpanan obat (TIC) terkecil. Untuk mengantisipasi kejadian kekosongan stok obat dilakukan dengen menentukan nilai safety stock yang mempertimbangkan jumlah pemakaian dan lead time masing – masing obat. Kata kunci: Analisis ABC; Efisiensi; EOQ; TIC.


ABSTRACT Name : Ainurinsan Amaludin Program of Study : Hospital Administration Study Title : Medication Procurement and Inventory Efficiency in Planning Medication Procurement in RSUD Pasar Minggu Problems related to procuring medication often occur in hospital, including in RSUD Pasar Minggu. The problems involved are increased medication budget, the frequent occurrence of out of stock medication, and relatively long medication procurement lead time. Therefore, it is necessary to determine efforts to maximize efficiency in medication procurement and inventory in planning medication needs so that operational activities can be reinforced and the quality of health service can be improved. This is an operational research with qualitative and quantitative method to establish efficiency efforts both from pharmaceutical and nonpharmaceutical approaches. Pharmaceutical approach involves doing ABC Analysis to group the medication based on its investment values. Then, three inventory models will be compared to get the model with the lowest total inventory cost (TIC). Meanwhile, nonpharmaceutical approach is done by formulary management efforts. ABC Analysis of investment value indicates that group A medication consist of 34 items. Those items become the main focus of medication cost containment. The medication needs for group A are then calculated by Economic Order Quantity (EOQ) model to generate the lowest TIC. In addition, safety stock calculation that determines not only the demand of the medication but also the procurement lead time of each drug is vital to anticipate the occurrence of out of stock medication. Keywords: ABC Analysis; Efficiency; EOQ; TIC.

Read More
B-1865
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayunda Shinta Nurarliah; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Ede Surya Darmawan, Vetty Yulianty Permanasari, Sapto Harry Kriswanto, Sri Diana Ginting Suka
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek penerapan restriksi obat otomatis melalui Sistem Informasi Rumah Sakit (SIMRS) terhadap efisiensi biaya obat pada pasien BPJS Kesehatan di Rumah Sakit Jantung Jakarta. Penelitian ini mengkaji dampak penerapan sistem restriksi terhadap biaya obat yang dikeluarkan oleh rumah sakit dan kualitas pelayanan yang diterima oleh pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan restriksi obat otomatis menghasilkan penghematan signifikan, dengan penurunan biaya total resep obat sebesar 35%. Selain itu, jumlah resep yang tidak sesuai dengan Formularium Nasional (FORNAS) juga mengalami penurunan drastis. Penerapan sistem ini tidak hanya berhasil mengurangi biaya tetapi juga memastikan kualitas pelayanan tetap terjaga, dengan jumlah resep yang sesuai FORNAS tetap tinggi. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap pengurangan biaya termasuk pemilihan obat yang lebih selektif, pengelolaan stok yang lebih efisien, dan penggunaan teknologi SIMRS. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam meningkatkan pengelolaan obat yang lebih efisien di rumah sakit serta memberikan wawasan bagi rumah sakit lain dalam mengimplementasikan sistem serupa.

This study aims to evaluate the impact of implementing automatic medication restrictions through the Hospital Information Management System (SIMRS) on the drug cost efficiency for BPJS Health patients at Jakarta Heart Hospital. The research examines the effects of the restriction system on the hospital's drug expenses and the quality of care provided to patients. The results show that the implementation of the automatic medication restriction system significantly reduced the total medication costs by 35%. Additionally, the number of prescriptions not in accordance with the National Formularium (FORNAS) decreased drastically. This system not only succeeded in reducing costs but also ensured that the quality of care remained high, with the number of prescriptions compliant with FORNAS still high. Contributing factors to cost reduction include more selective drug selection, more efficient stock management, and the use of SIMRS technology. This study contributes to improving the more efficient management of medication in hospitals and provides insights for other hospitals in implementing similar systems.
Read More
B-2567
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jean Francis Melanny Kassiuw; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Atik Nurwahyuni, Pujiyanto, Indri M. Bunyamin, RB. Wahyu
Abstrak:
Rekam Medis Elektronik (RME) muncul sebagai inovasi terkini di bidang kesehatan, menjawab tantangan yang dihadapi oleh sistem rekam medis tradisional berbasis kertas. Kombinasi ilmu pengetahuan dan teknologi modern membentuk fondasi bagi pengembangan RME. Kelebihan RME mencakup efisiensi, aksesibilitas, dan keamanan data pasien, memberikan solusi holistik untuk meningkatkan pengelolaan informasi kesehatan di era digitalisasi saat ini. Penelitian ini menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) sebagai dasar teori, dan bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara implementasi RME dengan efisiensi pelayanan di instalasi rawat jalan RSUD Kebayoran Lama. Desain penelitian yang digunakan adalah non-eksperimental dengan pendekatan kuantitatif, memanfaatkan data numerik untuk analisis statistik. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data terkait implementasi RME dan efisiensi pelayanan melalui pengisian kuesioner oleh user sebagai responden, wawancara dengan stakeholders, serta telaah dokumen yang berkaitan dengan implementasi RME. Hasil dari penelitian ini didapatkan adanya hubungan signifikan antara persepsi kemanfaatan penggunaan RME dengan motivasi (p-value 0,000), motivasi dengan implementasi RME (p-value 0,000) dan implementasi RME dengan efisiensi pelayanan (p-value 0,000). Namun tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi kemanfaatan dengan implementasi RME (p-value 0,366) dan ketersediaan infrastruktur dengan implementasi RME (p-value 0,666). Temuan ini memberikan wawasan penting dalam merancang strategi implementasi RME yang lebih efektif di lingkungan RSUD Kebayoran Lama, dengan fokus pada meningkatkan motivasi pengguna untuk mengimplementasikan RME dengan lebih optimal, sehingga dapat meningkatkan efisiensi pelayanan di RSUD Kebayoran Lama.

Electronic Medical Record (EMR) emerged as the latest innovation in the field of healthcare, addressing the challenges faced by traditional paper-based medical record systems. The combination of modern science and technology forms the foundation for the development of EMR. The advantages of EMR include efficiency, accessibility, and security of patient data, providing a holistic solution to improve the management of health information in the current digitalization era. This study uses the Technology Acceptance Model (TAM) as the theoretical basis, and aims to evaluate the relationship between the implementation of EMR and service efficiency in the outpatient installation of RSUD Kebayoran Lama. The research design used is non-experimental with a quantitative approach, utilizing numerical data for statistical analysis. This study was conducted by collecting data related to the implementation of EMR and service efficiency through the completion of questionnaires by users as respondents, interviews with stakeholders, and document review related to the implementation of EMR. The results of this study found a significant relationship between the perceived usefulness of using EMR with motivation (p-value 0.000), motivation with EMR implementation (p-value 0.000), and EMR implementation with service efficiency (p-value 0.000). However, there was no significant relationship between perceived usefulness and EMR implementation (p-value 0.366) and infrastructure availability with EMR implementation (p-value 0.666). These findings provide important insights in designing more effective EMR implementation strategies in the RSUD Kebayoran Lama environment, with a focus on increasing user motivation to implement EMR more optimally, so that it can improve service efficiency in RSUD Kebayoran Lama.
 
Read More
B-2430
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Megadianty Mokoginta; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Ede Surya Darmawan, Prastuti Soewondo, Wiwiek Herytha, Luzi Adriyanti
Abstrak: Latar belakang : Pelayanan laboratorium klinik merupakan pelayanan penunjang yang sangat penting dalam pengelolaan pasien namun merupakan komponen biaya yang cukup besar dalam perawatan pasien. Pada era JKN saat ini, rumah sakit harus melakukan efisiensi di berbagai bidang termasuk dalam pemeriksaan laboratorium. Untuk itu tarif pemeriksaan laboratorium sebaiknya sudah didasarkan pada biaya satuan serta kemampuan, kemauan membayar dari pasien dan Cost Recovery Rate (CRR). Namun tarif pemeriksaan laboratorium di RSUD Pasar Minggu masih didasarkan atas Pergub 117 tahun 2012 dimana sejak ditetapkan pada tahun 2012, tarif Pergub tersebut belum pernah mengalami perubahan. Untuk itu ingin dilakukan analisa tarif setiap jenis pemeriksaan laboratorium berdasarkan perhitungan biaya satuan serta mempertimbangkan CRR Penyebab 22 pemeriksaan masih mempunyai CRR<100 adalah tarif yang berlaku yang lebih rendah dibandingkan biaya satuan, karena kapasitas pemeriksaan tidak tercapai serta pengadaan jenis pemeriksaan yang tumpeng tindih hanya berbeda nama pemeriksaan. Biaya satuan serta tarif pemeriksaan laboratorium sebaiknya selalu dicermati karena komponen biaya yang sewaktu-waktu dapat berubah dan menimbulkan kerugian pada akuntansi rumah sakit. Perlu dilakukan peningkatan kapasitas pemeriksaan
Read More
B-2146
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
May Rabiulyati; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Prastuti Soewondo, Pujiyanto, Dewi Isnawati, Budi Hartono
Abstrak:
Rumah sakit menerima pembayaran atas perawatannya melalui pengajuan klaim dan kelengkapan dokumen yang diperlukan kepada BPJS Kesehatan. Namun belum semua klaim pasien rawat inap yang diajukan ke BPJS Kesehatan dan adanya permasalahan klaim pending rawat inap sebanyak 16,97% dan rawat jalan 1,42%. Walaupun klaim yang tidak disetujui tersebut dapat diajukan kembali, tetapi keterbatasan waktu untuk pengklaiman, menyebabkan 2,64% kasus rawat inap dan 0,15% kasus rawat jalan tahun 2022 yang tidak diajukan kembali. Penelitian observasional dengan metode kualitatif melalui wawancara mendalam pada 15 responden bertujuan melakukan analisis manajemen klaim rawat inap JKN RSUD Kebayoran Baru periode November 2022-April 2023. Hasil Penelitian menemukan belum 100% berkas klaim rawat inap diajukan dibandingan SEP yang tercetak. Adanya klaim pending 10,97% dengan penyebab, diantaranya ketidaklengkapan resume medis dokter sebanyak 59 berkas rawat inap (32,2%) dan ketidaksesuaian pengajuan berkas klaim sebanyak 81 berkas rawat inap (44,3%). Hal ini disebabkan belum optimalnya feedback dan monitoring sehingga perlu menetapkan alur monitoring manajemen klaim. RS juga perlu menetapkan SPO manajemen klaim terintegrasi. Studi ini diharapkan menjadi panduan strategis untuk meningkatkan manajemen klaim JKN, melalui kolaborasi antar instansi/unit/tim serta kerjasama rumah sakit dengan BPJS Kesehatan yang lebih baik. Sehingga meningkatkan kualitas klaim di RSUD Kebayoran Baru khususnya dan rumah sakit di seluruh Indonesia umumnya. Kata kunci: Sistem, Manajemen Klaim, Rawat Inap

Hospital providers receive payment for their care through the submission of claims and completion of required documents to BPJS Kesehatan. However, not all inpatient claims can be submitted to BPJS Kesehatan. The insidence of pending claims in several hospitals are still being found. RSUD Kebayoran Baru experienced a delay in 16.97% of its inpatient services claims and 1.42% of its outpatient services claims in 2022. Additionally, 2.64% of inpatient pending claims and 0.15% of outpatient pending claims could not be resubmitted due to the expiration time limits in 2022. This study aims to analyse JKN inpatient claims management at RSUD Kebayoran Baru from November 2022 to April 2023. The research adopted an observational approach using qualitative methods, conducting in-depth interviews with 15 respondents. Through interviews and observations, we found that not all of the inpatient claims were submitted compared to the printed patient-eligible letters. There were 10.97% pending claims, with causes including incomplete medical resumes written by the doctors in 59 inpatient files (32.2%) and discrepancies in submitting claims in 81 inpatient files (44.3%). This issue arises from inadequate feedback and monitoring, highlighting the necessity to establish a comprehensive claims management monitoring flow. Hospitals should establish an integrated claims management procedure. Moreover, enhancing the quality of claims management at RSUD Kebayoran Baru and hospitals nationwide requires collaboration among relevant agencies, units, and teams. Furthermore, fostering collaboration between hospitals and BPJS Kesehatan is also necessary. This sudy is expected to serve as a strategic guideline to improve claims management, not only in RSUD Kebayoran baru but also for all hospitals in Indonesia.
 
Read More
B-2411
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irmawati; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Jaslis Ilyas, Mardiati Nadjib, Arda Yunita Subardi, Mario Abet Nego
Abstrak:
Latar Belakang: Peningkatan penggunaan antibiotik dalam beberapa dekade terakhir telah memberikan dampak besar terhadap kesehatan masyarakat global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut resistensi antimikroba (Antimicrobial Resistance/AMR), berkontribusi terhadap meningkatnya angka kesakitan dan kematian, sekaligus menimbulkan beban ekonomi yang tinggi bagi sistem kesehatan. RSUD Kabupaten Bekasi sebagai rumah sakit rujukan daerah menghadapi tantangan serupa, ditandai dengan tingginya penggunaan antibiotik spektrum luas dan meningkatnya pola resistensi bakteri.  Berdasarkan antibiogram tahun 2024, angka MDRO untuk MRSA 22,22% dan ESBL 40%. Tujuan penelitian: Menilai implementasi Program Regulasi Antimikroba Sistem Prospektif (RASPRO) terhadap pola resistensi antimikroba dan efisiensi biaya penggunaan antibiotik, serta menganalisis peran tata kelola, sumber daya manusia, dan sistem monitoring evaluasi dalam mendukung program tersebut. Metode penelitian: Menggunakan desain kohort prospektif dengan pendekatan kuantitatif, membandingkan kondisi sebelum dan sesudah implementasi RASPRO. Subjek penelitian adalah pasien rawat inap yang mendapatkan terapi antibiotik di RSUD Kabupaten Bekasi dan memenuhi kriteria inklusi dalam penelitian ini. Data dianalisis melalui evaluasi pola penggunaan antibiotik (Defined Daily Dose/DDD), rasionalitas terapi berdasarkan metode Gyssens, serta analisis efisiensi biaya pembelian antibiotik. Hasil penelitian: Menunjukkan adanya perbaikan rasionalitas penggunaan antibiotik, penurunan penggunaan antibiotik spektrum luas tertentu, serta peningkatan biaya pengadaan antibiotik tertentu setelah implementasi RASPRO. Keberhasilan RASPRO juga sangat dipengaruhi oleh komitmen manajemen, kolaborasi tim PPRA, dan sistem audit prospektif yang konsisten. Kesimpulan: Implementasi RASPRO efektif dalam peningkatan rasionalitas penggunaan antibiotik namun dari segi biaya perlu adanya evaluasi faktor-faktor yang memengaruhi efisiensi dalam pembiayaan antibiotik.

Background: Antimicrobial resistance (AMR) represents a major challenge to the quality of healthcare services and hospital cost efficiency, largely driven by irrational antibiotic use. Bekasi District General Hospital implemented the Prospective Antimicrobial Regulation Program (RASPRO) as part of the Antimicrobial Resistance Control Program (PPRA) to optimize antibiotic use, reduce resistance, and improve cost efficiency. Research Objectives: Evaluate the impact of RASPRO implementation on antibiotic utilization patterns, appropriateness of therapy, antimicrobial resistance trends (antibiogram 2024), and antibiotic cost efficiency, while also analyzing the role of hospital governance and monitoring–evaluation systems in supporting program effectiveness. Research method: A prospective cohort study with a quantitative approach was conducted among hospitalized patients receiving antibiotic therapy before and after RASPRO implementation. Data were analyzed using indicators of antibiotic consumption, appropriateness of therapy assessed by the Gyssens method, antimicrobial resistance trends based on hospital antibiograms, and changes in antibiotic procurement costs. Research results:  demonstrated that RASPRO implementation improved the appropriateness of antibiotic use, reduced the utilization of broad-spectrum and restricted antibiotics, and achieved cost efficiency in antibiotic procurement. In addition, the program strengthened clinical governance through increased adherence to antibiotic use guidelines and optimization of the PPRA team’s role. Conclusion: The implementation of RASPRO has proven effective in improving the rational use of antibiotics. However, from a cost perspective, further evaluation is required to identify factors influencing the efficiency of antibiotic-related expenditures. Keywords: antimicrobial resistance; RASPRO; antibiotic stewardship; cost efficiency; hospital governance
Read More
B-2573
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Subekti; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Jaslis Ilyas, Pujiyanto, Johan Marbun, Fifi Mulyati
Abstrak: ABSTRAK Nama : Sri Subekti Prigram Studi : Kajian Administrasi Rumah Sakit Judul : Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Sistem Penjadwalan Rujukan Online (SPRO) di RSUD Pasar Minggu ABSTRAK Rujukan pasien BPJS dari puskesmas ke rumah sakit di wilayah DKI Jakarta saat ini telah menggunakan teknologi mutakhir berbasis internet dan dinamakan Sistem Penjadwalan Rujukan Online (SPRO). Sistem ini mencakup 1) informasi jadwal pelayanan dokter poliklinik di rumah sakit per tanggal, hari, jam. 2) manajemen jadwal pelayanan dokter yang tersedia dan yang sudah terjadwal. 3) reservasi / appointment booking pelayanan dokter poliklinik rumah sakit. 4) laporan-laporan berkaitan dengan rujukan pasien. Studi yang merupakan studi kasus tentang pemanfaatan SPRO di RSUD Pasar Minggu ini menganalisis data primer dari wawancara mendalam dengan informan dan data sekunder berupa dokumen-dokumen laporan rujukan SPRO dan laporan kunjungan di RSUD Pasar Minggu. Hasil penelitian menjelaskan bahwa elemen input faktor SDM memiliki kerja rangkap dan kurangnya pengetahuan tentang SPRO, SIRS yang belum terkoneksi dengan SPRO, serta belum adanya SOP. Elemen proses berupa pemberian informasi dan sosialisasi di puskesmas berjalan tidak optimal, kuota rujukan SPRO rendah, tidak adanya reminding sistem di RSUD Pasar Minggu, tidak konsistennya waktu pendaftaran pasien di RSUD Pasar Minggu, tidak adanya komunikasi dan koordinasi dengan puskesmas perujuk, dan tidak optimalnya monitoring dan evaluasi sistem. Faktor-faktor tersebut mengakibatkan pemanfaatan rujukan SPRO menjadi rendah yaitu sebesar 21,61%. Saran untuk RSUD Pasar Minggu adalah pembuatan reminding sistem, pemisahan alur pasien SPRO dengan pasien umum, meningkatkan komunikasi dan koordinasi dengan puskesmas dan monitoring evaluasi. Kata kunci: Rujukan Online, Rumah Sakit Pemerintah, Puskesmas ABSTRACT Name : Sri Subekti Study Program : KARS Title : Factors Related to the Online Referral Scheduling System (SPRO) in RSUD Pasar Minggu in 2017 Referral of BPJS patients from health center to public hospital in DKI region is currently implemented using internet-based technology called the Online Referral Scheduling System (SPRO). This system has advantages : 1) Provide service schedule information of polyclinic doctor in hospital by date, day, and hour. 2) Service schedule management of the doctor and already scheduled. 3) Service reservation or appointment booking of polyclinic doctor in hospital. 4) Reports which relate with patient referrals. This case study analyzed the utilization of SPRO in a public hospital (RSUD) in Pasar Minggu using qualitative approach. Primary data was collected using in-depth interviews with informants and secondary data was collected from documents of SPRO referral report and utilization in RSUD Pasar Minggu. The study revealed that the challenges in input elements were work load of staffs, lack of knorwledge on SPRO, no bridging system to SPRO, no standar procedure in place. Elements of the process were poor information and dissemination in Puskesmas, too small quota for SPRO patients set up by RSUD Pasar Minggu, no reminding system, poor registration scheduling for patients in RSUD Pasar Minggu, no communication and coordination with Puskesmas and poor monitoring and evaluation. These factors have caused low utilization of SPRO (21,6%). The study suggested that hospital need to develop the reminding system, separate patient flows between SPRO and non SPRO, improve communication and coordination with Puskesmas as well as monitoring evaluation. Keywords : Online Referral, Public Hospital, Health Center
Read More
B-1921
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive