Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39225 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nadia Rana Nabila; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Asih Setiarini, Fadila Wirawan
Abstrak: Suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) sebanyak minimal satu kali per minggu merupakan suatu bentuk usaha pemerintah dalam penanggulangan anemia pada remaja putri. Meski demikian, konsumsi TTD pada remaja putri masih rendah. Terlebih pada kalangan mahasiswi karena mereka tidak lagi menerima TTD program seperti saat di bangku sekolah. Penelitian ini membahas faktor faktor yang berhubungan dengan konsumsi TTD pada mahasiswi di Rumpun Ilmu Kesehatan UI tahun 2022. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang yang melibatkan 115 mahasiswi berusia 18 19 tahun yang aktif berkuliah pada tahun ajaran 2021/2022. Mahasiswi yang sedang hamil dan/atau tidak dapat mengonsumsi TTD karena kondisi kesehatan dikeluarkan dari penelitian. Responden dipilih melalui sampel acak sederhana. Hubungan antara sikap, pengetahuan, perceived threat, perceived benefit, perceived barrier, self-efficacy, dukungan keluarga, dukungan sebaya, dan pekerjaan orang tua dianalisis menggunakan analisis bivariat dan multivariat. Penelitian ini menemukan adanya hubungan yang signifikan antara perceived benefit (P-value=0,01; OR=2,72) dan dukungan keluarga (P-value=0,00; OR=4,19) dengan konsumsi TTD pada mahasiswi. Dukungan keluarga ditemukan paling berhubungan dengan konsumsi TTD pada mahasiswi RIK (P-value=0,00; OR=4,01). Hasil penelitian menyarankan perlu dilaksanakannya sosialisasi TTD kepada orang tua, pembentukan kelompok sebaya untuk saling mengingatkan konsumsi TTD, dan sosialisasi TTD kepada mahasiswi melalui organisasi mahasiswa di kampus.
Read More
S-10988
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Naila Afifah; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Triyanti, Deasy Martini
Abstrak:
Tablet Tambah Darah (TTD) merupakan suplemen gizi dengan kandungan zat besi setara 60 mg besi elemental dan 400 μg asam folat yang diberikan kepada Remaja Putri dan Wanita Usia Subur (WUS) yang bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan remaja putri dalam mengonsumsi TTD sehingga dapat menurunkan prevalensi anemia pada remaja putri (Simatupang dan Widiyarti, 2024). Namun, penerimaan atau tingkat kepatuhan konsumsi TTD masih menjadi isu yang kritis untuk diperhatikan. Penelitian yang dilakukan pada mahasiswi kesehatan dan non kesehatan di Universitas Jember dengan mayoritas mahasiswi berusia 23 tahun menunjukkan bahwa sebanyak 64,8% mahasiswi dari jurusan kesehatan dan 91,5% mahasiswi dari jurusan non kesehatan tidak teratur dalam mengonsumsi TTD (Dzati et al., 2024). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku dan hubungan status tinggal, sikap, pendidikan ibu, efek samping TTD, aksesibilitas TTD, media, dukungan keluarga, dukungan teman, dan dukungan tenaga kesehatan dengan perilaku konsumsi TTD pada mahasiswi kesehatan dan non kesehatan sarjana reguler di Universitas Indonesia tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan metode pengambilan sampel purposive sampling yang melibatkan 182 responden mahasiswi kesehatan dan non kesehatan sarjana reguler Universitas Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan perilaku konsumsi TTD pada mahasiswi kesehatan dan non kesehatan Sarjana Reguler Universitas Indonesia Tahun 2026, yaitu 86,8% pada mahasiswi kesehatan dan 82,4% pada mahasiswi non kesehatan. Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan tenaga kesehatan dengan perilaku konsumsi TTD pada mahasiswi kesehatan dan terdapat hubungan yang signifikan antara efek samping TTD, aksesibilitas TTD, dan dukungan keluarga dengan perilaku konsumsi TTD pada mahasiswi non kesehatan. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status tinggal, sikap, pendidikan ibu, media, dan dukungan teman dengan perilaku konsumsi TTD pada mahasiswi kesehatan dan non kesehatan. Dibutuhkan peningkatan kesadaran mahasiswi mengenai pentingnya konsumsi TTD sebagai upaya preventif anemia dan keterlibatan berbagai pihak dalam menyebarluaskan informasi mengenai TTD serta pendampingan terkait program konsumsi TTD pada mahasiswi di lingkungan kampus.

Iron-Folic Acid Tablets (IFAT) are nutritional supplements containing 60 mg of elemental iron and 400 μg of folic acid, distributed to adolescent girls and Women of Reproductive Age (WRA) with the aim of improving adherence to IFAT intake among adolescent girls, thus reducing the prevalence of anemia in this population (Simatupang dan Widiyarti, 2024). However, the acceptance or compliance rate for IFAT consumption remains a crucial issue that requires attention. A research of health and non-health majors at the University of Jember, with the majority of participants aged 23, showed that 64,8% of students in health-related majors and 91,5% of students in non-health-related majors did not consume IFAT consistently (Dzati et al., 2024). The purpose of this study is to analyze IFAT consumption behavior as well as the relationship between residential status, attitudes, mother's education, IFAT side effects, IFAT accessibility, media, family support, peer support, and healthcare provider support and IFAT consumption behavior among female undergraduate students in health and non-health majors at the University of Indonesia in 2026. This study used a cross-sectional design with purposive sampling, involving 182 respondents from female undergraduate students in health and non-health majors at the University of Indonesia. According to the study's findings, there is a difference in IFAT consumption behavior among female undergraduate students at the University of Indonesia in 2026, with 86,8% of health majors and 82,4% of non-health majors. There is a significant association between healthcare provider support and IFAT consumption behavior among female health students as well as between IFAT side effects, IFAT accessibility, and family support and IFAT consumption behavior among female non-health students. There is no significant association between residential status, attitudes, mother’s education, media, and peer support and IFAT consumption behavior among female health and non-health students. There is a need to increase awareness among female students about the necessity of consuming IFAT as a preventive step against anemia, as well as to involve various stakeholders in spreading information about IFAT along with providing guidance on IFAT consumption programs for female students on campus.
Read More
S-12457
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Narita Putri; Pembimbing: Fatmah; Penguji: Triyanti, Mury Kuswari
Abstrak: Nilai estimasi VO2Max, kapasitas maksimum oksigen yang dapat digunakan didalam tubuh per menit, merupakan indikator terbaik untuk menentukan tingkatkebugaran kardiorespiratori. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui rata-ratanilai estimasi VO2Max pada mahasiswa S1 Reguler Rumpun Ilmu Kesehatan UIserta hubungannya dengan jenis kelamin, aktivitas fisik, indeks massa tubuh(IMT), persen lemak tubuh, asupan gizi makro dan mikro, kualitas tidur, sertatingkat stres. Desain studi penelitian ini adalah cross-sectional dengan totalsampel 122. Pengukuran nilai estimasi VO2Max dilakukan dengan metode QueensCollege Step Test dan didapatkan hasil rata-rata 38,9±6,9 mL/kg/menit (43,9±7,9mL/kg/menit pada laki-laki dan 35,4±2,8 mL/kg/menit pada perempuan; p value <0,05). Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya perbedaan nilai estimasiVO2Max secara bermakna berdasarkan jenis kelamin. Hasil bivariat jugamenunjukkan adanya hubungan secara bermakna dengan pola positif antaravariabel aktivitas fisik, asupan energi, asupan protein, asupan lemak, asupankarbohidrat, vitamin B1, B2, dan Fe. Hubungan bermakna dengan pola negatifditemukan pada variabel persen lemak tubuh.Kata kunci: VO2Max, Queens College Step Test, mahasiswa.
Read More
S-9213
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kholida Eliyana; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Fadila Wirawan
Abstrak:
Label informasi nilai gizi produk pangan kemasan dapat digunakan untuk memantau asupan makanan, sehingga pemahaman terhadap informasi nilai gizi pada kemasan harus diperhatikan karena akan mempengaruhi pemilihan makanan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kebiasaan membaca label informasi nilai gizi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Pengumpulan data dilaksanakan bulan Mei-Juli 2023 pada Mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia. Sampel penelitian ini yaitu 208 responden melalui pengisian kuesioner. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah accidental sampling. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua cara, yaitu chi square dan uji t independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 30,8% responden memiliki kebiasaan baik dalam membaca label informasi nilai gizi. Uji statistik menunjukkan adanya hubungan antara gaya hidup dan pengetahuan gizi pada produk pangan kemasan dengan kebiasaan membaca label informasi nilai gizi. Oleh karena itu perlu dilakukan peningkatan pengetahuan dan pemahaman mengenai keuntungan dan cara membaca label informasi nilai gizi untuk meningkatkan kebiasaan yang baik dalam membaca label informasi gizi sebelum membeli produk pangan kemasan.

Nutrition labels on packaged food products can be utilized to monitor dietary intake and understanding of nutrition labels on the packaging should be noticed because it affects daily food selection. Lack of understanding of nutrition labels will impact inappropriate food selection. The Objective of this study is to identify the factors influencing the habit of reading nutritional information labels. The research adopts a quantitative approach with a cross-sectional design. Data collection was conducted from May to July 2023 among students from the Health Sciences Cluster at the University of Indonesia. The sample in this study was 208 respondents who were collected with a self-administered questionnaire and who were selected using accidental sampling. The study utilized two statistical analysis methods: chi-square and independent t-test. This study showed that 30,8% respondents have a good habit of reading nutrition labels. According to bivariate analysis, there was a significant association between healthy lifestyle and nutrition knowledge of packaged food products with the habit of reading nutritional information labels. Therefore, it is necessary to improve knowledge and understanding of the benefits and methods of reading nutritional information labels to enhance the good habit of reading such labels before purchasing packaged food products
Read More
S-11467
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ajeng Hadiati Sarjono; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Fatmah, Mursalim
s-6273
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jauza Nawal Hadi; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Asih Setiarini, Dian Kusumadewi
Abstrak:
Kerawanan pangan pada mahasiswa merupakan isu kesehatan masyarakat yang memiliki dampak buruk pada kesehatan dan performa akademik mahasiswa, terutama pada mahasiswa tahun pertama yang sedang mengalami masa transisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fakto-faktor yang berhubungan dengan status kerawanan pangan pada mahasiswa S1 Reguler tahun pertama Rumpun Ilmu Kesehatan dan Non-Kesehatan di Universitas Indonesia tahun 2026. Desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan pada bulan Mei 2026 menggunakan kuesioner daring dengan teknik convenience sampling. Sebanyak 312 responden dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi kerawanan pangan pada tahun pertama sebesar 40,7%. Analisis bivariat menunjukan adanya hubungan signifikan antara status sebagai generasi pertama yang berkuliah (p =0,001), tempat tinggal (p=0,005),  jenis kelamin (p=0,015), dan uang saku (p=0,045) dengan status kerawanan pangan. Hasil analisis multivariat menunjukkan mahasiswa yang tinggal secara indekos memiliki risiko 3,074 kali lebih besar untuk mengalami kerawanan pangan dibandingkan mahasiswa yang tinggal dengan orang tua (p= 0,000; 95% CI = 1.738 – 5.437). Oleh karena itu, Universitas Indonesia perlu menginisiasi program berupa hunian mahasiswa adaptif berbasis kemampuan finansial mahasiswa guna memitigasi risiko kerawanan pangan tersebut.

Food insecurity among university students represents a critical public health issue that adversely affects both health outcomes and academic performance, particularly among first-year students navigating transitional life stages. This study aims to determine the factors associated with food insecurity status among first-year regular undergraduate students across the Health and Non-Health Sciences clusters at Universitas Indonesia in 2026. A quantitative research design with a cross-sectional approach was employed. Data were collected in May 2026 using an online questionnaire distributed via convenience sampling. A total of 312 valid respondents were analyzed utilizing Chi-square tests and multiple logistic regression. The findings revealed that the prevalence of food insecurity among first-year students was 40.7%. Bivariate analysis indicated significant associations between food insecurity status and being a first-generation college student (p = 0.001), place of residence (p = 0.005), gender (p = 0.015), and monthly allowance (p = 0.045). Furthermore, multivariate analysis demonstrated that students living in off-campus housing faced a 3.074 times higher risk of experiencing food insecurity compared to those residing with their parents (p = 0.000; 95% CI = 1.738 - 5.437). Consequently, Universitas Indonesia needs to initiate adaptive student housing programs tailored to students' financial capacities as a targeted intervention to mitigate the risk of food insecurity.
Read More
S-12414
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hannah Silvia; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, ingrid S. Surono
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungandengan konsumsi pangan probiotik pada mahasiswi Program Studi Gizi FakultasKesehatan Masyarakat Universitas Indonesia tahun 2011. Penelitian ini adalahpenelitian kuantitatif dengan menggunakan desain studi cross sectional danpengambilan sampel dilakukan dengan cara sampel jenuh pada mahasiswiProgram Studi Gizi seluruh angkatan. Hasil penelitian menunjukkan konsumsiterakhir pangan probiotik pada > 4 minggu lalu sebesar 37,4%, disusul olehresponden yang mengonsumsi pangan probiotik pada < 2 minggu lalu yakni34,6%, konsumsi 2-4 minggu lalu sebesar 27,9%. Pihak yang menganjurkankonsumsi adalah inisiatif sendiri yakni 86,3%, sebagian besar mengakumerasakan manfaat dari konsumsi probiotik yakni 56,9%, tidak melihatsaran/petunjuk pemakaian produk yakni sebesar 72,1%, dan respondenmengkonsumsi dua merek produk pangan probiotik sebesar 50,3%. Rata-rata skorpengetahuan responden mengenai probiotik adalah 38,84 poin dari skor maksimal80 poin. Sebanyak 44,7% memiliki uang saku Rp.0-Rp 500.000, memiliki skoraktivitas fisik 0,7184, tidak memiliki riwayat konstipasi dalam satu bulan terakhirsebesar 83,1%, dan memiliki rata-rata frekuensi keterpaparan media promosimengenai probiotik sebanyak 29,15 kali dalam satu bulan.Hubungan yang bermakna hanya ditemui pada variabel aktivitas fisik(p=0,016), sedangkan variabel lainnya tidak memiliki hubungan yang signifikanyakni hubungan konsumsi pangan probiotik sebagai variabel dependent denganpengetahuan (p=0,173), besar uang saku (p=0,695), riwayat konstipasi dalam satubulan terakhir (p=0,915), dan media promosi probiotik (p=0,833) sebagai variabelindependen. Dibutuhkan penelitian lanjutan pada kelompok usia yang berbedadengan penambahan variabel penelitian seperti kebiasaan makan.Kata kunci: pangan probiotik
This study aims to determine the factors associated with the consumptionof probiotic foods in female students of Nutrition Program of Public HealthFaculty at the University of Indonesia in 2011. This study is a quantitative studyusing cross-sectional study design and sampling is done by saturated sampling ofstudents at Nutrition Program Study throughout the year. The result showed finalconsumption of probiotic foods in > 4 weeks ago are 37,4%, followed byrespondents who consumed probiotic foods at < 2 weeks ago are 34,6%,consumption of 2-4 weeks ago are 27,9%. Students that promote the consumptiontheir own initiative are 86,3%, most claim to feel the benefits of probiotic foodsconsumption are 56,9%, did not see a suggestion/user of products are 72,1%, andthe respondents consume two brands of probiotic food products are 50,3%. Anaverage score of knowledge about probiotics is 38,84 points from 80 maximumpoints. A total of 44,7% had an allowance (per month) of Rp.0-Rp.500.000, anaverage score of physical activity are is 0,7184, no history of constipation in thepast month are 83,1%, and has an average 29,15 time in a month of exposure tomedia promotion of probiotics.A significant association was only found on the variable of physicalactivity (p=0,016), whereas other variables had no significant relationship whichis the relationship of food consumption of probiotic foods as a dependent variablewith knowledge, (p=0,173), large pocket money (p=0,695), history of constipationin the past month (p=0,915), and media promotion (p=0,833) as independentvariables. Further research is needed in different age groups with the addition ofthe study variables such as eating habit.Key words: probiotic foods
Read More
S-7664
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nelda Amir; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Ahmad Syafiq, Diah Mulyawati Utari, Dewi Damayanti, Dwi Suwartini
Abstrak: Remaja putri merupakan kelompok yang rentan terkena anemia karena menstruasi tiap bulan. Anemia mempunyai dampak yang serius terutama pada ibu hamil, oleh sebab itu remaja putri harus mempunyai status besi yang baik untuk mencegah anemia, salah satunya dengan mengonsumsi tablet tambah darah (TTD). Tesis ini membahas faktorfaktor yang berhubungan dengan niat konsumsi TTD pada remaja putri di dua sekolah menengah atas di kota Pariaman tahun 2019. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara manfaat yang dirasakan (perceived benefit), hambatan yang dirasakan (perceived barrier), dukungan keluarga, dan dukungan teman dengan niat konsumsi TTD pada remaja putri. Faktor dominan pada penelitian ini adalah hambatan yang dirasakan (perceived barrier) dengan Odds Ratio (OR) sebesar 6,910.
Kata kunci: Remaja putri, Tablet Tambah Darah (TTD), Perceived Barrier, Sekolah Menengah Atas

An adolescent girl is a group that more affected by anemia due to menstruation every month. Anemia has a serious impact especially in pregnant women, therefore adolescent girls must have a good iron status to prevent anemia, one of which is by taking iron tablets (TTD). This study aims to discuss the factors associated with the intention of consumption TTD in Adolescent girls in two high schools in Pariaman in 2019. This research is a quantitative study with a cross-sectional design. The results showed a significant relationship between perceived benefits, perceived barriers, family support, and friend support to consume TTD in adolescent girls. The dominant factor in this study is the perceived barrier with an Odds Ratio of 6,910.
Key words: Adolescent girl, iron tablet, Perceived Barrier, senior high schoo
Read More
T-5770
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wawan Gunawan; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Triyanti, Siti Arifah Pujonarti, Eka Rosiyati, Farida
Abstrak:
Anemia Gizi Besi pada ibu hamil merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting karena dapat berdampak buruk pada kesehatan ibu dan janin yang sedang berkembang. Tablet Tambah Darah (TTD) merupakan suplemen bagi ibu hamil yang bermanfaat mencegah dan mengobati anemia selama kehamilan. Masih rendahnya tingkat kepatuhan konsumsi TTD pada ibu hamil dipengaruhi oleh banyak faktor. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan terhadap kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi TTD di Kelurahan Terpilih, Kecamatan Sawangan, Kota Depok. Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan desain studi cross-sectional dengan populasi seluruh ibu hamil yang melakukan pemeriksaan sejak awal kehamilan hingga melahirkan di kelurahan terpilih, Kecamatan Sawangan, Kota Depok. Hasil penelitian: Dari 224 orang ibu, sebanyak 72.8% tidak patuh mengonsumsi TTD selama hamil. Variabel yang paling dominan berhubungan dengan kepatuhan konsumsi TTD adalah usia Ibu. Ibu dengan usia tidak beresiko memiliki peluang untuk tidak patuh mengonsumsi TTD sebesar 2.729 kali dibandingkan dengan ibu yang memiliki usia berisiko, setelah di kontrol oleh pendidikan suami, dukungan suami, pekerjaanibu, pengetahuan ibu, keterpaparan media sosial dan efek samping. Diperlukan KIE (komunikasi, Informasi dan Edukasi) tentang manfaat konsumsi TTD dan dampak anemia pada ibu hamil yang tidak patuh mengonsumsi TTD.

Iron Nutritional Anaemia in pregnant women is a significant public health problem as it can adversely affect the health of the mother and the developing fetus. Blood Additive Tablets (TTD) are a supplement for pregnant women that is beneficial to prevent and treat anemia during pregnancy. Many factors influence the low compliance rate of TTD consumption among pregnant women. The purpose of the study was to determine what factors are associated with pregnant women's compliance in consuming TTD in Selected Village, Sawangan Subdistrict, Depok City. This study used secondary data with a cross-sectional study design with a population of all pregnant women who had examinations from the beginning of pregnancy to childbirth in selected villages in Sawangan Subdistrict, Depok City. Results: Of 224 mothers, as many as 72.8% were not compliant with taking TTD during pregnancy. The most dominant variable associated with adherence to TTD consumption was maternal age. Mothers with non-risk age had a chance to be non-compliant in taking TTD by 2.729 times compared to mothers with risk age, after controlling by husband's education, husband's support, mother's occupation, mother's knowledge, exposure to social media, and side effects. KIE (communication, information, and education) on the benefits of TTD consumption and the impact of anemia on non-adherent pregnant women consuming TTD is needed.
Read More
T-6898
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ismiyati Nur Fadhilah; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Triyanti, Fajrinayanti
Abstrak:
Premenstrual Syndrome (PMS) merupakan kumpulan gejala fisik, psikologis, dan perilaku yang terjadi secara berulang selama fase luteal siklus menstruasi, atau sekitar 7-14 hari sebelum menstruasi, dan umumnya mereda saat dimulainya menstruasi. Sebuah studi meta-analisis yang dilakukan di Asia melaporkan prevalensi premenstrual syndrome pada kelompok mahasiswi mencapai 50,3%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian premenstrual syndrome pada mahasisiwi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia tahun 2026. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Data dikumpulkan dalam dua tahap, yaitu secara daring (tahap 1) dan luring (tahap 2) yang diikuti 130 responden. Sebanyak 54,6% responden mengalami gejala berat premenstrual syndrome, sedangkan 45,4% mengalami gejala ringan. Analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat keluarga, tingkat stres, dan usia menarche dengan kejadian premenstrual syndrome. Sementara itu, diketahui bahwa obesitas sentral serta frekuensi konsumsi makanan dan minuman manis, asin, berlemak, dan berkafein tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian premenstrual syndrome. Untuk meminimalisasi kejadian premenstrual syndrome, dibutuhkan intervensi edukatif mengenai pentingnya manajemen stres dan perbaikan gaya hidup.

Premenstrual Syndrome (PMS) is a cluster of physical, psychological, and behavioral symptoms that recur during the luteal phase of the menstrual cycle, or approximately 7–14 days before menstruation, and generally subside at the onset of menstruation. A meta-analysis conducted in Asia reported a prevalence of premenstrual syndrome among female college students reaching 50.3%. This study aims to identify factors associated with the occurrence of premenstrual syndrome among female students at the Faculty of Public Health, University of Indonesia in 2026. This study employs a quantitative approach with a cross-sectional study design. Data were collected in two phases, online (Phase 1) and in-person (Phase 2), involving 130 respondents. A total of 54.6% of respondents experienced severe premenstrual syndrome symptoms, while 45.4% experienced mild symptoms. Bivariate analysis showed a significant association between family history, stress levels, and age at menarche with the occurrence of premenstrual syndrome. Meanwhile, it was found that central obesity and the frequency of consumption of sweet, salty, fatty, and caffeinated foods and beverages were not significantly associated with the occurrence of premenstrual syndrome. To minimize the occurrence of premenstrual syndrome, educational interventions regarding the importance of stress management and lifestyle improvements are needed.
Read More
S-12409
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive