Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37046 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Noor Aliyah; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dian Ayubi, Dumilah Ayuningtyas, Armein Sjuhary Rowi, Firy Triyanti
Abstrak: Kota Bogor merupakan salah satu dari17 kab./kota dengan prevalensi hipertensi lebih tinggi dari prevalensi Jawa Barat yaitu 41,0%, menempati urutan pertama di antara semua penyakit PTM di Kota Bogor. Dari 25 Puskesmas di Kota Bogor, baru 24% yang mencapai target SPM dengan rentang nilai capaian antara 23,7% hingga 126,4%. Malcolm Baldrige National Quality Award merupakan kerangka kerja sistem manajemen mutu organisasi yang mampu mengidentifikasi kekuatan-kekuatan dari semua aspek dalam organisasi terkait kepemimpinan, perencanaan strategis, fokus pada pelanggan, pengukuran analisis dan manajemen pengetahuan, fokus pada sumber daya manusia, dan fokus pada proses untuk melihat hubungan dengan hasil kinerja program pencegahan dan pengendalian Hipertensi di Puskesmas Kota Bogor. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kinerja program pencegahan dan pengendalian hipertensi di Puskesmas Kota berdasarkan kriteria Malcolm Baldrige serta melihat hubungan kriteria Malcolm Baldrige dengan hasil kinerja program pencegahan dan pengendalian hipertensi di Puskesmas Kota Bogor. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan desain potong lintang menggunakan instrumen kuesioner Malcolm Baldrige National Quality Award. Populasi penelitian adalah seluruh Puskesmas di Kota Bogor yang berjumlah 25 Puskesmas dengan responden 6 karyawan setiap Puskesmas.Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji statistik chi-square. Hasil kinerja program P2 hipertensi berdasarkan kriteria Malcolm Baldrige didapatkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan secara statistik dari 6 kriteria Malcolm Baldrige terhadap kinerja program P2 Hipertensi dengan nilai p value <0,05. Hasil analisis juga menunjukkan nilai OR tertinggi adalah variabel fokus pada SDM (OR = 60,0; CI 95%: 4,72-763,01). Untuk meningkatkan program P2 Hipertensi di Puskesmas Kota Bogor diharapkan dapat mengoptimalkan pembinaan Puskesmas melalui Tim Pembina Cluster Binaan secara terpadu menggunakan acuan self-assessment yang telah dibuat oleh Puskesmas dengan pendekatan Malcolm Baldrige
Read More
T-6400
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nayamanto Namu Natu; Pembimbing : Wachyu Sulistiadi; Penguji : Rachmadi Purwana, Dumilah Ayuningtyas, Irfan, Dafroyati, Yuliana
Abstrak: Perguruan tinggi ditantang meningkatkan kualitasnya melalui penerapan sistem penjaminan mutu. Program Studi Keperawatan Waingapu merupakan salah satu perguruan tinggi keperawatan yang telah mengikuti akreditasi LAMPTKes, namun belum optimal melaksanakan sistem penjaminan mutu. Diperlukan kepemimpinan yang kuat dan kinerja organisasi untuk meningkatkan mutu pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu pendidikan Program Studi Keperawatan Waingapu dengan menggunakan kriteria ekselen Baldrige. Metode penelitian deskriptif melalui telaah dokumen pendidikan dan non pendidikan dan meminta pendapat dari pemimpin senior sebanyak 10 orang dan 132 orang mahasiswa untuk mengetahui tingkat kepuasan mereka terhadap kinerja pendidikan berdasarkan kriteria ekselen Baldrige, yaitu kepemimpinan, strategi, pelanggan, pengukuran, analisa dan manajemen pengetahuan, tenaga kerja, operasi dan hasil kinerja organisasi. Hasil penelitian menunjukkan hasil 388,75 dari 1000 poin. berada pada kelompok early improvement dengan global image average. Hasil uji statistik terdapat hubungan yang signifikan dengan hasil- hasil kinerja organisasi dengan OR tertinggi pada operasi dengan hasil kinerja. Saran meningkatkan dan mngembangkan operasi manajemen dan pengelolaan tenaga kerja dengan membangin tim yang kuat dan perencaaan strategis. Disarankan untuk uji coba kriteria Baldrige mengembangkan dan peningkatan mutu sehingga mencapai sistem penjaminan mutu internal yang baik. kata kunci: Baldrige, kinerja, mutu, proses, hasil Universities are challenged to improve their quality through the implementation of quality assurance system. Nursing Study Program Waingapu is one of nursing universities that have followed LAMPTKes accreditation, but not yet optimal to implement quality assurance system. Strong leadership and organizational performance is needed to improve the quality of education. This study aims to determine the quality of education Waingapu Nursing Study Program using Baldrige ekselen criteria. Descriptive research method through the study of education and non-education documents and asked the opinion of senior leaders as many as 10 people and 132 students to know their level of satisfaction on education performance based on Baldrige's excellent criteria, leadership, strategy, customer, measurement, analysis and knowledge management, labor, operations and organizational performance results. The results showed 388.75 out of 1000 points. is in the early improvement group with global image average. The statistical test results have a significant relationship with the organizational performance results with the highest OR on the operation with the performance results. Suggestions to improve and develop management and management operations by building strong teams and strategic planning. It is recommended to test the criteria Baldrige develops and improves the quality so as to achieve a good internal quality assurance system. keywords: Baldrige, performance, quality, process, results
Read More
T-5107
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siregar, Lucia B.; Pembimbing: H.E. Kusdinar Achmad; Penguji: Besral
T-1981
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yeni Purnamasari; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Puput Oktamianti, Rahma Indira Wardani, Herman Budianto
Abstrak: Pelayanan kesehatan yang bermutu merupakan kebutuhan dasar yang diperlukan setiap orang. Pendekatan mutu paripurna yang berorientasi pada kepuasan pelanggan menjadi strategi utama bagi organisasi pelayanan kesehatan di Indonesia. Penilaian mandiri (self assesment) akan memampukan organisasi untuk mengidentifikasi kinerja organisasi. Salah satu upaya self assesment adalah dengan melakukan peningkatan mutu pelayanan kesehatan dengan kriteria Malcolm Baldrige yang memiliki pendekatan 7 kriteria, yaitu kepemimpinan, perencanaan strategis, fokus pelanggan dan pasar, manajemen pengukuran analisis dan pengetahuan, fokus pada staf, manajemen proses dan hasil kinerja organisasi. Penelitian dilakukan pada organisasi non profit Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa tahun 2015 yang bertujuan untuk mengetahui gambaran hasil kinerja organisasi, hubungan antara variabel independen dengan hasil kinerja organisasi dan variabel yang paling berpengaruh terhadap hasil kinerja organisasi. Metode penelitian adalah mix methods dengan sequential explanatory design dengan populasi seluruh karyawan LKC di Indonesia dan sampel berjumlah 94 orang. Hasil analisa univariat didapatkan gambaran kinerja LKC Wilayah bervariasi dari kriteria sangat baik yaitu LKC Aceh (86 %), kriteria baik LKC Sulawesi Selatan (73 %), dan kriteria cukup masing-masing LKC Jabodetabek (69%), LKC NTT (66%), LKC Yogyakarta (59 %) dan LKC Sumatera selatan (59 %). Hasil analisa bivariat menunjukan adanya hubungan yang kuat dan berpola positif dan hubungan bermakna antara hasil kinerja organisasi dengan 6 kriteria Malcolm Baldrige. Hasil analisa multivriat menunjukan adanya hubungan yang kuat dan berpola positif untuk variabel fokus pada pelanggan dan variabel manajemen proses, dikontrol oleh 3 variabel konfounding yaitu variabel kepemimpinan, perencanaan strategis dan fokus pada staf. Variabel yang paling berpengaruh terhadap kinerja organisasi adalah manajemen proses. Komitmen dalam peningkatan mutu berkelanjutan dapat di mulai dari peningkatan manajemen proses yang ada di LKC Dompet Dhuafa.
Read More
T-4365
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Deslina; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dian Ayubi, Dumilah Ayuningtyas; Suhardini, Ananda
Abstrak:

Prevalensi hipertensi di Indonesia masih tinggi, sementara proporsi pasien dengan tekanan darah terkendali tetap rendah. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2022–2024 menetapkan target 90% pasien hipertensi terkendali di puskesmas, namun Jakarta Pusat pada tahun 2024 hanya mencapai 16,74%. Penelitian ini dilakukan di dua puskesmas dengan capaian berbeda: Puskesmas X (46,12%) dan Puskesmas Y (2,34%). Penelitian ini bertujuan menganalisis mutu program pengendalian hipertensi berdasarkan komponen input, proses, dan output dengan menggunakan pendekatan sistem terbuka.
Penelitian menggunakan desain kualitatif studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus, observasi, dan telaah dokumen pada Maret–Mei 2025, melibatkan 30 informan yang terdiri atas petugas puskesmas, dinas kesehatan, suku dinas kesehatan, kader, dan pasien. Analisis dilakukan secara tematik.
Hasil menunjukkan mutu program di Puskesmas X relatif lebih baik. Puskesmas X menerapkan perencanaan proaktif, penyediaan obat yang lebih cepat, inovasi edukasi berkala, monitoring bersama jejaring, dan pelatihan rutin. Puskesmas Y melaksanakan perencanaan reguler, pengadaan obat mengikuti siklus tahunan, pemanfaatan dashboard hipertensi berjalan meskipun belum optimal, serta koordinasi internal rutin. Meskipun jumlah SDM sesuai standar, keterlibatan fungsional belum merata di kedua puskesmas. Penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan pelaksanaan program hipertensi tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan sumber daya, tetapi juga bergantung pada kualitas proses, termasuk perencanaan yang responsif, pengorganisasian terstruktur, pelaksanaan inovatif, dan monitoring berbasis data.
Penelitian merekomendasikan penguatan kapasitas tenaga kesehatan, penyelarasan definisi indikator antarinstansi, optimalisasi media edukasi digital dan sistem informasi terpadu, serta penetapan petugas administrasi dan teknologi informasi dalam struktur tim program untuk mendukung mutu layanan hipertensi.

The prevalence of hypertension in Indonesia remains high, while the proportion of patients with controlled blood pressure is still low. The Ministry of Health’s Strategic Plan 2022–2024 sets a target of 90% of hypertension patients achieving controlled blood pressure in primary health care facilities, yet in Central Jakarta, the achievement in 2024 was only 16.74%. This study was conducted in two community health centers with contrasting results: Puskesmas X (46.12%) and Puskesmas Y (2.34%). This study aimed to analyze the quality of hypertension control programs based on input, process, and output components using an open systems approach. The study employed a qualitative case study design. Data were collected through in-depth interviews, focus group discussions, observations, and document reviews between March and May 2025, involving 30 informants comprising health center staff, provincial and municipal health office representatives, community health volunteers, and patients. Thematic analysis was applied. The results showed that program quality at Puskesmas X was relatively better. Puskesmas X implemented proactive planning, faster provision of medications, regular educational innovations, joint monitoring with network partners, and routine training. Puskesmas Y carried out standard planning, medication procurement according to the annual cycle, regular internal coordination, and partial utilization of the hypertension dashboard. Although the number of human resources met the minimum standards, functional involvement was not evenly distributed in both health centers. The study indicated that the success of hypertension program implementation was not only determined by resource adequacy but also relied heavily on process quality, including responsive planning, structured organization, innovative implementation, and data-driven monitoring. The study recommends strengthening health worker capacity, harmonizing indicator definitions across institutions, optimizing digital educational media and integrated information systems, and formally designating administrative and information technology staff within program teams to improve hypertension service quality.

 

Read More
T-7300
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jamaluddin Lendang; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Puput Octamianti, Dumilah Ayuningtyas, Diar Indriarti
Abstrak: Organisasi yang menghasilkan suatu produk seperti jasa, memerlukan suatu evaluasi berupa penilaian mandiri (self assessment) yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan secara terus-menerus (continous improvement) sehingga didapatkan kualitas pelayanan yang tinggi dan sesuai dengan tuntutan zaman. Salah satu penilaian keberhasilan suatu organisasi adalah hasil kinerja yang optimal yang diukur berdasarkan target-target yang ditentukan organisasi itusendiri. Peneliti menggunakan 7 (tujuh) kriteria yang terdapat dalam MalcolmBaldrige Health Care Criteria for Performance Excelence untuk mengetahui mutu organisasi Direktorat Bina Upaya Kesehatan Rujukan tahun 2014. Metode penelitian adalah mix methode dengan sequential eksplanatory design. Hasilanalisis bivariat menunjukkan hubungan yang kuat dan berpola positif antara hasilkinerja organisasi dengan enam kriteria Malcolm Baldrige. Sedangkan hasil analisis multivariat menunjukkan empat kriteria yang positif dan satu kriteria negatif yang dapat menjelaskan hasil kinerja organisasi sebesar 65,7% sementarasatu kriteria tidak masuk dalam pemodelan. Hasil kinerja Direktorat Bina UpayaKesehatan Rujukan termasuk dalam range sangat rendah. 3 permasalahan yang masih yang menonjol antara lain organisasi belum menetapkan sasaran, tujuan danukuran kinerja (key perfomance indicator) dalam perencanaan organisasi; belum menetapkan visi, misi dan nilai-nilai organisasi serta perencanaan belum disusun berdasarkan periode jangka panjang dan jangka pendek. Permasalahan tersebutdapat diselesaikan jika direktur dan pimpinan organisasi segera menetapkan visi,misi dan nilai-nilai organisasi, menyusun perencanaan strategis sesuai dengantugas dan fungsi organisasi serta berdasarkan periode jangka panjang dan jangka pendek.
Organizations that produce a product such as services, requires anevaluation of a self-assessment to improve service quality continuously to obtaina high quality of service and in accordance with the demands of the times. One ofthe assessment of an organization's success is the result of optimal performanceas measured by the target-the specified target organization itself. Researchers areusing seven (7) criteria contained in the Malcolm Baldrige Health Care Criteriafor Performance Excelence to determine the quality of the organization of theRefferal Health Directorate Building Effort, 2014. Research method is thesequential explanatory mixed method design. The results of the bivariate analysisshowed a strong association between positive and patterned organizationalperformance results with the six criteria of the Malcolm Baldrige. While theresults of the multivariate analysis showed four positive criteria and negativecriteria that one can explain the results of the organization's performance by65.7%, while the criteria are not included in the modeling. The results of theperformance of the Refferal Health Directorate Building Effort referencesincluded in the very low range. 3 problems that still stand out among otherorganizations have not set goals, objectives and performance measures (keyperfomance indicators) in the planning of the organization; has not set a vision,mission and values of organization and planning has not been prepared based ona period of long-term and short-term. These problems can be solved if the directorand the head of the organization immediately set the vision, mission and values ofthe organization, strategic planning in accordance with the duties and functionsof the organization as well as by long-term period and the short-term.
Read More
T-4103
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dia Melisa Rafdi; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Rita Damayanti, Wachyu Sulistiadi, KM Taufiq, Rudi Ruhdiat
Abstrak: Infeksi COVID-19 pada tenaga kesehatan Puskesmas di Kabupaten Bekasi semakin meningkat. Infeksi COVID-19 pada tenaga kesehatan ini merupakan HAIs. HAIs dapat dicegah dengan penerapan PPI yang optimal. Kepatuhan Penerepan PPI COVID-19 dipengeruhi oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan faktor determinan yang berhubungan dengan kepatuhan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) COVID-19 pada tenaga kesehatan di Puskesmas Kabupaten Bekasi Tahun 2020. Penelitian ini menggunakan desain ross sectional study dengan metode self-reported dengan mengisi kuesioner melalui googleform. Populasi adalah tenaga kesehatan di seluruh Puskesmas Kabupaten Bekasi. Sample sebanyak 190 orang dihitung melalui rumus uji beda dua proporsi dengan teknik Quota sampling. Berdasarkan analisis univariat diperoleh rata-rata nilai kepatuhan PPI COVID-19 pada tenaga kesehatan adalah 93.17 dari skala 100, dengan indikator kepatuhan tertinggi adalah kepatuhan mencuci tangan 93.4 dan kepatuhan terendah adalah kepatuhan disinfeksi 86. Hasil uji regresi logistik berganda menunjukan bahwa variable persepsi risiko dan ketersediaan sarana mempunyai hubungan yang signifikan dengan kepatuhan PPI COVID-19. Variable persepsi risiko merupakan variable dominan yang berhubungan dengan kepatuhan PPI COVID-19 ntervensi yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan penerapan PPI COVID-19 adalah dengan meningkatkan persepsi risiko tenaga kesehatan melalui komunikasi risiko
COVID-19 infections among healthcare workers at Puskesmas in Bekasi Regency are increasing. This COVID-19 infection in healthcare workers is an HAIs. HAIs can be prevented by implementing optimal IPCs. Various factors affect the adoption of COVID19 IPCs. This study aims to obtain an overview and determinants related to compliance with the prevention and control of infection (IPC) COVID-19 among health workers at the Bekasi District Health Center in 2020. This study used a cross-sectional study design with a self-reported method by filling out a questionnaire via googleform. The population is healthcare workers in all Puskesmas in Bekasi District. A sample of 190 people was calculated by means of a two-proportion difference test formula with the Quota sampling technique. Based on univariate analysis, it was obtained that the average COVID-19 IPC compliance value for healthcare workers was 93.17 from 100 scales, with the highest compliance indicator being hand washing compliance 93.4 and the lowest compliance being disinfection compliance 86. The results of multiple logistic regression tests showed that the variable risk perception and availability of facilities has a significant relationship with COVID-19 IPC compliance. The risk perception variable is the dominant variable associated with PPI COVID-19 compliance The intervention that needs to be done to improve compliance the implementation of COVID-19 IPC is to increase the risk perception of health workers through risk communication
Read More
T-6022
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rora Asyulia; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Robiana Modjo, Mutmainah Indriyati, Eti Rohati
Abstrak:
Penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang (Cross Sectional) akan meneliti capaian program pelayanan kesehatan pada orang berisiko terkena HIV dengan pendekatan Malcolm Baldrige di Puskesmas Kota Depok. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui capaian Program pelayanan kesehatan pada orang berisiko terkena HIV dengan pendekatan Malcolm Baldrige. Populasi penelitian ini adalah seluruh Puskesmas di Kota Depok yang berjumlah 38 Puskesmas. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner dan wawancara yang dibuat berdasarkan rujukan baku dari kriteria Malcolm Baldrige yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh peneliti terdahulu dan disesuaikan dengan tujuan penelitian. Variabel Independen ada 6 yaitu Kepemimpinan, perencanaan strategis, focus pada pelanggan, pengukuran analisis dan manajemen pengetahuan, focus pada sumber daya manusia dan manajemen proses sedangkan variabel dependen adalah capaian Standar pelayanan minimal pada pelayanan kesehatan orang berisiko terkena HIV. Analisis data menggunakan analisis data univariat melihat frekwensi distribusi hasil capaian, analisis data bivariat melihat hubungan antara 6 (enam) kriteria Malcolm Baldrige dengan hasil capaian Standar pelayanan minimal Program Pelayanan Kesehatan pada orang berisiko terkena HIV di Puskesmas Kota Depok dan analisis multivariat untuk mencari factor paling dominan mempengaruhi capaian standar pelayanan minimal HIV. Hasil penelitian Univariat mayoritas masuk kategori kurang kepemimpinan (53,07%), perencanaan strategis (46,21%) focus pada pelanggan (43,84%), pengukuran, analisis dan manajemen pengetahuan (44,21%), sumber daya manusia (47,85%) dan manajemen proses (47,49%) sedangkan hasil capaian Standar pelayanan minimal pada orang berisiko terkena HIV (69,86%) masuk kategori cukup. Pada analisis bivariat semua variabel independent memiliki hubungan yang kuat dan positif terhadap variabel dependen. Pada analisis multivariat ada korelasi yang kuat antara capaian SPM HIV (Y) dengan variabel kepemimpinan dan focus pada pelanggan (R=0,749) dan memiliki R Square 0,561 dimana variabel yang paling dominan adalah Focus pada Pelanggan (48,5%)
Quantitative research with a cross-sectional design (Cross Sectional) will examine the achievements of health service programs for people at risk of getting HIV using the Malcolm Baldrige approach at the Depok City Health Center. The purpose of this study was to determine the performance of the health service program for people at risk of getting HIV using the Malcolm Baldrige approach. The population of this study were all Community Health Centers in Depok City, totaling 38 Health Centers. The research instrument used questionnaires and interviews which were made based on standard references from Malcolm Baldrige's criteria which had been translated into Indonesian by previous researchers and adapted to the research objectives. There are 6 independent variables, namely leadership, strategic planning, focus on customers, measurement analysis and knowledge management, focus on workforce and process management, while the dependent variable is achievement of minimum service standards in health services for people at risk of getting HIV. Data analysis used univariate data analysis to look at the frequency distribution of performance results, bivariate data analysis looked at the relationship between 6 (six) Malcolm Baldrige criteria and the achievement results of the minimum service standard for the Health Service Program for people at risk of getting HIV at the Depok City Health Center and multivariate analysis to find the most common factor Dominantly affect the achievement of minimum HIV service standards. The majority of Univariate research results fall into the category of lacking leadership (53.07%), strategic planning (46.21%) focus on customers (43.84%), measurement, analysis and knowledge management (44.21%), workforce (47.85%) and process management (47.49%) while the results of the minimum service standards for people at risk of getting HIV (69.86%) are in the sufficient category. In the bivariate analysis all independent variables have a strong and positive relationship to the dependent variable. In the multivariate analysis there is a strong correlation between HIV MSS achievement and leadership and customer focus variables (R=0,749) and R square =0,561 where the most dominant variable is Customer Focus (48.5%).
Read More
T-6599
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nunuk Agustina; Pembimbing: HE Kusdinar Achmad, Anwar Hasan; Penguji: Tri Krianto, Shintha Silaswati, Sugiyanto
T-2670
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wenty Prihantinah; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Sabarinah, Wachyu Sulistiadi, Kristina R.L.Nadeak, Meilina Farikha
Abstrak:
Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat global, dengan Indonesia menempati peringkat kedua beban TB tertinggi di dunia. Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) adalah strategi kunci untuk menekan progresi infeksi laten menjadi TB aktif, namun cakupan TPT di Kota Bekasi masih sangat rendah, yakni hanya mencapai 14,11%. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis mutu pelaksanaan program TPT di Puskesmas Kota Bekasi berdasarkan kerangka Donabedian (struktur, proses, dan hasil) serta mengidentifikasi adanya kesenjangan persepsi layanan (Gap 1) antara tenaga kesehatan dan pasien. Metode: Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus, dilakukan di empat puskesmas terpilih berdasarkan capaian TPT. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil: Dari aspek struktur, program menghadapi keterbatasan sumber daya manusia (SDM), sarana diagnostik (foto thoraks), dan perbedaan kemandirian anggaran antar-puskesmas. Dalam proses, ditemukan suboptimalitas pada investigasi kontak, edukasi yang terbatas, pemantauan yang tidak berkesinambungan, serta pemanfaatan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) yang belum maksimal . Analisis Gap 1 menemukan adanya kesesuaian persepsi pada layanan individual, tetapi terdapat potensi kesenjangan pada aspek non-klinis karena pasien mengharapkan edukasi yang lebih luas pada tingkat komunitas untuk mengurangi stigma. Kesimpulan: Mutu program TPT di Puskesmas Kota Bekasi sudah berjalan, tetapi masih menghadapi hambatan struktural, proses, dan potensi kesenjangan persepsi. Diperlukan penguatan kapasitas tenaga kesehatan, pemenuhan logistik dan sarana diagnostik, optimalisasi SITB, serta peningkatan edukasi berbasis komunitas untuk memperbaiki mutu program dan meningkatkan cakupan TPT di masa mendatang. Kata Kunci: Tuberkulosis, Terapi Pencegahan Tuberkulosis, Mutu Layanan, Donabedian, Puskesmas.

Background: Tuberculosis (TB) remains a global public health challenge, with Indonesia ranking second in the world for the highest TB burden. Tuberculosis Preventive Therapy (TPT) is a key strategy to suppress the progression of latent infection to active TB, but TPT coverage in Bekasi City is still very low, reaching only 14.11%. Objective: This study aims to analyze the quality of TPT program implementation in Bekasi City Puskesmas based on the Donabedian framework (structure, process, and outcome) and to identify the presence of a service perception gap (Gap 1) between health workers and patients. Method: A qualitative study with a case study design was conducted in four selected Puskesmas based on their TPT achievement. Data were collected through in-depth interviews, observation, and document review, and then analyzed thematically. Results: Regarding the structure aspect, the program faces limitations in human resources (HR), diagnostic facilities (chest X-ray), and differences in budget independence among Puskesmas. In the process, suboptimal performance was found in contact investigation, limited education, inconsistent monitoring, and underutilization of the Tuberculosis Information System (SITB). The Gap 1 analysis found a correspondence of perception in individual services, but a potential gap exists in non-clinical aspects, as patients expect broader community-level education to reduce stigma. Conclusion: The quality of the TPT program in Bekasi City Puskesmas is running, but still faces structural and process barriers, as well as a potential perception gap. Strengthening health worker capacity, fulfilling logistics and diagnostic facilities, optimizing SITB, and increasing community-based education are needed to improve program quality and increase TPT coverage in the future.  Keywords: Tuberculosis, Tuberculosis Preventive Therapy, Service Quality, Donabedian, Puskesmas.
Read More
T-7463
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive