Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32608 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Muhamad Ridwan; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Milla Herdayati, Soewarta Kosen, Muhammad Subali
Abstrak:
Pengguna rokok elektronik tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat umum, namun juga terjadi di kalangan mahasiswa, yang seharusnya menjadi contoh dalam berperilaku hidup sehat, keadaan ini mendorong mahasiswa dalam kondisi disonansi. Disonansi kognitif adalah diskrepansi atau kesenjangan yang terjadi antara dua elemen kognitif yang tidak konsisten, menciptakan ketidaknyamanan psikologis.Tujuan penelitian ini ialah untuk menggambarkan disonansi kognitif pada mahassiswa yang menggunakan rokok elektronik di Universitas Cendekia Abditama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan dengan metode pnemenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dilaksanakan pada bulan Juni 2023 pada 20 informan meliputi 16 mahasiswa perokok elektronik, 2 orang staff dosen dan 2 orang teman sebaya. Hasil penelitian menunjukan disonansi kognitif pada mahasiswa keperawatan lebih tinggi dari mahasiswa teknik ditinjau dari sumber elemen penyebab disonansi meliputi, inkonsistensi logika, nilai budaya, pendapat umum, dan pengalaman masa lalu, sedangkan gambaran cara mengatasi disonansi didapatkan dengan mengubah elemen tingkah laku, mengubah elemen kognitif lingkungan dan menambah elemen kognitif baru.

The use of electronic cigarettes does not only occur among the general public, but also among university students, who should be an example of healthy living behavior, this situation encourages students to be in a state of dissonance. Cognitive dissonance is a discrepancy or gap that occurs between two inconsistent cognitive elements, creating psychological discomfort. The aim of this research is to describe cognitive dissonance in students who use electronic cigarettes at Cendekia Abditama University. This study uses a qualitative approach, with the pnemenology method. Data collection was carried out by in-depth interviews carried out in June 2023 with 20 informants including 16 students who use electronic cigarettes, 2 lecturer staff and 2 peers. The results showed that cognitive dissonance in nursing students was higher than engineering students in terms of the source of the elements causing the dissonance including, logical inconsistency, cultural values, public opinion, and past experiences, while an overview of how to overcome dissonance was obtained by changing behavioral elements, changing cognitive elements. environment and add new cognitive elements.
Read More
T-6783
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aulia Anisya; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dian Ayubi, Annisa Marlin Masbar Rus
Abstrak: Latar Belakang: Rokok elektronik saat ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Selama 10 tahun terakhir terdapat peningkatan signifikan pengguna rokok elektronik di Indonesia antara tahun 2011 hingga 2021 yaitu dari 0,3% menjadi 3,0%. Penelitian terdahulu di Universitas Indonesia menunjukkan bahwa frekuensi penggunaan rokok elektronik secara rutin mencapai 50%. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku penggunaan rokok elektronik pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan studi cross-sectional. Hasil: Hasil uji chi square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara faktor-faktor jenis kelamin (p=0,021), pengetahuan (p=0,027), perceived susceptibility (p=<0,001), perceived severity (p=<0,001), perceived benefits (p=<0,001), perceived barriers (p=<0,001), self-efficacy (p=<0,001), dan cue to action (p=<0,001) dengan perilaku penggunaan rokok elektronik. Namun pada faktor umur ditemukan tidak ada hubungan yang signifikan (p=0,062). Diskusi: Faktor-faktor dalam Health Belief Model seperti faktor demografi (jenis kelamin dan pengetahuan), perceived susceptibility, perceived severity, benefits, barriers, self-efficacy, dan cue to action terbukti berpengaruh terhadap perilaku penggunaan rokok elektronik pada mahasiswa.
Background: Electronic cigarettes have now become part of the lifestyle. Over the past 10 years, there has been a significant increase in electronic cigarette users in Indonesia between 2011 and 2021, from 0.3% to 3.0%. Previous research at the University of Indonesia showed that the frequency of regular use of electronic cigarettes reached 50%. Objectives: This study aims to analyze the factors associated with electronic cigarette use behavior among students of the Faculty of Engineering, University of Indonesia. Methods: This research uses a quantitative design with a cross-sectional study. Results: The results of the chi-square test showed a significant relationship between the factors of gender (p = 0.021), knowledge (p = 0.027), perceived susceptibility (p = <0.001), perceived severity (p = <0.001), perceived benefits (p = <0.001), perceived barriers (p = <0.001), self-efficacy (p = <0.001), cue to action (p = <0.001) with the behavior of using electronic cigarettes. However, the age factor found no significant relationship (p=0.062). Conclusion: Factors in the HBM such as demographic factors, perceived susceptibility, perceived severity, benefits, barriers, self-efficacy, and cue to action are proven to influence the behavior of using electronic cigarettes in college students. 
Read More
S-11863
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Winda Widyanty; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Rita Damayanti, Tri Krianto, Melyana Lumbantoruan, Ananda
Abstrak:
Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta termasuk ke dalam lima provinsi dengan proporsi penggunaan rokok elektronik tertinggi di Indonesia, khususnya pada kelompok usia muda termasuk mahasiswa  . Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku penggunaan rokok elektronik pada mahasiswa di DKI Jakarta menggunakan pendekatan Problem Behavior Theory (PBT). Teori ini digunakan karena mampu menjelaskan bagaimana perilaku menyimpang, termasuk penggunaan zat adiktif seperti rokok elektronik, terbentuk melalui interaksi kompleks antara faktor individu, lingkungan sosial, dan sistem perilaku. Penelitian ini melibatkan 281 mahasiswa berusia 20–24 tahun dari lima wilayah administratif Jakarta sebagai responden. Data dikumpulkan secara daring dan dianalisis dengan statistik deskriptif, uji chi-square, dan regresi logistik berganda. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 17,8% responden merupakan pengguna   aktif rokok elektronik, 35,9% pernah mencoba rokok elektronik, dan 41% mengaku telah berhenti menggunakan rokok elektronik. Dari pengguna aktif rokok elektronik, 56% menggunakannya setiap hari dan sebagian besar telah menggunakannya lebih dari dua tahun. Alasan utama penggunaan rokok elektronik meliputi rasa, aroma, kepraktisan, serta persepsi sebagai alternatif rokok konvensional. Faktor signifikan yang mempengaruhi perilaku penggunaan rokok elektronik mencakup jenis kelamin, struktur keluarga, perilaku merokok orang tua, kecocokan nilai orang tua dan teman, serta penolakan teman terhadap perilaku menyimpang dengan jenis kelamin sebagai sebagai variabel yang paling dominan, di mana mahasiswa laki-laki memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk menjadi pengguna rokok elektronik dibandingkan perempuan  . Rekomendasi difokuskan pada pengembangan modul promosi kesehatan berbasis gender dan keluarga bersama perguruan tinggi, penguatan surveilans serta kawasan bebas rokok di kampus, pemanfaatan media digital dan sosial untuk edukasi, pemberdayaan mahasiswa sebagai peer leader dan micro-influencer, serta monitoring partisipatif melalui umpan balik digital. Penelitian lanjutan disarankan menggunakan pendekatan longitudinal untuk memahami dinamika jangka panjang.
The Province   of Jakarta is is among the top five provinces in Indonesia with the highest proportion of electronic cigarette use, particularly among young people, including university students. This study aimed to identify the factors influencing electronic cigarette use behavior among college students in Jakarta by employing the Problem Behavior Theory (PBT) framework. This theory was selected because it effectively explains how deviant behaviors, including the use of addictive substances such as electronic cigarettes, are formed through complex interactions among individual factors, the social environment, and behavioral systems. The study involved 281 college students aged 20–24 years from the five administrative regions of Jakarta who served as respondents. Data were collected online and analyzed using descriptive statistics, chi-square tests, and multiple logistic regression. The results showed that 17.8% of respondents were active users of electronic cigarettes, 35.9% had tried using them, and 41% reported having quit. Among active users, 56% used electronic cigarettes daily, and most had been using them for more than two years. The primary reasons for using electronic cigarettes included taste, aroma, convenience, and the perception of e-cigarettes as an alternative to conventional cigarettes. Significant factors influencing electronic cigarette use behavior included gender, family structure, parental smoking behavior, congruence of values between parents and peers, and peer rejection of deviant behavior, with gender emerging as the most dominant factor, indicating that male students were more likely to use electronic cigarettes than female students. The recommendations focus on developing gender- and family-based health promotion modules in collaboration with universities, strengthening surveillance systems and smoke-free zones on campuses, utilizing digital and social media for educational outreach, empowering students as peer leaders and micro-influencers, and implementing participatory monitoring through digital feedback mechanisms. Further research using longitudinal approaches is recommended to better understand the long-term dynamics of electronic cigarette use behavior

Read More
T-7388
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gadis Jelita; Pembimbing: Kartika Anggun Dimar Setio; Penguji: Dadan Erwandi, Sanyulandy Leowalu
Abstrak:
Perilaku seksual berisiko pada mahasiswa merupakan salah satu isu kesehatan reproduksi yang perlu mendapat perhatian karena dapat meningkatkan risiko infeksi menular seksual, kehamilan yang tidak direncanakan, serta berbagai konsekuensi kesehatan lainnya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perilaku tersebut dipengaruhi oleh faktor personal maupun faktor lingkungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor demografi, self-efficacy, komunikasi seksual, dan norma sosial dengan perilaku seksual berisiko pada mahasiswa yang belum menikah di Universitas Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Data dianalisis secara univariat untuk menggambarkan karakteristik responden dan setiap variabel penelitian. Selanjutnya, analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Mann–Whitney, Kruskal–Wallis, dan korelasi Spearman dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan skor perilaku seksual berisiko berdasarkan usia (p = 0,117), jenis kelamin (p = 0,061), tempat tinggal (p = 0,439), maupun uang saku (p = 0,147). Sebaliknya, self-efficacy memiliki hubungan negatif dengan perilaku seksual berisiko (ρ = -0,400; p < 0,001) dengan kekuatan hubungan sedang. Komunikasi seksual juga menunjukkan hubungan negatif yang signifikan (ρ = -0,172; p = 0,022), meskipun kekuatan hubungannya sangat lemah. Selain itu, norma sosial berhubungan negatif secara signifikan dengan perilaku seksual berisiko (ρ = -0,271; p < 0,001) dengan kekuatan hubungan lemah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa dengan self-efficacy yang lebih tinggi, kemampuan komunikasi seksual yang lebih baik, serta norma sosial yang lebih positif cenderung memiliki perilaku seksual berisiko yang lebih rendah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa karakteristik demografi tidak berhubungan dengan perilaku seksual berisiko, sedangkan self-efficacy, komunikasi seksual, dan norma sosial memiliki hubungan yang signifikan. Oleh karena itu, upaya pencegahan perilaku seksual berisiko pada mahasiswa perlu diarahkan pada penguatan self-efficacy, peningkatan kemampuan komunikasi seksual, serta pembentukan lingkungan sosial yang mendukung pengambilan keputusan seksual yang sehat.

Risky sexual behavior among university students is a reproductive health issue requiring attention due to its potential to increase the risk of sexually transmitted infections, unplanned pregnancies, and various other health consequences. Studies indicate that such behavior is influenced by both personal and social-environmental factors. This study aimed to analyze the associations of demographic factors, self-efficacy, sexual communication, and social norms with risky sexual behavior among unmarried students at the University of Indonesia. A quantitative approach with a cross-sectional design was employed. Univariate analysis was conducted to describe respondent characteristics and each research variable. Subsequently, bivariate analysis was performed using the Mann–Whitney test, Kruskal–Wallis test, and Spearman correlation at a 95% significance level (α = 0.05). The results showed no significant differences in risky sexual behavior scores based on age (p = 0.117), gender (p = 0.061), place of residence (p = 0.439), or allowance (p = 0.147). Conversely, self-efficacy was negatively associated with risky sexual behavior (ρ = -0.400; p < 0.001), indicating a moderate-strength relationship. Sexual communication also showed a significant negative association (ρ = -0.172; p = 0.022), albeit with very weak strength. Additionally, social norms were significantly negatively associated with risky sexual behavior (ρ = -0.271; p < 0.001), with a weak relationship strength. These findings indicate that students with higher self-efficacy, better sexual communication skills, and more positive social norms tend to exhibit lower levels of risky sexual behavior. The study concludes that while demographic characteristics are not associated with risky sexual behavior, self-efficacy, sexual communication, and social norms show significant associations. Therefore, efforts to prevent risky sexual behavior among students should focus on strengthening self-efficacy, improving sexual communication skills, and fostering a social environment that supports healthy sexual decision-making.
Read More
S-12467
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Safitri; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Ratna Djuwita, Herdis Herdiansyah, Legis Novianthy, Sri Herlin K.
Abstrak:
Timbulan food waste tidak hanya menyebabkan kerugian ekonomi, sosial dan lingkungan, namun juga menyebabkan masalah kesehatan. Mahasiswa, sebagai kelompok dewasa muda, memiliki kecenderungan tinggi dalam menghasilkan food waste, terutama di area kantin kampus. Penelitian pada tesis ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku food waste mahasiswa di kantin universitas. Metode yang digunakan adalah mixed method dengan embedded design. Penelitian kuantitatif sebagai penelitian utama dan penelitian kualitatif sebagai penelitian penunjang. Pengisian kuesioner dilakukan terhadap 160 responden dengan analisis data menggunakan model mediasi PROCESS dari Hayes. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa faktor sosiodemografi meliputi jenis kelamin, umur, biaya hidup per bulan, klaster fakultas, asal daerah dan pengaturan tempat tinggal tidak berhubungan signifikan dengan niat perilaku food waste. Namun, biaya hidup per bulan berhubungan signifikan dengan frekuensi perilaku food waste dan faktor pengaturan tempat tinggal berhubungan signifikan dengan estimasi jumlah food waste yang ditimbulkan. Sikap dan perceived behavioral control determinan signifikan perilaku, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui niat (p<0.05 dan 95% CI tidak mencakup 0). Norma subjektif merupakan determinan signifkan perilaku food waste jika di mediasi oleh niat (b=0.217, 95% CI [0.117; 0.325]). Sementara pada variabel personal norm, tidak terbukti sebagai determinan perilaku food waste (p>0.05 dan 95% CI mencakup 0). Disarankan Universitas Indoneisa dapat melakukan upaya edukasi yang difokuskan pada penguatan sikap dan persepsi kontrol mahasiswa terhadap food waste sehingga mahasiswa merasa mampu untuk mencegah timbulan food waste di lingkungan kampus.

The generation of food waste not only causes economic, social, and environmental losses, but also poses health problems. University students, as a group of young adults, tend to generate a significant amount of food waste, particularly in campus canteens. This thesis aims to identify the factors associated with students’ food waste behavior in university canteen settings. A mixed method with an embedded design was employed, in which the quantitative method served as the primary method and the qualitative method as a complementary method. The quantitative phase involved 160 respondents, and data were analyzed using Hayes' PROCESS mediation model. The results revealed that sociodemographic factors including gender, age, monthly living expenses, faculty cluster, place of origin, and housing arrangement were not significantly associated with the intention of food waste. However, monthly living expenses were significantly associated with the frequency of food waste behavior, and housing arrangements were significantly associated with the estimated amount of food waste generated. Attitude and perceived behavioral control were found to be significant determinants of food waste behavior, both directly and indirectly through intention (p < 0.05, 95% CI excluding 0). Subjective norm also emerged as a significant determinant of food waste behavior when mediated by intention (b = 0.217, 95% CI [0.117; 0.325]). In contrast, personal norm was not identified as a determinant of food waste behavior (p > 0.05, 95% CI including 0). It is recommended that Universitas Indonesia implement educational efforts focused on strengthening students’ attitudes and perceived behavioral control toward food waste, thereby empowering students to actively prevent food waste generation on campus.
Read More
T-7430
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Meitasari; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Evi Martha, Christiana R. Titaley, Nur Fatayani
Abstrak:
Berbagai permasalahan kesehatan termasuk di Maluku diduga berhubungan dengan literasi kesehatan. Beberapa studi menyatakan masih terdapat tingkat literasi kesehatan yang terbatas, termasuk pada mahasiswa. Penelitian tentang literasi kesehatan pada mahasiswa khususnya di Indonesia bagian timur, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat literasi kesehatan pada mahasiswa program sarjana reguler di Universitas Pattimura dan faktor-faktor yang berhubungan dengannya. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder dari Studi Literasi Kesehatan 2019 dengan sampel mahasiswa sarjana angkatan 2018 dari 9 fakultas di Universitas Pattimura (n=356) dengan desain potong lintang. Pengukuran literasi kesehatan dilakukan menggunakan instrumen European Health Literacy Survey Question 16 (HLS-EU-Q16) yang telah diadaptasi ke dalam konteks dan Bahasa Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan tingkat literasi kesehatan terbatas dengan rata-rata skor sebesar 32,94 (SD=6,81) skala 0-50. Faktor yang berhubungan dengan tingkat literasi kesehatan adalah suku orang tua (p=0,002), kepemilikan asuransi kesehatan (p=0,029), dan riwayat penyakit (p=0,001). Faktor yang paling dominan adalah riwayat penyakit. Diperlukan intervensi yang bersifat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan literasi kesehatan pada mahasiswa.

Various health issues, notably in Maluku, are thought to be linked to health literacy. Several studies state that there is still a limited level of health literacy, including among students. Research on health literacy among students, particularly in eastern Indonesia, is still limited. This research aims to determine the level of health literacy among regular undergraduate students at Pattimura University and the factors related to it. This research is a secondary data analysis from the 2019 Health Literacy Study with a sample of 2018 undergraduate students from 9 faculties at Pattimura University (n=356) with a cross-sectional design. Health literacy was measured using the European Health Literacy Survey Question 16 (HLS-EU-Q16) instrument which has been adapted to the Indonesian context and language. The results of this study show a limited level of health literacy with an average score of 32.94 (SD=6.81) on a scale of 0-50 . Factors related to the level of health literacy were parents' ethnicity (p=0.002), health insurance ownership (p=0.029), and medical history (p=0.001). The most dominant factor is medical history. Interventions are needed that increase knowledge and skills to increase health literacy in students
Read More
T-7014
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Editha Aldillasari Rodianto; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Dian Ayubi, Evi Martha, Ruslan Majid, Dwi Adi Maryadi
Abstrak:
Literasi kesehatan merupakan salah satu upaya promosi kesehatan dalam mencegah dan menurunkan perilaku berisiko penyakit tidak menular yang kini banyak menyerang usia remaja akhir dan dewasa muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat literasi kesehatan pada mahasiswa program sarjana di Universitas Halu Oleo (UHO) dan faktor-faktor yang berhubungan dengannya. Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan data sekunder dari Studi Literasi Kesehatan 2019 (n=341). Desain penelitian yang digunakan merupakan penelitian potong lintang (cross-sectional). Pengukuran literasi kesehatan menggunakan Health Literacy Scale European Union (HLS-EU-Q16) berisikan 16 pertanyaan yang telah diadaptasi. Analisis menggunakan regresi linier berganda dengan literasi kesehatan sebagai variabel terikat dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, seperti jenis kelamin, status tempat tinggal, suku, uang saku, akses informasi kesehatan, dan kepemilikan asuransi kesehatan sebagai variabel bebas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat literasi kesehatan mahasiswa UHO tergolong cukup baik (M= 46,55; SD=7,376). Hasil regresi linier berganda menunjukkan hubungan yang signifikan antara akses informasi kesehatan (β=0.17, p=0.001) dan kepemilikan asuransi kesehatan (β=0.12, p=0.017) dengan status tempat tinggal sebagai variabel perancu. Koefisien determinasi pada penelitian ini sebesar 5% menandakan hubungan yang lemah antara literasi kesehatan dan faktor-faktor yang berhubungan. Diperlukan upaya pengembangan program edukasi terkait literasi kesehatan interaktif dan kritikal dalam meningkatkan literasi kesehatan pada mahasiswa UHO.

Health literacy is one of the health promotion efforts in preventing and reducing the risk behavior of non-communicable diseases that nowadays attack late adolescents and young adults. This study aims to determine the level of health literacy among undergraduate students at Halu Oleo University (UHO) and the factors related to it. This research is a cross-sectional study and uses secondary data from Health Literacy Study 2019 (n=341). Health literacy measurement uses the European Union's Health Literacy Scale (HLS-EU-Q16) contains 16 questions that have been adapted. The analysis uses multiple linear regression with health literacy as the dependent variable and the factors that influence it, such as gender, residence status, ethnicity, pocket money, access to health information, and ownership of health insurance as independent variables. The results showed that the health literacy level of UHO students was quite good (M=46.55; SD=7.376). The results of multiple linear regression showed a significant relationship between access to health information (β=0.17, p=0.001) and ownership of health insurance (β=0.12, p=0.017) with residence status as a confounding variable. The coefficient of determination in this study was obtained at 5% which means a weak relationship between health literacy and related factors. Efforts are needed to develop educational programs related to interactive and critical health literacy in improving health literacy in UHO students.
Read More
T-6688
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dhita Yoana; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Dien Anshari, Fidiansjah
S-10323
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitroh Nurbayani Habiebah; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Ika Malika
Abstrak: tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dan strategi coping pada mahasiswa program sarjana reguler Universitas Indonesia dengan menggunakan desain studi potong lintang. Pengambilan 361 sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dengan proporsi kuota berdasarkan rumpun keilmuan yang terdapat di Universitas Indonesia. Tingkat Stres diukur menggunakan Perceived Stress Scale (PSS10) dan strategi coping diukur menggunakan Brief-COPE yang dilakukan secara daring. Penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata skor PSS-10 sebesar 20,76 dari skala 5-37 dengan tingkat stres mahasiswa sebagian besar mengalami stres sedang (67,9%), tingkat stres ringan (16,6%), dan tingkat stres berat (15,5%) serta strategi coping yang lebih sering digunakan oleh mahasiswa program sarjana reguler Universitas Indonesia adalah problem-focused coping dengan rata-rata skor berdasarkan subskalanya sebesar 2,7584. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan problem-focused coping (p>0,005) dan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan emotion-focused coping (p<0,001). Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka diperlukan pembuatan program intervensi dan edukasi promosi kesehatan mengenai stres dan strategi coping bagi mahasiswa saat pandemi COVID-19.
Read More
S-10805
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Risiya Sunarni; Pembimbing: Tiara Amelia; Penguji: Evi Martha, Arustiyono
Abstrak: Penelitian ini menjelaskan tentang gambaran pengetahuan, sikap, dan perilaku penggunaan produk pencerah kulit pada mahasiswa Universitas Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Penelitian ini menggunakan teknik Proportional Stratified Random Sampling yang diikuti sebanyak 200 responden dengan mengisi kuesioner daring berbasis google form. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (10%) mahasiswa UI pernah menggunakan produk pencerah kulit dan (70,5%) menggunakan produk pencerah kulit setahun terakhir. Selain itu, (42,5%) mahasiswa UI memiliki pengetahuan yang rendah tentang kandungan bahan aktif produk pencerah kulit, (61,5%) mahasiswa UI memiliki sikap yang positif yang tinggi terhadap kulit yang cerah cerah dan produk pencerah kulit.
Read More
S-10718
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive