Ditemukan 37753 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Eka Desi Purwanti; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Soewarta Kosen, Woro Riyadina
Abstrak:
Stunting merupakan bentuk malnutrisi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan menyebabkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan anak. Selain disebabkan karena kurangnya asupan gizi secara kronis, stunting juga dapat disebabkan oleh penyakit infeksi berulang. Upaya pencegahan penyakit infeksi seperti imunisasi akan turut berperan dalam meningkatkan pertumbuhan anak khususnya di negara berkembang. Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan antara status imunisasi dasar dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia. Penelitian ini menggunakan disain studi cross sectional dan menggunakan data sekunder SSGI Tahun 2021. Kriteria inklusi penelitian ini adalah balita berusia 12-59 bulan saat pengumpulan data, diukur tinggi badannya, tidak sedang mengalami sakit berat/kronis, dan memiliki data variabel yang lengkap. Sebanyak 70.267 balita memenuhi kriteria inklusi dan seluruhnya diambil sebagai sampel penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan uji cox regression untuk mendapatkan besar asosiasi prevalence ratio (PR) dengan interval kepercayaan 95%. Penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi stunting balita usia 12-59 bulan di Indonesia adalah 23,1% dan proporsi balita yang mempunyai status imunisasi dasar lengkap adalah 74,92%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa status imunisasi dasar berhubungan signifikan secara statistik dengan kejadian stunting. Balita dengan status imunisasi dasar yang tidak lengkap berisiko 1,19 kali lebih tinggi untuk mengalami stunting dibandingkan balita dengan status imunisasi dasar lengkap [adjusted PR 1,19 (95% CI 1,15 – 1,23)]. Balita yang tidak imunisasi sama sekali mempunyai risiko yang lebih tinggi lagi yaitu 1,27 kali untuk mengalami stunting dibandingkan balita dengan status imunisasi dasar lengkap [adjusted PR 1,27 (95% CI 1,15 – 1,39)], setelah mengontrol variabel pendidikan ibu, status ekonomi dan berat lahir anak. Diperlukan upaya untuk melengkapi status imunisasi anak sesuai jadwal dan peningkatan pengetahuan ibu mengenai pemanfaatan pelayanan kesehatan, pemenuhan gizi balita dan stimulasi tumbuh kembang anak.
Stunting is a malnutrition that is still a public health problem in Indonesia and causes various adverse effects on children's health. Besides caused by a chronic lack of nutrition, stunting can also be caused by recurrent of infectious diseases. Efforts to prevent infectious diseases, such as immunization, will play a role in increasing child growth, especially in developing countries. The purpose of this study was to examine the association between basic immunization status and the incidence of stunting in toddlers in Indonesia. This study used a cross-sectional study design using secondary data from SSGI 2021. The inclusion criteria for this study were that toddlers were aged 12–59 months at the time of data collection, their height was measured, were not experiencing severe or chronic illness, and had complete variable data. A total of 70,267 toddlers met the inclusion criteria, and all were taken as research samples. Data analysis was performed using the Cox regression to obtain a prevalence ratio (PR) with 95% of confidence interval. This study shows that the prevalence of stunting among children aged 12–59 months in Indonesia is 23.1%, and the proportion of children under five who have complete basic immunization status is 74.92%. The results of the multivariate analysis showed that basic immunization status had a statistically significant association with the incidence of stunting. Toddlers with incomplete basic immunization status are at risk 1.19 times higher for stunting compared to toddlers with complete basic immunization status [adjusted PR 1.19 (95% CI 1.15–1.23)]. Toddlers who are not immunized at all have an even higher risk of experiencing stunting, which is 1.27 times higher compared to toddlers with complete basic immunization status [adjusted PR 1.27 (95% CI 1.15–1.39)], after controlling for variables such as the mother's education, economic status, and the child's birth weight. Efforts are needed to complete the child's immunization status on time according to schedule and increase the mother's knowledge regarding the use of health services, the fulfillment of toddler nutrition, and the stimulation of child growth and development.
Read More
Stunting is a malnutrition that is still a public health problem in Indonesia and causes various adverse effects on children's health. Besides caused by a chronic lack of nutrition, stunting can also be caused by recurrent of infectious diseases. Efforts to prevent infectious diseases, such as immunization, will play a role in increasing child growth, especially in developing countries. The purpose of this study was to examine the association between basic immunization status and the incidence of stunting in toddlers in Indonesia. This study used a cross-sectional study design using secondary data from SSGI 2021. The inclusion criteria for this study were that toddlers were aged 12–59 months at the time of data collection, their height was measured, were not experiencing severe or chronic illness, and had complete variable data. A total of 70,267 toddlers met the inclusion criteria, and all were taken as research samples. Data analysis was performed using the Cox regression to obtain a prevalence ratio (PR) with 95% of confidence interval. This study shows that the prevalence of stunting among children aged 12–59 months in Indonesia is 23.1%, and the proportion of children under five who have complete basic immunization status is 74.92%. The results of the multivariate analysis showed that basic immunization status had a statistically significant association with the incidence of stunting. Toddlers with incomplete basic immunization status are at risk 1.19 times higher for stunting compared to toddlers with complete basic immunization status [adjusted PR 1.19 (95% CI 1.15–1.23)]. Toddlers who are not immunized at all have an even higher risk of experiencing stunting, which is 1.27 times higher compared to toddlers with complete basic immunization status [adjusted PR 1.27 (95% CI 1.15–1.39)], after controlling for variables such as the mother's education, economic status, and the child's birth weight. Efforts are needed to complete the child's immunization status on time according to schedule and increase the mother's knowledge regarding the use of health services, the fulfillment of toddler nutrition, and the stimulation of child growth and development.
T-6625
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Lina Anggraeni Mariyati; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Trisari Anggondowati, Dian Meutia Sari, Arum Ambarsari
Abstrak:
Read More
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas pada anak balita, terutama di negara berkembang. Status imunisasi dasar dan riwayat berat lahir rendah (BBLR) merupakan faktor yang secara teoritis berhubungan dengan kejadian ISPA pada anak, namun belum adanya penelitian yang secara khusus mengevaluasi efek gabungan antara status imunisasi dasar dan riwayat berat lahir terhadap kejadian ISPA pada balita. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kedua faktor tersebut dengan kejadian ISPA pada anak usia 12–59 bulan di DKI Jakarta baik secara terpisah (independent), maupun kombinasi (gabungan) berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 dengan menggunakan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 711 anak usia 12–59 bulan di DKI Jakarta yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu memiliki data lengkap pada setiap variabel yang diteliti. Variabel dependen adalah kejadian ISPA, yaitu anak yang tercatat dalam 1 bulan terakhir didiagnosis ISPA oleh tenaga kesehatan dan atau memiliki gejala demam disertai batuk/pilek/nyeri tenggorok, sedangkan variabel independen utama meliputi status imunisasi dasar, riwayat berat lahir, dan variabel gabungan status imunisasi dasar dan riwayat berat lahir. Variabel kovariat terdiri atas usia anak, status gizi, ASI eksklusif, paparan asap rokok dalam rumah, usia ibu, pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, dan status ekonomi. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat menggunakan regresi generalized linear model dengan pendekatan backward elimination. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi ISPA pada anak usia 12–59 bulan sebesar 37,6%. Setelah mengotrol faktor perancu, anak dengan imunisasi dasar tidak lengkap memiliki prevalensi ISPA 13% lebih tinggi dibandingkan anak dengan imunisasi lengkap (aPR=1,13; 95%CI: 0,93–1,39), namun tidak bermakna secara statistik. Anak dengan riwayat BBLR juga memiliki prevalensi ISPA 33% lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang tidak BBLR (aPR=1,33; 95%CI: 0,95–1,88). Pada analisis variabel gabungan, kelompok anak dengan imunisasi lengkap dan riwayat BBLR memiliki prevalensi ISPA tertinggi (aPR=1,62; 95%CI: 0,93–2,83) dibandingkan degan kelompok imunisasi lengkap dan tidak BBLR. Penelitian ini menyimpulkan bahwa status imunisasi dasar dan riwayat BBLR menunjukkan kecenderungan peningkatan risiko ISPA meskipun tidak bermakna secara statistik. Upaya pencegahan ISPA tetap perlu difokuskan pada peningkatan cakupan imunisasi dasar dan pemantauan kelompok anak dengan riwayat BBLR.
Acute Respiratory Infection (ARI) remains one of the leading causes of morbidity among children under five, particularly in developing countries. Basic immunization status and a history of low birth weight (LBW) are theoretically associated with the incidence of ARI in children; however, limited research has specifically evaluated the combined effect of these two factors on ARI among under-five children. Therefore, this study aimed to analyze the association between basic immunization status and birth weight history with the incidence of ARI among children aged 12–59 months in DKI Jakarta using data from the 2023 Indonesian Health Survey through a cross-sectional design. The study sample consisted of 711 children aged 12–59 months in DKI Jakarta who met the inclusion criteria and had complete data for all study variables. The dependent variable was the incidence of ARI, defined as a child who, within the previous month, had been diagnosed with ARI by a healthcare professional and/or experienced symptoms of fever accompanied by cough, runny nose, or sore throat. The main independent variables included basic immunization status, birth weight history, and a combined variable of basic immunization status and birth weight history. Covariates consisted of child age, nutritional status, exclusive breastfeeding, exposure to cigarette smoke inside the house, maternal age, maternal education, maternal employment status, and socioeconomic status. Data were analyzed using univariate, bivariate, stratified, and multivariate analyses with generalized linear model regression and a backward elimination approach. The results showed that the prevalence of ARI among children aged 12–59 months was 37.6%. After adjusting for potential confounders, children with incomplete basic immunization had a 13% higher prevalence of ARI compared with fully immunized children (aPR = 1.13; 95% CI: 0.93–1.39), although the association was not statistically significant. Children with a history of LBW had a 33% higher prevalence of ARI compared with those without LBW (aPR = 1.33; 95% CI: 0.95–1.88). In the combined-variable analysis, children with complete immunization and a history of LBW had the highest prevalence of ARI (aPR = 1.62; 95% CI: 0.93–2.83) compared with children who had complete immunization and no history of LBW. This study concludes that incomplete basic immunization status and a history of LBW tend to increase the risk of ARI, although the associations were not statistically significant. Efforts to prevent ARI should continue to focus on improving basic immunization coverage and monitoring children with a history of LBW.
T-7550
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hesty Ayu Nurranti Ramadhani; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Woro Riyadina, Nurwirah Verliyanti
Abstrak:
Read More
Berdasarkan data Riskesdas (2018), prevalensi balita stunting di Provinsi DKI Jakarta sebesar 17,7%. Sedangkan prevalensi Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di Provinsi DKI Jakarta sebesar 6,08%. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara riwayat BBLR terhadap kejadian stunting pada balita di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diambil dari Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 dengan jumlah sampel 3075 dan analisis data menggunakan Cox-regression. Dari hasil analisis didapatkan proporsi BBLR sebesar 6,6% dan proporsi balita stunting sebesar 17,6%. Hasil analisis multivariat hubungan BBLR dengan kejadian stunting setelah dikontrol oleh variabel potensial confounder yaitu PR 0,938 (95%CI: 0,655-1,345). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada hubungan yang bermakna antara BBLR dengan kejadian stunting di Provinsi DKI Jakarta berdasarkan data SSGI tahun 2021 setelah dikontrol oleh variabel usia, jenis kelamin, panjang badan lahir, konsumsi protein hewani, keragaman pangan, keikutsertaan KB, kelas ibu hamil dan kelas ibu balita.
Based on Riskesdas data (2018), the prevalence of stunting under five in DKI Jakarta Province is 17.7%. While the prevalence of Low Birth Weight Babies (LBW) in DKI Jakarta Province is 6.08%. The purpose of this study was to determine the relationship between LBW history and the incidence of stunting in toddlers in DKI Jakarta Province. This study used secondary data taken from the 2021 Indonesian Nutrition Status Study (SSGI) with a sample size of 3075 and data analysis using Cox-regression. From the results of the analysis, it was found that the proportion of LBW was 6.6% and the proportion of stunted toddlers was 17.6%. The results of multivariate analysis of the relationship between low birth weight and stunting after being controlled by the potential confounder variable, namely PR 0.938 (95% CI: 0.655-1.345). The conclusion of this study is that there is no significant relationship between LBW and the incidence of stunting in DKI Jakarta Province based on the 2021 SSGI data after controlling for the variables age, sex, birth length, consumption of protein, food diversity, family planning participation, class of pregnant women and mother toddler class.
T-6622
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sekar Astrika Fardani; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Renti Mahkota, Yovsyah, Eksi Wijayanti
Abstrak:
Read More
Penyakit infeksi merupakan ancaman yang signifikan dan menyebabkan kematian pada anak-anak dalam jumlah besar. Penyakit infeksi berkontribusi terhadap 47,6% penyebab kematian pada balita tahun 2019 di dunia dan lebih dari 22% penyebab kematian pada balita di Indonesia tahun 2021. Riwayat imunisasi dasar dan stunting memiliki peranan penting terhadap risiko terjadinya penyakit infeksi pada anak usia di bawah dua tahun. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan riwayat imunisasi dasar dan stunting dengan risiko penyakit infeksi pada anak usia 12 – 23 bulan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan desain studi cross-sectional menggunakan data sekunder SSGI-2022. Terdapat 53.585 responden yang memenuhi kriteria inklusi-eksklusi penelitian dan dijadikan sebagai sampel penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan uji cox regression constant time dengan ukuran asosiasi prevalence ratio (PR) dan interval kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan proporsi anak usia 12 – 23 bulan yang menderita penyakit infeksi sebesar 12,67%, proporsi riwayat imunisasi dasar lengkap sebesar 71,63% dan proporsi stunting sebesar 21,28%. Pada analisis multivariat didapatkan riwayat imunisasi dasar berhubungan signifikan dengan penyakit infeksi setelah dikontrol oleh variabel interaksi riwayat imunisasi dasar dan ASI eksklusif. Anak usia 12 – 23 bulan dengan riwayat imunisasi dasar tidak lengkap dan tidak mendapatkan ASI eksklusif memiliki risiko 1,34 kali lebih besar untuk menderita penyakit infeksi dibandingkan anak usia 12 – 23 bulan dengan riwayat imunisasi dasar lengkap dan mendapatkan ASI eksklusif (adjusted PR 1,34; 95% CI 1,24 – 1,43). Anak usia 12 – 23 bulan yang memiliki riwayat imunisasi dasar tidak lengkap tetapi mendapatkan ASI eksklusif berisiko 1,47 kali lebih tinggi untuk menderita penyakit infeksi dibandingkan anak yang memiliki riwayat imunisasi dasar lengkap dan mendapatkan ASI eksklusif (adjusted PR 1,47; 95% CI 1,37 – 1,58). Sedangkan untuk variabel stunting didapatkan tidak ada hubungan yang signifikan antara stunting dan penyakit infeksi setelah dikontrol oleh variabel wasting (adjusted PR 1,05; 95% CI 0,99 – 1,11). Diperlukan upaya untuk melengkapi riwayat imunisasi anak serta pemenuhan asupan gizi dan pemantauan tumbuh kembang anak secara optimal.
Infectious diseases are a significant threat and the leading cause of death in many children. Infectious diseases contributed for 47.6% of the causes of under-five deaths in 2019 globally and more than 22% of the causes of under-five deaths in Indonesia in 2021. History of basic immunization and stunting play an important role in the risk of infectious diseases in children. The aim of this study was to examine the relationship between history of basic immunization and stunting with the risk of infectious diseases among toddlers aged 12 – 23 months in Indonesia. This study was conducted with a cross-sectional study design using SSGI-2022 data. There were 53,585 respondents who met the research inclusion-exclusion criteria used as samples. Data analysis was performed using cox regression constant time to obtain a prevalence ratio (PR) with 95% confidence interval. The results of this study show that the proportion of infectious diseases among toddlers aged 12 - 23 months is 12.67%, the proportion of complete basic immunization history is 71.63% and the proportion of stunting is 21.28%. Multivariate analysis was found that history of basic immunization had significantly association with infectious diseases after being controlled by the interaction variable history of basic immunization and exclusive breastfeeding. Toddlers aged 12 – 23 months with incomplete basic immunization and were not receive exclusive breastfeding have 1.34 times higher risk of suffering from infectious diseases compared to toddlers with complete basic immunization and receive exclusive breasfeeding (adjusted PR 1.34; 95% CI 1.24 – 1.43). Toddlers aged 12 – 23 months with incomplete basic immunization but were exclusively breastfed have 1.47 times higher risk of suffering from infectious diseases compared to toddlers with complete basic immunization and receive exclusive breasfeeding (adjusted PR 1.47; 95% CI 1.37 – 1.58). Meanwhile, for stunting variable, it was found that there was no significant asscociation between stunting and infectious diseases after being controlled for the wasting variable (adjusted PR 1.05; 95% CI 0.99 – 1.11). Efforts are needed to complete the child's immunization history as well as fulfill the child's nutritional intake and monitor the child's growth and development optimally.
T-6930
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Welstin Wemi Loa; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Ratna Djuwita, Damiana Veronika Djahari
Abstrak:
Read More
Prevalensi stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih bertahan pada kisaran 37% dalam dua tahun terakhir meskipun cakupan ASI eksklusif dan imunisasi dasar lengkap relatif tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan riwayat ASI eksklusif dan status imunisasi dasar lengkap, serta interaksi keduanya, terhadap kejadian stunting pada anak usia 12–23 bulan di Provinsi Nusa Tenggara Timur setelah dikontrol oleh variabel perancu. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 pada 2.377 anak usia 12–23 bulan. Analisis dilakukan menggunakan regresi Poisson dengan varian robust yang disesuaikan dengan desain kompleks survei dan pembobotan SSGI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, setelah dikontrol terhadap usia anak, jenis kelamin anak, riwayat berat badan lahir rendah, usia ibu saat hamil, kunjungan antenatal care (K6), pendidikan ibu, akses terhadap air minum layak, wilayah tempat tinggal, dan status sosial ekonomi, prevalensi stunting lebih tinggi pada kelompok anak yang tidak pernah mendapatkan ASI (aPR = 1,25; 95% CI: 1,02–1,54) dibandingkan dengan kelompok anak yang mendapatkan ASI eksklusif, serta pada kelompok anak dengan status imunisasi dasar yang tidak lengkap (aPR = 1,39; 95% CI: 1,05–1,85) dibandingkan dengan kelompok anak yang memiliki status imunisasi dasar lengkap. Analisis kombinasi pajanan menunjukkan bahwa anak yang tidak pernah mendapatkan ASI dan tidak memperoleh imunisasi dasar lengkap memiliki prevalensi stunting yang lebih tinggi (aPR = 1,56; 95% CI: 1,10–2,21), sedangkan anak yang memperoleh ASI non-eksklusif (mixed feeding) dan imunisasi dasar lengkap memiliki prevalensi stunting 50% lebih rendah (aPR = 0,50; 95% CI: 0,26–0,98). Penguatan promosi menyusui, peningkatan cakupan dan ketepatan imunisasi, diantaranya melalui optimalisasi fungsi posyandu perlu menjadi prioritas dalam upaya pencegahan stunting di NTT.
The prevalence of stunting in East Nusa Tenggara Province (NTT) has remained at approximately 37% over the past two years, despite relatively high coverage of exclusive breastfeeding and complete basic immunization. This study aimed to examine the association of exclusive breastfeeding history and complete basic immunization status, as well as their interaction, with stunting among children aged 12–23 months in East Nusa Tenggara Province after controlling for potential confounding factors. This study employed a cross-sectional design using data from the 2024 Indonesian Nutrition Status Survey (Survei Status Gizi Indonesia, SSGI), involving 2,377 children aged 12–23 months. Data were analyzed using Poisson regression with robust variance, adjusted for the complex survey design and SSGI sampling weights. The results showed that, after adjustment for child age, child sex, history of low birth weight, maternal age during pregnancy, antenatal care (ANC) attendance (K6), maternal education, access to improved drinking water, place of residence, and socioeconomic status, the prevalence of stunting was higher among children who had never been breastfed (aPR = 1.25; 95% CI: 1.02–1.54) than among those who had been exclusively breastfed, and among children with incomplete basic immunization (aPR = 1.39; 95% CI: 1.05–1.85) compared with those who had received complete basic immunization. Furthermore, the combined exposure analysis demonstrated that children who had never been breastfed and had incomplete basic immunization exhibited a higher prevalence of stunting (aPR = 1.56; 95% CI: 1.10–2.21), whereas those who had received non-exclusive breastfeeding (mixed feeding) and complete basic immunization exhibited a 50% lower prevalence of stunting (aPR = 0.50; 95% CI: 0.26–0.98). Strengthening breastfeeding promotion and improving both the coverage and timeliness of immunization, including through the optimization of integrated health service posts (Posyandu), should be prioritized as key strategies for stunting prevention in East Nusa Tenggara.
T-7665
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sutrani Rachmawati; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Ratna Djuwita, Andri Mursita
Abstrak:
Di Indonesia, stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Provinsi Banten memiliki prevalensi stunting yang tinggi yaitu 29,6% pada tahun 2017 dan terus mengalami peningkatan selama tiga tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kecukupan nutrisi pada awal kehidupan (praktik IMD, ASI eksklusif, usia pemberian MP-ASI, dan pemberian vitamin A) dengan kejadian stunting setelah dikontrol dengan faktor jenis kelamin balita, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, jumlah anggota rumah tangga, jumlah balita, dan tempat tinggal. Desain studi penelitian ini yaitu cross-sectional dengan analisis multivariat regresi logistik ganda. Data yang digunakan yaitu data Pemantauan Status Gizi (PSG) dengan jumlah sampel 840 balita usia 12-23 bulan. Hasil analisis menunjukan bahwa kecukupan nutrisi pada awal kehidupan, ASI eksklusif, usia pemberian MP-ASI, dan pemberian vitamin A tidak berhubungan dengan kejadian stunting. Namun terdapat hubungan antara praktik IMD dengan kejadian stunting. Salah satu upaya pemerintah dalam optimalisasi upaya preventif dan promotif dapat dilakukan dengan pendekatan pada remaja terkait gizi seimbang melalui media sosial. Kata Kunci : stunting, kecukupan nutrisi, balita usia 12-23 bulan, Banten, PSG 2017
Read More
S-9911
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rudini; Pembimbing: Helda; Penguji: Asri C. Adisasmita, Felly Philipus Senewe, Yurista Permanasari
Abstrak:
Read More
Salah satu faktor yang dapat mengakibatkan terjadinya stunting adalah kehamilan usia remaja. Angka prevalensi stunting di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih diangka 18,6% di tahun 2021, padahal targetnya harus dibawah 10,38% di tahun 2024. Disamping itu, data terkait pernikahan usia remaja terus meningkat dari tahun ke tahun yang terjadi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung hingga mencapai 18,76% pada tahun 2020 sehingga menempatkan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjadi urutan pertama dari 34 provinsi di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat kontribusi kehamilan usia remaja dengan kejadian stunting pada anak usia 0-59 bulan di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2021. Peneliti menggunakan desain studi cross sectional dimana data yang digunakan merupakan total sampling dari SSGI Tahun 2021 wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebanyak 2.969 responden. Analisis data dengan regresi logistik menggunakan sofware STATA 13. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi stunting dapat diturunkan sebesar 3,4% jika kehamilan usia remaja dapat dikendalikan, dimana risiko kehamilan usia remaja untuk terjadi stunting pada anak usia 0-59 tahun sebesar 1,25 kali (95% CI: 0,70 – 2,23) setelah dikontrol oleh variabel ASI Ekslusif dan variabel BBLR. Adanya kontribusi dan pengaruh kehamilan usia remaja terhadap kejadian stunting mengharuskan adanya intervensi dalam pengendalian pernikahan usia dini dengan melibatkan sektor kesehatan, pendidikan, agama, dan adat.
One of the factors that can cause stunting is teenage pregnancy. The stunting prevalence rate in the Bangka Belitung Islands Province is still at 18.6% in 2021, even though the national target must be below 10.38% in 2024. In addition, data related to teenage marriage continues to increase from year to year in the Province Bangka Belitung Islands reached 18.76% in 2020, placing the Bangka Belitung Islands Province in first place out of 34 provinces in Indonesia. The purpose of this study was to see the contribution of teenage pregnancy to the incidence of stunting in children aged 0-59 months in the Bangka Belitung Islands Province in 2021. The researchers used a crosssectional study design where the data used was total sampling from SSGI in 2021 in the Bangka Islands Province. Belitung as many as 2,969 respondents. Data analysis using logistic regression using STATA 13 software. The results showed that the prevalence of stunting could be reduced by 3.4% if teenage pregnancies could be controlled, where the risk of teenage pregnancies for stunting in children aged 0-59 years was 1.25 times (95% CI: 0.70 – 2.23) after being controlled by exclusive breastfeeding and LBW variables. The contribution and influence of teenage gestational age on the incidence of stunting requires intervention in controlling early marriage by involving the health, education, religion, and customary sectors.
T-6782
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Desyana Endarti Hendraswari; Pembimbing: Helda; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Agus Triwinarto, Sudikno
Abstrak:
Read More
Anak usia 0-23 tahun merupakan masa golden period namun sangat rentan mengalami kurang gizi yang akan mengganggu pertumbuhan baik fisik maupun otak anak. Gangguan pertumbuhan pada masa ini bersifat irreversible. Penyakit infeksi menjadi salah satu penyebab langsung anak mengalami kekurangan gizi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan penyakit infeksi (ISPA, diare, kecacingan, campak, TB paru, Pnemonia) dengan wasting dan underweight pada anak usia 0-23 bulan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan design studi cross sectional dengan menggunakan data SSGI 2021 dengan jumlah sampel 32.084 balita. Pada hasil penelitian proporsi underweight 14,32%, wasting 9,56% dan penyakit infeksi 31,54%. Anak dengan riwayat infeksi memiliki risiko 1,03 kali lebih tinggi untuk wasting dibandingkan anak tanpa riwayat penyakit infeksi setelah dikontrol dengan variabel berat badan saat lahir serta IMD dan tidak bermakna secara statistik. Sedangkan anak dengan penyakit infeksi berisiko 1,1 kali (95% CI:1,00-1,14) lebih tinggi untuk underweight dibandingkan anak tanpa riwayat penyakit infeksi setelah dikontrol dengan variabel usia anak serta berat badan saat lahir dan bermakna secara statistik.
Children aged 0-23 years are the golden period but are very vulnerable to malnutrition which will interfere with the growth of both the physical and brain of the child. Growth disturbance at this time is irreversible. Infectious diseases are one of the direct causes of children experiencing malnutrition. The purpose of this study was to determine the relationship between infectious diseases (ARI, diarrhea, helminthiasis, measles, pulmonary tuberculosis, pneumonia) with wasting and underweight in children aged 0-23 months in Indonesia. This study used a cross-sectional study design using SSGI 2021 data with a total sample of 32,084 toddlers. In the results of the study the proportion of underweight was 14.32%, wasting was 9.56% and infectious disease was 31.54%. Children with a history of infection had a 1.03 times higher risk of wasting than children without a history of infectious disease after controlling for birth weight and IMD variables and were not statistically significant. Meanwhile, children with infectious diseases had a 1.1 times (95% CI: 1.00-1.14) higher risk of being underweight than children without a history of infectious diseases after controlling for the variables of child's age and birth weight and statistically significant.
T-6785
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nugrahani Meika Narvianti; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Krisnawati Bantas, Eko Prihastono
Abstrak:
Stunting merupakan masalah gizi kronis yang diukur berdasarkan TB/U. Di Indonesia, prevalensi stunting pada balita umur (0-59 bulan) mengalami peningkatan dari tahun 2007, 2010, hingga tahun 2013. Prevalensi stunting pada balita umur (0-59 bulan) di Pulau Sulawesi mengalami peningkatan hingga 41,05 persen pada tahun 2013. Angka tersebut menggambarkan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan faktor risiko dengan kejadian stunting pada balita umur (12-59 bulan) di Pulau Sulawesi tahun 2013. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskesdas 2013, dengan desain cross sectional. Sampel penelitian ini adalah 7462 balita umur (12-59 bulan) di Pulau Sulawesi yang memiliki data lengkap, dan tidak mempunyai data z-score TB/U < -6SD dan > +6SD. Hasil penelitian menunjukkan, kejadian stunting pada balita umur (12-59 bulan) di Pulau Sulawesi tahun 2013 sebesar 43,3 persen. Hasil analisis bivariat menunjukkan hubungan yang bermakna (nilai p ≤ 0,05) antara umur, jenis kelamin, status imunisasi dasar, berat badan lahir, pendidikan ibu, tinggi badan ibu, wilayah tempat tinggal, status ekonomi keluarga, dan fasilitas sanitasi dengan kejadian stunting pada balita umur (12-59 bulan) di Pulau Sulawesi tahun 2013. Oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan terhadap faktor risiko, utamanya pencegahan primer, serta melakukan deteksi dini dengan pengukuran TB/U secara teratur.
Stunting is a chronic malnutrition measured using height-for-age indicator. In Indonesia, prevalence of stunting on under-five-children (0-59 months) increases from 2007, 2010, to 2013. Prevalence of stunting on under-five-children (0-59 months) in Sulawesi Island increases by 41,05 percent in 2013. This number indicates a serious public health problem in Sulawesi Island. This study aims to determine the relationship between risk factors with stunting on under-five-children (12-59 months) in Sulawesi Island in 2013. This study uses secondary data from the Riskesdas 2013, with a cross-sectional study. The sample amounts to 7462 under-five-children (12-59 months) in Sulawesi Island, who have complete data, and don’t have z-score data H/A < -6SD and > +6SD. The results of this study indicate that the occurrence of stunting on under-five-children (12-59 months) in Sulawesi Island in 2013 is 43,3 percent. The bivariate analysis indicates significant association (p ≤ 0,05) between age, gender, status of primary immunization, birth weight, maternal education, maternal height, region of residence, family economic status, and sanitation facilities with stunting on under-five-children (12-59 months) in Sulawesi Island in 2013. Therefore, it’s necessary to implement prevention of risk factors especially primary prevention, and early detection using height-for-age measurement frequently.
Read More
S-8850
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nur Khanifah; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Lhuri Dwianti R., Dakhlan Choeron
S-9862
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
