Ditemukan 33152 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Dengue haemorrhagic fever (DHF) is a disease that frequently affects Indonesia and caused by the dengue virus from infected Aedes aegypti mosquitoes. Climatic factors are known to affect DHF incidence. In 2014-2020, Bogor Regency became the region with the highest DHF deaths in West Java. This study aims to analyze several climatic factors with DHF incidence in Bogor Regency in 2017-2021 using an ecological study design. Using Spearman?s rank correlation coefficient, the results indicate that humidity (r=0,351; p=0,006) and rainfall (r=0,258; p=0,046) have a moderate effect on DHF incidence, while temperature has no effect on DHF incidence (p>0,05).
Malaria menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan terutama di wilayah tropis dan subtropis. menurut organisasi kesehatan dunia WHO, sekitar 249 juta kasus malaria dilaporkan di 85 negara endemik [1]. Kabupaten Banjarnegara merupakahn salah satu wilayah peringkat ketiga di Jawa tengah di wilayah dataran tinggi. Kejadian malaria dapat dikaitkan dengan berbagai faktor, termasuk iklim seperti suhu, curah hujan dan kelembapan yang dapat memengaruhi dinamika populasi nyamuk Anpheles, yang merupakan vektor utama malaria. Studi ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana faktor iklim dan kejadian malaria di Kabupaten Banjarnegara selama periode 2014-2024. Metode penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan pendekatan time-trend analisis. Data kejadian malaria di Indonesia, serta data iklim dari Dinas Kesehatan Banjarnegara, dan BMKG dan POWER NASA. Data diolah menggunakan teknik korelasi dan regresi linier berganda. Hasil analisis bivariat suhu udara menunjukkan hubungan yang lebih stabil dan signifikan secara statistik terhadap peningkatan kasus malaria. Korelasi paling kuat dan signifikan ditemukan pada tahun 2018 (r = 0,646; p = 0,014), dengan uji Pearson. Analisis multivariat nilai (B = 2.381). Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,239 menunjukkan bahwa model dapat menjelaskan sekitar 23.9% variasi kejadian malaria. Ini mengindikasikan bahwa setiap kenaikan suhu sebesar 1°C berkorelasi dengan peningkatan rata-rata 2,38 kasus malaria per bulan. Hasil ini mencerminkan bahwa meskipun faktor iklim memiliki kontribusi terhadap kejadian malaria, masih terdapat faktor lain di luar model yang turut memengaruhi.
Kata kunci:
Curah Hujan, Kabupaten Banjarnegara, Kelembapan Relatif, Malaria, Suhu.
Malaria remains a significant public health challenge, particularly in tropical and subtropical regions. According to the World Health Organization (WHO), approximately 249 million malaria cases were reported across 85 endemic countries. Banjarnegara Regency, located in a highland area, ranks third in malaria incidence in Central Java. Malaria transmission is influenced by various factors, including climatic variables such as temperature, rainfall, and humidity, which affect the population dynamics of Anopheles mosquitoes—the primary vectors of malaria. This study aims to analyze the relationship between climatic factors and malaria incidence in Banjarnegara Regency from 2014 to 2024. An ecological study design with a time-trend analytical approach was employed. Malaria incidence data were obtained from the Banjarnegara Health Office, while climate data were sourced from the Meteorological, Climatological, and Geophysical Agency (BMKG) and NASA POWER. Data were analyzed using correlation and multiple linear regression techniques. Bivariate analysis showed that air temperature had a more stable and statistically significant association with malaria cases. The strongest and most significant correlation was observed in 2018 (r = 0.646; p = 0.014) using Pearson’s test. In multivariate analysis, the regression coefficient (B = 2.381) and the coefficient of determination (R² = 0.239) indicated that the model explains approximately 23.9% of the variation in malaria incidence. This suggests that each 1°C increase in temperature is associated with an average increase of 2.38 malaria cases per month. These findings highlight that while climatic factors contribute to malaria incidence, other factors beyond the model also play a significant role. Keywords: Banjarnegara Regency, Malaria, Rainfall, Relative Humidity, Temperature. Correspondence Syifa Rifqa Ainur Rahmah. Masters Program in Public Health, Universitas Indonesia, Depok, West Java. Email: syifarifqa.a.r@gmail.com Mobile: 081380376644
Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a viral infection transmitted to humans through the bite of an infected mosquito. The main vectors that transmit the dengue virus are Aedes aegypti and Aedes albopictus. The city with the highest number of dengue cases in Indonesia in 2021 is Depok City with 3,155 cases with an Incidence Rate (IR) of 151.2 cases per 100,000 population. During the last 10 years from 2012-2020, the trend of dengue cases in Depok City tends to increase. Objective: To determine the relationship between climatic factors and population density with the incidence of DHF in Depok City in 2012-2021. Methods: This study uses an ecological study with correlation analysis to see the relationship between climatic factors (temperature, humidity, and rainfall) in the same month (non-time lag), climatic factors with a 1-month lag (time lag 1), and density population with DHF Incidence Rate. Results: The correlation analysis results showed a significant relationship between non-time lag humidity and time lag 1 humidity with DHF Incidence Rate (p = 0.000 and p = 0.000) with the strength of the relationship being positive (r = 0.332 and r-0.451). The results of the multiple linear regression test produce a predictive model with the equation IR DBD = -47.353 + 0.784 (Temperature) + 0.394 (Relative Humidity) + 0.023 (Rainfall). Based on the results of the regression equation, if it is simulated with a combination of the temperature of 26,1oC, humidity of 82.9%, and rainfall of 14.9 mm, there will be an increase in IR of DHF by 10 cases per 100,000 population.
Latar Belakang : Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga saat ini masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama pada daerah perkotaan seperti Kota Administrasi Jakarta Barat. Variabel iklim berupa suhu udara, tingkat kelembaban, serta curah hujan diketahui berhubungan dengan perubahan jumlah kasus DBD karena faktor-faktor tersebut memengaruhi pertumbuhan dan aktivitas nyamuk Aedes spp. sebagai vektor penular penyakit. Kajian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara faktor iklim yang mencakup suhu udara, kelembaban udara, serta curah hujan terhadap kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Administrasi Jakarta Barat selama periode 2016–2025. Metode : Dalam kajian ini digunakan metode kuantitatif dengan rancangan ekologi time series untuk menganalisis data penelitian. Data yang dipakai merupakan data sekunder berupa jumlah kejadian DBD yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, sedangkan data terkait iklim seperti suhu udara, kelembaban udara, serta curah hujan bersumber dari NASA POWER. Teknik analisis yang diterapkan meliputi analisis univariat serta bivariat, dengan pengujian korelasi menggunakan Pearson atau Spearman berdasarkan hasil uji normalitas masing-masing variabel. Hasil : Temuan kajian ini memperlihatkan jika keterkaitan antara faktor iklim berupa suhu udara serta kelembaban udara terhadap kejadian DBD lebih dominan pada Lag 1 dibandingkan Lag 2. Hubungan negatif yang signifikan ditemukan pada tahun 2021 serta 2023. Di sisi lain, faktor iklim curah hujan memperlihatkan hubungan yang lebih kuat pada Lag 2 daripada Lag 1.
Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains one of the major public health problems in Indonesia, particularly in urban areas such as the Administrative City of West Jakarta. Climate variables, including air temperature, humidity levels, and rainfall, are known to be associated with changes in the number of DHF cases because these factors influence the growth and activity of Aedes spp. mosquitoes as disease vectors. This study was conducted to determine the relationship between climate factors, namely air temperature, air humidity, and rainfall, and the incidence of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in the Administrative City of West Jakarta during the 2016–2025 period. Methods: This study employed a quantitative method with a time-series ecological design to analyze the research data. The data used were secondary data consisting of the number of DHF cases obtained from the DKI Jakarta Provincial Health Office, while climate-related data such as air temperature, air humidity, and rainfall were sourced from NASA POWER. The analytical techniques applied included univariate and bivariate analyses, with correlation testing using Pearson or Spearman methods based on the normality test results of each variable.Results: The findings of this study indicate that the relationship between climate factors, specifically air temperature and air humidity, and DHF incidence was stronger at Lag 1 compared to Lag 2. Significant negative relationships were identified in 2021 and 2023. Meanwhile, the climate factor of rainfall demonstrated a stronger relationship at Lag 2 than at Lag 1.
Penyakit Malaria merupakan penyakit yang endemis di Indonesia. Penyakit Malaria sering dikaitkan dengan perubahan iklim, karena baik nyamuk Anopheles maupun Plasmodium sensitif terhadap perubahan iklim. Penelitian ini dilakukan di Desa Sigeblok, Kecamatan Banjarnangu, Kabupaten Banjrnegara untuk mengetahui apakah iklim dan kepadatan vektor berhubungan dengan kejadian Malaria di daerah tersebut. Penelitian ini merupakan studi korelasi dengan menggunakan data sekunder yang dikumpulkan sejak bulan Oktober 1999 hingga September 2001 oleh Stasiun Lapangan Pemberantas Vektor (SLPV) Banjamegara, Dinas Kesehatan Banjamegara, dan Kantor Badan Statistik Banjamegara. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata Man Biting Rule (MBR) per bulan adalah 0,09757 untuk An. aconirus, 0,05875 untuk An. maculatus, dan 0,009167 untuk An. balabacencis. Rata-rata per bulan faktor iklim adalah curah hujan 634, 5mm, jumlah hari hujan 15,08 hari, index hujan 308,83, suhu 25,52°C dan kelembaban 88,87%. Sedangkan rata-rata kejadian malaria adalah 33 per bulan. Hasil analisis bivariat memperlihatkan bahwa kejadian penyakit malaria bermakna secara statistik dengan dengan curah hujan (p=0,007), indeks hujan (p=0,027), serta berpola negalif dengan MBR An aconims (p==0,023)_ Tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik antara kejadian malaria dengan jumlah hari hujan, suhu, kelembaban, MBR A n. maculatus dan MBR An. balabacencis. Kesimpulan dari penelitian ini adalah curah hujan dan indeks hujan berhubungan secara bemakna dengan kejadian malaria, sedangkan MBR An. aconirus berhubungan secara bermakna dan berbanding terbalik dengan kejadian malaria. Jumlah hari hujan, suhu, kelembaban, MBR An. macrulatus dan MBR An. balabacencis tidak bermakna dengan kejadian malaria. Saran yang dapat diberikan adalah perlunya Dinas Kesehatan Banjamegara untuk melakukan program pencegahan kejadian malaria terutama menjelang musim hujan dengan cara mempersiapkan obat, melakukan penyemprotan, larva ciding, serta membenikan penyuluhan bagi masyarakat agar menghindari kontak dengan nyamuk dengan cara menggunakan kelambu, berpakaian yang menutupi permukaan kulit, serta tidak melakukan aktivitas di luar rumah pada malam hari. Bagi SLPV pengumpulan data, terutama yang berkaitan dengan usia nyamuk mendapatkan gambaran yang lebih baik mengenai hubungan antara iklim, kepada vektor dan kejadian malaria. Penelitian lanjutan lebih lengkap seperti data mengenai usia nyamuk serta bagaimana keadaan lingkungan biologi dari wilayah penelitian.
Malaria is an endemic disease in Indonesia. Malaria often related to climate, because both Anopheles mosquito and the Plasmodium are sensitive to climate change. This study was carried out in Sigeblok Village, Banjarmangu Sub District, Banjarnegara District, Central Java. The purpose of this study is to know whether climate and vector density are related to malaria incidence. This study is a correlation study using secondary data. Monthly data that was collected from October 1999 until September 2001 by Vector Control Field Station (SLPV Banjarnegara), Banjarnegara Health Service, and Banjarnegara Statistics Office. The study shows that the mean Man Biting Rate (MBR) per per month is 0,09757 for ,4«. aconitus, 0,05875 for An. maculates, and 0,009167 for An. balabacencis. The mean rainfall 634,5mm, raindays 15,08 days, rain index 308,83, temperature 25,52°C, humidity 88,87% and malaria incidence 33. The bivariate analysis shows that malaria incidence are statistically significant with rainfall (p=0,007), rainfall index (0,027), and it has a negative pattern with MBR An. aconitus (p=0,023). There are no statistically significant relation between malaria incidence with raindays, temperature, humidity, MBR An. maculatus and MBR An. balabacencis. The result of this study shows that rainfall, rain index are significantly correlated with malaria incidence, while MBR An. aconitus is significantly correlated and inversely proportional with malaria incidence. Raindays, temperature, humidity, MBR An. maculatus and MBR An. balabacencis has no significant relation with malaria incidence. Recommendation for Banjarnegara Health Service is to carry out a malaria prevention program especially when the rainy season is near by preparing medicines, larvaciding, and by giving elucidation to the community to avoid any contact with the mosquito by using mosquito net, clothes that covers the skin, and bay not doing activity outside the house at night- To SLPV Bartjarnegara, in collecting the data, there should be a data about mosquito longevity, so we can get a better picture on the association of climate, vector density, and malaria incidence. Continuation study on the same issue would be better if it contains more variable to be analyze such as mosquito longevity and biological environment in the study region.
