Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 18703 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
R.A. Wita Ferani Kartika; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Mardiati Nadjib, Prastuti Soewondo, Sjahrul Amri, Herlin Putri Tanjung
Abstrak:
Latar Belakang. Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan di Indonesia yang juga membebani kondisi RSU Bhakti Yudha karena merupakan kasus penyakit tertinggi yang memiliki nilai defisit negatif tertinggi (-112%) untuk kasus rawat inap JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) non tindakan tahun 2021. Perhitungan Cost of Treatment (COT) DBD diperlukan sebagai evaluasi biaya pelayanan agar tercipta kendali mutu dan biaya. Tujuan Penelitian ini agar diketahui cost of treatment rawat inap DBD pada pasien JKN di RSU Bhakti Yudha tahun 2021. Metode Penelitian yaitu dengan pendeketan kuantitatif untuk memperoleh informasi cost of treatment DBD. Perhitungan cost of treatment didasari oleh perhitungan unit cost pada unit produksi pelayanan DBD yaitu IGD, Laboratorium, Radiologi, dan Rawat Inap dengan metode Activity Based Costing. Sampel penelitian yaitu 109 pasien yang dipilih sesuai kriteria inklusi dan perhitungan metode Slovin. Perhitungan biaya dilakukan melalui wawancara serta studi dokumentasi dari data rekam medis, laporan keuangan, dan data terkait lainnya. Hasil penelitian diperoleh karakteristik pasien JKN dengan diagnosis DBD mayoritas kelompok umur 10-14 tahun, jenis kelamin perempuan, ruang perawatan kelas 1, dan rata-rata LOS 3,5 hari. Variasi aktivitas DBD cukup tinggi. Unit cost untuk setiap tindakan/aktivitas di unit produksi telah didapatkan untuk menghitung COT DBD. COT DBD untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 secara berurutan yaitu Rp1.910.461, Rp1.639.751, dan Rp1.906.122. Kesimpulan. Telah diperoleh COT DBD untuk pasien DBD dimana hasil COT DBD masih menunjukkan selisih negatif kelas 3 dengan tarif INA-CBG. Perlu adanya upaya efisiensi yang dilakukan dengan cara menurunkan biaya tidak langsung dengan meningkatkan utilisasi pelayanan. Upaya efisiensi yang dapat dilakukan khusus untuk pelayanan DBD adalah pembuatan Clinical Pathway dan audit kepatuhannya agar tercipta kendali mutu dan kendali biaya.
Background. Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a health problem in Indonesia which also a burden to Bhakti Yudha General Hospital due to its highest case with the highest negative deficit value (-112%) for non-operative JKN (National Health Insurance) inpatient cases in 2021. The Cost of Treatment (COT) of DHF is needed as an evaluation of service costs in order to create quality and cost control. Purpose. This study aimed to identify the cost of treatment of DHF JKN inpatients at Bhakti Yudha General Hospital in 2021. Research method. A quantitative approach to obtain information on the costs of DHF treatment. The calculation of the cost of treatment was based on the calculation of the unit cost in production units for DHF services, namely the Emergency Room, Laboratory, Radiology, and Inpatient Care using the Activity Based Costing method. The research sample was 109 patients selected according to the inclusion criteria and the calculation of the Slovin method. Cost calculations were carried out through interviews and documentation studies from medical record data, financial reports, and other related data. Result. The results show that the significant characteristics of JKN patients with DHF were age group of 10-14, female sex, class 1 treatment room, and an average LOS of 3.5 days. The variation of DHF activity was quite high. The unit costs for each activity in the production unit were obtained to calculate the COT of DHF. COT of DHF for class 1, class 2, and class 3 respectively were Rp1,910,461, Rp1,639,751, and Rp1,906,122. Conclusion. The results of DHF COT show a negative difference with INA-CBG rates for class 3. Management should carry out efficiency efforts by reducing indirect costs by increasing service utilization. Efficiency efforts that can be made specifically for DHF services are the creation of a Clinical Pathway and compliance audit to create quality control and cost control.
Read More
B-2333
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vera Marietha M.R.; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Pujiyanto, Diah Anggraini, Roselyne Tobing
Abstrak: Era JKN menuntut rumah sakit mengendalikan mutu dan biaya pelayanan dengan memberikan pelayanan medik sesuai standar. Unit cost layanan RSUD Pesanggrahan yang seharusnya menjadi dasar tarif dan perbandingan klaim BPJS, belum pernah dihitung. Clinical pathway yang menjadi dasar pengendalian mutu dan biaya sudah ada tetapi belum diketahui penggunaannya. Penyakit DBD diambil karena DBD merupakan peringkat tertinggi di rawat inap. Tesis ini bertujuan mengetahui unit cost layanan RSUD Pesanggrahan, pemanfaatan layanan untuk penyakit DBD dan cost of treatment DBD di RSUD Pesanggrahan. Penelitian kuantitatif dilakukan melalui telaah data dari sistem informasi rumah sakit, rekam medik dan data keuangan. Pada akhir penelitian didapatkan pemanfaatan layanan perawatan pasien kondisi riil dibandingkan dengan clinical pathway, yaitu: lebih banyak visite dokter spesialis, jenis pemeriksaan penunjang di laboratorium dan jenis obat-obatan. Cost of treatment perawatan pasien DBD berdasarkan clinical pathway dengan perhitungan full cost, perhitungan tanpa gaji dan perhitungan tanpa gaji dan investasi berturutturut adalah sebesar Rp.2.184.588, Rp.920.715, Rp.635.797. Sedangkan cost of treatment perawatan pasien DBD kondisi riil dengan perhitungan full cost, perhitungan tanpa gaji dan perhitungan tanpa gaji dan investasi berturut-turut adalah sebesar Rp.2.382.513, Rp.1.003.888, Rp.699.622. Berdasarkan hasil penelitian ini diperlukan sistem pemantauan kepatuhan terhadap clinical pathway, pembentukan tim casemix rumah sakit untuk pemantauan dan evaluasi implementasi kendali mutu dan kendali biaya di rumah sakit. Kata Kunci : clinical pathway, cost of treatment, demam berdarah dengue, unit cos JKN era requires hospitals to perform quality control and service cost by providing medical service in accordance within the standard. The unit cost of RSUD Pesanggrahan service that should be the basis of tariff and comparison of BPJS claims, has never been calculated. Clinical pathways underlying quality and cost control are available but not yet evaluated. Dengue Hemorrhagic fever is taken because the disease is the highest ranking in hospitalization. This study aims to determine the unit cost of RSUD Pesanggrahan service, the utilization of hospital services for dengue disease and cost of treatment of DHF in RSUD Pesanggrahan . Quantitative research is done through the study of data from hospital information system, medical record and financial data. At the end of the study the utilization for DHF patient care services was compared with clinical pathways, ie: more doctors' special visites, more laboratory workups and more medicines. Cost of treatment of DHF patients based on clinical pathway with full cost calculation, calculation without salary and calculation without salary and investment in a row is 2.184.588 IDR, 920.715 IDR, 635.797 IDR. While the cost of treatment of DHF patients real conditions with full cost calculation, the calculation without salary and calculation without salary and investment in a row is 2.382.513 IDR, 1.003.888 IDR, 699.622 IDR. Based on the results of this study, a compliance monitoring system is required for clinical pathway, establishment of hospital case mix team for monitoring and evaluation of JKN implementation in hospital. Keyword : clinical pathway, cost of treatment, dengue hemorrhagic fever, unit cost
Read More
B-1883
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ibnu Mas`ud; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Mardiati Nadjib, Vetty Yulianty Permanasari, Soeko Nindito
B-1676
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Woro Endah Wahyuni; Pembimbing: Saida Simanjuntak; Penguji: Petter Patinama, Mieke Savitri, Sumijatun, Murdo Suwardjoko
Abstrak:

Penelitian tentang analisis kepuasan kerja tenaga keperawatan di ruang rawat inap RSU Bhakti Yudha Depok pada tahun 2002 dilatarbelakangi dengan adanya hasil survei kepuasan kerja tenaga keperawatan di ruang rawat inap tahun 1999 yang menunjukkan tingkat rendah dan adanya peningkatan keluhan pasien rawat inap terhadap pelayanan tenaga keperawatan dari tahun 2000 sampai 2001. Penelitian ini bertujuan untuk melihat tingkat kepuasan kerja tenaga keperawatan di ruang rawat Inap. Tingkat kepuasan ini dinilai dengan cara mengukur tingkat kesesuaian antara kenyataan dan harapan berdasarkan komponen upah, wewenang, tuntutan tugas, kebijakan organisasi, interaksi, dan status profesional dari seluruh responden menurut karakteristik demografi (umur, status kawin, dan tingkat pendidikan) dan karakteristik pekerjaan (status kepegawaian, lama kerja, mutasi kerja, lama kerja, pengalaman kerja, dan jam kerja seminggu).Penelitian ini menggunakan disain penelitian non-eksperimental dengan pendekatan cross sectional. Penentuan besar sampel penelitian dilakukan seeara total sampling dan didapatkan besar sampel sebanyak 103 orang. Data penelitian yang diperoleh berasal dari hasil pengisian kuesioner oleh responden dan dari hasil wawancara dengan 5 (lima) orang informan serta data hasil pencatatan dan pelaporan rurnah sakit. Instrumen yang digunakan mengacu pada kuesioner Index of Work Satisfaction yang dibangun oleh Stamps yang dalam penelitian ini telah dimodifikasi oleh peneliti sesuai dengan kebutuhan penelitian.Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diketahui bahwa berdasarkan karakteristik demografi rerata umur responden adalah sekitar 30 tahun, tingkat pendidikan sebagian besar (60%) adalah lulusan SPK/Bidan, dan sebagian besar (65%) berstatus kawin. Bila dilihat dari karakteristik pekerjaannya maka hampir seluruh responden (83,5%) merupakan pegawai tetap RS, sebagian besar (57,3%) menyatakan belum pernah dimutasi ke unit/ruang perawatan lain, dan rerata lama kerja di RSU Bhakti Yudha adalah 6 tahun. Selain itu, responden yang memiliki pengalaman bekerja dan yang tidak memiliki pengalaman bekerja di tempat lain sebelum bekerja di RSU Bhakti Yudha cukup berimbang, dan rerata jam kerja perawat dalam seminggu adalah sekitar 44 jam.Bila dilihat dari tingkat kepentingan kepuasan kerja, maka komponen yang paling penting dalam kepuasan kerja berdasarkan hasil penilaian responden adalah wewenang yang diikuti oleh komponen status profesional, upah, interaksi, kebijakan organisasi, dan yang paling rendah tingkat kepentingannya adalah komponen tuntutan tugas. Berdasarkan tingkat kepuasan kerja diketahui bahwa secara umum rerata tingkat kepuasan kerja responden adalah 75,80%. Komponen kepuasan kerja dengan tingkat kepuasan tertinggi ada pada komponen status profesional (86,10%) diikuti pada urutan selanjutnya adalah interaksi antarperawat (83,69%), wewenang (81,54%), tuntutan tugas (79,5%), kebijakan organisasi (72,28%), interaksi perawat-dokter (70,78%), dan tingkat kepuasan kerja terendah diperoleh pada komponen upah (58,31%). Pada diagram kartesius diketahui bahwa komponen kepuasan kerja yang perlu mendapat prioritas utama dalam kepuasan kerja responden untuk ditindaklanjuti adalah upah dan interaksi dokter-perawat, karena tingkat pelaksanaannya masih belum baik.Dari hasil uji statistik diketahui bahwa semua karakteristik demografi yang diteliti (umur, status kawin, dan tingkat pendidikan) memiliki hubungan yang signifikan. Sementara itu, karakteristik pekerjaan responden yang terbukti memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan kepuasan kerja responden adalah variabel lama kerja.Mengacu pada hasil penelitian ini yang menunjukkan tingkat kepuasan terendah adalah pada komponen gaji dan interaksi perawat dan dokter maka saran yang diajukan peneliti adalah lebih mensosialisasi sistem pengupahan yang berlaku baik berdasarkan status kepegawaian (tetap dan kontrak), sistem kenaikan upah, pemberian insentif dan bonus pada tenaga keperawatan dan mengaktifkan/memberdayakan kembali perkumpulan perawat di RS yang sudah ada semua informasi yang dibutuhkan berkaitan dengan SDM keperawatan dapat ditemukan dengan mudah oleh seluruh anggotanya. Selain itu, kegiatan bersama antara tenaga medis dan perawat perlu diselenggarakan misalnya dengan pemberian pelatihan dari dokter RS kepada perawat, penyelenggaraan seminar umum kesehatan dengan kepanitiaan bersama antara dokter dan perawat. Saran lainnya adalah sebaiknya semua tenaga keperawatan di RSU Bhakti Yudha adalah tenaga tetap bukan tenaga kontrak karena jenis tenaga ini termasuk dalam bisnis inti yang sangat berperan terhadap pelayanan kesehatan di rumah sakit mengingat kewajibannya sebagai tenaga keperawatan di rumah sakit adalah sama. Selain itu, perlu ada penelitian lebih lanjut mengenai kepuasan kerja tenaga keperawatan di rumah sakit dengan metode dan instrumen yang berbeda untuk memperoleh informasi yang lebih mendalam tentang komponen lainnya yang mempengaruhi kepuasan kerja tenaga keperawatan sehingga hasilnya lebih komprehensif serta untuk mendapatkan alat ukur kepuasan kerja tenaga keperawatan yang sesuai dengan kondisi dan situasi perumahsakitan di Indonesia.


 

The background of this study was based on the results of nurses work satisfaction survey in inpatient ward conducted in 1999 that showed low of nurses work satisfaction and also the availability of patient complaint of nurse service that increased from year 2002 until 2001. The aim of this study was to assess the level of nurses work satisfaction in inpatient ward. The measurement of the level of work satisfaction used the appropriateness level between expectation and perception. It was based on work satisfaction components as follows: pay, autonomy, task requirements, organizational policy, interaction, and professional status of respondents according to demographic characteristics (age, marital status, and education level) and job characteristics (employee status, duration of work span, job mutation, working experience, and total office hours per week).The design of this study was non-experimental with cross sectional approach. It was conducted to 103 nurses as total sampling. Data resources were from filling in the questionnaire and doing interview with 5 informants and from hospital recording and reporting. The use of instrument was based on the modified of Index of Work Satisfaction questionnaire which built by Stamps.The result of this study showed that on the average the age of respondents was 30 years, the majority (60%) of them was graduated from Nursing School/Midwife School, and 65% of respondents were married. According to job characteristic, about 83,5% of respondents were full timer, 57,3% of nurses have never been mutated to other unit, and the average of duration of work span in Bhakti Yudha General Hospital was 6 years. The percentage of experienced and inexperienced employee stands balance enough and the average of nurse's working hours per week were about 44 hours.The highest importance level of the nurses work satisfaction component was autonomy, followed by professional status, pay, interaction, organizational policy, and the lowest importance level is task activity component. Based on the work satisfaction level known that 75,80% of respondents were satisfied. The highest satisfaction level goes to professional status component (86,10%) while the lowest satisfaction level is pay component (58,3%).Importance Performance Analysis which depicted as Kartesius Diagram, known that the main priority of nurses work satisfaction which should be intervened by the hospital management is pay and nurse-doctor interaction.All demographic characteristics (age, marital status, and education level) in this study were statistically related to the work satisfaction significantly. Meanwhile, job characteristic that related to the work satisfaction was duration of work span.It is recommended to Bhakti Yudha Depok General Hospital to socialize the pay system among nurses and to empower nurses association in Hospital. Besides, together activity between nurse-doctor should be held on such as training for the nurses by doctors, holding the health seminar in a together committee. The other recommendation is that all the nurse should be included as full time employee in hospital, not as contract employee considering this employee is a core business in the hospital who?s the same obligation and responsibility. Follow up study needs to be conducted to find other aspects related to nurses work satisfaction and to obtain the suitable instrument with the hospital condition and situation in Indonesia.

Read More
B-650
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elly Rozalia; Pembimbing: Hafizurrachman
B-660
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Gusti Ayu Ika Kumala Dewi; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Ede Surya Darmawan, Mardiati Nadjib, Budi Hartono, Dince Erwina Indriyani
Abstrak: ABSTRAK Biaya perawatan (Cost Of Treatment) adalah perhitungan biaya terkait biaya langsung dan biaya tidak langsung yang dibutuhkan untuk melakukan perawatan dan atau tindakan layanan kesehatan per layanan penyakit terhadap pasien yang sesuai dengan clinical pathway dari penyakit tersebut. Rumah sakit sebagai penyelengara pelayanan kesehatan menjadi kewajiban untuk memberikan pelayanan yang adil dan bermutu bagi masyarakat. Menghitung unit cost layanan kesehatan sangat sangat diperlukan untuk mengetahui besaran biaya riil yang dibutuhkan untuk suatu produk layanan. Dengan menghitung unit cost berdasarkan clinical pathway adalah alat untuk mencapai pelayanan yang berkualitas dan efisien. Di Rumah Sakit Ari Canti kasus DHF merupakan kasus non bedah tertinggi dan merupakan 10 kasus terbanyak pada tahun 2016. Permasalahan yang terjadi sebelumnya adalah belum adanya unit cost berdasarkan data riil rumah sakit yang menyebabkan kendala dalam kebijakan yang membutuhkan perhitungan biaya dalam keputusan tersebut, antara lain penentuan tarif, negosiasi dengan pihak ketiga dan lain sebagainya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui cost of treatment DHF murni kelas III Di Rumah Sakit Ari Canti, serta lebih jauh mengetahui gambaran biaya di unit produksi maupun di unit penunjang. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Metode analisis biaya adalah dengan metode Activity based costing untuk unit produksi dan simple distribution untuk unit penunjang. Data yang digunakan adalah data sekunder dari bagian unit produksi terkait dan unit ix Universitas Indonesia penunjang ruah sakit tahun 2017. Dari hasil penelitian didapatkan COT adalah Rp. 1,654,884.68. UC actual RP. 1,358,859.68 dan UC simple distribution Rp. 296.025. COT adalah Rp. 1.654.884,68. Biaya Sumber daya di IGD yaitu perawat dan jasa dokter menghabiskan porsi biaya 73,77 % dari keseluruhan sumber daya yang dibutuhkan di IGD, di laboratorium porsi biaya SDM sekitar 9 % dan di rawat inap sebesar 40,9 % (untuk biasa jasa medis dokter dan perawat). Khususnya di IGD menggambarkan kondisi yang belum efisien antara jumlah pegawai yang harus dibiayai dengan beban kerja yang ditanggung atau output yang dihasilkan sehingga biaya yang dibebankan kepada pasien menjadi tinggi. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan untuk rumah sakit dalam penentuan kebijakan dan pengambilan keputusan mengenai tarif dan negosiasi dengan pihak external lainnya. Kata Kunci : Cost Of treatment, DHF, biaya satuan Cost of Treatment is a cost calculation of the direct and indirect costs required to perform the care of performing treatment and / or health-care measures per patient disease service in accordance with the clinical pathway of the disease. Hospitals as health service providers must be provide a righteous and quality service for the community. Calculating unit cost of health services is very necessary to know the real cost value needed for a service product. By calculating unit cost based on the clinical pathway is a tool to achieve quality and efficient service. In Ari Canti Hospital, DHF case is the highest non-surgical case and is the top 10 cases in 2016. The problem that happened while the absence of unit cost based on real hospital data causing obstacles in the policy that require cost calculation in the decision, among others rate determination, negotiation with third parties and others. The purpose of this research is to know the cost of treatment of DHF class III At Ari Canti Hospital, and further to know the description of cost in production unit and in supporting unit. The type of this research is quantitative research with cross sectional approach. Cost analysis method is by Activity based costing method for production unit and simple distribution methode for supporting unit. The data used are secondary data from parts of related production units and supporting units in 2017. From the research results obtained COT is Rp. 1,654,884.68. Unit Cost actual Rp. 1,358,859.68. Unit Cost by simple distribution methode Rp. 296.025. xi Universitas Indonesia COT is Rp. 1.662.60306. The cost of resources in the ER is the nurses and physician services spent the cost of 73.77% of the total resources needed in the ER, in the laboratory portion of the cost of human resources about 9% and in hospitalization of 40.9% (for regular medical services physicians and nurse). Especially in the ER describes an inefficient condition between the number of employees to be financed with the workload borne or the resulting output so that the costs charged to the patient become high. It is expected that the results of this study can be considered for the hospital in determining policy and decision making on tariff and negotiation with other external partie Keywords: Cost Of treatment, DHF, unit cost.
Read More
B-1999
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mastika Talib; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Mardiati Nadjib, Amal Chalik Sjaaf, Lony Novita, Trisna B. Widjayanti
Abstrak: Sistem pembayaran prospektif dengan paket INA-CBGs pada pasien JKN menuntut rumah sakit agar dapat melakukan kendali biaya dan kendali mutu. Penelitian ini bertujuan untuk menilai upaya kendali biaya dan kendali mutu di RS MH Thamrin Salemba. Penelitian dilakukan pada kasus Demam Berdarah Dengue periode Januari-Maret 2017 secara kuantitatif (n=31), dengan membandingkan selisih klaim INA-CBGs dan tagihan rumah sakit, dan secara kualitatif dengan wawancara mendalam (6 informan). Selisih negatif yang didapat sebesar Rp177.880 dengan rerata selisih negatif sebesar Rp5.738 per kasus. Komponen kamar perawatan adalah komponen biaya tertinggi pada tagihan rumah sakit (30,62%). Manajemen rumah sakit menerapkan upaya kendali biaya mulai dari proses perencanaan sampai evaluasi dengan tetap mengutamakan mutu. Upaya efisiensi biaya dilakukan pada komponen farmasi, pemeriksaan penunjang, jasa medis dokter, dan kamar perawatan. Formularium RS yang digunakan sesuai dengan formularium nasional. RS MH Thamrin Salemba belum memiliki clinical pathways untuk mengontrol dan mengevaluasi pelayanan. Sistem insentif yang digunakan adalah sistem fee for service yang tidak sesuai dengan metode pembayaran prospektif. Kata kunci: kendali biaya, kendali mutu, pembayaran prospektif, tarif INA-CBGs
Read More
B-1873
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Esi Daktari Nanda; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Prastuti Soewondo, Pujiyanto, Ratna Idayati, Ns. Rachmah
Abstrak:
Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan di dunia dengan Indonesia merupakan negara tertinggi di Asia Tenggara yang masih endemik DBD. Pada tahun 2022, terjadi peningkatan kasus DBD di Aceh dengan kematian tertinggi di kota Banda Aceh. Rumah Sakit Pendidikan Universitas Syiah Kuala (RSPUSK) merupakan rumah sakit tipe D di Aceh yang beroperasional sejak tahun 2012 hingga sekarang, dengan sebagian besar kunjungan pasien merupakan pasien JKN (98,5%) dan memberikan pelayanan rawat jalan (emergensi dan poliklinik), rawat inap dan penunjang. DBD merupakan penyakit tertinggi yang dirawat inap di RSPUSK sejak tahun 2016 hingga 2022, dengan perbandingan pembayaran klaim INACBGs lebih rendah yaitu sebesar 50% daripada besaran tagihan perawatan rumah sakit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tagihan perawatan DBD pasien JKN di RSPUSK Aceh pada tahun 2022. Metode penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional digunakan dalam penelitian ini dengan sampel berupa total sampling dari data sekunder rekam medis RSPUSK tahun 2022 yang telah memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil penelitian menemukan bahwa rata-rata tagihan perawatan DBD pasien JKN di RSPUSK Aceh tahun 2022 adalah sebesar Rp. 2.549.946. Faktor lama rawat / Lenght of Stay (LOS) berhubungan dengan tagihan perawatan DBD pasien JKN di RSPUSK Aceh tahun 2022 sedangkan faktor umur, jenis kelamin, kelas rawatan, Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) dan komorbid tidak berhubungan secara signifikan. Terdapat peluang efisiensi yang harus dilakukan di internal manajemen terkait dengan tata kelola pelayanan DBD yang dipicu oleh pemeriksaan laboratorium, radiologi, pemberian obat dan perilaku DPJP. Apabila hal ini bisa dikendalikan dengan baik maka overutilisasi dapat dikendalikan. Upaya yang dapat dilakukan berupa penyusunan struktur tarif rumah sakit berbasis unit cost; optimalisasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS); dan update Clinical Pathway yang dilanjutkan dengan sosialisasi, supervisi maupun monitoring evaluasi secara berkala sebagai upaya mengawal perilaku DPJP dan menjaga mutu layanan rumah sakit.

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) still being a health problem in the world that Indonesia is the highest country in Southeast Asia where DHF is still endemic. In 2022, DHF cases increase in Aceh with the highest morbidity in Banda Aceh. The Syiah Kuala University Teaching Hospital (RSPUSK) is a type D hospital in Aceh which has been operating since 2012 until now, with the majority of patient visits are JKN patients (98.5%) and providing emergency, policlinic, inward hospitalization and another healthcare support services. DHF is the highest disease that was hospitalized at RSPUSK from 2016 to 2022, with INACBGs claim payments 50% lower than the amount of hospital bill. This study was conducted to determine the factors associated with DHF treatment bills for JKN patients at the Aceh RSPUSK in 2022. The quantitative research method with a cross-sectional design was used in this study with the sample being the total sampling from secondary data from medical records at RSPUSK in 2022 which had fulfilled inclusion and exclusion criteria. The results of the study found that the average DHF treatment bill for JKN patients at the Aceh RSPUSK in 2022 was Rp. 2.549.946. Length of Stay (LOS) is a factor associated to DHF treatment bills for JKN patients at RSPUSK Aceh in 2022, while the factors of age, gender, class of treatment, medical specialist and comorbidities are not significantly associated. There are efficiency opportunities that must be carried out in internal management hospital related to DHF healthcare services which are triggered by laboratory tests, radiology, drug administration and medical specialist behavior. If this can be controlled properly then overutilization can be controlled well. Efforts that can be made are: calculating and forming the hospital tariff structure based on unit cost method; optimizing the Hospital Management Information System; and updating the Clinical Pathway which is followed by socialization, supervision and evaluation monitoring regularly as an effort to oversee the behavior of specialist and maintain the quality of hospital services.
Read More
B-2314
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Herlin Putri Tanjung; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Anhari Achadi, Ede Surya Darmawan, Sjahrul Amri, Rizka Hasanah
Abstrak:
Diare merupakan penyakit yang sering dijumpai dan menyebabkan 4% dari seluruh kematian di dunia. Kasus diare akut pada anak merupakan salah satu penyakit yang termasuk high risk, high volume dan high cost. Menurut data tahun 2018 total kasus diare akut sebanyak 938 kasus dan termasuk urutan pertama dari 10 besar kasus rawat inap di RSU Bhakti Yudha. Implementasi clinical pathway berhubungan erat dengan upaya mengendalikan mutu dan biaya pelayanan kesehatan yang terjangkau serta dapat diperkirakan. Pengendalian biaya dapat terealisasi jika proses dalam pelayanan kesehatan secara menyeluruh dapat direncanakan dan distandarisasi sejak awal.Clinical pathway jika dilakukan dengan baik dan benar dapat mengurangi biaya pelayanan kesehatan, mengurangi lama hari rawat inap, meningkatkan hasil klinis pasien. Adanya ketidaksesuaian penerapan clinical pathway dapat berpengaruh pada jumlah tagihan/ billing pasien. Penelitian ini bertujuan mengetahui kesesuaian penerapan clinical pathway diare akut ringan - sedang pasien rawat inap anak di RSU Bhakti Yudha. Disain penelitian mix method yang bersifat deskriptif kuantitatif dan studi kasus kualitatif. Hasil penelitian didapatkan Kepatuhan dokter masih kurang dalam pemberian tatalaksana medis. Masih ditemukan ketidaksesuaian antara clinical pathway dengan pelayanan yang diberikan. Ketidaksesuaian tersebut diantaranya adanya variasi dalam pemberian terapi obat-obatan, pemeriksaan penunjang, dan tindakan keperawatan. Variasi tersebut dilakukan karena kondisi pasien berbeda-beda kebutuhan penanganan. Gap terbesar pada penggunaan obat yaitu 145 % dimana pada billing tagihaan riil lebih besar dibanding tagihan sesuai clinical pathway dikarenakan penggunaan obat yang tidak sesuai clinical pathway. Banyaknya varian yang tidak sesuai clinical pathway akan mempengaruhi besaran tagihan rumah sakit

Diarrhea is a disease that is often found and causes 4% of all deaths in the world. Cases of acute diarrhea in children is a disease that includes high risk, high volume, and high cost. According to 2018 data, there were 938 cases of acute diarrhea and were in first place in the top 10 causes of hospitalization at Bhakti Yudha General Hospital. The implementation of clinical pathways is closely related to efforts to control the quality and cost of affordable and predictable health services. Cost control can be realized if the process of overall health services can be planned and standardized from the start. Clinical pathways if done properly and correctly can reduce the cost of health services, reduce the length of stay, and improve patient clinical outcomes. The existence of a mismatch in the application of clinical pathways can affect the number of billing patients. This study aims to determine the appropriateness of the application of clinical pathways of mild acute diarrhea - moderate inpatient children in Bhakti Yudha General Hospital. The mixed-method research design is quantitative descriptive and qualitative case studies. The results showed that doctor compliance was still lacking in the provision of medical management. There are still discrepancies between clinical pathways and services provided. These discrepancies include variations in drug therapy, supporting examinations, and nursing actions. This variation was made because the patient's condition needed different treatments. The biggest gap in the use of drugs is 145% wherein  real billing is greater than the bill according to the clinical pathway due to the use of drugs that are not following the clinical pathway. The number of variants that do not fit the clinical pathway will affect the amount of the hospital bill.

Read More
B-2148
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lina Yulia Rohmawati; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Titik Soenarni
S-6023
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive