Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29875 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Wisnu Harmawan; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Robiana Modjo, Dian Kurnia Rabbani, Wahyudin Ali Syakir
Abstrak:
Data WHO menunjukkan 17.9 juta orang meninggal diakibatkan oleh penyakit kardiovaskuler dimana salah satunya adalah penyakit jantung koroner yang memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Sindrom metabolik merupakan masalah kesehatan serius yang akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner karena proses aterosklerosis. Berdasarkan data MCU PT XYZ tahun 2020-2022 didapatkan peningkatan angka kejadian sindrom metabolik sebesar 2.5% yang akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan risiko penyakit jantung koroner pada pekerja PT XYZ di tahun 2022 berdasarkan sindrom metabolik. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi potong lintang dengan 161 sampel responden. Sumber data yang digunakan adalah melalui kuesioner dan juga data hasil MCU tahun 2022. Hasil penelitian diketahui untuk faktor genetik didapatkan data bahwa variabel umur dan jenis kelamin pekerja mempunyai hubungan dengan risiko penyakit jantung koroner. Faktor lingkungan (shift kerja) tidak terdapat hubungan dengan risiko penyakit jantung koroner dan untuk faktor gaya hidup didapatkan data bahwa pola makan konsumsi karbohidrat dan lemak, indeks massa tubuh serta kebiasaan merokok mempunyai hubungan dengan risiko penyakit jantung koroner. Oleh karenanya perlu adanya tindakan pencegahan baik primer, sekunder maupun tersier untuk meminimalkan risiko penyakit jantung koroner baik pada individu pekerja maupun kepada perusahaan.

WHO data shows that 17.9 million people died due to cardiovascular disease and coronary heart disease has a high morbidity and mortality rate. Metabolic syndrome is a serious health problem that increases the risk of CHD due to atherosclerosis. Based on PT XYZ MCU data for 2020-2022, found that there was increasing the incidence of metabolic syndrome by 2.5% which would increase the risk of CHD. The purpose of this study was to analyze the factors associated with the risk of CHD in PT XYZ workers in 2022 based on metabolic syndrome. This study used a cross-sectional study approach with 161 sample respondents. The data source used was through a questionnaire and also data on the MCU results in 2022. The results of the study revealed that for genetic factors, found that the age and gender of workers had a relationship with the risk of CHD. Environmental factors (work shifts) had no relationship with the risk of CHD and for lifestyle factors, found that dietary patterns of carbohydrates and fats consumption, BMI also smoking habits had a relationship with the risk of CHD. Therefore it is necessary to have preventive measures both primary, secondary and tertiary to minimize the risk of CHD both to individual workers and to companies.
Read More
T-6621
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kadek Agus Budhiadnya; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Robiana Modjo, Doni Hikmat Ramdhan, Putu Theni Aryasih, Eko Wahju Tjahjono
Abstrak: enyakit jantung koroner telah lama dikenal sebagai pembunuh utama di dunia. Penelitian menunjukkan sekitar 80 persen dari semua PJK dapat dicegah dengan mengendalikan tekanan darah tinggi, diabetes dan kolesterol tinggi, bersama dengan mengadopsi perilaku gaya hidup sehat. Di PT X, PJK masih merupakan penyebab utama kematian pekerja, data 7 tahun terakhir ada 95 kasus jantung dan 10 kematian akibat PJK. Karena itu, penting untuk melihat bagaimana pengaruh karakteristik dan perilaku terhadap PJK. Desain penelitian kuantitatif ini adalah cross sectional dengan 250 responden sampel yang dipilih secara acak, menggunakan data medis perusahaan PT X di Kalimantan Timur. Penelitian ini menggunakan wawancara pada sampel responden yang dipilih secara acak. Hasil telitian mendapatkan faktor risiko dominan yang bisa dimodifikasi yaitu kebiasaan merokok, perokok lebih berisiko hampir 8 kali dibandingkan bukan perokok. Faktor risiko dominan yang tidak dapat dimodifikasi yaitu umur, mereka yang berusia atau lebih dari 40 tahun 6 kali lebih berisiko dibandingkan dengan pekerja di bawah 40 tahun. Perusahaan disarankan lebih meningkatkan manajemen program kesehatan kerja khususnya program berhenti merokok, penegasan area kerja dilarang merokok, dan promosi kesehatan bahaya rokok di PT X
Read More
T-6444
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anak Agung Putu Emanita Parameswari; Pembimbing: Robiana Modjol; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Eko Prasetio Indarto S.
Abstrak:
Sindrom metabolik merupakan gangguan dalam proses metabolisme tubuh yang secara langsung meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular seperti hipertensi, diabetes mellitus, dan stroke. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor risiko sindrom metabolik yang terdiri dari faktor lingkungan (lokasi kerja dan tempat tinggal), faktor genetik (jenis kelamin, suku/etnis, usia, dan riwayat penyakit orang tua), dan faktor perilaku (kebiasaan merokok dan aktivitas fisik) pada pekerja tambang di PT. Pesona Khatulistiwa Nusantara (PKN). Penelitian ini menggunakan studi cross sectional dan pengambilan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner secara daring. Prevalensi sindrom metabolik dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan kriteria International Diabetes Federation (IDF). Dari sebanyak 111 orang pekerja yang menjadi responden penelitian, didapatkan 27 (24,3%) orang pekerja mengalami sindrom metabolik. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin (p – value = 0,039) dan riwayat penyakit orang tua (p – value = 0,009) dengan kejadian sindrom metabolik. Kata kunci: Sindrom metabolik, Pekerja Tambang, Faktor Risiko Sindrom Metabolik, International Diabetes Federation (IDF)

Metabolic syndrome is an accumulation from several disorders in the body's metabolic processes that directly increases the risk of cardiovascular diseases such as hypertension, diabetes mellitus, and stroke. This study aims to analyze the relationship between metabolic syndrome risk factors which include environmental factors (work location and place of residence), genetic factors (gender, ethnicity, age, and parental disease history), and behavioral factors (smoking habits and physical activity) on mining workers at PT. Pesona Khatulistiwa Nusantara (PKN). This study used a cross-sectional method and data collection was carried out by distributing online questionnaires. The prevalence of metabolic syndrome in this study was determined based on International Diabetes Federation (IDF) criteria. From 111 workers who became research respondents, it was found that 27 (24.3%) workers had metabolic syndrome. In addition, there was a significant relationship between gender (p–value = 0.039) and parental disease history (p–value = 0.009) with the incidence of metabolic syndrome. Keywords: Metabolic syndrome, mine workers, Metabolic syndrome risk factors, International Diabetes Federation (IDF)
Read More
S-11241
Depok : FKM UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Rusliana; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Hendra, Lin Yuwarni
Abstrak: Secara global penyakit tidak menular penyebab kematian nomor satu setiap tahunnya adalah penyakit kardiovaskuler. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan faktor risiko terhadap Penyakit Jantung Koroner berdasarkan hasil treadmill. Penelitian ini menggunakan cross sectional dengan sampel 173 responden. Sumber diperoleh dari MCU karyawan. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan bermakna secara statistik antara usia, hipertensi, kolesterol total, LDL, diabetes melitus, merokok, IMT, shift, dan stres dengan risiko PJK berdasarkan hasil treadmill, namun tidak terdapat hubungan antara HDL dengan risiko PJK. Setelah menggunakan regresi logistik, tujuh faktor risiko yang paling mempengaruhi PJK yaitu usia, hipertensi, kolesterol total, diabetes melitus, IMT, merokok, dan stres.

Non-communicable diseases globally the number one cause of death is cardiovascular disease each year. The aim of research to determine the relationship of risk factors for coronary heart disease based on the results of the treadmill. This study uses cross-sectional with sample 173 respondents. Sources obtained from MCU employees. The results showed a statistically significant relationship between age, hypertension, total cholesterol, LDL, diabetes mellitus, smoking, BMI, shift, and stress with the risk of CHD based on the treadmill, but there is no relationship between HDL with CHD risk. After using logistic regression, seven risk factors that most influence CHD are age, hypertension, total cholesterol, diabetes mellitus, BMI, smoking, and stress. 
Read More
S-9168
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Okta Rizkiani; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Baiduri Widanarko, Hendra, Suraningsih Istiati, Hari Sutikno
Abstrak: Sindrom metabolik merupakan istilah untuk sekumpulan faktor risiko penyakitjantung dan diabetes mellitus. Pekerja memiliki perilaku pola hidup dan pola kerjayang bervariasi yang berisiko menyababkan sindrom metabolik. Penelitian inidilakukan untuk menjelaskan faktor-faktor yang berhubungan dengan sindrommetabolik pada pekerja tambang. Design penelitian cross sectional digunakandengan menganalisis data hasil kuesioner pola hidup dan pola kerja dan MedicalCheck Up yang meliputi Obesitas Sentral, Trigliserida, HDL, Tekanan Darah danGula Darah Puasa. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hubungan yangsignifikan antara faktor aktivitas fisik (p value 0,032; OR 3,030) dan riwayatpenyakit pada orang tua (p value 0,026; OR 0,282) dengan sindrom metabolikyang dialami pekerja. Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antarapengetahuan, durasi kerja, shift kerja, durasi tidur, dan pola makan dengansindrom metabolik. Upaya promotif dan preventif perlu dilakukan untukmencegah terjadinya sindrom metabolik populasi pekerja.
Kata kunci: Sindrom metabolik, kesehatan kerja, pekerja tambang.
Read More
T-5223
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Soffiudin; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji; Ridwan Z. Sjaaf, Anwar Hasan, Mayarni
Abstrak:

Prevalensi Penyakit Jantung Koroner (PJK) di seluruh dunia dari tahun ke tahun terus meningkat. PJK telah menjadi penyebab kematian di beberapa negara di dunia dan diprediksi akan menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Di kalangan Kontraktor Production Sharing (KPS) penyebab kematian diantara para pekerja KPS adalah penyakit kardiovaskuler. Tujuan penelitian ini adatah untuk mengetahui faktor risiko PJK yang kemudian dihubungkan dengan program Promosi Kesehatan Pekerja di PT X dari tahun 2005 - 2007, Penelitian ini menggunakan subjek pekerja pada PT X. Penelitian ini dilakukan di Pulau Kalimantan pada bulan Oktober 2008. Desain penelitian yang dilakukan adalah cross sectional dengan pendekatan secara kuantitatif dan kualitatif Tehnik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling. Medical Department PT X bertanggung jawab untuk masalah kesehatan karyawan secara komprehensif meliputi pelayanan yang bersifat promotive, preventive, curative dan rehabilitative. Budget perusahaan terbesar diberikan ke Medical Department untuk pelayanan yang bersifat curative dan rehabilitative. Prevalensi hipertensi pada tahun 2005 diketahui 11,4%, tahun 2006 meningkat menjadi 16,5% dan tahun 2007 terjadi peningkatan sebesar 17,36%. Prevalensi DM pada tahun 2005 diketahui 8,97%, tahun 2006 meningkat menjadi 9,72% dan tahun 2007 terjadi peningkatan sebesar 12,13%. Prevalensi dislipidemia pada tahun 2005 diketahui 5,34%, tahun 2006 meningkat menjadi 6,67% dan tahun 2007 terjadi peningkatan sebesar 8,09%. Prevalensi hipertensi dari tahun 2005-2007 terus mengalami peningkatan, prevalensi diabetes melitus dari tahun 2005-2007 terus mengalami peningkatan, prevalensi dislipidemia dari tahun 2005-2007 terus mengalami peningkatan. Promosi Kesehatan Pekerja yang dikembangkan PT X dikembangkan berdasarkan model dari Ottawa Charter 1986. Kebijakan perusahaan berkaitan dengan masalah kesehatan karyawan sudah ada walaupun dalam pelaksanaannya masih kurang baik. Budget terbesar perusahaan saat ini adalah untuk penanganan kasus-kasus yang bersifat curative dan rehabilitative untuk para karyawan dan keluarganya (dependent). Promotion & prevention harus menjadi prioritas utama seperti; Kebijakan hari Rabu sebagai hari olahraga hams dilaksanakan sehingga tidak boleh ada kegiatan lain setelah pulcuI 16.00 selain kegiatan olahraga dengan melakukan sosialisasi ulang, prornosi kesehatan rneIalui media intranet (health desk) hams lebih disosialisasikan, perlu adanya seorang murisionist di camp service sehingga kadar gizi para karyawan dapat terkontrol, dalam merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan promosi kesehatan harus melibatkan seluruh karyawan sehingga program-rogram yang dilaksanakan dapat lebih efektif dan efisien.


Hearth Disease (CHD) in the world from year to year has been increased. CHD has been dead caused at several countries in the world and get predicted will be the first dead caused in the world. At Kontraktor Production Sharing (KPS) dock dead caused among KPS worker is cardiovascular diasease. Research was performed to find risk factor arD and then related with Work Health Promotion program at PT X year 2005 - 2007. The research subject was worker at PT X. The research was held on October 2008 at Kalimantan island. the research design of this study is cross sectional with kuantitative and kualitative approach. Sampling technique that used was purposive sampling. Medical Department get responsible for employees health problem in komprehensif including promotive, preventive, curative and rehabilitative services. The biggest budget only for curative and rehabilitative. The study defined that the prevalence of hypertension year 2005 is 11,4%, year 2006 increase to 16,5% and year 2007 increase to 17,36%. Prevalence of Diabetes Mellitus (DM) year 2005 is 8,97%, year 2006 increase to 9,72% and year 2007 increase to 12,13%. Prevalence of dislipidemia year 2005 is 5,34%, year 2006 increase to 6,67% and year 2007 increase to 8,09%. Prevalence of hypertension year 2005 -2007 has been increased, prevalence of DM year 2005 - 2007 has been increased, prevalence of dislipidemia year 2005 - 2007 has been increased. Work Health Promotion at PT X was developed based on Ottawa Charter 1986. The company policies about work health is good enough although shortage in implementation. The biggest budget only for curative and rehabilitative for employees and their dependents. Promotion and prevention have to become a priority such as; the policy that decided Wednesday as a sport day must be realized so no more activity after 4 pm except sport. Health promotion by intranet media has to socialized. There's need a nutisionist at camp service to control worker nutrition status. In ascertain policy be related with health promotion must involved worker so the policy can be more effective.

Read More
T-3025
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suci Stephani Kristantri Hutabarat; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Radyan Prasetyo
Abstrak:
Fatigue pada pekerja tambang memiliki dampak yang signifikan terhadap tingkat absenteisme, produktivitas yang menurun, biaya kesehatan, kecelakaan, dan biaya terkait kelelahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat fatigue pada pekerja di PT. XYZ Jobsite Y serta menganalisis faktor-faktor risiko yang berhubungan. Faktor risiko yang diteliti meliputi faktor terkait pekerjaan (faktor fisik pekerjaan, shift kerja, lingkungan kerja, beban kerja, hubungan interpersonal, waktu perjalanan, dan masa kerja) dan faktor tidak terkait pekerjaan (usia, status merokok, indeks massa tubuh, kualitas tidur dan kuantitas tidur). Untuk mengukur kelelahan digunakan kuesioner Occupational Fatigue Exhaustion Recovery (OFER), untuk mengukur faktor fisik pekerjaan digunakan kuesioner The Self-administered Questionnaire, untuk mengukur kualitas tidur digunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), dan untuk mengukur beban kerja dan hubungan interpersonal digunakan kuesioner NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ). Penelitian ini dilakukan kepada 82 pekerja tambang di PT. XYZ dengan menggunakan desain penelitian cross-sectional. Pekerja terdiri dari karyawan kontrak dan tetap yang terbagai kedalam 3 departemen yaitu departement mining, plant, dan support. Untuk melihat hubungan antara faktor independen dengan dependen digunakan analisis inferensial dengan menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 21 responden (26%) mengalami kelelahan kronis, dan sebanyak 23 responden (29%) mengalami kelelahan akut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya faktor usia dan indeks massa tubuh (IMT) memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat fatigue akut pada pekerja sedangkan faktor lainnya tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat fatigue kronis maupun akut

Fatigue in mining workers has a significant impact on absenteeism rates, decreased productivity, medical costs, accidents, and fatigue-related costs. This study aims to describe the level of fatigue in workers at PT. XYZ Jobsite Y and analyze the associated risk factors. The risk factors studied included work-related factors (work physical factors, work shifts, work environment, workload, interpersonal relationships, travel time, and years of service) and non-work related factors (age, smoking status, body mass index, sleep quality and sleep quantity). To measure fatigue, the Occupational Fatigue Exhaustion Recovery (OFER) questionnaire was used, the Self-administered Questionnaire was used to measure the physical factors of work, the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire was used to measure sleep quality, and to measure workload and interpersonal relationships a questionnaire was used. NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ). This research was conducted on 82 mining workers at PT. XYZ by using a cross-sectional research design. A total of 73 respondents (89%) were male and 9 respondents (11%) were female. Workers consist of contract and permanent employees who are divided into 3 departments, namely the mining, plant, and support departments. To see the relationship between independent and dependent factors used inferential analysis using the chi square test. The results showed that 21 respondents (26%) experienced chronic fatigue, and 23 respondents (29%) experienced acute fatigue. The results showed that only age and body mass index (BMI) had a significant relationship with acute fatigue levels in workers while other factors did not have a significant relationship with chronic or acute fatigue levels
Read More
S-11159
Depok : FKM UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Emanda Utami; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Hendra, Devi Partina Wardani
Abstrak: Penyakit tidak menular merupakan penyebab tertinggi kematian di dunia. Banyak dari penduduk dunia juga kehilangan produktivitasnya akibat penyakit tidak menular. Salah satu yang menyumbang angka tertinggi untuk kesakitan dan kematian adalah penyakit kardiovaskular dan diabetes mellitus. Faktor risiko utama dari penyakit-penyakit tersebut adalah sindrom metabolik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko sindrom metabolik pada pekerja kantor pusat PT. X. Faktor risiko yang diteliti antara lain adalah aktivitas fisik, perilaku merokok, riwayat sakit orangtua dan asupan makan. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang paling berkontribusi atas perkembangan sindrom metabolik adalah faktor genetik, disusul dengan asupan makan, perilaku merokok dan aktivitas fisik. Dengan begitu, saran yang dapat disampaikan terkait hasil penelitian tersebut adalah dengan melakukan skrining terhadap seluruh pekerja terkait riwayat penyakit orangtua dan melakukan edukasi bagi pekerja yang rentan mengalami sindrom metabolik. Kata Kunci : Sindrom metabolik, aktivitas fisik, perilaku merokok, riwayat sakit, asupan makan Non-communicable diseases are the highest cause of death in the world. Many of the world's population also lost productivity due to non-communicable diseases. One of the highest contributors to illness and death is cardiovascular disease and diabetes mellitus. The main risk factor for these diseases is metabolic syndrome. This study aims to analyze the risk factors for metabolic syndrome in PT. X. Risk factors studied include physical activity, smoking behavior, parental illness, and food intake. This study uses a cross-sectional study design. The results of this study indicate that the factors that most contribute to the development of metabolic syndrome are genetic factors, followed by food intake, smoking behavior, and physical activity. That way, suggestions that can be delivered related to the results of the study are by screening all workers related to a history of parental illness and educating workers who are prone to experiencing the metabolic syndrome. Key Words : Metabolic syndrome, physical activity, smoking behavior, history of illness, food intake
Read More
S-10205
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Surya Pratama; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Dadan Erwandi, Robiana Modjo, Danu Nuryanto, Ivantheaus Siregar
Abstrak: Kesehatan Kerja merupakan salah satu upaya promosi dan pemeliharaan tingkat kesehatan fisik, mental dan sosial tertinggi pekerja di semua pekerjaan, pencegahan permasalahan yang berkaitan dengan pekerja akibat kondisi kerja mereka, perlindungan pekerja dalam pekerjaan mereka dari risiko yang disebabkan oleh faktor-faktor yang merugikan kesehatan, penempatan dan pemeliharaan pekerja di lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kemampuan fisiologis dan psikologisnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko sindrom metabolik pekerja Unit Pembangkitan Priok PT. X. tahun 2021.Penelitian ini menggunakan metode cross sectional, dengan jumlah sampel 100 responden pada pekerja di Unit Pembangkitan Priok PT. X. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan menggunakan uji chi square dan multivariat dengan metode regresi logistic menggunakan software SPSS versi 23. Instrumen penelitian sudah dilakukan uji validitas dan reliabilitas sesuai dengan kaidah dan mendapatkan surat keterangan lolos kaji etik dengan Nomor: Ket- 552/UN2.F10.D11/PPM.00.02/2021 yang dikeluarkan oleh komite etik penelitian Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Komponen sindrom metabolik yang paling banyak dialami oleh responden penelitian yaitu terjadinya peningkatan gula darah puasa, hipertensi, peningkatan trigliserida, terjadinya obesitas sendtral dan penurunan kadar lemak HDL dalam darah. Penelitian ini menunjukan bahwa faktor resiko yang berhubungan secara signifikan pada terjadinya sindrom metabolik pada pekerja yaitu usia, tingkat pendidikan, status merokok dan aktifitas fisik. Berdasarkan pemodelan multivariat dengan 11 kali tahap uji pemodelan didapatkan bahwa faktor individu tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang paling dominan dalam terjadinya sindrom metabolik. Tingkat pendidikan merupakan salah satu dimensi yang menggambarkan tingkat pengetahuan dan wawasan seseorang, sehingga semakin tinggi tingkat pendidikan pengetahuan untuk melakukan pola hidup sehat untuk mencegah terjadinya sindrom metabolik semakin baik
Occupational Health is one of the efforts to promote and maintain the highest level of physical, mental and social health of workers in all occupations, prevention of problems related to workers due to their working conditions, protection of workers in their work from risks caused by factors detrimental to health, placement and maintenance of workers in a work environment that is adapted to their physiological and psychological abilities. This study aims to analyze the risk factors for metabolic syndrome of workers at the Priok Generation Unit PT. X. 2021. This study used a cross sectional method, with a sample of 100 respondents to workers at the Priok Generation Unit PT. X. Data analysis was carried out univariate, bivariate using chi square test and multivariat with logistic regression method using SPSS software version 23. The research instrument has been tested for validity and reliability in accordance with the rules and obtained a certificate of passing the ethical review with Number: Ket-552 /UN2.F10.D11/PPM.00.02/2021 issued by the research ethics committee of the Faculty of Public Health, University of Indonesia. The components of the metabolic syndrome most experienced by research respondents were an increase in fasting blood sugar, hypertension, an increase in triglycerides, the occurrence of central obesity and a decrease in HDL fat levels in the blood. This study shows that the risk factors that are significantly related to the occurrence of metabolic syndrome in workers are age, education level, smoking status and physical activity. Based on multivariate modeling with 11 modeling test stages, it was found that the personal education factor is one of the most dominant factors in the occurrence of metabolic syndrome. The level of education is one of the dimensions that describes a person's level of knowledge and insight, so the higher the level of knowledge education to carry out a healthy lifestyle to prevent the occurrence of metabolic syndrome, the better
Read More
T-6318
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arya Pandu Mahardhika; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Taqwa Logika Utama
Abstrak:
Sindrom metabolik menurut Joint Interim Statement (JIS) merupakan kumpulan faktor risiko yang saling terkait untuk penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2 yang ditandai oleh adanya 3 dari 5 faktor risiko, yaitu obesitas sentral, kadar trigliserida tinggi, HDL kolesterol rendah, hipertensi, dan hiperglikemia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor risiko sindrom metabolik yang terdiri dari faktor lingkungan (lokasi kerja, tempat tinggal), faktor perilaku (kebiasaan merokok, aktivitas fisik, pola makan, durasi tidur), dan faktor gentik (usia, riwayat penyakit keluarga) dengan kejadian sindrom metabolik pada pekerja tambang di PT XY Kalimantan Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah studi cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner secara online dan data komponen sindrom metabolik diperoleh dari hasil Medical Check Up (MCU). Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 105 responden, 22 responden (21%) mengalami sindrom metabolik. Faktor risiko yang berhubungan secara signifikan dengan sindrom metabolik pada pekerja tambang di PT XY adalah usia (p-value = 0,001), sedangkan lokasi kerja, tempat tinggal, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, pola makan, durasi tidur, dan riwayat penyakit keluarga tidak berhubungan secara signifikan dengan sindrom metabolik pada pekerja tambang di PT XY.


Metabolic syndrome, according to the Joint Interim Statement (JIS), is a cluster of interrelated risk factors for cardiovascular disease and type 2 diabetes, characterized by the presence of at least three out of five specific conditions: central obesity, elevated triglyceride levels, low HDL cholesterol, hypertension, and hyperglycemia. This study aims to analyze the relationship between risk factors for metabolic syndrome, including environmental factors (work location and place of residence), behavioral factors (smoking habits, physical activity, eating pattern, and sleep duration), and genetic factors (age and family history of disease), with the incidence of metabolic syndrome among mine workers at PT XY, East Kalimantan. A cross-sectional study design with a quantitative approach was employed. Primary data were collected through online questionnaires, while data on metabolic syndrome components were obtained from Medical Check-Up (MCU) results. The analysis revealed that among 105 respondents, 22 (21%) had metabolic syndrome. Among the assessed risk factors, only age was significantly associated with the incidence of metabolic syndrome (p = 0.001). Other factors, such as work location, place of residence, smoking habits, physical activity, eating pattern, sleep duration, and family history of disease, showed no significant association.
Read More
S-12095
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive