Ditemukan 35142 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Esi Daktari Nanda; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Prastuti Soewondo, Pujiyanto, Ratna Idayati, Ns. Rachmah
Abstrak:
Read More
Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan di dunia dengan Indonesia merupakan negara tertinggi di Asia Tenggara yang masih endemik DBD. Pada tahun 2022, terjadi peningkatan kasus DBD di Aceh dengan kematian tertinggi di kota Banda Aceh. Rumah Sakit Pendidikan Universitas Syiah Kuala (RSPUSK) merupakan rumah sakit tipe D di Aceh yang beroperasional sejak tahun 2012 hingga sekarang, dengan sebagian besar kunjungan pasien merupakan pasien JKN (98,5%) dan memberikan pelayanan rawat jalan (emergensi dan poliklinik), rawat inap dan penunjang. DBD merupakan penyakit tertinggi yang dirawat inap di RSPUSK sejak tahun 2016 hingga 2022, dengan perbandingan pembayaran klaim INACBGs lebih rendah yaitu sebesar 50% daripada besaran tagihan perawatan rumah sakit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tagihan perawatan DBD pasien JKN di RSPUSK Aceh pada tahun 2022. Metode penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional digunakan dalam penelitian ini dengan sampel berupa total sampling dari data sekunder rekam medis RSPUSK tahun 2022 yang telah memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil penelitian menemukan bahwa rata-rata tagihan perawatan DBD pasien JKN di RSPUSK Aceh tahun 2022 adalah sebesar Rp. 2.549.946. Faktor lama rawat / Lenght of Stay (LOS) berhubungan dengan tagihan perawatan DBD pasien JKN di RSPUSK Aceh tahun 2022 sedangkan faktor umur, jenis kelamin, kelas rawatan, Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) dan komorbid tidak berhubungan secara signifikan. Terdapat peluang efisiensi yang harus dilakukan di internal manajemen terkait dengan tata kelola pelayanan DBD yang dipicu oleh pemeriksaan laboratorium, radiologi, pemberian obat dan perilaku DPJP. Apabila hal ini bisa dikendalikan dengan baik maka overutilisasi dapat dikendalikan. Upaya yang dapat dilakukan berupa penyusunan struktur tarif rumah sakit berbasis unit cost; optimalisasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS); dan update Clinical Pathway yang dilanjutkan dengan sosialisasi, supervisi maupun monitoring evaluasi secara berkala sebagai upaya mengawal perilaku DPJP dan menjaga mutu layanan rumah sakit.
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) still being a health problem in the world that Indonesia is the highest country in Southeast Asia where DHF is still endemic. In 2022, DHF cases increase in Aceh with the highest morbidity in Banda Aceh. The Syiah Kuala University Teaching Hospital (RSPUSK) is a type D hospital in Aceh which has been operating since 2012 until now, with the majority of patient visits are JKN patients (98.5%) and providing emergency, policlinic, inward hospitalization and another healthcare support services. DHF is the highest disease that was hospitalized at RSPUSK from 2016 to 2022, with INACBGs claim payments 50% lower than the amount of hospital bill. This study was conducted to determine the factors associated with DHF treatment bills for JKN patients at the Aceh RSPUSK in 2022. The quantitative research method with a cross-sectional design was used in this study with the sample being the total sampling from secondary data from medical records at RSPUSK in 2022 which had fulfilled inclusion and exclusion criteria. The results of the study found that the average DHF treatment bill for JKN patients at the Aceh RSPUSK in 2022 was Rp. 2.549.946. Length of Stay (LOS) is a factor associated to DHF treatment bills for JKN patients at RSPUSK Aceh in 2022, while the factors of age, gender, class of treatment, medical specialist and comorbidities are not significantly associated. There are efficiency opportunities that must be carried out in internal management hospital related to DHF healthcare services which are triggered by laboratory tests, radiology, drug administration and medical specialist behavior. If this can be controlled properly then overutilization can be controlled well. Efforts that can be made are: calculating and forming the hospital tariff structure based on unit cost method; optimizing the Hospital Management Information System; and updating the Clinical Pathway which is followed by socialization, supervision and evaluation monitoring regularly as an effort to oversee the behavior of specialist and maintain the quality of hospital services.
B-2314
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Felicia Gunardi; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Mardiati Nadjib, Vetty Yulianty Permanasari, Budi Rahmat, Hananto Andriantoro
Abstrak:
Read More
Penyakit Jantung Bawaaan (PJB) Tetralogy of Fallot (TOF) merupakan PJB sianotik (biru) yang terbanyak. Tatalaksana definitif yang dilakukan adalah dengan operasi total koreksi sedini mungkin. Sebagian besar pembiayaan untuk perawatan operasi TOF menggunakan BPJS Kesehatan berdasarkan tarif INA-CBG. Tetapi karena terdapat selisih negatif antara tarif INA-CBG lama tahun 2016 dengan tagihan perawatan operasi TOF, banyak rumah sakit tidak mau melaksanakan operasi dan langsung merujuk ke RSJPD Harapan Kita yang merupakan pusat rujukan jantung nasional. Hal ini menyebabkan antrian operasi yang panjang dan berakhir kematian. Dengan adanya tarif INA-CBG terbaru tahun 2023 yang telah mengalami kenaikan, diperlukan penelitian apakah masih terdapat selisih negatif tersebut. Analisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tagihan perawatan operasi TOF lebih diperlukan karena biasanya kebijakan baru akan memakan waktu. Kepatuhan terhadap Clinical Pathway (CP) TOF Repair perlu dilakukan analisa juga. Penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan cross sectional mengambil sampel pasien perawatan operasi total koreksi TOF tahun 2022 yang sesuai kriteria sejumlah 82 pasien. Hasil penelitian didapatkan karakteristik pasien yang dioperasi di RSJPD Harapan Kita sebagian besar masih usia ≥ 1 tahun, berjenis kelamin perempuan, status gizi normal, memiliki diagnosa sekunder dan tingkat keparahan PPK derajat I (ringan) serta tingkat keparahan INA-CBG derajat II (sedang). Karakteristik tindakan dengan median lama CPB 103,5 menit dan lama AoX 55 menit dan sebagian besar tidak ada komplikasi. Karakteristik pelayanan didapatkan kelas rawat III adalah yang terbanyak dengan median lama rawat post operasi 6 hari dan lama rawat total 8 hari, sebagian besar patuh terhadap lama rawat PPK (8 hari) dan lama rawat CP (6 hari). Faktor-faktor yang berhubungan dengan tagihan perawatan operasi total koreksi TOF adalah komplikasi, kelas rawat dan lama rawat CP. Masih banyak hal yang belum sesuai dengan Clinical Pathway TOF Repair RSJPD Harapan Kita yaitu lama rawat, pemeriksaan penunjang laboratorium dan radiologi, pemakaian obat-obatan dan alkes serta BMHP. Masih terdapat selisih negatif dari nilai total tagihan perawatan pasien operasi total koreksi TOF tahun 2022 dibandingkan dengan nilai total tarif INA-CBG terbaru tahun 2023.
Tetralogy of Fallot (TOF) is the most common cyanotic (blue) Congenital Heart Disease. The definitive treatment is total corrective surgery as early as possible. Most of the financing for TOF surgery care uses BPJS Kesehatan based on the INA-CBG rate. However, because there is negative difference between the 2016 INA-CBG rate and the TOF surgery treatment bill, many hospitals do not want to carry out the operation and refer directly to the Harapan Kita Hospital which is the national heart referral center. This causes long operating queues and leads to death. With the latest 2023 INA-CBG rates which have increased, it is necessary to be analyzed whether there is still such a negative difference. Analysis of the factors related to TOF surgery treatment bills is more needed, because usually new policies will take time. Compliance with the TOF Repair Clinical Pathway (CP) need to be analyzed as well. This descriptive observational study with a cross-sectional approach took a sample of patients undergoing TOF corrective surgery at RSJPD Harapan Kita in 2022 who met the criteria for a total of 82 patients. The results showed that the characteristics of patients who were operated were mostly aged ≥ 1 year, female, normal nutritional status, had a secondary diagnosis and the severity of PPK degree I (mild) and the severity of INA-CBG degree II (moderate). Characteristics of the procedure with a median CPB duration of 103.5 minutes and AoX duration of 55 minutes and most of them had no complications. Characteristics of service was mostly obtained class III with a median postoperative length of stay of 6 days and a total length of stay of 8 days, most of them adhered to the length of stay for PPK (8 days) and the length of stay for CP (6 days). Factors related to total TOF correction surgery bills were complications, class of stay and length of stay for CP. There are still many things that are not in accordance with the Clinical Pathway TOF Repair RSJPD Harapan Kita such as the length of stay, laboratory and radiological investigations, use of drugs and medical devices as well as BMHP. There is still a negative difference in the total value of patient care bills for total TOF correction surgery in 2022 compared to the total value of the latest 2023 INA-CBG rates.
B-2393
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sunu Bintan Gifari; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Kurnia Sari, Emmy Ridhawaty Mangunsong, Hendro
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan unit pelayanan rumah sakit dengan karakteristik pelayanan yang kompleks, tingkat ketidakpastian yang tinggi, serta variasi penggunaan sumber daya yang besar. Kondisi tersebut menyebabkan variasi tagihan pelayanan antar pasien, bahkan pada kelompok pembiayaan yang sama. Pemahaman mengenai faktor-faktor yang memengaruhi besaran tagihan pelayanan menjadi penting untuk mendukung efisiensi pengelolaan biaya dan keberlanjutan finansial rumah sakit. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tagihan pelayanan Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit Santa Elisabeth Batam. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data sekunder pasien IGD periode tahun 2025. Sampel penelitian berjumlah 8.483 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel independen meliputi usia, jenis kelamin, diagnosis berdasarkan kelompok ICD-10, tingkat triase Australasian Triage Scale (ATS), status keluar pasien, dan cara bayar. Variabel dependen adalah total tagihan pelayanan IGD. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan Mann-Whitney U dan Kruskal-Wallis, serta multivariat menggunakan Generalized Linear Model (GLM) distribusi Gamma dengan fungsi log. Hasil: Mayoritas pasien merupakan kelompok usia dewasa (65,2%), berjenis kelamin perempuan (50,8%), memiliki tingkat triase ATS 4 (57,6%), dan menggunakan pembayaran umum (56,0%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa usia, diagnosis, triase, dan cara bayar berhubungan signifikan dengan total tagihan pelayanan IGD (p<0,05), sedangkan jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Analisis multivariat menunjukkan bahwa usia, jenis kelamin, diagnosis, triase, dan cara bayar berpengaruh signifikan terhadap total tagihan pelayanan IGD (p<0,05). Cara bayar merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi besaran tagihan, dengan pasien asuransi memiliki tagihan yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan pasien BPJS sebagai kelompok referensi. Analisis variabel komposit menunjukkan bahwa kombinasi diagnosis dan triase memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variasi total tagihan pelayanan IGD. Kesimpulan: Total tagihan pelayanan IGD dipengaruhi oleh karakteristik pasien, kondisi klinis, dan mekanisme pembiayaan. Cara bayar merupakan faktor paling dominan dalam pembentukan tagihan pelayanan IGD. Temuan ini menunjukkan bahwa sistem pembiayaan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk variasi biaya pelayanan, sehingga perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan biaya rumah sakit dan pengembangan kebijakan pembiayaan kesehatan.
Background: Emergency Departments (EDs) are among the most complex hospital service units, characterized by high clinical uncertainty and substantial variations in resource utilization. These characteristics contribute to considerable variability in service charges among patients, even within the same financing scheme. Understanding the factors of ED service charges is essential for improving cost efficiency and ensuring hospital financial sustainability. Objective: This study aimed to analyze the factors Associated of Emergency Department service charges at Santa Elisabeth Hospital Batam. Methods: This study employed a quantitative cross-sectional design using secondary data from ED patients treated during 2025. A total of 8,483 patients meeting the inclusion criteria were analyzed. Independent variables included age, sex, diagnosis category based on ICD-10 chapters, Australasian Triage Scale (ATS) level, discharge status, and payment method. The dependent variable was total ED service charges. Data were analyzed using univariate statistics, Mann–Whitney U and Kruskal–Wallis tests for bivariate analysis, and Generalized Linear Modeling (GLM) with Gamma distribution and log-link function for multivariate analysis. Results: Most patients were adults (65.2%), female (50.8%), classified as ATS 4 (57.6%), and self-paying patients (56.0%). Bivariate analysis demonstrated significant associations between age, diagnosis, triage category, payment method, and total ED charges (p<0.05), while sex was not significantly associated. Multivariate analysis revealed that age, sex, diagnosis, triage category, and payment method significantly influenced total ED service charges (p<0.05). Payment method was identified as the most dominant factors, with insured patients incurring significantly higher charges than BPJS-insured patients as the reference group. Composite variable analysis further demonstrated that the interaction between diagnosis and triage level significantly contributed to variations in total ED service charges. Conclusion: Total ED service charges are influenced by patient characteristics, clinical conditions, and financing mechanisms. Payment method emerged as the strongest factors of service charges. These findings highlight the critical role of healthcare financing systems in shaping cost variations and provide important implications for hospital cost management and healthcare financing policy development. Keywords: Emergency Department, Service Charges, Cost of Treatment, Generalized Linear Model, Triage, ICD-10 Diagnosis, Payment Method, Hospital Administration.
B-2633
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mastika Talib; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Mardiati Nadjib, Amal Chalik Sjaaf, Lony Novita, Trisna B. Widjayanti
Abstrak:
Sistem pembayaran prospektif dengan paket INA-CBGs pada pasien JKN menuntut rumah sakit agar dapat melakukan kendali biaya dan kendali mutu. Penelitian ini bertujuan untuk menilai upaya kendali biaya dan kendali mutu di RS MH Thamrin Salemba. Penelitian dilakukan pada kasus Demam Berdarah Dengue periode Januari-Maret 2017 secara kuantitatif (n=31), dengan membandingkan selisih klaim INA-CBGs dan tagihan rumah sakit, dan secara kualitatif dengan wawancara mendalam (6 informan). Selisih negatif yang didapat sebesar Rp177.880 dengan rerata selisih negatif sebesar Rp5.738 per kasus. Komponen kamar perawatan adalah komponen biaya tertinggi pada tagihan rumah sakit (30,62%). Manajemen rumah sakit menerapkan upaya kendali biaya mulai dari proses perencanaan sampai evaluasi dengan tetap mengutamakan mutu. Upaya efisiensi biaya dilakukan pada komponen farmasi, pemeriksaan penunjang, jasa medis dokter, dan kamar perawatan. Formularium RS yang digunakan sesuai dengan formularium nasional. RS MH Thamrin Salemba belum memiliki clinical pathways untuk mengontrol dan mengevaluasi pelayanan. Sistem insentif yang digunakan adalah sistem fee for service yang tidak sesuai dengan metode pembayaran prospektif. Kata kunci: kendali biaya, kendali mutu, pembayaran prospektif, tarif INA-CBGs
Read More
B-1873
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Christina Nusarita Intama; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Adang Bachtiar, Yohana Alfa Agustina, Putri Nadia
Abstrak:
Read More
Peningkatan jumlah pasien peserta JKN ke Poli gigi RSU Kota Tangerang Selatan setelah kasus COVID-19 mulai jauh menurun, menuntut penyedia layanan untuk dapat memberikan pelayanan berkualitas yang sesuai standar dan aman bagi pasien. Tesis ini membahas tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas layanan pasien peserta JKN di Poli gigi RSU Kota Tangerang Selatan pada tahun 2022 menurut pihak penyedia layanan (RS) dan dari persepsi pasien. Penelitian menggunakan disain Convergent Mixed Methods. Disain studi kasus digunakan pada penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara terhadap pemberi layanan dan disain penelitian cross sectional dilakukan untuk mengetahui persepsi pasien terhadap kualitas layanan peserta JKN di Poli Bedah Mulut dan Penyakit Mulut. Pengambilan sampel secara consecutive sampling didapatkan sebanyak 40 responden. Hasil penelitian mendapatkan bahwa masih terdapat ketidaksesuaian untuk faktor jumlah dan jenis serta perencanaan kebutuhan SDM, jumlah ruangan, alat dan alat penunjang medis (rontgen foto Panoramic), kebijakan peningkatan mutu layanan, monitoring pelaksanaan SPO dan pemberian layanan sesuai indikasi. Faktor-faktor yang mendapat penilaian sangat baik dari pasien yaitu: ketersediaan obat, kemampuan dokter, pemanfaatan JKN tanpa biaya tambahan untuk tindakan, karyawan yang responsif, ramah dan perhatian, serta kebersihan peralatan dan prosedur tindakan. Faktor-faktor yang masih dapat ditingkatkan dan diperbaiki diantaranya: kebersihan ruangan, alat penunjang medis kejelasan informasi untuk pasien BPJS dan waktu tunggu pasien. Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut dapat bermanfaat bagi upaya perbaikan dan peningkatan kualitas layanan pasien peserta JKN di RSU Kota Tangerang Selatan.
The increase in the number of JKN participant patients attending the dental clinic at RSU Kota Tangerang Selatan after COVID-19 cases began to decline considerably requires service providers to be able to provide quality services that meet standards and are safe for patients. This thesis discusses the factors related to the quality of service for JKN participant patients at the dental clinic at RSU Kota Tangerang Selatan in 2022 according to the provider (RS) and from patient perceptions. This research uses Convergent Mixed Methods design. The case study design was used in qualitative research by conducting interviews with service providers and a cross-sectional research design was carried out to determine patient perceptions of the quality of services for JKN participants at the Oral Surgery and Oral Disease Polyclinic. The results of the study found that from the service provider side, factors such as the number of human resources, the availability of facilities and infrastructure, policies to improve service quality, monitoring the implementation of SOP and providing services according to indications are related to service quality. Factors related to service quality and received very good evaluations from patients, namely: availability of medicines, ability of doctors, utilization of JKN without additional costs for procedures, the responsiveness, friendly and caring employees, as well as sterilized of equipment and procedures. Factors that can still be improved include: cleanliness of the room, additional costs for supporting examinations outside the hospital, clarity of information for BPJS patients and patient waiting times. Knowing these factors can be useful for efforts to improve and improve the quality of service for JKN participant patients at RSU Kota Tangerang Selatan.
B-2329
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Irma Yudi Febrianti; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Anhari Achadi, Amila Megraini, indah Rosana Djadiredja
Abstrak:
Atas rekomendasi dokter spesialis pelayanan Rujuk Balik ke puskesmas dianjurkan bagi pasien di RS yang menderita penyakit kronis termasuk diabetes melitius. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan kesediaan pasien diabetes mellitus Tipe 2 peserta JKN di RSU Jagakarsa untuk dirujuk balik ke FKTP. Desain potong lintang dan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam digunakan dalam studi ini.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan pasien terhadap dokter layanan primer, persepsi pasien mengenai ketersediaan obat di fasilitas kesehatan primer, jarak tempuh terhadap fasilitas kesehatan primer dan dukungan keluarga dan teman berhubungan dengan kesediaan pasien untuk dirujuk balik. Disarankan untuk mengembangkan SOP rujuk balik di RS dan mengembangkan pojok rujuk balik. Kata Kunci: rujuk balik, peserta Jaminan Kesehatan Nasional, Dibetes Melitus Tipe 2 Back referral service to primary care is provided for JKN patients including diabetes mellitus type 2 patients as recommended by the internal medicine specialist. This study aim is to analyse the factors that related to willingness of the patients to be referred to primary care after receiving care at the hospital in Jagakarsa Hospital. This study is using quantitative method with cross sectional design, followed by qualitative method with in-depth interview. The study revealed that trust to the primary health care physician, perception on medicine availability in primary health care facility, accessiibility and support from family and friend affect patient willingness to agree with back referral service. The study suggested to develop standard procedure for back referral and initiate back referral corner in hospital Key word: Back referral, National Health Insurance members, Diabetes Mellitus Type 2
Read More
B-1900
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sidarta Sagita; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Puput Oktamianti, Kurnia Sari, Amila Megraini
B-1932
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ratih Meireva Soeroso; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Iin Rahayu Kurniawati, Heldi Nazir
Abstrak:
Diabetes melitus merupakan suatu penyakit kronik yang tidak dapat disembuhkan serta dapat menimbulkan komplikasi serius antara lain gangren diabetik. Gangren diabetik dapat menyebabkan infeksi berat sehingga memerlukan tindakan debridement. Debridement dianggap sebagai metode yang paling cepat dan efisien dalam menangani gangren diabetik. Hal ini menyebabkan pasien perlu rawat inap sehingga membutuhkan banyak uang dan perawatan dalam jangka waktu lama. Hari perawatan yang semakin panjang dan biaya pengobatan yang mahal menjadi salah satu masalah yang harus mendapat perhatian khusus. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif non-eksperimental retrospektif yang bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tagihan pelayanan debridement gangren diabetik di RS Aisyiyah Bojonegoro tahun 2021. Dari 151 pasien yang memenuhi kriteria didapatkan bahwa pasien gangren diabetik yang menjalani tindakan debridement terbanyak berusia dibawah 60 tahun (66,2%), dengan jenis kelamin terbanyak adalah perempuan (53%), dan derajat terbanyak adalah derajat 1 (51,7%). Rata-rata lama hari rawat sebesar 4,72 hari. Dengan minimal lama rawat 2 hari dan maksimal lama rawat 13 hari. Dari hasil penelitian didapatkan tagihan lebih dibanding ina-cbgs sebesar 37 kasus pada derajat I, 6 kasus pada derajat II, dan 24 kasus pada derajat III. Sehingga dari jumlah 151 pasien yang dirawat dengan debridement gangren diabetik didapatkan 67 kasus dimana tagihan rumah sakit lebih tinggi (defisit) dibanding ina-cbgs. Hasil defisit tersebut terdapat pada semua kelas perawatan dan semua tingkat keparahan kecuali pada kelas 2 derajat I dan III serta pada kelas 1 derajat II dimana didapatkan hasil surplus dibanding ina-cbgs. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan P-Value <0,05 adalah pada tingkat keparahan, kepatuhan fornas, lama rawat dan DPJP yang berarti bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat keparahan, kepatuhan fornas, lama rawatan, dan DPJP dengan total tagihan rill pasien debridement gangren diabetik. Variabel yang paling dominan mempengaruhi total tagihan pasien adalah lama rawat yang memiliki nilai Exp (β) 13.108 artinya semakin lama pasien dirawat maka akan semakin menaikan total tagihan riil pasien debridement gangren diabetik.
Diabetes mellitus is a chronic disease that cannot be cured and can cause serious complications, including diabetic gangrene. Diabetic gangrene can cause severe infection that requiring debridement. Debridement is considered the fastest and most efficient method of treating diabetic gangrene. This causes the patient to be hospitalized, which requires a lot of money and long-term care. Longer treatment days and expensive medical expenses are problems that need special attention. This research is a retrospective non-experimental descriptive study that aims to analyze factors related to the bill for diabetic gangrene debridement services at Aisyiyah Bojonegoro Hospital in 2021. Of the 151 patients who met the criteria, it was found that most diabetic gangrene patients who underwent debridement were aged under 60 years (66.2%), with the most sex being female (53%), and the most degree being grade 1 (51.7%). The average length of stay was 4.72 days. With a minimum length of stay of 2 days and a maximum length of stay of 13 days. From the results of the study, it was found that the bill was more than ina-cbgs by 37 cases at degree I, 6 cases at degree II, and 24 cases at degree III. So that from a total of 151 patients treated with diabetic gangrene debridement, there were 67 cases where hospital bills were higher (deficit) than ina-cbgs. The deficit results were found in all treatment classes and all levels of severity except in class 2 degrees I and III and in class 1 degree II where a surplus was obtained compared to ina-cbgs. Based on the results of the study, it was found that P-Value <0.05 was at the level of severity, fornas compliance, length of stay and DPJP which means that there was a significant relationship between severity, fornas compliance, length of stay, and DPJP with the total real bills of diabetic gangrene debridement patients. The most dominant variable affecting the patient's total bill is the length of stay which has an Exp (β) value of 13,108 meaning that the longer the patient is treated, the more the total real bill will increase in patients with diabetic gangrene debridement.
Read More
Diabetes mellitus is a chronic disease that cannot be cured and can cause serious complications, including diabetic gangrene. Diabetic gangrene can cause severe infection that requiring debridement. Debridement is considered the fastest and most efficient method of treating diabetic gangrene. This causes the patient to be hospitalized, which requires a lot of money and long-term care. Longer treatment days and expensive medical expenses are problems that need special attention. This research is a retrospective non-experimental descriptive study that aims to analyze factors related to the bill for diabetic gangrene debridement services at Aisyiyah Bojonegoro Hospital in 2021. Of the 151 patients who met the criteria, it was found that most diabetic gangrene patients who underwent debridement were aged under 60 years (66.2%), with the most sex being female (53%), and the most degree being grade 1 (51.7%). The average length of stay was 4.72 days. With a minimum length of stay of 2 days and a maximum length of stay of 13 days. From the results of the study, it was found that the bill was more than ina-cbgs by 37 cases at degree I, 6 cases at degree II, and 24 cases at degree III. So that from a total of 151 patients treated with diabetic gangrene debridement, there were 67 cases where hospital bills were higher (deficit) than ina-cbgs. The deficit results were found in all treatment classes and all levels of severity except in class 2 degrees I and III and in class 1 degree II where a surplus was obtained compared to ina-cbgs. Based on the results of the study, it was found that P-Value <0.05 was at the level of severity, fornas compliance, length of stay and DPJP which means that there was a significant relationship between severity, fornas compliance, length of stay, and DPJP with the total real bills of diabetic gangrene debridement patients. The most dominant variable affecting the patient's total bill is the length of stay which has an Exp (β) value of 13,108 meaning that the longer the patient is treated, the more the total real bill will increase in patients with diabetic gangrene debridement.
B-2302
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Resky Wandhikasari Adline; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Muh. Taqwa Noer
S-6015
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sofana Pelangi; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Purnawan Junadi, Wahyu Sulistiadi, Murdo Suwardjoko, Hanibal Pardede
B-1274
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
