Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 30089 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Huda Rahmawati; Pembimbing: Martya Rahmaniaty; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Al Asy'ari, Titi Sundari, Rosmarlina
Abstrak: TB RO telah memperparah keadaan penyakit TB dan menghambat program penanggulangan TB di Indonesia maupun dunia. Hal ini disebabkan karena angka kesembuhan pada pengobatan relatif lebih rendah, lebih sulit, mahal dan lebih banyak efek samping. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui faktor risiko kejadian TB RO di RSPI Prof dr Sulianti Saroso Tahun 2017-2019 Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian kasus kontrol, dimana perbandingan kasus dan kontrol adalah 1:1. Hasil penelitian yaitu usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan dan status HIV tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian TB RO. Status DM dan riwayat pengobatan TB sebelumnya memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian TB RO, dimana pasien dengan status DM memiliki risiko 3,3 kali lebih tinggi terjadinya TB RO (ORcrude 3,272; CI 1,244-8,749) dan riwayat pengobatan TB sebelumnya menjadi faktor paling berpengaruh terjadinya TB RO dengan ORadj=8,51; 95%CI (4,32-16,77). Kesimpulan penelitian dapat diberikan saran agar dapat disampaikan untuk memperhatikan, memberikan informasi dan dukungan pasien TB dengan DM ataupun TB saja kemungkinan terjadinya resistensi bila tidak melakukan pengobatan secara tuntas. Selain itu, sudah ada program bahwa setiap pasien TB harus diperiksa HIV dan DM,sehingga akan lebih awal mengetahui adanya komorbid pada pasien TB dan ini harus konsisten dilakukan
TB RO has exacerbated the condition of TB disease and hampered TB control programs in Indonesia and the world. This is because the cure rate on treatment is relatively lower, more difficult, expensive and has more side effects. The purpose of this study is to determine the risk factors for the incidence of TB RO at RSPI Prof dr Sulianti Saroso in 2017 - 2019 This study is a quantitative study with a case-control study design, where the ratio of cases and controls is 1:1. The results of the study, namely age, gender, occupation, education and HIV status did not have a significant relationship with the incidence of TB RO. DM status and history of previous TB treatment have a significant relationship with the incidence of TB RO, where patients with DM status have a 3.3 times higher risk of developing TB RO (ORcrude 3,272; CI 1,244-8,749) and history of previous TB treatment is the most influential factor. the occurrence of TB RO with ORadj=8.51; 95%CI (4.32-16.77). The conclusions of the study can be given suggestions so that they can be submitted to pay attention, provide information and support for TB patients with DM or TB only, the possibility of resistance if they do not complete treatment. In addition, there is a program that every TB patient must be tested for HIV and DM, so that it will be easier to find out if there are comorbidities in TB patients and this must be done consistently
Read More
T-6146
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marisa Rayhani; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Renti Mahkota, Sulistyo, Refni Dumesty
Abstrak: Kematian akibat tuberkulosis (TB) secara global sebanyak lebih dari 95% terjadi pada negara berpenghasilan rendah dan menengah. Indonesia ikut menyumbang 60% dari keseluruhan kasus TB global (WHO, 2015). Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Banten termasuk ke dalam lima provinsi dengan estimasi prevalensi TB tertinggi di Indonesia (Riskesdas, 2007 dan 2013). Perlu dibuat model yang mempertimbangkan kondisi lokal spesifik dengan memperhatikan perbedaan lokasi dari aspek geografis, kependudukan, dan kondisi sosial (Eryando, 2007 dan Rahmaniati, 2015). Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif analitik dengan desain potong lintang. Kajian faktor risiko kejadian TB sesuai konsep Model Perilaku Kesehatan oleh Green (1980) dan Kerangka Kerja Faktor Risiko TB oleh WHO (2010) dengan metode Geographically Weighted Regression (GWR) pada 13 kabupaten/kota di Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Banten. Hasil penelitian memperlihatkan tiga kelompok faktor risiko dapat menjelaskan kontribusi parameter dalam pemodelan kejadian TB di kedua provinsi sebesar 6%. Model GWR mampu menggambarkan variasi tiga kelompok faktor risiko kejadian TB di kedua provinsi sebesar 96%. Estimasi rata-rata proporsi kejadian TB akan meningkat pada risiko pendidikan rendah, bekerja, dan tersedianya fasilitas kesehatan TB. Status pendidikan menjadi parameter yang bernilai signifikan pada setiap kabupaten/kota. Setiap kabupaten/kota menghasilkan nilai estimasi berbeda yang menunjukkan besaran koefisien kejadian TB yang dipengaruhi oleh setiap perubahan parameternya. Setiap kabupaten/kota di kedua provinsi melalui Dinas Kesehatan perlu menerapkan kebijakan dan intervensi dengan pertimbangan nilai estimasi parameter pada faktor risiko sesuai pemodelan GWR, terutama peningkatan pendidikan dan promosi kesehatan TB. Kata kunci: Geographically Weighted Regression (GWR), Tuberkulosis (TB), Faktor Risiko Deaths from tuberculosis (TB) globally by more than 95% occur in low- and middle-income countries. Indonesia contributes 60% of all global TB cases (WHO, 2015). DKI Jakarta Provinces and Banten Provinces are included in the five provinces with the highest estimated prevalence of TB in Indonesia (Riskesdas, 2007 and 2013). Its need some model to consider the specific local conditions, which is geographical, demographic, and social aspects for appropriate health system improvement by region (Eryando, 2007 and Rahmaniati, 2015). This research is an analytic quantitative research with cross sectional design. Assessment of risk factors for TB incidence according to the Health Behavior Model by Green (1980) and TB Risk Factors Framework by WHO (2010) using Geographically Weighted Regression (GWR) method in 13 districts/cities in DKI Jakarta Province and Banten Province. The results showed three groups of risk factors could explain the contribution of parameters in modeling TB incidence in both provinces by 6%. The GWR model was able to describe the variation of three groups of TB risk factors in both provinces by 96%. The average estimate of the proportion of TB incidence will increase in the risk of low education, work, and the availability of TB health facilities. Educational status becomes a significant parameter in every district/city. Each district/city produces a different estimation value indicating the magnitude of TB incidence coefficients that is affected by each parameter change. Each district/city in both provinces through the Department of Health needs to implement policies and interventions with consideration of parameter estimation values on risk factors according to GWR modeling, especially improving TB education and promotion. Keywords: Geographically Weighted Regression (GWR), Tuberculosis (TB), Risk Factor
Read More
T-4952
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadia Hasnanisa; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: HMartya Rahmaniati Makfuli, Arif Burhanudin
Abstrak:
Latar Belakang : Banyumas adalah Kabupaten dengan dengan jumlah kasus TB paru BTA + tertinggi di Jawa Tengah. Untuk melakukan upaya pengendalian TB perlu diketahui terlebih dahulu faktor risiko, sehingga pelaksanaan program dapat disesuaikan dengan kondisi wilayah dan sumber dayanya. Tujuan : Untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian TB paru BTA + di Kabupaten Banyumas. Metode : Deskriptif kuantitatif dengan pendekatan studi ekologi dan unit analisis kecamatan. Teknik analisis yang dilakukan meliputi analisis univariat, bivariat, dan spasial. Hasil : Uji statistik menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kejadian TB paru BTA + di Kabupaten Banyumas pada 2019 adalah jumlah bayi diimunisasi BCG (0,005) dan jumlah rumah sehat (0,006). Sedangkan pada tahun 2021 variabel yang berhubungan adalah jumlah bayi diimunisasi BCG (0,000), jumlah rumah sehat (0,000), jumlah rumah tangga ber-PHBS (0,001), jumlah balita gizi buruk (0,011), dan jumlah kasus HIV/AIDS (0,050). Berdasarkan pemetaan secara spasial didapatkan hasil wilayah berisiko tinggi TB paru BTA + di Kabupaten Banyumas pada tahun 2019 terdiri dari 5 kecamatan. Sementara pada tahun 2021, seluruh kecamatan di Kabupaten Banyumas termasuk dalam wilayah berisiko sedang.

Background : Banyumas is a district with the highest number of smear + pulmonary TB cases in Central Java. To control TB, it is necessary to know the risk factors first, so that the program implementation can be adjusted to the region’s conditions and resources. Objective : To determine the risk factors associated with the incidence of smear + pulmonary TB in Banyumas. Methods : Quantitative descriptive with an ecological study approach and sub-district analysis units. The analysis techniques performed included univariate, bivariate, and spatial. Results : Statistical tests show that the variables associated with the incidence of smear + pulmonary TB in 2019 are the number of babies immunized with BCG (0.005) and the number of healthy homes (0.006). Whereas in 2021 the related variables are the number of babies immunized with BCG (0.000), the number of healthy homes (0.000), the number of households with PHBS (0.001), the number of malnourished children under five (0.011), and the number of HIV/AIDS cases (0.050) . Based on spatial mapping, the results show that the high-risk area for pulmonary TB BTA + in 2019 consists of 5 sub-districts. Meanwhile in 2021, all sub-districts in Banyumas is included in moderate risk areas.
Read More
S-11198
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Musa Rapang; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Besral, Sudijanto Kamso, Adria Rusli, Nurhalin Afriana
Abstrak:

ABSTRAK Retensi ARV Pada Pasien HIV Berdasarkan CD4 Awal Terapi ARV di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso Jakarta Dari Tahun 2011 – 2014 Musa Rapang Perbedaan tingkatan imunodefesiensi memberikan kondisi klinis yang berbeda. Dampak perbedaan imunodefesiensi akan diperoleh retensi ARV yang berbeda pada tingkat imunodefesiensi berat dan sedang. Pasien dengan sistem imun yang baik (CD4 tinggi) kemungkinan akan memiliki retensi yang rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat apakah perbedaan retensi ARV pada pasien HIV AIDS berdasarkan CD4 saat terapi ARV di RSPI Sulianti Saroso Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif  menggunakan 223 sampel yang diambil dari data rekam medik rumah sakit dari tahun 2011 – 2014 dengan waktu pengamatan selama satu tahun. Pasien yang retensi ada 70.85% dengan insident rate lost to follow up 2.9 per 100 orang bulan. Retensi ARV pada pasien dengan CD4 200-350 sel/mm lebih baik dengan HRadj lost to follow up sebesar 0.27 (CI 95% : 0.1 – 0.8) kali lebih rendah dibandingkan pasien dengan CD4 <200 sel/mm 3 . Selain itu pasien memiliki CD4 200350 sel/mm 3 pada stadium awal memiliki risiko lost to follow up yang lebih tinggi dengan HRadj 1.10 (CI 95% : 0.5 – 2.4) kali lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang memiliki CD4 < 200 sel/mm 3 pada stadium awal. Perlu dilakukan monitoring klinis, eduksi dan dukungan kepada pasien tentang manfaat ARV khususnya pada pasien dengan CD4 <200 sel/mm 3 . Kata kunci : Retensi ARV, CD4 Awal, lost to follow up


ABSTRACT ARV Retention HIV Patients Based On Early CD4 Therapy In Hospital Infection Disease of Prof. Dr. Sulianti Saroso Jakarta From Years 2011 - 2014 Musa Rapang The difference in the level of imunodefesiensi provide different clinical conditions. The impact will be acquired at different ARV retention rate of severe and moderate imunodefesiensi. HIV Patients with a good immune system (CD4 high) possibility have poor retention on antiretroviral drugs, so that the patient will tend to experience a lost to follow up. The purpose of this study was to see whether the difference in retention of antiretroviral drugs in HIV-AIDS patients by CD4 time ARV therapy in hospital Prof. Dr. Sulianti Saroso Jakarta. This research using retrospective cohort design using 223 samples taken from hospital medical records from the years 20112014 with the observation time for one year. The number of patients there was 70.85% retention with number incidents of lost to follow-up rate of 2.9 per 100 person-months. Retention ARV based on baseline CD4 200-350 cells / mm better with HRadj of lost to follow-up at 0.27 (CI 95% :0.1 – 0.8) times slower compared to patients with CD4 <200 cells / mm 3 in the early stages having lost to follow-up speed faster with HRadj 1.10 (CI 95% :0.5 – 2.4) times faster compared with patients with CD4 <200 cells/mm 3 . In addition patients had CD4 200-350 cells / mm 3 early stage. Needed to monitoring, education and supporting to patient for benfit to use ARV especially to patient with CD4  <200 cells/mm 3 . Keywords: Retention ARV, CD4 Earlier, Lost to follow up

Read More
T-4772
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pelegia Samira Pattdiana Sitompul; Pembimbing: Besral; Penguji: Martya Makful Rahmaniati, Retno Kusuma Dewi
Abstrak: Penelitian dilakukan dengan melakukan analisis s dan bivariat dengan menggunakan analisis spasial serta uji korelasi pada variabel untuk mengetahui hubungan faktor yang ada terhadap jumlah kasus baru tuberkulosis paru BTA positif di Jawa Barat. Sampel yang digunakan dalam penelitian sebanyak 135 yang merupakan seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat pada tahun 2015 hingga 2019. Hasil analisis korelasi yang dilakukan menunjukkan terdapat jumlah keluarga miskin (p-value = 0,000), jumlah puskesmas (p-value = 0,003), jumlah desa siaga (p-value = 0,000), jumlah rumah sakit umum (p-value = 0,007), dan jumlah dokter umum (p-value = 0,038) dimana keenam variabel memiliki p-value dibawah 0,05. Koefisien korelasi yang didapatkan menunjukkan variabel jumlah dokter umum (0,153) memiliki hubungan yang sangat rendah dan variabel jumlah keluarga miskin (0,306), jumlah puskesmas (-0,236), jumlah desa siaga (-0,283) dan jumlah RSU (-0,210) memiliki hubungan yang rendah terhadap insiden tuberkulosis paru BTA positif di Jawa Barat.Program penanggulangan tuberkulosis di Jawa Barat penting untuk dilaksanakan dengan baik untuk mengurangi jumlah penyakit tuberkulosis kedepannya.
Read More
S-10710
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuliana Sari; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Sudijanto Kamso, Julitasari Sundoro; Herianto K.; H. Hani
Abstrak:

Tuberculosis paru masih merupakan masalah kesehatan utama di dunia. Sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Di tahun 2000 diperkirakan muncul 10,2 juta penderita bare tuberculosis dan 3,5 juta orang meninggal karenanya setiap tahun. WHO menyebutkan bahwa Indonesia merupakan penyumbang TB terbesar ketiga didunia setelah India dan Cina (Depkes R1,2002). Sampai saat ini di seluruh Indonesia pemberantasan penyakit tuberculosis masih jauh dari yang diharapkan_ Peningkatan kasus dan kematian tuberculosis antara lain karena tidak diobati, basil pengobatan yang rendah serta adanya kasus kasus barn. Juga kasus yang tidak sembuh dan kasus kambuh. Oteh karena itu masalah ketidaksembuhan merupakan prioritas yang paling panting untuk diselesaikan. Tujuan .Penelitian ini bertujuan mengembangkan model prediksi ketidaksembuhan penderita tuberculosis paru BTA positif melaiui identifkasi determinan dominan terhadap ketidaksembuhan penderita TB paru BTA positif di kabupaten tangerang. Metode. Desain penelitian studi Iongitudinal telah digunakan pada penderita TB pare BTA (+) dengan faktor karakteristik penderita dan faktor akses Iainnya. Analisis data menggunakan metode regresi logistik ganda untuk memperoleh model paling balk (fit), sederhana (parsimonious), dan tepat (robust) sehingga dapat menggambarkan hubungan variabel dependen dengan satu set variabei independen. Jumiah sample 164 penderita dan 23,2% diantaranya mengalami ketidaksembuhan. Pada penelitian ini juga telah menemukan model prediksi ketidaksembuhan penderita tuberculosis paru BTA Positif. HASIL Analisis regresi logistik ganda menunjukkan ketidaksembuhan penderita TB paru, pekerjaan (faktor karakteristik), jarak dari numb ke puskesmas dan keterjang)Cauan (faktor akses). Dengan jarak sebagai determinan yang paling dominan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jarak mempunyai OR = 2,71 95%CI :1,21 - 6,07), Keterjangkauan OR = 2,54 (95% CI :1,12-5,76) dan pekerjaan OR x,41 (95%C1: 0,18- 0,92). Kesimpulan. Penelitian menyimpulkan bahwa peranan akses yaitu jarak jauh dekat ketempat puskesmas, keterjangkauan dan pekerjaan penderita TB paru BTA Positif mempunyai pengaruh terhadap ketidaksembuhan penderita selama pengobatan.


 

Tuberculosis is still a major problem worldwide, one third of the world population are infected by Mycobacterium tuberculosis. In the 2000, approximately 10,2 million of new cases are identified and 3,5 million people died because of this disease annually. WHO state that Indonesian is the third country most contribute tuberculosis problem after India and China ( Depkes RI,2002). Up to present the tuberculosis rehabilitation program in Indonesian is still far away from expected outcomes. Increasing morbidity and mortality of tuberculosis because of not treatment patients, cure rate still low, new cases, not recovery patient and relapse. So the problem about not recovery cases to be a priority to solve. The purpose of the study was determining variables influence not recovery cases of tuberculosis patient in Tangerang. Method : the design of this study was longitudinal retrospective with tuberculosis patients as subjects and characteristic, access factors to influence. The data were analyze using the multiple logistic regression in order to find the most proper ( fit), simple (parsimonious) and the right (robust). Model in order to describe the relationship between the outcome variable and one set predictor variables. 164 subjects participated in the study of which 38(23,2%) of the subject are identify as cases not recovery . Based on the findings the study also propose a predicted model of tuberculosis patient not recovery treatment. Result. Multiple logistic regression analysis show that the predictor of the outcome are job, distance and to reach, and distance is the main determinant. The result of this study showed that distance have OR = 2,71 95% CI : 1,21-6,07; to reach have OR =2,54 95% CI: 1,12 - 5,76; Job have OR 0,41 95% CI : 0,18 -- 0,92; Conclusion : this study have conclusion that a distance have a lead of access factors and to reach of the others and job of tuberculosis patient have definitive influence not recovery cases.

Read More
T-2268
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anita Dwi Astuti; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Verry Adrian
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis spasial proporsi kejadian penyakit diare dengan kepadatan penduduk, pendidikan rendah, depot air minum, tempat pengelolaan pangan, fasilitas kesehatan (puskesmas), dan tenaga kesehatan (dokter, perawat, bidan) di DKI Jakarta tahun 2019. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional karena penelitian dilakukan menggunakan data sekunder yang tersedia di website akses bebas yang meliputi variabel jumlah kejadian diare tahun 2019 untuk setiap kecamatan yang terdiri dari 36 kecamatan, kepadatan penduduk, pendidikan rendah, sumber air minum, tempat pengelolaan pangan, tenaga kesehatan (dokter, perawat, bidan), dan fasilitas kesehatan (puskesmas).
Read More
S-10712
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ade Lies Oktorita; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Besral, Milla Herdyati, Fiena Fithriah, Ratna Diliana Sagala
Abstrak: ABSTRAK Nama : Ade Lies Oktorita Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul : Pengaruh Efek Samping Obat Anti Tuberkulosis Terhadap Hasil Akhir Pengobatan Pasien Tuberkuosis di Jakarta Timur Tahun 2017 Pembimbing : Dr. Artha Prabawa, SKM, M.Si Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit non-communicable disease yang paling banyak menyebabkan kematian dan kecatatan di negara berkembang. Indikator yang digunakan untuk menilai tingkat keberhasilan program pengendalian TB salah satunya adalah keberhasilan pengobatan. Pasien tidak patuh bahkan hingga mengalami default dalam menjalani pengobatan TB dikarenakan timbulnya efek samping OAT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pegaruh efek samping OAT terhadap hasil akhir pengobatan pasien TB di Jakarta Timur. Penelitian menggunakan rancangan crosssectional yang dilakukan di 10 puskesmas kecamatan wilayah kerja Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur pada bulan Juli-Oktober 2018. Sampel ditentukan menggunakan purposive sampling dan diperoleh sampel sejumlah 273 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang mengalami kejadian efek samping OAT mempunyai peluang untuk tidak berhasil pada pengobatan TB sebesar 1,9 kali (95% CI: 0,9-4,1) dibandingkan pasien yang tidak mengalami efek samping OAT setelah dikontrol oleh variabel keberadaan PMO. Kata kunci: Tuberkulosis, OAT ABSTRACT Name : Ade Lies Oktorita Study Program : Public Health Title : Relation of Side Effect of Anti Tuberculosis on the Treatment Result of Tuberculosis Patients in East Jakarta 2017 Counsellor : Dr. Artha Prabawa, S.KM, M.Si Pulmonary tuberculosis is a non-communicable disease that causes mortality and disabilities in developing countries. The indicator used to assess the success rate of the TB program is the success of treatment. Patient who is not compliant and even experiences default in undergoing TB treatment due to the occurrence of side effects of anti tuberculosis. This study aims to determine the relation of side effect of anti tuberculosis on the treatment result of TB patients in East Jakarta. The study used a crosssectional design carried out in 10 sub-district health centers in the East Jakarta in July- October 2018. Samples were determined using purposive sampling and obtained a sample of 273 people. The results showed that patients who experienced side effect of anti tuberculosis had a chance of not succeeding in TB treatment by 1.9 times (95% CI: 0.9- viii 4.1) compared to patients who did not experience side effect of anti tuberculosis after being controlled by presence of PMO. Key words: Tuberculosis, Anti Tuberculosis
Read More
T-5779
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dedy Irawan; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Ratna Djuwita, Laurentia, Muhammad NoorFarid
Abstrak: Diabetes melitus tipe 2 telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius dan merupakan penyebab penting dari angka kesakitan, kematian, kecacatan dan kerugian ekonomi di seluruh dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi prevalensi, faktor-faktor risiko dan model prediksi kejadian diabetes melitus tipe 2 di daerah urban Indonesia. Penelitian ini menggunakan data Survei Riset Kesehatan Dasar 2007. Kriteria diagnostik menggunakan metode Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) menurut World Health Organization (WHO) 1999 dan American Diabetes Association (ADA) 2003. Dari 19.960 responden berusia 15 tahun keatas hanya 18.746 responden yang dianalisis. Analisis data menggunakan regresi logistik dengan desain sampel dua tahap.
 
Dari analisis data didapatkan prevalensi diabetes melitus sebesar 5,98% (95%CI 5,40% - 6,62%), prevalensi diabetes melitus tertinggi pada kelompok umur diatas 45 tahun sebesar 12,41% (95%CI 11,13% - 13,81%). Dengan mengontrol tingkat pendidikan, pekrjaan dan umur didapatkan odds ratio kegemukan sebesar 1,52 (OR = 1,52; 95%CI 1,27 - 1,82), odds ratio obesitas sebesar 2,40 (OR = 2,40; 95%CI 1,80 - 3,19) dan odds ratio obesitas sentral sebesar 1,92 (OR = 1,92; 95%CI 1,62 - 2,26). Dengan menghindari kejadian obesitas sentral dapat mencegah 22,6% (95% CI 18,2% - 26,5%) kejadian diabetes melitus tipe 2 di populasi, atau sekitar 474.922 kasus diabetes melitus dapat dicegah jika obesitas sentral diintervensi.
 

Diabetes mellitus type 2 is a serious public health problem in the world. Diabetes mellitus is also the main cause of morbidity, mortality, disability, and economic loss all over the world include development countries. The research objective is to estimate the diabetes mellitus prevalence, risk factors, and prediction model in urban areas of Indonesia. By analyzed The Indonesia Basic Health Research Survey 2007 that consist of 19,960 respondents aged above 15 years old who had Oral Glucose Tolerance Test (OGTT). Only 18,746 respondents had been analyzed. Logistic regression with two stage design sampling was used to analyze the data.
 
The result showed that diabetes mellitus prevalence was 5.98% (95%CI 5.40% - 6.62%), and the highest prevalence was 12.41% (95%CI 11.13% - 13.81%) in an above 45 year-old age group. We estimate odds ratio by adjusted education level, occupation and age. The odds ratio of overweight is 1.52 (OR = 1.52; 95%CI 1.27 - 1.82), the odds ratio of general obesity is 2.40 (OR = 2.40; 95%CI 1.80 - 3.19) and the odds ratio of central obesity is 1.92 (OR = 1.92; 95%CI 1.62 - 2.26). By prevent central obesity we could prevent 22.6% (95% CI 18.2% - 26.5%) the expected diabetes mellitus cases in the population, or above 474,922 diabetes mellitus cases could prevent.
Read More
T-3220
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aji Wicaksono; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Sudijanto Kamso, Tris Eryado, Prihatiwi Setiati, Denti Widyanti
Abstrak: Sejak diberlakukannya Jaminan Kesehatan nasional (JKN) pada 1 Januari 2014, ketersediaan obat merupakan aspek yang sangat penting dalam pelayanan kesehatan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama(FKTP). Analisis data trend ketersediaan obat dan vaksin indikator menunjukkan trend mendekati angka 80%. Akan tetapi, manajemen logistik obat belum berjalan dengan optimal di Indonesia sehingga masih terjadi kekosongan obat dari waktu ke waktu di fasilitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain cross-sectional untuk mengetahui faktor-faktor manajemen logistik obat yaitu perencanaan, pengadaan, distribusi, pembiayaan, manajemen informasi, dan SDM di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang mempengaruhi ketersediaan obat dan vaksin indikator di puskesmas. Pemodelan yang dikembangkan pada studi ini adalah regresi logistik model determinan. Hasil studi menunjukkan bahwa variabel determinan pada studi ini adalah distribusi dan perencanaan dengan SDM sebagai variabel confounding. Variabel distribusi di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap ketersediaan obat dan vaksin indikator di puskesmas.
Read More
T-5713
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive