Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39806 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Warda Yussy Rha; Pembimbing: Milla Tejamaya; Penguji: Dadan Erwandi, Herni Susanti, Triyo Hartono, Dian Fitri Lestari
Abstrak:
Perawat merupakan salah satu profesi yang berisiko mengalami distres. Distres pada perawat dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti pada arena individu (jenis kelamin, usia, status pekerjaan dan masa kerja), arena kerja (ketaksaan peran, konflik peran, pengembangan karir, hubungan interpersonal, beban kerja dan lingkungan kerja), dan arena sosial (dukungan sosial dari supervisor dan dukungan sosial dari rekan kerja). Hal ini dapat memberikan dampak pada perawat seperti kelelahan, perilaku kasar, anxiety, peningkatan tekanan darah, kurangnya kepercayaan diri, penurunan efisiensi, dan lain-lain. Tujuan penelitian ini adalah mengambarkan tingkat distres dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi tingkat distres pada perawat ruang perawatan di RSUD X Tembilahan. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional yang dilakukan pada Mei - Agustus 2022. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat di ruang perawatan RSUD X Tembilahan. Distres diukur menggunakan kuesioner COPSOQ III dan NIOSH Generic Job. Data dianalisis menggunakan Chi-square dan regresi logistik ordinal. Ditemukan bahwa 28,9% perawat mengalami tingkat distres rendah, 68,9% perawat mengalami tingkat distress sedang, dan 2,2% perawat mengalami tingkat distress tinggi. Analisis regresi logistik ordinal menunjukkan bahwa perawat perempuan berisiko mengalami distres lebih tinggi dibandingkan perawat laki-laki (OR=4,03). Faktor risiko yang paling berpengaruh pada arena kerja dengan tingkat distress adalah konflik peran (OR=3,15) dan beban kerja (OR=3,8). Pengelolaan tingkat distres pada level organisasi dapat berupa melakukan pengawasan dalam pelaksanaan peraturan mengenai hak pekerja perempuan, memperhatikan deskripsi pekerjaan dan sumber daya manusia yang dibutuhkan, monitoring status kesehatan perawat, menyeimbangkan beban kerja dengan kapasitas kemampuan yang dimiliki perawat, dan mengupayakan sistem reward baik berupa materi maupun apresiasi terhadap hasil kerja untuk meningkatkan motivasi bagi perawat. Sedangkan pada level individu dapat berupa melaksanakan strategi perawatan diri yang sehat, work-life balance, dan melakukan relaksasi. Hal ini dibutuhkan untuk mencegah peningkatan tingkat distres pada perawat ruang perawatan di RSUD X Tembilahan

Nursing is one of the stressful professions. Distress emerged on nurses due to various factors such as in the individual arena (gender, age, marital status and work experience), the work arena (role ambiguity, role conflict, career development, interpersonal relationships, workload and work environment), and the social arena (social support from supervisors and social support from colleagues). This can have an impact on nurses such as fatigue, harsh behavior, anxiety, increase of blood pressure, lack of self-confidence, decrease in efficiency, etc. This study aims to describe the level of distress and to analyze the factors affected with the level of distress on nurse in the treatment room at X Hospital Tembilahan. This study uses a cross-sectional study design that was conducted in May-August 2022. The population in this study were all inpatient nurse in X Hospital Tembilahan. The distress level is measured using the COPSOQ III and NIOSH Generic Job questionnaires. Data are analysed using chi-square and multiple logistic regression. such as in the individual arena (gender, age, employment status and years of service), the work arena (role ambiguity, role conflict, career development, interpersonal relationships, workload and work environment), and the social arena (social support from supervisors and social support from colleagues). This can have an impact on nurses such as fatigue, rude behavior, anxiety, increased blood pressure, lack of confidence, decreased efficiency, and others. The purpose of this study was to describe the level of distress and to analyze the factors that influence the level of distress in nurses in the treatment room at X Tembilahan Hospital. This study used a cross-sectional study design which was conducted in May - August 2022. The population in this study were all nurses in the X Tembilahan Hospital. Distress was measured using the COPSOQ III and NIOSH Generic Job questionnaires. Data were analyzed using Chi-square and ordinal logistic regression. It was found that 28.9% of nurses experienced low levels of distress, 68.9% of nurses experienced moderate levels of distress, and 2.2% of nurses experienced high levels of distress. Ordinal logistic regression analysis showed that female nurses had a higher risk of experiencing distress than male nurses (OR=4.03). The most influential risk factors in the work arena with a level of distress are role conflict (OR=3.15) and workload (3.8). Management of the level of distress at the organizational level can be in the form of supervising the implementation of regulations regarding the rights of women workers, paying attention to job descriptions and human resources needed, monitoring the health status of nurses, balancing the workload with the capacities of nurses, and pursuing a reward system in the form of material as well as appreciation of work results to increase motivation for nurses. Meanwhile, at the individual level, it can be in the form of implementing healthy self-care strategies, work-life balance, and relaxation. This is needed to prevent an increase in the level of distress in nurses in the treatment room at X Tembilahan Hospital
Read More
T-6519
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lena Tresnawati; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Robiana Modjo, Indri Hapsari Susilowati, Lutfi Muzaqi, M. Fadri Al Baihaqi
Abstrak: Latar Belakang: Distres merupakan bentuk negatif dari psikososial, dimana sumber distres dapat berasal dari faktor pekerjaan itu sendiri, faktor keluarga dan sosial, serta faktor individu. Beberapa kejadian mengindikasikan terjadinya distres pada mekanik di PT. X. Indikasi tersebut terlihat dari gejala fisiologis, psikologis, perilaku, dan kognitif yang timbul dari pekerja.
Tujuan: Menganalisis tingkat distres kerja dan faktor-faktor yang berhubungan terhadap tingkat distres pada mekanik di PT. X. Metode: Penelitian menggunakan desain studi cross sectional, dilakukan pada seluruh mekanik di PT. X sejumlah 37 pekerja, dan analisis data menggunakan uji chi square serta regresi logistik.
Hasil: Faktor yang berhubungan terhadap tingkat distres adalah budaya dan fungsi organisasi, hubungan interpersonal, tekanan kerja, work family conflict, desain tugas, jadwal dan jam kerja, intensitas olahraga, kecemasan, pengendalian emosi, serta kebiasaan merokok. Faktor pengendalian emosi paling berpengaruh terhadap distres dengan Exp(B) 0,34. Kesimpulan: Berbagai faktor memiliki hubungan terhadap tingkat distres pada mekanik di PT. X sehingga perlu dilakukan tindakan yang mampu menurunkan risiko distres seperti pengaturan lembur dan pemberian pelatihan
Background: Distress is a negative form of psychosocial. It can be caused by work factors, family and social factors, and individual factors. Several cases indicate the occurrence of mechanical distress at PT. X. The indications showed from the physiological, psychological, behavioral, and cognitive symptoms that arise from the workers.
Objective: To analyze the associated factors with distress level of mechanics at PT. X. Methods: Used a cross sectional design study, carried out on all mechanics at PT. X with number of 37 workers, data analysis using chi square test and logistic regression.
Results: Factors related to the distress level are organizational culture and function, interpersonal relationships, work pressure, work family conflict, task design, working hours and scheduler, exercise intensity, anxiety, emotional control, and smoking habits. Emotional control factor has the most associated on distress with Exp(B) 0.34. Conclusion: Various factors have a relationship with the distress level of mechanics at PT. X so it is necessary to take actions that can reduce the risk of distress such as overtime program and providing training
Read More
T-6323
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mulat Wening Astuti; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Robiana Modjo, Mila Tejamaya, Rismasari, Astuti
Abstrak:
Latar Belakang: Gangguan Otot dan Tulang Rangka Akibat Kerja (Gotrak) merupakan masalah kesehatan paling umum terkait pekerjaan dan menempati peringkat 2 sebagai gangguan kerja dan paling banyak biayanya. Prevalensi gotrak lebih tinggi pada petugas kesehatan, dibandingkan dengan populasi umum, industri dan profesi konstruksi. Profesional sektor kesehatan khususnya mereka yang bekerja di lingkungan rumah sakit, lebih sering mengalami gotrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor – faktor yang berhubungan dengan gangguan otot dan tulang rangka akibat kerja pada pegawai di RSUD X tahun 2022. Metode: Jenis penelitian ini adalah potong lintang dengan responden sebanyak 194 pegawai yang bekerja di RSUD X. Teknik pengumpulan data untuk data primer dilakukan dengan pengisian kuesioner, observasi, pengukuran dan wawancara. Sedangkan untuk data sekunder berupa profil RSUD, data pegawai dan data MCU pegawai. Hasil: Hasil kuesioner Nordic Body Map didapatkan bahwa prevalensi gotrak pada pegawai di RSUD X sebesar 83,5%. Pegawai yang mengalami keluhan gotrak mayoritas adalah tenaga medis yaitu sebesar 51,2%. Analisis penelitian ini didapatkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara faktor psikososial yaitu tuntutan psikologis dengan OR 6,25 dan ketidakpuasan kerja dengan OR 10,26. Kesimpulan: Prevalensi gotrak pada pegawai di RSUD X tinggi sehingga perlu dilakukan tindakan perbaikan untuk mengurangi keluhan gotrak pada pegawai di RSUD X.

Background: Work Related Musculosceletal Disorders (WMSDs) is the most common health problem related to work and is ranked 2nd as a work disorder and has the most costs. The prevalence of WMSDs is higher among health workers, compared to the general population, industry and the construction profession. Health sector professionals, especially those who work in a hospital environment, are more likely to experience gorak. The purpose of this study was to analyze the factors associated with muscle and skeletal disorders due to work on employees at RSUD X in 2022. Methods: This type of research is cross-sectional with 194 employees working at RSUD X. Data collection techniques for primary data were done by filling out questionnaires, observations, measurements and interviews. As for secondary data in the form of hospital profiles, employee data and employee MCU data. Results: The results of the Nordic Body Map questionnaire showed that the prevalence of WMSDs in employees at RSUD X was 83.5%. The majority of employees who experience WMSDs complaints are medical personnel, which is 51.2%. The analysis of this study found that there was a significant relationship between psychosocial factors, namely psychological work demands with an OR of 6.25 and job dissatisfaction with an OR of 10.26. Conclusion: The prevalence of WMSDs on employees at RSUD X is high so it is necessary to take corrective action to reduce complaints of WMSDs on employees at RSUD X.
Read More
T-6585
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widya Prameswari; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Abdul Kadir, Mufti Wirawan, Puspita Sampekalo, Ali Syahrul Chairuman
Abstrak:

Tenaga kesehatan merupakan salah satu profesi yang berisiko mengalami distres, dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor individu, pekerjaan, sosial dan lingkungan kerja. Jika tidak ditangani dengan baik, distres tersebut bisa mengakibatkan gangguan kesehatan, mental dan penurunan produktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi distres pada tenaga kesehatan di RSUD Cibinong. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional dianalis menggunakan uji statistik chi-square dan regresi logistik. Variable dependen tingkat distres dan variabel independen terdiri dari faktor individu, faktor pekerjaan, faktor sosial, dan lingkungan kerja. Periode penelitian bulan April – Mei 2025, responden terdiri dari perawat, bidan, ahli gizi, tenaga kefarmasian, apoteker, dan analis laboratorium di ruangan rawat inap RSUD Cibinong Bogor. Ditemukan bahwa beban kerja dan hubungan interpersonal merupakan faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap tingkat distres pada tenaga kesehatan di RSUD Cibinong Bogor, dimana beban kerja yang berat berpeluang 4.2 kali menyebabkan tingkat distres dibandingkan dengan beban kerja yang ringan dan hubungan interpersonal yang baik dapat menurunkan tingkat distres sebesar 78.6%. Rekomendasi dari penelitian ini adalah melakukan monitoring dan evaluasi terkait beban kerja, memfasilitasi sarana dan prasarana pendukung untuk meringankan beban kerja, menyelenggarakan pelatihan berkelanjutan terkait ergonomi, manajemen stres, menyediakan wadah penyampaian aspirasi, keluhan atau masalah interpersonal di tempat kerja secara aman dan rahasia.


Healthcare workers are one of the professions at risk of experiencing distress, which can  be caused by several factors such as individual, work, social and work environment  factors. If not handled properly, such distress can lead to health and mental disorders  and decreased productivity. This study aims to identify factors that influence distress in  health workers at Cibinong Hospital. The method used was quantitative research with a  cross-sectional study design analyzed using chi-square statistical test and logistic  regression. The dependent variable is the level of distress and the independent variables  consist of individual factors, work factors, social factors, and work environment. The  research period was April - May 2025, the respondents consisted of nurses, midwives,  nutritionists, pharmaceutical workers, pharmacists, and laboratory analysts in the  inpatient room of the Cibinong Bogor Regional Hospital. Found that workload and  interpersonal relationships are the risk factors that most influence the level of distress in  healthcare workers at Cibinong Bogor Regional Hospital, where heavy workload has a  4.2 times chance of causing distress compared to light workload and good interpersonal  relationships can reduce the level of distress by 78.6%. Recommendations from this study  are to conduct monitoring and evaluation related to workload, facilitate supporting  facilities and infrastructure to ease workload, organize ongoing training related to  ergonomics, stress management, provide a forum for the delivery of aspirations,  complaints or interpersonal problems in the workplace in a safe and confidential manner.

Read More
T-7399
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sutrani Rachmawati; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Robiana Modjo, Eni Yati, Anita Johan
Abstrak: Pandemi Covid-19 menjadi situasi yang menantang bagi tenaga kesehatan karena menempatkan mereka sebagai populasi berisiko tinggi untuk terinfeksi dan mendapatkan permasalahan terkait kondisi kerja yang berpengaruh terhadap tingkat distres. Tujuan penelitian ini ingin menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat distres pada tenaga kesehatan di Kabupaten Pandeglang selama pandemi Covid-19. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional yang dilakukan pada Oktober-Desember 2021 secara daring. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga kesehatan di Kabupaten Pandeglang yang bekerja di Rumah Sakit, Puskesmas dan Klinik. Risiko psikososial diukur menggunakan Pandemic-Related Perceived Stress Scale of COVID-19 (PSS-10-C). Data dianalisis menggunakan Chi-squere dan regresi logistik ganda. Tenaga kesehatan memiliki tingkat distres rendah (30,49%) dan sedang (69,51%). Analisis regresi logistik ganda menunjukan bahwa faktor dominan yang berhubungan dengan tingkat distres yaitu ketersediaan APD dan dukungan rekan kerja. Tenaga kesehatan di Kabupaten Pandelang mengalami tingkat distres rendah dan sedang selama pandemi Covid-19. Pasokan APD yang memadai dan pembagian tugas yang jelas antar rekan kerja dibutuhkan untuk mencegah meningkatnya tingkat distres pada tenaga kesehatan selama pandemi Covid-19
The Covid-19 pandemic has become a challenging situation for health workers because it places them as a population at high risk for infection and getting problems related to working conditions that affect the level of distress. This study aims to analyze the factors associated with the level of distress among health workers in Pandeglang during the Covid-19 pandemic. This study uses a cross-sectional study design that was conducted in October-December 2021. The population in this study were all health workers in Pandeglang who worked in hospitals, public health centers, and clinics. The distress level is measured using the Pandemic-Related Perceived Stress Scale of COVID-19 (PSS-10-C). Data are analyzed using Chi-square and multiple logistic regression. Health workers have low (30.49%) and moderate (69.51%) levels of distress. Multiple logistic regression analysis showed that the dominant factors associated with the level of distress are the availability of PPE and the support of colleagues. Health workers in Pandelang experienced low and moderate levels of distress during the Covid-19 pandemic. An adequate supply of PPE and a clear division of tasks among co-workers are needed to prevent an increase in the level of distress for health workers during the Covid-19 pandemic
Read More
T-6324
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Akmalina Fadhilah; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Yoesi Nirmiyanto
Abstrak:
Distres adalah reaksi individu terhadap situasi yang timbul akibat interaksi yang terjadi antara individu dengan pekerjaan dan memiliki dampak negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat distres dan faktor risiko pada tenaga kesehatan di Puskesmas Karangmalang Kabupaten Sragen tahun 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Variabel yang diteliti adalah jenis kelamin, usia, status pernikahan, tingkat pendidikan, pekerjaan, masa kerja, beban kerja, jadwal kerja, home-work interface, dan dukungan sosial. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner Perceived Stress Scale untuk mengukur distres, NIOSH Generic Job Stress Questionnaire untuk mengukur faktor risiko terkait pekerjaan dan variabel dukungan dari atasan dan rekan kerja, dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support untuk mengukur dukungan sosial dari keluarga dan teman. Sebanyak 34,0% tenaga kesehatan mengalami stres ringan dan 66,0% tenaga kesehatan mengalami stres sedang. Berdasarkan uji bivariat yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara beban kerja dan jam kerja dengan tingkat distres pada tenaga kesehatan di Puskesmas Karangmalang Kabupaten Sragen

Distress is an individual reaction to situations that occur due to interactions between the individual and work and has a negative impact. This study aims to describe the level of distress and risk factors in health workers at the Karangmalang Health Center, Sragen Regency in 2023. This study used a quantitative method with a cross-sectional study design. The variables studied were gender, age, marital status, education level, occupation, years of work, workload, work schedule, home-work interface, and social support. The study instruments used were the Perceived Stress Scale questionnaire to measure distress, the NIOSH Generic Job Stress Questionnaire to measure job-related risk factors and support variables from superiors and coworkers, and the Multidimensional Scale of Perceived Social Support to measure social support from family and friends. A total of 34.0% of health workers experienced mild stress and 66.0% of health workers experienced moderate stress. Based on the bivariate test done, it can be concluded that there is a relationship between workload and working hours with the level of distress in health workers at Karangmalang Health Center, Sragen Regency.
Read More
S-11290
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diva Revyanda; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Nur Anis Laila
Abstrak: Distres kerja adalah respons negatif fisik dan emosional terhadap ketidaksesuaian antara tuntutan pekerjaan, sumber daya, dan kemampuan pekerja yang dapat menimbulkan dampak terhadap kondisi fisiologis dan psikologis pekerja. Guru SLB Negeri merupakan salah satu profesi yang rentan mengalami distres kerja karena pekerjaannya yang berbeda dengan guru sekolah formal pada umumnya serta memiliki tuntutan peran dan tekanan pekerjaan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian distres kerja dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan distres kerja pada guru SLB Negeri di wilayah Kota Jakarta Selatan. Penelitian ini dilakukan kepada guru dari empat SLB Negeri di Kota Jakarta Selatan. Besar sampel yang digunakan adalah total sampling, yaitu 199 orang. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner yang diadaptasi dari NIOSH Generic Job Stress Questionnaire. Dari besar sampel sebanyak 199 orang, hanya 186 orang yang bersedia menjadi responden sehingga didapatkan hasil bahwa sebanyak 84 orang (45,2%) mengalami distres kerja dan 102 orang (54,8%) tidak mengalami distres kerja. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berhubungan secara statistik melalui uji chi-square adalah usia (nilai P = 0,034), status pernikahan (nilai P = 0,022), dan ambiguitas peran (nilai P = 0,015).
Work distress is a physical and emotional negative response to the discrepancy between job demands, resource and abilities of workers, which can has many impact on physiological and psychological conditions of workers. Public special education teacher is one of the professions that are prone to work distress because their jobs are different from other formal schoolteachers and have high job demands and pressures. This study aims to describe the conditions of work distress and analyze the factors related to work distress for public special education teachers in Jakarta Selatan. This study conducted on teachers from four public special educations in Jakarta Selatan so that the sample size used was total sampling, which was 199 respondents. The study method used is quantitative with cross-sectional design study and uses instrument adapted from NIOSH Generic Job Stress Questionnaire. From 199 respondents, only 186 respondents were willing to filled the questionnaire so the results showed that 84 respondents (45,2%) experienced work distress and 102 respondents (54,8%) did not experience work distress. The factors related to work distress through Chi-Square test were age (P value = 0,034), marital status (P value = 0,022) and role ambiguity (P value = 0,015).
Read More
S-10980
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuda Nugraha; Pembimbing: Hendra; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Mila Tejamaya, Helenasari Tambunan, Muhepi
Abstrak:
Distres kerja merupakan respons negatif terhadap tekanan pekerjaan yang berkepanjangan dan dapat berdampak buruk pada kesehatan mental, produktivitas kerja, serta kualitas pelayanan. Rumah sakit sebagai institusi dengan tekanan kerja tinggi berisiko tinggi terhadap kejadian distres kerja pada pegawainya. Distres kerja dapat  berdampak negatif pada kesehatan psikologis dan produktivitas pegawai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor risiko dari arena individu, rumah, dan pekerjaan dengan tingkat distres kerja pada pegawai UPTD RSUD Malingping. Desain penelitian menggunakan studi potong lintang pada 279 responden yang diperoleh melalui total sampling. Data dikumpulkan pada April–Juni 2025 menggunakan kuesioner Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ III) versi panjang dan NIOSH generic job stress questionnaire. Analisis data menggunakan chi-square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada kelompok usia produktif 30–39 tahun (49,1%) , berjenis kelamin laki-laki (50,2%) , berstatus tenaga BLUD (38,0%), dan memiliki tingkat pendidikan D4/S1 (55,9%). Mayoritas responden mengalami distres kerja pada kategori sedang, baik secara keseluruhan maupun pada seluruh dimensi distres, meliputi gangguan kognitif, somatik, dan psikologis. Analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa variabel usia, tingkat pendidikan, konflik pekerjaan–kehidupan, tuntutan kuantitatif pekerjaan, makna pekerjaan, pengembangan keterampilan, dukungan sosial supervisor, dukungan rekan kerja, dan pengembangan karier berhubungan dengan tingkat distres kerja sebaliknya variabel jenis kelamin, status kepegawaian, status pernikahan, masa kerja, variasi pekerjaan, kontrol kerja, dan lingkungan kerja tidak menunjukkan hubungan bermakna secara statistik terhadap tingkat distres kerja. Diantara seluruh variabel yang diteliti, variabel tuntutan kuantitatif pekerjaan menjadi variabel yang memiliki keterkaitan kuat dengan tingkat distres kerja, sementara konflik pekerjaan–kehidupan ditemukan sebagai prediktor paling kuat pada gangguan kognitif dan gangguan somatik, sebaliknya, variabel pengembangan karier menjadi faktor protektif utama yang konsisten menurunkan risiko distres kerja di seluruh dimensinya. Setiap variabel yang teridentifikasi dapat digunakan sebagai dasar untuk menyusun program intervensi yang berfokus pada pengelolaan beban kerja, peningkatan keseimbangan kerja-hidup pegawai, pengelolaan tuntutan pekerjaan, serta memperkuat sistem dukungan sosial sebagai upaya pencegahan distres kerja terhadap pegawai di lingkungan UPTD RSUD Malingping

Work-related distress is a negative response to prolonged occupational stress and may adversely affect mental health, work productivity, and service quality. Hospitals, as high-pressure work environments, are particularly vulnerable to the occurrence of work-related distress among their employees. This condition can significantly impair employees’ psychological well-being and job performance. This study aimed to analyze the association between risk factors across the individual, home, and work domains and the level of work-related distress among employees of UPTD RSUD Malingping. A cross-sectional study design was conducted involving 279 respondents selected through total sampling. Data were collected between April and June 2025 using the long version of the Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ III) and the NIOSH Generic Job Stress Questionnaire. Data analysis was performed using chi-square tests and multiple logistic regression. The results showed that most respondents were in the productive age group of 30–39 years (49.1%), male (50.2%), employed as BLUD staff (38.0%), and had a D4/S1 educational background (55.9%). The majority of respondents experienced moderate levels of work-related distress, both overall and across all distress dimensions, including cognitive, somatic, and psychological distress. Statistical analysis revealed that age, educational level, work–life conflict, quantitative job demands, meaning of work, skill development, supervisor support, coworker support, and career development were significantly associated with work-related distress. In contrast, gender, employment status, marital status, length of employment, job variation, job control, and work environment showed no statistically significant association. Among all variables examined, quantitative job demands emerged as the factor most strongly associated with overall work-related distress. Meanwhile, work–life conflict was identified as the strongest predictor of cognitive and somatic distress. Conversely, career development consistently functioned as the primary protective factor, reducing the risk of work-related distress across all dimensions. These findings suggest that the identified variables can serve as a foundation for developing targeted intervention programs focused on workload management, work–life balance enhancement, regulation of job demands, and strengthening social support systems as preventive strategies to reduce work-related distress among employees at UPTD RSUD Malingping
Read More
T-7479
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aziza; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Abdul Kadir, Hendra, Deni andrias, Diantika Prameswara
Abstrak:
Petugas penanggulangan bencana memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya membantu populasi paling rentan dalam mencapai tujuan kesehatan global. Dalam penelitian Curling & Simmons (2010), didapatkan 74% petugas penanggulangan bencana yang mengalami distres sedang atau berat. Tesis ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan distres pada petugas penanggulangan bencana di Palang Merah Indonesia Tahun 2024. Metode penelitian ini adalah gabungan antara penelitian kuantitatif dan kualitatif yang biasa disebut dengan nama Mixed Methods Research dengan desain eksplanatoris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 139 responden, 38 petugas (27,3%) dengan tingkat distres rendah dan 101 petugas (72,7%) dengan tingkat distres sedang-tinggi dan gejala paling tinggi adalah gejala psikologis (57,45%). Hasil analisa bivariat ditemukan faktor yang berhubungan secara signifikan (p-value≤0,05) dengan tingkat distres adalah variabel masa kerja p-value 0,031, mendapatkan pelatihan p-value 0,046, hubungan interpersonal p-value 0,043, jadwal kerja p-value 0,011, variabel dukungan sosial p-value 0,008, dan variabel dukungan anggota keluarga p-value 0,000. Variabel yang dominan berhubungan dengan distres adalah dukungan anggota keluarga yang ditunjukkan oleh nilai OR paling besar 5,75 kali (OR 5,75 95%CI 2,45-13,48). Selanjutnya dilakukan uji interaksi didapatkan bahwa terdapat hubungan antara dukungan anggota keluarga dengan jadwal kerja terhadap distres. Pada petugas yang jadwal kerja buruk, petugas dengan dukungan anggota keluarga buruk berisiko 44,03 kali lebih tinggi untuk mengalami distres sedang-tinggi dibandingkan petugas dengan dukungan anggota keluarga baik setelah dikontrol variabel umur. Saran dari penelitian ini agar dapat dilakukannya family gathering dan dibuatkannya kegiatan setiap minggunya untuk menyalurkan hobi berupa olahraga dan senam pada petugas penanggulangan bencana guna untuk refreshing. Serta menentukan standar dan kebijakan yang jelas berupa sistem istirahat bergantian terkait dengan jadwal kerja pada saat dilokasi bencana, sehingga dapat mengurangi terjadinya distres pada petugas.

Disaster response workers have a critical role in efforts to help the most vulnerable populations achieve global health goals. In research by Curling & Simmons (2010), it was found that 74% of disaster management officers experienced moderate or severe distress. This thesis aims to analyze factors related to distress among disaster management officers at the Indonesian Red Cross in 2024. This research method is a combination of quantitative and qualitative research which is usually called Mixed Methods Research with an explanatory design. The results showed that of the 139 respondents, 38 officers (27.3%) had low levels of distress and 101 officers (72.7%) had medium-high levels of distress and the highest symptoms were psychological symptoms (57.45%). The results of the bivariate analysis found factors that were significantly related (p-value≤0.05) to the level of distress, namely the variable length of service, p-value 0.031, receiving training, p-value 0.046, interpersonal relationships p-value 0.043, work schedule p-value 0.011 , the social support variable has a p-value of 0.008, and the family member support variable has a p-value of 0.000. The dominant variable related to distress is the support of family members as indicated by the highest OR value of 5.75 times (OR 5.75 95%CI 2.45-13.48). Furthermore, an interaction test was carried out and it was found that there was a relationship between the support of family members and work schedules on distress. For officers with poor work schedules, officers with poor family support are 44.03 times more likely to experience moderate-high distress than officers with good family support after controlling for the age variable. The suggestion from this research is that family gatherings can be held and activities are created every week to channel hobbies in the form of sports and gymnastics among disaster management officers in order to refresh themselves. As well as determining clear standards and policies in the form of an alternating rest system related to work schedules at disaster locations, so as to reduce the occurrence of distress among officers.
 
Read More
T-7104
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cahyo Hardo Priyoasmoro; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Mufti Wirawan, Achmad Dahlan, Ivan Fadlun Azmy
Abstrak:

Resiko bekerja di perusahaan migas PT X yang berlokasi di offshore Natuna adalah relatif tinggi. Sepanjang tahun 2018 – 2023 terjadi fluktuasi kecelakaan kerja di PT. X. Bahkan setelah dua tahun (tahun 2020 dan 2019) tidak terjadi kecelakaan kerja untuk kategori recordable injury (kasus di atas FAC), di tahun 2021 terjadi lagi 3 kasus (1 RWDC dan 2 MTC) dan di tahun 2022 terjadi 4 kasus (1 LWDC, 1 RWDC, dan 2 MTC). Di tahun 2023 terjadi 1 kasus (1 RWDC). Korban kecelakaan kerja di tahun 2021 didominasi oleh pekerja kontrak dan pekerja tetap sedangkan kecelakaan kerja di tahun 2022 dan 2023 semuanya terjadi pada pekerja kontrak. Sebagian besar kecelakaan yang terjadi penyebab langsungnya adalah unsafe acts. Sampai saat ini belum ada analisis menyeluruh dari data investigasi kecelakaan-kecelakaan yang telah dilakukan PT X untuk mendapatkan faktor-faktor penyebab dasar dari semua kecelakaan tersebut. Dengan demikian, penelitian perlu dilakukan, dan karena berhubungan dengan human factor, maka pada penelitian ini akan dianalisis faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan kerja tersebut dengan metode Human Factor Analysis and Classification System (HFACS). Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kecelakaan kerja di PT X antara tahun 2018 – 2023 dengan metode HFACS. Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif. Data sekunder yang digunakan berupa rekaman kejadian kecelakaan dan laporan investigasi atas 41 kecelakaan di PT X. Data sekunder tersebut kemudian diklasifikasikan sesuai dengan empat (4) tahapan kegagalan di metode HFACS, yaitu unsafe acts, precondition of unsafe acts, unsafe supervision, dan organizational influence. Pengklasifikasian ini divalidasi oleh dua ahli keselamatan kerja, di mana hasil validasinya relatif tinggi (96%). Hasil: Hasil penelitian menjelaskan bahwa faktor-faktor HFACS yang mempengaruhi kecelakaan terbesar berturut-turut adalah adverse mental state (51,2%), skill-based error (39%), routine violations (34,1%), dan tools/technological dan resource management (masing-masing 31,7%). Kemudian disusul oleh decision error (29,3%), inadequate supervision (22%), failed to correct problem dan organizational process masing-masing (17,1%), lalu supervisory violation dan organizational climate masing-masing (9,8%). Kesimpulan: Faktor-faktor HFACS yang memengaruhi kecelakaan kerja di PT X dapat digunakan sebagai masukan untuk perbaikan program K3 perusahaan guna menurunkan angka kecelakaan dengan memprioritaskannya pada faktor HFACS yang bersifat latent failure baru kemudian pada faktor active failure-nya, karena latent failure - jika diperbaiki- akan menjadi kunci untuk mencegah berulangnya kecelakaan.


The risks of working for the PT X , an oil and gas company located offshore Natuna are relatively high. Throughout 2018 – 2023 there were fluctuations in work accidents at PT. X. Even after two years (2020 and 2019) there was no work accident for the recordable injury category (cases above FAC), in 2021 there were 3 cases (1 RWDC and 2 MTC) and in 2022 there were 4 cases (1 LWDC, 1 RWDC, and 2 MTC). In 2023 there was 1 case (1 RWDC). Work accident victims in 2021 are dominated by contract workers and permanent workers, while work accidents in 2022 and 2023 all occur in contract workers. Most of the accidents that occur are directly caused by unsafe acts. Until now there has been no comprehensive analysis of accident investigation data that has been carried out by PT X to obtain the basic causal factors of all these accidents. Thus, research needs to be carried out, and because it is related to human factors, this research will analyze the factors that cause work accidents using the Human Factor Analysis and Classification System (HFACS) method. Objective: Analyzing the factors that influence work accidents at PT X between 2018 – 2023 using the HFACS method. Method: This research is descriptive analytical research with a qualitative approach. The secondary data used is in the form of recordings of accidents and investigation reports on 41 accidents at PT X . This classification was validated by two occupational safety experts, where the validation results were relatively high (96%). Results: The research results explain that the HFACS factors that influence the biggest accidents are adverse mental state (51.2%), skill-based errors (39%), routine violations (34.1%), and tools/technological and resources, respectively. management (31.7% each). Then followed by decision errors (29.3%), inadequate supervision (22%), failed to correct problems and organizational processes respectively (17.1%), then supervisory violations and organizational climate respectively (9.8%). Conclusion: The HFACS factors that influence work accidents in PT X can be used as input for improving the company's H&S program to reduce the number of accidents by prioritizing the HFACS factors which are latent failures and then the active failure factors, because latent failures - if corrected - will become key to preventing recurrence of accidents.

Read More
T-6952
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive