Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 28390 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dian Komalasari; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Hendra, Yuni Kusminanti, Wida Riyanti
Abstrak:
Laboratorium merupakan tempat kerja dengan potensi bahaya tinggi. Pekerja laboratorium dapat terpapar berbagai potensi bahaya faktor kimia berupa gas, uap, padatan dan cairan berbahaya, dan faktor bahaya lainnya seperti fisika, biologi, ergonomi dan psikososial. Kegiatan inti laboratorium terdiri dari pengujian, pengambilan contoh uji dan kalibrasi alat. PT X merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengujian laboratorium lingkungan. PT X telah menerapkan identifikasi bahaya keselamatan kerja pada kegiatan intinya, namun belum mencakup bahaya terkait kesehatan. Terdapat 4 jenis Similar Group Exposure di PT X, yaitu Analis Laboratorium Kimia, Analis Laboratorium Mikrobiologi, Petugas Pengambil Contoh dan Petugas Administrasi. Identifikasi bahaya dan penilaian risiko terkait kesehatan dari stresor lingkungan kerja di Laboratorium Lingkungan PT X perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat risiko agar dapat dikendalikan dengan tujuan pencegahan timbulnya penyakit akibat kerja. Hasil penilaian risiko pada keempat SEG tersebut menunjukkan bahwa terdapat berbagai aktivitas yang memiliki potensi bahaya fisika, kimia, biologi dan ergonomi dengan tingkat risiko tinggi, sedang dan juga rendah. PT X perlu segera melakukan tindakan pengendalian tambahan pada aktivitas dengan risiko tinggi, dan mempertimbangkan pengendalian tambahan pada aktivitas dengan risiko sedang. Pemantauan berkala juga diperlukan pada aktivitas dengan risiko rendah untuk memastikan kondisi tempat kerja aman dan sehat bagi pekerja.

Laboratory is a workplace with high hazard potential. Laboratory workers can be exposed to various potential hazards of chemical factors such as dangerous gases, vapours, solids and liquids, and other hazardous factors such as physics, biology, ergonomics, and psychology. The core activities of the laboratory consist of testing, sampling, and calibration. PT X is an environmental laboratory testing service. PT X has implemented safety hazard identification in its core activities but has not yet included health-related hazards. There are 4 types of Similar Group Exposure at PT X, namely Chemical Laboratory Analysts, Microbiology Laboratory Analysts, Sampling Officers, and Administrative Officers. Hazard identification and risk assessment related to health from work environment stressors at the PT X Environmental Laboratory need to be carried out to determine the level of risk so that it can be controlled with the aim of preventing work-related diseases. The results of the risk assessment at the four SEGs show that there are various activities that have the potential for physical, chemical, biological, and ergonomic hazards with high, medium, and low levels of risk. PT X needs to immediately take additional control on high-risk activities and consider additional controls on moderate-risk activities. Periodic monitoring is also required for low-risk activities to ensure safe and healthy workplace conditions for workers.
Read More
T-6728
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Akbar Husnul Falah; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Mila Tejamaya, Muthia Ashifa, Listya Eka Anggraini
Abstrak:
Paparan bahan kimia dan agen biologis di laboratorium lingkungan berpotensi menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan bagi analis laboratorium. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat risiko kesehatan akibat pajanan bahan kimia melalui rute inhalasi dan dermal, serta paparan terhadap agen biologis (bakteri) yang digunakan di Laboratorium Lingkungan PT X pada tahun 2025. Penilaian risiko dilakukan menggunakan metode Chemical Health Risk Assessment (CHRA) dari DOSH Malaysia untuk bahan kimia, serta metode BIOGAVAL NEO untuk agen biologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa bahan kimia seperti benzena, formaldehida 37%, asam sulfat dan kalium dikromat memiliki nilai hazard rating dan exposure rating yang tinggi pada kedua rute pajanan tersebut. Sementara itu, paparan agen biologis seperti Escherichia coli dan Salmonella spp. diklasifikasikan ke dalam kelompok risiko 2 berdasarkan klasifikasi WHO. Evaluasi terhadap pengendalian risiko mengungkapkan bahwa meskipun beberapa tindakan telah diterapkan, seperti penggunaan fume hood, masih terdapat praktik kerja yang kurang aman dalam aktivitas yang melibatkan bahan kimia, serta kelemahan dalam penerapan prinsip biosafety dan biosecurity dalam penanganan agen biologis. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan efektivitas pengendalian yang ada serta penerapan pengendalian tambahan yang lebih spesifik, terarah, dan menyeluruh guna memastikan perlindungan optimal bagi tenaga kerja laboratorium dari risiko kesehatan akibat paparan bahan kimia dan biologis.

Exposure to chemical substances and biological agents in environmental laboratories has the potential to pose significant health risks to laboratory analysts. This study aims to evaluate the level of health risk resulting from chemical exposure via inhalation and dermal routes, as well as exposure to biological agents (bacteria) used in the Environmental Laboratory of PT X in 2025. Risk assessment was conducted using the Chemical Health Risk Assessment (CHRA) method from DOSH Malaysia for chemical agents, and the BIOGAVAL NEO method for biological agents. The results indicate that several chemicals, such as benzene, 37% formaldehyde, sulfuric acid, and potassium dichromate, have high hazard rating and exposure rating through both inhalation and dermal exposure routes. Meanwhile, exposure to biological agents such as Escherichia coli and Salmonella spp. is classified as Risk Group 2 based on WHO classification. Risk control evaluation revealed that although some measures have been implemented—such as the use of fume hoods—unsafe work practices still persist in activities involving chemical handling. Additionally, weaknesses remain in the implementation of biosafety and biosecurity principles in activities involving biological agents. Therefore, it is necessary to enhance the effectiveness of existing controls and implement additional, more specific, targeted, and comprehensive control measures to ensure optimal protection for laboratory personnel from health risks due to chemical and biological exposures.
Read More
T-7347
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irwan Mulyadi; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Abdul Kadir, Hendra, Elsye As Safira, Enjarlis
Abstrak:
Pekerja laboratorium terpajan berbagai bahan kimia saat melakukan aktivitasnya. Bahan kimia yang sering digunakan dalam pengujian di laboratorium adalah pelarut organik seperti etilbenzena, toluena, dan xilena, yang ketiganya memiliki risiko terhadap kesehatan. Penilaian risiko kesehatan terkait pajanan ketiga bahan kimia yang diteliti menggunakan metode CHRA dari DOSH Malaysia. Penilaian risiko kesehatan dilakukan secara kualitatif melalui penilaian tingkat bahaya (Hazard Rating) dan tingkat pajanan (Exposure Rating). Kecukupan metode pengendalian yang ada (eksisting) juga dievaluasi dalam rangka menilai prioritas aksi (Action Priority). Laboratorium telah menerapkan beberapa pengendalian, antara lain penggunaan exhaust fan, pembukaan jendela dan pintu, pemberlakuan SOP, dan tempat penyimpanan tertutup untuk bahan pelarut. Dari hasil analisis, ditemukan bahwa tingkat risiko pajanan secara inhalasi bernilai 12 (risiko sedang) dan tingkat risiko pajanan secara dermal bernilai 2 (sedang). Dengan kondisi tersebut, diperlukan adanya perbaikan untuk pengendalian risiko yang ada, antara lain penggunaan lemari asam untuk proses yang melibatkan bahan kimia berbahaya, melakukan MCU untuk mengetahui kondisi kesehatan pekerja setelah terpapar BTEX, dan penyediaan APD seperti jas laboratorium, respirator dengan cartridge organic vapor, dan sarung tangan.

Laboratory workers are exposed to various chemicals during their activities. Chemicals that are often used in laboratory testing are organic solvents such as ethylbenzene, toluene, and xylene, all of which have health risks. The health risk assessment related to exposure to the three chemicals studied used the CHRA method from DOSH Malaysia. The health risk assessment was carried out qualitatively through an assessment of the level of hazard (Hazard Rating) and the level of exposure (Exposure Rating). The adequacy of existing control methods was also evaluated in order to assess action priorities. The laboratory has implemented several controls, including the use of exhaust fans, opening windows and doors, implementing SOPs, and closed storage for solvents. From the analysis, it was found that the inhalation exposure risk level was 12 (moderate risk) and the dermal exposure risk level was 2 (moderate). With these conditions, improvements are needed to control existing risks, including the use of fume hoods for processes involving hazardous chemicals, conducting MCUs to determine the health conditions of workers after exposure to BTEX, and providing PPE such as laboratory coats, respirators with organic vapor cartridges, and gloves.
Read More
T-7150
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Haikal Muhammad Ariq Andrianto; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Mariani
Abstrak:
Laboratorium Migas merupakan tempat kerja untuk melakukan pengujian, penelitian, dan pengembangan minyak mentah, produk sampingan, hingga produk jadi menggunakan peralatan dan bahan yang ada. Laboratorium memiliki banyak bahaya di dalamnya, tak terkecuali dengan bahaya kimia seperti benzene, toluene dan xylene (BTX). Oleh karena itu, diperlukan kajian risiko kesehatan di Laboratorium Migas untuk mengetahui seberapa besar tingkat risiko BTX terhadap pekerja laboratorium. Kajian risiko kesehatan ini akan mengacu pada CHRA DOSH Malaysia (2018) dimana data yang didapatkan dianalisis menggunakan IHSTAT. Kajian risiko kesehatan dilakukan menyesuaikan dengan SEG yang sudah ditentukan, yaitu unit Crude & Product Classification, unit Facility & Quality, unit Fuel, unit Analytical & Gas, serta unit Petrochemical. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa terdapat tingkat risiko yang tinggi pada pajanan benzene melalui rute inhalasi serta rute dermal terhadap unit Fuel. Sementara itu, pajanan xylene dan toluene berada pada tingkat risiko yang rendah untuk rute pajanan inhalasi serta berada pada tingkat pajanan moderat pada rute pajanan dermal. Dari hasil penelitian terkait tingkat risiko keseharan pada pajanan benzene, toluene, dan xylene, diperlukan peningkatan kesadaran pekerja untuk menggunakan APD tambahan serta peningkatan sistem ventilasi di tempat kerja.

The Oil and Gas Laboratory is a workplace for conducting testing, research and development on crude oil, by-products and finished products using existing equipment and materials. Laboratories have many dangers in them, including chemical hazards such as benzene, toluene and xylene (BTX). Therefore, it is necessary to study health risks in oil and gas laboratories to find out how big the risk level of BTX is to laboratory workers. This health risk study will refer to CHRA DOSH Malaysia (2018) where the data obtained was analyzed using IHSTAT. Health risk studies are carried out in accordance with the SEGs that have been determined, namely the Crude & Product Classification unit, Facility & Quality unit, Fuel unit, Analytical & Gas unit, and Petrochemical unit. The results of the study show that there is a high level of risk of exposure to benzene via the inhalation route and the dermal route on Fuel units. Meanwhile, exposure to xylene and toluene is at a low risk level for the inhalation exposure route and at a moderate exposure level for the dermal exposure route. From the results of research regarding the level of health risk from exposure to benzene, toluene and xylene, it is necessary to increase worker awareness to use additional PPE and improve the ventilation system in the workplace.
Read More
S-11672
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuli Irmayanti; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Lestari Fatma, Arif Susanto, Henny Purwaningsih
Abstrak: Penggunaan berbagai pelarut organik volatil di labotatorium pengujian menimbulkan risiko terhadap dampak kesehatan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian risiko kesehatan. Chemical Health Risk assessment (CHRA) atau kajian risiko kesehatan yang dikembangkan oleh Department of Occupational Safety and Health (DOSH), Ministry of Human Resources, Malaysia (2018) digunakan dalam studi ini untuk menilai risiko kesehatan akibat pajanan inhalasi dan dermal dari 3 (tiga) pelarut organik volatil yaitu chloroform, dichlorometane, dan tetrachloroethylee. Penelitian dilakukan terhadap 3 (tiga) karyawan laboratorium PT X yang bekerja di 3 (tiga) lokasi ruangan yang berbeda. Penilaian tingkat risiko atau risk rating (RR) pajanan bahan kimia melalui inhalasi dilakukan secara kualitatif dan kuantitaif, sedangkan pajanan melalui dermal dinilai secara kualitatif saja. Diperoleh bahwa hasil penilain tingkat risiko pajanan bahan kimiakimia melalui inhalasi secara kualitatif adalah chloroform (RR=16) dengan tingkat risiko tinggi, dichlorometane (RR=15) dengan tingkat risiko menengah, dan tetrachloroethylene (RR=12) dengan tingkat risiko menengah Hasil penilaian tingkat risiko pajanan bahan kimia melalui inhalasi secara kuantitaif adalah chloroform (TWA pengukuran = 18,460 ppm) dengan tingkat risiko tinggi (RR=20), dichlorometane (TWA pengukuran = 0,362 ppm) dengan tingkat risiko rendah (RR=3), dan tetrachloroethylene (TWA pengukuran = 0,560) dengan tingkat risiko rendah (RR=3).Hasil penilaian tingkat risiko pajanan bahan kimia melalui dermal secara kualitatif dengan luas area kontak kecil dan durasi panjang adalah chloroform (M2) dengan tingkat risiko menengah, dichlorometane (M2) dengan tingkat risiko menengah dan tetrachloroethylene (M2) dengan tingkat risiko menengah. Pengendalian untuk menurunkan risiko pajanan chloroform melalui inhalasi (AP-3) direkomendasikan dalam penelitian ini.
Read More
T-5700
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Edo Nur Yusuf; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Laksita Ri Hastiti, Masjuli, Deddy Syam
Abstrak:
Salah satu bentuk hazard adalah pola kerja/istirahat dan waktu kerja. Hampir 8% dari populasi pekerja melaporkan gejala kelelahan kerja . Sedangkan kelelahan kerja mempunyai efek negatif pada safety, kesehatan dan pembiayaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk melindungi pekerja dari kelelahan dan sebagai deteksi dini untuk mengetahui hubungan antara tingkat kelelahan kerja dengan pola kerja/ istirahat, usia, lama bekerja, jenis pekerjaan dan indeks masa tubuh serta kondisi kesehatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa persentase meningkat dari awal waktu kerja 10.3% dan diakhir waktu kerja menjadi 60.3% secara pengukuran menggunakan reaction time. Hasil penelitian juga menunjukan bahwa kesehatan adalah faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja, sedangkan faktor pola kerja, jumlah jam kerja, lama bekerja, jenis pekerjaan, usia dan indeks masa tubuh tidak berhubungan. Desain penelitian ini adalah penelitian cross sectional dan pengukuran kelelahan dilakukan dengan menggunakan 2 metode yaitu subjective feeling fatigue dengan menggunakan kuesioner Fatigue Assesment Scale (FAS) dan alat pengukur kecepatan reaksi reaction time. Pemanfaatan waktu istirahat dengan baik, pengaturan waktu kerja, program olahraga dan pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat dilakukan untuk penegelolaan kelelahan kerja di lokasi kerja.

One form of hazard is work/rest patterns and working time. Nearly 8% of the working population reports symptoms of job burnout. Meanwhile, work fatigue has a negative effect on safety, health and financing. The aim of this research is to protect workers from fatigue and for early detection to determine the relationship between the level of work fatigue and work/rest patterns, age, length of work, type of work and body mass index and health conditions. The research results show that the percentage increased from the beginning of working time to 10.3% and at the end of working time to 60.3%, measured using reaction time. The research results also show that health is a factor that is related to work fatigue, while work pattern factors, number of working hours, length of work, type of work, age and body mass index aren’t related. The design of this research is a cross sectional study and fatigue measurements are carried out using 2 methods, namely subjective feeling fatigue using the Fatigue Assessment Scale questionnaire and reaction time measuring tool. Proper use of rest time, work time management, exercise programs and regular health checks can be carried out to manage work fatigue at work sites.
Read More
T-7096
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Noer Haliza; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, M. Rifki Al Ikhsan
Abstrak:
Pekerja pada unit produksi minyak dan gas bumi berisiko terpajan berbagai bahaya kimia. Salah satu komponen bahan kimia dari minyak bumi adalah volatile organic compounds (VOC), dengan contoh bahan yang terkenal akan toksisitasnya adalah benzene, toluene dan xylene. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko kesehatan terkait pajanan benzene, toluene dan xylene pekerja kilang minyak san gas di PT. X. Penelitian ini menganalisis data sekunder pajanan personal BTX melalui rute inhalasi menggunakan active sampler. Dengan menggunakan metode Chemical Health Risk Assessment (CHRA) dari Department of Safety and Health, Malaysia ditemukan bahwa risiko pajanan benzene pada SEG CDU (crude distillation unit) terkategori risiko sangat tinggi. Untuk pajanan toluene dan xylene berada pada tingkat risiko kesehatan rendah pada hampir seluruh SEG. Berdasarkan hasil penelitian, diperlukan pengendalian yang tepat untuk mengatasi pajanan benzene, toluene dan xylene. Salah satu pengendalian yang direkomendasikan adalah meningkatkan konsistensi penggunaan alat pelindung diri, monitoring pajanan secara kontinu, melaksanakan biomonitoring dan pemeriksaan sel darah tepi.

Workers in oil and gas production units are at risk of exposure to various chemical hazards. One of the chemical components of petroleum is volatile organic compounds (VOC), with examples of materials known for their toxicity being benzene, toluene and xylene. This study aims to analyze health risks related to exposure to benzene, toluene and xylene of oil and gas refinery workers at PT. X. This study analyzes secondary data on personal exposure to BTX via the inhalation route using an active sampler. Using the Chemical Health Risk Assessment (CHRA) method from the Department of Safety and Health, Malaysia, it was found that the risk of benzene exposure in the SEG CDU (crude distillation unit) was categorized as very high risk. Exposure to toluene and xylene is at a low health risk level in almost all SEGs. Based on the research results, appropriate control is needed to overcome exposure to benzene, toluene and xylene. One of the recommended controls is increasing the consistent use of personal protective equipment, continuous monitoring of exposure, carrying out biomonitoring and examining peripheral blood cells.
Read More
S-11650
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Trie Annita Marchelia; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Hendra, Yoyok Priyowiwoho
Abstrak: Kegiatan ramp handling merupakan kegiatan yang sangat vital dalam dunia ground handling karena dapat mempengaruhi keselamatan pekerja hingga penumpang dan crew. Berdasarkan data dari IATA, untuk masalah keamanan antara tahun 2005 dan 2010, Indonesia mencatat total 33 kecelakaan; dan tiga dari empat kecelakaan di Indonesia pada tahun 2010 adalah kecelakaan dilandasan pacu. Selain itu, berdasarkan data PT. X hingga tahun 2014 tercatat setiap tahunnya terjadi kecelakaan kerja di area kerja ramp. Tingginya risiko keselamatan kerja disertai dengan kontak pekerja dengan GSE sebagai alat bantu pelayanan dan terbatasnya area gerak di ramp membuat peneliti melakukan penelitian dengan tujuan akhir untuk dapat menentukan tingkat risiko dengan melakukan penilaian risiko pada setiap tahapan proses pekerjaan ramp handling yang dilakukan oleh PT. X di Bandara International Soekarno Hatta tahun 2015 yang meliputi tahapan pre-flght, tahapan on-ground, dan tahapan post-flight. Penilaian risiko diawali dengan melakukan identifikasi bahaya/hazard dan uninspected event sesuai tahapan ramp yang kemudian dilanjutkan dengan proses analisis risiko K3 dengan menentukan nilai kemungkinan dan nilai konsekuensi. Nilai kemungkinan merupakan hasil perkalian antara nilai pajanan dan kemungkinan. Nilai-nilai tersebut kemudian dibandingkan dengan level risiko semi kuantitatif dalam standar AS/NZS 4360:2009. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan risiko tertinggi pada tahap pre-flight yaitu risiko/potensi terpapar bising, pada tahap on-ground berupa terpapar bising dan risiko tersedot mesin pesawat, dan tahap post-flight berupa risiko terpapar bising. Tingkat risiko yang telah didapatkan kemudian diberikan rekomendasi pengendalian oleh peneliti untuk perusahaan sehingga tingkat risiko kerja menurun dan angka kecelakaan kerja juga menurun.
Kata kunci : Ramp handling, GSE, AS/NZS 4360:2009, kemungkinan, pajanan, dan konsekuensi.
Read More
S-8644
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizki Rahmawati; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Fitri Kurniasari, Elsye As Safira, Emanuel Eko Haryanto
Abstrak:
Industri pupuk memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional, meskipun tetap menghadapi risiko kesehatan pekerja akibat pajanan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat risiko kesehatan (Risk Rating/RR) terkait pajanan bahan kimia pada pekerja di industri pupuk tahun 2024. Penilaian risiko kesehatan dilakukan menggunakan Chemical Health Risk Assessment (CHRA) yang dikembangkan oleh Departemen Occupational Safety and Health (DOSH), Malaysia (2018). Penilaian meliputi aktivitas bongkar muat bahan kimia, pengambilan sampel laboratorium, dan penambahan bahan penolong, dengan jalur pajanan inhalasi dan dermal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aktivitas bongkar muat, tingkat risiko inhalasi dan dermal berkisar dari sedang hingga berat (RR inhalasi bernilai 9-15; RR dermal bernilai M1 dan H1). Aktivitas pengambilan sampel menunjukkan tingkat risiko inhalasi sedang hingga berat (RR bernilai 6-10) dan tingkat risiko dermal sedang (RR bernilai M1). Pada aktivitas penambahan bahan penolong, tingkat risiko inhalasi sedang (RR bernilai 9-10) dan risiko dermal sedang hingga berat (RR bernilai M1 dan H1). Pengendalian risiko yang ada di PT X belum cukup efektif, sehingga tindakan perbaikan yang direkomendasikan meliputi: evaluasi substitusi penggunaan gas klorin, desain ulang stasiun pengisian asam sulfat, mechanical integrity untuk peralatan kritis, penggunaan alat bantu pengambilan sampel bahan kimia cair, menyusun instruksi kerja dan memberikan pelatihan terkait bahaya dan pengendalian bahan kimia, konsistensi penggunaan alat pelindung diri (APD), menerapkan respiratory protection program secara menyeluruh, kesiapan menghadapi keadaan darurat, pemantauan pajanan secara personal, dan pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi pekerja non organik yang terpajan bahan kimia. Implementasi rekomendasi ini diharapkan dapat menurunkan tingkat risiko kesehatan terkait bahan kimia pada pekerja di industri pupuk.

The fertilizer industry has a strategic role in supporting national food security, although it still faces workers' health risks due to exposure to hazardous and toxic substances (B3). This study aims to analyze the level of health risk (Risk Rating/RR) related to chemical exposure to workers in the fertilizer industry in 2024. The health risk assessment was carried out using the Chemical Health Risk Assessment (CHRA) developed by the Department of Occupational Safety and Health (DOSH), Malaysia (2018). The assessment includes chemical loading and unloading activities, taking laboratory samples, and adding adjuvants, with inhalation and dermal exposure routes. The research results show that in loading and unloading activities, the level of inhalation and dermal risk ranges from moderate to severe (inhalation RR is 9-15; dermal RR is M1 and H1). Sampling activities indicate a moderate to severe inhalation risk level (RR value 6-10) and a moderate dermal risk level (RR value M1). In the activity of adding adjuvants chemical, the level of inhalation risk is moderate (RR is 9-10) and the dermal risk is moderate to severe (RR is M1 and H1). Existing risk control at PT X is inadequate, so the following corrective actions are recommended: evaluating alternatives to chlorine gas, redesigning the sulfuric acid filling station, mechanical integrity for critical equipment, using liquid chemical sampling aids, compiling work instructions, and providing hazardous and chemical control training. For non-organic workers who are exposed to chemicals, it is important to use personal protection equipment (PPE) consistently, respiratory protection program, be prepared for emergencies, monitor personal exposure, and have frequent health tests. The implementation of these guidelines is likely to reduce chemical-related health risks for fertilizer industry personnel.
Read More
T-7027
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aji Dwi Yuniarso; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Mila Tejamaya, Muthia Ashifa, Listya Eka Anggraini
Abstrak:
Penggunaan bahan kimia berbahaya seperti formaldehida, fenol, dan senyawa azo dalam industri pewarna tekstil menimbulkan risiko serius terhadap kesehatan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat risiko kesehatan akibat pajanan bahan kimia di Industri Pewarna Tekstil PT X tahun 2025. Metode yang digunakan adalah penilaian risiko kesehatan berbasis pendekatan Chemical Health Risk Assessment (CHRA) dari DOSH Malaysia, penilaian dilakukan terhadap dua rute pajanan yaitu inhalasi dan dermal dengan menilai Hazard Rating (HR) untuk menentukan tingkat bahaya bahan kimia berdasarkan sifat toksikologi, Exposure Rating (ER) untuk menilai frekuensi, durasi, dan intensitas pajanan melalui inhalasi dan dermal, serta Risk Rating (RR) sebagai hasil dari HR dikalikan dengan ER. Metode pengumpulan data mencakup observasi lapangan, wawancara, dan kuesioner terhadap pekerja produksi dan laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar bahan kimia tergolong dalam kategori risiko tinggi dengan jalur pajanan utama melalui inhalasi dan dermal. Data klinik menunjukkan tingginya kasus ISPA pada pekerja. Evaluasi mengindikasikan bahwa pengendalian yang diterapkan belum sepenuhnya memadai. Rekomendasi mencakup peningkatan sistem pengendalian teknis, administratif, dan pelatihan pekerja. Penilaian ini menjadi dasar penting dalam upaya pencegahan penyakit akibat kerja dan peningkatan program K3.

The use of hazardous chemicals such as formaldehyde, phenol, and azo compounds in the textile dye industry poses serious risks to workers' health. This study aims to analyze the level of health risk due to chemical exposure in the Textile Dye Industry of PT X in 2025. The method used is a health risk assessment based on the Chemical Health Risk Assessment (CHRA) approach from DOSH Malaysia, the assessment is carried out on two routes of exposure, namely inhalation and dermal by assessing the Hazard Rating (HR) to determine the level of chemical hazard based on toxicological properties, Exposure Rating (ER) to assess the frequency, duration, and intensity of exposure through inhalation and dermal, and Risk Rating (RR) as the result of HR multiplied by ER. Data collection methods include field observations, interviews, and questionnaires with production and laboratory workers. The results showed that most chemicals are classified as high-risk with the main exposure routes through inhalation and dermal. Clinical data showed high cases of ARI in workers. The evaluation indicated that the controls implemented were not fully adequate. Recommendations include improving the technical, administrative, and worker training control systems. This assessment is an important basis for efforts to prevent work-related diseases and improve K3 programs.

Read More
T-7374
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive