Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32733 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ignatia Widya Kristiari; Promotor: Sandra Fikawati; Kopromotor: Rita Damayanti; Penguji: Ahmad Syafiq, Martya Rahmaniati Makful, Anies Irawati; Widjaja Lukito; Bayu Krisnamurthi; Marthin Nanere
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan merancang intervensi berupa edukasi MPASI adekuat (WID-MPASI) bayi usia 6-12 bulan bagi ibu di lokus stunting kota Bogor. WID-MPASI berupa informasi yang dikembangkan dengan mempertimbangkan belief factors serta memanfaatkan beragam pangan lokal, disampaikan secara daring terkait pandemi COVID-19. Efektivitas intervensi diukur dengan membandingkan kelompok yang mendapatkan tambahan intervensi WID-MPASI disamping edukasi Pemerintah Kota Bogor (melalui kader atau langsung kepada ibu) dengan kelompok yang hanya mendapat edukasi Pemerintah Kota Bogor. Metoda yang digunakan adalah quasi eksperimen pre-posttest, purposive sampling. Pengukuran keragaman pangan dan adekuasi MPASI dengan FFQ dan recall 1x24 jam. Analisis multivariat untuk membandingkan pengetahuan dan intensi ibu, keragaman, adekuasi MPASI antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol, sebelum dan sesudah intervensi. Data yang dikumpulkan adalah data sosiodemografi, faktor beliefs, pengetahuan, efikasi diri, intensi dan praktik pemberian MPASI adekuat beragam pada sebelum dan sesudah intervensi. Intervensi langsung kepada ibu dapat meningkatkan pengetahuan, efikasi diri, intensi, keragaman dan adekuasi MPASI lebih baik dari intervensi melalui kader dan kontrol. WID-MPASI mampu meningkatkan pengetahuan, efikasi diri, intensi, keragaman dan adekuasi MPASI pada ibu yang memiliki bayi 6-12 bulan.

This study aims to design an adequate complementary feeding education intervention for mother's infants aged 6-12 months at the Bogor City stunting locus. WID-MPASI is an intervention developed in this study considering belief factors and utilizing a variety of local foods delivered online regarding the COVID-19 pandemic. The effectiveness of the intervention was measured by comparing the group that received additional WID-MPASI interventions (through cadres or directly to mothers) to government education with the group that only received government education. The method used is a quasi-experimental pre-posttest, purposive sampling. Measuring food diversity and adequacy of complementary foods with FFQ and 1x24-hour recall. Multivariate analysis to compare knowledge, self-efficacy and maternal intention, diversity, and adequacy of complementary foods between the intervention group and the control group, before and after the intervention. The data collected are socio-demographics, belief factors, knowledge, self-efficacy, intention, and complementary feeding practices before and after the intervention. Direct intervention to mothers can increase knowledge, self-efficacy, intention, food diversity and adequacy of complementary feeding better than interventions through cadres and control. The WID-MPASI intervention has proven to increase mothers' knowledge, self-efficacy, intention, the diversities, and adequacy of complementary food for babies 6-12 months.
Read More
D-487
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arum Atmawikarta; Promotor: Budi Utomo; Ko-promotor: Endang L. Achadi, Muhilal; Penguji: Darwin Karyadi, Mien Karmini, Abas Basuni Jahari, Kusharisupeni; Purnawan Junadi, Adang Bachtiar
D-199
Depok : FKM UI, 2007
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aria Kusuma; Promotor: Haryoto Kusnoputranto; KoPromotor: I Made Djaja, Rizal Syarief; Ketua sidang: Bambang Wispriyono; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Kusharisupeni, Saptawati Bardosono, Ririn Arminsih Wulandari, Anies Irawati
D-259
Depok : FKM-UI, 2012
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sunarno Ranu Widjojo; Promotor: Agus Firmansyah; Kopromotor: Budi Utomo, Endang L. Achadi; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Kusharisupeni, Jahari, Abas Basuni; Hardinsyah
D-192
Depok : FKM UI, 2006
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puspita Awalina Rochmatun; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Kemal N. Siregar, Laily Hanifah
S-10219
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rosni Lubis; Promotor: Ratu Ayu Dewi Sartika; Kopromotor: Endang Laksminingsih Achadi, Atmarita; Yekti Widodo, Aryono Hendarto, Ahmad Syafiq, Sutanto Priyo Hastono
Abstrak:

Prevalensi stunting pada balita di Indonesia, khususnya Kabupaten Bogor masih tergolong tinggi. Minimum Acceptable Diet (MAD), salah satu penilaian pada praktik pemberian makanan pendamping ASI, merupakan salah satu determinan utama dalam kejadian stunting. Penelitian ini bertujuan melihat hubungan MAD dan faktor lainnya dengan kejadian stunting pada anak umur 6-23 bulan. Metode penelitian ini menggunakan desain studi kohor prospektif data penelitian Kohor Tumbuh Kembang Anak (TKA) yang dilaksanakan sejak tahun 2012 di Kota Bogor. Sampel penelitian ini adalah anak umur 6-23 bulan pada studi kohor TKA yang dilakukan pengukuran berulang secara lengkap. Anak yang lahir pada pada tahun 2012-2017 dan diikuti hingga umur 23 bulan (pada tahun 2014-2019).

Variabel dependen pada penelitian ini ialah anak stunting yang diamati pada saaat usia 12, 18 dan 24 bulan. Variabel independen utama pada penelitian ini ialah MAD yang diamati pada rentang umur 6-11, 12-17 dan 18-23 bulan.

Hasil: Prevalensi stunting dalam penelitian ini masih cukup tinggi yaitu anak umur 12 bulan (23,8%), 18 bulan (33,2%) dan 24 bulan (24,6%). Capaian MAD tidak adekuat paling banyak terjadi pada anak umur 6-11 bulan (77,9%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa MAD umur 6-11, 12-17 dan 18-23 tidak berhubungan terhadap kejadian stunting pada anak umur 12,18 dan 24 bulan.. Analisis Multivariat Regresi Cox menunjukkan stunted usia sebelumnya dan asupan protein mempengaruhi terjadinya stunting.

Kesimpulan: Upaya lebih lanjut perlu dilakukan untuk capaian MAD yang direkomendasikan pada anak usia 6-23 bulan untuk mencegah stunting. Studi skala besar untuk mengeksplorasi peran MAD dalam mengurangi stunting dan studi kualitatif untuk mengidentifikasi kendala dan faktor yang mempengaruhi praktik pemberian makan bayi dan anak yang lebih baik sangat penting untuk perbaikan program.


 

The prevalence of stunting among children under-fives in Indonesia, particularly in Bogor, West Java, is still relatively high. Minimum Acceptable Diet (MAD), one of the  assesments on the practice of complementary feeding is one of the main determinants of stunting. This study aims to examine the relationship between MAD and other factors with the incidennce of stunting in children aged 6-23 months. Methods: This research method uses a prospective cohort study design from the Cohort of Growth and Development  of children (TKA) research data which has been carried out since 2012 in Bogor City.

The sample of this study was children aged 6-23 months in the TKA cohort study whio underwent complete repeated measurements. Children born in 2012-2017 and followed up to 23 months of age (in 2014-2019).

The dependent variables were stunted children at ages 6-11, 12-17. 18-23 and 24 months. The main independent variable was Minimum Acceptable Diet at the age interval of 6-11, 12-17, and 18-23 months. The data collection on the MDD, the MMF, and the MAD used twenty-four-hour dietary recall. Result: Prevalence of stunting was higher for child aged 12 months (41,7%) than for those in 18 months (8,1%) and 24 months (4,0%) category. Inadequate MAD achievement was most common in children aged 6-11 months (41.7%). Bivariate analysis showed that fulfilment MAD aged 6-11, 12-17 and 18-23 were not associated with stunting. Multivariate analysis Cox Regression indicated that stunted early age and protein intake were significantly associated with stunting.

Conclusion: More efforts need to be done to achieve the recommended MAD for all children aged between 6-23 months and to prevent stunting. Large scale studies to explore the role of MAD in reducing stunting and qualitative studies to identify the constraints and promoting factors to better infant and young child feeding practices are imperative for programme improvement.

 

 

 

 

 

 

 

 

Read More
D-563
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Feri Ahmadi; Promotor: Endang L. Achadi; Korpomotor: Ratu Ayu Dewi Sartika, Anies Irawati; Penguji: Kusharisupeni, Trihono, Abas Basuni Jahari, sowarta Kosen, Besral
D-463
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nabila Novania Hermansyah; Pembimbing: R. Sutiawan; Penguji: Milla Herdayati, Ning Sulistyowati
S-10249
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nathanaet Putranto; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Iyin Listiyowati
Abstrak: Bakteri Escherichia coli banyak ditemukan mengkontaminasi makanan jajanan anaksekolah dasar yang dapat meningkatkan risiko untuk terkena penyakit diare. Makananjajanan berisiko tinggi terkontaminasi bakteri E.coli karena diolah dan disajikan dalamkeadaan tidak higiene. Kelurahan Sempur di Kota Bogor adalah daerah tertinggi angkakejadian diarenya pada tahun 2016 dan berdasarkan penelitian yang dilakukan Aqmarina(2014), sebanyak 64,3% sampel makanan jajanan di salah satu Kelurahan Kota Bogorterkontaminasi bakteri E.coli. Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan antarahubungan E.coli pada makanan jajanan dengan diare akut pada anak SD di KelurahanSempur Kota Bogor Tahun 2019.Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectionaldengan metode kuesioner, observasi, serta pengambilan sampel makanan jajanankemudian dilakukan dengan analisis bivariat. Proses pengumpulan data dilakukan padabulan Mei 2019 dengan 132 responden dan 30 sampel makanan jajanan. Berdasarkananalisis statistik, hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikanantara keberadaan bakteri E.coli dalam makanan jajanan dengan kejadian diare akut padaanak SD (p= 0,016 ; OR=2,522). Jenis makanan jajanan juga berhubungan signifikandengan kejadian diare akut (p=0,048 ; OR=2,124). Kebiasaan cuci tangan jugaberhubungan signifikan dengan kejadian diare akut (p=0,031 ; OR=2,304). Sedangkanfrekuensi jajan dan sarana tempat sampah tidak terdapat hubungan yang signifikandengan kejadian diare akut.
Kata kunci : Anak Sekolah Dasar, Diare, Escherichia coli, Makanan jajanan.
Read More
S-10197
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sang Gede Purnama; Promotor: Dewi Susanna; Kopromotor: Umar Fahmi Achadi, Tris Eryando; Penguji: Besral, Tri Krianto, Rita Kusriastuti, Suwito, Made Sudarmaja,
Abstrak:
Latar belakang. Infeksi dengue terus meningkat setiap tahunnya di Indonesia. Bali adalah salah satu daerah endemis Dengue. Surveilan dengue masih menggunakan sistem manual dan belum terintegrasi. Oleh sebab itu, diperlukan model sistem informasi lingkungan terintegrasi untuk pengendalian dengue. Model sistem surveilan dan edukasi berbasis web dan mobile untuk meningkatkan peranan masyarakat dalam pengendalian dengue. Tujuan. Mengembangkan, mengujicobakan dan mengimplementasikan model sistem informasi lingkungan terintegrasi (SILIRA) untuk pengendalian dengue. Metode. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan empat tahap penelitian serta melakukan intervensi model SILIRA pada dua kelompok yakni kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Tahap Pertama, studi kualitatif dengan 15 wawancara mendalam dan 3 FGD dan studi kuantitatif pembuatan model struktural dengan 515 responden. Tahap kedua, analisa sistem informasi dengan System Depelovment Life Cycle (SDLC) dengan mengembangkan sistem digital dalam pengendalian dengue. Tahap ketiga, uji coba protitipe serta evaluasi sistem. Tahap Keempat, yakni implementasi model SILIRA dengan metode kuasi eksperimental pada 100 responden kelompok intervensi dan 100 responden kelompok kontrol. Analisis data dengan PLS-SEM, analisis beda rerata dan pemetaan. Hasil: Sistem surveilan digital melaporkan dengan cepat dan terintegrasi. Aplikasi SILIRA dapat digunakan untuk surveilan kasus dengue, pendataan kepadatan jentik, jumantik mandiri, serta edukasi digital. Melalui intervensi aplikasi SILIRA ada perbedaan rerata skor antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol. Berdasarkan nilai N-Gain Score diketahui bahwa intervensi SILIRA efektif untuk meningkatkan variabel pengetahuan, persepsi terhadap terancam dengue, persepsi terhadap manfaat program, persepsi terhadap sistem informasi digital, sikap dalam pengendalian dengue dan angka bebas jentik. Kesimpulan: Model SILIRA efektif memperkuat sistem surveilan penyakit dengue sehingga mampu meningkatkan variabel pengetahuan, persepsi terhadap terancam dengue, persepsi terhadap manfaat program, persepsi terhadap sistem informasi digital, sikap dalam pengendalian dengue serta meningkatkan angka bebas jentik.
Read More
D-506
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive