Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32449 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ekorini Listiowati; Promotor: Amal Chalik Sjaaf; Kopromotor: Anhari Achadi, Adang Bachtiar; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Sutoto, Elsye Maria Rosa, Emma Rachmawati, Evi Martha
Abstrak:
Patient engagement (PE) belum dimulai secara memadai untuk mencapai perawatan kesehatan yang aman di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perspektif tenaga kesehatan dan penerima layanan (pasien dan caretaker) tentang PE dan bagaimana potensi untuk menerapkannya, serta merumuskan model yang dapat mendukung perawat untuk melibatkan pasien dalam upaya-upaya keselamatan pasien. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus pada bangsal penyakit kronis RS PKU Muhammadiyah Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian dilakukan dalam 2 tahap yaitu: (1) assessment berupa 4 diskusi kelompok terfokus pada 46 profesional kesehatan (perawat dan dokter) dan diikuti dengan 16 wawancara mendalam, serta wawancara mendalam dengan 14 pasien dan 15 caretaker; (2) tahap perumusan model. Tahap perumusan model dilakukan dengan penyusunan model awal, validasi model yang melibatkan pemilik RS, direksi, manajer, dan profesional kesehatan dan penyusunan model akhir. Transkrip verbatim dilakukan dan dilanjutkan dengan analisis tematik. Pada penelitian ini, didapatkan bahwa PE merupakan strategi untuk mencapai perawatan kesehatan yang aman. Selain itu, telah teridentifikasi peran penerima layanan, perawat, dan organisasi RS yang dapat dikembangkan untuk mewujudkan keselamatan pasien dengan menerapkan PE. Terdapat faktor-faktor pemungkin yang mempengaruhi pelaksanaan PE termasuk penilaian dan harapan penerima layanan kesehatan, maupun hambatan yang berasal dari aspek budaya, perilaku, kapasitas sumber daya manusia, dan sistem penyelenggaraan layanan kesehatan. Model yang terbentuk menggambarkan kebutuhan langkah-langkah komprehensif untuk mengoptimalkan PE. Kesimpulannya, PE sangat penting untuk keselamatan pasien. Pendekatan ini berpotensi untuk ditingkatkan dengan memperkuat dukungan organisasi, mengintegrasikan ke dalam sistem perawatan kesehatan, meningkatkan kapasitas profesional kesehatan, dan memberdayakan pasien untuk mengatasi hambatan potensial. Kata kunci: keselamatan pasien, keterlibatan pasien, perawatan kronis, kualitas perawatan

Patient engagement (PE) has not been initiated adequately to achieve safe health care in Indonesia. This study aims to explore the perspectives of healthcare professinals and patients and caretakers about PE and how it has the potential to implement it, and to formulate a model that can support nurses to involve patients in patient safety efforts. The method used in this research is a case study in the chronic disease ward of PKU Muhammadiyah Gamping Hospital, Sleman, Yogyakarta Special Region. The research was conducted in 2 stages, namely: (1) assessment in the form of 4 focus group discussions on 46 healthcare professionals (nurses and doctors) followed by 16 in-depth interviews, as well as in-depth interviews with 14 patients and 15 caretakers; (2) the model formulation stage. The model formulation stage was carried out by developing the initial model, model validation involving hospital owners, directors, managers, and health professionals and develop the final model. Verbatim transcripts were carried out and continued with thematic analysis. In this study, it was found that PE is a strategy to achieve safe healthcare. In addition, the roles of patients and caretakers, nurses, and hospital organizations have been identified that can be developed to achieve patient safety by implementing PE. There are enabling factors that influence the implementation of PE including the assessment and expectations of health service recipients, as well as obstacles originating from aspects of culture, behavior, human resource capacity, and health service delivery systems. The model formed illustrates the need for comprehensive measures to optimize PE. In conclusion, PE is very important for patient safety. This approach has the potential to be scaled up by strengthening organizational support, integrating it into the health care system, increasing the capacity of healthcare professionals, and empowering patients to overcome potential barriers. Keywords: patient safety, patient engagement, chronic care, quality of care
Read More
D-460
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Emma Rachmawati; Promotor: Amal Chalik Sjaaf; Ko-Promotor: Purnawan Junadi, Adang Bachtiar
D-263
Depok : FKM-UI, 2012
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Citra Cinta Asyura Nasution; Promotor: Dumilah Ayuningtyas; Kopromotor: Adang Bachtiar, Besral; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Sutoto, Emma Rachmawati, Viera Wardhani
Abstrak:

Keselamatan pasien merupakan kewajiban rumah sakit dan bagian integral dari akreditasi sejak 2008. Namun, berbagai permasalahan masih sering ditemukan, sehingga keberlanjutan perbaikan menjadi tantangan. Penelitian ini bertujuan merumuskan model konseptual strategi peningkatan keselamatan pasien. Penelitian menggunakan pendekatan mixed method dengan desain convergent parallel. Data kuantitatif berasal dari Riset Fasilitas Kesehatan 2019 (523 rumah sakit) dan data akreditasi (917 rumah sakit), dianalisis menggunakan uji chi-square, regresi logistik, dan analisis jalur. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen dari enam rumah sakit, dinas kesehatan provinsi, dan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) wilayah di Sumatera Utara dan Bali, dengan total 95 informan. Analisis tematik menggunakan perangkat NVivo, dengan kerangka Malcolm Baldrige dan model implementasi Van Meter-Van Horn, meliputi ukuran dan tujuan kebijakan, sumber daya, kepemimpinan, perencanaan strategis, fokus tenaga kerja, fokus operasi, fokus pelanggan, pengukuran, analisis, dan manajemen pengetahuan, komunikasi antar organisasi, serta peran akreditasi. Hasil kuantitatif menunjukkan bahwa pelaporan insiden keselamatan pasien berhubungan signifikan dengan lokasi (Jawa-Bali), status akreditasi, jumlah tempat tidur (> 200), kelas rumah sakit (A dan B), evaluasi pelayanan, audit internal, serta keaktifan komite keselamatan pasien dan pengendalian infeksi. Hasil kualitatif menunjukkan bahwa implementasi kebijakan keselamatan pasien sudah berjalan, namun bervariasi tergantung kepemilikan dan ketersediaan sumber daya. Semua dimensi yang diteliti berpotensi menjadi faktor pendukung maupun penghambat tergantung pengelolaannya. Kepemimpinan yang kuat, fasilitas yang memadai, serta budaya keselamatan yang ditanamkan secara konsisten memperkuat implementasi, sedangkan lemahnya komitmen dan keterbatasan dana menjadi kendala. Hambatan juga muncul dalam pelaporan insiden, baik dari sisi organisasi maupun individu. Penelitian ini menghasilkan model konseptual strategi peningkatan keselamatan pasien yang mencakup integrasi keselamatan pasien dalam perencanaan strategis, penguatan kepemimpinan, peningkatan kapasitas staf, alokasi anggaran memadai, monitoring dan evaluasi berkelanjutan, serta pelibatan pasien. Model ini diharapkan dapat mendorong peningkatan keselamatan pasien secara menyeluruh dan berkelanjutan di rumah sakit.


 

Patient safety is a mandatory obligation for hospitals and has been an integral part of hospital accreditation since 2008. However, various patient safety issues are still frequently found, making the sustainability of improvements a major challenge. This study aims to formulate a conceptual model of patient safety improvement strategies. A mixed-methods approach with a convergent parallel design was employed. Quantitative data were obtained from the 2019 Rifaskes (523 hospitals) and accreditation records (917 hospitals), and analyzed using chi-square tests, logistic regression, and path analysis. Qualitative data were collected through in-depth interviews and document reviews from six hospitals, provincial health offices, and the Indonesian Hospital Association (PERSI) in North Sumatra and Bali Provinces, involving a total of 95 informants. Thematic analysis was conducted using NVivo software, guided by the Malcolm Baldrige framework and the Van Meter–Van Horn policy implementation model. Quantitative findings showed that the reporting of patient safety incidents was significantly associated with location (Java–Bali), accreditation status, bed capacity (>200 beds), hospital class (A and B), presence of service evaluations, internal audits, and the activity of patient safety and infection control committees. Qualitative results indicated that while policy implementation was underway, it varied depending on hospital ownership and available resources. All dimensions could act as either enablers or barriers depending on how they were managed. Strong leadership and adequate facilities enhanced implementation, while weak commitment and limited funding were key constraints. Incident reporting also faced challenges at both organizational and individual levels. This study produced a conceptual model for improving patient safety through the integration of safety into strategic planning, strengthened leadership, staff capacity building, sufficient budget allocation, continuous monitoring and evaluation, and enhanced patient engagement. The model is expected to support comprehensive and sustainable patient safety improvements in hospitals

Read More
D-580
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Risna Dewi Yanti; Promotor: Sabarinah; Kopromotor: Agustin Kusumayati, Erna Herawati; Penguji: Evi Martha, Pujiyanto, Ade Jubaedah, Tina Hayati Dahlan, Asep Surahman
Abstrak:
Latar Belakang Penurunan usia menarche di Indonesia menyebabkan sebagian siswi SD telah mengalami menstruasi pada usia dini, sehingga meningkatkan risiko ketidaksiapan dalam menjaga kesehatan menstruasi. Dalam konteks masyarakat Sunda, faktor sosiokultural turut memengaruhi pemahaman dan praktik menstruasi, sehingga diperlukan pendekatan yang kontekstual dengan melibatkan ibu sebagai aktor utama. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model edukasi berbasis sosiokultural untuk meningkatkan dukungan ibu terhadap kesehatan menstruasi siswi SD di Kabupaten Garut. Metode Penelitian menggunakan desain Mixed Method Exploratory Sequential Design dalam tiga tahap, yaitu studi kualitatif, pengembangan model, dan uji intervensi dengan desain quasi experiment. Penelitian dilaksanakan pada 16 SD di Kabupaten Garut pada  tahun 2024–2025. Sampel  adalah ibu siswi yang telah mengalami menstruasi sebanyak 166 orang, terdiri dari 83 kelompok intervensi dan 83 kelompok kontrol. Analisis data dilakukan menggunakan Generalized Estimating Equations (GEE) dan Difference-in-Differences (DiD). Hasil: Hasil penelitian kualitatif dan pengembangan model menghasilan edukasi Ambu Binangkit yaitu  model edukasi kesehatan menstruasi yang dikembangkan dengan pendekatan sosiokultural Sunda. Dengan analisis statistik GEE diperlihatkan bahwa skor dukungan ibu pada kelompok intervensi meningkat sebesar 18,30 (95% SK: 15,48–21,12; p < 0,001)  Hasil analisis DiD terdapat peningkatan skor dukungan ibu pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol dengan koefisien sebesar 21,077 (p < 0,001). Intervensi model berkontribusi terhadap peningkatan dukungan ibu sebesar 68% pada posttest pertama  dan 77% pada posttest kedua   Peningkatan terbesar terjadi pada dukungan instrumental yaitu 20.15 (95% SK: 16.33–23.97; <0.001) dan dukungan pendampingan yaitu 19.06 (95%SK: 14.83–23.30;<0.001) sementara dukungan emosional dan informasional juga meningkat secara signifikan meskipun dengan besaran efek yang lebih rendah. Kesimpulan dan Saran Model Ambu Binangkit efektif dalam meningkatkan dukungan ibu terhadap kesehatan menstruasi anak melalui pendekatan sosiokultural yang kontekstual pada tatanan SD. Model ini berpotensi dikembangkan sebagai strategi intervensi berbasis keluarga dalam meningkatkan kesehatan menstruasi sejak usia SD. Implementasi model perlu diperkuat melalui integrasi dengan program sekolah dan layanan kesehatan guna menjamin keberlanjutan dan perluasan dampak Kata kunci: kesehatan menstruasi, dukungan ibu, sosiokultural, Ambu Binangkit, SD

Background: The declining age at menarche in Indonesia has resulted in some primary school girls experiencing menstruation at an early age, thereby increasing their risk of being unprepared to manage menstrual health. In the Sundanese community context, sociocultural factors influence menstrual understanding and practices, highlighting the need for a contextual approach that involves mothers as key actors. This study aimed to develop a sociocultural-based educational model to improve maternal support for the menstrual health of primary school girls in Garut Regency. Methods: This study employed an exploratory sequential mixed methods design conducted in three stages: a qualitative study, model development, and an intervention trial using a quasi-experimental design. The study was conducted in 16 primary schools in Garut Regency from 2024 to 2025. The sample consisted of 166 mothers of schoolgirls who had experienced menstruation, comprising 83 participants in the intervention group and 83 participants in the control group. Data were analyzed using Generalized Estimating Equations (GEE) and Difference-in-Differences (DiD). Results: The qualitative findings and model development process resulted in the Ambu Binangkit educational model, a menstrual health education model developed through a Sundanese sociocultural approach. The GEE analysis showed that maternal support scores in the intervention group increased by 18.30 points (95% CI: 15.48–21.12; p < 0.001). The DiD analysis indicated a greater increase in maternal support scores in the intervention group compared with the control group, with a coefficient of 21.077 (p < 0.001). The intervention model contributed to a 68% increase in maternal support at the first posttest and a 77% increase at the second posttest. The largest increases were observed in instrumental support, with a coefficient of 20.15 (95% CI: 16.33–23.97; p < 0.001), and accompaniment support, with a coefficient of 19.06 (95% CI: 14.83–23.30; p < 0.001). Emotional and informational support also increased significantly, although with smaller effect sizes. Conclusion and Recommendations: The Ambu Binangkit model was effective in improving maternal support for children’s menstrual health through a contextual sociocultural approach within the primary school setting. This model has the potential to be developed as a family-based intervention strategy to improve menstrual health from primary school age. Its implementation should be strengthened through integration with school programs and health services to ensure sustainability and broader impact. Keywords: menstrual health, maternal support, sociocultural, Ambu Binangkit, primary school.
Read More
D-629
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Duta Liana; Promotor: Fatma Lestari; Ko Promotor: Sutoto, Robiana Modjo; Penguji: Anhari Achadi, Adang Bachtiar, Besral, Doni Hikmat Ramdhan, Emma Rachmawati
Abstrak: Penelitian kematangan budaya keselamatan di layanan kesehatan sangat jarang dilakukan, hanya berfokus pasien dan menggunakan instrumen MaPSaF. Tujuan penelitian untuk mengembangkan instrumen pengukuran kematangan budaya keselamatan secara komprehensif meliputi mutu, keselamatan pasien, keselamatan dan kesehatan pekerja dengan 5 (lima) tingkat yaitu patologi, reaktif, birokratif, proaktif, generatif. Instrumen DUTA-RS mengandung 1118 EP dari SNARS edisi 1. Desain penelitian cross-sectional dengan data sekunder akreditasi RS dari KARS (2018-2019) dan data primer sebagai post hoc evaluation untuk validasi data sekunder, berupa kuesioner, focus Group Discussion dan wawancara mendalam. Analisis data menggunakan deskriptif, mean, safety culture maturity level (SCML), Confirmatory Factor Analysis dan Stuctural Equation Modeling. Hasil penelitian menunjukkan kematangan budaya keselamatan pada tingkat proaktif (58%), kelulusan paripurna menunjukkan tingkat proaktif (50,8%) dan generatif (48,7%). Model DUTA-RS memenuhi goodness of fit dengan variabel konstruk valid dan reliabel. Variabel yang berpengaruh adalah situasional (p- value=0,016, koefisien standar=0,596) dan perilaku keselamatan (p-value=0,030, koefisien standar=0,521). Indikator terkuat adalah kepemimpinan (faktor loading=0,87), manajemen risiko (faktor loading=0,87), kepatuhan (faktor loading=0,85). Variabel iklim keselamatan tidak berpengaruh terhadap kematangan budaya keselamatan (p-value=0,635). Indikator terlemah iklim keselamatan adalah pembelajaran (faktor loading=0,62), komunikasi (faktor loading=0,65). Pada data primer dan sekunder menunjukkan kesamaan nilai rata-rata iklim keselamatan dalam kategori baik dan hasil SCML pada level 4 (proaktif). Website DUTA-RS memunculkan tingkat kematangan budaya keselamatan, nilai rata-rata indikator, indikator terlemah setiap variabel, saran perbaikan. Website DUTA-RS dapat dibridging dengan SIKARS untuk benchmarking dalam skala nasional. Penelitian selanjutnya untuk pengembangan website DUTA-RS.
Read More
D-447
Depok : FKM-UI, 2021
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Rahmah Hidayatullah Lubis; Promotor: Indri Hapsari Susilowati; Kopromotor: Besral, Endang Laksminingsih; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Robiana Modjo, Yuli Amran, Hera Nurlita
Abstrak:
Ibu bekerja memiliki risiko lebih tinggi untuk melakukan terminasi menyusui lebih awal. Berbagai bentuk kebijakan sudah ditetapkan oleh Pemerintah. Tetapi kesadaran di industri masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model dukungan laktasi di tempat kerja pada industri tekstil. Pendekatan penelitian menggunakan metode campuran dengan jenis desain eksploratori. Penelitian dilakukan pada April 2023-2024 pada 4 perusahaan tekstil di Kabupaten Sumedang Jawa Barat. Pengambilan data kualitatif dilakukan pada delapan orang informan. Sampel penelitian kuantitatif adalah pekerja wanita usia 15-49 tahun, memiliki anak usia ≥ 6 bulan-5 Tahun, dengan sampel berjumlah 558 orang yang didapatkan menggunakan teknik accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif memiliki hubungan signifikan dengan variabel tidak terpapar iklan susu formula (p=<0.001, OR=30.8 (95% CI: 9.08 – 104.6)), tidak mengalami stress kerja (p=<0.001, OR= 8,65 (95% CI: 2.89 – 25.8)), bekerja non shift (p=<0,001 OR=3.84 (95% CI: 1.93 -7.62)), tidak terpapar sosial budaya (p=0,016, OR=2.38 (95% CI: 1.17–4.83)) dan pengetahuan baik (p=0,025, OR=2.299 (95% CI: 1.042 – 5.072)) setelah dikendalikan oleh faktor implementasi program GP2SP, kebijakan laktasi, cuti melahirkan, ruang laktasi, sikap dan niat. Model Galaksi-Rose menunjukkan bahwa strategi peningkatan pemberian ASI eksklusif berfokus pada aspek intrapersonal pada pekerja dengan memaksimalkan peran dari tempat kerja dan peran dari lingkungan sosial. Peran lintas sektor secara luas diharapkan terutama dalam hal pemberian edukasi manajemen dan fisiologi laktasi untuk meningkatkan kesadaran bahwa ASI eksklusif memiliki manfaat bagi pekerja wanita dan bayinya, memiliki keuntungan bagi perusahaan, melakukan pengawasan dan pengaturan kondisi lingkungan kerja untuk menguatkan pekerja wanita sebagai pejuang ASI.

Working mothers have a higher risk of early breastfeeding termination. The government has established various policies. However, awareness in the industry is still low. This study aims to develop a model of workplace lactation support in the textile industry. The research approach used mixed methods with exploratory design. The research was conducted in April 2023-2024 in 4 textile companies in Sumedang Regency, West Java. Qualitative data collection was conducted on eight informants. The quantitative research sample was female workers aged 15-49 years, with children aged ≥ 6 months-5 years, with a sample of 558 people obtained using accidental sampling. The results showed that exclusive breastfeeding had a significant relationship with the variables of not being exposed to formula milk advertising (p=<0.001, OR=30.8 (95% CI: 9.08 - 104.6)), not experiencing work stress (p=<0.001, OR=8.65 (95% CI: 2.89 - 25.8)), working non-shift (p=
Read More
D-523
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Khodijah Parinduri; Promotor: Wachyu Sulistiadi; Kopromotor: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Ede Surya Darmawan, Sutanto Priyo Hastono, Soroy Lardo, Sumarjaya, Hermawan Saputra, Maryami Yuliana Kosim
Abstrak:
Kerentanan rumah sakit di Indonesia dalam menghadapi bencana terlihat dari rata-rata indeks Hospital Emergency Disaster Management yang rendah (0,408) dan kegagalan infrastruktur fisik (hard resilience) saat beban puncak (surge capacity), seperti pada pandemi COVID-19 dan gempa bumi. Modal sosial (social capital) berpotensi menjadi "infrastruktur organisasi non-fisik" (soft resilience) yang mampu mensubstitusi keterbatasan fiskal dan birokrasi, namun pengoptimalannya belum terformulasikan secara terstruktur dalam manajemen bencana rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis, menyintesis, dan merekonstruksi Model Social capital melalui integrasi perspektif strategis (makro) dan operasional (mikro) guna meningkatkan kesiapsiagaan dan ketahanan rumah sakit di wilayah berisiko bencana tinggi (Provinsi Jawa Barat). Penelitian ini menggunakan desain Exploratory Sequential Mixed Methods. Tahap kualitatif melibatkan 18 informan kunci (praktisi senior dan pakar manajemen bencana) untuk mengidentifikasi 78 indikator modal sosial. Tahap kuantitatif melibatkan 110 responden dari 5 tipologi rumah sakit di Jawa Barat (RS Vertikal, RSUD, dan RS Swasta) yang dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM-PLS). Kualitatif Tahap 2 pada 5 RS mewawancara 34 informan. Tahap akhir adalah rekonstruksi model melalui validasi konsensus ahli. Analisis SEM-PLS menunjukkan bahwa Modal Sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kesiapsiagaan (0,872) dan Ketahanan (0,672), dengan nilai R-Square Ketahanan sebesar 85,2% (kategori sangat kuat). Penelitian ini memetakan tiga lapis kapital: 1) Bonding Capital (Internal RS) berbasis organizational trust dan nilai spiritual ("Employee of Allah"); 2) Bridging Capital (Horizontal) melalui jejaring lintas faskes/organisasi profesi berbasis resiprositas; dan 3) Linking Capital (Vertikal) melalui agile governance dengan otoritas (Kemenkes/BPBD). Temuan menunjukkan adaptasi kontekstual yang khas: RS Vertikal mengandalkan bridging untuk rujukan makro; RSUD memanfaatkan kearifan lokal "Saduluran" untuk substitusi fiskal daerah; dan RS Swasta Filantropi menggunakan kekuatan identitas sosial untuk pertahanan bottom-up yang lincah. Model Social capital merupakan strategi optimasi non-fiskal yang mentransformasikan jejaring manusia menjadi kapasitas resiliensi nyata. Model ini merekomendasikan integrasi elemen penilaian modal sosial dalam Standar Akreditasi Rumah Sakit (Bab MFK) dan penguatan kurikulum sosiologi kebencanaan pada pendidikan manajemen kesehatan untuk memutus siklus repitisi kesalahan manajemen krisis.

The vulnerability of hospitals in Indonesia in dealing with disasters can be seen from the low average Hospital Emergency Disaster Management index (0.408) and the failure of physical infrastructure (hard resilience) during peak loads (surge capacity), such as in the COVID-19 pandemic and earthquakes. Social capital has the potential to become a "non-physical organizational infrastructure" (soft resilience) that is able to substitute fiscal and bureaucratic limitations, but its optimization has not been formulated in a structured manner in hospital disaster management. This research aims to analyze, synthesize, and reconstruct the Social capital Model through the integration of strategic (macro) and operational (micro) perspectives to improve hospital preparedness and resilience in high-risk disaster areas (West Java Province). This study uses the design of Exploratory Sequential Mixed Methods. The qualitative stage involved 18 key informants (senior practitioners and disaster management experts) to identify 78 social capital indicators. The quantitative stage involved 110 respondents from 5 hospital typologies in West Java (Vertical Hospitals, Hospitals, and Private Hospitals) which were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM-PLS). Qualitative Phase 2 at 5 hospitals interviewed 34 informants. The final stage is the reconstruction of the model through expert consensus validation. The SEM-PLS analysis shows that Social capital has a positive and significant effect on Preparedness (0.872) and Resilience (0.672), with an R-Square value of Resilience of 85.2% (very strong category). This study maps three layers of capital: 1) Bonding Capital (Internal RS) based on organizational trust and spiritual values ("Employee of Allah"); 2) Bridging Capital (Horizontal) through a network of reciprocity-based health facilities/professional organizations; and 3) Linking Capital (Vertical) through agile governance with authorities (Ministry of Health/BPBD). The findings show typical contextual adaptations: Vertical RS relies on bridging for macro references; The hospital utilizes the local wisdom of "Duluran" for regional fiscal substitution; and Philanthropy Private Hospitals use the power of social identity for nimble bottom-up defenses. The social capital model is a non-fiscal optimization strategy that transforms human networks into real resilience capacity. This model recommends the integration of social capital assessment elements in Hospital Accreditation Standards (MFK Chapter) and strengthening the disaster sociology curriculum in health management education to break the cycle of repetition of crisis management errors.
Read More
D-643
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eny Kusmiran; Promotor: Hadi Pratomo; Kopromotor: Agustin Kusumayati; Penguji: Budi Anna Keliat; Anggota: Sabarinah B Prasetyo, Dumilah Ayuningtyas, Wachyu Sulistiadi, Asep Supena, Fitri Haryanti
D-353
Depok : FKM-UI, 2016
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sudiyati; Promotor: Adisasmita, Asri C.; Kopromotor: Pratomo, Hadi; Sekartini, Rini; Penguji: Damayanti, RIta; Ronoatmodjo, Sudarto; Besral; P:radono, Julainty; Marsum; Nurjasmi, Emi
Abstrak:
Pemantauan perkembangan anak sangat penting untuk optimalisasi perkembangan anak. Buku KIA sebagai salah satu instrumen yang digunakan untuk pemantauan perkembangan anak, angka kepemilikan dan pemanfaatannya masih kurang. Untuk meningkatkan pemanfaatan dan pemahaman buku KIA diperlukan suatu instrumen penunjang yang sederhana, mudah dan akurat yang bisa digunakan oleh orang tua atau keluarga untuk menilai perkembangan anak sebagai upaya deteksi dini keterlambatan perkembangan anak. Tujuan penelitian ini adalah mengembangan instrumen penilaian perkembangan anak dari Ceklis perkembangan Buku KIA dengan cara adaptasi dan modifikasi yang hasilnya bisa digunakan sebagai alat deteksi dini keterlambatan perkembangan anak usia 3-72 bulan pada tingkat keluarga. Desain penelitiannya adalah pengembangan instrumen (research and development) dengan mixed methods. Penelitian dilakukan dalam dua tahap yaitu penelitian pendahuluan yang merupakan pengembangan instrumen, dan penelitian lanjutan dengan menggunakan instrumen yang sudah dikembangkan untuk pengambilan data. Proses pengumpulan data dilakukan secara online melalui link google form yang dikirimkan ke responden lewat media sosial Whatsapp. Analisis yang dilakukan dengan melakukan uji kesepakatan Kappa antar instrumen. Hasil penelitian ini adalah terciptanya instrumen Modifikasi KIA Gambar dengan keterbacaan baik yang digunakan sebagai alat deteksi dini perkembangan anak. Proporsi perkembangan anak yang tidak sesuai sebesar 19% dengan Ceklis Buku KIA, 18,3% dengan instrumen Modifikasi KIA Gambar dan 16,6% dengan KPSP. Hasil uji kappa menunjukkan kesepakatan instrumen Modifikasi KIA Gambar dan Ceklis Buku KIA sebesar 0,703 (baik), dengan KPSP nilai kappa 0,365 (kurang), ceklis Buku KIA dengan KPSP 0,284 (kurang). Dibandingkan Ceklis Buku KIA, Modifikasi KIA Gambar meningkatkan kemampuan ibu akan penilaian perkembangan anak ditandai dengan peningkatan nilai kesepakatan kappa dengan KPSP(0,365). Peningkatan nilai kappa terutama terjadi pada perkembangan motorik kasar. Kegiatan pengembangan instrumen perlu didukung pemangku kebijakan dan masyarakat untuk meningkatkan program cakupan pemantauan dan deteksi dini perkembangan anak.

Monitoring child development is crucial for optimizing development. The KIA Book is a tool for monitoring child development, but its ownership and utilization rates are still lacking. To increase utilization and understanding therefore a simple, easy, and accurate tool is needed that parents or families can use as a child development assessment tool for early detection of developmental delays. The purpose of this study was to develop a child development assessment instrument by adapting and modifying the KIA Book development Checklist for early detection of developmental delays at 3-72 months at family level. The study employed a mixed methods research design focused on instrument development (research and development). The research was conducted in two stages: preliminary research, which involved instrument development, and further research, which involved data collection using the developed instruments. Data collection was carried out online through a Google Form link sent to respondents via WhatsApp. The analysis included conducting the Kappa agreement test between instruments. The study resulted in a Modified KIA instrument that uses pictures for child development assessment. The instrument has good readability. The proportion of inappropriate child development was 19% when compared to the KIA book checklist, 18.3% when compared to the KIA Picture Modification instrument, and 16.6% when compared to KPSP. The Kappa test results indicate a good kappa value of 0,703 when comparing picture with the KIA Book checklist, a less favorable kappa value of 0,365 when compared with KPSP, and 0,284 when KIA Book Cheklist with KPSP. Agreement between KIA Picture Modification to KPSP (Kappa= 0,365) was higher than that between between KIA Book Checklist to KPSP (Kappa=0,284), indicating that modifying with pictures improved the ability of mothers to assess their children development. The improvement, however, was seen mostly on the gross motor development Should support the use of KIA modified (wth picture) instrument that has been developed.
 
 
Read More
D-500
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putu Nadi Astuti; Promotor: Zulkifli Djunaidi; Kopromotor: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Fatma Lestari, Johny Wahyuadi Mudaryoto, Lana Saria, Herlina J. EL-Matury, Ayende, Ridha Renaldi
Abstrak:
Industri petrokimia merupakan sektor berisiko tinggi yang membutuhkan penerapan sistem manajemen keselamatan dan budaya keselamatan yang matang. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model maturitas budaya keselamatan yang sesuai untuk industri petrokimia di Indonesia. Model ini mengadaptasi teori Hudson, Fleming, Parker et al., dan Filho, serta menggambarkan lima tingkat kematangan budaya keselamatan, dari tingkat “Dasar” hingga “Berkelanjutan.”. Melalui pendekatan multidimensi, dikembangkan kerangka dan instrumen penilaian yang valid dan reliabel dengan lima dimensi utama: Komitmen, Komunikasi, Informasi, Keikutsertaan Karyawan, dan Pembelajaran Organisasi. Penelitian ini menemukan bahwa semua perusahaan dalam sampel telah mencapai tingkat “Berkelanjutan,” khususnya pada aspek Komitmen dan Pembelajaran Organisasi. Namun, Keikutsertaan Karyawan masih menjadi aspek yang perlu ditingkatkan. Hasil juga menunjukkan bahwa perusahaan multinasional dan penanggung jawab keselamatan menunjukkan pemahaman budaya keselamatan yang lebih baik. Model yang dikembangkan dapat digunakan sebagai alat praktis untuk menilai dan meningkatkan strategi keselamatan berkelanjutan di sektor petrokimia, mendorong keterlibatan aktif pekerja, serta memperkuat efektivitas sistem manajemen keselamatan proses.

The petrochemical industry is a high-risk sector requiring a mature implementation of safety management and safety culture. This study aims to develop a safety culture maturity model tailored to the Indonesian petrochemical industry. The model adapts the theoretical frameworks of Hudson, Fleming, Parker et al., and Filho, and describes five levels of safety culture maturity, from "Basic" to "Sustainable." A multidimensional approach was used to develop a valid and reliable assessment framework and instrument comprising five key dimensions: Commitment, Communication, Information, Employee Participation, and Organizational Learning. Findings show that all sampled companies have reached the “Sustainable” level, particularly in Commitment and Organizational Learning. However, Employee Participation remains an area needing improvement. The study also reveals that multinational companies and safety officers demonstrate a stronger understanding of safety culture. The developed model serves as a practical tool for evaluating and improving sustainable safety strategies in the petrochemical sector, enhancing employee engagement, and strengthening the effectiveness of process safety management systems.
Read More
D-604
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive