Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39975 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Indah Zuliarti; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Dadan Erwandi, Wayne Satria, Gustina
Abstrak:
Safety Climate dalam suatu organisasi merupakan gambaran/snapshot perilaku maupun persepsi pekerja di dalam organisasi. Safety Climate dipercaya sebagai predictor penting dalam menilai perilaku selamat maupun outcome keselamatan. Penelitian ini menganalisis profil Safety Climate di Area Operasi XXX di PT. XYZ pada tahun 2020 dan mengevaluasi korelasi antara Faktor Personal dan Faktor Pekerjaan terhadap Safety Climate. Survey elektronik Nordic Safety Climate Questionaire (NOSACQ-50) digunakan pada penelitian ini untuk menganalis profil 7 dimensi Safety Climate di PT XYZ. Hubungan antara Faktor Pekerjaan dan Faktor Personal terhadap Safety Climate di PT. XYZ tahun 2020 di analisis dengan menggunakan chi-square. 82 orang responden mengikuti penelitian ini. 13 informan menjadi narasumber dalam wawancara tidak terstruktur yang dilakukan untuk mengkonfirmasi hasil penelitian. Peneliti juga menambahkan data hasil observasi yang tidak terstruktur untuk memperkuat hasil penelitian yang didapatkan. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa “Keadilan Manajemen Terhadap Keselamatan Kerja” dan “Pembelajaran dan Komunikasi” menempati kategori (Cukup Buruk), sedangkan “Prioritas Keselamatan Pekerja dan Tidak Ada Toleransi Risiko Bahaya” menempati kategori (Buruk). Berdasarkan hasil uji korelasi dengan faktor Personal menunjukkan hasil: 1) “Prioritas & Komitmen Manajemen Kepada K3” memiliki hubungan signifikan dengan “Usia” dan “Pendidikan Terakhir”; 2) “Pengembangan Manajemen Keselamatan Kerja” memiliki hubungan signifikan dengan “Usia”; 3) “Keadilan Manajemen Terhadap Keselamatan Kerja” memiliki hubungan signifikan dengan “Usia”; 4) “Prioritas Keselamatan Pekerja dan Tidak Ada Toleransi Risiko Bahaya” memiliki hubungan signifikan dengan “Pendidikan Terakhir”. Sedangkan hasil uji korelasi dengan faktor Pekerjaan mendapatkan: 1) “Prioritas & Komitmen Manajemen Kepada K3” memiliki hubungan signifikan dengan “Posisi/Jabatan”; 2) “Pengembangan Manajemen Keselamatan Kerja” memiliki hubungan signifikan dengan “Shift Kerja” dan “Posisi/Jabatan”; 3) “Keadilan Manajemen Terhadap Keselamatan Kerja” memiliki hubungan signifikan dengan “Shift Kerja” dan “Posisi/Jabatan”; dan 4) “Pembelajaran dan Komunikasi” memiliki hubungan signifikan dengan “Departemen”. Rekomendasi dari penelitian ini ditekankan pada Dimensi yang dikategorikan (Cukup Buruk) dan (Buruk) untuk segera ditingkatkan oleh PT.XYZ dengan berbagai upaya seperti: 1) Pemberian Safety Reward dan Punishment yang tepat dengan pengawasan yang dilakukan dengan baik, 2) Pemilihan Safety Patrol yang berasal dari pekerja yang taat didalam Departemen yang kemudian akan menjadi pengawas dan pemberi contoh K3 di Departemennya, 3) Melakukan Safety Training yang merata kepada seluruh karyawan dan dalam waktu yang berkala. Kata kunci: Safety Climate, Oleochemicals, K3, NOSACQ-50, Multi-level, Demografik

Safety Climate is a snapshot of behavior or perception of employee in Organisational context. Safety Climate is considered as a main predictor for examining safe behavior and safety performance outcome. This reseach analyzes Safety Climate profile in Operation Area XXX of PT. XYZ in 2020 and evaluates the correlation between (Personal Attributes, Work Attributes) and Safety Climate. Online survey was conducted based on Nordic Safety Climate Questionaire (NOSACQ-50) to analyze the profile of 7 Safety Climate Dimension in PT. XYZ. The correlations between (Personal Attributes, Work Attributes) and Safety Climate were analyzed using Chi-square. 82 respondent were participating in this research. In addition to that, 13 informants became a respondent of unconstructed interview to confirm the results of this research. In addition to that, Researcher also added some unconstructed walkthrough survey results to support the results. Based on results, “Management Safety Justice” and “Safety Communication, Learning, and Trust in Co-Workers’ Safety Competence” are categorized as (Fairly Bad), “Workers’ Safety Priority and Risk Non-Acceptance” is categorized as (Bad). Based on correlation results with personal attributes, it shows that: 1) “Management Safety Priority, Commitment and Competence” has a significant correlation with “Age” and “Educational Background”; 2) “Management Safety Empowerment” has a significant correlation with “Age”; 3) “Management Safety Justice” has a significant correlation with “Age”; 4) “Workers’ Safety Priority and Risk Non-Acceptance” has a significant correlation with “Educational Background”. Based on correlation results with work attributes, it shows that: 1) “Management Safety Priority, Commitment and Competence” has a significant correlation with “Employment Position/Grade”; 2) “Management Safety Empowerment” has a significant correlation with “Shift” and “Employment Position/Grade”; 3) “Management Safety Justice” has a significant correlation with “Shift” and “Employment Position/Grade”; and 4) “Safety Communication, Learning, and Trust in Co-Workers’ Safety Competence” has a significant correlation with “Department”. Recommendations of this research is mainly focused on those Dimensions who are categorized (Fairly Bad) and (Bad) to be improved by PT.XYZ with actions such as: 1) Safety Reward and Safety Punishment with a good audit performance, 2) Conduct and perform Safety Patrol Personnel who are chosen by management to be an audit and an example of HSE in their Department, 3) Perform a fair Safety Training for every employees with the most suitable time interval. Key words: Safety Climate, Oleochemicals, OHS, NOSACQ-50, Multi-level, Demographic
Read More
T-6189
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wafi Syukri Baraja; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Dadan Erwandi, Indri Hapsari Susilowati, Broer Rizal, Muhammad Rinaldo
Abstrak:

Distres kerja pada masinis Kereta Rel Listrik (KRL) merupakan isu penting dalam sistem transportasi massal perkotaan karena berpotensi menurunkan keselamatan operasional, performa kerja, dan kesejahteraan psikologis pekerja. Peningkatan jumlah pengguna KRL Jabodetabek disertai tingginya tuntutan operasional, sistem kerja shift, tekanan ketepatan waktu, serta kompleksitas kerja berbasis teknologi diduga meningkatkan paparan bahaya psikososial pada masinis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor risiko personal dan faktor risiko pekerjaan dengan distres kerja pada masinis KRL PT Kereta Commuter Indonesia wilayah operasi Jabodetabek tahun 2026. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitik dan rancangan cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 440 masinis dengan sampel sebanyak 231 responden yang dipilih menggunakan teknik quota accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur, meliputi NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (NIOSH GJSQ), ICAWS, NASA-TLX, JCQ, Job Insecurity Questionnaire, dan IFRC. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan regresi Poisson sederhana untuk memperoleh Prevalence Ratio (PR), serta multivariat menggunakan modified Poisson regression dengan robust variance pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 47,2% masinis mengalami distres kerja. Faktor personal seperti usia, status perkawinan, tingkat pendidikan, masa kerja, dan status kesehatan tidak berhubungan signifikan dengan distres kerja, sedangkan kelelahan kerja hanya signifikan pada analisis bivariat. Pada faktor pekerjaan, perselisihan di tempat kerja, beban kerja berlebih, beban kerja rendah, kontrol terhadap pekerjaan, dan keamanan pekerjaan berhubungan signifikan secara bivariat dengan distres kerja. Namun, hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa hanya perselisihan di tempat kerja (p=0,012: Adjusted PR=0,896: 95% CI=0,822–0,976) dan keamanan pekerjaan (p<0,001: Adjusted PR=0,803: 95% CI=0,744–0,866) yang menjadi faktor dominan terhadap distres kerja pada masinis KRL Jabodetabek. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hampir separuh masinis mengalami distres kerja dan faktor pekerjaan merupakan determinan utama, sehingga diperlukan intervensi berbasis Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk mengendalikan bahaya psikososial, memperkuat keamanan pekerjaan, dan menciptakan lingkungan kerja yang suportif guna meningkatkan keselamatan operasional dan kesejahteraan psikologis masinis. Kata kunci: distres kerja, masinis KRL, bahaya psikososial


 

Work distress among Electric Rail Train (KRL) drivers is an important issue in urban mass transportation systems because it has the potential to reduce operational safety, work performance, and workers’ psychological well-being. The increasing number of KRL passengers in the Greater Jakarta area, accompanied by high operational demands, shift work systems, punctuality pressure, and technology-based work complexity, is suspected to increase psychosocial hazard exposure among train drivers. This study aimed to analyze the relationship between personal risk factors and occupational risk factors with work distress among KRL drivers of PT Kereta Commuter Indonesia in the Greater Jakarta operational area in 2026. This study employed a quantitative design with a descriptive-analytic and cross-sectional approach. The study population consisted of 440 train drivers, with a sample of 231 respondents selected using a quota accidental sampling technique. Data were collected using structured questionnaires, including the NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (NIOSH GJSQ), ICAWS, NASA-TLX, JCQ, Job Insecurity Questionnaire, and IFRC. Data analysis was conducted using univariate analysis, bivariate analysis with simple Poisson regression to obtain the Prevalence Ratio (PR), and multivariate analysis using modified Poisson regression with robust variance at a 95% confidence level. The results showed that 47.2% of train drivers experienced work distress. Personal factors such as age, marital status, educational level, years of service, and health status were not significantly associated with work distress, while work fatigue was only significant in the bivariate analysis. Occupational factors including workplace conflict, excessive workload, low workload, job control, and job security were significantly associated with work distress in the bivariate analysis. However, multivariate analysis revealed that only workplace conflict (p=0.012: Adjusted PR=0.896: 95% CI=0.822–0.976) and job security (p<0.001: Adjusted PR=0.803: 95% CI=0.744–0.866) were dominant factors associated with work distress among KRL drivers in the Greater Jakarta area. This study concludes that nearly half of KRL drivers experienced work distress and that occupational factors were the primary determinants. Therefore, Occupational Health and Safety based interventions are needed to control psychosocial hazards, strengthen job security, and create a supportive work environment in order to improve operational safety and the psychological well-being of train drivers. Keywords: work distress, KRL drivers, psychosocial hazards

 

Read More
T-7512
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nita Medy Ana; Pembimbing: Hendra; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Dede Dwicahyo Atmojo
Abstrak: Kelelahan kerja merupakan bahaya yang penting dalam berbagai sektor industri karena dampaknya yang memengaruhi kemampuan pekerja untuk dapat melakukan pekerjaannya dengan aman. Sektor manufaktur, yang umumnya menerapkan sistem produksi 24 jam memiliki risiko kelelahan pada pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kelelahan pekerja dan menganalisis faktor-faktor yang dapat memengaruhinya di sektor manufaktur. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan terikat yang diteliti. Sampel dalam penelitian ini adalah 110 orang pekerja pada bagian produksi di stamping plant milik PT. XYZ. Pengumpulan data akan dilakukan secara subjektif dengan menggunakan kuesioner. Tingkat kelelahan pekerja akan diukur menggunakan subjective self rating test dari ifrc, data kualitas dan kuantitas tidur menggunakan kuesioner pittsburgh sleep quality index, data beban kelelahan akan menggunakan kuesioner nasa-tlx, sedangkan untuk data kebisingan akan menggunakan data sekunder perusahaan. Hasil penelitian didapatkan 47,3% dari seluruh responden mengalami kelelahan terkait dengan durasi kerja, beban kerja, kualitas tidur, dan kuantitas tidur.
Kata kunci: faktor risiko; kelelahan; manufaktur
Read More
S-9802
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Oktaria Penny; Pembimbing: Hendra; Penguji: Robiana Modjo, Dadan Erwandi, Devie Fitri Octaviani, Widura Imam Mustopo
Abstrak: Tinginya angka prevalensi perilaku tidak aman berisiko menimbulkansebuah kecelakaan ataupun insiden yang pada akhirnya dapat menimbulkankerugian secara finansial bagi perusahaan. Penelitian ini bertujuan untukmempelajari faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku tidak aman padapekerja Preparation dan Assembling di PT X Tahun 2016. Faktor yang di telitimerupakan faktor personal (Pengetahuan, Masa Kerja, dan Tingkat Pendidikan)dan daktor pekerjaan (Ketersediaan Informasi K3 dan Pengawasan). Berdasarkanhasil penelitian diketahui bahwa 77,92% pekerja mempunyai perilaku tidak aman,dengan 61,7% diantaranya mempunyai risiko rendah dan 38,3% lainnya berisikotinggi. Selain itu juga terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan,tingkat penddikan, dan ketersediaan informasi terhadap perilaku tidak amanpekerja preparation dan assembling dimana tingkat pendidikan merupakan faktorpaling dominan terhadap perilaku tidak aman setelah dikontrol dengan faktorlainnya. Oleh karena itu diperlukan perbaikan terhadap perilaku pekerja.Kata Kunci : Perilaku Tidak Aman, Unsafe Act, Pabrik Sepatu, Manufaktur
The high number of unsafe act prevalence could yield incidents whichcause lose financially to company. The aim of this study is to analyse factors thatcorrelated to unsafe act of workers in preparation and assembling department.This research was conducted in PT X on April to July 2016. These factors dividedinto two categories, personal factors (knowledge, work experience, and educationlevel) and job factors (OHS Information and Supervision). The result shows that72,92% of workers have performed unsafe act in which 61,7% of it is high riskand 38,3% low risk. Moreover, there are siginificant correlations betweeneducation level, knowledge, and availibity of OHS information with unsafe actwhereas education level predominantly contributes to unsafe act after has beencontrolled with other factors. Therefore, company should commit several attemptsto reduce unsafe act on its workers.Keyword : unsafe act, shoes manufacturer, manufactur
Read More
T-4773
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pristi Dwi Puspitasari; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Abdul Kadir, Robiana Modjo, Supriadi, Benedictus Kristo Wijayanto
Abstrak:
Tunjuk sebut merupakan teknik yang mengkombinasikan fungsi mata, gerakan tangan, mulut, otak, dan telinga untuk mencegah terjadinya kesalahan pada manusia. PT XYZ menerapkan tunjuk sebut secara resmi untuk mencegah kesalahan pada masinis sejak tahun 2012. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor individu, tempat kerja, pekerjaan dan organisasi terhadap performansi penerapan tunjuk sebut. Pengumpulan data diawali dengan proses wawancara terhadap tujuh informan untuk mendalami penerapan tunjuk sebut di perusahaan, mengkonfirmasi variabel yang disusun dari telaah literatur dan mengeksplorasi kondisi faktual di perusahaan. Selanjutnya data dikumpulkan dari 414 masinis melalui pengisian kuesioner. Distribusi performansi tunjuk sebut pada masinis menunjukkan bahwa 51,9% masinis menujukkan performansi tunjuk sebut baik, sedangkan 48,1% masinis menunjukkan performansi tunjuk sebut kurang. Hasil pengujian menggunakan chi square pada Confidence Interval (CI) 95% menunjukkan bahwa faktor individu yang berhubungan dengan performansi tunjuk sebut adalah usia, jabatan, pengalaman individu, kesadaran risiko, acceptance terhadap tunjuk sebut dan kesadaran diri. Sedangkan faktor tempat kerja yang berhubungan dengan performansi tunjuk sebut adalah otomasi kabin lokomotif, peralatan monitoring lokomotif, dan lingkungan kabin lokomotif. Faktor pekerjaan yang berhubungan dengan performansi tunjuk sebut adalah jenis kereta api yang sering didinasi oleh masinis, tingkat monoton dan kejelasan instruksi kerja. Faktor organisasi juga berhubungan dengan performansi tunjuk sebut diantaranya organizational leadership and commitment, prosedur tunjuk sebut, insentif keselamatan, masukan keselamatan, informasi keselamatan dan budaya keselamatan. Temuan ini mengindikasikan bahwa faktor individu, tempat kerja, pekerjaan dan organisasi berkaitan dengan kepatuhan dan konsistensi pelaksanaan tunjuk sebut di PT XYZ.

Pointing-and-calling is a technique that combines the functions of the eyes, hand movements, mouth, brain, and ears to prevent human error. PT XYZ has been officially implementing the pointing-and-calling to prevent train driver errors since 2012. This study aims to analyze the association of individual, workplace, job, and organizational factors with the performance of the pointing-and-calling implementation. Data collection began with an interview process with seven informants to explore the implementation of pointing-and-calling, confirm the variables compiled from the literature review, and explore the factual conditions in the company. Furthermore, data were collected from 414 train drivers through questionnaires. The distribution of pointing-and-calling performance among train drivers shows that 51,9% demonstrated good indicator performance, while 48,1% demonstrated poor indicator performance. The results of testing using chi-square at 95% Confidence Interval (CI) showed that individual factors associated with the performance of the pointing-and-calling implementation are age, position, individual experience, risk awareness, acceptance of designation, and self-awareness. While workplace factors associated with the performance of the pointing-and-calling implementation are locomotive cabin automation, locomotive monitoring equipment, and locomotive cabin environment. Job factors that are related to the performance of the pointing-and-calling implementation are the type of train that is often nominated by the train driver, the level of monotony, and the clarity of work instructions. Organizational factors also associated with the performance of the pointing-and-calling implementation include organizational leadership and commitment, pointing-and-calling procedures, safety incentives, safety feedback, safety information, and safety culture. The findings indicate that individual, workplace, job, and organizational factors are associated with the compliance and consistency of pointing-and-calling implementation.

Read More
T-7346
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Naura Khashia Cyrilla; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Akbar Satria Bakti
Abstrak:
Sektor konstruksi merupakan salah satu sektor dengan tingkat risiko kecelakaan kerja yang tinggi, di mana iklim keselamatan organisasi diyakini berperan penting dalam membentuk perilaku keselamatan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan melalui pengetahuan keselamatan dan motivasi keselamatan pada pekerja Proyek Y PT X tahun 2026, menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari Griffin dan Neal (2000, 2006) sebagai data utama. Penelitian dilakukan pada 218 responden dengan desain cross sectional, dan data dianalisis menggunakan path analysis serta uji Sobel untuk menguji peran mediasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklim keselamatan berada pada kategori tinggi (mean = 3,45), dengan dimensi management values sebagai kontributor tertinggi (3,52) dan safety training sebagai yang terendah (3,39). Pengetahuan keselamatan (3,43) dan motivasi keselamatan (3,46) juga berada pada kategori tinggi, dengan motivasi keselamatan menjadi nilai rata-rata tertinggi dan pengetahuan keselamatan menjadi nilai rata-rata terendah di antara seluruh variabel. Perilaku keselamatan berada pada kategori tinggi (3,44) dengan dimensi safety compliance (3,48) lebih tinggi dibandingkan safety participation (3,38). Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa baik pengetahuan keselamatan (z = 9,134; p < 0,001) maupun motivasi keselamatan (z = 11,276; p < 0,001) sama-sama terbukti memediasi secara signifikan hubungan antara iklim keselamatan dan perilaku keselamatan. Berdasarkan demografi, terdapat variasi yang menarik: responden perempuan menilai keempat variabel keselamatan lebih positif dibandingkan laki-laki, kelompok usia 17–25 tahun menunjukkan iklim dan perilaku keselamatan tertinggi sementara kelompok usia 46–55 tahun memperoleh pengetahuan keselamatan terendah dan masuk kategori cukup baik, kelompok manajemen menilai seluruh variabel paling positif, dan kelompok berpendidikan SD/Sederajat berada pada kategori cukup baik untuk seluruh variabel. Temuan kunci penelitian ini menunjukkan bahwa baik pengetahuan keselamatan maupun motivasi keselamatan sama-sama berperan sebagai jalur mediasi yang signifikan dalam membentuk perilaku keselamatan pekerja. Temuan ini menyarankan agar PT X terus memperkuat program-program yang membangun pengetahuan keselamatan maupun motivasi keselamatan pekerja secara seimbang, sebagai bagian integral dari strategi peningkatan perilaku keselamatan di proyek konstruksi.

Construction is one of the sectors with a high risk of work-related accidents, in which organizational safety climate is believed to play an important role in shaping workers' safety behavior. This study aims to analyze the relationship between safety climate and safety behavior through safety knowledge and safety motivation among workers at Project Y of PT X in 2026, using a questionnaire adapted from Griffin and Neal (2000, 2006) as the primary data source. The study was conducted on 218 respondents using a cross-sectional design, with data analyzed using path analysis and the Sobel test to examine the mediating role of the variables. The results show that safety climate falls into the high category (mean = 3.45), with the management values dimension as the highest contributor (3.52) and safety training as the lowest (3.39). Safety knowledge (3.43) and safety motivation (3.46) also fall into the high category, with safety motivation recording the highest mean score and safety knowledge the lowest mean score among all variables. Safety behavior falls into the high category (3.44), with safety compliance (3.48) higher than safety participation (3.38). Hypothesis testing results indicate that both safety knowledge (z = 9.134; p < 0.001) and safety motivation (z = 11.276; p < 0.001) significantly mediate the relationship between safety climate and safety behavior. Based on demographics, interesting variations were found: female respondents rated all four safety variables more positively than males; the 17–25 age group showed the highest safety climate and safety behavior scores while the 46–55 age group recorded the lowest safety knowledge score (falling into the moderately good category); the management group rated all variables most positively; and the SD/equivalent education group fell into the moderately good category across all variables. The key findings of this study indicate that both safety knowledge and safety motivation serve as significant mediating pathways in shaping workers' safety behavior. These findings suggest that PT X should continue to strengthen programs that build both safety knowledge and safety motivation in a balanced manner, as integral components of the strategy to enhance safety behavior in construction projects.
Read More
S-12453
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salwa Irzi Alifya; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Mufti Wirawan, Musonip
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil safety climate dan mengetahui hubungan antara karakteristik personal dengan safety climate pada petugas di Sektor IX Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Kecamatan Jagakarsa. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif cross-sectional, data primer dikumpulkan melalui kuesioner Fire Service Safety climate Scale dari 72 petugas menggunakan teknik total sampling. Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan profil safety climate, sedangkan analisis bivariat menggunakan uji korelasi Spearman untuk karakteristik personal berskala ordinal (kelompok usia, tingkat pendidikan, masa kerja, status kepegawaian, jabatan) dan uji Chi-Square serta Odds Ratio untuk karakteristik personal berskala nominal (pengalaman cedera). Hasil penelitian menunjukkan bahwa safety climate secara umum di Sektor IX Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Kecamatan Jagakarsa tergolong tinggi (skor rata-rata 3,88). Dimensi Dukungan Supervisor (skor rata-rata 4,02) lebih tinggi daripada Komitmen Manajemen (skor rata-rata 3,73), mengindikasikan adanya kesenjangan persepsi. Ditemukan hubungan positif signifikan antara safety climate dengan kelompok usia (ρ=0,274, p=0,020), tingkat pendidikan (ρ=0,325, p=0,005), dan masa kerja (ρ=0,327, p=0,005). Sebaliknya, terdapat hubungan negatif signifikan dengan status kepegawaian (ρ=−0,304, p=0,010), di mana PNS cenderung memiliki persepsi safety climate lebih rendah. Jabatan (ρ=−0,212, p=0,074) tidak menunjukkan hubungan signifikan. Selain itu, terdapat hubungan signifikan antara pengalaman cedera dan safety climate (χ2=14,015, p=0,001), di mana petugas yang pernah cedera 20,5 kali lebih mungkin menilai safety climate dalam kategori 'Cukup'. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif safety climate dan hubungannya dengan karakteristik personal, serta berkontribusi pada peningkatan keselamatan kerja di Sektor IX Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Kecamatan Jagakarsa.


This study aims to analyze the safety climate profile and determine the relationship between personal characteristics and safety climate among personnel at Sector IX of the Fire and Rescue Department, Jagakarsa District. Employing a quantitative approach with a descriptive cross-sectional design, primary data was collected through the Fire Service Safety climate Scale questionnaire from 72 officers using a total sampling technique. Univariate analysis was used to describe the safety climate profile, while bivariate analysis utilized the Spearman correlation test for ordinal-scaled personal characteristics (age group, education level, years of service, employment status, position) and the Chi-Square test and Odds Ratio for nominal-scaled personal characteristics (injury experience). The results indicate that the overall safety climate at Sector IX of the Fire and Rescue Department, Jagakarsa District, is categorized as high (average score 3.88). The Supervisor Support dimension (average score 4.02) is higher than Management Commitment (average score 3.73), indicating a perception gap. A significant positive relationship was found between safety climate and age group (ρ=0.274, p=0.020), education level (ρ=0.325, p=0.005), and years of service (ρ=0.327, p=0.005). Conversely, there was a significant negative relationship with employment status (ρ=−0.304, p=0.010), where civil servants tended to have a lower perception of safety climate. Position (ρ=−0.212, p=0.074) showed no significant relationship. Furthermore, there was a significant relationship between injury experience and safety climate (χ2=14.015, p=0.001), where officers with a history of injury were 20.5 times more likely to rate the safety climate as 'Sufficient'. This study is expected to provide a comprehensive overview of the safety climate and its relationship with personal characteristics, as well as contribute to the improvement of occupational safety at Sector IX of the Fire and Rescue Department, Jagakarsa District.
Read More
S-12130
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aliva Andjani; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Moh. Miftah Farid
S-10455
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dimas Kusuma Wardhana; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Dadan Erwandi, Indri Hapsari Susilowati, Gatot Kusbinuko, Michael Bindu Hutahaean
Abstrak:
Pertambangan sangat rentan terhadap peningkatan prevalensi kelelahan dibanding pekerjaan pada industri lain, disebabkan banyaknya faktor di lingkungan pertambangan yang dapat mempengaruhi kelelahan. Penelitian ini mengkaji kelelahan pekerja tambang bawah tanah di PT XYZ, Indonesia, menggunakan pendekatan kuantitatif cross-sectional. Tujuannya adalah mendapatkan gambaran kelelahan dan hubungan antara kelelahan (variabel dependen) dengan faktor individu, pekerjaan, dan lingkungan fisik (variabel independen). Sampel terdiri dari 119 responden dari total 300 pekerja bagian development, dengan data primer diperoleh melalui kuesioner IFRC dan data sekunder dari literatur serta data pendukung perusahaan. Hasil menunjukkan kelelahan berhubungan signifikan dengan waktu perjalanan (p value=0.042 (pelemahan aktivitas)); (p value=0.043 (pelemahan motivasi)); (p value=0.012 (pelemahan fisik)), kuantitas tidur (p value=0.000 (kelelahan umum)); (p value=0.001 (pelemahan aktivitas)); (p value=0.000 (pelemahan motivasi)); (p value=0.016 (pelemahan fisik)), shift kerja (p value=0.033 (kelelahan umum)), lama jam kerja (p value=0.023 (pelemahan aktivitas)); (p value=0.049 (pelemahan motivasi)), dan suhu (p value=0.016 (pelemahan fisik)), namun tidak berhubungan dengan usia, IMT, status perkawinan, masa kerja, kebisingan, pencahayaan, dan kelembaban. Peneliti merekomendasikan peninjauan terhadap kebijakan perusahaan dalam mengelola faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan untuk meminimalkan risiko kelelahan kerja.

Mining is highly susceptible to increased prevalence of fatigue compared to other industries due to numerous factors in the mining environment that can affect fatigue. This study examines the fatigue of underground mine workers at PT XYZ, Indonesia, using a quantitative cross-sectional approach. The objective is to obtain an overview of fatigue and analyze the relationship between fatigue (dependent variable) and individual factors, job-related factors, and physical environmental factors (independent variables). The sample consists of 119 respondents out of a total of 300 development workers, with primary data obtained through IFRC subjective questionnaires and secondary data from literature and company supporting data. The results show that fatigue significantly correlates with travel time (p value=0.042 (reduce activity)); (p value=0.043 (reduce motivation)); (p value=0.012 (physical fatigue)), sleep quantity (p value=0.000 (general fatigue)); (p value=0.001 (reduce activity)); (p value=0.000 (reduce motivation)); (p value=0.016 (physical fatigue)), shift work (p value=0.033 (general fatigue)), long working hours (p value=0.023 (reduce activity)); (p value=0.049 (reduce motivation)), and temperature (p value=0.016 (physical fatigue)), but not with age, BMI, marital status, length of service, noise, lighting, and humidity. The researchers recommend reviewing company policies to manage fatigue-related factors to minimize the risk of work fatigue.
Read More
T-7034
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Josefhine Debora Putri; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Hendra, Mufti Wirawan, Heny D. Maya, Hendry Sampurna
Abstrak:
Pengemudi merupakan ujung tombak pelayanan transportasi publik yang memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan aspek keselamatan dan kenyamanan. Kinerja pengemudi di lapangan sangat dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor internal maupun eksternal, yang jika tidak dikelola dengan baik berpotensi memicu kelelahan, penurunan performa keselamatan, hingga kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik individu, faktor pekerjaan, dan faktor organisasi terhadap kinerja pengemudi di PT. XYZ (Segmen SBU Transbusway). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi potong lintang (cross-sectional). Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan kuesioner wawancara terhadap 290 pengemudi bus pria yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Analisis data menggunakan regresi logistik biner untuk menguji hubungan simultan dan parsial antar variabel. Hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa secara simultan, faktor karakteristik individu (R 2 = 32,3%), faktor pekerjaan (R 2 = 41,0%), dan faktor organisasi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja pengemudi. Secara parsial, pada kelompok karakteristik individu, hanya coping ability yang memiliki hubungan signifikan secara statistik (p = 0,000; OR = 1,192). Pada faktor pekerjaan, beban kerja yang dikelola dengan baik terbukti berhubungan positif dengan capaian kinerja (p = 0,000; OR = 1,509), sedangkan durasi kerja harian yang berlebihan (>8 jam) menjadi prediktor utama penurunan kinerja. Secara umum, faktor pekerjaan dan organisasi memiliki pengaruh yang lebih dominan dalam menentukan kualitas kinerja dibandingkan karakteristik demografis dasar seperti usia dan masa kerja. Kinerja pengemudi di PT. XYZ ditentukan oleh kombinasi faktor psikologis individu (coping ability), regulasi waktu kerja, serta efektivitas dukungan organisasi. Manajemen disarankan untuk melakukan pembatasan ketat durasi kerja harian maksimal 8 jam, mengoptimalkan pengawasan Speed Management berbasis teknologi, serta mengintegrasikan pelatihan manajemen stres (resilience training) dalam program peningkatan kapasitas pengemudi. Kata Kunci: Beban Kerja, Coping Ability, Durasi Kerja, Keselamatan Transportasi Publik, Kinerja Pengemudi.

Drivers are the spearhead of public transportation services, carrying a significant responsibility to ensure safety and comfort aspects. Driver performance in the field is highly dynamic and influenced by various internal and external factors, which, if poorly managed, can trigger fatigue, a decline in safety performance, and occupational accidents. This study aims to analyze the relationship between individual characteristics, job factors, and organizational factors on driver performance at PT. XYZ (SBU Transbusway Segment). This study used a quantitative method with a cross-sectional study design. Data were collected through direct observation and interview questionnaires from 290 male bus drivers selected using a proportionate stratified random sampling technique. Data analysis was performed using binary logistic regression to examine both simultaneous and partial relationships among variables. The logistic regression analysis revealed that simultaneously, individual characteristics (R 2 = 32.3%), job factors (R 2 = 41.%), and organizational factors had a significant effect on driver performance. Partially, within the individual characteristics group, only coping ability showed a statistically significant relationship (p = 0.000;OR = 1.192). Regarding job factors, a well-managed workload was positively associated with higher performance achievement (p = 0.000; OR = 1.509), while excessive daily working duration (>8 hours) served as the primary predictor of performance decline. Generally, job and organizational factors exerted a more dominant influence on performance quality compared to baseline demographic characteristics such as age and tenure. Driver performance at PT. XYZ is determined by a combination of individual psychological factors (coping ability), working time regulations, and the effectiveness of organizational support. Management is highly recommended to enforce a strict limit on daily driving duration to a maximum of 8 hours, optimize technology-based Speed Management monitoring, and integrate stress management or resilience training into driver capacity-building programs. ix Universitas Indonesia Keywords: Coping Ability, Driver Performance, Public Transportation Safety, Working Duration, Workload.
Read More
T-7614
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive