Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37814 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Martha Dina Apriliana; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Didik Triwibowo
Abstrak: Kecelakaan yang berkaitan dengan lalu lintas dan insiden yang berkaitan dengan kendaraan menjadi penyebab utama kecelakaan di area pertambangan. Salah satu penyebabnya adalah kelelahan pada operator truk tambang. Penelitian ini dilaksanakan untuk menjelaskan gambaran kelelahan subjektif dan menganalisis faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan subjektif pada operator kendaraan tambang batu bara di area mining dan hauling PT Adaro Indonesia. Faktor-faktor risiko yang diteliti meliputi faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, status gizi (IMT), lingkar leher, keluhan kesehatan, kuantitas tidur, dan kualitas tidur) dan faktor risiko terkait pekerjaan (area kerja, masa kerja, shift kerja, commuting time, dan lingkungan kerja terutama temperatur, kebisingan, getaran, dan pencahayaan). Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari hingga Juli 2022. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari kuesioner yang disebarkan secara dalam jaringan (daring), yang meliputi kuesioner karakteristik individu dan pekerjaan, Fatigue Assessment Scale (FAS) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis inferensial dengan uji chi-square serta uji regresi logistik ganda model prediksi. Besar sampel minimal dalam penelitian ini adalah 436 operator, namun data yang berhasil dianalisis adalah sebanyak 440 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 130 operator (29,5%) mengalami kelelahan subjektif. Hasil analisis statistik inferensial menggunakan uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko tidak terkait pekerjaan, yaitu status gizi (IMT gemuk dan obesitas), keluhan kesehatan, dan kualitas tidur terhadap kelelahan subjektif pada operator. Hasil analisis statistik inferensial juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko terkait pekerjaan, yaitu masa kerja, temperatur, kebisingan, getaran, dan pencahayaan, terhadap kelelahan subjektif pada operator. Sementara itu, hasil analisis inferensial menggunakan uji regresi logistik ganda model prediksi menunjukkan bahwa kualitas tidur merupakan variabel yang paling dominan berhubungan dengan kelelahan subjektif pada operator.
Accidents related to traffic and incidents related to vehicles are the main causes of accidents in mining areas. One of the causes is fatigue on mining truck operators. This study was conducted to describe subjective fatigue and analyze risk factors related to subjective fatigue in coal mining vehicle operators in mining and hauling area of PT Adaro Indonesia. The risk factors studied included non-work-related risk factors (age, nutritional status (BMI), neck circumference, health complaints, sleep quantity, and sleep quality) and work-related risk factors (work area, length of work, shift work, commuting time, and work environment, especially temperature, noise, vibration, and lighting). The study was conducted from February to July 2022. The data used in this study came from a questionnaire distributed online, which included a questionnaire on individual and job characteristics, the Fatigue Assessment Scale (FAS), and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Data were analyzed using descriptive analysis and inferential analysis with chi-square test and multiple logistic regression test for prediction models. The minimum sample size in this study was 436 operators, but the data that were successfully analyzed were 440 respondents. The results showed that as many as 130 operators (29.5%) experienced subjective fatigue. The results of inferential statistical analysis using the chi-square test showed that there was a significant relationship between risk factors not related to work, namely nutritional status (fat and obesity BMI), health complaints, and sleep quality on subjective fatigue in operators. The results of inferential statistical analysis also show that there is a significant relationship between work-related risk factors, namely working period, temperature, noise, vibration, and lighting, and subjective fatigue on operators. Meanwhile, the results of inferential analysis using multiple logistic regression test predictive models indicate that sleep quality is the most dominant variable associated with subjective fatigue in operators.
Read More
S-11040
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Priscilla Ray Soelistyo; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Didik Triwibowo
Abstrak:
Kelelahan kerja merupakan permasalahan multidimensional yang menjadi ancaman serius bagi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) karena dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi. Dampaknya tidak hanya menurunkan kondisi fisik dan mental pekerja, tetapi juga berkontribusi terhadap sekitar 15–20% kecelakaan kerja di tingkat nasional dan 13–19% kecelakaan kerja di tingkat internasional, termasuk kecelakaan fatal. Pada sektor pertambangan, risiko tersebut semakin meningkat akibat karakteristik operasional yang menuntut, sehingga pekerja tambang memiliki kemungkinan mengalami kelelahan sekitar dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan pekerja di sektor industri lainnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran kelelahan subjektif pada operator kendaraan tambang batu bara PT X tahun 2026 sekaligus menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan.  Faktor yang dikaji mencakup faktor terkait pekerjaan, yaitu  beban kerja, shift kerja, lingkungan kerja, stres kerja, dan masa kerja, serta faktor tidak terkait pekerjaan, yaitu usia, kualitas tidur, kuantitas tidur, status pernikahan, gizi, konsumsi kafein, kebiasaan merokok, dan aktivitas fisik. Pengukuran kelelahan dilakukan menggunakan instrumen yang tervalidasi, yaitu Occupational fatigue Exhaustion Recovery Scale (OFER), variabel beban kerja diukur menggunakan NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ), variabel stres kerja diukur menggunakan Perceived Stress Scale (PSS), variabel  kualitas dan kuantitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), dan variabel aktivitas fisik diukur menggunakan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Dengan desain penelitian potong lintang (cross-sectional), analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian ini  menunjukkan bahwa baik faktor risiko kelelahan terkait pekerjaan maupun tidak terkait pekerjaan berhubungan signifikan dengan kelelahan. Variabel yang berhubungan secara signifikan yaitu lingkungan kerja, stres kerja, masa kerja, kualitas tidur, kuantitas tidur, status pernikahan, dan aktivitas fisik. Temuan penelitian ini menunjukkan pentingnya peningkatan program manajemen kelelahan terutama terkait faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan untuk menurunkan risiko kelelahan serta mencegah terjadinya kecelakaan kerja di sektor pertambangan.

Workplace fatigue is a multidimensional problem that poses a serious threat to occupational safety and health (OHS) because it is influenced by various interacting factors. Its impact not only reduces the physical and mental condition of workers, but also contributes to approximately 15–20% of workplace accidents nationally and 13–19% of workplace accidents internationally, including fatal accidents. In the mining sector, this risk is further increased due to demanding operational characteristics, so that mine workers are approximately two to three times more likely to experience fatigue than workers in other industrial sectors. This study aims to determine the picture of subjective fatigue in coal mining vehicle operators at PT X in 2026 while analyzing factors related to fatigue. The factors studied include work-related factors, namely workload, work shifts, work environment, job stress, and length of service, as well as non-work-related factors, namely age, sleep quality, sleep quantity, marital status, nutrition, caffeine consumption, smoking habits, and physical activity. fatigue measurements were conducted using a validated instrument, namely the Occupational fatigue Exhaustion Recovery Scale (OFER), workload variables were measured using the NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ), work stress variables were measured using the Perceived Stress Scale (PSS), sleep quality and quantity variables were measured using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), and physical activity variables were measured using the International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). With a cross-sectional study design, data analysis was conducted descriptively and inferentially using the chi-square test. The results of this study indicate that both work-related and non-work-related fatigue risk factors are significantly related to fatigue. The variables that are significantly related are the work environment, work stress, tenure, sleep quality, sleep quantity, marital status, and physical activity. The findings of this study indicate the importance of improving fatigue management programs, especially related to risk factors related to fatigue, to reduce the risk of fatigue and prevent occupational accidents in the mining sector.
Read More
S-12446
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Safira Hazzrah Medinah; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Mohammad Zayyin
Abstrak:
Kelelahan atau fatigue pada pekerja tambang memiliki dampak yang besar terhadap tingkat absenteisme, penurunan produktivitas, biaya kesehatan, dan kecelakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran keluhan kelelahan pada pekerja di PT X serta menganalisis faktor-faktor yang berhubungan. Faktor risiko yang diteliti yaitu faktor terkait pekerjaan (beban kerja, masa kerja, waktu istirahat, area kerja, shift kerja, dan stres kerja) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, kualitas dan kuantitas tidur, kebiasaan merokok, commuting time, pekerjaan sampingan, konsumsi kafein, status pernikahan, status gizi, dan olah raga). Untuk mengukur kelelahan menggunakan kuesioner Occupational Fatigue Exhaustion Recovery Scale (OFER), mengukur stres kerja menggunakan kuesioner Survei Diagnosis Stres (SDS), mengukur kualitas tidur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), mengukur beban kerja mental menggunakan NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ), mengukur karakteristik responden menggunakan The Self-administered Questionnaire, dan untuk mengukur beban kerja fisik menggunakan alat Fingertip Pulse Oximeter. Penelitian ini dilakukan kepada 156 pekerja tambang di PT X dengan menggunakna desain penelitian cross-sectional. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara masa kerja, waktu istirahat, usia, dan beban kerja mental dengan kelelahan. Oleh karena itu, perlu dilakukannya pengembangan program pencegahan dan pengendalian kelelahan (fatigue management) di tempat kerja dan melihat hubungan faktor terkait pekerjaan yang lebih dominan terhadap kelelahan dibandingkan faktor tidak terkait pekerjaan.

Fatigue in mining workers has a huge impact on absenteeism rates, decreased productivity, medical costs, and accidents. This study aims to describe the level of fatigue in workers at PT. X and analyze the associated risk factors. The risk factors studied included work-related factors (workload, period of work, rest time, mining area, work shifts, and work stres) and non-work related factors (age, sleep quality and sleep quantity, smoking status, commuting time, side work, caffeine consumption, marital status, body mass indeks, and exercise). To measure fatigue, the Occupational Fatigue Exhaustion Recovery (OFER) questionnaire was used, Survey Diagnostic Stress (SDS) was used to measure job stress, the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire was used to measure sleep quality, NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ) was used to measure mental workload, the Self-administered Questionnaire was used to measure respondent characteristics, and Fingertip Pulse Oximeter was used to measure physical workload. This research was conducted on 156 mining workers at PT. X by using a cross-sectional research design. Descriptive and inferential logistic regression was used to analyze the data. The results showed that there was a significant association between period of work, rest time, age, and mental workload. Therefore, it is necessary to develop a fatigue management program in the workplace and refers to see the result that the relationship between work related factors and fatigue is more dominant than non-work related factors.
Read More
S-11713
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Akbar Maulana; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Agung Nugroho
Abstrak: Skripsi ini menganalisis risiko kecelakaan kendaraan alat berat pada jalan hauling tambang batu bara PT. X Tahun 2020 dengan menggunakan metode bowtie. Metode bowtie digunakan untuk mengidentifikasi ancaman, pengendalian, dan konsekuensi pada kronologi kecelakaan yang kemudian dianalisis untuk mengetahui tingkat efektifitas pengendalian berdasarkan data kecelakaan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Hasil penelitian menyarankan bahwa perusahaan perlu mengimplementasikan barrier management system, peningkatan teknologi pada pengendalian kecelakaan, pengawasan dan pemeliharaan rutin yang disiplin, serta kebijakan yang menekankan peningkatan kompetensi dan kedisiplinan pekerja sebagai upaya pencegahan kecelakaan. Kata kunci: Analisis kecelakaan, kendaraan alat berat, metode bowtie, tambang batu bara This study analyzes the risk of heavy equipment accidents on coal mining hauling road of PT. X of 2020 using the bowtie method. The bowtie method is used to identify threats, barriers, and consequences on accident chronology which are then analyzed to determine the level of effectiveness based on accident data. This research is a qualitative research with a descriptive design. The results of the study suggest that companies need to implement barrier management system, technological improvements in accident control, routine supervision and maintenance, and policies that emphasize the improvement of employee competency and discipline as an effort to prevent accidents. Key words: Accident analysis, heavy equipment, bowtie method, coal mine
Read More
S-10292
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ira Budi Hayati; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Mila Tejamaya, Arief Budiman
S-10462
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sulthan Aliyafiansyah; Pembimbing: Hendra; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Dani Wirahandoko
Abstrak:
Kelelahan kerja (fatigue) merupakan permasalahan serius di industri pertambangan yang dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan risiko kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kelelahan dan faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan pada pekerja operator dan mekanik di Site A PT X tahun 2026. Sebanyak 338 responden berpartisipasi, terdiri dari 242 operator dan 96 mekanik. Tingkat kelelahan diukur menggunakan Occupational Fatigue Exhaustion Recovery Scale (OFER-15). Faktor risiko terkait pekerjaan meliputi beban kerja (NASA-TLX), stres kerja (PSS-10), serta karakteristik individu seperti durasi kerja, masa kerja, dan shift kerja. Faktor risiko tidak terkait pekerjaan meliputi usia, status gizi, kualitas tidur (PSQI), kuantitas tidur, waktu perjalanan, konsumsi kafein, aktivitas fisik (IPAQ), dan perilaku merokok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas operator berada pada kategori tidak lelah baik pada kelelahan kronis (76,03%) maupun kelelahan akut (61,98%), dengan pemulihan antar shift yang cukup (81,81%). Pada mekanik, sebagian besar juga berada pada kategori tidak lelah untuk kelelahan kronis (62,5%) dan kelelahan akut (56,25%), namun mayoritas mekanik (60,6%) mengalami pemulihan antar shift yang kurang. Dari faktor risiko terkait pekerjaan, hanya stres kerja yang berhubungan signifikan dengan kelelahan akut pada operator (p = 0,043; OR = 0,57). Dari faktor tidak terkait pekerjaan, kualitas tidur berhubungan signifikan dengan kelelahan kronis pada operator (p = 0,014; OR = 2,24) dan mekanik (p < 0,05; OR = 8,11), serta dengan pemulihan kelelahan pada operator (p < 0,05; OR = 2,74). Kuantitas tidur berhubungan signifikan dengan pemulihan kelelahan pada operator (p < 0,05; OR = 2,80). Usia berhubungan signifikan dengan kelelahan akut pada operator (p = 0,006; OR = 0,46), sedangkan konsumsi kafein berhubungan signifikan dengan pemulihan kelelahan pada mekanik (p = 0,042; OR = 0,33). Dengan ini, perusahaan disarankan untuk mengoptimalkan kualitas dan kuantitas tidur pekerja melalui pelatihan sleep hygiene, memvalidasi sistem pemantauan kelelahan yang ada (Parrot/DMS) dengan uji kewaspadaan kognitif, menyesuaikan menu katering pada jam kritis shift malam, memberikan variasi minuman saat sidak fatigue, menambah kapasitas hunian di dalam area IUP, serta menyediakan fasilitas olahraga mandiri di area mess untuk mendorong perilaku hidup aktif.

The Occupational fatigue is a serious issue in the mining industry that can reduce productivity and increase the risk of workplace accidents. This study aimed to analyze fatigue levels and associated risk factors among operators and mechanics at Site A PT X in 2026. A total of 338 respondents participated in this study, consisting of 242 operators and 96 mechanics. Fatigue levels were measured using the Occupational Fatigue Exhaustion Recovery Scale (OFER-15). Work-related risk factors included workload (NASA-TLX), work stress (PSS-10), and individual characteristics such as work duration, years of service, and shift work. Non-work-related risk factors included age, nutritional status, sleep quality (PSQI), sleep duration, commuting time, caffeine consumption, physical activity (IPAQ), and smoking behavior. The results showed that the majority of operators were classified as non-fatigued in both chronic fatigue (76.03%) and acute fatigue (61.98%), with adequate inter-shift recovery (81.81%). Among mechanics, most were also classified as non-fatigued for chronic fatigue (62.5%) and acute fatigue (56.25%); however, the majority of mechanics (60.6%) experienced insufficient inter-shift recovery. Among work-related risk factors, only work stress showed a significant association with acute fatigue in operators (p = 0.043; OR = 0.57). Among non-work-related factors, sleep quality was significantly associated with chronic fatigue in both operators (p = 0.014; OR = 2.24) and mechanics (p < 0.05; OR = 8.11), as well as with fatigue recovery in operators (p < 0.05; OR = 2.74). Sleep duration was significantly associated with fatigue recovery in operators (p < 0.05; OR = 2.80). Age was significantly associated with acute fatigue in operators (p = 0.006; OR = 0.46), while caffeine consumption was significantly associated with fatigue recovery in mechanics (p = 0.042; OR = 0.33). Based on these findings, the company is recommended to optimize workers' sleep quality and quantity through sleep hygiene training, validate the existing fatigue monitoring system (Parrot/DMS) with pre-shift cognitive alertness testing, adjust catering menus during critical nightshift hours, diversify beverages provided during fatigue inspections, expand on-site accommodation within the mining concession area, and provide recreational sports facilities in the worker dormitory area to encourage an active lifestyle.
Read More
S-12456
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizky Yuli Ikhwanuddin; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Ahmad Afif Mauludi, Hasan Bisri
Abstrak:
Profil K3 Nasional 2022 di Indonesia menunjukkan bahwa faktor manusia dalam keselamatan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap risiko kecelakaan kerja, termasuk di dalamnya perilaku mengambil risiko di tempat kerja. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dan pendekatan mixed method kuantitatif dan kualitatif, yang bertujuan mendapatkan gambaran persepsi karyawan tentang perilaku mengambil risiko di tempat kerja serta menelusuri faktor-faktor penyebab karyawan berperilaku tersebut. 283 karyawan PT. XYZ Site A dari tingkat manajemen, pengawas, dan pekerja berpartisipasi dalam penelitian ini. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan pertanyaan terbuka serta dianalisa secara kuantitatif dengan menggunakan Uji Statistik Chi-Square, serta secara kualitatif dengan menggunakan Model HFACS (The Human Factors Analysis and Classification System) dan Qualitative Comparative Analysis. Dari hasil Uji Chi-Square, variabel independen yang memiliki nilai Asymp. Sig. (2-sided) di bawah 0,05 (95% CI) adalah jabatan/posisi (0,014), penerimaan perilaku mengambil risiko (0,018), normalisasi kecelakaan kecil (0,002), keputusan akan mengambil risiko (0,000), serta persentase jumlah pelaku pelanggaran (0,032). Hal ini mengindikasikan bahwa kelima variabel tersebut memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perbuatan melanggar peraturan. Secara kualitatif, faktor-faktor penyebab perilaku mengambil risiko berupa kondisi berpuas diri dan kejenuhan, kurangnya komunikasi, kurangnya pengawasan, kurang tegasnya teguran / hukuman terhadap pelanggaran, serta pembiaran kondisi tidak aman. Secara pengaruh organisasi, manajemen sumber daya, iklim organisasi, serta proses organisasi perlu ditingkatkan kinerjanya. Perusahaan disarankan untuk meningkatkan pengaruh organisasinya ke arah upaya pencegahan perilaku mengambil risiko tersebut, diiringi dengan pemantauan ketat kepada tidak hanya pekerja, namun juga kepada para pengawasnya agar selalu berperilaku selamat.

The 2022 National Occupational Health and Safety (OHS) Profile in Indonesia shows that the human factor in safety is a factor that influences the risk of work accidents, including risk-taking behavior at workplace. This research uses a cross-sectional design and a mixed method of qualitative and quantitative approach, which aims to obtain an overview of employee perceptions towards risk-taking behavior at workplace and to explore the factors causing employees to perform such behavior. 283 employees of PT. XYZ Site A from the management, supervisory, and worker levels participated in this study. Data was collected through a questionnaire with open-ended questions and analyzed quantitatively using the Chi-Square Statistical Test, as well as qualitatively using the HFACS (The Human Factors Analysis and Classification System) Model and Qualitative Comparative Analysis. From the results of the Chi-Square Test, the independent variables that have a value of Asymp. Sig. (2-sided) below 0.05 (95% CI) are job title/position (0.014), acceptance of risk-taking behavior (0.018), normalization of minor accidents (0.002), decision to take risks (0.000), and the percentage of the number of violators (0.032). This indicates that those five variables have a positive and significant effect on rule-breaking. Qualitatively, factors causing risk-taking behavior are the conditions of complacency and boredom, lack of communication, lack of supervision, lack of strong punishment on violations, as well as ignorance on unsafe conditions. As per organizational influences, the resource management, organizational climate, and organizational processes need improvement on their performance. The company is advised to increase its organizational influence towards efforts to prevent this risk-taking behavior, by carrying out strict monitoring not only to the workers, but also to the supervisors so that they always behave safely.
Read More
T-7165
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aziz Rofi`i; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Lutfi Muzaqi, Sri Lestari
Abstrak:
Pengemudi dump truck merupakan salah satu jenis pekerjaan yang berisiko mengalami kelelahan karena adanya faktor terkait pekerjaan dan tidak terkait pekerjaan yang dapat mempengaruhi pengemudi. Pada HSE Monthly Report pada bulan Desember 2021 didapatkan bahwa angka lagging indicator untuk night work lebih tinggi dari day work. Dari sudut pandang ini, penelitian dilakukan untuk melihat gambaran kelelahan dan melakukan analisis faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan pada pengemudi dump truck shift malam dengan sistem double shift. Penelitian dengan desain studi cross sectional dilakukan pada 130 pengemudi dump truck PT X. Faktor terkait pekerjaan yang dilakukan penelitian adalah waktu kerja, kondisi pencahayaan, getaran kabin, dan beban kerja, sedangkan faktor tidak terkait pekerjaan yang dilakukan penelitian adalah durasi tidur, kualitas tidur, umur, pekerjaan sampingan, indeks massa tubuh, aktifitas fisik, konsumsi minuman berenergi tinggi gula dan dukungan keluarga. Uji chi- square dilakukan untuk menganalisis keeratan hubungan antara variabel dependen dan independent sedangkan uji regresi logistik berganda digunakan untuk mengetahui variabel yang paling dominan berhubungan dengan variabel terikat. Prevalensi kelelahan pada pengemudi dump truck adalah sebesar 37,7% dan 62,3% tidak mengalami kelelahan. Dari empat faktor risiko terkait pekerjaan yang diteliti, pencahayaan, getaran dan beban kerja memiliki hubungan secara statistik dengan kelelahan. Sedangkan dari delapan faktor risiko tidak terkait pekerjaan yang diteliti, waktu tidur, kualitas tidur, usia, pekerjaan sampingan, aktifitas fisik, dan dukungan keluarga memiliki hubungan secara statistik dengan kelelahan. Pada hasil akhir multivariat didapatkan jika beban kerja dan pencahayaan memiliki hubungan yang bermakna secara statistik dengan p-value < 0,05. Untuk mengurangi kelelahan pada pengemudi dump truck PT X Jobsite TB maka disarankan melakukan pengukuran kelelahan secara rutin sesuai dengan faktor risiko kelelahan yang dominan yaitu beban kerja, dan pencahayaan. Kata kunci: Kelelahan, Faktor risiko, Pengemudi Dump Truck, Double Shift

Dump truck driver is one type of work that is at risk of experiencing fatigue due to work- related and non-work related factors that can affect the driver. In the HSE Monthly Report in December 2021, it was found that the number of lagging indicators for night work is higher than day work. From this point of view, the study was conducted to see the description of fatigue and to analyze the risk factors related to fatigue in night shift dump truck drivers with a double shift system. Research with a cross-sectional study design was conducted on 130 PT X dump truck drivers. Factors related to the work carried out by the study were working time, lighting conditions, cabin vibration, and workload, while factors not related to the work carried out by the study were sleep duration, sleep quality, age, side work, body mass index, physical activity, consumption of energy drinks. high in sugar and family support. The chi-square test was conducted to analyze the close relationship between the dependent and independent variables, while the multiple logistic regression test was used to determine the most dominant variable associated with the dependent variable. The prevalence of fatigue in dump truck drivers is 37.7% and 62.3% do not experience fatigue. Of the four work-related risk factors studied, lighting, vibration and workload were statistically associated with fatigue. Meanwhile, of the eight non-work-related risk factors studied, sleep time, sleep quality, age, side work, physical activity, and family support were statistically associated with fatigue. In the final multivariate result, it was found that the workload and lighting had a statistically significant relationship with p-value <0.05. To reduce fatigue on PT X Jobsite TB dump truck drivers, it is recommended to carry out regular fatigue measurements according to the dominant fatigue risk factors, namely workload, and lighting. Key Words: Fatigue, Risk Factors, Dump Truck Driver, Double Shift
Read More
T-6421
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anshor; Pembimbing; Ridwan Zahdi Sjaaf; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Indri Hapsari Susilowati, Erdy Techrisna Satyadi
T-3699
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Oktaria Penny; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Robiana Modjo, Agus Triwibowo
Abstrak: Tingginya kebutuhan manusia yang harus dipenuhi menyebabkan peningkatan produksi di berbagai sektor industri. Salah satu caranya adalah dengan memberlakukan sistem shift kerja. Penerapan sistem shift kerja iniberdampak kepada kelelahan pada pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi kelelahan pada operator plastic injection di PT X. Faktor yang diteliti merupakan faktor karakteristik pekerja(umur, masa kerja, kondisi kesehatan, dan kuantitas tidur) dan faktor pekerjaan(shift kerja, waktu istirahat, commuting time, dan pekerjaan tambahan).Pengukuran kelelahan pada operator diukur dengan menggunakan Fatigue Severity Scale. Penelitian ini bersifat subjektif analitik dengan menggunakan desain studi cross sectional. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebanyak 99 orang atau 46,5% pekerja mengalami kelelahan. Selain itu juga dapat diketahui bahwa masa kerja, kondisi kesehatan, dan kuantitas tidur mempunyai hubungan yang signifikan terhadap kelelahan pada operator plastic injection. Oleh karena itu perlu dilakukan pengendalian terhadap kelelahan, baik dari pihak manajemen maupun operator itu sendiri.
Kata Kunci : Fatigue Severity Scale, Kelelahan, Operator Plastic Injection
Read More
S-8108
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive