Ditemukan 33177 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Rizka Fahmia; Pembimbing: Helda; Penguji: Syahrizal Syarif, Astuti Giantini, Tristiyenny Pubianturi
Abstrak:
Read More
COVID-19 menjadi pandemi di seluruh dunia sejak Maret 2020. Hipertensi merupakan penyakit penyerta yang banyak diderita oleh pasien COVID-19. Banyaknya kasus COVID-19 membuat daya tampung fasilitas kesehatan hampir tidak mencukupi untuk memberikan pelayanan medis rawat inap yang memadai pada pasien COVID-19. Perpanjangan lama rawat inap pasien COVID-19 berefek terhadap besaran biaya yang ditanggung pemerintah atau pasien sendiri. Penentuan prioritas pasien rawat inap menjadi penting untuk rekomendasi panduan pelayanan pasien COVID-19. Saat ini penelitian tentang hubungan hipertensi dengan durasi lama rawat inap pasien COVID-19 di Indonesia masih belum ada. Penelitian bertujuan mengetahui hubungan antara hipertensi dengan lama rawat inap pasien terkonfirmasi COVID-19 di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI). Desain studi kohort retrospectif dilakukan pada 369 pasien terkonfirmasi COVID-19 yang dirawat inap di RSUI selama Maret sampai dengan Oktober 2020, menilai hubungan hipertensi dengan lama rawat inap pasien terkonfirmasi COVID-19 setelah di kontrol usia, jenis kelamin, komorbid, tingkat keparahan, status PCR saat pulang dan status pasien pada akhir rawat. Hasil penelitian didapatkan bahwa median lama rawat inap adalah 13 hari (range 3 – 74 hari). Pasien hipertensi dirawat inap 2 sd 3 hari lebih lama dibandingkan dengan pasien normotensi. Pada analisis bivariat, hipertensi berhubungan dengan lama rawat inap ≥ 14 hari (RR 1,343 95% CI 1,085-1,662 p=0,008). Pada analisis multivariat, hipertensi tidak terbukti memiliki hubungan dengan lama rawat inap ≥ 14 hari pada pasien terkonfirmasi COVID-19 (aRR 1,121, 95% CI 0,818-1,534, pvalue=0,476) setelah mempertimbangkan keparahan penyakit sedang dan berat. Kata kunci: Hipertensi, COVID-19, lama rawat inap, keparahan
COVID-19 became a worldwide pandemic since March 2020. Hypertension is the most prevalent comorbid amongst COVID-19 patients. The large number of COVID-19 cases has made the capacity of health facilities almost insufficient to provide adequate inpatient medical services for COVID-19 patients. Prolonged hospitalization impacted to increased costs borne by government or patients themselves. Prioritizing inpatients is important for guiding COVID-19 patient care. Currently, there is no research on the relationship between hypertension and the duration of hospitalization for COVID-19 patients in Indonesia. This study aims to determine the relationship between hypertension and length of stay of confirmed COVID-19 patients at the University of Indonesia Hospital (RSUI). A retrospektif cohort study design was conducted on 369 confirmed COVID-19 patients who were hospitalized at RSUI during March to October 2020, assessing the relationship between hypertension and the length of stay of patients with confirmed COVID-19 after being controlled for age, gender, severity, comorbidities, outpatient PCR status, patients status at discharged. The results showed that the median length of hospitalization was 13 days (range 3 – 74 days). Hypertensive patients are hospitalized for 2 to 3 days longer than normotensive patients. In bivariat analysis, hipertensi shown to have association with length of hospital stay ≥ 14 days (RR 1,343 95% CI 1,085-1,662 p=0,008). In multivariate analysis, hypertension was not shown to have an association with length of stay ≥ 14 days in patients with confirmed COVID-19 (RR 1.121, 95% CI 0.846-1.703, p-value = 0.476) after being controlled for moderate and severe disease severity. Key words: Hypertension, COVID-19, hospital length of stay, severity
T-6216
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dara Puspita Dewi; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Syahrizal Syarif, Hario Baskoro
Abstrak:
Covid-19 telah mewabah ke hampir seluruh negara di dunia selama lebih dari satu tahun. Case Fatality Rate (CFR) dan Recovery Rate (RR) penyakit digunakan untuk menilai tingkat keparahan, risiko pada populasi dan mengevaluasi mutu fasilitas pelayanan kesehatan. Status gizi dapat memperburuk prognosis penyakit, ketahanan hidup, dan memperpanjang lama rawat inap. Obesitas menyebabkan morbiditas yang lebih tinggi saat perawatan di rumah sakit seperti kegagalan sistem pernafasan, pemindahan tempat rawat ke ICU dan meningkatkan tingkat kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesintasan pasien dewasa yang dirawat di rumah sakit berdasarkan status gizi. Penelitian menggunakan desain studi kohort retrospektif menggunakan data rekam medis pasien rawat inap terkonfirmasi Covid-19 tahun 2021 di RS Universitas Indonesia dan dianalisis menggunakan Cox Proportional Hazard Model. Hasil menunjukkan perbedaan probabilitas kesintasan antara pasien dewasa terkonfirmasi Covid-19 yang dirawat di RS Universitas Indonesia dengan status gizi normoweight, underweight dan obesitas (15,41% vs 71,11% vs 7,43%). Pasien dengan underweight meningkatkan risiko kematian sebesar 1,19 kali dibandingkan pasien dengan normoweight (95% CI 0,471-3,049) setelah dikontrol dengan usia, tingkat keparahan, dan ARDS. Sedangkan pasien dengan overweight/obesitas meningkatkan risiko kematian sebesar 1,03 kali dibandingkan pasien dengan normoweight (95% CI 0,714-1,487)
Read More
T-6415
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Disa Hijratul Muharramah; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Yovsyah, Irandi Putra Pratomo, Rakhmad Hidayat
Abstrak:
Background: Penyakit Coronavirus (COVID-19) yang disebabkan oleh SARS-COV 2 (Severe Acute Respiratory Syndrome) telah menyebar keseluruh dunia dan menginfeksi lebih dari 180 juta kasus yang dikonfirmasi dan lebih dari 3,9 juta kematian. Manifestasi klinis COVID-19 berkisar dari infeksi tanpa gejala atau infeksi ringan hingga bentuk penyakit parah yang mengancam jiwa. Laporan sebelumnya telah menemukan bahwa obesitas dikaitkan dengan kondisi seseorang yang terinfeksi COVID-19 menjadi parah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan obesitas dengan keparahan COVID-19. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional pada pasien COVID19 yang dirawat di Rumah Sakit Universitas Indonesia pada tahun 2020. Data diperoleh dari rekam medis, pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Dimana kriteria inklusi adalah pasien dengan informasi lengkap sedangkan untuk kriteria ekslusi adalah pasien yang berusia 18 tahun ke bawah dan hamil. Ada 725 COVID-19 yang disertakan untuk analisis. Kami menggunakan PR yang disesuaikan (dan 95% CI) untuk memperkirakan risiko keparahan COVID-19 yang terkait dengan obesitas Hasil: Dari 725 pasien COVID-19, 178 mengalami gejala berat. Pasien dengan hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan penyakit ginjal kronis lebih mungkin menderita gejala COVID-19 yang parah. Obesitas dikaitkan dengan keparahan COVID19 (PR 1,68 dan 95% CI: 1,24-2,26) setelah dikontrol oleh sia, jenis kelamin, diabetes, dan penyakit jantung. Risiko keparahan COVID-19 yang terkait dengan obesitas berbeda berdasarkan jenis kelamin (PR adalah 1,64, 95% CI: 1,14-2,34 pada pria dan 1,69, 95% CI: 0,99-2,88 pada wanita) dan usia (PR adalah 1,77, 95% CI: 1,07-2,29 pada usia yang lebih muda dan 1,48, 95% CI: 1,01-2,17 pada kelompok usia yang lebih tua). Kesimpulan : Obesitas meningkatkan risiko keparahan COVID-19. Menjaga gaya hidup sehat, termasuk olahraga rutin, memilih makanan sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin dapat mengurangi risiko keparahan COVID-19
Background: Coronavirus disease (COVID-19) caused by SARS-CoV 2 (Severe Acute Respiratory Syndrome) has spread worldwide and infected more than 180 million confirmed cases and 3,9 million deaths. The clinical manifestations of COVID-19 range from asymptomatic or mild infection to severe. Previous reports identified that obesity is associated with the condition of a person infected with COVID-19 develop into severe. This study aims at examining the risk of severity COVID-19 associated with obesity Methods: A cross sectional study was conducted among COVID-19 patients admitted at the University of Indonesia Hospital in 2020. Patients whose aged 18 or below or pregnant were excluded. Data were obtained from medical records. Cases were selected for the analysis only if the information was completed. There were 725 COVID-19 included for the analysis. We used adjusted PRs (and 95% CI) to estimate the risk of severity of COVID-19 associated with obesity. Results: Of 725 COVID-19 patients, 178 had severe symptoms. Patients with hypertension, diabetes, heart disease and Chronic Kidney Disease were more likely to suffer severe COVID-19 symptoms. After age, gender, diabetes and heart disease were taken into account, obesity was associated with severity of COVID-19 (PR 1.68 and 95% CI: 1,24-2.26). The severity risks COVID-19 associated with obesity were different based on gender (PRs were 1.64, 95% CI: 1,14-2,34 in men and 1.69, 95% CI: 0.99-2.88 in women) and age (PRs were 1.77, 95% CI: 1.07-2.29 among younger age and 1.48, 95% CI: 1.07-2.29 in older age group). Conclusion : Obesity increase the risk for severity of COVID-19. Maintain healthy life style, including routine exercise, choice of healthy food and routine medical checkup may reduce the risk of severity of COVID-19
Read More
Background: Coronavirus disease (COVID-19) caused by SARS-CoV 2 (Severe Acute Respiratory Syndrome) has spread worldwide and infected more than 180 million confirmed cases and 3,9 million deaths. The clinical manifestations of COVID-19 range from asymptomatic or mild infection to severe. Previous reports identified that obesity is associated with the condition of a person infected with COVID-19 develop into severe. This study aims at examining the risk of severity COVID-19 associated with obesity Methods: A cross sectional study was conducted among COVID-19 patients admitted at the University of Indonesia Hospital in 2020. Patients whose aged 18 or below or pregnant were excluded. Data were obtained from medical records. Cases were selected for the analysis only if the information was completed. There were 725 COVID-19 included for the analysis. We used adjusted PRs (and 95% CI) to estimate the risk of severity of COVID-19 associated with obesity. Results: Of 725 COVID-19 patients, 178 had severe symptoms. Patients with hypertension, diabetes, heart disease and Chronic Kidney Disease were more likely to suffer severe COVID-19 symptoms. After age, gender, diabetes and heart disease were taken into account, obesity was associated with severity of COVID-19 (PR 1.68 and 95% CI: 1,24-2.26). The severity risks COVID-19 associated with obesity were different based on gender (PRs were 1.64, 95% CI: 1,14-2,34 in men and 1.69, 95% CI: 0.99-2.88 in women) and age (PRs were 1.77, 95% CI: 1.07-2.29 among younger age and 1.48, 95% CI: 1.07-2.29 in older age group). Conclusion : Obesity increase the risk for severity of COVID-19. Maintain healthy life style, including routine exercise, choice of healthy food and routine medical checkup may reduce the risk of severity of COVID-19
T-6141
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Anis Kurniawati; Pembimbing: Helda; Penguji: Renti Mahkota, Iin Pusparini
Abstrak:
Read More
Stroke menjadi salah satu penyebab kematian utama di dunia sebesar 17,9 juta kematian dan prevalensi stroke secara global mencapai 101 juta kasus. Stroke hemoragik sendiri menyumbang angka 13% dari stroke keseluruhan dan di Indonesia tahun 2001 mencapai 18,5% dan perdarahan subarachnoid sebesar 1,4%. Namun, pasien stroke hemoragik memiliki kondisi lebih parah dengan risiko kematian yang lebih tinggi hingga 4 kali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hipertensi dengan stroke hemoragik pada pasien rawat inap di RS Pusat Otak Nasional tahun 2022 setelah dikontrol variabel confounding. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan sampel yang diperoleh sebesar 1010 sampel. Variabel confounding yang dipakai dalam penelitian ini adalah obesitas, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, status pernikahan, jenjang pendidikan, pekerjaan, usia, dan jenis kelamin. Hasil penelitian ini menunjukkan jika terdapat hubungan signifikan antara hipertensi dengan stroke hemoragik (p=0,044) hingga 2,37 kali lebih tinggi dibandingkan pasien stroke yang tidak hipertensi setelah dikontrol variabel confounding. Pentingnya peningkatan kesadaran dengan melibatkan anak muda mengenai hipertensi dan stroke hemoragik perlu dilakukan. Selain itu, masyarakat diharapkan tetap menerapkan pola hidup sehat dan cek kesehatan berkala di Posbindu setempat terutama masyarakat yang memiliki hipertensi
Stroke is one of the main causes of death in the world with 17.9 million deaths and the prevalence of stroke globally reaches 101 million cases. Hemorrhagic stroke itself accounts for 13% of all strokes and in Indonesia in 2001 it reached 18.5% and subarachnoid hemorrhage was 1.4%. However, hemorrhagic stroke patients have a more severe condition with a higher risk of death up to 4 times. This study aims to determine the relationship between hypertension and hemorrhagic stroke in inpatients at the National Brain Center Hospital in 2022 after controlling for confounding variables. The research method used was cross sectional with a sample of 1010 samples. The confounding variables used in this study were obesity, smoking habits, alcohol consumption, marital status, level of education, occupation, age and gender. The results of this study indicate that there is a significant relationship between hypertension and hemorrhagic stroke (p=0.044) up to 2.37 times higher than stroke patients who are not hypertensive after controlling for confounding variables. The importance of raising awareness by involving young people regarding hypertension and hemorrhagic stroke needs to be done. In addition, the community is expected to continue to adopt a healthy lifestyle and periodic health checks at the Posbindu, especially people who have hypertension
S-11231
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Elviza Rahmadona; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Musfardi Rustam, Puhilan
Abstrak:
Salah satu komorbid yang paling banyak menyertai pasien Covid 19 di Indonesia adalah Hipertensi dengan proporsi kasus 52,1% dan proporsi kematian sebanyak 19,2% dan menjadi komorbid paling tinggi pada pasien Covid 19 di Indonesia. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan hipertensi dengan kematian pasien Covid 19 pada April 2020 hingga Juli 2021 berdasarkan data rekam medik pasien rawat inap di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau. Desain studi pada penelitian ini adalah studi kasus kontrol dimana kasus adalah pasien Covid-19 yang meninggal dan kontrol adalah pasien Covid 19 yang tidak meninggal berdasarkan data rekam medik melalui aplikasi SIMRS. Sampel pada penelitian ini adalah yang memenuhi kriteria inklusi yaitu 93 pasien pada kelompok kasus dan 200 pada kelompok kontrol yang telah dilakukan uji pemeriksaan PCR terlebih dahulu. Data dianalisis menggunakan uji chi square dan regresi logistik. Dari hasil analisis diperoleh hubungan antara hipertensi dengan kematian Covid 19 namun memiliki risiko protektif setelah dikontrol variabel umur, jenis kelamin, diabetes, PPOK, CVD. Hasil penelitian ini masih memiliki kelemahan berupa misklasifikasi non diferensial dan keterbatasan data yang tersedia pada data rekam medik melalui aplikasi SIMRS
Read More
T-6188
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Siti Pujiwati Permata Rima; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Renti Mahkota, Rakhmad Hidayat, Tiersa Vera Junita
Abstrak:
Read More
Stroke adalah penyakit penyebab kematian tertinggi setelah penyakit jantung di dunia. Analisis faktor yang mempengaruhi lama perawatan pada rawat inap dengan populasi Indonesia masih jarang dilakukan. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional untuk mengevaluasi hubungan antara hiperglikemia dan hiperkloremia dengan lama perawatan pada pasien stroke iskemik akut di unit rawat inap RSUD Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Indonesia. Data sekunder rekam medis dari pasien stroke iskemik akut yang dirawat antara 1 Januari 2022 hingga 31 Desember 2022 digunakan untuk analisis. Metode non-probability sampling tipe purposive digunakan untuk merekrut sampel. Analisis statistik yang dilakukan termasuk analisis deskriptif, bivariat, stratifikasi, dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi pasien dengan stroke iskemik akut yang masuk ke unit rawat inap RSUD Pasar Minggu adalah 84.5%. Proporsi hiperglikemia pada pasien tersebut adalah 27%, sedangkan proporsi hiperkloremia adalah 10.2%. Median lama perawatan pasien adalah 5 hari. Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara durasi perawatan ≥ 5 hari dengan lama perawatan setelah dikontrol dengan variabel kovariat, (adjusted PR 2.21, 95% CI 1.70-2.88, p-value 0.00). Sementara hubungan antara hiperkloremia dan lama perawatan tidak signifikan secara statistik (adjusted PR 1.02; 95% CI 0.66-1.45, p-value 0.56) setelah dikontrol dengan variabel kovariat. Diperlukannya kampanye kesehatan publik, program pemeriksaan berkala, serta penyediaan sistem monitoring pengobatan bagi pasien dengan gangguan metabolik seperti diabetes. Penting untuk memberikan edukasi, mengembangkan protokol penanganan yang jelas, dan melakukan pemantauan glukosa darah serta elektrolit secara teratur pada pasien stroke iskemik akut.
Stroke is the leading cause of death after heart disease in the world. Analysis of factors affecting the length of hospital stay among the Indonesian population is still rarely conducted. This study employed a cross-sectional design to assess the association between hyperglycemia and hyperchloremia with the length of stay in acute ischemic stroke patients at the inpatient unit of RSUD Pasar Minggu Hospital, South Jakarta, Indonesia. Secondary data from acute ischemic stroke patients admitted between January 1, 2022, and December 31, 2022, were analyzed. A purposive non-probability sampling method was used to recruit the sample. Statistical analyses included descriptive, bivariate, stratification, and multivariate analyses. The results revealed that 84.5% of patients admitted to the RSUD Pasar Minggu Hospital had acute ischemic stroke. The proportion of hyperglycemia among these patients was 27%, while hyperchloremia was 10.2%. The median length of stay was 5 days. After controlling for covariates, the association between hyperglycemia and length of stay remained statistically significant (adjusted PR 2.21, 95% CI 1.70-2.88, p-value 0.00), while the association between hyperchloremia and length of stay remained not statistically significant (adjusted PR 1.02; 95% CI 0.66-1.45, p-value 0.56). There is a need for public health campaigns, regular screening programs, and integrated treatment monitoring systems for patients with metabolic disorders such as diabetes. It is essential to provide education, develop clear treatment protocols, and regularly monitor blood glucose and electrolytes in acute ischemic stroke patients.
T-6923
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Melia Fatrani Rufaidah; Pembimbing: Helda, Ratna Djuwita; Penguji: Desty Wijayanti, Inggariwati
Abstrak:
Pada pertengahan tahun 2021, Indonesia mengalami lonjakan kasus COVID-19 dengan infeksi berat yang berdampak pada peningkatan jumlah kematian. Hipertensi diketahui menjadi salah satu penyakit penyerta yang paling banyak dimiliki oleh pasien COVID-19. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh hipertensi secara independen terhadap mortalitas COVID-19 di RSUD Pasar Minggu periode tahun 2021. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif dengan data yang digunakan berasal dari rekam medis pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19. Sampel terpilih dengan metode simple random sampling dan analisis yang digunakan adalah analisis survival Kaplan-meier dan analisis multivariat Cox proportional-hazards regression. Dengan demikian, seiring dengan perjalanan waktu pandemi COVID-19 ini diharapkan rumah sakit dapat tetap melakukan pemantauan yang lebih ketat terhadap pasien dengan komorbiditas terutama hipertensi sehingga dapat terus menurunkan angka kematian akibat COVID-19
Read More
T-6414
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hubungan Early Warning Scoring System dengan Mortalitas Pasien COVID-19 di RS. Universitas Indonesia
Saetia Listiana; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Yovsyah; Penguji: Astuti Yuni Nursasi, Rakhmad Hidayat
Abstrak:
Read More
Tingkat mortalitas COVID-19 di Indonesia sebesar 2,7%, angka ini merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara. Pasien COVID-19 yang mengalami perburukan di rumah sakit seperti masuk ICU dan kematian sebanyak 15-20%. Perubahan klinis pasien sebelum terjadinya perburukan dan kematian tidak disadari oleh 27,06% tenaga kesehatan. Menurut WHO, EWS dapat digunakan untuk mendeteksi perburukan pasien lebih awal, namun penelitian yang dilakukan untuk melihat hubungan EWS dengan kematian COVID-19 masih terbatas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besar risiko highrisk EWS dengan kejadian kematian serta probabilitas kesintasan pada pasien COVID-19 yang dirawat di RS UI. Penelitian ini menggunakan desain studi kohort retrospektif. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien COVID-19 yang dirawat inap di RS UI pada periode Maret – Desember 2020. Penelitian ini menggunakan total sampling. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 740 orang yang terdiri dari 137 orang pada kelompok terpapar dan 603 kelompok tidak terpapar. Analisis kesintasan dilakukan dengan menggunakan Kaplan Meier sedangkan analisis multivariat dilakukan dengan cox regresi. Probabilitas kesintasan pasien COVID-19 yang di rawat di RS UI sampai dengan 72 hari pengamatan sebesar 47,4%. Besar risiko pasien COVID-19 yang memiliki highrisk EWS untuk terjadi kematian sebesar 5,32 (95% CI= 3,26-8,69). Tenaga kesehatan diharapkan dapat mendeteksi perburukan pasien sedini mungkin agar bisa dilakukan intervensi lebih awal untuk mencegah kematian pada pasien COVID-19. Kata kunci: COVID-19, EWS, Mortalitas, Kesintasan
In Indonesia, the COVID-19 mortality level is 2.7%, which renders it the highest in Southeast Asia. The number of patients with COVID-19 that experienced an exacerbation in hospitals that needed ICU support and resulted in death accounts for 15 to 20%. The clinical progression of patients before exacerbation and subsequent death happened was not recognized by 27.06% of health workers. According to the WHO, EWS can be used to detect exacerbation early. However, studies examining the link between EWS and COVID-19 related death are still limited. The purpose of this study is to determine the association between high-risk EWS with the incidence of death and the probability of survival in COVID-19 patients treated at Universitas Indonesia (UI) Hospital. This study uses a retrospective cohort study design. The population included are all COVID-19 patients hospitalized at UI Hospital in the period of March – December 2020. This study uses total sampling with 740 people consisting of 137 people in the exposed group and 603 people in the unexposed group. Survival analysis was performed using Kaplan Meier. Multivariate analysis was done using Cox regression. The probability of survival of COVID-19 patients treated at UI Hospital with up to 72 days of observation is 47.4%. The risk of death of COVID-19 patients with high-risk EWS is 5.32 (95% CI = 3.268.69). Health workers are expected to be able to detect patient deterioration as early as possible so that earlier intervention can be carried out to prevent death in COVID-19 patients. Keywords: COVID-19, EWS, Mortality, Survival
T-6134
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dian Indah Palupi Nugrahari; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Syahrizal, Sherli Karolina, Hidayat Nuh Ghazali Djajauli
Abstrak:
COVID-19 telah menginfeksi ratusan juta orang dan menyebabkan kematian jutaan orang di seluruh dunia. Vaksinasi diharapkan dapat mengurangi insiden penyakit, tingkat mortalitas, maupun keparahan penyakit. Sehingga peneliti ingin mengetahui seberapa besar efek vaksinasi dalam melindungi pasien COVID-19 terhadap penyakit COVID-19 yang berat dan kematian COVID-19. Penelitian ini merupakan penelitian kohort retrospektif yang menggunakan data dari database NAR COVID-19 dan Dashboard KPCPEN Dinkes Kota Depok mulai tanggal 8 Mei 2020 hingga 20 Februari 2023 yang dianalisis menggunakan regresi logistik. Peneliti menemukan bahwa kelompok usia terbesar adalah usia 31-45 tahun (26,54%) dan terkecil adalah usia ≥ 60 tahun (10,97%). Populasi perempuan lebih besar dibandingkan laki-laki (53,36% vs 46,64%). Kemudian hanya 6.41% orang bekerja sebagai petugas kesehatan. Jumlah orang yang tidak divaksin lebih banyak dibandingkan orang yang divaksin (52,58% vs. 47,42%). Dibandingkan dengan pasien COVID-19 yang tidak divaksinasi, pasien yang divaksin mengalami penurunan risiko dirawat sebesar 45% (periode 1), 43,3% (periode 2), dan 24% (periode 3). Kemudian pasien COVID-19 yang divaksinasi mengalami penurunan risiko mortalitas sebesar 35% (periode 1), 90% (periode 2), dan 33% (periode 3). Sehingga peneliti menyimpulkan bahwa vaksinasi COVID-19 menurunkan risiko dirawat di RS dan mortalitas pasien COVID-19 pada ketiga periode sakit.
COVID-19 has infected and caused the deaths of millions of people in the world. And vaccination is expected to reduce the incidence, mortality, and severity of the disease. The objective of this research is to discover the effects of COVID-19 vaccination against severe disease and death of COVID-19. This was a retrospective cohort research that utilized data from the COVID-19 NAR database and the Depok City Health Department KPCPEN Dashboard from Mei 8, 2020 to February 20, 2023, and was analysed using logistic regression. We discovered that the largest age group were patients between ages 31-45 years (26.54%) and the smallest was ≥ 60 years (10.97%). There were more female patients than men (53.36% vs. 46.64%). Only 6.41% of patients were healthcare workers, and more patients were unvaccinated than vaccinated (52.58% vs. 47.42%). Compared to the unvaccinated patients, the vaccinated patients experienced a risk reduction of 45% in period 1, 43.3% in period 2, and 24% in period 3. Vaccinated patients also experienced a risk reduction for mortality of 35% in period 1, 90% in period 2, and 33% in period 3. Therefore, we conclude that COVID-19 vaccination reduces the hospitalization and mortality risks for COVID-19 patients in all 3 periods.
Read More
COVID-19 has infected and caused the deaths of millions of people in the world. And vaccination is expected to reduce the incidence, mortality, and severity of the disease. The objective of this research is to discover the effects of COVID-19 vaccination against severe disease and death of COVID-19. This was a retrospective cohort research that utilized data from the COVID-19 NAR database and the Depok City Health Department KPCPEN Dashboard from Mei 8, 2020 to February 20, 2023, and was analysed using logistic regression. We discovered that the largest age group were patients between ages 31-45 years (26.54%) and the smallest was ≥ 60 years (10.97%). There were more female patients than men (53.36% vs. 46.64%). Only 6.41% of patients were healthcare workers, and more patients were unvaccinated than vaccinated (52.58% vs. 47.42%). Compared to the unvaccinated patients, the vaccinated patients experienced a risk reduction of 45% in period 1, 43.3% in period 2, and 24% in period 3. Vaccinated patients also experienced a risk reduction for mortality of 35% in period 1, 90% in period 2, and 33% in period 3. Therefore, we conclude that COVID-19 vaccination reduces the hospitalization and mortality risks for COVID-19 patients in all 3 periods.
T-6850
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Telly Purnamasari Agus; Promotor: Ratna Djuwita; Kopromotor: Amal Chalik Sjaaf, Adisasmita, Asri C.; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Mardiati Nadjib, Evi Martha, Rizaldy Taslim Pinzon, Trihono
Abstrak:
Pengaruh pelaksanaan clinical pathway terhadap proses pelayanan dan lama hari rawat pasien stroke iskemik di tiga rumah sakit Indonesia Pengaruh pelaksanaan clinical pathway terhadap proses pelayanan dan lama hari rawat pasien stroke iskemik di tiga rumah sakit Indonesia
Read More
D-379
Depok : FKM-UI, 2018
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
