Ditemukan 33392 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Hanifah Nurdani; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: Astuti Yuni Nursasi, R. Sutiawan
Abstrak:
Latar Belakang. Pandemi COVID-19 yang terjadi sejak akhir tahun 2019 telah menginfeksi puluhan juta orang di di dunia, termasuk di Indonesia. Tes pemeriksaan PCR sebagai tes standar untuk diagnosis merupakan salah satu upaya pencegahan sekunder penting untuk mencegah penyebaran penyakit, mengetahui besar masalah dan pengambilan keputusan segera untuk upaya pencegahan selanjutnya. Adanya jeda waku yang panjang untuk menunda pemeriksaan diagnosis PCR ini berpotensi menimbulkan penyebaran virus yang lebih luas dan kemungkinan kesalahan diagnosis. Metode Penelitian. Penelitian dilakukan dengan Sumber data Rekam Medis pasien rawat inap COVID-19 tahun 2020 di Rumah Sakit Universitas Indonesia dengan pendekatan cross sectional. Total sampling dilakukan dengan menerapkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil. Dari 254 subjek penelitian, laki-laki lebih banyak (55.1%). Panjang jeda waktu diagnosis di luar fasilitas peayanan kesehatan median 6 hari, di fasilitas pelayanan kesehatan 1 hari, dan total 7 hari. Jumlah pasien terlambat di luar fasilitas pelayanan ksesehatan lebih banyak dibandingn dengan terlambat di dalam fasilitas pelayanan kesehatan (80.7% vs. 5.7%). Dari uji chi-square, faktor yang berhubungan dengan keterlambatan diagnosis yaitu jenis kelamin (p=0.013), umur (p=<0.01), status perkawinan (p=0.021), pendidikan (p=0.024), riwayat kontak (p=0.031), dan gejala (p=0.003). Kesimpulan. Ada hubungan antara keterlambatan diagnosis COVID-19 dengan beberapa faktor demografi dan faktor penyakit pasien.
Read More
S-10888
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fatma Rizkia; Pembimbing: Kemal Nazarudin Siregar; Penguji: Artha Prabawa, Retnowati
Abstrak:
Tujuan penelitian ini adalah untuk merancang suatu prototipe dashboard penyelidikan epidemiologi COVID-19 yang dapat menganalisis dan menyajikan data hasil penyelidikan epidemiologi pada pasien rawat jalan COVID-19 di RSUI. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, menggunakan metode Rapid Application Development yang terdiri atas kegiatan analisis kebutuhan dan perancangan prototipe. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen. Penelitian ini berhasil menghasilkan prototipe dashboard penyelidikan epidemiologi COVID-19 yang dapat menganalisis data dan menyajikan informasi jumlah pasien yang melakukan swab test, jumlah pasien berdasarkan kriteria kasus, jumlah pasien berdasarkan tujuan swab test, jumlah pasien berdasarkan jenis kelamin, jumlah pasien berdasarkan usia, gejala yang dimiliki pasien, kondisi penyerta pasien, factor risiko pasien, dan hubungan daftar kontak erat.
Read More
S-10625
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yeni Rahmawati; Pembimbing: Iwan Ariawan; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Meilisa Rahmadani
Abstrak:
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prevalensi gejala kecemasan dan depresi pada tenaga kesehatan laboratorium terpadu di Rumah Sakit Universitas Indonesia selama pandemi Covid-19. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional yang dilakukan di Laboratorium Terpadu Rumah Sakit Universitas Indonesia pada bulan Juli 2021. Analisis yang digunakan yaitu, univariat, bivariat dan multivariabel dengan derajat kepercayaan 95%. Dari 42 tenaga kesehatan laboratorium terpadu RS UI didapatkan prevalensi gejala kecemasan sebesar 11,9% dan prevalensi gejala depresi sebesar 14,3%. Hasil analisis bivariat dengan uji chi-square menyatakan tidak ada hubungan yang signifikan antara gejala kecemasan ataupun depresi dengan variabel independen penelitian.
Read More
S-10777
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Gregorius Yuka Anindeo; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Prima Almazini, Bhayu Hanggadhi Nugroho
Abstrak:
Latar Belakang: Penyakit katup jantung merupakan beban katastropik kardiovaskular yang memerlukan manajemen efisiensi di faskes tersier. Lama rawat inap (Length of Stay/LOS) menjadi indikator krusial dalam menilai utilisasi tempat tidur dan efisiensi operasional. Penelitian ini bertujuan mendapatkan distribusi dan variasi lama rawat inap berdasarkan karakteristik pasien penyakit katup jantung di Rumah Sakit Universitas Indonesia. Metode: Studi kuantitatif potong-lintang (cross-sectional) dengan pendekatan sensus (total sampling) menggunakan data sekunder rekam medis periode Januari 2021–Desember 2024 di RSUI sebanyak 227 pasien.Variabel independen meliputi karakteristik klinis (jumlah katup terdampak, tingkat keparahan, LVEF, TAPSE, status gagal jantung) dan komorbiditas (hipertensi, PJK, jumlah komorbiditas lain). Analisis pola dilakukan secara deskriptif-komparatif melalui distribusi dan variasi pada populasi keseluruhan kemudian distratifikasi berdasarkan jenis kelamin dan usia. Hasil: Karakteristik pasien didominasi usia ≥50 tahun (79,7%), laki-laki (53,3%), dan gagal jantung (74,4%). Sebagian besar mengalami penurunan LVEF ≤50% (60,8%), disfungsi ventrikel kanan (TAPSE ≤16 mm; 27,8%), serta komorbiditas seperti penyakit ginjal kronis (36,1%) dan diabetes melitus (26,9%). Median lama rawat inap (LOS) adalah 5 hari (IQR 2 hari; rentang 2–18 hari). Hasil menunjukkan distribusi LOS relatif homogen pada populasi. Namun, analisis stratifikasi menemukan bahwa PJK memperpendek LOS pada laki-laki, sedangkan pada kelompok usia 60–69 tahun, tingkat keparahan katup berat, disfungsi ventrikel kanan, dan gagal jantung memperpanjang LOS. Kelompok usia >69 tahun memiliki LOS lebih singkat, mencerminkan pendekatan terapi yang lebih konservatif. Kesimpulan: Lama rawat inap pasien VHD di RSUI relatif homogen dengan median 5 hari, menunjukkan efektivitas standardisasi clinical pathway dalam mengurangi variasi pelayanan. RSUI disarankan menerapkan stratifikasi risiko sejak admisi dengan memperhatikan fungsi ventrikel kanan (TAPSE) dan komorbiditas utama, terutama pada pasien pralansia dan lansia awal.
Read More
Background: Valvular heart disease (VHD) represents a major cardiovascular burden that requires efficient management in tertiary healthcare facilities. Length of stay (LOS) is a key indicator for assessing bed utilization and operational efficiency. This study aimed to describe the distribution and variation in LOS according to the characteristics of patients with valvular heart disease at the University of Indonesia Hospital (RSUI). Methods: This quantitative cross-sectional study employed a census (total sampling) approach using secondary medical record data from 227 patients treated at the University of Indonesia Hospital (RSUI) between January 2021 and December 2024. The independent variables included clinical characteristics (number of affected valves, disease severity, LVEF, TAPSE, and heart failure status) and comorbidities (hypertension, coronary artery disease, and the number of other comorbidities). Pattern analysis was conducted using descriptive-comparative methods by examining the distribution and variation of length of stay in the overall study population, followed by stratification according to sex and age. Results: The majority of patients were aged ≥50 years (79.7%), male (53.3%), and had heart failure (74.4%). Most patients had reduced left ventricular ejection fraction (LVEF ≤50%; 60.8%), right ventricular dysfunction (TAPSE ≤16 mm; 27.8%), and comorbidities such as chronic kidney disease (36.1%) and diabetes mellitus (26.9%). The median length of stay (LOS) was 5 days (IQR: 2 days; range: 2–18 days). Overall, LOS was relatively homogeneous across the study population. However, stratified analysis showed that coronary artery disease (CAD) was associated with a shorter LOS among male patients, whereas in the 60–69-year age group, severe valvular disease, right ventricular dysfunction, and heart failure were associated with a longer LOS. Patients aged >69 years had a shorter LOS, reflecting a more conservative therapeutic approach. Conclusion: The LOS of patients with VHD at RSUI was relatively homogeneous, with a median of 5 days, suggesting that standardized clinical pathways effectively reduced variations in healthcare delivery. RSUI is recommended to implement risk stratification upon admission by considering right ventricular function (TAPSE) and major comorbidities, particularly among pre-elderly and early elderly patients.
S-12447
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Shaina Naurah Aziza; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Besral, Wan Aisyiah Baros
Abstrak:
Read More
Background: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a non-communicable disease with one of the highest health burdens in Indonesia, with prevalence nearly doubling over a decade, from 6.9% (2013) to 11.7% (2023), placing Indonesia as the country with the fifth-highest number of diabetes patients in the world (20.4 million in 2024). T2DM patients face a threefold higher risk of cardiovascular disease and a tenfold higher risk of kidney disease, with complication-related costs accounting for approximately 74% of total direct medical costs covered by BPJS Kesehatan. The effectiveness of prevention programs such as Prolanis depends heavily on understanding the factors that accelerate complication onset. Therefore, this study aimed to determine the survival of T2DM patients enrolled in the National Health Insurance (JKN) program with respect to complication onset, along with its associated determinants. Methods: This study used BPJS Kesehatan Sample Data from 2020, employing a retrospective closed-cohort design with an observation period of 2020–2025. Analyses were conducted using the Kaplan-Meier method and Cox Proportional Hazard regression. Results: Of 2,704 T2DM patients included in the study, 54.1% experienced complications, with a 4-year survival rate of 0.473 (95% CI: 0.45–0.49) and a median time-to-event of 3.639 years. The Kaplan-Meier and log rank analysis found out that age at diagnosis (p = 0,041), hypertension (p < 0,0001), and dyslipidemia (p < 0,0001) variables significantly differs the time of complication onset among T2DM patients. Based on the Cox Proportional Hazard analysis, factors that significantly accelerated complication onset were having hypertension (aHR=1,370; 95% CI: 1,231–1,525) and having dyslipidemia (aHR=1,522; 95% CI: 1,363–1,647), while being ≥65 of age when first diagnosed is a protective factor (aHR=0,868; CI: 0,771 – 0,978). Conclusion: Survival from complications among JKN-enrolled T2DM patients in Indonesia remains relatively low, with hypertension and dyslipidemia as the main determinants. Comprehensive efforts to prevent and manage these comorbidities are therefore needed, including through optimized risk stratification within the Prolanis program. Keywords: Type 2 Diabetes Mellitus, Survival Analysis, Complications, National Health Insurance, BPJS Sample Data
Latar belakang: Diabetes melitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit tidak menular dengan beban kesehatan tertinggi di Indonesia, dengan prevalensi yang meningkat hampir dua kali lipat dalam satu dekade, dari 6,9% (2013) menjadi 11,7% (2023), serta menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi kelima di dunia (20,4 juta jiwa pada 2024). Penderita DM tipe 2 menghadapi risiko tiga kali lebih tinggi mengalami penyakit kardiovaskular dan sepuluh kali lebih tinggi mengalami penyakit ginjal, dengan beban biaya komplikasi yang mencakup sekitar 74% dari total biaya medis langsung yang ditanggung BPJS Kesehatan. Efektivitas program pencegahan seperti Prolanis sangat bergantung pada pemahaman mengenai faktor-faktor yang mempercepat terjadinya komplikasi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kesintasan komplikasi pasien DM tipe 2 peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) beserta faktor-faktor yang memengaruhinya. Metode: Penelitian ini menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2020 dengan desain studi kohort tertutup retrospektif dan masa pengamatan pada 2020—2025. Analisis dilakukan menggunakan metode Kaplan-Meier dan uji Cox Proportional Hazard. Hasil: Dari 2.704 pasien DM tipe 2 yang diikutsertakan, terdapat 54,1% kejadian komplikasi, dengan 4-year survival rate sebesar 0,473 (95% CI: 0,45–0,49) dan median time-to-event 3,639 tahun. Pada faktor sosiodemografi, faktor usia saat diagnosis secara signifikan memengaruhi survival rate (p = 0,041) walau perlu diinterpretasikan dengan kehati-hatian. Pada faktor klinis, pasien DM tipe 2 dengan hipertensi (p < 0,0001) dan dislipidemia (p < 0,0001) secara signifikan memiliki 4-year survival rate lebih rendah. Berdasarkan analisis multivariat, faktor yang secara signifikan mempercepat kejadian komplikasi hipertensi (aHR=1,370; 95% CI: 1,231–1,525), dislipidemia (aHR=1,522; 95% CI: 1,363–1,647), sedangkan berumur ≥65 saat diagnosis (aHR=0,868; CI: 0,771 – 0,978) merupakan faktor protektif. Kesimpulan: Kesintasan komplikasi pasien DM tipe 2 peserta JKN di Indonesia masih tergolong rendah, dengan hipertensi dan dislipidemia sebagai determinan utama. Oleh karena itu, diperlukan penguatan upaya pencegahan dan pengendalian komorbiditas secara komprehensif, salah satunya melalui optimalisasi stratifikasi risiko dalam program Prolanis. Kata kunci: Diabetes Melitus Tipe 2, Analisis Kesintasan, Komplikasi, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Data Sampel BPJS Kesehatan
Latar belakang: Diabetes melitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit tidak menular dengan beban kesehatan tertinggi di Indonesia, dengan prevalensi yang meningkat hampir dua kali lipat dalam satu dekade, dari 6,9% (2013) menjadi 11,7% (2023), serta menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi kelima di dunia (20,4 juta jiwa pada 2024). Penderita DM tipe 2 menghadapi risiko tiga kali lebih tinggi mengalami penyakit kardiovaskular dan sepuluh kali lebih tinggi mengalami penyakit ginjal, dengan beban biaya komplikasi yang mencakup sekitar 74% dari total biaya medis langsung yang ditanggung BPJS Kesehatan. Efektivitas program pencegahan seperti Prolanis sangat bergantung pada pemahaman mengenai faktor-faktor yang mempercepat terjadinya komplikasi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kesintasan komplikasi pasien DM tipe 2 peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) beserta faktor-faktor yang memengaruhinya. Metode: Penelitian ini menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2020 dengan desain studi kohort tertutup retrospektif dan masa pengamatan pada 2020—2025. Analisis dilakukan menggunakan metode Kaplan-Meier dan uji Cox Proportional Hazard. Hasil: Dari 2.704 pasien DM tipe 2 yang diikutsertakan, terdapat 54,1% kejadian komplikasi, dengan 4-year survival rate sebesar 0,473 (95% CI: 0,45–0,49) dan median time-to-event 3,639 tahun. Pada faktor sosiodemografi, faktor usia saat diagnosis secara signifikan memengaruhi survival rate (p = 0,041) walau perlu diinterpretasikan dengan kehati-hatian. Pada faktor klinis, pasien DM tipe 2 dengan hipertensi (p < 0,0001) dan dislipidemia (p < 0,0001) secara signifikan memiliki 4-year survival rate lebih rendah. Berdasarkan analisis multivariat, faktor yang secara signifikan mempercepat kejadian komplikasi hipertensi (aHR=1,370; 95% CI: 1,231–1,525), dislipidemia (aHR=1,522; 95% CI: 1,363–1,647), sedangkan berumur ≥65 saat diagnosis (aHR=0,868; CI: 0,771 – 0,978) merupakan faktor protektif. Kesimpulan: Kesintasan komplikasi pasien DM tipe 2 peserta JKN di Indonesia masih tergolong rendah, dengan hipertensi dan dislipidemia sebagai determinan utama. Oleh karena itu, diperlukan penguatan upaya pencegahan dan pengendalian komorbiditas secara komprehensif, salah satunya melalui optimalisasi stratifikasi risiko dalam program Prolanis. Kata kunci: Diabetes Melitus Tipe 2, Analisis Kesintasan, Komplikasi, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Data Sampel BPJS Kesehatan
S-12311
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Alika Shameela; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Rico Kurniawan, Fifi Dwijayanti
Abstrak:
Tujuan penelitian ini adalah melihat pengaruh dari coping pandemi COVID-19 dan penyesuaian perkuliahan terhadap depresi pada Mahasiswa Baru FKM UI Angkatan 2020. Disain studi dalam penelitian ini merupakan studi potong lintang. Sampel dalam penelitian adalah Mahasiswa Baru FKM UI Angkatan 2020. Sebanyak 139 sampel didapatkan dengan menggunakan purposive sampling. Analisis bivariat dilakukan menggunakan chi-square dan analisis multivariat dilakukan dengan mengunakan regresi logistik biner. Data dikumpulkan antara Mei - Juni 2021 melalui kuesioner online.
Read More
S-10667
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nita Dwi Octavianie; Pembimbing: Toha Muhaimin; Penguji: Besral, Yenni Risniati
S-7726
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ester Suryawati; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Besral, Tri Yunis Miko Wahyono, Sulistyo
Abstrak:
Proporsi kematian karena MDR TB di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung 12,73%. Penelitian ini bertujuan untuk melihat factor factor yang mempengaruhi ketahanan hidup pasien MDR TB di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Desain penelitian yang digunakan adalah kohort retrospektif dengan jumlah sampel 216 di mana 80 sebagai event dan sisanya sebagai sensor. Hasil analisis dengan Survival dengan Spss memperlihatkan predictor utama dari ketahanan hidup pasien MDR TB di RSHS adalah pola resistensi(HR 0,3 ; 95% CI 0,2-0,5; P value 0,000), efek samping obat berhubungan dengan waktu(HR 1,12; 95% CI 1,02-1,22; P value 0,013)dan BMI kurang (HR 1,8; 95%CI 1,02-3,3; P value 0,04). Efek samping obat sebelum terapi bulan kedelapan efeknya proteksi, sedangkan sesudah itu meningkatkan resiko kematian. Konfoundingnya adalah riwayat merokok, jenis kelamin, umur dan pekerjaan. Probabilitas ketahanan hidup pasien MDR TB 0,56. Oleh sebab itu peningkatan kepatuhan minum obat, konsistennya pengukuran tinggi badan dan berat badan pasien MDR TB dan efektivitas manajemen efek samping OAT dapat meningkatkan ketahanan hidup pasien MDR TB di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Kata kunci: MDR TB, Ketahanan Hidup, Pola Resistensi, BMI, Efek samping Obat, merokok, jenis kelamin, pekerjaan
Read More
T-4358
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rancangan Sistem Pelaporan Morbiditas Rawat Inap Rumah Sakit Pelang Merah Indonesia Bogor Tahun 2009
R. Muhammad Kemal; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Popy Yuniar, Farida
S-5978
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Manendra Muhtar; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Besral, Ella Nurlaella Hadi, Melissa Adiatman, Mita Juliawati
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Perawatan gigi dan mulut memiliki risiko tinggi untuk terjadi penularan COVID-19, maka sangatlah penting untuk dokter gigi melaksanakan perawatan dengan protokol pencegahan transmisi COVID-19 yang ketat. Pada penelitian ini dilakukan analisis kesiapan dokter-dokter gigi di Indonesia terhadap upaya pencegahan transmisi COVID-19, yang belum banyak diteliti di Indonesia. Dilakukan juga analisis kesiapan dengan faktorfaktor yang dapat memiliki asosiasi dengan kesiapan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross- sectional). Pengambilan data dilakukan dengan kuesioner secara daring. Total diperoleh 520 sampel, dengan sampel berupa dokter gigi yang masih aktif berpraktik dengan minimal gelar dokter gigi. Pada awal kuesioner, ditanyakan pertanyaan awal mengenai karakteristik responden. Selanjutnya, responden diberikan 21 pertanyaan mengenai persepsi mereka terhadap upaya pencegahan transmisi COVID-19, dan 18 pertanyaan mengenai kesiapan/ rutinitas melaksanakan tindakan-tindakan pencegahan transmisi COVID-19 pada tempat praktik mereka. Hasil: Analisis multivariat dengan regresi logistik menunjukkan bahwa variabel yang memiliki asosiasi signifikan dengan kesiapan setelah dikontrol variabel lain adalah persepsi (adjusted odds ratio: 22,1, 95% CI: 2,9- 171,8), usia (adjusted odds ratio 0,3, 95% CI: 0,1-0,8), dan lokasi praktik (adjusted odds ratio 2,9, 95% CI: 1,5-5,6). Kesimpulan: Pelatihan dan edukasi dari organisasi profesi dokter gigi untuk meningkatkan kesiapan dokter gigi terhadap berbagai upaya pencegahan transmisi COVID-19 perlu diberikan. Selain pelatihan, berbagai stakeholder juga perlu bekerjasama untuk menangani segala keterbatasan sumber daya yang diperlukan untuk pencegahan COVID-19. Kata kunci: Pencegahan Transmisi COVID-19, Dokter Gigi, Perawatan Gigi dan Mulut
Background: Dental treatments have a very high risk of COVID-19 transmission, therefore, it is very important for dentists to implement strict infection control measures during treatment. In this research, an analysis of dentists’ preparedness towards COVID-19 prevention measures was done. An analysis of the dentists’ preparedness with factors that can have an effect on preparedness was also done. Method: This research used a cross sectional design, and data was taken using an online questionnaire. The inclusion criteria of the samples were dentists that were still actively performing treatment. A total of 520 samples were obtained. In the beginning of the questionnaire, questions regarding the characteristics of the respondents were given. Afterwards, 21 questions regarding the respondents’ perception towards various COVID-19 prevention measures and 18 questions regarding the respondents’ preparedness/ routine in performing the various COVID-19 prevention measures were given. Results: Multivariate analysis with logistic regression showed variables that had a significant association with total preparedness were perception (adjusted odds ratio: 22,1, 95% CI: 2,9- 171,8), age (adjusted odds ratio 0,3, 95% CI: 0,1-0,8), and type of treatment facility (adjusted odds ratio 2,9, 95% CI: 1,5-5,6). Conclusion: Training and education by dentists’ professional organizations to improve the preparedness of dentists towards various COVID19 preventive measures needs to be given. Besides training, stakeholders need to work together to provide various resources needed for COVID-19 prevention if the resources are limited. Keywords: COVID-19 Prevention Measures, Dentists, Dental Settings
T-6173
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
