Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29339 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Wily Kurniady; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Adang Bachtiar, Puput Oktamianti, Finna E. Indriany, Dwi Putri Piandani
Abstrak:
Pandemi virus COVID-19 sejak akhir Desember 2019 masih memberikan dampak yang luar biasa hingga saat ini, dimana semua harus menegakkan protokol kesehatan yang ketat termasuk membatasi kontak fisik dan menjaga jarak antar manusia. Salah satu cara yang disarankan oleh PB IDI agar tetap dapat merawat pasien atau keluarga pasien yang membutuhkan adalah dengan cara telemedicine. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pelayanan telemedicine di Siloam Hospitals Bogor guna memenuhi kebutuhan pasien atau keluarganya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan studi potong lintang,yang dilakukan pada bulan desember tahun 2020. hasil penelitian didapatkan bahwa persepsi terhadap kualitas pelayanan dan fungsi aplikasi mobile tidak memberikan pengaruh terhadap peningkatan efektivitas pelayanan telemedicine, tetapi persepsi terhadap pengiriman obat pulang dan kelancaran saat pelayananlah yang memberikan efek yang bermakna terhadap peningkatan efektivitas pelayanan telemedicine. efektivitas pelayanan yang baik juga terbukti memberikan kepuasan kepada pasien yang menerima pelayanan telemedicine. pelayanan ini bisa menjadi lebih baik dengan cara melakukan pengembangan terhadap aplikasi mobile untuk lebih terintegrasi dan mempertahankan pelayanan pengantaran obat pulang serta kelancaran dalam pelayanan telemedicine

The COVID-19 virus pandemic since the end of December 2019 has had a tremendous impact and has not been resolved to date. Health protocols must be implemented properly including limiting physical contact and maintaining human distance between human to reduce the spread of the COVID-19. Indonesian Doctors Association advised hospitals to still be able to provide health care to patients who need health services. One way that is considered safe is through teleconsultation. This study aims to analyze the effectiveness of telemedicine services at Siloam Hospitals Bogor to fulfill of patients and their families needs. The research method used quantitative method with cross sectional study, conducted in December 2020. The results showed that perceptions of service quality and function of mobile applications did not have an effect on increasing the effectiveness of telemedicine services, but the perception of drug delivery and successful of telemedicine service had a significant effect on increasing the effectiveness of telemedicine services. the effectiveness of service is also proven to provide satisfaction to patients who receive telemedicine services. This service can be better by developing a mobile application to be more integrated and maintaining drug delivery and successful of telemedicine service
Read More
B-2196
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Saza Fitria; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Adik Wibowo, Iing Ichsan Hanafi, Reny Puspita
Abstrak: Sebagai respons terhadap pandemi COVID-19, Grup Rumah Sakit Hermina pada tahun 2020 telah menerapkan pelayanan telemedicine Halo Hermina, namun efektivitas dari layanan ini masih belum diketahui. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis efektivitas pelayanan telemedicine di Grup Rumah Sakit Hermina. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan studi metode potong lintang yang dilakukan pada tahun 2022, terhadap total 680 sampel yang terdiri 212 pasien, 239 karyawan dan 229 manajemen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan telemedicine dengan aplikasi Halo Hermina dipandang efektif oleh 94% pasien, 88% karyawan, dan 91% manajemen. Hasil uji bivariat menunjukkan bahwa yang berhubungan dengan efektivitas pelayanan telemedicine adalah perspektif proses bisnis internal, pembelajaran dan pertumbuhan, dan keuangan, pelanggan, persepsi manfaat yang didapatkan, kemudahan, sikap terhadap penggunaan, kecenderungan perilaku. Hasil uji multiple regresi menunjukkan bahwa variabel sikap terhadap penggunaan, kecenderungan perilaku, pertumbuhan dan pembelajaran, pelanggan memiliki hubungan yang bermakna terhadap efektifitas pelayanan telemedicine. Variabel terkait balanced scorecard (BSC) memiliki nilai koefisien determinasi sebesar 32,9 % untuk pihak manajemen dan variabel terkait technology acceptance model (TAM) memiliki nilai koefisien determinasi sebesar 58,4% untuk pasien dan 49,8% untuk karyawan, dengan nilai p<0,05. Rumah sakit dapat menggunakan pendekatan berbasis TAM dan BSC dalam meningkatkan layanan telemedicine Halo Hermina agar dapat menjadi lebih efektif. Untuk meningkatkan capaian penggunaan layanan Halo Hermina, grup rumah sakit Hermina dapat mengembangkan aplikasi halo hermina menjadi lebih mudah digunakan, selain itu secara bertahap memperbaiki sistem digitalisasi rumah sakit termasuk pencatatan pendapatan telemedicine sehingga telemedicine lebih terlihat perananya dalam meningkatkan kinerja rumah sakit.
As a response to the COVID-19 pandemic, Hermina Hospital Group in 2020 had implemented a telemedicine service known as Halo Hermina; however, the effectiveness of this service remains unknown. The aim of this study is to analyze the effectiveness of telemedicine services in Hermina Hospital Group. This study is conducted in 2022 on 680 subjects consist of 212 patient, 239 staff and 229 management, using a quantitative approach and a cross-sectional design. The results of this study shows that the telemedicine services using Halo Hermina application was deemed effective by 94% of patients, 88% of hospital employees, and 91% of management staffs. Bivariate analysis showed that variables significantly associated with effectiveness were internal business process, learning and growth, customer as well as finance, perceived usefulness, attitude toward using, and behavioral intention to use. Multiple regression model showed that attitude toward using, behavioral intention to use, learning and growth, as well as customer had significant association with effectiveness of telemedicine. Variables related to balanced scorecard (BSC) in the form of internal processes learning & growth, and finance have a determination coefficient of 32,9 % for hospital management, all with p values of <0.05. Variables related to technology acceptance model (TAM) in the forms of attitude towards using and behavioral intent to use have determination coefficient of 58,4 % and 49.8% for patients and employees, respectively. The hospital may use a TAM- and BSC-based approach to increase the effectiveness of telemedicine service with the Halo Hermina application. To increase the use of the Halo Hermina application, Hermina Hospital Group should improve the application in order to make it more user-friendly, in addition to gradually improve the digitalization of healthcare services including the recording of revenues from telemedicine, in order to more prominently view the impact of telemedicine services to the hospital?s performance.
Read More
B-2298
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurulita Cahyani; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Wahyu Sulistiadi, R. Sutiawan, Muhammad Dian Luthfy Lubis, Dessy Rosmelita
Abstrak: Pendahuluan : Rumah sakit Universitas Indonesia (RSUI) mengadopsi telemedicine sebagai alternatif pelayanan kesehatan. Implementasi telemedicine tidak hanya terfokus tentang teknologi yang digunakan, melainkan banyak sumber daya dan investasi yang berkontribusi. Tujuan : menilai efektivitas telemedicine sebagai pengganti konsultasi tatap muka dan menganalisa faktor aktor yang menghambat efektivitas telemedicine. Metode : penelitian ini merupakan deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus dengan menganalisis sistem (input-proses-output) pada pelyanan telemedicine di poliklinik rawat jalan RSUI. Hasil : RSUI memanfaatkan teknologi sederhana dalam implementasi telemedicine menggunakan google meeting online. Telemedicine RSUI dinilai efektif sebagai pengganti layanan tatap muka karena RSUI mampu mengoptimalkan seluruh sumberdaya yang ada, menyelesaikan 93 % dari 1665 jadwal kunjungan telemedicine yang terdaftar, dan pengguna menyatakan kepuasaan akan layanan ini. Hambatan dalam pencapaian efektivitas mulai dari kurangnya tingkat promosi dan belumnya digunakannya aplikasi/fitur yang memudahkan pengguna mengakses telemedicine. Pembahasan : Telemedicine di RSUI meningkatkan aksesibilitas pelayanan klinis, keberhasilan telemedicine didasarkan kepada kepuasan para penggunaannya. Pemanfaatan metode video panggil, kemampuan sumber daya dan konektivitas jaringan internet menjadi faktor pendukung utama keefektifan telemedicine. Percepatan pengembangan telemedicine melalui strategi digital yang inovatif akan meningkatkan efektivitas pelayanan telemedicine di RSUI. Alternatif strategi tersebut dapat berupa pengembangan aplikasi secara mandiri ataupun kerjasama dengan pihak swasta. Aplikasi yang inovatif, inklusif, dan ramah pengguna menjadi solusi untuk meningkatkan efektivitas telemedicine. Kesimpulan : Implementasi layanan telemedicine di RSUI efektif sebagai alternatif pengganti layanan tatap muka pada pandemi COVID-19. Strategi digital yang inovatif dengan konsep terintegrasi dari pelayanan telemedicine akan meningkatkan efektivitas telemedicine di RSUI.
Introduction: The University of Indonesia Hospital (RSUI) implements telemedicine services as alternative health. The implementation of telemedicine is not only focused on the technology used but also on the many resources and investments that contribute. Objectives: To assess telemedicine's effectiveness as a substitute for face-to-face consultations and to analyze the factors that hinder the effectiveness of telemedicine. Method: This research is a qualitative descriptive with a case study approach by analyzing the system (input-process-output) in telemedicine services at the outpatient polyclinic of RSUI. Result: RSUI utilizes simple technology in implementing telemedicine using online google meetings. RSUI telemedicine is considered adequate as a substitute for face-toface services because RSUI can optimize all available resources by presenting online clinics, completing 93% of the 1665 registered telemedicine visits, and telemedicine users expressing satisfaction with this. Barriers to the effectiveness of telemedicine services are not aware of the lack of promotion and the lack of applications/features that make it easier for users to access telemedicine. Discussion: Telemedicine at RSUI increases the accessibility of clinical services. The success of telemedicine is based on the satisfaction of its users. The utilization of video calling methods, resource capabilities, and internet network connectivity are the main supporting factors for the effectiveness of telemedicine. The acceleration of telemedicine development through innovative digital strategies will increase the effectiveness of telemedicine services at RSUI. The alternative approach can be in the form of application development independently or in collaboration with private parties. Innovative, inclusive, and user-friendly applications are the solution to increasing the effectiveness of telemedicine. Conclusion: Implementation of telemedicine services at RSUI is effective as an alternative to face-to-face services during the COVID-19 pandemic. An innovative digital strategy with an integrated telemedicine service concept will increase telemedicine's effectiveness at RSUI.
Read More
B-2222
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Regina Frety Veronica; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Fenderia Laorensi S.
Abstrak: Era JKN sudah menjadi isu nasional bagi Negara Indonesia sejak lama. Rumahsakit sebagai penyedia layanan kesehatan harus segera berbenah diri. Denganskema pembayaran yang berubah dari fee for services menjadi Case based groupmenuntut rumah sakit untuk berlaku efisien dalam menggunakan sumber dayaseperti: obat dan tindakan medis maupun penunjang medis. Siloam HospitaslBalikpapan mengalami selisih dalam penagihan oleh karena itu dilakukan analisaterhadap faktor-faktor yang merugikan keuangan dengan metode perbandinganpada clinical pathway dan metode kualitatif pada informan. Didapatkan bahwaclinical pathway yang ada belum menjadi pengendali mutu dan biaya. Sehinggaharus dilakukan review terhadap penggunaan clinical pathway karena dibutuhkanpengendali biaya dan mutu dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit khususrumah sakit dengan skema pembayaran Case based group.Kata kunci:JKN, Clinical Pathway, Tarif, Efisiensi
JKN era has become a national issue for the State Indonesia since long time .Hospital as a health care provider must immediately improve itself . By changingthe scheme of payment of fees for services became Case -based group requireshospitals to apply efficient use of resources such as drugs and medical proceduresand medical support . Siloam Hospitals Balikpapan has difference in billingtherefore conducted an analysis of the factors that the financial adverse by themethod of comparison on clinical pathways and qualitative methods to informant .It was found that the existing clinical pathways have not become a controllingquality and costs . So it should be a review of the use of clinical pathways becauseit takes control of cost and quality in health care in special hospitals hospitals withCase payment scheme based group.Key words :JKN , Clinical Pathway , Tariff , Eficiency
Read More
B-1737
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jeffry Oeswadi; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Hendrik M. Taurany, Wahyu Sulistiadi, Hadi Prawoto
B-1102
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andrew Jeremia; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Masyitoh, Popy Yuniar, Dwi Putri Piandani, Erick Prawira Suhardhi
Abstrak:

Keselamatan pasien merupakan isu global yang mendorong pengembangan sistem pelaporan insiden di fasilitas kesehatan. Siloam Hospitals Kelapa Dua telah mengimplementasikan Sistem Informasi Manajemen Mutu (SIMM) berbasis web sejak Maret 2023 untuk mendukung pelaporan insiden keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi implementasi SIMM dan faktor-faktor yang memengaruhi penggunaannya.

Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus dengan metode campuran. Data kuantitatif diperoleh dari 774 laporan insiden yang teregister di SIMM selama Maret 2023–Desember 2024. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 10 informan dari berbagai profesi.

Hasil menunjukkan bahwa perawat merupakan pelapor terbanyak. Pengetahuan staf tentang pelaporan cukup baik, namun pelatihan formal masih terbatas. Budaya keselamatan tergolong baik, ditandai dengan dukungan manajemen dan komunikasi terbuka, meskipun masih ada persepsi menyalahkan. SIMM dinilai cukup mudah digunakan, namun terdapat kendala teknis dan kompleksitas formulir. Fitur proteksi identitas pelapor sering digunakan secara tidak sengaja.

Rata-rata 35 laporan diterima setiap bulan oleh 17 pelapor aktif. Fitur analisis akar masalah (RCA) digunakan pada 76,0% laporan, namun hanya 60,0% yang diselesaikan tepat waktu. Dashboard SIMM dimanfaatkan untuk analisis tren. Ketepatan waktu pelaporan dalam 1×24 jam tercapai pada 62,8% laporan, dan 73,8% laporan diproses lengkap. Pelaporan berkontribusi pada perbaikan proses dan pembelajaran organisasi, meskipun tingkat pelaporan 22,03 per 1.000 hari pasien—masih di bawah tolok ukur.

SIMM memberikan kontribusi positif terhadap pelaporan insiden, namun optimalisasi sistem, pelatihan, dan budaya pelaporan masih perlu ditingkatkan.


Patient safety is a global concern that has driven the development of incident reporting systems in healthcare facilities. Siloam Hospitals Kelapa Dua implemented a web-based Quality Management Information System (QMIS) in March 2023 to support patient safety incident reporting. This study aims to evaluate the implementation of QMIS and the factors influencing its use.  A case study with a mixed-methods approach was conducted. Quantitative data were obtained from 774 incident reports registered in QMIS between March 2023 and December 2024. Qualitative data were collected through in-depth interviews with 10 informants from various professional backgrounds.  Findings show that nurses were the most frequent reporters. Staff demonstrated adequate knowledge of incident reporting, although formal training was limited. The hospital’s safety culture was generally strong, supported by management commitment and open communication, though some perceptions of blame remained. QMIS was considered user-friendly, despite technical issues and form complexity. The anonymous reporting feature was often used unintentionally, complicating follow-up.  On average, 35 reports were submitted monthly by 17 active users. The root cause analysis (RCA) feature was used in 76.0% of reports, with only 60.0% completed on time. The QMIS dashboard was used for trend analysis. Timely reporting within 24 hours was achieved in 62.8% of cases, and 73.8% of reports were fully processed. Reporting contributed to process improvements and organizational learning, although the reporting rate remained at 22.03 per 1,000 patient days—below the benchmark.  QMIS has positively supported incident reporting, but further improvements are needed in system optimization, training, and fostering a stronger reporting culture.

Read More
B-2551
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andreas Wijaya; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Ede Surya Darmawan, Mardiati Nadjib, Melvin Lukito, Kalsum Komaryani
Abstrak:
Latar Belakang: Siloam Hospitals Kupang, sebagai rumah sakit swasta dengan layanan unggulan urologi, mampu melakukan berbagai tindakan pemecahan batu ginjal yaitu, Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL), Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL), dan Retrograde Intrarenal Surgery (RIRS). Namun, tingginya jumlah pasien yang menjalani tindakan ESWL berulang lebih dari 1 kali setiap bulan, menimbulkan pertanyaan penting bagi manajemen rumah sakit terkait efektivitas biaya dari setiap prosedur yang tersedia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektifitas biaya dari beberapa tindakan pemecahan batu ginjal di Siloam Hospitals Kupang. Metode: Penelitian dilakukan terhadap data 3 tindakan pemecahan batu ginjal selama periode September 2024 – November 2024 dengan mengambil seluruh sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi pada periode tersebut. Selanjutnya sampel dianalisis dengan analisis biaya yang membandingkan Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) dan Incremental Cost Effectivenes Ratio (ICER) antara setiap tindakan terhadap pasien batu ginjal. Data primer didapatkan melalui kuesioner dan data sekunder dari laporan biaya rumah sakit serta rekam medis pasien. Pengukuran efektifitas dilakukan dengan menggabungkan antara indikator bebas batu, skala nyeri, durasi rawat inap, serta tingkat komplikasi. Hasil: Tindakan RIRS memiliki tingkat efektivitas yang paling baik dengan skor total 53,3%, nilai ACER sebesar Rp36.978.877. Diikuti oleh PCNL dengan efektivitas 20% degan ACER Rp80.940.986, dan ESWL dengan efektivitas 12,5% dengan ACER Rp16.268.591. Bila ESWL digantikan dengan RIRS akan memberikan nilai ICER Rp43.429.793, sedangkan bila digantikan dengan PCNL maka akan memberikan nilai ICER Rp189.360.602.  Kesimpulan: Tindakan RIRS adalah tindakan yang paling efektif diikuti oleh PCNL, dan ESWL memiliki efektifitas yang paling rendah. Jika ESWL diganti dengan RIRS maka biaya yang dibutuhkan akan lebih rendah dibandingkan bila diganti dengan PCNL. Jika dibandingkan dengan tarif klaim dari BPJS Kesehatan, maka hanya ESWL yang masih sesuai dengan nilai tarif yang disediakan oleh BPJS Kesehatan. Meskipun demikian RIRS masih bisa dilakukan untuk pasien dengan jaminan BPJS Kesehatan dengan catatan perlu dilakukan efisiensi dari sisi biaya alat flexible urethroscope, biaya dokter, dan biaya sewa gedung.

Background: Siloam Hospitals Kupang, as a private hospital with a distinguished urology service, can perform various kidney stone treatment procedures, including Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL), Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL), and Retrograde Intrarenal Surgery (RIRS). However, the high number of patients undergoing repeated ESWL procedures more than once per month has raised a critical question for hospital management regarding the cost-effectiveness of each available treatment option. Objectives: This study aims to analyze the cost-effectiveness of various kidney stone removal procedures at Siloam Hospitals Kupang. Methods: This study was conducted using data from three kidney stone treatment procedures during the period of September 2024 to November 2024 by including all samples that met the inclusion and exclusion criteria within that timeframe. The samples were then analyzed using a cost analysis approach, comparing the Average Cost-Effectiveness Ratio (ACER) and Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) among the procedures for kidney stone patients. Primary data were collected through questionnaires, while secondary data were obtained from hospital billing reports and patients’ medical records. Effectiveness was measured by combining multiple indicators, including stone-free status, pain scale, length of hospital stay, and complication rate. Results: RIRS demonstrated the highest level of effectiveness with a total score of 53,3% and an ACER of Rp36.978.877. This was followed by PCNL, with an effectiveness of 20,0% and an ACER of Rp80.940.986, and ESWL, which had the lowest effectiveness at 12,5% but the lowest ACER at Rp16.268.591. Replacing ESWL with RIRS resulted in an ICER of Rp43.429.793, whereas replacing it with PCNL led to a significantly higher ICER of Rp189.360.602. Conclusion: RIRS was found to be the most effective procedure, followed by PCNL, while ESWL had the lowest level of effectiveness. When ESWL is substituted with RIRS, the additional cost required is lower compared to substituting it with PCNL. In comparison to the reimbursement tariffs provided by BPJS Kesehatan, only ESWL remains within the acceptable claim limit. Nevertheless, RIRS may still be performed for patients under BPJS Kesehatan coverage, provided that cost efficiencies are implemented, particularly in the use of flexible urethroscope devices, physician fees, and facility rental charges.
Read More
B-2528
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratna Atina Riandhini; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Vetty Yulianty Permanasari, Sumiyatun
Abstrak:

ABSTRAK Dokumen asuhan keperawatan sangat diperlukan untuk kepentingan pasien maupun perawat, akan tetapi pada kenyataannya kelengkapan dokumen masih banyak ditemukan yang isinya belum lengkap. Alasan dilakukan penelitian ini karena perawat memiliki persepsi yang berbeda – beda terhadap pelaksanaan dan penyebab ketidaklengkapan dokumen asuhan keperawatan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelengkapan dokumen asuhan keperawatan, mendeskripsikan kaitan antara pengetahuan perawat, motivasi perawat dan supervisi atasan dengan kelengkapan dokumen asuhan keperawatan. Metode penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan observasi dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelengkapan pengisian dokumen asuhan keperawatan didapatkan masih banyak yang kosong dan tidak lengkap. Aspek yang dinilai adalah pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan, rencana keperawatan, implementasi keperawatan, otentifikasi, resume keperawatan dan evaluasi keperawatan. Kesadaran perawat untuk melengkapi setiap bagian dokumen asuhan keperawatan masih kurang. Walaupun perawat sudah mempunyai pengetahuan mengenai dokumen asuhan keperawatan, namun ternyata belum ada motivasi karena kurangnya pengakuan, tanggung jawab dan pengembangan potensi individual. Selain itu, tidak ada supervisi dari atasan berupa pengarahan, bimbingan, observasi,  dan evaluasi kepada perawat. Saran dari penelitian ini adalah bahwa kelengkapan dokumen di departemen rawat inap MRCCC Siloam Hospitals Semanggi harus menjadi perhatian pihak manajemen, selain itu disadari membutuhkan pelatihan teknis pengisian dokumen asuhan keperawatan serta memberikan reward dan punishment kepada perawat serta supervisi oleh kepala ruangan. Kata Kunci : kelengkapan dokumen, asuhan keperawatan, rumah sakit.


 ABSTRACT Nursing care document is required for the benefit of patients and nurses. The fact, however, shows that there are a lot of incomplete nursing care documents. The research is carried out due to different perception as to the compliance and the causes of this incompleteness. The objective of this research is to analyze nursing care document completion. Spesific objectives are to describe the relationship between the nurses’s knowledge, motivation and supervision and nursing care document completion. This is a case-study in MRCCC Siloam Hospitals Semanggi using qualitative approach. Data collection techniques are observation and in-depth interview. The result showed that most of nursing care document were incomplete and empty. This component were nursing assessment, nursing diagnoses, nursing plan, nursing implementation, authentication, and evaluation of nursing resume. The nurses had low awareness on completing each of the document completion. Although the nurses understand nursing care document, they did not obtain sufficient motivation such as recognition, responsibility and personal potential development. In addition, there were lack of supervision, direction, guidance, observation and evaluation. It is suggested that MRCCC Siloam Hospitals Semanggi pay more attention on the document completion at the inpatient department. It is also suggested to organize trainings on how to fill out nursing care documents as well as improve motivation through reward and punishment schemes and supervision by the head nurse. Keywords: document completion, nursing care, hospital

Read More
B-1415
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yoseph Kea Embu; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Puput Oktamianti, Ede Surya Darmawan, Wahyuni Dian Purwati, Wardani Arsyad
Abstrak: Manajemen Sumber Daya Manusia Berbasis Kompetensi merupakan penerapan dari manajemen SDM menghubungkan model kompetensi dengan kompetensi yang dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan dalam organisasi. Tujuan penelitian untuk menganalisis efektivitas manajemen SDM berbasis kompetensi menurut perspektif perawat manajer lini pertama di Rumah Sakit (RS) Siloam Kelapa Dua Tangerang. Jenis penelitian yakni penelitian desktriptif dengan pendekatan kualitatif studi kasus. Informan penelitian: 5 perawat manajer lini pertama dan 4 informan kunci. Data primer dengan kuesioner dan wawancara mendalam. Data sekunder dengan telaah dokumen kompetensi. Hasil penelitian yakni: Perawat manajer lini pertama setuju kebutuhan pelatihan diidentifikasi RS, adanya kesempatan pelatihan sesuai kebutuhan, dukungan RS dalam workshop dan seminar, kesempatan karir bagi yang berkinerja baik, ada perencanaan jalur karir, perencanaan dan pengembangan karir sesuai kinerja staf, RS menerapkan sistem kompensasi mendorong dalam tercapainya tujuan RS, ada perlakuan yang adil dan remunerasi dijadikan sebagai penghargaan bagi yang berkinerja baik. Perawat manajer lini pertama setuju adanya wawancara selama rekrutmen dan seleksi, jabatan staf disesuaikan dengan kompetensinya, adanya wawancara dalam rekrutmen, pemilihan kandidat rekrutmen berdasarkan kompetensinya. Perawat manajer lini pertama setuju dengan RS diperbolehkan bicara formal dengan top manajer mengenai hasil evaluasi, pengembangan berdasarkan evaluasi kinerja, RS selalu menginfokan terkait dengan standar evaluasi kinerja, serta pemberian penghargaan berdasarkan kinerja
Read More
B-2273
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kevin Chrisanta Budiyatno; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Puput Oktamianti, Chenny Muljawan, Maria M. Padmidewi
Abstrak: Skrining penyakit Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) pada petugas rumah sakit merupakan salah satu upaya mencegah penularan Covid-19 di rumah sakit. Siloam Hospitals Group (SHG) menerapkan tiga komponen skrining Covid-19 pada petugas, yaitu pengkajian gejala klinis, penemuan kontak erat, serta pemeriksaan antibodi Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) secara berkala. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja skrining Covid-19 pada petugas di SHG pada tahun 2020 melalui analisis kuantitatif dan kualitatif berdasarkan aspek evaluasi kinerja skrining menurut Wilson dan Jungner (1968). Penelitian ini menemukan bahwa gejala klinis merupakan komponen skrining Covid-19 yang menunjukkan kinerja paling baik dalam penemuan kasus Covid-19 bergejala, sedangkan untuk penemuan kasus Covid-19 presimptomatik, diperlukan pengkajian gejala klinis secara longitudinal. Penelusuran kontak erat memiliki potensi yang baik dalam penemuan kasus Covid-19 tanpa gejala selama tidak terjadi over reporting atau under reporting dalam pelaksanaannya. Pemeriksaan antibodi SARS-CoV-2 tidak direkomendasikan sebagai komponen skrining Covid-19 karena menunjukkan kinerja yang paling buruk. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengkajian gejala klinis dan penelusuran kontak erat masih direkomendasikan untuk penemuan kasus Covid-19 secara subjektif, sedangkan untuk penemuan kasus Covid-19 secara objektif, maka pemeriksaan berkala antigen SARS-CoV-2 atau pemeriksaan Nucleic Acid Amplification Test (NAAT) lebih direkomendasikan jika tersedia
Read More
B-2261
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive