Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36071 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Cut Nikita Azkiya Tachimitha; Pembimbing: R. Budi Utomo; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Sudibyo Alimoeso
Abstrak: Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) merupakan kekerasan berbasis gender di ranah personal, yang sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Diperkirakan 30% dari semua wanita yang pernah berpasangan telah terpapar kekerasan fisik atau seksual setidaknya sekali dalam hidup mereka dan sebagian besar wanita yang terpapar kekerasan fisik mengalami kekerasan berulang. Sikap pemukulan terhadap istri, yang merupakan salah satu faktor terjadinya KDRT, berpengaruh pada indikator pemberdayaan wanita dan status kesehatannya. Studi ini menggunakan data Survei Kesehatan Reproduksi Perempuan tahun 2019 di Pulau Jawa untuk mengetahui faktor yang memengaruhi sikap wanita kawin usia subur (15-49 tahun) dalam menjustifikasi KDRT terhadap istri. Dari 6.876 wanita, 15% (1.083) di antaranya menyetujui pemukulan terhadap istri oleh suami karena minimal satu dari enam alasan tertentu. Dari hasil uji regresi logistik, ditemukan bahwa usia, tingkat pendidikan wanita, dan tempat tinggal menjadi faktor determinan sikap ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan suami, status pekerjaan, dan indeks kekayaan secara signifikan berhubungan dengan sikap wanita terhadap pemukulan istri. Penting untuk meningkatkan tidak hanya pendidikan perempuan tetapi juga di kedua pihak, wanita dan pria, untuk memberantas masalah ini
Read More
S-10919
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eilien Theodora; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Tri Krianto, Rahmadewi
Abstrak: Peran gender yang timpang antara laki-laki dan wanita menimbulkan pandangan bahwa laki-laki memiliki tingkatan yang lebih tinggi dibanding perempuan sehingga memunculkan sikap bahwa dengan alasan tertentu laki-laki dapat melakukan tindakan pemukulan terhadap wanita atau suami diperbolehkan memukul istri, salah satu bentuk dari kekerasan dalam rumah tangga. Proporsi sikap setuju terhadap pemukulan istri yang masih tinggi sebesar 32% pada 2017 menunjukkan bahwa upaya penyetaraan gender masih belum tercapai dengan tingginya angka penerimaan terhadap pemukulan istri oleh suami. Ketidaksetaraan ini meningkatkan resiko kekerasan terhadap wanita karena masih terjustifikasinya pemukulan istri oleh suami oleh wanita di Indonesia. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap wanita terhadap pemukulan istri oleh suami, analisis dilakukan pada dataset individual SDKI 2017 wanita usia subur dengan desain penelitian cross sectional, analisis dilakukan pada seluruh sampel wanita yang pernah menikah dengan melakukan transformasi data yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan studi, kemudian analisis survey kompleks dilakukan dengan memperhatikan bobot agar hasil analisis mewakili populasi wanita usia subur di Indonesia, analisis dilakukan untuk melihat karakteristik dari seluruh variabel kemudian keterkaitan antara variabel independen dan dependen, uji regresi logistic berganda kemudian dilakukan pada variabel dependen studi ini: sikap wanita terhadap pemukulan istri oleh suami yang terbentuk dari 5 pertanyaan alasan yang membenarkan suami memukul istri dan variabel independen: karakteristik responden dan pasangan seperti pendidikan, pekerjaan, usia, indeks kekayaan, keterpaparan terhadap media massa, daerah tempat tinggal, dan partisipasi serta peran wanita dalam keluarga yang terdiri dari berbagai pertanyaan terkait. Uji yang dilakukan bertujuan untuk mencari variabel yang paling berkaitan dengan sikap wanita terhadap pemukulan istri oleh suami. Hasil dari penelitian ini adalah proporsi wanita di Indonesia yang setuju terhadap pemukulan istri oleh suami sebesar 31,93%. Terdapat hubungan paling dominan yang signifikan antara partisipasi wanita dalam pengambilan keputusan rumah tangga dengan sikap setuju wanita terhadap pemukulan istri. Terdapat hubungan yang signifikan antara pekerjaan wanita, index kekayaan, pendidikan wanita, wilayah tempat tinggal dan paparan media dengan sikap setuju wanita terhadap pemukulan istri. Tidak ditemukan hubungan yang signifikan pada pekerjaan pasangan, pendidikan pasangan dan kelompok umur wanita dengan sikap setuju wanita terhadap pemukulan istri. Oleh karena itu perlu pemberian informasi secara luas terkait edukasi mengenai kesetaraan gender oleh Komnas Perempuan dan lembaga negara terkait pada masyarakat terutama kelompok wanita rendah partisipasi dalam keluarga, daerah pedesaan, keluarga ekonomi rendah yang lebih beresiko menjustifikasi pemukulan istri.
Kata kunci: sikap wanita, pemukulan istri, SDKI
Read More
S-10442
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Juliana Karni Astuti; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: R. Sutiawan, Teti Tejayanti
Abstrak: Disparitas dalam pelayanan kesehatan ibu masih merupakan permasalahan di Indonesia. Cakupan K4 dalam program Antenatal Care (ANC) dari tahun 2012 hingga 2017 telah mengalami penurunan. Akan tetapi, angka penurunan itu nyatanya menunjukkan bahwa cakupan K4 ANC sudah mulai memenuhi target Renstra Kementerian Kesehatan pada tahun 2017. Berdasarkan data SDKI dan Profil Kesehatan Indonesia menyebutkan bahwa beberapa daerah di wilayah Kawasan Timur Indonesia (KTI) masih mengalami permasalahan ini. Provinsi Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara menjadi provinsi yang selalu memasuki peringkat 10 besar dalam cakupan K4 ANC terendah. Keempat provinsi tersebut juga selalu tidak memenuhi target dari Renstra Kementerian Kesehatan semenjak 2007, 2012, dan 2017. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan ANC pada wanita usia subur di 4 Provinsi pada tahun 2012 & 2017. Sampel yang digunakan adalah wanita berusia subur (15-49 tahun) yang tinggal di 4 Provinsi, memiliki anak terakhir dalam 5 tahun terakhir, berstatus menikah/tinggal bersama dan menjadi responden dalam SDKI 2012 & 2017. Jumlah sampel dalam penelitian adalah 1.001 responden dalam SDKI 2012 & 1.167 responden dalam SDKI 2017. Analisis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan ibu dan pengetahuan ibu memiliki pengaruh yang konsisten terhadap kepatuhan kunjungan ANC pada responden di tahun 2012 dan 2017. Pada tahun 2012, terdapat faktor lain yang juga mempengaruhi kepatuhan kunjungan ANC pada wanita usia subur yaitu partisipasi dalam pengambilan keputusan dan status ekonomi. Sedangkan di tahun 2017, terdapat faktor lain juga yang berpengaruh terhadap kepatuhan kunjungan ANC pada wanita usia subur yaitu paritas ibu, jaminan kesehatan, dan dukungan dari suami.
Kata kunci: Antenatal Care, Kepatuhan, Wanita Usia Subur

Disparities in maternal health services are still a problem in Indonesia. The K4 coverage of Antenatal Care (ANC) program from 2012 to 2017 has decreased. However, it shows that the K4 ANC coverage has begun to meet the Ministry of Health Strategic Plan target in 2017. Based on data from the IDHS and the Indonesian Health Profile, it stated that some regions in Eastern Indonesia are still facing this problem. Papua, West Papua, Maluku and North Maluku itself are some provinces are always in top 10 provinces with the lowest K4 ANC coverage. The four provinces also had never met the targets of the Ministry of Health Strategic Plan since 2007, 2012, and 2017. This study aims to look at the factors that influence the level of ANC visit adherence in reproductive age women in 4 Provinces in 2012 & 2017. The sample is used in this study are the women in reproductive age in the 2012 & 2017 IDHS that are living in 4 provinces, married or are living together with their partner, and have their in the last 5 years. The number of samples in the study were 1,001 respondents in the 2012 IDHS & 1,167 respondents in the 2017 IDHS. This study itself use chi-square and multiple logistic regression. The results showed that maternal education and maternal knowledge had a consistent influence on the adherence of ANC visits for respondents in 2012 and 2017. In 2012, there are other factors that also affected ANC visit adherence in reproductive age women, namely participation in decision making and economic status. Whereas in 2017, there are also other factors that influence ANC visits adherence to reproductive age women, namely health insurance, parity, and husband support.
Key words: Antenatal Care, Adherence, Reproductive Age Women
Read More
S-10447
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Damayanti; Pembimbing: Besral; Penguji: Tris Eryando, Mario Ekoriano
Abstrak: Tujuan : untuk mengetahui perbandingan faktor atau determinan yang mempengaruhi fertilitas pada wanita kawin di Provinsi NTT dan Provinsi DIY. Metode : menggunakan desain potong lintang (cross sectional) dengan sampel seluruh responden wanita usia subur yang berstatus kawin atau hidup bersama pasangannya.
Read More
S-10670
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yovita Dewi Pramesti; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Iwan Ariawan, Eflita Meiyetriani
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang hubungan status sosial ekonomi rumah tangga dengan persalinan seksio sesarea dengan menggunakan data pasien BPJS Kesehatan Tahun 2015/2016. Disain studi penelitian ini menggunakan penelitian potong lintang dengan persalinan seksio sesarea sebagai variable dependen dan status sosial ekonomi rumah tangga sebagai variable independen. Persalinan seksio sesarea diukur dengan melihat diagnosis primer yang tercatat pada database BPJS Kesehatan hingga akhir tahun 2016. Sementara itu, status sosial ekonomi rumah tangga diukur dengan melihat status kepesertaan BPJS Kesehatan, dimana peserta PBI dikategorikan sebagai kurang dan peserta Non-PBI dikategorikan sebagai cukup. Analisis menggunakan teknik regresi logistic untuk menilai pengaruh status sosial ekonomi rumah tangga terhadap persalinan, persalinan seksio sesarea dengan mengendalikan variable pengganggu, termasuk umur pasien, wilayah dan kepemilikan fasilitas kesehatan. Sampel penelitian sebanyak 74.103 persalinan kehamilan tunggal tahun 2015/2016.
Read More
S-10781
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nohan Arum Romadlona; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Besral, Martya Rahmaniati Makful, Teti Tejayanti, Riznawaty Imma Aryanty
Abstrak:
Pendahuluan: Stigma yang berkembang terhadap aborsi membuat terbatasnya studi aborsi di beberapa negara termasuk Indonesia. Memahami faktor yang berkaitan dengan pengalaman aborsi dapat membantu upaya perbaikan dan peningkatan program kesehatan reproduksi khususnya berkaitan dengan pencegahan aborsi. Studi ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran determinan struktural perempuan yang mengalami aborsi. Metode: Studi ini menggunakan data Community Based Survey tahun 2018 yang secara random mewawancarai 8.989 perempuan usia 15-49 tahun di enam provinsi di Pulau Jawa. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur oleh pewawancara terlatih dengan mengumpulkan informasi terkait pengalaman penggunaan kontrasepsi, kehamilan, aborsi, kekerasan oleh pasangan, dan masalah lain terkait kesehatan reproduksi. Analisis Structural Equation Modeling digunakan untuk mendapatkan gambaran determinan struktural perempuan yang mengalami aborsi berdasarkan konsep teori perilaku Integrated Behavioral Model. Hasil: Model struktural fit dengan nilai RMSEA= 0,037; CFI= 0,924, dan SRMR=0,048. Perempuan dengan niat mencegah kehamilan dan niat menggugurkan kandungan memiliki efek langsung terbesar dalam pengalaman aborsi. Pengalaman kekerasan fisik dan seksual, sikap ketidak khawatiran terhadap dampak mengakhiri kehamilan, dan pengetahuan kontrasepsi yang rendah memiliki efek langsung terhadap meningkatnya niat melakukan aborsi. Implikasi program: Niat menggugurkan kandungan dapat terjadi jika perempuan mengalami kehamilan tidak diinginkan. Penggunaan kontrasepsi modern efektif saat ini hanya mencapai 25%. Menurunkan angka kegagalan KB dan meningkatkan penggunaan MKJP secara bersama- sama akan menurunkan kehamilan tidak diinginkan dan menurunkan kejadian aborsi. Kekerasan oleh pasangan dapat meningkatkan kemungkinan kehamilan tidak diinginkan yang mengakibatkan perempuan memiliki otonomi yang rendah atas dirinya. Peningkatan program komunikasi prefentif upaya pengendalian kekerasan oleh pasangan, peningkatan kesadaran akan bahaya dan dampak, peran serta komunitas, dan media social perlu ditingkatkan dalam upacaya pencegahan dan penanggulangan masalah kekerasan oleh pasangan.

Stigma against abortion has limited the study of abortion in several countries including Indonesia. This study aims to get a picture of the structural determinants of women who had abortion.This study utilized data from community-based survey of 8,969 randomly selected women aged 15-49 in six provinces in Java. Structural Equation Modeling Analysis was used to get an overview of the structural determinants of women who had abortion based on the concept of Integrated Behavioral Model Theory. Model fit with RMSEA value = 0.037; CFI = 0.924, and SRMR = 0.048. Intention shows the biggest direct effect on abortion. The experience of physical and sexual violence, the attitude toward the impact of ending pregnancy, and lack of contraception knowledge have a direct effect on increasing the intention to have an abortion. Reducing contraceptive failure rates and increasing the use of LARC will reduce unwanted pregnancies and abortion incidence. Communication program, increasing awareness of the dangers and impacts, community participation, and social media need to be increased in efforts to prevent and overcome the problem of IPV.

Read More
T-5903
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sukma Rahayu; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo; Penguji: Budi Utomo, Tris Eryando, Maria Gayatri, Riznawaty Imma Aryanty
Abstrak: Indonesia masih memiliki tantangan dalam upaya penurunan AKI untuk mencapai target SDGs tahun 2030. Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu program yang efektif untuk menurunkan AKI, namun selama satu dekade terakhir program KB mengalami stagnansi. Saat ini, program KB cenderung berfokus pada perempuan dan partisipasi laki-laki dalam keluarga berencana dinilai masih rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran partisipasi laki-laki dalam keluarga berencana pada tahun 2007, 2012 dan 2017, determinan sosial yang mempengaruhinya serta ketidakmerataan geografis dan sosial ekonomi.
Read More
T-6407
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shafa Aura Dian Insani; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Rico Kurniawan, Sudibyo Alimoeso
Abstrak:

Latar Belakang: KB memiliki sejarah keberhasilan dalam meningkatkan pemakaian kontrasepsi modern dalam waktu relatif pendek, yaitu dari 10% di awal dekade 1970-an menjadi sekitar 60% di awal 2000-an. Namun, pada kurun waktu tersebut hingga 2017 terjadi pergeseran dominasi metode kontrasepsi yang digunakan oleh perempuan usia subur berstatus kawin, yaitu dari penggunaan metode kontrasepsi yang beragam menjadi dominasi Non MKJP, khususnya suntik KB.
Metode: Analisis data sekunder dilakukan dengan menggunakan data SKI tahun 2023. Uji chi-square dan regresi logistik dengan interval kepercayaan 95% digunakan dalam penelitian ini untuk menggambarkan kekuatan hubungan antar variabel.
Hasil: Cakupan penggunaan MKJP pada perempuan usia subur berstatus kawin di Indonesia dalam penelitian ini mencapai 28,8%. Hasil analisis multivariabel menunjukkan bahwa variabel yang memiliki hubungan secara statistik antara lain adalah usia, pendidikan responden, status pekerjaan responden, paritas, status ekonomi, wilayah administratif, pendidikan pasangan, dan konseling KB.
Kesimpulan: Semakin tingginya tingkat pendidikan yang ditempuh oleh seorang perempuan, semakin tinggi juga peluang yang dimilikinya untuk menggunakan MKJP. Hal ini disebabkan karena dengan tingkat pendidikan tersebut perempuan akan cenderung lebih mudah memahami informasi dan manfaat MKJP, serta memiliki kapasitas lebih besar dalam pengambilan keputusan terkait kontrasepsi. Oleh karenanya, peningkatan akses dan kualitas informasi dapat menjadi salah satu strategi yang dapat mendorong penggunaan MKJP secara lebih luas.a


Background: The family planning program has a history of success in increasing the use of modern contraceptives within a relatively short period, rising from 10% in the early 1970s to around 60% in the early 2000s. However, during that period up to 2017, there was a shift in the dominant contraceptive methods used by women of reproductive age—from a variety of methods to a dominance of non-long-acting and permanent methods (non-LARCs), particularly injectable contraceptives. Method: The proportion of long-acting reversible contraceptive (LARC) use among women of reproductive age in Indonesia in this study reached 28.8%. The multivariable analysis showed that several variables were statistically associated with LARC use, including age, respondent’s education, respondent’s employment status, parity, economic status, administrative region, partner’s education, and FP counseling. Results: Women with a secondary education level are more likely to use long-acting reversible contraceptive (LARCs). This is because, at this level of education, women tend to better understand information regarding the benefits of LARCs and have greater capacity in making decisions related to contraception. Therefore, improving access to and the quality of information may serve as an effective strategy to promote broader use of LARCs. Conclusion: The higher the level of education attained by a woman, the greater her likelihood of using long-acting reversible contraceptive (LARCs). This is because women at this education level tend to understand information about the benefits of LARCs more easily and have greater capacity in making decisions related to contraception. Therefore, improving access to and the quality of information can be an effective strategy to encourage wider use of LARCs.

Read More
S-11953
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggi Anitia; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Sudibyo Alimoeso
Abstrak:
Penelitian ini membahas tentang determinan yang berhubungan dengan kejadian perkawinan anak pada wanita muda berusia 15 – 24 tahun dengan tujuan untuk mengetahui gambaran kejadian perkawinan anak di Indonesia dan hubungan antara faktor-faktor tersebut (individu, rumah tangga, dan lingkungan sosial) dengan kejadian perkawinan anak pada wanita muda berusia 15 – 24 tahun di Indonesia. Desain studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional (potong lintang) dengan analisis multivariabel regresi logistik menggunakan sumber data dari data sekunder SDKI 2017. Populasi penelitian ini adalah seluruh wanita usia subur berusia 15 – 24 tahun di Indonesia yang menjadi responden SDKI 2017, sedangkan sampel penelitiannya adalah seluruh wanita usia subur yang berusia 15 – 24 tahun yang sudah menikah di Indonesia dan tercakup dalam SDKI 2017 yang berjumlah 3.939 responden. Dalam penelitian ini, ditemukan hasil prevalensi perkawinan anak pada wanita muda berusia 15 – 24 tahun di Indonesia sebesar 54,9%. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara usia (AOR= 29,72; 95% CI= 18,32 – 48,21), lokasi tempat tinggal (AOR= 1,46; 95% CI= 1,19 – 1,79), tingkat pendidikan (AOR= 3,23; 95% CI= 2,47 – 4,23), status ekonomi (AOR= 2,10; 95% CI= 1,73 – 2,56), keterpaparan informasi (AOR= 0,67; 95% CI= 0,50 – 0,89), jumlah anggota keluarga (AOR= 0,70; 95% CI= 0,58 – 0,85), dan peran perempuan dalam pengambilan keputusan menikah (AOR= 1,50; 95% CI= 1,22 – 1,84) terhadap kejadian perkawinan anak. Dapat disimpulkan, bahwa prevalensi perkawian anak masih tinggi dan dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut. Oleh karena itu, dengan meningkatkan akses pendidikan (penyuluhan dan edukasi), sosialisasi dampak perkawinan anak, dan melakukan pemberdayaan masyarakat dapat menjadi solusi untuk menurunkan prevalensi perkawinan anak pada wanita muda di Indonesia.

This study discusses the determinants associated with the incidence of child marriage in young women aged 15 – 24 years to know the description of the incidence of child marriage in Indonesia and the relationship between these factors (individuals, households, and the social environment) with the incidence of child marriage. in young women aged 15-24 years in Indonesia. The study design used in this study was cross-sectional (cross-sectional) with multivariable logistic regression analysis using data sources from secondary data from the 2017 IDHS. The study population was all women of childbearing age aged 15-24 years in Indonesia who were respondents to the 2017 IDHS. while the research sample was all women of childbearing age aged 15-24 who were married in Indonesia and included in the 2017 IDHS, totaling 3,939 respondents. In this study, it was found that the prevalence of child marriage among young women aged 15-24 years in Indonesia was 54.9% (95% CI: 52.7 - 57.1). Statistical test results showed a statistically significant relationship between age (AOR= 29.72; 95% CI= 18.32 – 48.21), location of residence (AOR= 1.46; 95% CI= 1.19 – 1.79), educational level (AOR= 3.23; 95% CI= 2.47 – 4.23), economic status (AOR= 2.10; 95% CI= 1.73 – 2.56), exposure information (AOR= 0.67; 95% CI= 0.50 – 0.89), number of family members (AOR= 0.70; 95% CI= 0.58 – 0.85), and the role of women in decision making married (AOR = 1.50; 95% CI = 1.22 – 1.84) on the incidence of child marriage. It can be concluded that the prevalence of child marriage is still high and is influenced by these factors. Therefore, increasing access to education (counseling and education), socializing the impact of child marriage and applicable regulations regarding the minimum age for marriage, as well as conducting community empowerment can be solutions to reduce the prevalence of child marriage among young women in Indonesia.
Read More
S-11235
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wulan Sari RG Sembiring; Pembimbing: Besral; Penguji: Milla Herdayati, R. Sutiawan, Teti Tejayanti, Mouhamad Bigwanto
Abstrak: Pendahuluan: Bayi dengan BBLR mempunyai kemungkinan 4 kali lebih besar untuk meninggal selama 28 hari pertama masa hidupnya dibandingkan dengan bayi lahir dengan berat normal. Di Indonesia BBLR merupakan urutan kedua jenis penyakit terbanyak terkait pengunaan tembakau dimana dampaknya merupakan faktor yang sangat menentukan kesehatan di masa dewasa. Lebih dari 57% dalam sebuah rumah tangga mempunyai sedikitnya satu orang perokok dimana 91,8% merokok di dalam rumah tangga dan mengabaikan risiko serta bahaya paparan asap rokok. Metode: Penelitian ini dilakukan di seluruh wilayah Indonesia menggunakan data hasil Riskesdas 2018 dengan tujuan mengetahui efek paparan asap rokok dalam rumah tangga terhadap kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Indonesia setelah setelah dikontrol dengan faktor bayi (jenis kelamin), faktor ibu (tingkat pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, dan TBC pada ibu), faktor pelayanan kesehatan (frekuensi dan kualitas ANC) dan faktor lingkungan (wilayah tempat tinggal). Penelitian ini dilakukan dengan disain potong lintang serta analisis regresi logistik dan poisson. Hasil: Hasil penelitian dengan model akhir perilaku merokok berinteraksi dengan jenis kelamin serta dikontrol oleh variabel tingkat pendidikan ibu dan frekuensi ANC secara umum menunjukan bahwa tidak ada efek dari paparan asap rokok dalam rumah tangga dengan kejadian BBLR (meskipun p value pada jenis kelamin perempuan dengan paparan asap rokok ≥ 20btg lebih kecil dari 0.05, namun OR 0.056 atau bersifat protektif). Pembahasan: Berdasarkan hasil penelitian ini dan beberapa tinjauan hasil penelitian yang sejalan disimpulkan bahwa berat badan lahir tidak semata-mata dipengaruhi oleh riwayat paparan asap rokok, tetapi dalam suatu kondisi tertentu ada faktor lain yang mungkin lebih dominan. Dalam hal ini mungkin disebabkan karena beberapa faktor seperti cara pengumpulan data hanya berdasarkan wawancara/kuesioner sehingga pengukuran terhadap paparan asap rokok dalam rumah tangga kurang dapat menggambarkan situasi sebenarnya (hasil pengukuran lemah. Kesimpulan: Berdasarkan analisis yang telah digunakan baik menggunakan metode regresi logistik maupun poisson adalah bahwa hasil penelitian ini belum dapat menjawab hipotesis yang menyatakan bahwa efek paparan asap rokok dalam rumah tangga meningkatkan kejadian BBLR di Indonesia tahun 2018 bahkan setelah dikontrol dengan variabel kovariat.

Introduction: Babies with LBW are 4 times more likely to die during the first 28 days
of life than babies born with normal weight. In Indonesia, LBW is the second largest
type of disease related to tobacco use where the impact is a very determining factor in
adulthood. More than 57% in a household has at least one smoker where 91.8% smoke
in the household and ignore the risks and dangers of exposure to cigarette smoke.
Method: This research was conducted in all regions of Indonesia using Riskesdas 2018
results with the aim of knowing the effect of exposure to cigarette smoke in the
household on the incidence of Low Birth Weight (LBW) in Indonesia after being
controlled by baby (sex), maternal factors (level maternal education, maternal
employment status, and tuberculosis to the mother), health service factors (frequency
and quality of ANC) and environmental factors (residential area). This research was
conducted with cross-sectional design and logistic and poisson regression analysis.
Result: The results of the study with the final model of smoking behavior interacting
with gender and controlled by variables of maternal education level and frequency of
ANC in general showed that there was no effect of cigarette smoke exposure in
households with LBW events (although p value in female sex with exposure cigarette
smoke b 20btg less than 0.05, but OR 0.056 or protective).
Discussion: Based on the results of this study and a few reviews of the results of the
research that are in line concluded that birth weight is not solely influenced by a history
of exposure to cigarette smoke, but in certain conditions there are other factors that may
be more dominant. In this case it might be due to several factors such as the way data is
collected based only on interviews / questionnaires so that the measurement of cigarette
smoke exposure in the household is less able to describe the actual situation (the
measurement results are weak).
Conclution: Based on the analysis that has been used both using logistic regression
methods and poisson is that the results of this study have not been able to answer the
hypothesis that the effect of cigarette smoke exposure in households increases the
incidence of LBW in Indonesia in 2018 even after being controlled by covariate
variables
Read More
T-5935
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive