Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 27223 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Mas Aditya Soebangil; Pembimbing: Ascobat Gani; Penguji: Adang Bachtiar, Prastuti Soewondo, Danyel Suryana, Supriyantoro
Abstrak: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merencanakan percepatan digitalisasi di sektor kesehatan, yang salah satunya adalah penerapan rekam medis elektronik di seluruh fasilitas kesehatan. Namun, seperti yang kita ketahui dengan semakin berkembangnya proses digitalisasi di dunia kesehatan, semakin besar pula ancaman terhadap kebocoran data medis. Hingga saat ini belum ada suatu standar terkait praktik keamanan sistem informasi rumah sakit yang diatur dalam regulasi. Pada penelitian ini, standar ISO 27001:2013 digunakan sebagai alat evaluasi penilaian praktik keamanan sistem informasi rumah sakit RSIA Bina Medika. Didapatkan pada hasil penelitan bahwa dari 6 kontrol ISO 27001:2013 yang dipilih (manajemen aset, kontrol akses, perlindungan fisik dan lingkungan, keamanan operasional, keamanan komunikasi dan keamanan sumber daya manusia), 4 diantaranya sudah sesuai dengan standar dan 2 masih belum lengkap. Belum adanya kebijakan terkait pelabelan informasi serta belum adanya pelatihan rutin terkait praktik keamanan sistem informasi kepada pegawai menjadi poin yang belum dilaksanakan oleh rumah sakit. Hal ini membuka risiko ancaman kebocoran data medis terutama terkait dengan pengelolaan data medis secara internal rumah sakit.
Indonesia’s Ministry of Health is currently enacting a plan to further accelerate the digitalization of the healthcare sector. One of the plans is to ensure the application of Electronic Medical Record (EMR) in all healthcare facilities across Indonesia. Though it is known that the further we accelerate digitalization, the higher the risk of data breaches. The current regulations do not state any standard to adopt as a framework for hospital cybersecurity. Thus, this research aims to implement ISO 27001:2013 standards as one of the means to evaluate the practice of hospital cybersecurity at Bina Medika Maternal and Children Hospital. The results are, according to 6 controls chosen in this research (asset management, access control, physical and environmental security, operational security, communication security, and human resources security), that 4 of the controls are practiced according to the standards. 2 controls that are still not practiced according to the standards, lack the practice and regulation regarding information labeling and routine training of the employees regarding the practice hospital cybersecurity. This opens a risk of medical data breach particularly from inside the organization due to the mishandling of medical information by employees.
Read More
B-2360
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elsa Adila Ramadhian; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Rico Kurniawan, Wachyu Sulistiadi, Ivoni Pollatu, Setiaji
Abstrak:
Transformasi digital di sektor kesehatan menghadirkan tantangan serius terhadap keamanan sistem informasi, terutama di rumah sakit yang menyimpan data pasien bersifat sensitif. Rendahnya kesadaran staf terhadap keamanan informasi dapat meningkatkan risiko kebocoran data dan pelanggaran etika profesional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesadaran keamanan sistem informasi di kalangan sumber daya manusia RSIA Bina Medika serta memberikan rekomendasi strategi peningkatannya. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang dan melibatkan 134 responden yang merupakan sumber daya manusia pengguna rekam medis elektronik. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner berbasis model Knowledge, Attitude, Behavior (KAB) dan dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 48% responden memiliki tingkat kesadaran sistem informasi rumah sakit yang rendah. Dimensi pengetahuan, sikap, dan perilaku menunjukkan hubungan signifikan terhadap tingkat kesadaran keamanan (masing-masing p < 0,001). Model regresi logistik menunjukkan bahwa perilaku menjadi faktor dominan yang mempengaruhi kesadaran keamanan sistem informasi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa peningkatan kesadaran keamanan sistem informasi tidak hanya memerlukan penguatan aspek pengetahuan dan sikap, tetapi juga pembiasaan perilaku aman melalui pelatihan aktif, audit berkala, dan dukungan kebijakan manajemen rumah sakit.

Digital transformation in the health sector presents serious challenges to information system security, especially in hospitals that store sensitive patient data. Low staff awareness of information security can increase the risk of data leakage and violations of professional ethics. This study aims to analyze the level of information system security awareness among human resources at RSIA Bina Medika and provide recommendations for strategies to improve it. The study used a quantitative approach with a cross-sectional design and involved 134 respondents who were human resources who used electronic medical records. Data collection was carried out through a questionnaire based on the Knowledge, Attitude, Behavior (KAB) model and analyzed univariately, bivariately, and multivariately. The results showed that 48% of respondents had a low level of hospital information system awareness. The dimensions of knowledge, attitude, and behavior showed a significant relationship to the level of security awareness (each p <0.001). The logistic regression model showed that behavior was the dominant factor influencing information system security awareness. The conclusion of this study is that increasing information security awareness requires not only strengthening aspects of knowledge and attitude, but also habituation of safe behavior through active training, periodic audits, and support for hospital management policies.

Read More
B-2541
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Dwi Anggraini; Pembimbing: Yaslis Ilyas; Penguji: Puput Oktamianti, Anhari Achadi, Irma Rismayanty, Danyel Suryana
Abstrak:
Keselamatan adalah isu fundamental bagi rumah sakit, dimana keselamatan pasien merupakan prioritas utama karena berkaitan dengan kualitas dan nama baik rumah sakit. Pelaksanaan keselamatan pasien di rumah sakit dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor individu, faktor psikologis dan faktor organisasi. Pada tahun 2021, RSIA Bina Medika telah melakukan pengukuran budaya keselamatan pasien dimana diketahui bahwa budaya keselamatan pasien di RSIA Bina Medika masih tergolong rendah. Selain itu, pada tahun 2021 tercatat telah terjadi 37 insiden keselamatan pasien di RSIA Bina Medika, dimana tercatat telah terjadi 1 kejadian sentinel. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran penerapan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika pada tingkat individu dengan melakukan tela?ah dokumen Ongoing Professional Practice Evaluation (OPPE). Penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui gambaran sikap petugas terhadap keselamatan pasien dan hubungannya, serta gambaran pengetahuan petugas terhadap keselamatan pasien dan hubungannya. Selain itu, penelitian ini dilakukan untuk menemukan strategi yang tepat yang harus dilakukan manajemen rumah sakit dalam rangka meningkatkan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika. Penelitian ini adalah penelitian mix method dengan pendekatan cross-sectional, dimana dilakukan survei kuesioner terkait sikap (dengan SAQ-INA) dan pengetahuan, serta wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD) dan tela?ah dokumen terkait termasuk OPPE bagian Keperawatan tahun 2021. Dari hasil penelitian diketahui bahwa 54% petugas menerapkan keselamatan pasien dengan baik. Lalu, diketahui bahwa 56% petugas bersikap negatif terhadap keselamatan pasien dan 78% petugas berpengetahuan baik. Tidak ada hubungan yang signifikan antara sikap petugas dengan keselamatan pasien, begitu pula pengetahuan (p =1 dan p=0,08). Dari wawancara mendalam diketahui terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika. Dari FGD didapatkan berbagai strategi peningkatan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika yang akan diterapkan kedepannya. Dari keseluruhan penelitian ini diketahui bahwa penerapan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika masih belum baik karena terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika. Mayoritas petugas sudah berpengetahuan baik, namun masih banyak petugas yang bersikap negatif terhadap keselamatan pasien. Selain sikap dan pengetahuan, diketahui banyak faktor lainnya yang juga turut berkontribusi dalam pelaksanaan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika.

Safety is a fundamental issue for hospitals, where patient safety is a top priority because it relates to hospital?s quality and reputation. The implementation of patient safety in hospitals is influenced by various factors, such as individual factor, psychological factor and organizational factor. In 2021, RSIA Bina Medika had measured patient safety culture where the result showed that patient safety culture at RSIA Bina Medika was still relatively low. In addition, in 2021 there was 37 patient safety incidents at RSIA Bina Medika, where 1 sentinel incident had been recorded. Therefore, this research was conducted to find out the description of the implementation of patient safety at RSIA Bina Medika at individual level by conducting a review of the Ongoing Professional Practice Evaluation (OPPE) document. This study was also conducted to describe staff?s attitude towards patient safety and its relationship, as well as an overview of the staff's knowledge of patient safety and its relationship. In addition, this research was conducted to find the right strategy that hospital management must implement in order to improve patient safety at RSIA Bina Medika. This research was a mixed method research with a cross-sectional approach, in which a questionnaire survey was carried out regarding attitudes (with SAQINA) and knowledge, as well as in-depth interviews, Focus Group Discussion (FGD) and a review of related documents including the 2021 OPPE of Nursing section. The research results showed that 54% of staff implement patient safety well. Then, it was known that 56% of staff had a negative attitude towards patient safety and 78% of staff had good knowledge. There was no significant relationship between staff?s attitudes and patient safety, as well as knowledge (p = 1 and p = 0.08). From in-depth interviews it was known that there were several obstacles in implementing patient safety at RSIA Bina Medika. From the FGD, various strategies were obtained to improve patient safety at RSIA Bina Medika which will be implemented in the future. From all of this research it was known that the implementation of patient safety at RSIA Bina Medika was still not good because there were several obstacles in implementing patient safety at RSIA Bina Medika. The majority of staffs had good knowledge, but there were still many staffs who had negative attitude towards patient safety. Apart from attitude and knowledge, it was known that there were many other factors that also contribute to the implementation of patient safety at RSIA Bina Medika.
Read More
B-2304
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Veronika Hanny Soetisno; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Purnawan Junadi, Lanjar Sugiyanto,Yessy Susanti
B-1674
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Wayan Sri Astuti; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Prastuti Soewondo, Amal Chalik Sjaaf, Tb. Firmansyah B. Rifai, Albert Maramis
Abstrak: Rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan masyarakat harus dapat menjaga mutu dan kualitas. Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah melalui akreditasi. Akreditasi wajib dilakukan dan merupakan syarat ijin operasional sesuai aturan pemerintah. Rumah Sakit Prima Medika melakukan persiapan akreditasi KARS 2012 yang terdiri dari 4 sasaran pokok, namun penelitian ini pada dua sasaran yaitu sasaran keselamatan pasien dan Milenium Development Goals. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tahapan, masalah dan monitoring dalam proses persiapan akreditasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melibatkan partisipan sebanyak 7 orang yang terlibat dalam kelompok kerja akreditasi. Pengumpulan data dengan teknik wawancara mendalam dan penelusuran dokumen, dianalisis menggunakan content analysis. Hasil wawancara persiapan akreditasi dimulai komitmen dari seluruh jajaran rumah sakit, kelompok kerja akreditasi ditetapkan direktur, penyusunan dokumen sesuai elemen penilaian akreditasi, sosialisasi pada staf medis maupun non medis, implementasi sangat penting karena penilaian lebih terfokus pada pelaksanaan dilapangan, monitoring dan evaluasi dengan laporan monev, indikator mutu dan turun langsung ke lapangan. Kesimpulan tahapan persiapan yang penting adalah komitmen seluruh jajaran rumah sakit, melakukan pendekatan kepada dokter spesialis secara formal maupun informal, menambah pelatihan internal. Kata Kunci: persiapan akreditasi, sasaran keselamatan pasien,
Goals Hospitals in providing public health services should be able to maintain quality of services. One of the government's efforts to improve the quality of home services through accreditation, which is compulsory and required by government regulation. This study focus on two goals of Prima Medika Hospital in preparation of KARS 2012 accreditation: International Patient Safety Goals and Millennium Development Goals. The purpose of this study is to determine the stages, problems and monitoring in the preparation process of accreditation on the patient's safety goals and the Millennium Development Goals. This research uses qualitative method by involving 7 participants working group of accreditation. Data collected by in-depth interview technique and document tracing, then analyzed using content analysis. The results of the interviews show that the preparation phase begins with the commitment of all hospitals, the accreditation working group established by the director, the compilation of documents of the assessment elements according to the accreditation standards, program dissemination to medical and non-medical staff, then the implementation. The next stage are monitoring and evaluation, through monev report, quality indicator and field inspection. In conclusions, the very important stages in preparation process are: commitment from all level of hospital, approaches to the specialist doctors formally or informally, more internal training. Keywords: preparation, accreditation, international patient safety, Millennium Development Goals
Read More
B-1990
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rachmayasti Rachmat; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Kurnia Sari, Pujiyanto; Chairulsjah Sjahruddin, Hendro Bakti Wibowo
Abstrak:
Latar Belakang : Rumah sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan memiliki keterbatasan fasilitas dan sumber daya manusia menjadi kendala pelayanan pasien di rumah sakit sehingga pasien memerlukan perpindahan fasilitas kesehatan. Perpindahan pasien membutuhkan kesinambungan pelayanan. RS Meilia mengalami kendala dalam merujuk pasien, dari segi sistem maupun sumber daya manusia. Selain itu belum tercapainya evaluasi rujukan dan evakuasi pasien pada penilaian akses dan kesinambungan pelayanan rumah sakit yang dilakukan oleh surveyor KARS pada April 2023. Metode : penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang menganalisis elemen penilaian rujukan di dalam akses dan kesinambungan pelayanan di RS. Meilia pada bulan Mei – Juni 2023. Hasil :Pada proses penentuan dasar peraturan mengenai alur rujukan pada akses dan kesinambungan pelayanan, RS Meilia telah menetapkan dasar-dasar mengenai rujukan, namun masih menggunakan literatur yang sudah kurang relevan dengan saat ini. Pada proses perpindahan pasien masih terkendala tenaga SPGDT yang merangkap pelayanan dan belum optimalnya evaluasi sistem rujukan. Pada transportasi pasien tidak tersedianya fasilitas ambulans yang lengkap. Kesimpulan : RS Meilia telah melakukan proses rujukan berdasarkan elemen-elemen penilaian berdasarkan akses dan kesinambungan pelayanan rumah sakit, namun masih perlu perbaikan-perbaikan dalam proses evaluasi dan optimalisasi fungsi dan wewenang struktur organisasi khususnya pada pengelolaan rujukan.

Background: Hospitals as health care institutions have limited facilities and human resources so that patients need to transfer to other health facilities. Transfer of patients requires continuity of care. Meilia Hospital experienced problems in referring patients, in terms of systems and human resources. In addition, the evaluation of patient referral and evacuation has not yet been achieved in April 2023. Methods: this study uses a qualitative approach with a case study design that analyzes referral assessment elements in access and continuity of services at Meilia Hospital in May - June 2023. Results: In the process of determining the basic regulations regarding the flow of referrals on access and continuity of services, Meilia Hospital still uses literature that is less relevant at this time. In the process of transferring patients, the SPGDT staff also serve as services stff and the evaluation of the referral system has not been optimal. There is no complete ambulance facility for patient transportation. Conclusion: Meilia Hospital has carried out a referral process based on assessment elements based on access and continuity of hospital services, but still needs improvements in the evaluation process and optimizing the functions and authority of the organizational structure, especially in managing referrals.
Read More
B-2355
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fransisca Mayer; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Puput Oktamianti, Lanjar Sugianto, Yessy Susanti
B-1700
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Regina Destrina Damanik; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Surya Ede Darmawan, Helen Andriani, Titi Anggraeni, Jaka Supriyadi
Abstrak: Keselamatan pasien merupakan inti dari mutu pelayanan. Untuk mencapainya diperlukan komitmen yang kuat dari individu dan tim. Pentingnya budaya keselamatan ditekankan dalam sebuah laporan oleh Institute of Medicine (IOM) yang mengatakan budaya keselamatan pasien perlu dikembangkan agar selanjutnya akan difokuskan dalam upaya peningkatan reliabilitas dan keamanan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil capaian pemenuhan standar Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) dalam akreditasi Rumah Sakit berdasarkan SNARS Edisi 1. Penelitian ini menggunakan metode crossectional dari data sekunder hasil akreditasi RS yang berpedoman pada SNARS edisi 1 dalam kurun waktu tahun 2018-2019 dan khusus pada penilaian bab Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) yang bersumber dari basis data KARS. Kemudian dilanjutkan dengan metode kualitatif untuk mendapatkan faktor pendukung dan dan penghambat akan dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap informan sesuai dengan syarat informan. Penelitian dilakukan menggunakan data sekunder dari basis data SIKARS pada tahun 2018-2019 yang diperoleh dengan persetujuan Ketua Eksekutif KARS setelah melalui kaji etik. Kemudian setelah mendapatkan data sekunder dilanjutkan dengan wawancara mendalam. Hasil dari penelitian ini adalah dari 1271 rumah sakit yang telah diakreditasi oleh KARS tahun 2018-2019 hampir seluruh RS Kelas A, B, C dan D memenuhi secara lengkap standar fokus area 1 PMKP. untuk capaian fokus area 2, 3, 4 dan 5 PMKP, lebih banyak RS kelas A yang terpenuhii secara lengkap dibandingkan RS kelas B, C dan D. Dari uji komparatif ditemukan seluruh fokus area 1,2,3,4 dan 5 PMKP berhubungan dengan RS Kelas A,B,C dan D dengan nilai p <0,005. Faktor yang mendukung terhadap pemenuhan standar PMKP adalah adanya dukungan top manajemen, fasilitas yang mendukung budaya pelaporan mutu dan keselamatan pasien. Factor yang menghambat adalah kurangnya pelatihan yang mengenai Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
Read More
B-2211
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lili Susanti; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Helen Andriani, Acim Heri Iswanto, Vica Claudia Budiono
Abstrak:
Proses distribusi obat ke rawat inap merupakan salah satu proses kritis dalam pelayanan rumah sakit yang berpengaruh terhadap kesinambungan terapi dan mutu pelayanan pasien. Di RSIA Bina Medika, proses distribusi obat pasien baru rawat inap masih menghadapi permasalahan berupa panjangnya lead time pelayanan yang disebabkan oleh dominasi aktivitas non value-added, khususnya aktivitas menunggu dan koordinasi lintas unit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan meningkatkan efektivitas waktu distribusi obat ke rawat inap menggunakan pendekatan Lean Six Sigma. Penelitian ini menggunakan desain before–after study dengan kerangka kerja DMAIC (Define, Measure, Analyse, Improve, Control). Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung dan pencatatan waktu proses pada sistem informasi rumah sakit (SIMRS) terhadap 25 resep pasien baru rawat inap sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data meliputi Value Stream Mapping, analisis Pareto, analisis akar masalah menggunakan metode 5 Whys, serta uji statistik non-parametrik Mann–Whitney U. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kondisi pre-intervensi, aktivitas non value-added mencapai 82,65% dari total waktu proses, dengan pemborosan utama berasal dari aktivitas menunggu perawat ke farmasi dan menunggu verifikasi resep. Rata-rata lead time distribusi obat sebelum intervensi masih tinggi dengan variasi waktu proses yang besar. Setelah dilakukan intervensi berupa penataan ulang alur kerja, perbaikan pembagian tugas tenaga kesehatan, serta penerapan standar operasional prosedur distribusi obat berbasis SIMRS, terjadi penurunan lead time distribusi obat yang bermakna secara statistik (p < 0,05). Penurunan signifikan terutama terjadi pada aktivitas non value-added utama, termasuk menunggu perawat ke farmasi, konfirmasi resep ke dokter, dan aktivitas komunikasi manual, sementara aktivitas value-added tetap stabil. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan Lean Six Sigma efektif dalam meningkatkan efisiensi proses distribusi obat ke rawat inap  sehingga dapat dijadikan pendekatan strategis dalam upaya peningkatan mutu pelayanan farmasi rumah sakit secara berkelanjutan.

The inpatient medication distribution process is a critical component of hospital services that affects the continuity of therapy and overall quality of care. At RSIA Bina Medika, the distribution process for newly admitted inpatients experienced prolonged lead times due to the dominance of non–value-added activities, particularly waiting and cross-unit coordination. This study aimed to analyze and improve the effectiveness of inpatient medication distribution time using the Lean Six Sigma approach. A before–after study design was applied using the DMAIC (Define, Measure, Analyse, Improve, Control) framework. Process time data were collected through direct observation and hospital information system (SIMRS) records from 25 newly admitted inpatient prescriptions before and after the intervention. Data analysis included Value Stream Mapping, Pareto analysis, root cause analysis using the 5 Whys method, and non-parametric statistical testing using the Mann–Whitney U test. The results showed that prior to intervention, non–value-added activities accounted for 82.65% of the total process time, with the main sources of waste being waiting for nurses to collect medications and waiting for prescription verification. The average medication distribution lead time before intervention was relatively high with considerable process variation. Following interventions involving workflow restructuring, improved task allocation among healthcare staff, and the implementation of a SIMRS-based standard operating procedure for medication distribution, a statistically significant reduction in lead time was observed (p < 0.05). Significant reductions were primarily observed in major non–value-added activities, including waiting for nurses, prescription clarification, and manual communication, while value-added activities remained stable. This study concludes that the application of Lean Six Sigma effectively improves the efficiency of inpatient medication distribution and can serve as a sustainable quality improvement strategy for hospital pharmacy services. Keywords: Lean Six Sigma, medication distribution, inpatient, lead time, hospital pharmacy
Read More
B-2594
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novita Gunawan; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Budi Hidayat, Titin Supriyati
S-6103
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive