Ditemukan 25839 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Keywords: Hypertension, Fast Food, Soft Drink, Meat and IFLS-5.
Malaria masih menjadi masalah yang serius, baik secara nasional maupun global WHO dengan Global Malaria Program telah menetapkan strategi untuk mengurangi kesakitan malaria sampai dengan separuhnya pada tahun 2010 dan membebaskan dunia dari Malaria pada tahun 2025 dengan program pemakaian kelambu insektisida (ITNs dan I INs). mencanangkan gerakan brantas malaria (GEBRAK Malaria) sejak tahun 1998. Studi ini merupakan Review Literature dengan Sistematic Review dan Meta-analisis terhadap studi yang dilakukan oleb mabasiswa FKM Ul yang tersimpan dalam arsip perpustakaan, sejak tahun 1988 sampai tahun 2007. Tujuannya adalah untuk mengetahui seberapa besar hubungan antara penggunaan Kelambu dengan kasus malaria yang dihasilkan dari studi yang terpilih, agar dapat dijadikan masukan bagi upaya pemberantasan malaria secar nasional. Dua puluh satu studi diikutkan dalam meta-analisis, dengan hasil perhitungan OR mh yang menunjukkan bertambah kuatnya OR yang dihasilkan dengan 95% CI yang sempit. 18 studi kasus control memberikan nilai OR yang lebih besar dan sempit dibandingkan dengan OR studi kroseksional. Tidak ada perbedaan yang mencolok, diantara kelompok studi dengan power kuat (>80) dengan kelompok studi yang powernya <80%. Studi di daerah Sumatera bagian Selatan (Sumatera Selatan, Bangka Beiitung, Bengkuiu. Lampung, Jambi) dan Riau membedklan nilai OR yang paling besar dibandingkan dengan nilai OR darl studi dl wilayab lain, bahkan dibandingkan dengan studi di wilayah Timur yang merupakan daerah endemis tinggi (AMI> 100 o/oo). Perlu upaya Scale up pemakaian kelambu, minimal dengan kelambu biasa, kalau bisa kelambu yang telah ditreatmen/ditambahkan dengan insektisida, karena jika tidak menggunakan kelambu akan lebih berpeluang 3 x tertular malaria, dibandingkan jika menggunakan kelambu sewaktu tidur. Perlu penelitian meta-analisis sejenis di seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia, agar hasilnya lebih dapat digeneralisasikan untuk kebijakan penanggulangan malaria secara nasional.
Malaria still becoming problem which is serious, either nationally globaland also. WHO with Global Malaria Program has specified strategy to lessen painfulness of malaria up to half (its half In the year 2010 and trees world from Malaria In the year 2025, with usage program of insecticide mosquito net ( ITNS and LLINs). Indonesia has targeted movement Roll Back Malaria Program slnce the year 1998. This study is Review Literature with Sistematic Review and Meta-analisis to study done by student FKM Ulwhich is on file in library archive, since the year 1981until the year 2007. Its the purpose is to know how big relation between usage of bed net with malaria case yielded from chosen study, to can be made input to eradication effort of malaria nationally. Twenty one studies joifled in meta-analisls, wfth result of calculation ORmh showing Increases strong of OR yielded with 95 % Cl which narrow; tight. 18 studies kasus-kontrol gives value OR larger ones and narrow; tlght compared to OR study krosekslonat there are stnK:lng difference, betw'een group of study with strong power >=80 with group of study which its(the power< SO %. Study in Sumatra area (South Sumatra, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Jambi and Riau) given value OR which is biggest compared to value OR from study in other region, even is compared to study in. East region of Indonesia which is high endemics area (AMI> 100 0/00). Need to strive up mosquito net usage,minimum with ordinary mosquito net, if mosquito net possible to which had been treated by insecticide, because otherwise applies bed net would more having opportunity 3 x is infected by malaria, compared to if using mosquito net at the time sleep. Need to scale up mosquito?
ABSTRAK Nama : Dinar Ayu Saraswati Program Studi : Epidemiologi Judul : Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Miopia pada Mahasiswa FKM UI Tahun 2018 Pembimbing : Prof. dr. Nuning Maria Kiptiyah, MPH, Dr.PH Latar Belakang : Miopia merupakan kelainan refraksi mata yang paling umum ditemukan dan dapat diperbaiki dengan menggunakan kacamata koreksi. Cut off point yang biasa digunakan untuk menentukan status miopia adalah -0,50 D. Prevalensi miopia diperkirakan mencapai 50% dari total populasi dunia pada tahun 2050. Faktor genetik dari keturunan dan faktor lingkungan diduga menjadi penyebab miopia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian miopia pada mahasiswa S1 Reguler FKM UI tahun 2018. Metode : Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sampel 259 responden mahasiswa S1 Reguler FKM UI tahun 2018. Faktor yang diteliti adalah riwayat miopia orang tua, kebiasaan bekerja jarak dekat dan durasi berada di luar ruangan dan terpapar sinar matahari. Hasil : Proporsi miopia dalam penelitian ini adalah 65,3%. Hasil analisis penelitian dengan uji cox-regression menunjukkan bahwa jarak membaca materi cetak (PR = 1,649; p value = 0,012 ; 95% CI 1,117 – 2,434) dan jarak menggunakan gadget (PR = 2,319 ; p value = 0,007 ; 95% CI 1,258 – 4,273) berhubungan dengan kejadian miopia. Berdasarkan analisis multivariat jarak menggunakan gadget menjadi satu-satunya faktor yang berhubungan dengan kejadian miopia. Kesimpulan : Faktor yang berhubungan dengan kejadian miopia pada mahasiswa S1 reguler FKM UI tahun 2018 adalah jarak membaca materi cetak dan jarak menggunakan gadget.
Saran : Perlu ada variasi pengukuran dalam mengukur faktor risiko untuk mengetahui faktor penyebab yang paling tepat untuk kejadian miopia.
ABSTRACT Name : Dinar Ayu Saraswati Study Program : Epidemiology Title : Determinant Factors of Miopia in College Students of Faculty of Public Health Universitas Indonesia 2018 Counsellor : Prof. dr. Nuning Maria Kiptiyah, MPH, Dr.PH Background : Myopia is the most common refractive error and can be corrected by using correction lens. Myopia defined by shpherical equivalent lower or equal to -0,50 D. Holden (2013) predicted that 50% of world population will develop myopia. Genetic engaged with hereditary and environmental factors were predicted as determinant factors of myopia. The aim of this study is to investigate potential factors that associated with the presence of myopia in college undergraduate students of Public Health Faculty Universitas Indonesia. Methods : A cross-sectional study of 259 conscripts. All conscripts was screened using autorefractors and trial lens set and filled out online questionnaire. Dependent variables in this study are parents’ myopia, near work habits and outdoor-and-exposed-by-sunlight’s duration. Analysis was performed using cox-regression model method on SPSS 17. Results : The prevalence of myopia in this study was 65,3%. Bivariate analysis showed that distance when reading printed material (PR = 1,649; p value = 0,012 ; 95% CI 1,117 – 2,434) and distance when using gadget (PR = 2,319 ; p value = 0,007 ; 95% CI 1,258 – 4,273) were associated with myopia. Multivariate analysis using cox-regression method showed that distance when using gadget was the only factors that associated with myopia. Conclussions : Distance when reading printed material and using gadget were associated with myopia in college undergraduate students of Public Health Faculty Universitas Indonesia.
Suggestions : Need a various measurements of risk factors of myopia to discover the most accurate risk factors of myopia.
Hasil penelitian menunjukkan proporsi obesitas pada pelajar SMP dan SMA sebesar 14,67%. Sedangkan proporsi obesitas pada remaja dengan pola makan fast food sering dan aktivitas fisik rendah adalah 20,54%, proporsi ini lebih tinggi dari pada proporsi obesitas pada remaja dengan pola makan fast food jarang dan aktivitas fisik cukup yaitu 9%. Analisis multivariat dengan uji cox regression menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola makan fast food dan aktivitas fisik dengan obesitas.
Kebiasaan mengkonsumsi fast food sering dan pola aktivitas fisik rendah secara bersama meningkatkan risiko obesitas dibandingkan dengan remaja yang jarang mengkonsumsi fast food dan memiliki aktivitas fisik cukup pada remaja SMP dan SMA di Indonesia tahun 2015 (PR 2,165 CI 95% 1,657-2,826), artinya remaja yang sering mengkonsumsi fast food dan memiliki aktivitas fisik rendah memiliki risiko untuk kejadian obesitas sebesar 2 kali dibandingkan remaja yang jarang mengkonsumsi fast food dan memiliki aktivitas fisik yang cukup setelah dikontrol variabel wilayah tempat tinggal, variabel konsumsi buah, konsumsi sayur dan variabel konsumsi soft drinks.
Peningkatan pencegahan obesitas berbasis program sekolah dapat dilakukan pada remaja SMP dan SMA di Indonesia dengan kegiatan mendukung perubahan perilaku (seperti penyuluhan pola makan dan aktivitas fisik yang baik), dan perbaikan lingkungan sekolah yang menunjang gaya hidup sehat (seperti penyediaan kantin yang bergizi, penyediaan fasilitas untuk olah raga yang memadai, serta meningkatkan fasilitas ekstrakurikuler di sekolah)
This study aims to determine the factors associated with the frequency of consumption of modern fast food in FKM UI students batch 2021. In this study, the dependent variable is the frequency of consumption of modern fast food and the independent variables are stress levels, gender, knowledge of nutrition and fast food, self control, amount of money they have, also peer group and social media influence. This study is a quantitative study with a cross-sectional design. Data collection was carried out in June 2022 to 145 FKM UI students, batch 2021, according to the inclusion criteria and exclusion criteria. Data was collected through filling out online questionnaires (online). The data obtained were analyzed by univariate and bivariate method using chi-square design. The results show that as many as 66.2% of respondents have a high level of consumption of modern fast food, based on the frequency of consuming modern fast food > 3 times per week. The results also show that stress levels, knowledge of nutrition and fast food, self-control, money, and the influence of social media are related to the consumption of modern fast food in adolescents.
