Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40956 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Achmad Dahlan; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Hendra, Doni Agus Sumitro, Fermi Dwi Wicaksono
Abstrak: Tesis ini membahas faktor-faktor risiko kelelahan dan pemulihan kelelahan, tingkat kelelahan dan pemulihan, serta potensi penurunan Human Performance akibat kelelahan akut dan kronis. Penelitian ini dilakukan di perusahaan Migas X yang merupakan perusahaan minyak dan gas bumi (migas) dengan proses kerja kompleks dan kritikal yang berpotensi menimbulkan kelelahan pada pekerja dan menyebabkan kecelakaan kerja. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional area dilakukan dengan metode pengisian kuesioner online oleh 1650 responden yang didapatkan dengan cara random sampling pada bulan April hingga Mei 2021. Data yang masuk di olah untuk mendaptkan nilai kelelahan akut, kronis, pemulihan, at-risk behavior, human performance, kemudian dilakukan Analisis hubungan antara faktor risiko kelelahan, nilai kelelahan, pemulihan serta human performance. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat enam faktor risiko yang secara signifikan memengaruhi kelelahan akut, sembilan faktor risiko yang secara signifikan memengaruhi kelelahan kronis, dua faktor yang secara signifikan memengaruhi pemulihan kelelahan, serta terdapat hubungan yang signifikan antara kenaikan tingkat kelelahan kronis ataupun akut terhadap penurunan Human Performance
This thesis discusses the factors of fatigue and recovery, level of fatigue and recovery, the potential human performance degradation due to acute and chronic fatigue. This research was conducted at the Migas X company which is an oil and gas company with a complex and critical process that causes fatigue to workers and potentially cause work accidents. The design of this study is a cross sectional and the data conducted by online questionnaire which filled out by 1650 respondents obtained by random sampling in April till May 2021. The results showed that there were six risk faktors that significantly affected acute fatigue, nine risk faktors that significantly affected chronic fatigue, two faktors that significantly exhaust fatigue recovery, and there is a significant relationship between an increase in chronic or acute fatigue and a decrease in Human Performance
Read More
T-6297
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aulia Erid Angelica; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Hendra, David Irianto, Subkhan
Abstrak:
Kelelahan kerja (fatigue) merupakan salah satu faktor yang dapat menurunkan human performance serta meningkatkan risiko human error dan kecelakaan kerja, khususnya pada industri konstruksi yang memiliki karakteristik pekerjaan dengan tuntutan fisik dan mental yang tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja serta hubungan antara kelelahan kerja dan human performance pada pekerja konstruksi PT X. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 219 pekerja konstruksi PT X yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Variabel yang diteliti meliputi faktor terkait pekerjaan (durasi kerja, shift kerja, beban kerja, pekerjaan monoton, dan reward) serta faktor tidak terkait pekerjaan (indeks massa tubuh, waktu tempuh, usia, kualitas tidur, dan kuantitas tidur). Tingkat kelelahan kerja diukur menggunakan Fatigue Assessment Scale for Construction Workers(FASCW), sedangkan human performance diukur menggunakan instrumen Human Performance dari U.S. Department of Energy (DOE). Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan Uji Regresi Logistik Ordinaluntuk menganalisis hubungan faktor-faktor dengan kelelahan kerja serta Uji Mann–Whitney untuk menganalisis hubungan antara kelelahan kerja dan human performance. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 187 pekerja (85,4%) mengalami kelelahan kerja. Terdapat hubungan yang signifikan antara durasi kerja (OR=2,61; 95% CI: 1,20–5,76), beban kerja (OR=32,37; 95% CI: 9,40–111,48), pekerjaan monoton (OR=10,42; 95% CI: 3,07–35,39), indeks massa tubuh (OR=3,93; 95% CI: 1,68–9,19), waktu tempuh (OR=2,38; 95% CI: 1,10–5,17), usia (OR=3,44; 95% CI: 1,58–7,50), kualitas tidur (OR=3,20; 95% CI: 1,41–7,29), dan kuantitas tidur (OR=2,53; 95% CI: 1,18–5,42) dengan kelelahan kerja, sedangkan shift kerja (OR=1,42; 95% CI: 0,67–3,01) dan reward (OR=0,83; 95% CI: 0,34–2,05) tidak berhubungan dengan kelelahan kerja. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara kelelahan kerja dan human performance (p<0,001), di mana pekerja yang mengalami kelelahan cenderung memiliki human performance yang lebih buruk dibandingkan pekerja yang tidak mengalami kelelahan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kelelahan kerja pada pekerja konstruksi PT X berhubungan dengan berbagai faktor terkait pekerjaan maupun faktor tidak terkait pekerjaan serta berhubungan dengan penurunan human performance. Oleh karena itu, pengelolaan kelelahan kerja perlu menjadi bagian dari program keselamatan dan kesehatan kerja melalui pengendalian faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja guna meningkatkan keselamatan, kesehatan, dan human performance pekerja.

Occupational fatigue is one of the major factors contributing to decreased human performance and an increased risk of human error and workplace accidents, particularly in the construction industry, where work is characterized by high physical and mental demands. This study aimed to analyze the factors associated with occupational fatigue and to examine the relationship between occupational fatigue and human performance among construction workers at PT X. This study employed a cross-sectional design involving 219 construction workers at PT X selected through purposive sampling. The variables examined included work-related factors (working hours, shift work, workload, monotonous work, and reward) and non-work-related factors (body mass index, commuting time, age, sleep quality, and sleep duration). Occupational fatigue was assessed using the Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), while human performance was measured using the Human Performance instrument developed by the U.S. Department of Energy (DOE). Data were analyzed descriptively and inferentially using Ordinal Logistic Regression to examine the associations between the studied factors and occupational fatigue, and the Mann–Whitney test to analyze the relationship between occupational fatigue and human performance. The results showed that 187 workers (85.4%) experienced occupational fatigue. Significant associations were found between occupational fatigue and working hours (OR=2.61; 95% CI: 1.20–5.76), workload (OR=32.37; 95% CI: 9.40–111.48), monotonous work (OR=10.42; 95% CI: 3.07–35.39), body mass index (OR=3.93; 95% CI: 1.68–9.19), commuting time (OR=2.38; 95% CI: 1.10–5.17), age (OR=3.44; 95% CI: 1.58–7.50), sleep quality (OR=3.20; 95% CI: 1.41–7.29), and sleep duration (OR=2.53; 95% CI: 1.18–5.42). In contrast, shift work (OR=1.42; 95% CI: 0.67–3.01) and reward (OR=0.83; 95% CI: 0.34–2.05) were not significantly associated with occupational fatigue. Furthermore, occupational fatigue was significantly associated with human performance (p<0.001), with fatigued workers demonstrating poorer human performance than those who were not fatigued. This study concludes that occupational fatigue among construction workers at PT X is associated with both work-related and non-work-related factors and is significantly associated with decreased human performance. Therefore, fatigue management should be integrated into occupational safety and health programs by addressing the factors associated with occupational fatigue to improve workers' safety, health, and human performance.
Read More
T-7691
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nesya Dinda Rahmaningtyas; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Hendra, Laksita Ri Hastiti, Dwi Yuliati, Rizki Ananda
Abstrak:
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan antara faktor risiko kelelahan kerja serta kelelahan kerja kronis dengan human performance pada pekerja industri pengolahan ikan di PT X. Industri pengolahan ikan memiliki karakteristik pekerjaan dengan tuntutan fisik yang tinggi, pekerjaan repetitif, serta paparan lingkungan kerja yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kelelahan kerja kronis yang berhubungan dengan human performance. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 94 responden pekerja di PT X. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, observasi, serta pengukuran faktor risiko kerja meliputi faktor individu, faktor fisik, faktor psikososial, dan faktor lingkungan kerja. Kelelahan kerja kronis diukur menggunakan instrumen OFER, kualitas tidur menggunakan PSQI, psikososial menggunakan COPSOQ III, serta human performance diukur melalui indikator at-risk behavior. Data dianalisis menggunakan uji regresi untuk melihat hubungan antar variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kelelahan kerja kronis dengan human performance pada pekerja PT X (p = 0,008) dengan koefisien regresi sebesar -13,11 yang menunjukkan bahwa peningkatan kelelahan kerja kronis berkaitan dengan penurunan skor human performance. Faktor yang paling dominan berkaitan dengan kelelahan kerja kronis adalah kualitas tidur yang buruk (OR = 5,83; 95% CI: 1,73–19,63), tuntutan kerja yang tinggi (OR = 4,43; 95% CI: 1,31–14,90) dan suhu lingkungan kerja yang tidak sesuai (OR = 4,69; 95% CI: 1,11–19,88) menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kelelahan kerja kronis. Hasil ini menunjukkan bahwa kelelahan kerja pada pekerja merupakan kondisi multifaktorial yang dipengaruhi oleh interaksi faktor individu, pekerjaan, dan lingkungan serta berasosiasi dengan human performance.

This study was conducted to analyze the relationship between work-related fatigue risk factors and the impact of chronic fatigue on human performance among workers in the fish processing industry at PT X. The fish processing industry is characterized by high physical workload, repetitive tasks, and exposure to environmental conditions that may increase the risk of fatigue and subsequently affect human performance. This study employed a cross-sectional design involving 94 workers at PT X. Data were collected using questionnaires, observations, and measurements of work-related risk factors including individual, physical, psychosocial, and environmental factors. Work fatigue was measured using the OFER instrument, sleep quality using PSQI, psychosocial factors using COPSOQ III, and human performance was assessed through at-risk behavior indicators. Data were analyzed using regression analysis to examine the relationships between variables. The results showed a significant relationship between chronic fatigue and human performance among workers at PT X (p = 0.008), with a regression coefficient of -13.11, indicating that an increase in chronic fatigue is associated with a decrease in human performance scores. The most dominant factors associated with chronic fatigue were poor sleep quality (OR = 5.83; 95% CI: 1.73–19.63), high job demands (OR = 4.43; 95% CI: 1.31–14.90), and inappropriate workplace temperature (OR = 4.69; 95% CI: 1.11–19.88), all of which showed significant relationships with chronic fatigue. These findings indicate that occupational fatigue among workers is a multifactorial condition influenced by the interaction of individual, job-related, and environmental factors, and is associated with human performance.
Read More
T-7697
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Trisnajaya; Pemb. Robiana Modjo; Penguji: Ridwan Z. Sjaaf, Baiduri, Jusran Ampulembang, Mayarni
Abstrak:

Hipertensi adalah salah satu penyakit sistem kardiovaskuler dengan prevalensi tertinggi di masyarakat dan dapat menimbulkan berbagai gangguan organ vital tubuh dengan akiba.t kelemahan fungsi organ cacat maupun kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia. pola kerja. merokok. asupan garam. olahraga teratur dan status gizi terhadap kejadian hipertensi pada pekerja area produksi perusaha.an migas X Kalimantan Timur tahun 2008. Peneiitian ini tergolong penelitian observasional dengan rancangan penelitian kasus kontrol. Populasi penelitian ada!ah pekerja diarea produksi lapangan produksi S perusahaan migas X Kalimantan Timur tahun 2008. Sampe1 penelitia.n adalah seluruh pekerja di area produksi Japangan produksi S yang menderita hipertensi mempunyai hubungan bermakna dengan hipertensi (p value = 0,005, OR "" 3,00095% CI: 1,385 6,499), {p value = 0,043, OR = 2,286 95% CI: 1,092-4,783), merokok tidak menunjukkan hubungan bennakna dengan terjadinya hipertensi (p value= 0 550, CI: 0,627 - 3.0J3), konsumsi garam mempunyai hubungan bermakna dengan hipertensi (p value = 0,045, OR = 2,486 95% CI: 1,096-5,641 ), olahraga teratur mempunyai hubungan bennakna (p value = 0,033, OR = 2,833 95% CI: 1,165-6,892) dan status gizi mempunyai hubungan bermakna dengan biperteosi (p value = 0,028, OR= 2,429 95% CI:1,163-5,071) Oari seluruh faktor risiko tersebut yang paling dominan adalah olahraga teratur. Program surveilans dan promosi kesehatan pekerja perlu diiakukan untuk mengetahui dan mencegah faktor-faktor hipertensi lainnya.


Hypertension is oneof the cardiovascular system illnesses with the highest prevalence in the community and can cause serious disturbance of the vital body organ with resulting from the weakness of the organ function,. the defect and the death. This research aimed at knowing the association of the age, the pattern of work, smoking, salt consumption, doing regular sport and the status of the nutrient towards the hypertension incident in the workers of the production area of oil and gas company X in East Kalimantan year 2008, This research is classified as an observational research with the plan of control case research. The research population is the workers in the production area nutrient status. The dependent variable is hypertension. The data is processed quantitatively and is analysed with the computer help. The results of this research into 120 (60 cases and 60 controls) workers in production area of the production field :"S" in oil and gas company "X" shows that age has significant relations with hyper tension (p value = 0,005, OR - 3,000 95% CI: 1,385-6,499), the pattern of work has significant relations with hypertension (p value = 0,043, OR = 2,286 95% CI: 1,092-4,783)smoking has not significant relations with hypertension (p value0,550, OR= 1,375 95% Cl: 0,627-3,013), salt consumption has significant relations with hypertension (p value = 0,045, OR = 2,486 95% CI: 1,096-5,641), doing regular sport has significant relations with hypertension (p value= 0,033, OR= 2,833 95% CI: 1,165-6,892) and the nutrient status has significant relations with hypertension (p value = 0 028.OR = 2,429 95% CI:1,163·5)07l). From all those risk. factors, the most dominant is doing regular sport. Surveillance and health promotion program should be done to detection and prevention about other hypertension risk factors.

Read More
T-2837
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iqbal Mochtar; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Sabarinah Prasetyo, Fatma Lestari, Istiati Suraningsih, Muhammad Soffiudin
Abstrak: Penyakit kardiovaskular adalah penyakit yang memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi, baik pada populasi masyarakat umum maupun populasi pekerja. Pekerja migas, baik off-shore maupun on-shore, terpapar dengan berbagai hazard, yang secara langsung maupun tidak langsung meningkatkan faktor risiko dan risiko kardiovaskular mayor mereka. Hingga saat ini belum ditemukan adanya studi yang mempelajari tentang faktor risiko dan risiko kardiovaskular mayor pada pekerja migas di Timur Tengah. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko dan risiko kardiovaskular mayor pada pekerja off-shore dan on-shore perusahaan migas
Read More
T-5812
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diva Mahardikawati; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Fatma Lestari, Tubagus Dwika Yuantoko, Bima Haryadi
Abstrak:
Pekerja konstruksi memiliki risiko tinggi mengalami kelelahan kerja karena karakteristik pekerjaannya yang melibatkan aktivitas fisik berat, durasi kerja panjang, serta paparan lingkungan kerja seperti panas dan kebisingan. Kelelahan kerja dapat berdampak pada penurunan konsentrasi, ketelitian, kecepatan respons, dan human performance pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko kelelahan kerja dan dampak kelelahan kerja terhadap human performance pada pekerja konstruksi di PT X tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 113 pekerja konstruksi. Variabel yang diteliti meliputi faktor individu, faktor terkait pekerjaan, dan human performance. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, pengukuran beban kerja fisik melalui denyut nadi, serta pengukuran lingkungan kerja kebisingan dan suhu. Instrumen yang digunakan meliputi Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), NASA-TLX, dan Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). Analisis data yang dilakukan adalah analisis deskriptif dan analisis inferensial (analisis bivariat dan multivariat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja adalah waktu perjalanan, kuantitas tidur, dan beban kerja fisik dengan nilai p-value masing-masing 0,000. Berdasarkan hasil analisis multivariat, diketahui bahwa terdapat tiga variabel yang memiliki hubungan signifikan dengan kelelahan kerja, yaitu waktu perjalanan, kuantitas tidur, dan beban kerja fisik. Variabel waktu perjalanan merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kelelahan kerja dengan nilai OR = 17,057. Kelelahan kerja juga berhubungan signifikan dengan human performance dengan nilai p-value 0,023 dengan nilai OR 2,457. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja yang tidak mengalami kelelahan kerja memiliki peluang 2,457 kali lebih besar untuk memiliki human performance tinggi dibandingkan pekerja yang mengalami kelelahan kerja.

Construction workers are at high risk of experiencing occupational fatigue due to the characteristics of their work, which involve heavy physical activity, long working hours, and exposure to work environment factors such as heat and noise. Occupational fatigue may lead to decreased concentration, accuracy, response speed, and workers’ human performance. This study aimed to analyze the risk factors associated with occupational fatigue and the relationship between occupational fatigue and human performance among construction workers at PT X in 2026. This study used a cross-sectional design involving 113 construction workers as respondents. The variables examined included individual factors, work-related factors, occupational fatigue, and human performance. Data were collected using questionnaires, physical workload measurement through pulse rate assessment, and work environment measurements, including noise and temperature. The instruments used in this study included the Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), NASA-TLX, and the Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). Data were analyzed using descriptive and inferential analyses, including bivariate and multivariate analyses. The results showed that factors associated with occupational fatigue were commuting time, sleep quantity, and physical workload, with p-values of <0.001 for each variable. Based on the multivariate analysis, these three variables had a significant relationship with occupational fatigue. Commuting time was identified as the most dominant factor associated with occupational fatigue, with an OR value of 17.057. Occupational fatigue was also significantly associated with human performance, with a p-value of 0.023 and an OR value of 2.457. This indicates that workers who did not experience occupational fatigue were 2.457 times more likely to have high human performance compared to workers who experienced occupational fatigue.
Read More
T-7713
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Theresia Iin Wulandari; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Abdul Kadir, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Imam Santoso, Machfud
Abstrak:
Industri minyak dan gas bumi merupakan sektor dengan tingkat risiko keselamatan kerja yang tinggi akibat kompleksitas operasi, penggunaan teknologi bertekanan tinggi, serta paparan energi berbahaya. Meskipun indikator kinerja keselamatan seperti Total Recordable Injury Rate (TRIR) menunjukkan tren perbaikan, kecelakaan dengan konsekuensi tinggi seperti fatality masih tetap terjadi. Kejadian fatality tidak hanya menyebabkan kehilangan nyawa, tetapi juga berdampak terhadap aspek operasional, finansial, dan reputasi perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab kejadian fatality pada Perusahaan X selama periode tahun 2021–2025 menggunakan metode Human Factors Analysis and Classification System (HFACS). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif menggunakan data sekunder berupa laporan investigasi kejadian fatality. Unit analisis penelitian terdiri atas 12 kejadian fatality yang terjadi pada periode tahun 2021–2025. Analisis dilakukan dengan mengklasifikasikan faktor penyebab kecelakaan ke dalam empat level HFACS, yaitu Unsafe Acts, Preconditions for Unsafe Acts, Unsafe Supervision, dan Organizational Influences. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan pada level Unsafe Acts adalah Routine Violations dan Perceptual Errors (83%) dan Decision Errors (50%). Pada level Preconditions for Unsafe Acts, faktor dominan adalah Communication, Coordination and Planning (83%), Tools/Technology (75%), dan Mental States (75%). Pada level Unsafe Supervision, faktor Inadequate Supervision ditemukan pada seluruh kasus (100%), sedangkan Planned Inappropriate Operations dan Failure to Correct Known Problem masing-masing ditemukan pada 92% kasus. Pada level Organizational Influences, faktor Operational Process dan Resource Management ditemukan pada seluruh kasus (100%), sedangkan Organizational Culture ditemukan pada 92% kasus. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar korban fatality merupakan pekerja kontraktor. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kejadian fatality pada industri migas merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang saling berkaitan mulai dari level organisasi, pengawasan, kondisi kerja, hingga tindakan individu. Pendekatan HFACS mampu mengidentifikasi faktor-faktor laten yang berkontribusi terhadap terjadinya fatality sehingga dapat menjadi dasar dalam pengembangan strategi pencegahan kecelakaan berkonsekuensi tinggi pada industri migas.

The oil and gas industry is recognized as a high-risk sector due to operational complexity, high-pressure technologies, and exposure to hazardous energy sources. Although safety performance indicators such as the Total Recordable Injury Rate (TRIR) have shown improvement trends, high-consequence incidents such as fatalities continue to occur. Fatal accidents not only result in the loss of life but also have significant operational, financial, and reputational impacts on organizations. This study aimed to analyze the contributing factors of fatal occupational accidents in Company X during the period 2021–2025 using the Human Factors Analysis and Classification System (HFACS). This study employed a descriptive-analytic design using qualitative and quantitative approaches based on secondary data obtained from fatal accident investigation reports. The unit of analysis consisted of 12 fatal incidents that occurred between 2021 and 2025. Accident contributing factors were classified according to the four HFACS levels: Unsafe Acts, Preconditions for Unsafe Acts, Unsafe Supervision, and Organizational Influences. The results revealed that the most dominant factor within the Unsafe Acts level were Routine Violations and Perceptual Errors (83%), followed by Decision Errors (50%). At the Preconditions for Unsafe Acts level, the dominant factors were Communication, Coordination and Planning (83%), Tools/Technology (75%), and Mental States (75%). Within the Unsafe Supervision category, Inadequate Supervision was identified in all fatal cases (100%), while Planned Inappropriate Operations and Failure to Correct Known Problem were identified in 92% of the cases. At the Organizational Influences level, Operational Process and Resource Management were found in all cases (100%), whereas Organizational Culture was identified in 92% of the cases. The study also found that most fatality victims were contractor personnel. This study concludes that fatal occupational accidents in the oil and gas industry are the result of interactions among organizational, supervisory, workplace, and individual factors. HFACS proved effective in identifying latent conditions contributing to fatal accidents and can therefore serve as a basis for developing high-consequence risk prevention strategies in the oil and gas industry.
Read More
T-7693
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizqi Avrila Putri; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Hendra, Ndiyan Y. Aripta, Fatima Azzahra
Abstrak: Sindrom metabolik adalah kumpulan dari beberapa faktor risiko berupa tingginya kadar gula darah, rendahnya kadar High Density Lipid (HDL), tingginya kadar trigliserida, obsesitas sentral serta hipertensi. Seseorang yang mengidap sindrom metabolik memiliki risiko lebih tinggi untuk terserang penyakit kronik seperti kardiovaskuler dan diabetes melitus tipe 2 di kemudian hari. Berdasarkan hasil Medical Check Up pada pegawai Perusahaan Migas X Jakarta di tahun 2014, angka dislipidemia mencapai 69,4%, obesitas 14,8%, overweight 33,17%, diabetes 8,7%. Selain itu, berdasarkan pengamatan penulis, pegawai pusat Perusahaan Migas X memiliki gaya hidup yang cenderung sedentary karena lebih banyak duduk di kursi untuk mengerjakan pekerjaan administratif dan cukup sering mengonsumi makanan yang tinggi lemak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko apa saja yang berhubungan dengan sindrom metabolik pada pekerja kantor pusat Perusaahan Migas X dengan menggunakan desain studi cross sectional. Hasil penelitian ditemukan bahwa prevalensi sindrom metabolik pada pekerja kantor pusat Perusaahan Migas X adalah 25%. Variabel independen yang berhubungan signifikan dengan kejadian sindrom metabolik adalah pola makan protein hewani (p value= 0,016), pola makan lemak (p value=0,037), Indeks Masa Tubuh (p value=0,001), aktivitas fisik (p value= 0,010), perilaku sedentary (p value=0,030) dan merokok (p value=0,037). Oleh karena itu, perlu adanya strategi untuk memberikan pengetahuan dan informasi terkait pola makan yang seimbang serta meningkatkan kemauan pekerja untuk senantiasa melakukan aktivitas fisik yang cukup dan teratur serta tidak merokok untuk menjaga berat badan yang ideal, memiliki gaya hidup yang sehat dan mencegah penyakit kronik akibat sindrom metabolik
Metabolic syndrome is a cluster of some risk factors such as high level of glucose and triglyceride, low level of High Density Lipid (HDL), central obesity, and hypertension. Someone who suffers from metabolic syndrome has higher risk to get chronic disease like cardiovascular disease and diabetes melitus type 2 in the future. As per Medical Check Up result of Oil and Gas Company X workers in 2014, found that dyslipidemia up to 69,4%, obesity 14,8%, overweight 33,17%, diabetes 8,7%. Furthermore, based on observation, office workers of Oil and Gas Company X tend to have sedentary life style since they spent most of their time at office to sit for doing some administrative task and often consume high fat food. Thus, the objective of this study was to analyze the risk factors that associate with metabolik syndrome on Head Office Workers of Oil and Gas Company X using cross sectional design study. The result of this study foud that prevalence of metabolik syndrome on Head Office Workers of Oil and Gas Company X is 25%. The independent variables that were significant with metabolic syndrome were animal protein diet (p value = 0.016), fat diet (p value = 0.037), body mass index (p value= 0,001), physical activity (p value = 0.010), and sedentary lifestyle (p value = 0.030) and smoking (p value= 0,037). Therefore, it is necessary to create strategy in order to provide knowledge and information regarding a balanced diet and increase the willingness of workers to do sufficient and regular physical activity and stop smoking to maintain ideal body weight, having a healthy life style and prevent chronic disase caused by metabolik syndrome
Read More
T-5519
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Achmad Abdillah Pasha; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Pauji Soleh
Abstrak:
Fatigue merupakan masalah multifaktor yang kerap dialami pekerja sektor manufaktur disebabkan oleh faktor terkait kerja dan faktor tidak terkait kerja sebagai variabel independen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor terkait kerja dan tidak terkait kerja dengan kelelahan atau fatigue pada perusahaan manufaktur di PT X Tahun 2024. Faktor terkait kerja yang diteliti meliputi beban kerja, shift kerja, jam kerja panjang, waktu istirahat, dan waktu perjalanan. Sementara itu faktor tidak terkait kerja yang diteliti meliputi usia, aktivitas fisik, penggunaan allohol, dan kualitas dan kuantitas tidur. Penelitian ini menggunakan dengan desain studi cross sectional menggunakan kuesioner yang mengadaptasi kuesioner OFER-15, kuesioner beban kerja, dan PSQI. 96 responden berpartisipasi dalam penelitian ini dengan distribusi pekerja lelah (kategori sedang tinggi-tinggi) sebesar 34,4%. Hasil uji statistik menggunakan chi square menunjukkan bahwa shift kerja, jam kerja panjang, waktu istirahat, waktu perjalanan, usia, aktivitas fisik, penggunaan alkohol dan kualitas dan kuantitas tidur tidak berhubungan signifikan dengan fatigue. Sementara itu, variabel beban kerja berhubungan signifikan dengan fatigue dengan p value = 0,010 (p<0,05) dan OR = 3,500 (95% CI: 1,425 – 8,579) yang bermakna bahwa pekerja dengan beban kerja berat berisiko 3,5 kali lipat mengalami kelelahan kronis. Dapat disimpulkan bahwa hanya variabel beban kerja yang berhubungan signifikan dengan kelelahan kronis dan akut. Oleh karena itu, diperlukan tindak lanjut dari perusahaan berupa penegakkan fatigue risk management system (FRMS) dan pengintegrasian kebijakan terkait kerja, sementara itu saran untuk pekerja berupa pengaturan manajemen tidur, waktu istirahat, dan aktivitas fisik.

Fatigue is a multifactor problem often experienced by manufacturing sector workers due to work-related and non-work-related factors as independent variables. This study aims to analyze the relationship between work-related and non-work-related factors and fatigue in manufacturing companies in PT X in 2024. The work-related factors studied include workload, work shifts, long hours, rest time, and travel time. Meanwhile, non-work-related factors studied include age, physical activity, alcohol use, and sleep quality and quantity. This study used a cross-sectional study design, using questionnaires that adapted the OFER-15 questionnaire, workload questionnaire, and PSQI. 96 respondents participated in this study, with a distribution of fatigued workers (medium-high category) of 34.4%. Statistical test results using chi-square showed that work shifts, long working hours, rest time, travel time, age, physical activity, alcohol use, and sleep quality and quantity were not significantly associated with fatigue. Meanwhile, the workload variable was significantly associated with fatigue with a p-value = 0.010 (p<0.05) and OR = 3.500 (95% CI: 1.425 - 8.579), which means that workers with heavy workloads have a 3.5-fold risk of experiencing chronic fatigue. It can be concluded that only the workload variable is significantly associated with chronic fatigue, either acute or chronic. Therefore, follow-up is needed from the company by enforcing the fatigue risk management system (FRMS) and integrating work-related policies, while advice for workers is in the form of sleep management, rest time, and physical activity.
Read More
S-11785
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Perkasa NP Sinagabariang; Pembimbing: L. Meily; Penguji: Abdul Kadir, Indri Hapsari Susilowati, Sudi Astono, Suryo Wibowo
Abstrak:
Kelelahan adalah salah satu faktor penyebab penurunan kesehatan, kinerja, dan konsentrasi pekerja yang dapat menyebabkan kecelakaan. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan faktor risiko dan kelelahan. Faktor risiko yang diteliti adalah yang terkait pekerjaan yaitu faktor lingkungan, rancangan pekerjaan, dan psikososial dan tidak terkait pekerjaan yaitu faktor individu. Penelitian menggunakan metode potong lintang dan Mixed-method sequential explanatory dengan kuesioner, FGD dan observasi. Uji statistik multivariat menunjukkan ada hubungan antara faktor psikososial (tuntutan kerja dan kepuasan kerja) dan faktor individu (usia) dan kelelahan. Tuntutan kerja berhubungan dengan kelelahan karena operasi migas yang berisiko tinggi, pekerja mengoperasikan fasilitas produksi yang masih baru dan tuntutan salur gas yang stabil dari pembeli gas. Kepuasan kerja berhubungan dengan kelelahan karena ketidakjelasan karir pekerja non-staff dan harapan peningkatan pendapatan. Faktor usia berkaitan dengan pembentukan masa otot dan tulang yang mencapai puncak di usia 35 tahun dan mulai menurun di atas 35 tahun. Kesimpulan penelitian ini adalah tiga faktor yang dominan terhadap kelelahan adalah kepuasan kerja, tuntutan kerja dan usia.

Fatigue is one of the factors that causes a decline in workers' health, performance, and concentration, which can cause accidents. This research was conducted to analyze the relationship between risk factors and fatigue. The risk factors studied are those related to work: environmental factors, job design, and psychosocial and non-work-related individual factors. The research used cross-sectional and mixed-method sequential explanatory methods with questionnaires, FGD, and observation. Multivariate statistical tests show a relationship between psychosocial factors (work demands and job satisfaction), individual factors (age), and fatigue. Work demands relate to high-risk oil and gas operations, workers operating new production facilities, and demands for stable gas lines from gas buyers. Job satisfaction is associated with career uncertainty of non-staff workers and the hope of increasing income. The age factor is related to the formation of muscle and bone mass, which reaches its peak at the age of 35 years and begins to decline after 35 years. This research concludes that the three dominant factors in fatigue are job satisfaction, job demands, and age.
Read More
T-6989
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive