Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33969 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Firda Mawaddah Aulia; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Yovsyah, Melyana
Abstrak: Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 pada penduduk pralansia di DKI Jakarta berdasarkan data Riskesdas 2018. Metode: Sampel penelitian ini penduduk usia 45-59 tahun sebanyak 2.958 orang. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan analisis univariat dan bivariat. Hasil: Hasil analisis univariat menunjukkan prevalensi Diabetes Melitus Tipe 2 pada pralansia di DKI Jakarta sebesar 8,0%. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan signfikan antara status merokok (OR=1,760 95%CI 1,241-2,496; p=0,002), obesitas sentral (OR=1,912 95%CI 1,432-2,554; p<0,001), dan hipertensi (OR=1,338 95%CI 1,025-1,747; p=0,038) dengan DM Tipe 2.
Read More
S-10683
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maulidya Sekar Aulia; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah; Jamaludin
Abstrak: Latar Belakang: Penyakit kardiovaskular, termasuk stroke merupakan masalah kesehatan utama yang terjadi di Dunia. Setiap tahunnya, terdapat lebih dari 13,7 juta kasus baru dan 5,5 juta kematian akibat stroke yang terjadi secara global. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2018 prevalensi stroke di Indonesia mencapai 10,9 per mil. Pada Provinsi DKI Jakarta, prevalensi stroke berdasarkan diagnosis dokter meningkat dari 9,7 per mil (2013) menjadi 12,2 per mil (2018). Berdasarkan data IDF tahun 2019, prevalensi diabetes di Indonesia mencapai 10.7 juta kasus dan menjadikan Indonesia sebagai Negara dengan kasus terbanyak ketujuh secara global. Selain itu, menurut Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, dana yang digunakan untuk pelayanan stroke terus meningkat yaitu 1,43 Trilyun (2016), 2,18 Trilyun (2017) dan 2,56 Trilyun (2018) dan menurun menjadi 2,1 Trilyun (2020). Meskipun terdapat penurunan di tahun 2020, stroke masih menjadi peringkat ke tiga sebagai penyeap dana jaminan sosial BPJS. Diabetes melitus yang merupakan faktor risiko stroke mengalami peningkatan prevalensi di Provinsi DKI Jakarta dari tahun 2,5% (2013) menjadi 3,4% (2018).Tujuan: mengetahui hubungan diabetes melitus tipe 2 dengan kejadian penyakit stroke pada penduduk berusia ≥18 tahun Di Provinsi DKI Jakarta tahun 2018. Metode: Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif dan menggunakan studi cross-sectional analitik. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder Riskesdas 2018. Terdapat 1.537 sampel yang dianalisis sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil: Berdasarkan hasil analisis didapatkan prevalensi stroke sebesar 1,6% dan diabetes melitus tipe 2 sebesar 7,7%. Terdapat hubungan yang signifikan antara variabel diabetes melitus tipe 2 dengan kejadian penyakit stroke. Selain itu, variabel kovariat seperti usia (POR=5,26; 95%CI: 2,28-12,12), pekerjaan (POR=2,63; 95%CI: 1,12-6,19), hipertensi (POR=9,52; 95%CI: 2,83-32,06), dan penyakit jantung (POR=5,30; 95%CI: 1,75-16,04) juga berhubungan secara signifikan dengan kejadian stroke. Berdasarkan analisis stratifikasi didapatkan bahwa variabel yang menjadi efek interaksi (modifikasi) adalah pendidikan, hipertensi, dan penyakit jantung. Sedangkan variabel yang termasuk variabel perancu adalah usia, pendidikan, hipertensi, dan penyakit jantung. Kesimpulan: Diabetes melitus tipe 2 merupakan faktor risiko yang penting untuk diperhatikan dalam pencegahan dan pengendalian stroke di Indonesia.
Bankground: Cardiovascular disease, including stroke, is a major health problem in the world. Every year, there are more than 13.7 million new cases and 5.5 million deaths from stroke that occur globally. Based on Riskesdas data in 2018, the prevalence of stroke in Indonesia reached 10.9 per mile. In DKI Jakarta Province, the prevalence of stroke based on doctor's diagnosis increased from 9.7 per mile (2013) to 12.2 per mile (2018). Based on IDF data in 2019, the prevalence of diabetes in Indonesia reached 10.7 million cases and made Indonesia the country with the seventh most cases globally. In addition, according to the Health Social Security Administration (BPJS), the funds used for stroke services continued to increase, namely 1.43 trillion (2016), 2.18 trillion (2017) and 2.56 trillion (2018) and decreased to 2. 1 Trillion (2020). Although there is a decline in 2020, stroke is still ranked third as a provider of BPJS social security funds. Diabetes mellitus which is a risk factor for stroke has increased prevalence in DKI Jakarta Province from 2.5% (2013) to 3.4% (2018). Objective: To determine the relationship between type 2 diabetes mellitus and the incidence of stroke in the population aged 18 years. In DKI Jakarta Province in 2018. Methods: The study was conducted with quantitative methods and used an analytical cross-sectional study. The data source used in this study is secondary data from Riskesdas 2018. There are 1,537 samples analyzed according to the inclusion and exclusion criteria. Results: Based on the results of the analysis, the prevalence of stroke was 1.6% and type 2 diabetes mellitus was 7.7%. There is a significant relationship between the variables of type 2 diabetes mellitus and the incidence of stroke. In addition, covariate variables such as age (POR=5.26; 95%CI: 2.28-12.12), occupation (POR=2.63; 95%CI: 1.12-6.19), hypertension ( POR=9.52; 95%CI: 2.83-32.06), and heart disease (POR=5.30; 95%CI: 1.75-16.04) were also significantly associated with the incidence of stroke. Based on the stratification analysis, it was found that the variables that became the interaction effect (modification) were education, hypertension, and heart disease. Meanwhile, the confounding variables were age, education, hypertension, and heart disease. Conclusion: Type 2 diabetes mellitus is an important risk factor to consider in the prevention and control of stroke in Indonesia.
Read More
S-11019
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arsyalia Witri Adinda; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Evi Martha, Esti Widiastuti Mangunadikusumo
Abstrak:
Depresi merupakan gangguan mental yang keberadaannya berkaitan erat dengan penyakit kronis. Salah satu penyakit kronis yang penderitanya paling banyak mengalami depresi adalah diabetes melitus. DKI Jakarta merupakan provinsi di Indonesia dengan prevalensi depresi dan diabetes melitus yang terus meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan kejadian depresi pada penderita diabetes melitus di DKI Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi potong lintang. Sumber data yang digunakan, yaitu data Riset Dasar Kesehatan (Riskesdas) 2018. Sampel terdiri dari 421 penderita diabetes melitus yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah uji regresi logistik ganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 421 subjek penelitian, sebanyak 13,8% mengalami depresi. Hasil analisis pada penelitian ini menunjukkan hasil yang signifikan antara faktor biologis, yaitu jenis kelamin (POR = 7,97 (95% CI = 3,23-19,62), p = <0,001) dan lama menderita diabetes melitus (POR = 2,72 (95% CI = 1,48-5,01), p = 0,001), faktor psikologis, yaitu status merokok (POR = 5,45 (95% CI = 2,43-12,24), p = <0,001), konsumsi alkohol (POR = 5,76 (95% CI = 1,32-25,04), p = 0,020), dan tingkat aktivitas fisik (POR = 2,38 (95% CI = 1,28-4,43), p = 0,006), serta faktor sosial, yaitu tingkat pendidikan, (POR = 2,79 (95% CI = 1,43-5,46), p = 0,003).

Depression is a mental disorder whose existence is closely related to chronic diseases. One of the chronic diseases that suffer from the most depression is diabetes mellitus. DKI Jakarta is a province in Indonesia with an increasing prevalence of depression and diabetes mellitus. This study aims to determine the determinants of the incidence of depression in patients with diabetes mellitus in DKI Jakarta. This research is a quantitative study with a cross-sectional study design. The data source used, namely the 2018 Basic Health Research (Riskesdas) data. The sample consisted of 421 people with diabetes mellitus who met the inclusion and exclusion criteria. The analysis used in this study was multiple logistic regression test. The results of the analysis showed that of the 421 research subjects, 13.8% experienced depression. The results of the analysis in this study showed significant results between biological factors, namely gender (POR = 7.97 (95% CI = 3.23-19.62), p = <0.001) and duration of diabetes mellitus (POR = 2.72 (95% CI = 1.48-5.01), p = 0.001), psychological factors, namely smoking status (POR = 5, 45 (95% CI = 2.43-12.24), p = <0.001), alcohol consumption (POR = 5.76 (95% CI = 1.32-25.04), p = 0.020), and physical activity level (POR = 2.38 (95% CI = 1.28-4.43), p = 0.006), and social factors, namely education level, (POR = 2.79 (95% CI = 1.43-5.46), p = 0.003).
Read More
S-11589
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rumiyati; Pembimbing: Lukman Hakim Tarigan, Ekowati Rahajeng; Penguji: Nasrin Kodim, Ratna Djuwita, Andi Sari Bunga Untung
Abstrak:

Penyakit diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2) merupakan penyakit metabolik kronik yang betkaitan gaya hidup, penyakit ini semakin meningkat jumlahnya dan saat ini penyakit diabetes melitus sudah merupakan salah satu ancaman utama kesehatan umat manusia jumlah penderita penyakit DM tipe 2 di negara maju maupun negara berkembang terus meningkat setiap tahun. Indonesia menempati urutan ke 4 jumlah penderita DM di dunia setelah India, Cina, Amerika Serikat Penyakit ini tidak bisa ditumbuhkan dan dampak yaug ditimbulkan dari penyakit ini melipuli beberapa aspek antara lain aspek personal sosial dan ekonomi Upaya pencegahan yang paling baik agar insiden DM tipe 2 tidak meningkat adalah dengan mengendalikan faktor risikonya. Salah satu Faktor risiko yang dapat diubah yang ada pada seseorang adalah meningkatkan aktifitus fisik. Penelitian ini adalah penelitian yang melihat aktifitas fisik dengan risiko kejadian DM tipe 2 di lima wilayah DKI Jakarta, subyek yang terlihat dalam penelitian ini adalah DKI Jakarta yang berusia 25 s/d 64 talum. Penelitian ini dilakukan karena adanya kecenderungan peningkatan prevelen DM lipe 2 di masyarakat dan terjadinya perubahan gaya hidup dimasyarakat yang lebib banyak menyukai gaya hidup inaktif. Penelilian ini menggunakan pendekalan kuantitalif dengan disain penelitian kasus­ kontrol menggunakan data sekunder dari data survei Faktor Risiko penyakit tidak menular di lima wilayah DKI Jakarta tahun 2006. Yang menjadi kasus pada penelitian ini adatah subyek dengan hasil pemeriksaan laboratorium glukosa darah dinyatakan DM oleh dokter, sedangkan kontrol adalah subyek dengan hasil pemeriksaan laboratorium glukosa darah dinyatakaa tidak DM oleh dokter Jumlah sampel dalam penelilian ini adatah 575 subyek. Analisa data dilkukan dengan uji chi square dan analisis multivariat logistic regrusion. Dari hasil penelitian temyata tidak seluruh variabel independ yang diteliti masuk dalam ltandidat model don banya t..-dapat6 wriabel yang bisa masuk dslam kand.idat model ynitu umur,IMT,Riwaynt hipertenskadm: WL, kadm: trigliserida don diet semi, don terdapal 2 variabel yang m..-upeka confounder ynitu wriobel umur don kadm: trigliserida. Pada basil ekhir pencfilian ini didapalltan niJai p value sebesar 0,306 nilai OR scbesar 0,782 (95% CI: 0,488-1,253) nilai tersebut setelah dikontrol dengan variabel umur, don kadm: trigliserida Artinya adanyalmbungan tersebut bel:sifat protektif tapi hubuogan lmebut tidek bemJakna, seltingga penelililm. ini belum bisa membuktikon bahwa ada lmbungan aktifitas fisik dengan kejadian DM tipe2. Kelermban poda penelitian ini - lain, time -adak dapat dilihat dengan jelas, masih terdapat bias dan masih dipengarubi adanya confounding_ !'ada penelitian dimasa mendatmlg perlu mempertimbangkan disoin yang lebih tepat dengan knalitas data yang lebih baik.


Diabetes mellitus disease Type 2 is a metabolic chronicle disease which directly with people life style, this disease progressively increase by bets and at this present time diabetes mellitus disease is one of main threat of health of the mankind. Amount of Diabetes mellitus disease Type 2 patients increase both in developing countries and well developed countries every single year. Indonesia is in 41h place on the amount of Diabetes mellitus patients in worlds after India. Cbina, United States (Depkes,2005). This disease cannot be healed or effect which generaled from this disease cover some aspects such as personnel, social and economic aspects. The most important prevention effort so that Diabetes mellitus disease Type 2 do not increase is by controlling the risk factor. One of Risk factor available for alknd on the someone is increasing the physical activity. This r=h is a research focus in physical activity and the occurrence of Diabetes mellitus disease Type 2 in live region in DKI subjects in this research are people with age of25 to 64 year. Main reason of this research caused hy tendency of the increasing prevalcal of Diabetes mellilns disease Type 2 in oommunity and the change of people life style where tbcy preferred to choose inactive life style. This =h apply quantitative approach by case-control design research using secondmydata from Risk Factor Non Contagious Disease data SUIVcy in five region of DKI Jalou:la 2006. Wliat beooming case at this research is subject with .result inspection of Blood glucose laboratory witb Diabeles mellitus disease Type 2, while control variable is sullject with result inspeclioo of blood glucose and no Diabetes mellitus disease Type 2 detected Amount of samples in Ibis research are 575 subjects Data analysis acoomplished with chi-square test and logistic regression multivariate analysis. From research result simply not all independent variable which checked by is admission in modeling candidate and only 6 variable which can enter in model candidate that is age, JMT, hypertension history, rate IDL, triglyceride rate and fiber diet, and !here are 2 variable which is confounder variable that is triglyceride rate and age. On the final result of this research we got value equal to 0,306, OR value equal to o,m ( 95 % Cl : 0,48&-1.253) assess after controlled with age variable, and triglyceride rate_ Which mean that there is relation, and protective bet the relation is not significant, so !bat this research not yet prove that there is relation between physical activity with the occurrence of Diabetes mellitus disease Type 2. Weakness of this research for example time sequent have no seen clearly, still there are diffraction and still influenced by the existence of connfounding.

Read More
T-2784
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Danastri Widoningtyas; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Ratna Djuwita, Rofingatul Mubasyiroh
S-10407
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dessy Yusra Zahira; Pembimbing: Helda; Penguji: Syahrizal Syarif, Ananda
Abstrak: Opasifikasi lensa mata (Katarak) merupakan penyebab tersering kebutaan yang dapat diobati di seluruh dunia. Hasil survey tahun 2014-2016 yang dikembangkan oleh International Center of Eye Health (ICEH) dan direkomendasikan oleh WHO melalui metode Rapid Assasment of Avoidable Cataract (RAAB) pada populasi usia 50 tahun di dapatkan prevalensi kebutaan di provinsi DKI Jakarta adalah 1,9% dengan persentase katarak 81,9%. Berdasarkan data yang ada diperkirakan setiap tahun kasus baru buta katarak bertambah 0,1% dari jumlah penduduk atau kurang lebih 250.000 orang per tahun. Penelitian ini menggunakan desain Cross sectional dan bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian katarak pada penderita diabetes mellitus tipe 2 dan hipertensi di Provinsi DKI Jakarta tahun 2018. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data surveilans penyakit tidak menular. Didapatkan sampel 754 kasus diabetes mellitus dan 700 kasus hipertensi. Analisis bivariat dilakukan untuk mengidentifikasi faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian katarak pada penderita diabetes melitus tipe 2 dan penderita hipertensi. Dalam penelitian ini didapatkan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian katarak pada penderita diabetes mellitus tipe 2 adalah umur ≥ 45 tahun (PR 2.794; 95%CI 1.357- 5.754), pekerjaan (PR 1.716; 95%CI 1.289-2.285), kurang aktivitas fisik (PR 1.406; 95%CI 1.072-1.842), dan kurang makan sayur (PR 1.769; 95%CI 1.350-2.318). Faktor protektif terhadap kejadian katarak pada penderita diabetes mellitus tipe 2 adalah jenis kelamin perempuan (PR 0.522; 95%CI 0.400-0.681), obesitas (PR 0,633; 95% CI 0,478-0,839), dan hipertensi (PR 0.627; 95%CI 0.468-0.839). Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian katarak pada penderita hipertensi adalah konsumsi alkohol (PR 2.559; 95%CI 2.332-2.808), dan DM tipe 2 (PR 1.459; 95%CI 1.219- 1.819). faktor protektif terhadap kejadian katarak pada penderita hipertensi adalah pekerjaan (PR 0.258; 95%CI 0.208-0.320). Kata kunci : Katarak; Katarak DM; Katarak Hipertensi
Read More
S-10012
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mutia Nafisah Zahra; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Telly Purnamasari Agus
Abstrak: Prevalensi diabetes melitus (DM) di Indonesia mengalami peningkatan baik berdasarkan diagnosis dokter ataupun pemeriksaan kadar glukosa darah. Selain itu, DM menyumbang tingkat kematian yang tinggi, morbiditas di semua kelompok umur, serta memberikan pembebanan pada biaya kesehatan. Asma merupakan penyakit pernapasan kronis yang menjadi faktor risiko potensial DM mengalami peningkatan jumlah penderita, penyebab morbiditas orang dewasa, peningkatan angka kematian serta tingginya beban kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asma dengan kejadian DM tipe 2 pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan sumber data sekunder Riskesdas 2018. Terdapat 23.119 sampel yang sesuai dengan kriteria studi. Proporsi kejadian DM tipe 2 sebesar 14,8% dan proporsi kejadian asma sebesar 3,1%. Proporsi DM tipe 2 lebih besar pada penderita asma (16,7%) dibanding dengan bukan penderita asma (14,7%). Jenis kelamin, perilaku merokok, konsumsi alkohol, dan kadar trigliserida memiliki efek modifikasi dengan asma terhadap hubungannya dengan DM tipe 2. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa asma tetap tidak berhubungan signifikan dengan kejadian DM tipe 2 setelah dikontrol semua variabel kovariat (PR=1,138; 95% CI: 0,94-1,36; p=0,162). Penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk studi mendatang dalam menganalisis hubungan kedua penyakit ini lebih lanjut
Read More
S-10899
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Retia Rismawati; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Esti Widiastuti
Abstrak: Latar belakang: Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat tidak hanya di Indonesia, namun juga di dunia karena prevalensinya yang terus meningkat. Hipertensi yang juga merupakan faktor risiko diabetes melitus tipe 2 memiliki prevalensi yang sangat tinggi di Indonesia. Tidak hanya itu, prevalensi kedua penyakit tersebut meningkat seiring bertambahnya usia, dimulai dari usia ≥40 tahun. ujuan: Untuk mengetahui hubungan hipertensi dengan kejadian diabetes melitus tipe 2 pada populasi berusia ≥40 tahun di Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Sumber data yang digunakan berasal dari hasil Riskesdas 2018. Terdapat sebanyak 15.026 partisipan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Hasil: Prevalensi diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi pada populasi berusia ≥40 tahun di Indonesia masing-masing sebesar 21,3% dan 51,8%. Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara hipertensi dengan diabetes melitus tipe 2 pada populasi berusia ≥40 tahun di Indonesia. fek gabungan antara hipertensi dengan obesitas sentral memiliki risiko sebesar 2,07 kali lebih besar terhadap kejadian diabetes melitus tipe 2 setelah dikontrol oleh jenis kelamin dan obesitas. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara hipertensi dengan kejadian diabetes melitus tipe 2 pada populasi berusia ≥40 tahun di Indonesia. Risiko diabetes melitus tipe 2 yang lebih tinggi terjadi pada orang yang mengalami hipertensi dan obesitas sentral. Saran: Perlu dilakukan deteksi dini diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi sedini mungkin, terutama bagi penduduk yang berusia ≥40 tahun dan mengalami obesitas sentral
Read More
S-10936
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wahyu Wulandari Ma'ruf; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Puput Oktamianti, Wahyu Septiono, Aries Hamzah
Abstrak:
Prevalensi Diabetes Melitus (DM) Tipe 2 yang terus meningkat menjadikannya sebagai salah satu tantangan utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Keragaman kondisi sosial, ekonomi, dan kesehatan antar wilayah berpotensi menimbulkan variasi kejadian DM Tipe 2 yang dipengaruhi oleh determinan individu maupun kontekstual. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan determinan individu dan kontekstual terhadap kejadian DM Tipe 2 di Indonesia menggunakan pendekatan multilevel. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan data Survei Kesehatan Indonesia dan Badan Pusat Statistik tahun 2023. Sampel penelitian terdiri dari 15.303 responden dari 249 kabupaten/kota. Analisis dilakukan menggunakan regresi logistik multilevel dengan kabupaten/kota sebagai level kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan proporsi DM Tipe 2 sebesar 15,05% serta adanya variasi geografis antar kabupaten/kota, dengan wilayah risiko tinggi lebih banyak ditemukan di Indonesia bagian barat dan tengah. Determinan individu yang berhubungan dengan peningkatan odds kejadian DM Tipe 2 meliputi pertambahan usia (OR=1,01;95%CI:1,01–1,02), aktivitas fisik rendah (OR=1,34;95%CI:1,11–1,65), obesitas sentral (OR=1,17;95%CI:1,01–1,36), dan riwayat hipertensi (OR=1,28;95%CI:1,11–1,48). Sementara itu, determinan kontekstual tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik setelah mengontrol determinan individu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa varaisi kejadian DM Tipe 2 dalam populasi penelitian lebih banyak dijelaskan oleh determinan individu dibandingkan determinan kontekstual. Oleh karena itu, penguatan deteksi dini dan pengendalian faktor risiko metabolik melalui skrining obesitas sentral, hipertensi, dan gangguan glukosa darah perlu dioptimalkan untuk menurunkan beban DM Tipe 2 di Indonesia.

The increasing prevalence of Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) continues to rise and has  become a major public health challenge in Indonesia. Variations in social, economic, and health conditions across regions may contribute to geographic disparities in T2DM occurrence through both individual- and contextual-level determinant. This study aimed to examine the association between individual and contextual determinants of T2DM in Indonesia using a multilevel approach. A cross-sectional study was conducted using data from the 2023 Indonesia Health Survey and Statistics Indonesia. The study included 15,303 respondents from 249 districts. Data were analyzed using multilevel logistic regression with districts as the contextual level. The findings showed that the proportion of T2DM was 15.05%, with geographic variation observed across districts. Areas with a higher risk of T2DM were predominantly located in western and central Indonesia. Individual determinants associated with higher odds of T2DM included increasing age (OR=1.01;95%CI:1.01–1.02), low physical activity (OR=1.34;95%CI:1.11–1.65), central obesity (OR=1.17;95%CI:1.01–1.36), and a history of hypertension (OR=1.28;95%CI:1.11–1.48). In contrast, contextual determinants were not significantly associated with T2DM after adjustment for individual determinants. This study concludes that variation in T2DM occurrence was explained more by individual determinants than by the contextual determinants examined. Therefore, strengthening early detection and control of metabolic risk factors through screening for central obesity, hypertension, and abnormal blood glucose levels should be prioritized to reduce the burden of T2DM in Indonesia.
Read More
T-7531
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gabriella Sarah Deandra Tanod; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Yoan Hotnida Naomi
Abstrak:
Latar Belakang: Diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan global dan terus menunjukkan tren peningkatan prevalensi, termasuk di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensi diabetes di Provinsi DKI Jakarta mencapai 3,4%, lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 2,0%. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian DM tipe 2 pada penduduk usia ≥15 tahun di Provinsi DKI Jakarta berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan menganalisis hubungan antara variabel faktor sosiodemografis (usia dan jenis kelamin), faktor biologis (obesitas dan hipertensi) serta faktor perilaku (merokok, konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, konsumsi alkohol, konsumsi buah, dan konsumsi sayur) terhadap kejadian DM tipe 2. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan prevalensi DM tipe 2 sebesar 16.7% (62 dari 371 kasus). Analisis menunjukkan bahwa kelompok usia ≥55 tahun (POR 0.240; 95% CI: 0.131-0.438), jenis kelamin laki-laki (POR 0.456; 95% CI: 0.259-0.803), perilaku merokok (POR 3.513; 95% CI: 1.997-6.181), konsumsi makanan manis (POR 3.477; 95% CI: 1.983–6.098), dan konsumsi minuman manis (POR 2.909; 95% CI: 1.667–5.076) memiliki hubungan signifikan secara statistik terhadap kejadian DM tipe 2. Sementara itu, obesitas, hipertensi, konsumsi alkohol, konsumsi buah, dan konsumsi sayur tidak memiliki hubungan yang signifikan. Kesimpulan: Faktor sosiodemografi dan perilaku memiliki hubungan yang bermakna dengan diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan untuk membuat program pencegahan dan pengendalian diabetes melitus tipe 2 sehingga dapat menurunkan prevalensi diabetes melitus tipe 2 di Provinsi DKI Jakarta.

Background: Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is one of the non-communicable diseases that has become a global health concern and continues to show an increasing trend in prevalence, including in Indonesia. According to the 2018 Basic Health Research (Riskesdas), the prevalence of diabetes in DKI Jakarta Province reached 3.4%, which is higher than the national average of 2.0%. Objective: This study aims to identify the factors associated with the occurrence of T2DM among individuals aged ≥15 years in DKI Jakarta Province based on the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI). Methods: This study employed a cross-sectional design to analyze the association between T2DM and several factors, including sociodemographic factors (age and sex), biological factors (obesity and hypertension), and behavioral factors (smoking, consumption of sweet foods, sweet drinks, alcohol, fruits, and vegetables). Results: The study found a T2DM prevalence of 16.7% (62 out of 371 cases). The analysis showed that individuals aged ≥55 years (POR 0.240; 95% CI: 0.131–0.438), male sex (POR 0.456; 95% CI: 0.259–0.803), smoking behavior (POR 3.513; 95% CI: 1.997–6.181), consumption of sweet foods (POR 3.477; 95% CI: 1.983–6.098), and sweet drinks (POR 2.909; 95% CI: 1.667–5.076) were statistically significantly associated with the occurrence of T2DM. In contrast, obesity, hypertension, alcohol consumption, fruit consumption, and vegetable consumption were not significantly associated. Conclusion: Sociodemographic and behavioral factors are significantly associated with type 2 diabetes mellitus. This study is expected to contribute to the development of prevention and control programs for type 2 diabetes mellitus, with the goal of reducing its prevalence in DKI Jakarta Province.
Read More
S-12148
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive