Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34747 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Charisha Mahda Kumala; Pembimbing: Sjahrul M. Nasri; Penguji: Mila Tejamaya, Hendra, Waluyo, Seviana Rinawati
Abstrak: Latar Belakang: Faktor kunci yang dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan dan pencegahaan kecelakaan adalah iklim keselamatan. Berdasarkan dari data PLN mayoritas pelaporan INSPEKTA adalah perilaku tidak aman. Iklim keselamatan dapat diukur dengan beberapa dimensi dan beberapa penelitian menilai dimensi-dimensi pada iklim keselamatan yang memiliki hubungan dengan perilaku untuk mengurangi terjadinya kecelakaan. Tujuan : Menganalisis hubungan dimensi pada iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan pada pekerja di PLN PUSMANPRO di project pembangunan kelistrikan PST JATENG I. Metode: Penelitian cross sectional ini melibatkan 120 orang pekerja pada Project PLN PUSMANPRO PST JATENG I. Data primer diperoleh menggunakan kuesioner skala likert yang mengacu pada kuesioner dari beberapa penelitian sebelumnya. Hasil: Pada dimensi iklim keselamatan hasil analisis univariat semua dimensi lebih banyak berkategori rendah dan analisis bivariat menghasilkan pada dimensi komitmen dan nilai-nilai dengan P value = 0,000 dan nilai korelasi 0,268, dimensi pelatihan dengan P value = 0,000 dan nilai korelasi 0,318, dimensi komunikasi P value = 0,002 dan nilai korelasi 0,274, persiapan kondisi darurat P value = 0,000 dan nilai korelasi 0,362, dimensi prioritas keselamatan P value = 0,001 dan nilai korelasi 0,318, dimensi justifikasi risiko P value = 0,000 dan nilai correlation 0,503, dimensi keterlibatan subkontraktor P value = 0,000 dan nilai korelasi 0,390, dimensi insentif keselamatan P value = 0,001 dan nilai korelasi 0,309, dimensi manajemen program keselamatan P value = 0,000 dan nilai korelasi 0,435, dimensi pengetahuan keselamatan P value = 0,000 dan nilai korelasi 0,372, dimensi motivasi keselamatan P value = 0,000 dan nilai korelasi 0,416 dapat diketahui pada nilai tersebut memiliki hubungan positif dengan perilaku keselamatan kecuali dimensi lingkungan kerja dengan P value = 0,904 dan nilai correlation 0,011. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang positif antara dimensi iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan sehingga penerapan keselamatan kerja pada PLN PUSMANPRO PST JATENG I untuk membentuk perilaku keselamatan pada pekerja dapat melalui peningkatan iklim keselamatan serta fasilitas yang mendukung program keselamatan yang dapat mengurangi terjadinya kecelakaan pada proyek
Background: The key factor needed to achieve success and prevent accidents is the safety climate. Based on PLN data, the majority of INSPEKTA reports are unsafe behavior. Safety climate can be measured by several dimensions and several studies assess the dimensions of safety climate that have a relationship with behavior to reduce the occurrence of accidents. Objective: To analyze the relationship between dimensions of safety climate and safety behavior of workers at PLN PUSMANPRO in the PST JATENG I electricity development project. Methods: This cross sectional study involved 120 workers at the PLN PUSMANPRO PST JATENG I Project. Primary data were obtained using a Likert scale questionnaire that referring to the questionnaires from several previous studies. Results: In the dimension of safety climate, the results of the univariate analysis of all dimensions are more in the low category and bivariate analysis results in the dimensions of commitment and values with P value = 0.000 and correlation value 0.268, training dimension with P value = 0.000 and correlation value 0.318, communication dimension P value = 0.002 and correlation value 0.274, emergency preparation P value = 0.000 and correlation value 0.362, safety priority dimension P value = 0.001 and correlation value 0.318, risk justification dimension P value = 0.000 and correlation value 0.503, subcontractor involvement dimension P value = 0.000 and the correlation value is 0.390, safety incentive dimension P value = 0.001 and the correlation value is 0.309, the safety program management dimension P value = 0.000 and the correlation value is 0.435, safety knowledge dimension P value = 0.000 and the correlation value is 0.372, safety motivation dimension P value = 0.000 and a correlation value of 0.416 can be seen at the value of it has a positive relationship with safety behavior except for the work environment dimension with P value = 0.904 and a correlation value of 0.011. Conclusion: There is a positive relationship between the dimensions of safety climate and safety behavior so that the application of work safety at PLN PUSMANPRO PST JATENG I to shape safety behavior in workers can be through improving the safety climate and facilities that support safety programs that can reduce accidents on the project
Read More
T-6211
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Refiani Fitri Ardiyanti; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Afid Yusthi Ghozali
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan pada pekerja di PT X. Iklim keselamatan mencerminkan persepsi pekerja terhadap komitmen dan praktik keselamatan di lingkungan kerja, sementara perilaku keselamatan mencerminkan tindakan nyata pekerja dalam mendukung keselamatan kerja. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disusun berdasarkan indikator iklim keselamatan dan perilaku keselamatan, yang masing-masing diukur menggunakan skala ordinal. Responden penelitian ini adalah seluruh pekerja bagian produksi di PT X. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif yang kuat antara iklim keselamatan dan perilaku keselamatan (ρ = 0,551). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi persepsi pekerja terhadap iklim keselamatan, maka semakin baik pula perilaku keselamatan yang ditunjukkan. Temuan ini menegaskan pentingnya membangun iklim keselamatan yang positif sebagai strategi untuk meningkatkan perilaku keselamatan di tempat kerja.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan pada pekerja di PT X. Iklim keselamatan mencerminkan persepsi pekerja terhadap komitmen dan praktik keselamatan di lingkungan kerja, sementara perilaku keselamatan mencerminkan tindakan nyata pekerja dalam mendukung keselamatan kerja. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disusun berdasarkan indikator iklim keselamatan dan perilaku keselamatan, yang masing-masing diukur menggunakan skala ordinal. Responden penelitian ini adalah seluruh pekerja bagian produksi di PT X. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif yang kuat antara iklim keselamatan dan perilaku keselamatan (ρ = 0,551). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi persepsi pekerja terhadap iklim keselamatan, maka semakin baik pula perilaku keselamatan yang ditunjukkan. Temuan ini menegaskan pentingnya membangun iklim keselamatan yang positif sebagai strategi untuk meningkatkan perilaku keselamatan di tempat kerja.
Read More
S-11992
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arief Hertanto; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Fatma Lestari, Laksita Ri Hastiti, Ispranto K. Adhy, Errik Yusnadi Saleh
Abstrak: Iklim keselamatan adalah persepsi bersama karyawan tentang kebijakan, prosedur, dan praktik yang berkaitan dengan keselamatan di lingkungan kerja mereka. Iklim keselamatan berhubungan dengan perilaku selamat dan kecelakaan kerja yang tidak disengaja di tempat kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat kematangan iklim keselamatan di PT X serta menganalisis hubungannya dengan perilaku selamat. Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif menggunakan metode kuesioner dengan total 200 responden. Kuesioner terstruktur digunakan untuk menangkap karakteristik sosio-demografis responden, iklim keselamatan kerja, dan perilaku keselamatan kerja. Responden berpartisipasi dalam penelitian ini dengan menjawab kuesioner yang dibagikan secara online dan offline. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kematangan iklim keselamatan di PT X berada di level Cukup, terdapat hubungan yang sangat kuat antara Variabel sub dimensi dengan iklim keselamatan, serta hubungan yang cukup kuat antara iklim keselamatan dengan perilaku selamat. Studi menekankan bahwa peningkatan tingkat iklim keselamatan dapat meningkatkan perilaku selamat sehingga efektif dalam mengurangi insiden kecelakaan kerja.
Safety climate is the shared perception of employees about policies, procedures and practices related to safety in their work environment. Safety climate is related to safe behavior and occupational accidents in the workplace. The purpose of this study was to measure the maturity level of the safety climate at PT X and to analyze its relationship with safety behavior. This research is descriptive quantitative using a questionnaire method with a total of 200 respondents. A structured questionnaire was used to capture the socio-demographic characteristics of the respondents, safety climate, and safety behavior. Respondents participated in this study by answering questionnaires distributed online and offline. The findings of this study indicate that the maturity level of the safety climate at PT X is at the fair level, there is a very strong relationship between the subdimensional variables and the safety climate, and a fairly strong relationship between the safety climate and safety behavior. The study emphasizes that an increase in the level of safety climate can increase safe behavior therefore it is effective in reducing the incidence of work accidents.
Read More
T-6174
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmat Satria Dewangga; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Abdul Kadir, Dadan Erwandi
Abstrak:
Keselamatan dan kesehatan kerja memiliki peran integral dalam memastikan kesejahteraan dan produktivitas pekerja di lingkungan industri modern. Dalam konteks ini, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh gaya kepemimpinan supervisor terhadap dimensi iklim keselamatan, yang meliputi komunikasi keselamatan, pembelajaran, kepercayaan pada kompetensi rekan kerja, dan kepercayaan terhadap efikasi sistem keselamatan di perusahaan manufaktur keramik. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan data. Responden adalah para supervisor di beberapa perusahaan manufaktur keramik. Data dianalisis menggunakan teknik statistik deskriptif dan analisis regresi untuk mengidentifikasi hubungan antara gaya kepemimpinan dan dimensi iklim keselamatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap komunikasi keselamatan, pembelajaran, dan kepercayaan pada kompetensi rekan kerja. Namun, pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kepercayaan terhadap efikasi sistem keselamatan tidak terbukti signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa gaya kepemimpinan supervisor dapat memainkan peran penting dalam membentuk beberapa aspek iklim keselamatan di lingkungan kerja. Temuan penelitian ini menggarisbawahi pentingnya peran gaya kepemimpinan dalam membentuk iklim keselamatan di lingkungan kerja. Dengan memperkuat komunikasi keselamatan dan memfasilitasi pembelajaran yang berfokus pada keselamatan, supervisor dapat meningkatkan kepercayaan rekan kerja terhadap kompetensi keselamatan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesadaran kolektif akan pentingnya praktik keselamatan. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi bagi pemahaman tentang bagaimana gaya kepemimpinan supervisor dapat membentuk iklim keselamatan di lingkungan kerja. Implikasi praktis dari penelitian ini menekankan perlunya pengembangan kompetensi kepemimpinan yang mengedepankan komunikasi dan pembelajaran terkait keselamatan, sehingga dapat meningkatkan efektivitas program keselamatan di berbagai sektor industri.

Workplace safety and health play an integral role in ensuring the well-being and productivity of employees in the modern industrial environment. In this context, the present study aims to analyze the influence of supervisor leadership styles on safety climate dimensions, encompassing safety communication, learning, trust in coworker competence, and confidence in the efficacy of safety systems within ceramic manufacturing companies. Employing a quantitative approach, this study employed questionnaires as data collection instruments. The respondents consisted of supervisors from various ceramic manufacturing companies. Data were subjected to descriptive statistical techniques and regression analysis to identify the relationship between leadership styles and safety climate dimensions. The analysis results indicate that leadership styles significantly impact safety communication, learning, and trust in coworker competence. However, the influence of leadership styles on confidence in the efficacy of safety systems did not demonstrate statistical significance. This suggests that supervisor leadership styles play a pivotal role in shaping several aspects of the safety climate in the workplace. These findings underscore the importance of leadership styles in shaping the safety climate within the work environment. By enhancing safety communication and facilitating safety-focused learning, supervisors can enhance coworkers' trust in safety competence, thereby fostering collective awareness of the importance of safety practices. The outcomes of this research contribute to understanding how supervisor leadership styles can shape the safety climate in the workplace. The practical implications of this study emphasize the need for leadership competency development that prioritizes safety-related communication and learning, ultimately enhancing the effectiveness of safety programs across diverse industrial sectors.
Read More
T-6805
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Romason; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Robiana Modjo, Errik Yusnadi Saleh, Wayne Satria
Abstrak: PT. ABC adalah operator yang dipercaya untuk mengelola salah satu blok migas di daerah Riau. Salah satu divisi dari PT. ABC bertanggung jawab untuk pekerjaan konstruksi yang mendukung pekerjaan migas PT. ABC. Tesis ini fokus kepada iklim keselamatan pada pekerja migas di area operasi XXX divisi Facility Engineering PT. ABC, data iklim keselamatan pekerja diperoleh dengan cara melakukan survei. Metode survei bersumber dari survei yang digunakan pada jurnal (Sunindijo et al. 2019) dan (Loosemore et al. 2019) yang sudah digunakan pada industri konstruksi bangunan, infrastruktur, konstruksi di Indonesia dan dan konstruksi Australia. Responden adalah karyawan dan mitra kerja PT. ABC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata nilai survei iklim keselamatan karyawan dan mitra kerja PT. ABC adalah baik, berada di angka 4,92 dari 6 skala likert, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara iklim keselamatan karyawan dan mitra kerja PT. ABC. Pengujian t-test menunjukkan tidak ada nilai p < 0.05, dan rerata nilai survei iklim keselamatan karyawan dan mitra kerja PT. ABC lebih baik, berada diatas rerata nilai survei iklim keselamatan industri infrastruktur, bangunan, konstruksi di Indonesia dan konstruksi di Australia.
PT. ABC is an oil and gas company which manage one of the oil and gas block in the Riau region. One of the divisions of PT. ABC is accountable for construction work that supports the oil and gas of PT. ABC. Thesis emphases on the safety climate for oil and gas workers in the operation area of the Facility Engineering division of PT. ABC.Safety climate data of workers gained by conducting an online survey. The survey method is obtained from surveys applied in journals (Sunindijo et al. 2019) and (Loosemore et al. 2019) which have been used in the building construction industry, infrastructure, construction in Indonesia and Australian construction. Respondents are employees and partners of PT. ABC. The results exposed that the average value of the safety climate survey for employees and partners of PT. ABC is worthy, at 4.92 out of 6 Likert scale, no significant difference was found between the safety climate of employees and partners of PT. ABC. The t-test test showed that there was no p value < 0.05, and the average value of the safety climate survey for employees and partners of PT. ABC is better, being above the average value of the safety climate survey for the infrastructure, building, construction industry in Indonesia and Australia
Read More
T-6302
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irna Anggun Fatiqa; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Hendra, Bimo Prasetyo; Aryo Wibowo
Abstrak:
Industri konstruksi di Indonesia menyerap tenaga kerja sebanyak 8,7 juta orang pada tahun 2023, dimana konstruksi dikenal sebagai pekerjaan berisiko tinggi dan merupakan penyumbang kecelakaan terbesar kedua di Asia. Iklim keselamatan merupakan salah satu faktor kunci dalam mencegah kecelakaan kerja. Penelitian ini fokus menganalisis iklim keselamatan manajemen dan iklim keselamatan pekerja di sebuah proyek konstruksi. Desain penelitian yang digunakan adalah mixed methode dimana total partisipan berjumlah 235 responden dan 26 informan kunci. Data dikumpulkan dengan menggunakan Nordic Occupational Safety Climate Questionnaire (NOSACQ-50) dan wawancara mendalam. Analisa intersection antara data kuantitatif dan kualitatif menunjukkan bahwa terdapat ketidakkonsistenan pada tiap kategori iklim keselamatan. Pada iklim keselamatan manajemen, meskipun skor tertinggi diperoleh dimensi pemberdayaan keselamatan manajemen, namun dari hasil kualitatif diperoleh bahwa dimensi ini memiliki persepsi kurang paling tinggi. Pada iklim keselamatan pekerja, analisa intersection menunjukkan bahwa dimensi prioritas keselamatan pekerja dan dimensi kepercayaan terhadap keefektifan sistem keselamatan kerja memiliki persepsi kurang paling rendah. Perlu dilakukannya strategi peningkatan melalui evaluasi dan pengembangan sistem manajemen serta komunikasi keselamatan.

The construction industry in Indonesia absorbs a workforce of 8.7 million people in 2023, where construction is known as a high-risk job and is the second largest contributor to accidents in Asia. Safety climate is one of the key factors in preventing work accidents. This research focuses on analyzing the management safety climate and worker safety climate in a construction project. The research design used was a mixed method where the total participants were 235 respondents and 26 key informants. Data was collected using the Nordic Occupational Safety Climate Questionnaire (NOSACQ-50) and in-depth interviews. Intersection analysis between quantitative and qualitative data shows that there are inconsistencies in each safety climate category. In the management safety climate, although the highest score was obtained for the management safety empowerment dimension, from the qualitative results it was found that this dimension had the highest lack of perception. In the worker safety climate, the intersection analysis shows that the worker safety priority dimension and the dimension of trust in the effectiveness of the work safety system have the lowest perception. It is necessary to carry out improvement strategies through evaluation and development of safety management and communication systems.
Read More
T-7059
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Galih Kurniawan; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Fatma Lestari, Dadan Erwandi, Widura Imam Mustopo
Abstrak:
Budaya keselamatan didefinisikan oleh Komite Penasehat untuk Keselamatan Instalasi Nuklir Inggris (ACSNI,1993) sebagai produk dari individu dan organisasi berupa nilai, sikap, persepsi, kompetensi, dan pola tingkah laku yang menentukan komitmen, gaya, dan kemampuan organisasi dalam manajemen kesehatan dan keselamatan (HSE, 2005). Sedangkan iklim keselamatan kerja adalah persepsi dan cara pandang pekerja atas kebijakan, prosedur, dan praktek kerja berkaitan dengan keselamatan yang dilakukan oleh manajemen (Ismail, 2015).Iklim keselamatan, sering digunakan untuk menggambarkan output budaya keselamatan organisasi yang lebih 'nyata', dan dengan demikian memberikan fokus nyata untuk penilaian beberapa aspek budaya keselamatan (Health and Safety Executive (HSE), Offshore Safety Division of the HSE, 2010). Analisis iklim keselamatan melalui survei dapat digunakan untuk mengidentifikasi hubungan antara dimensi penting keselamatan dalam suatu organisasi dan bagaimana hal itu dapat berkontribusi pada hasil keseluruhan budaya keselamatan (M.D. Cooper, 2000). Penelitian ini dilakukan di perusahaan minyak bernama PT. ABC. Data kecelakaan kerja PT. ABC disemua area produksinya (tahun 2014-2019) menyimpulkan bahwa 71% kecelakaan terjadi karena Unsafe act (immediate cause), dan 49% karena Human Factor (root cause). Didalam penelitian ini, penulis akan menganalisis penerapan iklim keselamatan kerja area produksi offshore. Hasil observasi lapangan terlihat adanya perbedaan penerapan aspek iklim keselamatan diantara pekerja berdasarkan jadwal shift, posisi / jabatan, status pekerja, durasi bekerja di Offshore, dan pengalaman kerja. Data- data inilah yang menjadi fokus penulis untuk dijadikan bahan penelitian dalam menganalisis iklim keselamatan kerja pada kategori-kategori tersebut. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian mixed methods yaitu sebagian data akan dinilai secara kuantitatif dan sebagian lagi akan dinilai secara kualitatif. Hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dengan in depth analysis (kajian yang mendalam). Alat yang digunakan untuk menganalisis aspek iklim keselamatan ini yaitu Offshore Safety Climate Assessment Toolkit yang dikembangkan oleh Loughborough University yang membagi persepsi pekerja menjadi tiga, yaitu persepsi sebagai individu, persepsi sebagai unit kerja, dan persepsi sebagai anggota perusahaan. Metode ini menggunakan media kuesioner yang melibatkan 95 responden (seluruh populasi) dan interview terhadap beberapa orang pemangku tanggung jawab keselamatan perusahaan sebagai targetnya

Safety culture has been defined by the Advisory Committee on Safety in Nuclear Installations (ACSNI,1993) as the product of individual and group values, attitudes and beliefs, competencies and patterns of behaviour that determine the commitment to, and the style and proficiency of, an organisation’s health and safety management (HSE, 2005) . While, safety climate is workers&#39; perceptions and perspectives on policies, procedures, and work practices related to safety carried out by management (Ismail, 2015) . Safety climate is often used to describe the more ‘tangible’ outputs of an organisation’s safety culture (Health and Safety Executive (HSE), Offshore Safety Division of the HSE, 2010) . Safety climate analysis through surveys can be used to identify relationships between important dimensions of safety in an organization and how it can contribute to the overall results of safety culture (M.D. Cooper, 2000) . This research was conducted at an oil company called PT. ABC. Occupational accident data of PT. ABC in all production areas (2014-2019) concluded that 71% of accidents occur due to Unsafe act (immediate cause), and 49% due to Human Factor (root cause). In this research, the author will analyze the application of safety climate in offshore production areas. The results of observations show that there are differences in the application of safety climate aspects among workers based on shift schedule, position, status of workers, duration of work in offshore, and work experience. These data are the focus of the author to be used as research material in analyzing safety climate. The research conducted is mixed methods research in which some data will be assessed quantitatively and some will be assessed qualitatively. The results of the study were analyzed descriptively with in-depth analysis. The tool used to analyze aspects of the safety climate is the &quot;Offshore Safety Climate Assessment Toolkit&quot; developed by Loughborough University which divides workers&#39; perceptions into three types, namely perception as individuals, perceptions as work units, and perceptions as company members. This method uses a questionnaire media that involves 95 respondents (the entire population) and interviews with several of the company&#39;s safety responsibility stakeholders as targets. From the safety climate analysis results obtained 8,16 values, where this can be interpreted that the workers&#39; perceptions of safety values ​​are well internalized within workers both as individuals, as work units and as members of the company. Statistical calculations concluded that there were no significant differences in the application of work safety climate between  18 workers with a rhythm schedule of 2 weeks on / off, and 2 weeks on-1 week off (p (0,263)&gt; 0.05) , workers with staff and non-staff positions (p (0,794)&gt; 0.05), workers with indefinite time employment agreements and workers with certain time work agreements (p (0,881)&gt; 0.05), workers with short term offshore employment and long term workers (p (0,953)&gt; 0.05), and young / fresh graduate and experienced / experienced workers (p (0,065)&gt; 0.05). There were significant differences in the application of work safety climate between workers with a rhythm schedule of 3 weeks on / off, and 2 weeks on-1 week off (p (0,000)&lt; 0.05) and between workers with a rhythm schedule of 3 weeks on / off, and 2 weeks on/ off (p (0,003)&lt; 0.05)

Read More
T-5831
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meddy Harjanto; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Fatma Lestari, Dadan Erwandi, Kevin Gerhana Angga, Nur Hudha
Abstrak: Seiring dengan perkembangan jaman sebagaimana kegiatan di industry Minyak dan Gas (Migas) yang memiliki risiko tinggi sehingga diperlukan pengelolaan operasi yang sangat baik, tertata dan terencana dengan matang. Hal ini berkaitan dengan kecelakaan yang diakibatkan oleh prilaku tidak aman (un-safe act) sebagai penyebab dominan. Oleh karena itu, dilakukan penelitian tentang analisis budaya keselamatan dengan mengukur Safety Climate Level (SCL) dan Safety Culture Maturity Level (SCML), sebagai upaya peningkatan buadaya keselamatan untuk mengurangi kecelakaan. Populasi pada penelitian ini berjumlah 2.568 pekerja, kemudian pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode penyebaran keusioner dan Focus Group Discussion (FGD) untuk di Site A dengan jumlah 245 pekerja. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui skor SCL 7,82 (>7,5 ref. Norma SCL) dimana safety climate sudah tercermin dengan baik pada individu dan kelompok. Sedangkan safety culture sudah berada pada level 4 (proactive) dengan skor SCML 4,17 dari total skor 5. Hal ini menunjukkan peran pekerja dalam program K3 telah meningkat dimana pendekatan bottom-up perlu ditingkatkan dengan menyerap dan menindaklanjuti spirasi dan masukkan dari pekerja.
Read More
T-5655
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alfiansah Rahadian; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Hendra, Avep Disasmita, Wahyudin Syakir
Abstrak: Berdasarkan tinjauan literatur, terdapat hubungan antara distress kerja dengan iklim keselamatan, yang berpengaruh terhadap terjadinya kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dimensi distress kerja terhadap iklim keselamatan. Studi cross-sectional yang dilakukan pada 152 karyawan perusahaan pembangkit listrik tenaga gas di site Prabumulih, Palembang, dan dua site Batam, pada departemen operation dan maintenance yang dipilih secara acak sebagai responden penelitian. Responden mengisi kuesioner iklim keselamatan Nordik (NOSACQ-50) dan kuesioner distress kerja NIOSH Generic Job Stress secara daring. Data dianalisis menggunakan uji statistik korelasi bivariat dan regresi linier. Gambaran iklim keselamatan perusahaaan menunjukkan hasil rata-rata 2,73 atau pada tingkatan cukup, sehingga memerlukan perbaikan pada komitmen tenaga kerja pada keselamatan dan prioritas keselamatan. Berdasarkan tingkat distress kerja, terdapat 10,53% karyawan yang memiliki tingkat distress rendah, 77,63% karyawan yang memiliki tingkat distress sedang, dan 11,84% karyawan yang memiliki tingkat distress tinggi. Analisis bivariat menunjukkan variabel distress kerja pada penilaian diri, masa depan karyawan, dan dukungan sosial, menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan iklim keselamatan. Analisis multivariat menunjukkan variabel distress kerja pada konflik dan ketidakjelasan peran menjadi variabel paling dominan berhubungan dengan iklim keselamatan. Untuk meningkatkan iklim keselamatan, perusahaan harus berusaha untuk mengurangi distress di tempat kerja melalui pengendalian faktor konflik dan ketidakjelasan peran.
Based on the literature review, there is a relationship between work distress and safety climate, which affects to work accidents. This study aims to determine the relationship of the dimensions of work distress to the safety climate. A cross-sectional study was conducted on 152 employees of a gas-fired power plant company at the Prabumulih site, Palembang, and two Batam sites, in the operation and maintenance department who were randomly selected as research respondents. Respondents filled out the Nordic safety climate (NOSACQ-50) and NIOSH Generic Job Stress online questionnaire. Data were analyzed using bivariate correlation statistical tests and linear regression. Company's safety climate showed an average result of 2.73 or at a sufficient level, required improvement in the commitment of the workforce to safety and safety priorities. There were 10.53% of employees who have low levels of distress, 77.63% of employees who have moderate levels of distress, and 11.84% of employees who have high levels of distress. Bivariate analysis showed that the variables of work distress on self-assessment, future work, and social support, showed a significant relationship with safety climate. Multivariate analysis showed that the variables of work distress in conflict and role ambiguity were the most dominant variables related to the safety climate. To improve safety climate, Company should strive to reduce workplace distress through controlling conflict factors and role ambiguity.
Read More
T-6454
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bambang Setiadi; Pembimbing: Wawan Irawan; Penguji: Tata Soemitra, Supriyanto
Abstrak:

Peningkatan kompetensi karyawan sekarang menjadi isu penting bagi perusahaan untuk menjaga kemampuan berkompetisi guna menghadapi tantangan bisnis dalam era perdagangan babas yang akan segera datang. Undang-undang Ketenagalistrikan (baru) akan mengatur kompetisi antar pelaku bisnis tenaga listrik seperti PT PLN (Persero), swasta, termasuk koperasi dan BUMN yang lain. Melalui pembahasan bersama institusi terkait, maka Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral secara bertahap mempersiapkan standarisasi kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan.Analisis kompetensi K3 pada Pengawas kegiatan penyediaan tenaga listrik di PT PLN (Persero) bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kompetensi K3 pada Pengawas pada beberapa Unit pengelola instalasi yang dipilih untuk melakukan penelitian yang dapat mewakili kegiatan penyediaan tenaga listrik di PT PLN (Persero), sekaligus untuk menggambarkan tingkat kompetensi pada kegiatan pembangkitan, transmisi dan distribusi tenaga listrik.Dengan menggunakan referensi elemen kompetensi dan kriteria unjuk kerja dari kompetensi K3 umum (generik) untuk Pengawas (NOHSC, Australia) sebagai instrumen penelitian, dilakukan wawancara kepada para Pengawas serta kuisioner kepada para Pelaksana, kelompok kerja pengelola instalasi dan kepada para Pejabat pengelola instalasi, diperoleh bahwa rata-rata tingkat kompetensi K3 pada Pengawas kegiatan penyediaan tenaga listrik di PT PLN (Persero) dapat diklasifikasikan antara "rendah" sampai "kurang dari cukup", di mana pada kegiatan pembangkitan lebih baik dari pada kegiatan transmisi dan pada kegiatan transmisi lebih baik dari pada kegiatan distribusi.Saran pembinaan untuk meningkatkan kompetensi dengan menambah wawasan pengetahuan, ketrampilan dan sikap K3 pada Pengawas, keharusan terdapatnya komitmen yang kuat terhadap K3 dari top manajemen (dukungan manajemen) dan memperhatikan tempat kerja (tantangan kegiatan atau pengaruh lingkungan).


 

The Analysis on Occupational Safety and Health Competency for Supevisor of Electric Energy Supply in PT PLN (Persero)Employee competency improvement is now becoming the important issues for corporations to maintain its competitive ability to meet business challenges for incoming free trade era. The (new) Electricity Act regulates the competition of electricity business players such as PT PLN (Persero), the private sector including ccoperative and other state owned corporations. Through agreements with related institutions, The Department of Mine and Energy is progressively set the standards to be used for technician competencies in electricity.The analysis on occupational health and safety (OHS) competency for Supervisor of electric energy supply in PT PLN (Persero) aims at identifying the competency level of OHS of Supervisors in a number of units chosen to investigate matters that may represent the activities of electricity supply in PT PLN, while also describing the competency levels in electricity generation, transmission and distribution.With reference to the competency elements and performance criteria for generic OHS c^mnPfencies for Supervisors (NOHSC, Australia) as research tool, interviews were conducted with Supervisors and questionnaires were given to Working groups who directly in charge for instalation maintenance administering installation and the respected Officers. The result obtained indicates that the average competency level of OHS among Supervisor of electric energy supply in PT PLN (Persero) can be classified ranging from "low" to "inadequate", whereas electricity generating activities scored higher than transmission activities, and distribution activities have the lowest score among them.Suggestions to improve competency include supplementary information of OHS knowledge, skill and attitude of Supervisors, need a strong commitment from the top management on OHS (managerial support) and awareness of the work location (in term of challenging activities and or environmental influence).

Read More
T-1355
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive