Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34742 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Naufal Ayudha Achmad; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Warid Nurdiansyah
Abstrak: Di era industri 4.0 dan perkembangan teknologi ini, seluruh sektor industri dituntut untuk memastikan perusahaannya memiliki suatu konsep ketahanan sistem dari segala macam potensi terjadinya variabilitas pada proses bisnis yang kemudian disebut sebagai konsep resilience. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan konsep safety resilience pada perusahaan industri pertambangan guna mengetahui tingkat kemampuan perusahaan tersebut dalam menghadapi kondisi tidak terduga. Desain studi penelitian ini berjenis deskriptif dengan metode semi kuantitatif dan menggunakan tools Resilience Assessment Grid (RAG) sebagai panduan wawancara. Pengambilan data dilakukan dengan meninjau dokumen perusahaan dan melakukan wawancara dengan teknik purposive sampling. Berdasarkan hasil analisis, PT X memiliki unsur resilience dengan membandingkan reliabilitas perusahaan dengan besaran risiko. Tingkat implementasi konsep safety resilience pada PT X rata-rata memiliki persentase sebesar 87.9% yang termasuk tahap menuju resilience dengan rincian kemampuan respon (88.9%), kemampuan monitoring (89.2%), kemampuan belajar (86.1%), dan kemampuan antisipasi (87.6%). Pendekatan teknologi, baiknya kemampuan respon, dan komitmen dari petinggi perusahaan menjadi aspek pendukung tingginya tingkat implementasi konsep safety resilience pada PT X. Sedangkan, adanya ketimpangan tingkat persepsi risiko pada pekerja dan dasar pembelajaran perusahaan yang masih mengedepankan paradigma safety-I menjadi penghambat perusahaan dalam mengimplementasikan konsep safety resilience secara maksimal.
In the industrial era 4.0 and technological developments, all industrial sectors are required to ensure that their companies have a concept of system resilience from all kinds of potential for variability in business processes, which is then referred to as the concept of resilience. This study aims to analyze the application of the concept of safety resilience in mining industry companies to determine the level of the company's ability to deal with unexpected conditions. The design of this research study is descriptive with a semi-quantitative method and uses the Resilience Assessment Grid (RAG) tools as an interview guide. Data were collected by reviewing company documents and conducting interviews using the purposive sampling technique. Based on the results of the analysis, PT X has an element of resilience by comparing the company's reliability with the amount of risk. In addition, the level of implementation of the safety resilience concept at PT X has an average percentage of 87.9% which is included in the stage towards resilience with details on response-ability (88.9%), monitoring ability (89.2%), learning ability (86.1%), and anticipation (87.6%). The technological approach, good response-ability, and commitment from company officials are aspects that support the high level of implementation of the safety resilience concept at PT X. Meanwhile, the imbalance in the level of risk perception among workers and the company's learning base that still prioritizes the safety-I paradigm is an obstacle for companies to implement maximum safety resilience concept.
Read More
S-11074
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Ayu Tantia; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Fatma Lestari, Mufti Wirawan, Ajeng Pramayu
Abstrak:
Berkembangnya konsep resilience di era global dan industri 4.0 menuntut perusahaan di berbagai sektor untuk mengikuti era teknologi, digitalisasi pekerjaan, pengaturan lingkungan kerja, dan perkembangan bisnis. Konsep resilien menunjukkan peningkatan kinerja dalam 4 aspek potensial yaitu kemampuan untuk merespon, mengantisipasi, memantau hal yang terjadi di internal maupun eksternal, serta proses belajar dari hal yang berjalan dengan benar dan salah. Tujuan penelitian yaitu menganalisis implementasi konsep safety resilience di industri maritim khususnya perusahaan perkapalan, baik itu milik negara maupun swasta. Manfaat penelitian yaitu memberikan perspektif implementasi safety resilience untuk menghadapi kejadian yang dapat diperkirakan atau tidak terduga, khususnya tabrakan kapal. Desain studi deskriptif menggunakan metode semi kuantitatif, dan panduan wawancara berdasarkan Resilience Assessment Grid. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Berdasarkan hasil analisis, tingkat implementasi safety resilience di PT J sebesar 75,1% dan PT K sebesar 70,2%. Faktor pendukung di PT J dan PT K terkait implementasi Safety Resilience yaitu kemampuan respon (80%), kemampuan belajar (74,62%) dan kemampuan monitor (70,77%). Faktor penghambat yaitu kemampuan antisipasi (66,92%). Sehingga, kedua perusahaan perkapalan ini menuju ke tingkat proactive. Secara keseluruhan, safety resilience diharapkan dapat meningkatkan performa dan sistem manajemen keselamatan yang dibentuk untuk melampaui tuntutan penaatan regulasi internasional maupun nasional.

Development of resilience concept in the global era and industry 4.0 requires companies in various sectors to follow technology, digitization of work, setting the work environment, and business development. Resilience concept showed performance improvement in four potential aspect, the ability to respond, anticipate, monitor, and learning process both of what is going right and wrong. This study aim to analyze implementation of safety resilience concept in the maritime industry, especially at shipping companies both public company (PT J) and private company (PT K). The benefit of this research was to provide a perspective on the implementation of safety resilience to anticipate major events, especially vessel collision. This research is a descriptive study using semi-quantitative methods. Interview guideline based on the Resilience Assessment Grid. The sampling technique was purposive sampling. This study analysis showed the level of implementation of safety resilience at PT J was 75.1% while PT K had a percentage of 70.2%. Supporting factors at PT J and PT K related to the implementation of Safety Resilience were ability to respond (80%), ability to learn (74.62%), and ability to monitor (70.77%). While the inhibiting factor at PT J and PT K was the ability to anticipate (66.92%). Both company was categorized at proactive level. Overall, safety resilience was expected to improve the performance and safety management system established to beyond international and national requirements.

Read More
T-5901
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iwan Jatmika; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Fatma Lestari, Mufti Wirawan, Masjuli, Deddy Syam
Abstrak:
Sebagian besar kasus kecelakaan besar yang terjadi di sektor minyak dan gas disebabkan oleh kurangnya/ketidaktahuan akan pengelolaan asset integrity. Pada tahun 2021-2022 terdapat lima kasus kecelakaan terkait aset integrity di PT X. Untuk menjawab hal ini, PT X membuat Asset Integrity Management System (AIMS). Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis AIMS di PT X berdasarkan konsep safety resilience. Manfaat penelitian yaitu memberikan perspektif implementasi safety resilience untuk menghadapi kejadian yang dapat diperkirakan atau tidak terduga seperti kegagalan pada aset di PT X. Penelitian ini merupakan penelitian semi kuantitatif dengan menggunakan desain studi analisis deskriptif, dan panduan analisis berdasarkan Resilience Analysis Grid. Unit analisis dalam penelitian ini mengambil dokumen terkait AIMS di PT X dan wawancara dengan stakeholder terkait AIMS di PT X. Hasil dari analisis empat faktor resilience pada AIMS di PT X adalah kemampuan respon (73,75%), kemampuan monitor (81,23%), kemampuan belajar (77,22%), dan kemampuan antisipasi (75,62%). Dari hasil tersebut, tingkat safety resilience pada AIMS sudah menuju level proactive dengan rata-rata sebesar 77%. Keterlibatan beberapa pihak, pembagian tanggung jawab yang jelas, dan penambahan indikator efektifitas AIMS, menjadi hal yang diperlukan untuk meningkatkan kemampuan resilience pada AIMS di PT X.

Most of the major accident cases that occur in the oil and gas sector are caused by the lack of / ignorance of asset integrity management. In 2021-2022 there were five cases of accidents related to asset integrity at PT X. To answer this, PT X created an Asset Integrity Management System (AIMS). The purpose of this research is to analyze AIMS at PT X based on the concept of safety resilience. The benefit of the research is to provide a perspective on the implementation of safety resilience to deal with predictable or unexpected events such as failures in assets at PT X. This research is semi-quantitative research using a descriptive analysis study design, and an analysis guide based on the Resilience Analysis Grid. The unit of analysis in this study took documents related to AIMS at PT X and interviews with stakeholders related to AIMS at PT X. The results of the analysis of the four resilience factors in AIMS at PT X are response capability (73.75%), monitoring capability (81.23%), learning capability (77.22%), and anticipation capability (75.62%). From these results, the level of safety resilience at AIMS has reached the proactive level with an average of 77%. The involvement of several parties, a clear division of responsibilities, and the addition of AIMS effectiveness indicators, are things that are needed to improve the resilience capabilities of AIMS at PT X.
Read More
T-6933
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rr. Asri Wahyuningsih; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Fetrina Lestari
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran fatigue dan hubungannya dengan faktor risiko terkait pekerjaan dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan di PT X. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan metode kuantitatif dan analisis deskriptif. Penelitian ini dilakukan kepada 373 operator dump truck yang tersebar di 8 site project di PT X pada Februari – Agustus 2022. Variabel dependen penelitian ini adalah faktor risiko terkait pekerjaan (masa kerja dan beban kerja) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (umur dan tingkat pendidikan). Data yang dipergunakan di dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh melalui pengisian kuesioner Multidimentional Fatigue Inventory 20 (MFI-20) secara daring (online). Hasil menunjukan bahwa 67,3% responden mengalami fatigue. Keluhan fatigue cenderung dialami oleh operato dump truck yang memiliki masa kerja ≥ 10 tahun, beban kerja mengoperasikan 1 jenis dump truck, berumur ≥ 30 tahun, dan tingkat pendidikan SMA/SMK.

This study aims to seek fatigue image and its correlation with work-related risk factors and non-work-related risk factors in PT X. This study uses a cross-sectional study design with quantitative methods and descriptive analysis. This study was conducted with 373 dump truck operators spread across eight site projects in PT X in February – August 2022 as subjects. The study's dependent variables were work-related risk factors (work and workload) and non-work-related risk factors (age and education level). The data used in this study are secondary data obtained by filling out the Multidimensional Fatigue Inventory 20 (MFI-20) questionnaire online. Results showed that 67,3% of respondents experienced fatigue. Fatigue complaints tend to be experienced by dump truck operators with a working period of ≥ 10 years, a workload of operating 1 type of dump truck, an age of ≥ 30 years, and an educational level of SMA/SMK.
Read More
S-11212
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Khodijah; Pembimbing: Mufti Wirawan; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Tyagita Meyril
Abstrak: Kegiatan hulu migas memiliki risiko tinggi terkait K3 dan kegiatan pemboran menjadi risiko paling tinggi. 80% penyebab kecelakaan pemboran disebabkan oleh human performance. Tahun 2020, aktivitas pemboran di PT. X menyumbang kecelakaan sebesar 3 dari 8 kecelakaan dan penyebab umum kecelakaan yang terjadi karena faktor manusia. Unsafe acts dianggap menjadi penyebab utama dalam kecelakaan pemboran di industri migas. Maka, penelitian ini membahas mengenai analisis kasus kecelakaan pemboran pada industri migas di PT.X dari sudut pandang faktor manusia. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis faktor kontribusi dari kegagalan aktif dan laten dan menganalisis kasus kecelakaan kerja dari sudut pandang faktor manusia pada aktivitas pemboran yang terjadi di PT. X tahun 2022, serta menentukan rekomendasi untuk perbaikan kedepannya dari kegiatan pengeboran di PT. X. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif analitik dari data sekunder dan hasil wawancara. Didapatkan hasil bahwa kondisi laten yang berkontribusi terhadap kecelakaan pemboran yang terjadi di PT. X pada tahun 2022 yaitu gagal mengupdate regulasi terbaru, pengendalian yang dilakukan masih bersifat administratif, kegagalan otoritas penerbit dalam mengecek kelengkapan berkas, tidak adanya pemeriksaan berkala yang terjadwal pada peralatan, gagal memastikan serah terima sumur dilakukan secara keseluruhan, penyusunan JSA kurang baik, gagal menyampaikan bahaya dan risiko secara detail, kegagalan koordinasi di internal kontraktor, gagal mengomunikasikan bahaya dan risiko yang sudah ada di risk assessment, dan kondisi jalan yang seharusnya sempit sehingga memilih permukaan yang miring. Sedangkan kegagalan aktif yang berkontribusi yaitu gagal menginterpretasikan peralatan yang rusak dan kondisi jalan yang berbahaya, tidak melalukan pengecekan kondisi sumur ketika hujan deras, dan pelanggaran SOP. Sehingga ditemukan bahwa kondisi laten lebih banyak berkontribusi sehingga menimbulkan kegagalan aktif atau unsafe acts. Kegagalan yang paling berkontribusi pada tiap layer HGACS-OGI yaitu organizational influences (organizational process), unsafe supervision (supervision violations), preconditions for unsafe acts (environmental factors - physical environment), dan unsafe acts (errors - perceptual errors). Sintesa dari hasil analisis didapat bahwa safety value belum tertanam di PT. X. Hal ini dapat dilihat dari pelaksanaan K3 belum dilakukan secara menyeluruh di lapangan, sehingga safety belum terintegrasi di dalam kegiatan operasi. Sehingga rekomendasi yang diberikan penulis yaitu menjadikan K3 sebagai safety of work.
Read More
S-11475
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Safira Hazzrah Medinah; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Mohammad Zayyin
Abstrak:
Kelelahan atau fatigue pada pekerja tambang memiliki dampak yang besar terhadap tingkat absenteisme, penurunan produktivitas, biaya kesehatan, dan kecelakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran keluhan kelelahan pada pekerja di PT X serta menganalisis faktor-faktor yang berhubungan. Faktor risiko yang diteliti yaitu faktor terkait pekerjaan (beban kerja, masa kerja, waktu istirahat, area kerja, shift kerja, dan stres kerja) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, kualitas dan kuantitas tidur, kebiasaan merokok, commuting time, pekerjaan sampingan, konsumsi kafein, status pernikahan, status gizi, dan olah raga). Untuk mengukur kelelahan menggunakan kuesioner Occupational Fatigue Exhaustion Recovery Scale (OFER), mengukur stres kerja menggunakan kuesioner Survei Diagnosis Stres (SDS), mengukur kualitas tidur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), mengukur beban kerja mental menggunakan NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ), mengukur karakteristik responden menggunakan The Self-administered Questionnaire, dan untuk mengukur beban kerja fisik menggunakan alat Fingertip Pulse Oximeter. Penelitian ini dilakukan kepada 156 pekerja tambang di PT X dengan menggunakna desain penelitian cross-sectional. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara masa kerja, waktu istirahat, usia, dan beban kerja mental dengan kelelahan. Oleh karena itu, perlu dilakukannya pengembangan program pencegahan dan pengendalian kelelahan (fatigue management) di tempat kerja dan melihat hubungan faktor terkait pekerjaan yang lebih dominan terhadap kelelahan dibandingkan faktor tidak terkait pekerjaan.

Fatigue in mining workers has a huge impact on absenteeism rates, decreased productivity, medical costs, and accidents. This study aims to describe the level of fatigue in workers at PT. X and analyze the associated risk factors. The risk factors studied included work-related factors (workload, period of work, rest time, mining area, work shifts, and work stres) and non-work related factors (age, sleep quality and sleep quantity, smoking status, commuting time, side work, caffeine consumption, marital status, body mass indeks, and exercise). To measure fatigue, the Occupational Fatigue Exhaustion Recovery (OFER) questionnaire was used, Survey Diagnostic Stress (SDS) was used to measure job stress, the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire was used to measure sleep quality, NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ) was used to measure mental workload, the Self-administered Questionnaire was used to measure respondent characteristics, and Fingertip Pulse Oximeter was used to measure physical workload. This research was conducted on 156 mining workers at PT. X by using a cross-sectional research design. Descriptive and inferential logistic regression was used to analyze the data. The results showed that there was a significant association between period of work, rest time, age, and mental workload. Therefore, it is necessary to develop a fatigue management program in the workplace and refers to see the result that the relationship between work related factors and fatigue is more dominant than non-work related factors.
Read More
S-11713
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anak Agung Putu Emanita Parameswari; Pembimbing: Robiana Modjol; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Eko Prasetio Indarto S.
Abstrak:
Sindrom metabolik merupakan gangguan dalam proses metabolisme tubuh yang secara langsung meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular seperti hipertensi, diabetes mellitus, dan stroke. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor risiko sindrom metabolik yang terdiri dari faktor lingkungan (lokasi kerja dan tempat tinggal), faktor genetik (jenis kelamin, suku/etnis, usia, dan riwayat penyakit orang tua), dan faktor perilaku (kebiasaan merokok dan aktivitas fisik) pada pekerja tambang di PT. Pesona Khatulistiwa Nusantara (PKN). Penelitian ini menggunakan studi cross sectional dan pengambilan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner secara daring. Prevalensi sindrom metabolik dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan kriteria International Diabetes Federation (IDF). Dari sebanyak 111 orang pekerja yang menjadi responden penelitian, didapatkan 27 (24,3%) orang pekerja mengalami sindrom metabolik. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin (p – value = 0,039) dan riwayat penyakit orang tua (p – value = 0,009) dengan kejadian sindrom metabolik. Kata kunci: Sindrom metabolik, Pekerja Tambang, Faktor Risiko Sindrom Metabolik, International Diabetes Federation (IDF)

Metabolic syndrome is an accumulation from several disorders in the body's metabolic processes that directly increases the risk of cardiovascular diseases such as hypertension, diabetes mellitus, and stroke. This study aims to analyze the relationship between metabolic syndrome risk factors which include environmental factors (work location and place of residence), genetic factors (gender, ethnicity, age, and parental disease history), and behavioral factors (smoking habits and physical activity) on mining workers at PT. Pesona Khatulistiwa Nusantara (PKN). This study used a cross-sectional method and data collection was carried out by distributing online questionnaires. The prevalence of metabolic syndrome in this study was determined based on International Diabetes Federation (IDF) criteria. From 111 workers who became research respondents, it was found that 27 (24.3%) workers had metabolic syndrome. In addition, there was a significant relationship between gender (p–value = 0.039) and parental disease history (p–value = 0.009) with the incidence of metabolic syndrome. Keywords: Metabolic syndrome, mine workers, Metabolic syndrome risk factors, International Diabetes Federation (IDF)
Read More
S-11241
Depok : FKM UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ulfa Laela Farhati; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Baiduri Widanarko, Mufti Wirawan, Muthia Ashifa, Avinia Ismiyati
Abstrak:


Industri agrokimia menghadapi risiko keselamatan tinggi akibat penggunaan bahan kimia berbahaya dan proses produksi yang kompleks. Safety leadership menjadi krusial dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan meminimalkan risiko kecelakaan serta dampak negatif terhadap kesehatan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil safety leadership di PT X dan menganalisis implementasinya berdasarkan LEAD Model. Metode penelitian menggunakan pendekatan mixed method, dengan data kuantitatif melalui kuesioner yang diadaptasi dari LEAD Scale dan data kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan tinjauan dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa safety leadership di PT X memiliki karakteristik yang positif dengan dimensi Leverage, Energise, Adapt, dan Defend. Dimensi Leverage menunjukkan skor tertinggi (4,56), menandakan efektivitas pemimpin dalam memanfaatkan sumber daya. Namun, dimensi Defend memiliki skor terendah (4,12), menunjukkan perlunya peningkatan dalam strategi perlindungan dan mitigasi risiko. Subdimensi dengan skor tertinggi adalah Clarity (4,63), sedangkan yang terendah adalah Accountability (4,12). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa PT X telah berhasil menerapkan safety leadership dengan baik, namun masih ada ruang untuk peningkatan, terutama dalam aspek akuntabilitas. Saran yang diberikan meliputi pengembangan sistem pemantauan yang lebih efektif, mendorong keterlibatan aktif karyawan dalam program keselamatan, dan membangun budaya keselamatan yang proaktif.


The agrochemical industry faces high safety risks due to the use of hazardous chemicals and complex production processes. Safety leadership is crucial in creating a safe work environment and minimizing the risk of accidents and negative impacts on workers' health. This study aims to analyze the safety leadership profile at PT X and evaluate its implementation based on the LEAD Model. The research method employs a mixed- method approach, utilizing quantitative data collected through questionnaires adapted from the LEAD Scale and qualitative data through in-depth interviews, field observations, and document reviews. The study results indicate that safety leadership at PT X exhibits positive characteristics across the dimensions of Leverage, Energise, Adapt, and Defend. The Leverage dimension scored the highest (4.56), indicating the effectiveness of leaders in utilizing resources. However, the Defend dimension scored the lowest (4.12), highlighting the need for improvements in protection strategies and risk mitigation. The subdimension with the highest score is Clarity (4.63), while Accountability scored the lowest (4.12). The conclusion of this study is that PT X has successfully implemented safety leadership, but there is still room for improvement, particularly in accountability aspects. Recommendations include developing a more effective monitoring system, encouraging active employee participation in safety programs, and fostering a proactive safety culture.

Read More
T-7406
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Taufan Arif Z; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Hendra, Deni Andreas, Adenan
T-4757
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Caluella Valanta; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Abdul Kadir, Toha Fahrudin
Abstrak:
Sindrom metabolik (SM) adalah gabungan dari beberapa kondisi gangguan metabolisme yang ditandai dengan obesitas sentral, hipertrigliserida, kadar high density lipoprotein (HDL) rendah, kadar gula darah puasa (GDP) tinggi, serta hipertensi. Kejadian sindrom metabolik secara global diperkirakan akan terus meningkat seiring perkembangan teknologi, perubahan gaya hidup, dan pertambahan usia penduduk. Banyak hal yang dapat memengaruhi kejadian SM pada pekerja, seperti usia, pola hidup, pola kerja, tempat tinggal, dan lain-lain. Maka dari itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor risiko SM di PT X. PT X sebagai salah satu perusahaan tambang batubara di Kalimantan Timur telah melakukan deteksi awal dari proporsi karyawan yang mengalami obesitas, kolesterol tinggi, hipertensi, dan pre-diabetes, namun belum melakukan deteksi yang komprehensif terhadap kejadian SM. Penelitian dilakukan menggunakan desain studi cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan hasil medical check up pekerja. Penelitian ini mengumpulkan 213 responden yang merupakan karyawan PT X beserta enam PJP. Hasil analisis menunjukkan sebanyak lima responden (2,3%) mengalami SM. Faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian SM di PT X adalah aktivitas fisik (p-value = 0,004; OR = 12,98) dan pola makan (p-value = 0,037; OR = 2,029). Meskipun proporsi kejadian sindrom metabolik cukup kecil, tidak menutup kemungkinan adanya risiko yang belum terdeteksi sehingga diperlukan pemantauan lebih lanjut kepada seluruh pekerja. Evaluasi terhadap aktivitas fisik dan pola makan karyawan juga diperlukan untuk menurunkan risiko sindrom metabolik.

Metabolic syndrome (MS) is a cluster of metabolic disorders including abdominal (central) obesity, hypertriglyceridemia, low high-density lipoprotein (HDL) level, high fasting blood glucose level, and high blood pressure. The prevalence of MS increases globally due to technology developments, lifestyle changes, and an aging population. Many factors are associated with the occurrence of MS in workers including age, lifestyle, job, residence, and many more. Therefore, this research was conducted to find the risk factors of MS in PT X. PT X as one of the coal mining companies in East Kalimantan have screened its employees for obesity, high total cholesterol levels, hypertension, and pre-diabetes. However, the company has not yet determined the number of MS cases that have happened among its employees. Research was conducted using cross-sectional study design with a quantitative approach. Data was collected using questionnaire, interview, and medical check-up reports. This research collected 213 respondents including PT X and service companies. Among them, five respondents (2,3%) were identified as having MS. Risk factors that showed significant correlations with the occurrence of MS are physical activity (p-value = 0,004; OR = 12,98) and diet (p-value = 0,037; OR = 2,029). Despite the low percentage of MS cases, there is a possibility that some risks were not covered in this research. Therefore, it is recommended to conduct a thorough examination to all employees. Evaluating the intensity of physical activity and dietary habits is necessary to reduce the risk of MS.
Read More
S-11503
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive