Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39138 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Miranda Rachellina; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Bambang Dwipoyono, Caroline Kawinda
Abstrak: High-risk Human Papillomavirus (HR-HPV) adalah necessary factor dalam proses terjadinya kanker serviks. Banyak faktor yang dikaitkan dengan infeksi HR-HPV, salah satunya adalah penggunaan kontrasepsi hormonal. Namun hasil penelitian-penelitian sebelumnya belum menunjukkan asosiasi yang konklusif antara pemakaian kontrasepsi hormonal dan infeksi HR-HPV. Data mengenai hubungan antara keduanya di Indonesia masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi asosiasi antara penggunaan kontrasepsi hormonal dan infeksi HR-HPV pada populasi yang mengikuti program penapisan kanker serviks oleh Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Prov. DKI Jakarta di Jakarta tahun 2019. Desain penelitian ini adalah kasus kontrol dengan menggunakan data sekunder dari program penapisan kanker serviks di Jakarta pada Januari - Desember 2019. Kasus diambil dari peserta skrining dengan hasil tes DNAHPV positif yang didapat dari pemeriksaan menggunakan Hybrid Capture 2. Kontrol dipilih secara acak dari peserta dengan hasil pemeriksaan DNA-HPV negatif dengan rasio 2 : 1 kasus dan dipasangkan berdasarkan domisili dengan frequency matching. Data dianalisis dengan analisis multivariat unconditional logistic regression. Jumlah kasus yang dapat disertakan dalam penelitian ini adalah 172, dengan kontrol 344 subyek. Prevalensi infeksi HR-HPV dari program skrining adalah 6,56%. Mayoritas subyek penelitian tidak sedang menggunakan jenis kontrasepsi apapun (62,79% kasus; 49,13% kontrol). Pada kelompok yang sedang menggunakan kontrasepsi hormonal, didapatkan risiko infeksi HR-HPV crude OR 0,64 (95% CI 0,39-1,04, p=0,06) dan adjusted OR 0,97 (95% CI 0,53-1,79; p=0,93). Sementara pada yang pernah menggunakan kontrasepsi hormonal didapatkan crude OR 0,55 (95%CI 0,37-0,83; p=0,002) dan adjusted OR 0,53 (95% 0,34-0,82; p=0,005). Pada penelitian ini didapatkan tidak adanya perbedaan risiko infeksi HR-HPV pada perempuan yang sedang menggunakan kontrasepsi hormonal dengan yang tidak. Namun didapatkan adanya asosiasi negatif pada kelompok yang pernah menggunakan kontrasepsi hormonal yang bermakna secara statistik
High-risk Human Papillomavirus (HR-HPV) is the necessary factor for the development of cervical cancer. The use of hormonal contraception has been associated with HR-HPV risk infection. However, the existing study results are not conclusive. There is very limited relevant data available in Indonesia. Hence, this study is aimed to evaluate the association between the use of hormonal contraceptives and infection risk of HR-HPV based on data from a 2019 screening program held by Indonesian Cancer Foundation, Jakarta branch, in Jakarta. This is a case-control study using secondary data from a cervical cancer screening program in Jakarta during January-December 2019. The case group is subjects with positive HPV-DNA test results from Hybrid Capture 2. The control group is randomly selected from the screening participants with negative HPV-DNA test results, with a ratio with the case is 2:1, and frequency matched based on area of domicile. Data is analyzed using multivariate analysis, unconditional logistic regression. The number of case in this study is 172 and 344 subjects in the control group. The prevalence of HR-HPV infection from the whole screening program is 6,56%. Most study participants were not using any kind of contraception methods (62,79% cases; 49,13% control). The risk of HR-HPV is crude OR 0,64 (95% CI 0,39-1,04, p=0,06) and adjusted OR 0,97 (95% CI 0,53-1,79; p=0,93). in current user of hormonal contraceptives. Whilst the association in the past users of hormonal contraception prior the test is crude OR 0,55 (95%CI 0,37-0,83; p=0,002) and adjusted OR 0,53 (95% 0,34-0,82; p=0,005). There is no significant association between the current user of hormonal contraceptives and the risk of HR-HPV infection. On the other hand there is a significant negative association in the past user group.
Read More
T-6154
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Frides Susanty; Pembimbing: Krisnawati Bantas, Helda; Penguji: Yovsyah, Laila Nuranna
Abstrak: ervisitis merupakan bagian dari Infeksi Menular Seksual (IMS), dengan perkembangan bidang sosial, demografik dan meningkatnya migrasi penduduk, populasi berisiko tinggi akan semakin meningkat. WHO memperkirakan 376 juta infeksi baru dengan 1 dari 4 IMS yaitu: klamidia (127 juta), gonore (87 juta), sifilis (6,3 juta) dan trikomoniasis (156 juta). Penelitian Gatot dkk menunjukkan 11,9 % pasien mengalami servisitis. Penelitian Iskandar, dkk prevalensi infeksi serviks (klamidia 9,3 % dan gonore 1,2 %). Berdasarkan hasil SDKI, terjadi peningkatan tren pemakaian kontrasepsi di Indonesia sejak tahun 1991 sampai 2017. Secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara servisitis dengan infeksi HPV, sehingga bila servisitis tidak ditangani dengan baik, maka akan meningkatkan risiko untuk terinfeksi HPV. Seseorang dengan gejala servisitis mukopurulen meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan kontrasepsi hormonal dengan kejadian servisitis. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif, dengan desain cross sectional study. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari hasil pemeriksaan IVA puskesmas yang didampingi Female Cancer programme (FcP) di DKI Jakarta tahun 2017-2019. Jumlah sampel 3563 orang, yaitu memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis yang digunakan logistic regression. Prevalensi penyakit servisitis pada penelitian ini 11,20%. Terdapat hubungan penggunaan kontrasepsi hormonal dengan kejadian servisitis yang bermakna signifikan secara statistik dengan p-value =0,0000 POR 1,673 95% CI (1,323 - 2.115). Perlu dilakukan pemeriksaan secara berkala pada perempuan yang menggunakan kontrasepsi hormonal untuk mencegah terjadinya servisitis dan .kanker leher rahim
Cervicitis is one of the Sexually Transmitted Infections (STIs). There is a correlation between socio-demographic development and migration with increase of the number of high-risk populations. WHO estimates there are 376 million new infections by 1 out of 4 STIs, such as chlamydia (127 million), gonorrhea (87 million), syphilis (6.3 million) and trichomoniasis (156 million). Gatot et al, showed that 11.9% of patients had cervicitis. Iskandar, et al, also showed the prevalence of cervical infections (chlamydia 9,3% and 1,2% gonorrhea). Based on the results of the SDKI, there had been an increasing trend in contraceptive use in Indonesia from 1991 to 2017. There was a statistically significant association between cervicitis and HPV infection. It will increase the risk of getting infected by HPV if cervicitis is left untreated. Additionally, a person with mucopurulent cervicitis symptoms has an increased risk of cervical cancer. This study aims to determine the relationship between the use of hormonal contraceptives and the incidence of cervicitis. This is a quantitative study with a cross sectional study design. This study used secondary data from the results of the VIA examination at the primary health care supervised by the Female Cancer Program (FcP) in DKI Jakarta in 2017-2019. The number of samples were 3563 people, who met the inclusion and exclusion criteria. This study used logistic regression to analyze the data. The prevalence of cervicitis in this study was 11.20%. There is a relationship between hormonal contraceptive use and the incidence of cervicitis which is statistically significant with p-value<0.0001. Thus, it is necessary to carry out periodic checks on women who use hormonal contraception to prevent cervicitis and cervical cancer.
Read More
T-6019
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widyorini Lestari Hardjolukito Hanafy; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Bambang Dwipoyono, Sukwan Handali; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Ratna Djuwita, Syahrul Rauf, Primariadewi Rustamadji, M. Soemanadi
Abstrak:
Latar belakang: Kanker serviks masih menjadi masalah kesehatan global yang signifikan, dengan perkiraan 660.000 kasus baru dan 350.000 kematian setiap tahun. Di Indonesia, kanker serviks adalah masalah kesehatan utama, dengan 9,2% wanita diperkirakan menderita kanker serviks pada tahun 2020. Meskipun telah dilakukan histerektomi radikal, tingkat kekambuhan pada kanker serviks stadium awal (IA2-IIA2) tetap tinggi, sekitar 20-30% dalam tiga tahun pertama pasca pengobatan. Hal ini menunjukkan kemungkinan keterlibatan faktor prognostik lainnya, seperti genotipe DNA Human Papillomavirus (HPV) dan viral load HPV, yang belum dipelajari secara ekstensif pada kanker serviks stadium awal di Indonesia. Tujuan: Mengetahui genotipe HPV dan viral load HPV sebagai faktor prognostik untuk kekambuhan pada pasien kanker serviks dengan stadium IA2-IIA2. Metodologi: Studi ini memakai desain kohort retrospektif, dengan data dari rekam medis di Rumah Sakit Kanker Dharmais dari 2014-2019. Populasi studi adalah pasien kanker serviks stadium IA2-IIA2 yang menjalani histerektomi radikal dan limfadenektomi. Analisis molekuler untuk genotipe HPV dan viral load dilakukan pada tumor primer dan kelenjar getah bening (KGB). Analisis data melibatkan univariat, bivariat (Kaplan-Meier dan regresi Cox), dan analisis multivariat untuk menilai disease-free survival (DFS) dan mengidentifikasi faktor prognostik kekambuhan. Hasil: Sebagian besar pasien kanker serviks stadium IA2–IIA2 memiliki HPV16/18 pada tumor primer (75,9%) maupun KGB (66,5%), kelompok HPV unknown ditemukan sebanyak 18,2% dan 25,6%. Pada tumor primer (n=121), mayoritas HPV16/18 memiliki viral load tinggi (88,3%), sedangkan tipe non-16/18 umumnya rendah (79,4%); pola serupa terlihat pada kelenjar getah bening (84,2% dan 78,6%). Koinfeksi HPV16 dan 18 menunjukkan kecenderungan risiko lebih tinggi (aHR=1,79; 95%=CI 0,29–10,66). Pada kelompok non-metastasis KGB (n=82), koinfeksi 16 dan18 juga meningkatkan risiko kekambuhan (cHR 5,39; 95% CI 1,09–26,74; aHR 3,54; 95% CI 0,70–17,87). Infeksi HPV ganda merupakan faktor prognostik independen terkuat, meningkatkan hazard kekambuhan 4 kali lipat (95% CI 1,82–9,04) dan bahkan 6,63 kali pada subkelompok non-metastasis KGB (95% CI 1,71–25,69). Analisis stratifikasi menunjukkan kecenderungan tumor infiltrating lymphocytes (TILs) keras menurunkan efek genotipe dan viral load terhadap kekambuhan (log-rank p=0,046), namun belum dapat dipastikan sebagai efek modifikasi karena keterbatasan ukuran sampel. Kesimpulan: Temuan studi ini menyoroti pentingnya pemeriksaan genotipe HPV, terutama pada pasien yang ditemukan infeksi ganda, dan evaluasi komponen TILs sebagai panduan strategi tatalaksana klinis untuk pasien kanker serviks stadium awal.

Background: Cervical cancer remains a significant global health problem, with an estimated 660,000 new cases and 350,000 deaths annually. In Indonesia, cervical cancer is a major health burden, with 9.2% of women estimated to be affected in 2020. Despite radical hysterectomy, the recurrence rate in early-stage cervical cancer (IA2–IIA2) remains high, at approximately 20–30% within the first three years after treatment. This suggests the potential involvement of additional prognostic factors, such as Human Papillomavirus (HPV) DNA genotype and HPV viral load, which have not been extensively studied in early-stage cervical cancer in Indonesia. Objective: To determine the role of HPV genotype and HPV viral load as prognostic factors for recurrence in patients with stage IA2–IIA2 cervical cancer. Methods: This retrospective cohort study utilized medical record data from Dharmais Cancer Hospital from 2014–2019. The study population included patients with stage IA2–IIA2 cervical cancer who underwent radical hysterectomy and lymphadenectomy. Molecular analyses for HPV genotype and viral load were performed on primary tumors and lymph nodes. Data analyses included univariate, bivariate (Kaplan–Meier and Cox regression), and multivariate analyses to assess disease-free survival (DFS) and identify prognostic factors for recurrence. Results: Most patients had HPV16/18 in primary tumors (75.9%) and lymph nodes (66.5%), with HPV-unknown cases accounting for 18.2% and 25.6%, respectively. Among primary tumors (n=121), HPV16/18 infections predominantly showed high viral load (88.3%), whereas non-16/18 types mainly had low viral load (79.4%); similar patterns were observed in lymph nodes (84.2% and 78.6%). HPV16+18 coinfection demonstrated a tendency toward increased recurrence risk (aHR=1.79; 95% CI 0.29–10.66). In the non–lymph node metastasis subgroup (n=82), coinfection also increased recurrence risk (cHR 5.39; 95% CI 1.09–26.74; aHR 3.54; 95% CI 0.70–17.87). Multiple HPV infection emerged as the strongest independent prognostic factor, increasing recurrence hazard fourfold (95% CI 1.82–9.04), and up to 6.63-fold in the non-metastatic subgroup (95% CI 1.71–25.69). Stratified analysis suggested that high tumor infiltrating lymphocytes (TILs) may reduce the effect of genotype and viral load on recurrence (log-rank p=0.046), although this potential effect modification remains inconclusive due to limited sample size. Conclusion: The findings of this study highlight the importance of HPV genotyping, especially in patients with multiple infections, and evaluation of TIL components as a guide for clinical management strategies for patients with early-stage cervical cancer.
Read More
D-609
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meilina Farikha; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Asri C. Adisasimita, Laila Nurmala, Niken Wastu Palupi, Renti Mahkota
Abstrak: Riwayat alamiah Lesi Prakanker Serviks menjadi kanker invasif berlangsung bertahun-tahun,sehingga memiliki banyak kesempatan untuk dideteksi dini. Metode Inspeksi Visualwith AcetatAcid (IVA) cukup cost efektif dan mampu laksana di Indonesia. Kejadian lesi prakankerdiyakini disebabkan HPV dan dipengaruhi faktor risiko. Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui hubungan karakteristik demografi serta riwayat kesehatan reproduksi dengankejadian lesi prakanker serviks pada perempuan yang diskrining menggunakan metoda IVA diDKI tahun 2016-2017. Cross sectional data Female Cancer Program FKUI-RSCM yangberasal dari deteksi dini di beberapa puskesmas dan kantor di Jakarta. Logistik regresiondigunakan untuk mendapatkan faktor yang memprediksi lesi prakanker serviks. Hasil : Umur≤ 30 tahun (POR 4,9; CI: 1,3-18,2), umur 31-40 tahun (POR 3,5; CI: 1-12), dan umur 41-50tahun (POR 2,1; CI: 0,6-7,5) merupakan faktor prediktor meningkatkan lesi prakanker serviksdibandingkan umur > 50 tahun. Kawin lebih dari 1 kali berisiko lesi prakanker serviks (POR6; 95% CI: 3,2-10,8) dibandingkan kawin 1 kali. KB pil (POR 2,3; CI: 1-5), KB susuk (POR1,8; 95% CI: 0,4-8,7) dan KB suntik (POR 1,5; CI: 0,7-2,8) merupakan faktor prediktormeningkatkan lesi prakanker servik dibandingkan KB non hormonal. Kesimpulan : umur,jumlah perkawinan, dan riwayat KB merupakan prediktor independen lesi prakanker serviksdalam penelitian ini. Dianjurkan deteksi dini pada perempuan yang telah melakukan kontakseksual dan membatasi jumlah pasangan, KB non hormonal sebagai pilihan KB untukpemakaian jangka panjang.Kata kunci:Lesi Prakanker Serviks, IVA, faktor risiko.
Read More
T-5117
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yusri Kartika; Pembimbing: Soedarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Yovsyah, Soewarta Kosen, Lalu Kekah Budi Prasetya
T-5144
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syeri Febriyanti; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Woro Riyadina, Ajeng Tias Endarti
Abstrak:
Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan dunia. Prevalensi hipertensi diprediksi akan terus meningkat hingga tahun 2025 nanti. Di Indonesia, penderita hipertensi didominasi oleh penduduk berjenis kelamin perempuan. Salah satu faktor risiko yang bisa menyebabkan kejadian hipertensi adalah penggunaan kontrasepsi hormonal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan kontrasepsi hormonal pasca salin dengan kejadian hipertensi pada wanita usia subur. Desain penelitian adalah cross sectional dilakukan pada Januari-Juni 2023 menggunakan data Riskesdas 2018. Kelompok terpajan adalah 45.178 responden yang menggunakan kontrasepsi hormonal dan kelompok tidak terpajan adalah 30.845 responden yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengguna kontrasepsi hormonal pasca salin dengan kejadian hipertensi setelah mengendalikan umur dan indeks masa tubuh dengan nilai PR=1,10 (1,06– 1,12). Pada penelitian ini juga menilai hubungan antara jenis kontrasepsi hormonal pasca salin diantaranya kontrasepsi suntikan 3 bulan dengan nilai PR=1,08 (CI 95% 1,05-1,12); kontrasepsi suntikan 1 bulan dengan nilai PR 0,99 (CI 95% 0,93-1,05); kontrasepsi implan PR 0,90 (CI 95% 0,84-0,96); dan kontrasepsi pil PR 1,30 (CI 95% 1,23-1,35). Hal ini diharapkan bisa menjadi gambaran bahwa pemilihan kontrasepsi sangatlah penting untuk mencegah hipertensi dikemudian hari.  

Hypertension is one of diseases caused world health problems. The prevalence of hypertension is predicted will be increase. Hypertension in Indonesia are dominated by the female population. One of the risk factors caused hypertension is the use of hormonal contraception. This study aims to determine the association between the last birth hormonal contraception and the prevalence of hypertension. The research design was cross-sectional from January to June 2023 used the 2018 Riskesdas data. The exposed group was 45,178 respondents who used hormonal contraception and the unexposed group was 30,845 who did not use hormonal contraception. The results showed that there was a significant association between the use of hormonal contraception and the prevalence of hypertension after controlling for age and body mass index with AdjPR 1.10 (95% CI 1.06–1.12). This study also assessed the association between types of hormonal contraception including 3-month injection contraception with AdjPR value of 1.08 (95% CI 1.05-1.12); 1-month injectable contraception with AdjPR value of 0.99 (95% CI 0.93-1.05), implant contraceptive AdjPR 0.90 (95% CI 0.84-0.96), and contraceptive pill AdjPR 1.30 (95% CI 1.23-1.35). This is expected to illustrate the importance of choosing the right contraception to prevent the hypertension

Read More
T-6601
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suci Damaratri; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Wenny Ichwaniah
Abstrak:
Hipertensi di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang perlu diperhatikan karena prevalensinya terus mengalami peningkatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui prevalensi hipertensi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada penduduk usia produktif di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta Tahun 2022. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sampel sebanyak 16.421 peserta skrining faktor risiko PTM yang berusia 15-64 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu berdasarkan data skrining faktor risiko PTM tahun 2022 adalah sebesar 14,6% serta faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya hipertensi adalah usia (PR = 3,15; 95% CI: 2,92-3,39), riwayat hipertensi keluarga (PR = 1,68; 95% CI: 1,54-1,83), dan obesitas (PR = 2,37; 95% CI: 2,19-2,56). Untuk mencegah dan mengendalikan hipertensi, dinas kesehatan dapat bekerja sama dengan berbagai pihak salah satunya melalui program deteksi dini hipertensi.

Hypertension in Indonesia is a public health problem that needs attention because its prevalence still increased. This study aims to determine the prevalence of hypertension and the factors associated with the incidence of hypertension in productive aged population in Kepulauan Seribu Regency, DKI Jakarta in 2022. This study used a cross-sectional study design with a total sample of 16,421 risk factors screening of non-communicable disease participants aged 15- 64 years. The results of this study indicate that the prevalence of hypertension in the Kepulauan Seribu Regency based on risk factors screening of non-communicable disease data in 2022 is 14.6% and factors such as age (PR = 3.15; 95% CI: 2.92-3.39), family history of hypertension (PR = 1.68; 95% CI: 1.54-1.83 ), and obesity (PR = 2.37; 95% CI: 2.19-2.56) were associated factors of causing hypertension. To prevent and control hypertension, the health agency can work along with various parties by the early detection program for hypertension.
Read More
S-11460
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sandrina Hagja Salsabila; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Trisari Anggondowati, Nining Mularsih
Abstrak:
Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan secara global. Kejadian maupun risiko komplikasi stroke dapat dicegah melalui pengendalian faktor risiko dan komorbid. Meskipun skrining penyakit tidak menular (PTM) memegang peran krusial dalam pencegahan primer maupun tersier, evaluasi program ini di Indonesia dan Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta umumnya masih terbatas pada lingkup fasilitas kesehatan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan aspek fisiologis (hipertensi dan hiperglikemia) dan stroke berdasarkan aspek epidemiologi (waktu, tempat, dan orang), serta menjelaskan korelasi antar faktor risiko dan komorbiditas pada populasi skrining PTM DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan data agregat sekunder dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2020-2024. Analisis dengan jenis kelamin serta wilayah kota administrasi meliputi analisis tren, pemetaan kota, dan uji korelasi Spearman Rank untuk data berdistribusi tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan tren pemulihan partisipasi masif pasca pandemi Covid-19 hingga mencapai lebih dari 7 juta partisipan pada tahun 2024. Terdapat kontribusi partisipasi skrining konsisten dengan dominasi perempuan (53–56%) serta konsentrasi terbesar di Jakarta Timur. Secara wilayah kota, ditemukan tren yang berbeda dengan Jakarta Selatan konsisten memiliki beban hipertensi tertinggi. Sementara itu, beban hiperglikemia menunjukkan tren kenaikan di Jakarta Selatan dan Timur, berbeda dengan penurunan di Jakarta Pusat dan Utara. Meskipun partisipasi laki-laki lebih rendah, kelompok ini menunjukkan kerentanan lebih tinggi dengan beban penyakit yang lebih besar. Hasil penelitian menemukan bahwa beban hipertensi memiliki hubungan korelasi yang kuat dengan proporsi temuan stroke pada seluruh populasi (r= 0,677; 95% CI= 0,354 – 0,845), berbeda dengan beban hiperglikemia yang tidak berkorelasi pada populasi umum maupun pada setiap jenis kelamin. Beban hipertensi konsisten pada kedua jenis kelamin dengan korelasi pada laki-laki (r= 0,718; 95% CI= 0,440 – 0,844) tercatat lebih kuat dibandingkan perempuan (r= 0,537; 95% CI= 0,182 – 0,772). Oleh karena itu, diperlukan strategi intervensi yang gender-responsive serta pendekatan berbasis wilayah untuk mengendalikan beban penyakit di wilayah dengan risiko tinggi.

Stroke is a leading cause of death and disability globally. Both the incidence and risk of stroke complications can be prevented through control of risk factors and comorbidities. Although non-communicable diseases (NCDs) screening plays a crucial role in primary and tertiary prevention, evaluation of this program in Indonesia and Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta is generally limited to healthcare facilities. Therefore, this study aims to describe the burden of risk (hypertension and hyperglycemia) and stroke based on epidemiological aspects (time, place, and person), and to demonstrate the correlation between risk factors and comorbidities in the NCDs screening population of DKI Jakarta. This study used an ecological study design with secondary aggregate data from the DKI Jakarta Provincial Health Office for 2020-2024. Analysis by gender and administrative city area included trend analysis, city mapping, and Spearman Rank correlation test for non-normally distributed data. The results showed a trend of massive participation recovery after the Covid-19 pandemic, reaching more than 7 million participants by 2024. There was a consistent contribution to screening participation, with a female predominance (53–56%) and the largest concentration in East Jakarta. By city region, the burden shows a different pattern, with South Jakarta consistently having the highest hypertension burden. Meanwhile, the burden of hyperglycemia shows an increasing trend in South and East Jakarta, in contrast to a decrease in Central and North Jakarta. Despite lower male participation, this group demonstrates higher vulnerability with a greater burden of disease findings. The study found that the burden of hypertension was strongly correlated with stroke findings proportion in the population (r= 0,677; 95% CI= 0,354 – 0,845), in contrast to the burden of hyperglycemia findings, which did not correlate in the general population or in either sex. The pattern of hypertension findings was consistent across both sexes, with a stronger correlation in men (r= 0,718; 95% CI= 0,440 – 0,844) than in women (r= 0,537; 95% CI= 0,182 – 0,772). Therefore, gender-responsive intervention strategies and area-based approaches are needed to control the disease burden in high-risk areas.
Read More
S-12211
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Naning Nugrahini; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Tri Yunis Miko, Yovsyah, Dyah Erti Mustikawati
T-3125
Depok : FKM UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maliani; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Helda, Sholah Imari
T-3387
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive